MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
    645 research outputs found

    STRUKTUR GEOLOGI DI PERAIRAN PULAU BUTON SELATAN

    Get PDF
    Penelitian geofisika dengan metode seismik pantul dangkal dilakukan di perairan Pulau Buton bagian selatan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui kondisi geologi di bawah permukaan dasar laut. Dari data rekaman seismik diinterpretasikan bahwa stratigrafi seismik dibagi menjadi dua runtunan yaitu runtunan A dan B. Bila disebandingkan dengan geologi daratnya maka runtunan A termasuk dalam Formasi Wapulaka yang berumur Tersier dan runtunan B termasuk Formasi Sampolakosa yang berumur Kuater. Data rekaman tersebut juga menunjukkan adanya beberapa struktur geologi seperti sesar, lipatan, dan pengangkatan. Diduga struktur geologi tersebut berkembang dengan masih aktifnya proses tektonik hingga sekarang. Implikasi aktifnya tektonik ini dapat memperkaya dan meningkatkan potensi sumberdaya alam yang ada seperti migas dan aspal. Kata kunci seismik pantul dangkal, struktur geologi, tektonik, Perairan Pulau Buton. Geophysical research with shallow reflection seismic method carried out in the waters of the southern part of Buton Island. The aim of research is to determine the geological conditions under the sea floor. Data from seismic recordings interpreted that seismic stratigraphy is divided into two sequences, that are sequence A and B. Ifthe land geology to be compared then the sequence A is Wapulaka Formation which is Tertiary age and sequence B is Sampolakosa Formation which is Kuarter age. The recording data also indicated a number of geological structures such as faults, folds, and uplift. It was alleged that the geological structure is developing with tectonic processes are still active until now. The implications of the active tectonic can enrich and enhance the existing natural resources such as oil and gas, and bitumen. Keywords: shallow seismicreflection, geology structure, tectonic, Buton Island Waters

    FORAMINIFERA DI TELUK SEPI - BLONGAS, LOMBOK SELATAN, NUSA TENGGARA BARAT DAN KAITANNYA DENGAN FAKTOR LINGKUNGAN

    Get PDF
    Dua puluh satu contoh sedimen dasar perairan Teluk Sepi - Blongas, Lombok Selatan, Propinsi Nusa Tenggara Barat telah digunakan untuk studi foraminifera bentik dalam kaitannya dengan faktor lingkungan. Foraminifera bentik yang ditemukan di daerah penelitian sebanyak 133 spesies yang termasuk dalam 60 genera. Spesies yang mempunyai persentase tertinggi adalah Ammonia beccarii, kemudian diikuti oleh Ammonia sp., Elphidium crispum, Pattelina corrugata, Amphistegina lessonii, Amphistegina sp.1, Calcarina sp.1, Pyrgo lucernula dan Quinqueloculina seminulum. Calcarina dengan pengawetan cangkang yang baik merupakan genus penciri utama daerah penelitian. Genus ini terdiri dari 15 species dengan perkiraan 11 spesies diantaranya merupakan spesies baru dan diperlukan penelitian khusus di masa yang akan datang. Foraminifera bentik tidak terdistribusikan secara merata di setiap lokasi pengambilan percontoh. Hal ini berkaitan dengan faktor lingkungan seperti jenis sedimen, pola arus, nutrisi dan kondisi lingkungan setempat seperti wilayah bakau dan budidaya mutiara. Twenty-one seafloor sediment samples of the Sepi-Blongas Bay, South Lombok Island, West Nusa Tenggara Province, have been used for foraminiferal study in relation to environmental factors. A total of 133 foraminiferal species belongs to 60 genera have been found in the study area. The largest percentage species is Ammonia beccarii, followed by Ammonia sp., Elphidium crispum, Pattelina corrugata, Amphistegina lessonii, Amphistegina sp.1, Calcarina sp.1, Pyrgo lucernula and Quinqueloculina seminulum. Calcarina, which is preserved in good condition, is a main genus dominated the study area. This genus comprises 15 species, in which 11 among them, are probably new and it needs particular research in the future. The benthic foraminifera in this study area are not distributed widely at every sample location. This depends on the ecological factors: sediment types, current pattern, nutrients and local environmental conditions such as mangrove area and pearl cultivation area

