Jurnal Online Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan
Not a member yet
411 research outputs found
Sort by
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) PADA BERBAGAI DOSIS KALIUM ORGANIK
Organic potassium fertilizer and liquid organic fertilizer are an alternative to reduce the use of chemical fertilizers in peanut cultivation. This research aims to determine the dose of organic potassium, the dose of liquid organic fertilizer (LOF) from cow urine on the growth and production of peanuts. This research was structured using a Randomized Block Design (RBD) with 2 treatments, namely doses of organic potassium and cow urine liquid organic fertilizer (LOF). The parameters observed were plant height (cm), number of leaf stalks (stalk), seed weight per 1000 (g), number of pods (fruit), fresh weight (g), and dry weight (g). The results of the study showed that treatment with doses of organic potassium and cow urine LOF had no significant effect on the growth and production of peanuts. The best organic potassium dose for growth and production is organic potassium equivalent to a KCl dose of 75 kg ha-1. The best dose of cow urine LOF is 75 ml L-1
Pelatihan E- Marketing bagi UKM produk koral dan ikan hias di Kota Makassar
Selama ini UKM Produk Koral dan Ikan Hias mengalami beberapa permasalahan dalam mengembangkan usahanya. Diantaranya bahwa UKM Produk Koral dan Ikan Hias belum mempunyai media pemasaran digital, belum menampilkan konten produk yang menarik. Kegiatan Pengabdan ini diikuti oleh pelaku UKM yang bergerak dibidang perdagangan produk koral dan ikan hias yang berada di Kota Makassar. Metode pengabdian yang digunakan dalam kegiatan ini adalah melalui pelatihan dan pendampingan serta evaluasi pada awal dan akhir kegiatan. Hasil kegiatan pengabdian ini terlihat pengetahuan dan ketrampilan para pelaku UKM yang bertambah setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan tentang E-Marketing, penerapan strategi pemasaran, pemilihan media yang tepat digunakan oleh pelaku UKM dalam mempromosikan, memasarkan produknya, serta cara mengembangkan bisnis melalui E-marketing
Evaluasi Beberapa Parameter Fisika dan Biologi Perairan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Paotere
Pembangunan dilakukan dengan tujuan memberikan kualitas hidup atau memberikan manfaat, tetapi tidak bisa dipungkiri pembangunan dapat memberikan dampak sebaliknya. Pembangunan fasilitas dalam masyarakat, termasuk pelabuhan perikanan, tentunya diharapkan dapat meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Pelabuhan Perikanan dibangun pada wilayah pesisir yang merupakan wilayah peralihan antara daerah darat dan laut. Wilayah pesisir merupakan suatu ekosistem yang secara alami dihuni oleh organisme-organisme khas dan membutuhkan kondisi kualitas lingkungan yang baik untuk dapat hidup secara layak. Wilayah pesisir juga dihuni oleh masyarakat pesisir yang akan terdampak dari aktivitas di pelabuhan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi tingkat cemaran lingkungan perairan sekitar dermaga PPI Paotere Makassar (Parameter fisika dan biologi) dan penanganan sampah padat. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 (empat) bulan, yaitu Bulan Agustus 2020 sampai dengan November 2020. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode penelitian survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi perairan di sekitar PPI Paotere berdasarkan parameter fisika masih berada dalam batas yang aman bagi kehidupan biota perairan. Demikian pula berdasarkan parameter biologi kondisi perairan di sekitar PPI Paotere masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004. Produksi sampah di PPI Paotere Makassar berasal dari berbagai kegiatan perikanan seperti pendaratan ikan, tambat labuh kapal, pemasaran ikan dan lainnya hingga menimbulkan buangan sampah padat dan cair
