Jurnal Online Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan
Not a member yet
    411 research outputs found

    Analisis produksi dan pendapatan petani padi sawah Desa Tanjung Kesuma Kecamatan Purbolinggo Kabupaten Lampung Timur

    Full text link
    Padi adalah komoditas pangan pokok dan sumber pendapatan bagi penduduk Indonesia. Upaya peningkatan produksi padi terus dilakukan pemerintah untuk menjaga ketersediaan pangan serta meningkatkan pendapatan petani. Namun permasalahan saat ini produktivitas padi yang rendah akan mempengaruhi pendapatan petani. Penelitian bertujuan untuk (1) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani padi dan (2) menganalisis pendapatan usahatani padi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, sedangkan metode yang digunakan adalah metode survei. Penelitian ini dilakukan di Desa Tanjung Kesuma Kecamatan Purbolinggo Kabupaten Lampung Timur. Populasi penelitian ini adalah warga Desa Tanjung Kesuma dengan jumlah sampel 86 responden yang ditentukan secara Simple Random Sampling Method. Alat analisis data yang digunakan adalah Analisis Regresi Linier Berganda dan analisis pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan variabel luas lahan dan pupuk urea berpengaruh nyata terhadap produksi padi, sedangkan benih dan pestisida tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi. Pendapatan rata-rata usahatani padi atas biaya total per musim tanam rata rata sebesar Rp 9.198.563 dengan R/C sebesar 2,4 yang artinya usahatani padi telah menguntungkan

    Pengaruh penambahan effective microorganism 4 (EM4) dengan level yang berbeda terhadap kandungan nutrient gosse (Ceratophyllum Sp

    Full text link
    Penggunaan limbah perikanan sebagai bahan pakan alternatif telah dianggap sebagai solusi yang efektif dalam menghadapi masalah ketersediaan bahan baku pakan. Salah satu limbah yang memiliki potensi untuk diolah menjadi pakan ternak adalah Gosse. Namun, terdapat hambatan dalam penggunaan Gosse sebagai pakan Itik karena kandungan nutrisinya belum optimal untuk memenuhi kebutuhan gizi Itik, sehingga dilakukan fermentasi pakan untuk mengatasi hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana perubahan kualitas nutrisi Gosse setelah ditambahkan dengan EM4. Penelitian ini berlangsung di Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan, dengan analisis proksimat meliputi kadar air, kadar abu, protein kasar, serat kasar, dan lemak kasar yang dilakukan di laboratorium kampus tersebut. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Adapun perlakuan yang diterapkan adalah: P0 (Gosse tanpa penambahan EM4), P1 (penambahan EM4 sebanyak 5%), P2 (penambahan EM4 sebanyak 10%), dan P3 (penambahan EM4 sebanyak 15%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas nutrisi terbaik untuk kadar air dan kadar lemak kasar ditemukan pada perlakuan P0 (tanpa EM4), sedangkan kadar abu terbaik diperoleh pada perlakuan P2 (penambahan EM4 10%). Untuk protein kasar dan lemak kasar, hasil optimal tercapai pada perlakuan P3 (penambahan EM4 15%), yang masih memerlukan uji lebih lanjut pada level yang lebih tinggi

    Analisis penerapan teknologi pertanian dalam sistem budidaya tanaman pangan untuk peningkatan produksi dan pendapatan usahatani di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep)