    SEBARAN DUGAAN GAS BIOGENIK BERDASARKAN HASIL PENAFSIRAN REKAMAN STRATA BOX DI PERAIRAN TANJUNG PONTANG-BANTEN

    Get PDF
    Penelitian gas biogenik di perairan Tanjung Pontang dan sekitarnya menerapkan metode geofisika menggunakan alat akustik (strata box). Keberadaan gas biogenik dalam rekaman akustik, dicirikan oleh tidak adanya gambaran pantul dalam (free reflector), dan menampakan warna hitam. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan sumber daya energi alternatif, berupa gas biogenik untuk dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar daerah penelitian. Hasil penafsiran rekaman strata box, kemudian runtunan yang diperkirakan mengandung gas biogenik diplot dalam peta lintasan. Hasil penafsiran menunjukkan bahwa akumulasi gas biogenik terdapat di kedalaman 2.5 meter pada lintasan 3 (L-3), di kedalaman 10.0 meter pada lintasan 7 (L-7), dan di kedalaman 5.0 meter pada lintasan 3 (L-3). Kata kunci : rekaman strata box, penafsiran, peta pola sebaran gas biogenik. Biogenic gas research in Tanjung Pontang and its surrounding waters applied geophysic method of acoustic equipment (strata box). Occurrences of biogenic gas in the acoustic records were characterized by no internal reflection patterns (free reflector), and black colour appearance. The research was meant to utilize alternative energy resources, biogenic gas for local community surround the gas deposits. Results on strata box interpretation, then plotted on ship track map of its possible biogenic gas bearing sequences. It indicates that biogenic gas is accumulated in 2.5 meter depth on the 3 (L-3) track, in 10.0 meter depth on the 7 (L-7) track, and in 5.0 meter depth on the 3 (L-3) track. Key words : strata box records, interpretation, biogenic gas distribution pattern map

    FORAMINIFERA PERAIRAN BALIKPAPAN, KALIMANTAN TIMUR: LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN PENGARUHNYA

    Get PDF
    Dari hasil telitian perairan lepas pantai Balikpapan, Kalimantan Timur (Lembar 1914), di dalam sedimen dasar laut antara kedalaman 18 m – 562 m bawah permukaan laut, dijumpai tidak kurang dari 195 spesies foraminifera bentos kecil dan besar dan 34 spesies foraminifera plankton. Heterolepa praecincta merupakan spesies bentos kecil yang banyak mendominasi sedimen permukaan di daerah penelitian, kemudian Heterolepa margaritifera. Heterolepa praecincta masih dijumpai sampai kedalaman 383 m, sedangkan ke arah yang lebih dalam lagi jumlahnya semakin berkurang. Foraminifera bentos kecil yang langka seperti Biarritzina proteiformis di daerah telitian dan di perairan antara Pangabakan - Sagita, di utara daerah telitian, sebelah utara Delta Mahakam, jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan yang di bagian selatannya, yaitu di perairan utara P. Lombok, tempat spesies ini pertama kali dijumpai. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya arus yang berarah dari utara ke selatan. Spesies Operculina spp., yang banyak diwakili oleh spesies O. complanata, O. ammonoides, dan O. heterosteginoides, banyak dijumpai pada kedalaman kurang dari 100 m. Spesies-spesies tersebut di beberapa lokasi banyak berasosiasi dengan Amphistegina lessonii, yang menandakan bahwa pada kedalaman ini turbulensinya rendah, dengan kondisi air yang cukup jernih. Melimpahnya foraminifera plankton Neogloboquadrina dutertrei, terutama pada kedalaman lebih dari 100 m, menunjukkan bahwa pada kedalaman tersebut perairan daerah telitian mempunyai salinitas rendah. Kata kunci: foraminifera, lingkungan, Balikpapan, Kalimantan Timur The results of the Balikpapan offshore study in East Kalimantan waters (Sheet 1914), between 18m– 562m below sea level, revealed the sea floor sediment containing not less than 195 species of smaller and larger benthic foraminifera, and 34 species of planktic foraminifera. The smaller benthic foraminifera Heterolepa praecincta dominates the surface sediment in the study area, then Heterolepa margaritifera. Heterolepa praecincta is still found at the 383 m depth. However, towards the deeper, their number is decreasing. The number of uncommon smaller benthic foraminifera such as Biarritzina proteiformis in the study area and between Pangabakan – Sagita waters, in the north part of the study area, north of Mahakam Delta, is more abundant compared to that in the south part, in Lombok waters, the place where this species was firstly found. It is suggested that this condition is caused by the current coming from the north to the south. The species Operculina spp., mostly representated by the species O. complanata, O. ammonoides, and O. heterosteginoides, are much more common found in the depth of less than 100 m. Those species is commonly found associated with Amphistegina lessonii, indicating that this depth has a low turbulent with clear water conditions. The abundance of planktic foraminifera Neogloboquadrina dutertrei, especially within the depth of more than 100 m, indicating that this depth has a low salinity. Keywords: foraminifers, environment, Balikpapan, East Kalimanta