PENGARUH KONSENTRASI ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT) FITOSAN TERHADAP PRODUKSI TANAMAN KENCUR (Kaempferia galanga L)
Kencur (Kaempferia galanga L.) banyak digunakan sebagai bahan baku obat tradisional (jamu), rempah, biofarmaka, industri kosmetika, penyedap makanan dan minuman. Untuk meningkatkan produksi tanaman kencur selain pemberian pupuk, perlu dilakukan penambahan hormon eksogen pada tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi zat pengatur tumbuh (ZPT) fitosan terhadap produksi tanaman kencur. Metode percobaan yang digunakan dalam penelitian ini metode eksperimental dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan pengujian 6 taraf perlakuan yaitu : Zat Pengatur Tumbuh = 1 ml/L air, Zat Pengatur Tumbuh = 1,5 ml/L air, Zat Pengatur Tumbuh = 2 ml/L air, Zat Pengatur Tumbuh = 2,5 ml/L air, Zat Pengatur Tumbuh = 3 ml/L air dan Zat Pengatur Tumbuh = 3,5 ml/L air. Hasil penelitian menunjukkan berpengaruh tidak nyata terhadap semua peubah yang diamati, dan secara data tabulasi perlakuan Z2 dengan konsentrasi zat pengatur tumbuh fitosan 1,5 ml/L air memberikan pengaruh terbaik pada produksi tanaman kencur terhadap parameter berat umbi per biji dan berat umbi per tanama
UJI EFIKASI FUNGISIDA ALAMI BERBAHAN AKTIF ASAM ANACARDAT 67 SL UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT ANTRAKNOSA (Colletotrichum sp.) PADA BUAH CABAI DENGAN METODE COATING SECARA IN-VITRO
Penelitian bertujuan untuk: Mengetahui pengaruh fungisida alami berbahan aktif asam anacardat 67 SL dalam menghambat pertumbuhan Colletotrichum sp. secara in-vitro, mendapatkan konsentrasi yang efektif, serta mengetahui pengaruh interaksi dan mandiri jenis buah dan metode coating menggunakan fungisida dalam menghambat pertumbuhan Colletotrichum sp. secara in-vitro. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Proteksi Tanaman Unit Fitopatologi, Universitas Halu Oleo, dimulai pada Oktober sampai Maret 2022. Penelitian disusun mengunakan 2 rancangan penelitian. Tahap 1 menggunakan rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan: P0= tanpa fungisida, P1= 5% fungisida, P2= 10% fungisida, P3= 15% fungisida, P4= 20% fungisida dan P5= 25% fungisida, diulang sebanyak 3 kali. Tahap 2 menggunakan rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial: faktor pertama C1= Cabai merah dan C2= Cabai hijau, sedangkan faktor kedua M0= tanpa metode coating, M1= metode coating penyelupan dan M2= metode coating penyemprotan. Variabel yang diamati yaitu, daya hambat Colletotrichum sp., masa inkubasi dan intensitas penyakit antraknosa. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan sidik ragam, jika menunjukkan pengaruh yang nyata maka dilanjutkan dengan DMRT pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukan bahwa fungisida alami berbahan aktif asam anacardat 67 SL mampu menghambat pertumbuhan Colletotrichum sp., dengan konsentrasi 25% yang paling efektif, terdapat perlakuan pengaruh mandiri dengan intensitas penyakit terendah adalah C2 (9,188%) dan M2 (7,100%) dan perlakuan interaksi dengan intensitas penyakit terendah adalah C2M1 (00,00%.)