    Full text link
    Pengembangan tanaman pangan di Provinsi Sulawesi Selatan khususnya di wilayah Kabupaten Pangkep masih perlu ditingkatkan untuk memperkuat ketahanan pangannya dengan memanfaatkan lahan yang tersedia dengan optimal agar status ketahanan pangan saat ini dapat ditingkatkan dari kategori tahan menjadi sangat tahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sumber daya petani serta menganalisis penerapan penggunaan teknologi (pola tanam, luas lahan, mekanisasi, penggunaan pupuk dan pestisida) dalam sistem budidaya tanaman pangan yang dapat mendorong peningkatan produksi serta pendapatan usahatani masyarakat di Kabupaten Pangkep. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kanaungan dan Desa Bara Batu Kecamatan Labbakkang Kabupaten Pangkajene Kepulauan, pada Agustus hingga Desember 2024. Lokasi penelitian dipilih secara purposive sebagai wilayah usaha tani komoditas tanaman pangan. Metode pengumpulan data adalah observasi dan wawacara untuk memperoleh data primer responden menggunakan daftar pertanyaan terstruktur (kuesioner) yang ditabulasi dan diuraikan secara deskriptif. Analisis regresi digunakan untuk mengetahui hubungan variabel bebas (X) meliputi faktor produksi (luas lahan) dan penerapan beberapa teknologi budidaya, terhadap produksi usaha tani tanaman pangan sebagai variabel dependen (Y). Hasil penelitian menunjukkan masyarakat dengan usia produktif mendominasi pelaku usaha tani (91.67%) tanaman pangan di Kabupaten Pangkep dengan latar belakang pendidikan dasar hingga menengah menjadi faktor pembatas penerapan inovasi teknologi budidaya. Hasil analisis regresi menunjukkan faktor luas lahan secara tunggal maupun bersama beberapa variabel penerapan teknologi secara simultan berpengaruh nyata terhadap jumlah produksi. Nilai koefisien regresi memperlihatkan setiap penambahan nilai variabel luas lahan, penggunaan alsintan dan pupuk menaikkan produksi usahatani tanaman pangan. Produksi 5 ton per musim tanam yang dicapai masyarakat  masih diharapkan dapat ditingkatkan lagi

    Karakteristik fisikokimia dan skirining fitokimia cuka sari daging buah pala Fakfak (Myristica argantea Warb)

    Full text link
    Daging buah pala Fakfak merupakan bagian dari buah pala yang memiliki nilai ekonomi rendah karena masih minim pemanfaatan. Kandungan karbohidrat, serat, dan antioksidan pada daging buah pala menjadi potensi untuk diolah menjadi cuka sari buah untuk pemanfaatan yang lebih luas. Penelitian ini perlu dilakukan sebagai tahapan awal memperoleh cuka sari daging buah pala Fakfak untuk pemanfaatan daging buah pala yang lebih luas secara umum dan memperoleh manfaat dari cuka sari buah pala Fakfak sebagai minuman fungsional secara khusus. Tujuan penelitin ini untuk mengetahui sifat kimia dan skirining fitokimia pada cuka sari daging buah pala yang dihasilkan. Rancangan percobaan penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 1 faktor yaitu pengecilan ukuran daging buah pala dengan tiga taraf (potong dadu, penghalusan tanpa disaring, penghalusan dengan disaring). Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama fermentasi cuka sari daging buah pala. Tahap kedua adalah analisa sifat fisikokimia dan skirining fitokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cuka sari daging buah pala yang diperoleh dengan perlakuan potong dadu, penghalusan tanpa disaring dan penghalusan dengan disaring memiliki nilai pH masing 2, total asam masing-masing 0,43%, 0,49%, 0,48%, total padatan terlarut masing-masing 1,8 obrix, 3 obrix dan 2,05 obrix, kadar alkohol masing-masing 3%, 6,9% dan 4,9%. Skrining fitokimia menunjukkan hasil yang positif pada senyawa alkaloid, tanin dan polifenol, sedangkan pada senyawa flavonoid, saponin dan steroid menunjukkan hasil yang negatif

    Analisis hubungan klorofil dan pembagian asimilat dari aplikasi biosaka dalam pertumbuhan vegetatif tanaman melon

    Full text link
    Biosaka contains elicitor compounds that stimulate the physiological activity of plants, including increased chlorophyll content and enhanced efficiency of assimilate distribution. This study aims to examine the effect of elixitors in biosaka on leaf chlorophyll content and its relationship with the distribution of assimilates in the vegetative growth phase of melon plants. The research was conducted using an experimental method with a non-factorial Complete Random Design (CRD). The single factor in the form of biosaka concentration consists of six levels: B0 = 0 mL L⁻¹, B1 = 10 mL L⁻¹, B2 = 20 mL L⁻¹, B3 = 30 mL L⁻¹, B4 = 40 mL L⁻¹, and B5 = 50 mL L⁻¹. Each treatment was repeated four times, with each repetition consisting of three plants. The results showed that the application of biosaka at various concentrations had no significant effect on all observed parameters. Nevertheless, there is a substantial increase in plant length by up to 93% towards the end of the vegetative phase. A positive correlation was found between plant length and assimilate distribution to the crown (r = 35–47), as well as between leaf area and plant length and assimilate distribution to the crown (r = 36–77). This indicates that the application of biosaka contributes to the increase in physiological activity of plants, through an increase in leaf area that supports the process of photosynthesis and assimilation in the upper part of the plant