    POLA REGIONAL UNSUR UTAMA DAN MINERALOGI PERAIRAN UTARA JAWA TIMUR

    Get PDF
    Berdasarkan analisis megaskopik, jenis sedimen permukaan di daerah ini sebagian besar tersusun oleh sedimen berbutir halus berukuran lempung – lanau. Berdasarkan analisa 6 contoh sedimen dasar laut dengan menggunakan metode AAS, berhasil diidentifikasi jenis dan kandungan unsur utamanya dimana unsur-unsur tersebut memperlihatkan beberapa pola, seperti: (1) Pola linier negatif untuk CaO terhadap SiO2 (2) pola linier positif untuk K2O terhadap. SiO2 dan Al2O3 vs. SiO2 serta (3) Pola linier yang rata/datar, seperti telihat pada unsur Na2O, MgO dan Fe2O3 terhadap SiO2 . Semua ini menjelaskan tipe batuan asal di daratnya, seperti batugampingan yang tercerminkan oleh kandungan CaO dan MgO yang tinggi selain memperlihatkan pula bahwa sedimen dasar laut di lokasi telitian bersifat lempungan yang dicerminkan oleh kandungan Al2O3 (yang merupakan senyawa penyusun lempung) yang tinggi. Kata kunci: unsur utama, AAS (Atomic Absorption Spectrometry) dan Perairan utara Jawa Tengah-Jawa Timur. Based on megascopic analysizes, the sea floor surface sediment types on this area consist of fine grain sediment (from clay to silt). Atomic Absorption Spectometry (AAS) method was carried out to the 6 sea floor sediment samples that succeed to identified the different types and major element contents such as: (1) negative linier pattern for CaO to SiO2; (2) positive linier pattern for K2O to SiO2 and Al2O3 to SiO2; and (3) flat linier pattern is showed by Na2O, MgO and Fe2O3 to SiO2 . All these patterns are influenced by their source rocks on land, such as calcareous rocks have more contents of CaO and MgO where Al2O3 contents are closed to clay minerals. Key words: major element, AAS (Atomic Absorption Spectrometry) and northern central and east Java waters

