MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
    645 research outputs found

    STRUKTUR GEOLOGI DI PERAIRAN PASANG KAYU, SULAWESI BARAT

    Get PDF
    Daerah penelitian dicirikan oleh morfologi dasar laut yang terjal dan bergelombang dengan kedalaman bervariasi dari 40 meter di bagian timur hingga 2150 meter di bagian utara. Berdasarkan data rekaman seismik pantul dapat diidentifikasi adanya struktur geologi berupa sesar, lipatan, dan diapir. Kenampakan struktur-struktur tersebut ditandai dengan adanya lapisan yang patah, bergelombang, dan bentuk kubah. Sesar umumnya berarah timurlaut-baratdaya, dimana perkembangannya diduga sangat dipengaruhi tektonik regional terutama sesar utama Palu-Koro yang ada di daratan Pulau Sulawesi dan menerus ke laut sekitar lokasi penelitian. Kata kunci: morfologi, struktur geologi, sesar Palu-Koro, Pasangkayu The study area is characterized by the steep sea floor morphology with the depth from 40 metres in the east to 2150 metres in the north. On the basis of reflection seismic records, the geological structures such as faults, folds, and diapirs can be recognized. The appearance of such structures is signed by the faulted, wavy and domed layers. The faults in general have NE –SW direction, where it development possibly influenced by the regional Palu-Koro Fault present in Sulawesi island that continue to the study area. Keywords: morphology, geological structures, Palu –Koro Fault, Pasangkay

    INDIKASI KETERDAPATAN ENDAPAN PLASER PEMBAWA TIMAH DAN UNSUR TANAH JARANG (REE), DI PERAIRAN TODAK, SINGKEP, KEPULAUAN RIAU

    Get PDF
    Penelitian geofisika di Perairan Todak, Singkep, Kepulauan Riau menggunakan seperangkat peralatan seismik pantul dangkal saluran tunggal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjang penelitian keterdapatan endapan plaser pembawa timah dan unsur tanah jarang (REE). Hasil interpretasi rekaman seismik diperoleh terdapatnya lembah/mangkuk yang terbentuk secara alami akibat adanya terobosan batuan granit, di mana lembah/mangkuk-mangkuk ini merupakan tempat terjadinya sedimentasi dari hasil pelapukan batuan di sekitarnya. Hasil interpretasi rekaman seismik pantul saluran tunggal analog di perairan Todak, Singkep, dapat diklasifikasikan menjadi 3 runtunan yaitu runtunan A, B, dan runtunan C.Kata kunci Data seismik, endapan plaser, lembah/mangkuk, Perairan Todak. Geophysical research at Todak, Singkep, Riau Archipelago Province, by using single channel sahllow seismic refletion. The purpose of research is to support placer deposit bearing tin and rare earth element research at this area. From seismic interpretation can be recognized the distribution of valley/bowls which is naturally formed, caused by granite rock intrusion. Those valleys are sedimentation places of wheathered rock from the surrounding area. Beside that, the seismic research also for determining the placer deposit thickness. Interpratation of analog single channel seismic records in the Todak waters, Singkep, result 3 seismic sequences and intrusive feature, A sequences, B, and C. Keywords: Seismic data, placer deposit, valley/basin, Todak Watres

    KANDUNGAN EMAS LEBIH TINGGI DALAM SEDIMEN FRAKSI KASAR DARIPADA FRAKSI HALUS DI PERAIRAN BAYAH - PROPINSI BANTEN AKIBAT KONDISI PENGENDAPAN TERBUKA SAMUDERA HINDIA