    Pertumbuhan bibit tanaman karet dan perbandingan biaya pemupukan pada pengaplikasian pupuk daun dan pupuk akar

    Full text link
    Fertilization can be applied through the leaves and roots, which have different characteristics and can complement each other. Foliar fertilizer suitable for use in rubber plant nurseries, other than Bayfolan, is Glow Green. This study aims to determine the growth of a rubber plant nursery using foliar fertilizer and root fertilizer, and to compare the fertilization costs. Research from April to September 2023 at the Bogor-Getas Unit Experimental Field, Salatiga. The experimental design used a randomized block design with 9 treatments and 3 replications. Treatments consisted of a control without fertilization, 50% root fertilizer, 100% root fertilizer, and a combination of root fertilizer at three dose levels (0%, 50%, 100%) with Bayfolan and Glow Green. Glow Green can reduce 50% dose of root fertilizer with plant height growth, stem diameter, and dry weight that are not significantly different compared to 100% root fertilizer and higher than 50% root fertilizer. The dry weight in the 50% root fertilizer + Bayfolan treatment was lower than in the 100% root fertilizer treatment. Treatment with 50% root fertilizer + Glow Green and 100% root fertilizer + Bayfolan showed higher relative agronomic effectiveness compared to 100% root fertilizer as the standard fertilization (RAE 108% and 105%), with fertilization costs of 89.8% and 117.5%. Glow Green is recommended for large-scale use in rubber nurseries, reducing fertilization costs by 10.2% and reducing the root fertilizer dose by 50%. At the same time, Bayfolan is applied without reducing the root fertilizer dose

    Estimasi kesesuaian perairan untuk marikultur berbasis kualitas air dan pendekatan spasial-temporal di Pulau Karampuang, Sulawesi Barat

    Full text link
    Mariculture activities play a significant role in contributing to the country's foreign exchange, as many of its products are exported abroad. Mamuju Regency, situated in West Sulawesi Province, is part of the eastern region of Indonesia and boasts vast potential for mariculture due to its abundant natural resources. However, farmers face several challenges, particularly oceanographic factors such as large waves, variations in freshwater input, and nutrient concentrations from land-based activities. These factors can negatively impact aquaculture media and alter oceanographic conditions, potentially threatening cultivation. The goal of this study was to examine the spatial and temporal dynamics of oceanographic conditions and assess the feasibility of waters for mariculture activities. The research was conducted in the waters around Karampuang Island in Mamuju Regency, using a descriptive quantitative approach. This involved determining sampling stations, measuring water quality both in situ and ex situ, analyzing data to assess the suitability of the waters for mariculture, and creating a GIS-based land suitability map. The results show that the water conditions in Karampuang Island are pretty dynamic, with varying water quality parameters observed, indicating diverse suitability for mariculture. For seaweed cultivation, station 3 was categorized as quite suitable, while stations 1 and 2 were considered appropriate. However, for KJA system cultivation, only station 1 consistently supports cultivation. Further studies are needed to monitor the water quality periodically and conduct cultivation trials to optimize farming activities

    Secja: Fortifikasi kayu secang (Caesalpinia Sappan L) pada minuman instan jahe

    Full text link
    Herbal drinks are beverages made by infusing herbs in water, resulting in a drink with dregs. Innovation in food product fortification technology for the processing of ready-to-drink instant herbal beverages can be achieved by converting herbal drinks into instant products. This study aims to analyze the quality of instant herbal drinks, “secja”, enriched with the addition of sappanwood and Emprit Ginger. This study employed a combination of qualitative and quantitative approaches, utilizing a completely randomized factorial design. Data analysis was carried out using the Analysis of Variance (ANOVA) test. The results showed that the quality of instant herbal drinks with the addition of 30 percent sappanwood extract concentration and 10 percent emprit ginger extract obtained a water content of 1.5 percent and a total sugar of 81 OBrix (SNI 011-4320-1996), polyphenols 38.21 mg GAE / 100 g, solubility 25.2 seconds, and hedonic tests of color, aroma, taste got criteria 4 (like)