    KANDUNGAN LOGAM BERAT (Cd, Cu, Pb, dan Zn) DALAM AIR LAUT DI PERAIRAN PANTAI TIMUR PULAU ROTE

    Get PDF
    Pulau Rote merupakan gugusan pulau terdepan NKRI paling selatan yang berbatasan dengan Australia. Pada tahun 2009 terjadi tragedi meledaknya sumur minyak Montana di Blok Atlas Barat Laut Timor yang mengakibatkan pencemaran di perairan Pulau Rote. Hal ini berpotensi dampak pada penurunan kualitas air, ikan tangkap, rumput laut, budidaya mutiara dan rusaknya terumbu karang serta tanaman mangrove. Penelitian Lingkungan dan Geologi Pantai di Perairan Pantai Timur Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur dilakukan pada bulan September-Oktober 2012. Dalam penelitian ini, diambil 40 sampel air secara acak dan sesaat tanpa memperhatikan waktu/musim. Tujuan sampel air terpilih digunakan untuk analisis logam berat yaitu kadmium (Cd), tembaga (Cu), timbal (Pb), dan Seng (Zn) dengan menggunakan metoda Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data dan informasi karakteristik kimia air laut untuk mendukung kegiatan wisata bahari. Kualitas logam berat dalam satuan ppm yang terukur berkisar antara : Pb (<0.001-0.017); Cu (<0.001-0.015); Zn (0.008-0.275); Cd (0.0002-0.0005). Nilai status mutu air laut berdasarkan kualitas logam berat yang terukur menurut Metode Storet diketahui : kualitas air laut di perairan termasuk kelas B baik (tercemar ringan) skor -2.Kata kunci kualitas air, logam berat, nilai status mutu, timur Pulau Rote Rote Island is a outers island of southern NKRI which bordering Australia. In 2009, tragedy explosion of oil wells in Block Atlas Montana West Timor which resulted in the pollution of the waters of the island of Rote. This could potentially impact on the quality of water, catching fish, seaweed, pearl cultivation and destruction of coral reefs and mangroves. Environmental and Coastal Geological Research in the Coastal Waters of East Coast Rote Island, East Nusa Tenggara was conducted in September-October 2012. In this study, 40 samples were taken at random and instantaneous water regardless of time / season. Purpose water samples selected for analysis of heavy metals, such as Cadmium (Cd), Cuprum (Cu), Plumbum (Pb), and Zinc (Zn) using the method of Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). The purpose of this study was to obtain data and information on the latest chemical characteristics in seawater to support marine tourism activities. Heavy metals quality in ppm ranges between: Pb (<0.001-0.017); Cu (<0.001-0.015); Zn (0.008-0.275); Cd (0.0002-0.0005). The water quality status value is based on the quality of heavy metals measured according to Storet methods, whereabout : sea water quality status value belongs to the class B good (lightly polluted) score of -2. Keywords: water quality, heavy metal, quality status value, east Rote Islan

    POLA ANOMALI GAYABERAT DAERAH TALIABU-MANGOLE DAN LAUT SEKITARNYA TERKAIT DENGAN PROSPEK MINYAK BUMI DAN GAS

    Get PDF
    Anomali gayaberat di daerah penelitian merupakan anomali tertinggi di Indonesia, secara umum dikelompokkan ke dalam 2 (dua) satuan, yaitu: kelompok anomali gayaberat 160 mGal hingga 260 mGal membentuk pola rendahan/cekungan anomali, dan kelompok anomali gayaberat 260 mGal hingga 620 mGal membentuk pola tinggian anomali. Anomali sisa 0 mGal hingga 5 mGal membentuk tinggian anomali, diduga merupakan gambaran antiklin dengan diameter 10 – 15 kilometer. Perangkap struktur migas di daerah Minaluli, Madafuhi dan Lekosula Pulau Mangole berdekatan dengan lokasi rembesan migas, sehingga diusulkan untuk dilakukan pemboran eksplorasi. Sedangkan di Pulau Taliabu, Tolong, Pena, Samuya dan Teluk Jiko masih perlu dilakukan penambahan data. Batuan reservoir terdiri dari batupasir dan batugamping Formasi Tanamu berumur Kapur Akhir, menempati daerah beranomali sisa 0 mGal hingga 5 mGal, dengan rapat massa batuan sekitar 2.65 gr/cm³. Batuan induk adalah Formasi Buya umur Jura Tengah - Jura Akhir dari serpih hitam dengan rapat massa 2.71 gr/cm³, dan dapur migas terbentuk di sekitar daerah beranomali sisa -4 mGal hingga -28 mGal yang membentuk sub-cekungan di utara lepas pantai Pulau Mangole. Kata kunci: gayaberat, dapur minyak, cekungan, migas, serpih hitam, anomali sisa, rapat massa, antiklin, batuan induk. The gravity anomaly of research area is the highest anomaly in Indonesia, generally it can be grouped into 2 (two) units, that are 160 mGal up to 260 mGal anomaly groups formed low anomaly pattern, and 260 mGal up to 620 mGal anomaly groups formed high anomaly pattern. 0 mGal to 5 mGal residual anomaly formed high anomaly pattern, it is interpreted as anticline with diameter are 10-15 kilometers. The trap oil and gas structures of this area at Minaluli, Madafuhi, and Lekosula are near the location of oil and gas seepage, that is propose to explore and drill in that area. Whereas in Taliabu Island, Tolong, Pena, Samuya, and Jiko Gulf still need increasing datas. Reservoir rocks consist of sandstones and limestones of Tanamu Formations were Late Cretaceous age, that occupied the location of 0 mGal to 5 mGal residual anomaly with density 2.65 g/cm ³. Hostrock are Buya Formation are Middle Jurassic - Late Jurassic from black shales with density 2.71 g/cm³, and kitchen oil were formed in the area - 4 mGal to -28 mGal residual anomaly that formed low anomaly in the northern offshore of Mangole Island. Keyword: gravity, oil kitchen, basin, oil and gas, black shales, recidual anomaly, density, anticline, hostrocks