    Get PDF
    Emas letakan dasar laut maupun pantai Perairan Bayah terdapat dalam pasir, pasir sedikit kerikilan, pasir kerikilan, pasir lumpuran, lumpur pasiran, pasir lumpuran sedikit kerikilan dan lumpur pasiran sedikit kerikilan. Akibat lingkungan pengendapan terbuka Samudera Hindia; sedimen fraksi kasar pasir, pasir sedikit kerikilan dan pasir kerikilan cenderung berkadar Au lebih tinggi daripada sedimen fraksi halus di daerah ini. Berdasarkan pendekatan diagram Total Alkali Silika, batuan beku asal emas sekunder adalah dasit bagian dari Granodiorit Cihara sekitar 10 kilometer sebelah barat Bayah. Kemudian karena densitas emas yang besar (19,3), logam mulia ini cenderung terakumulasi di sedimen bawah permukaan daripada permukaan terutama di daerah pantai. Arus sejajar pantai dari barat yang melalui kompleks batuan beku Granodiorit Cihara kemungkinan membawa emas ke timur serta terjebak oleh morfologi teluk yang dibatasi tanjung Ujung Karangtaraje di sekitar muara Sungai Madur. Emas kadar tinggi banyak terdapat disini. Kata kunci : emas letakan, karakteristik sedimen, dasar laut, pantai Bayah Gold placer of seabottom and coastal zone of Bayah Waters occurred in sand, slightly gravelly sand, gravelly sand, muddy sand, sandy mud, slightly gravelly muddy sand and slightly gravelly sandy mud. Due to open Indian Ocean deposition environment; coarse sediments of sand, slightly gravelly sand and gravelly sand tend to have higher Au contents than fine sediments. Based on Total Alkali Silica diagram, igneous rock as the source of secondary gold is dacite which belongs to Granodiorite Cihara approximately 10 kilometers west of Bayah. Furthermore, due to its high density (19,3) gold tends to accumulate in subsurface sediments than surficial deposits especially in the coastal area. Longshore current from the west passing through igneous rock complex Granodiorite Cihara possibly brought along gold to the east which is trapped by bay morphology formed by Ujung Karangtaraje headland located surround Madur River mouth. High content gold was much accumulated in this area. Key words : gold placer, sediment characteristics, seabottom, Bayah coas

    FORAMINIFERA DI PERAIRAN SEKITAR BAKAUHENI, LAMPUNG (SELAT SUNDA BAGIAN UTARA)

    Get PDF
    Penelitian foraminifera bentik dari 15 percontoh sedimen dasar laut di bagian utara Selat Sunda, Perairan Bakauheni, Lampung telah dilakukan secara kuantitatif. Keterdapatan foraminifera bentik di daerah penelitian sangat melimpah dan bervariasi yaitu terdiri dari 142 spesies (65 genera) yang diidentifikasi dari 7.799 spesimen. Berdasarkan penelitian ini diperoleh bahwa kelimpahan dan komposisi spesies foraminifera di bagian timur (sekitar Bakauheni) cenderung lebih tinggi (rata-rata 6,24%) dibandingkan dengan bagian barat (rata-rata 4,7%) daerah penelitian. Hal ini kemungkinan dapat dikaitkan dengan arah pergerakan arus dasar laut yang bekerja di daerah penelitian. Keanekaragaman foraminifera bentik tertinggi terdapat pada titik lokasi BHL-36 yang terletak di bagian barat daerah penelitian dan terdiri dari 104 spesies. Kelimpahan tertinggi (10,07%) terdapat pada titik lokasi BHL-25 yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Bakauheni dan didominasi oleh spesies tertentu yang dapat bertahan hidup. Subordo Rotaliina merupakan kelompok utama di daerah penelitian yang dicirikan oleh genera Asterorotalia, Operculina, dan Elphidium. Benthic foraminifera from fifteen surface sediment samples in the northern part of Sunda Strait, Bakauheni Waters, Lampung have been analysed quantitatively. The occurrences of benthic foraminifera in the study area are very abundance and varied, it comprises of 142 species (65 genera), which is identified from 7,799 specimens. Based on this research, it is resulted that the abundance and diversity of foraminifera in the east (around Bakauheni) are higher (average of 6.24%) than in the west (average of 4,7%) of the study area. It may relate to bottom current pattern that work in the study area. The highest diversity of benthic foraminifera occurs at site BHL-36, which lies in west part of the study area and it comprises of 104 species. The highest number of individu (10.07%) occurs at the site of BHL-25, which is close to Bakauheni Harbour and it is dominated by certain survived species. Subordo Rotaliina is the main group found in the study area that is characterized by genera of Asterorotalia, Operculina, and Elphidium