KAJIAN KARAKTERISTIK LAHAN UNTUK MENDUKUNG PENYUSUNAN MODEL DECISION SUPPORT SYSTEM (DSS) OPTIMALISASI LAHAN DI KABUPATEN PANGKEP
The biophysical characteristics and environmental conditions of the land are required for the development of a Decision Support System (DSS) model for land optimization. The purpose of this study was to examine the characteristics of land cover, and the biophysical and environmental conditions of the land in Pangkep Regency. Suboptimal land identification and analysis of land and climate characteristics are carried out on the basis of secondary data obtained from satellite images, both land cover data in 2022, data in the form of three-dimensional DEM (Digital Elevation Model), and land characteristic data in the form of land system maps produced by the Geospatial Information Agency. The land cover in the Pangkep Regency area consists of fourteen types of land cover dominated by jungles, rice fields, and ponds. Flat topography with slopes of 0-2% and geological formations of alluvium and coastal deposits, Tonasa Formation, and Sekala Formation are dominant in Pangkep Regency. The dominant soil characteristic in this region is a lithosol soil type, soil depth more than 150 cm, soil pH is slightly acidic (5.6-6.5), clay texture, soil drainage criteria are inhibited and good, soil salinity in the range of 0.33%, C-Organic content with very low and low criteria, medium soil CEC, low total N value with a range of 0.1–0.21% and medium with 0.22–0.51%, Soil potassium content including very low criteria (<10 mg/100g) is in the range of 0.05 – 0.2 mg/100g and dominant 0.2 mg/100g, and rock abundance is 100+. The rainfall in this region is predominantly 2500 mm.th-1 and the average temperature is 23 - 32°C
Pelatihan produksi ekado ikan bandeng pada inkubator bisnis Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan memiliki potensi sumberdaya perikanan bandeng cukup tinggi yang berasal dari hasil perikanan budidaya. Hasil budidaya perikanan bandeng ini masih rendah diversifikasi dalam bentuk produk olahan. Ikan bandeng di daerah ini lebih banyak dikonsumsi dalam bentuk segar dan utuh. Kegiatan Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberikan pelatihan diversifikasi olahan ikan bandeng kepada UMKM dan Kelompok Pengolahan Hasil Perikanan yang berada di bawah binaan Inkubator Bisnis Balitbangda Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pelatihan dengan teknik pembelajaran partisipatif dan pendampingan. Proses pelatihan dan pendampingan dimulai dari tahap pemilihan bahan baku produk ekado ikan bandeng, penyusunan formulasi, pengolahan ekado, cara penyajian, serta pemberian informasi terkait gizi ikan bandeng. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan dan pendampingan dalam mengolah ikan bandeng adalah produk ekado ikan bandeng. Ekado ikan bandeng yang dihasilkan disajikan kepada para peserta dalam keadaan siap saji dilengkapi dengan sambel sebagai penambah nikmat produk ekado. Testimoni peserta pelatihan menyampaikan bahwa produk olahan ekado ikan bandeng rasanya sangat enak, kenampakan menarik, aroma khas gorengan, dan tekstur yang renya, cocok dijadikan sebagai makanan cemilan, dan bagus dikonsumsi saat kondisinya masih hangat. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah peserta dapat memahami pentingnya menciptakan inovasi baru dalam mengolah makanan agar dapat merebut dan memenangkan persaingan bisnis kuliner dan memiliki keterampilan dalam mengolah olahan ikan hasil budi daya menjadi produk olahan kekinian
Aplikasi biopestisida nabati ekstrak serai wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendl) pada tanaman kopi (Coffea sp) di Kabupaten Gowa