    PENELITIAN DINAMIKA PESISIR MUARA SUNGAI COMAL DAN SEKITARNYA, JAWA TENGAH, DITUNJANG OLEH PENAFSIRAN DATA FOTO UDARA DAN CITRA SATELIT

    Get PDF
    Perubahan garis pantai di kawasan pesisir Kabupaten Tegal, Pemalang dan Pekalongan disebabkan oleh aktifitas sungai-sungai yang bermuara di pantai utara Pulau Jawa. Sungai-sungai tersebut mengangkut material sedimen yang disebarkan di Laut Jawa dan diendapkan kembali di sepanjang garis pantai oleh aktivitas gelombang laut mengakibatkan kawasan pesisir utara Pulau Jawa mengalami akresi. Iklim turut berperan dalam mempengaruhi perubahan garis pantai tersebut, khususnya pada musim hujan dimana air sungai akan meluap dan membanjiri kawasan pesisir dan mengendapkan material sedimen yang berlebihan. Citra Landsat 7 ETM+ hasil rekaman tahun 2002 menunjukan bentukan delta muara sungai Comal yang mengalami perubahan membentuk “cuspateâ€. Perubahan garis pantai di mulut muara diperkirakan karena arah muara sungai Comal selalu berpindah-pindah seirama dengan jumlah pasokan air sungai dan material sedimen terangkut, iklim serta aktivitas gelombang dan arus yang bergerak saat itu. Kata kunci : garis pantai, iklim, banjir, akresi dan cuspate. Coastline changes in Kabupaten Tegal, Pemalang and Pekalongan are caused by the rivers activity which spread out to the Java Sea. The sediment materials have been transported and distributed to the Java-sea and redeposited along the coastline by wave activities. Consequently, the coastline has been rapidly accreted by sedimentary processes. Closely climatic supported coastline changes during the rainy season, flooding covered river mouth area and deposited all sediment materials. Landsat 7ETM+ Satellite imageries recorded in 2002; delta form in river mouth of Comal River has been changed into cuspate delta form. The changes of delta configuration especially in the river mouth area have been interpreted by river water supply, sediment materials, climatic, wave and current activities. Keywords: coastline, climatic, flood, cuspate and accression