    Perbandingan fekunditas dan produksi naupli induk udang windu (Penaeus monodon) yang diberi pakan hati sapi dan cacing laut

    Full text link
    Peningkatan produksi udang windu (Penaeus monodon) perlu diimbangi dengan ketersediaan benih berkualitas tinggi yang berasal dari induk  yang memperoleh pakan dengan kandungan gizi baik dan seimbang. Kendala terbatasnya jumlah cacing laut sebagai pakan alami yang masih bergantung pada populasi di alam dan harganya relatif mahal. Oleh karena itu diperlukan alternatif bahan pakan lain yang berfungsi sebagai pakan substitusi cacing laut. Studi ini mengkaji potensi hati sapi sebagai substitusi cacing laut pada pakan induk udang windu untuk meningkatkan fekunditas dan produksi naupli. Metode yang dilakukan untuk menguji adalah pemberian potongan hati sapi dan cacing laut sebagai pakan induk pada pagi hari dengan dosis 6,25% biomassa induk. Frekuensi pemberian pakan dilakukan sebanyak 4 kali sehari, yaitu pada pukul 07.00, 11.00, 14.00 dan 18.30, dengan dosis 25% dari biomassa induk udang per hari selama 14 hari masa produksi di Instalasi Pembenihan Udang Barru. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa induk yang diberi pakan hati sapi memperlihatkan hasil yang lebih baik, yaitu menghasilkan fekunditas rata-rata 370.238 butir/ekor induk dan produksi naupli rata-rata 178.550 naupli/ekor induk. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan dengan yang diberi pakan cacing laut, yaitu fekunditas rata-rata 296.253 butir/ekor induk dan produksi naupli rata-rata 140.039 naupli/ekor induk.  Hati sapi merupakan sumber vitamin A yang dapat meningkatkan kinerja reproduksi induk udang, diukur dari fekunditas dan produksi naupli. Hasil kajian ini menjadi informasi bagi unit-unit pembenihan udang untuk menggunakan hati sapi sebagai substitusi cacing laut pada pakan induk karena tinggi nutrisi dan harga relatif murah dalam rangka meningkatkan produksi benih udang windu

    Peran vegetasi dalam meningkatkan kualitas aksesibilitas di ruang terbuka publik (studi kasus: Taman Vatulemo)

    Full text link
    Urban parks serve as areas that support social interaction and enhance the quality of life for the community. These parks feature vegetation that enhances their aesthetic and provides ecological benefits. Vegetation contributes to visitor comfort and improves park accessibility. However, suboptimal vegetation planning can hinger accessibility for certain groups, such as disabilities, elderly, and children. This study aims to analyze the role and impact of vegetation on accessibility in Vatulemo Park. The research begins with observations, spatial analysis using GIS to examine the distribution of vegetation and circulation patterns park. Additionally, a landscape design evaluation is conducted based on Universal Design principles and accessibility standards for green open spaces. The findings indicate that the distribution of vegetation in Vatulemo Park does not fully support accessibility. Shaded areas along circulation paths and jogging tracks are still insufficient, making the park less comfortable for visitors, especially between 10:00 AM and 4:00 PM WITA. Moreover, the lack of vegetation around seating areas and gathering spaces reduces the park's ecological function and user comfort. Therefore, recommendations for improving vegetation placement within the park are necessary to increase greenery along circulation paths and jogging tracks. The selection of plant species should also be adjusted to avoid obstructing visitor activities and comfort. Furthermore, chosen vegetation should not hinder accessibility, and user-friendly pathways should be provided for individuals with special needs. By implementing these strategies, Vatulemo Park is expected to become a more inclusive, comfortable, and ecologically sustainable public space for the residents of Palu City.&nbsp

    393

    full texts

    411

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