    KARAKTERISTIK PANTAI DAN RESIKO TSUNAMI DI KAWASAN PANTAI SELATAN YOGYAKARTA

    Get PDF
    Gempa besar yang terjadi di selatan Jawa yang menimbulkan tsunami pada tanggal 17 Juli 2006, telah menimbulkan dampak kerusakan yang dialami oleh kawasan pantai di selatan Jawa, diantaranya pantai Yogyakarta dengan tinggi maksimum sekitar 3,4 meter. Gempa ini mempunyai magnitude M7,7 (USGS, 2006), pada kedalaman 10 km di bawah dasar laut. USGS menyatakan bahwa gempa ini memiliki mekanisme sesar naik dan berasosiasi dengan zona subduksi antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan pada tahun 2002 memperlihatkan bahwa kondisi batimetri di perairan selatan Yogyakarta dari pantai hingga 12 mil ke arah laut lepas berkisar antara 5 hingga 350 meter, yang berangsur makin dalam ke arah laut dengan pola kontur batimetri yang sejajar dengan garis pantai. Berdasarkan karakteristik pantainya, kawasan pantai Yogyakarta dapat dibagi menjadi 2 zona resiko tsunami, yaitu: (1) Zona Resiko Tinggi terdapat pada lokasi dengan bentuk pantai berteluk dan pantai berkantong (pocket beach) di kawasan sepanjang pantai mulai dari Parangendog ke arah timur hingga pantai Sadeng, khususnya pada pantai-pantai yang dimanfaatkan sebagai kawasan wisata atau pemukiman nelayan yang dibangun relatif dekat dengan garis pantai; (2) Zona Resiko Rendah, diperlihatkan di kawasan sepanjang pantai mulai dari Parangtritis ke arah barat hingga pantai Pasir Congot, yang meskipun memiliki morfologi pantai relatif landai dengan garis pantai lurus, namun pemukiman dan bangunan wisat dibangun pada jarak yang relatif jauh dari garis pantai dan berada di belakang gumuk pasir (sand dune) yang berfungsi sebagai pelindung alami dari gelombang tsunami. Kata kunci : tsunami, karakteristik pantai, batimetri, zona resiko tsunami Great earthquake that has generated tsunami occurred offshore south of Java in July 17, 2006. The coast of Yogyakarta was one of the impacted areas by tsunami waves and the maximum tsunami height measured in this area about 3.4 meters. This earthquake has Magnitude M 7.7 (USGS, 2006) with depth of about 10 kms under the seafloor. USGS pointed out that this earthquake was thrust fault mechanism associated with subduction zone between Indo-Australia and Eurasian Plates. Study on marine and coastal geology at the coast of Yogyakarta has been carried out by Marine Geological Institute in 2002. Based on this study, it was known that bathymetry along the coast as far as 12 miles seaward are about 5 meters to 350 meter-depth which are gradually increase contour parallel to the shoreline. Coastal characteristic study along the coast of Yogyakarta indicate that this area can be divided into two zones of tsunami risk; (1) First zone is high tsunami risk, which is represented by coastal area along Parangendog to Sadeng, this area is bay-shape, settlement area generally close to the shoreline without sufficient protection; (2) Flat morphology, with sand dune along Parangtritis to the west, dominated by straight shoreline, and settlement area behind the sand dune, make this area has relatively low in tsunami risk. Keywords: tsunami, coastal characteristic, bathymetry, tsunami risk zone