    GEOLOGI LINGKUNGAN KAWASAN PESISIR PULAU KECIL TERLUAR PULAU MIANGAS, KABUPATEN KEPULAUAN TALAUD SULAWESI UTARA

    Get PDF
    Pulau Miangas merupakan salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan Filipina. Pulau ini termasuk dalam wilayah Check Point Border Crossing Agreement. Berdasarkan pengamatan lapangan hampir seluruh bagian Pulau Miangas mengalami proses abrasi cukup kuat. Posisi pulau ini berada di laut lepas tanpa ada penghalang baik berupa pulau atau gosong, yang berfungsi sebagai penahan gelombang. Pulau ini dapat berdiri kokoh karena batuan dasarnya mempunyai tingkat resistensi tinggi seperti batuan Gunungapi Miangas yang ditindih secara tidak selaras oleh batugamping koral. Di beberapa bagian pantai rawan terhadap abrasi. Untuk mengurangi akibat abrasi diusulkan dibangun pelindung pantai. Kedalaman air di sekitar pulau ini antara 5 m – 110 m. Laut terdalam terdapat di bagian baratdaya yang berjarak 500 m dari garis pantai. Terdapat tiga jenis pantai di Pulau Miangas yaitu pantai berpasir, berbatu, dan bertebing terjal. Kata Kunci: Kesepakatan titik batas, geografis, abrasi, resistensi, Pulau Miangas Miangas island is one of the outermost islands of Indonesia wich is bordering with Philippines. This island is known as area Check Point Border Crossing Agreement. Based on field observations, almost all parts of the island of Miangas undergoes the process of abrasion that occur are strong enough. This island is located on the high seas without any barrier whether it be other islands or the sandbar that serves as the anchoring of the wave. Although the abrasion occurred in the coastal areas but it is still able to stand firm because the rocks are essentially has a high level of resistance such as Miangas volcanic rock which is covered by unconformity coral limestone. Parts of the coast are resistance to abrasion. To reduce the abrasion are proposed to built coastal protection. The depth of the sea floor that measured is between 5 m-110 m. The inner Area is approximately 500 m from the shoreline. There are three types of the beach on the Miangas island such as sandy beaches, rocky, and hilly beach. Keywords: Check Point Border Crossing Agreement, geographical, abrasion, resistance, Miangas islan

    GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DASAR LAUTPERAIRAN LEMBAR PETA 0421, DAERAH ISTIMEWA ACEH

    Get PDF
    Hasil kegiatan penelitian geologi kelautan Lembar Peta 0421menghasilkan data seismik dan pemeruman sepanjang lebih kurang 963,73 kilometer. Dari peta batimetri ditemukan beberapa kelurusan dengan arah hampir baratlaut-tenggara dan diduga merupakan sesar. Hasil penafsiran data menunjukkan bahwa stratigrafi rekaman seismik, daerah penelitian secara garis besar dapat dibagi menjadi 4 (empat) unit yaitu unit 1; unit 2; unit 3, dan unit 4. Jika dikaitkan dengan geologi regional daerah penelitian, unit 1 diduga dapat disebandingkan dengan Formasi Peunasu berumur Miosen, unit 2 diduga dapat disebandingkan dengan Formasi Seurula & Formasi Julurayeu berumur Pliosen, unit 3 diduga dapat disebandingkan dengan endapan volkanik Toba berumur Plistosen, dan unit 4 diduga dapat disebandingkan dengan aluvial berumur Holosen. Pembagian unit tersebut berdasarkan pada adanya bidang tidakselarasan (onlap), dan pepat erosi (erosional truncation). Kata kunci : lembar peta 0421, unit seismik, ketidakselarasan. The results of marine geological investigation of map of sheet 0421 gave a data of seismic and sounding approximately 963.73 kilometers long. Bathymetric map indicates some alignment with the direction of nearly northwest-southeast and presumed to be faults. Seismic data interpretation indicate that the stratigraphy of the study area can broadly be divided into 4 (four) units those are unit 1; unit 2; unit 3, and unit 4. Correlation balance with regional geology, show that seismic, unit 1 correlates with Peunasu Formation of Miocene, unit 2 correlates with Seurula Formation and Julurayeu Formation of Pliocene, unit 3 correlates with Old Toba volcanic deposites of Pleistocene, and unit 4 correlates with Alluvium of Holocene. The division of seismic units was based on unconformity (onlap) and (erosional truncation). Keywords: map of sheet 0421, seismic units, unconformity

    449

    full texts

    645

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