Pola perkebunan rakyat pada dasarnya dikelola secara sederhana dengan tingkat pemanfaatan teknologi yang cukup rendah. Seperti pohon pelindung dengan kondisi kurang terawat, program pemeliharaan seperti pemangkasan yang tidak dilaksanakan, khususnya pada tanaman kopi. Teknik budidaya tanaman kopi meliputi kegiatan penanaman, penaungan, pemangkasan, pemupukan pemberantasan hama dan penyakit. Pemberantasan hama dan penyakit umumnya masih mengandalkan pestisida kimia yang sintetik yang efeknya sangat cepat namun berdampak pada resistensi hama/penyakit pada tanaman kopi di waktu mendatang. Tujuan pengabdian kepada masyarakat adalah untuk memberikan alternatif penerapan biopestisida nabati ekstrak tanaman serai wangi untuk pertanaman kopi. Metode pengabdian dilakukan dengan ceramah dan demonstrasi pembuatan biopestisida nabati dari ekstrak tanaman serai wangi di Dusun Ma’lenteng, Desa Erelembang, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa. Hasil yang didapatkan pada adalah peningkatan pemahaman dan pengetahuan kelompok Tani Perkebunan Kopi mengenai menfaat daun serai wangi dan cara pembuatan pestisida organik. Kegiatan ini juga memberi manfaat diantaranya memberikan solusi tehadap permasalahan hama dan penyakit yang menyerang tanaman kopi sehingga dapat meminimalisir penggunaan pestisida kimia, meningkatkan nilai manfaat dari daun serai wangi serta meningkatkan nilai ekonomi petani karena hemat membeli pestisida. Simpulan kegiatan pengabdian ini berhasil meningkatkan minat dan antusias kelompok Tani Perkebunan Kopi terkait adopsi biopestisida nabati ekstrak serai wangi. Berdasarkan evaluasi, proses diskusi serta tanya jawab, diperoleh rata-rata petani memberikan respon positif terkait adanya rencana tindak lanjut kegiatan pengabdian. Kegiatan ini diharapkan kedepan untuk pendampingan secara berkala dalam bentuk mitra tani untuk meningkatkan pemahaman petani kopi baik dari aspek budidaya, pemanfaatan teknologi dan pemasaran kopi yang berkelanjutan
Ketidaksesuaian Cara Produksi Pangan yang Baik di Industri Rumah Tangga (CPPB-IRT) (Studi Kasus IRT di Kota Meulaboh)
Sebagian besar produk pangan yang beredar di Indonesia diproduksi dari industri mikro atau industri rumah tangga sehingga cara produksi pangan industri rumah tangga berperan besar terhadap mutu pangan olahan yang beredar di masyarakat. Penelitian ini dimaksudkan untuk menilai penerapan cara produksi pangan yang baik industri rumah tangga (CPPB-IRT) di Kota Meulaboh. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Penelitian dilakukan di empat industri rumah tangga pangan yang telah memiliki nomor PIRT (IRTP A, B, C, dan D). Penilaian terhadap empat IRTP ditemukan bahwa IRTP A telah sesuai CPPB-IRT, sedangkan IRTP B, IRTP C, dan IRTP D belum sesuai CPPB-IRT. Bentuk penyimpangan yang ditemukan pada IRTP meliputi tidak ada penanggungjawab higiene karyawan dan karyawan belum menggunakan pakaian kerja yang lengkap (penutup kepala, masker, sarung tangan), tata letak peralatan tidak sesuai urutan produksi, dan sarana pembersihan tidak terawat. Adapun rekomendasi yang dapat diusulkan yaitu IRTP perlu pelatihan tentang manajemen mutu, IRTP perlu meningkatkan kesadaran pekerja ataupun mempekerjakan karyawan yang memiliki komitmen terhadap keamanan pangan dan pengawas pangan perlu memberikan pembinaan dan tindakan terhadap IRTP yang tidak memiliki komitmen terhadap penerapan CPPB-IRT
PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN ZPT AUKSIN DALAM MEMPERCEPAT PERTUMBUHAN TUNAS BULBIL PORANG (Amorphophallus muelleri Blume)
The use of growth regulators before planting porang is one way to increase the growth of porang bulbils. The research was conducted with the aim of getting the length of immersion that gives the best effect on each concentration of auxin ZPT in accelerating the growth of bulbil porang (Amorphophallus muelleri Blume) shoots.. The research method used is experimental method using factorial Randomized Group Design (RBD) 4x4, which consists of 16 treatments and repeated 2 times. The first factor is concentration which consists of 4 levels, namely k0 (control), k1 (200mg/l), k2 (300mg/l), and k3 (300mg/l). The second factor is immersion time which consists of 4 levels, namely l1 (60 minutes), l2 (120 minutes), l3 (180 minutes), and l4 (240 minutes). There is an interactiont between concentration and immersion time on sprouting time, vigor index, and diameter of bulbil porang shoots at 42 and 56 days after planting. The concentration of 200mg/l (k1) at a immersion time of 180 minutes (l3) gave the fastest sprouting time of 15.2 days. The concentration of 200mg/l (k1) at 180 minutes immersion time (l3) gave the highest vigor index value of 100%. The length of immersion l4 (240 minutes) at the growth regulator concentration k1 (200mg/l) gave the best bulbil porang shoots diameter of 2.96 mm