    STRUKTUR DIAPIR BAWAH PERMUKAAN DASAR LAUT DI KAWASAN PESISIR SELATAN KABUPATEN SAMPANG-PAMEKASAN, JAWA TIMUR

    Get PDF
    Penelitian seismik pantul dangkal saluran tunggal (seismic profiling) dilakukan di lepas pantai Kabupaten Sampang dan Pamekasan, pesisir selatan Madura dengan hasil rekaman sepanjang 300 km. Interpretasi data seismik dilakukan dengan cara memisahkan runtunan-runtunan yang diduga mempunyai karakter yang berbeda serta mencirikan urut-urutan pengendapan batuan sedimen. Ciri dari runtunan Kuarter ditandai dengan sedimen yang mempunyai runtunan yang tidak terganggu oleh aktivitas struktur geologi seperti perlipatan maupun pensesaran. Runtunan Tersier dicirikan dengan adanya aktivitas struktur lipatan sangat ketat seperti antiklin, sinklin, dibarengi dengan sesar-sesar, serta intrusi-intrusi diapir. Data interpretasi seismik pantul dangkal saluran tunggal memberikan gambaran tentang struktur geologi bawah dasar laut walaupun dengan penetrasi yang sangat terbatas (dangkal). Data tersebut juga memberikan gambaran serta indikasi adanya jebakan-jebakan gas bumi dan diapir di kawasan pantai Kabupaten Pemekasan dan Sampang. Kata Kunci : seismik, runtunan, diapir, Sampang dan Pamekasan Single channel seismic profiling activity carried out in the southern coast of Pamekasan and Sampang District, southern coast of Madura, has recorded data of more or less 300 kilometres. The interpretation of seismic profiling records have been done by separating the sequence of sediments which have chronologically different character and depositional environments. The characteristic of Quaternary sediment sequence is indicated by the sediment that did not disturbed by geological structures, such as folding and faulting. The Tertiary sediment sequences in the south coast of Pamekasan area have been tightly folded which consist of anticline, sincline shale diapir and faulting phenomena. The interpretation of seismic profiling data showed the indication of the geological structure under the sea floor although by means of the shallow penetration energy. It still can be helpful to indicate diapire and gas closures in the southern coast of Sampang and Pamekasan areas. Key words : seismic, sequence, diapire, Sampang and Pamekasa

    FENOMENA SEDIMENT CLOUD DI PERAIRAN TANJUNG PONTANG BANTEN

    Get PDF
    Penafsiran data rekaman strata box dari daerah penelitian menunjukkan 2 (dua) runtunan akustik yaitu runtunan A, dan runtunan B. Kontak antara runtunan A dengan B berupa kontak toplap atau pepat erosi. Runtunan B adalah runtunan termuda yang proses pengendapannya masih berlangsung sampai sekarang. Dalam rekaman strata box banyak ditemukan pantulan dalam bersifat keruh di dalam kolom air. Hal tersebut diperkirakan berupa gambaran reflektor sediment cloud (awan sedimen). Munculnya sediment cloud diperkirakan ada kaitannya dengan aktivitas gunung api yang ada di daerah penelitian (Gunung Karang). Sediment cloud terjadi akibat adanya tekanan fluida yang berasal dari bawah permukaan dasar laut, yang menerobos ke permukaan dasar laut, disertai dengan muatan material sedimen. Sebaran sediment cloud di daerah penelitian cukup luas, sehingga sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut. Kata kunci : Rekaman strata box, penafsiran, sediment cloud, gunung api. Strata box records interpretation from the study area indicate two sequences, those are sequence A and sequence B. Sequence A is separated from sequence B by toplap contact. Sequence B is the youngest sequence in the study area is which its deposition still active until now. In the strata box records the chaotic reflection features are found in its water column. These features are assumed as sediment clouds. The appearance of these clouds in the study area is possibly related to volcano activities (Karang Volcano). This phenomenon is occurred due to fluid pressure derived from sub-seabottom, followed by sediment material blow out. The sediment clouds are widely distributed, thus it is interesting to be further studied. Key words : Strata box records, interpretation, sediment cloud, volcano

    KETERDAPATAN EMAS LETAKAN DAN IKUTANNYA DI PERAIRAN DELTA KAPUAS, PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT

    Get PDF
    Perairan Delta Kapuas merupakan tempat yang baik bagi akumulasinya endapan letakan asal Sungai Kapuas. Permukaan dasar lautnya ditutupi oleh sedimen pasir, pasir lanauan, lanau pasiran dan lanau. Sedimen ini mengandung logam emas (Au) dan ikutannya, yaitu perak (Ag), tembaga (Cu), timbal (Pb), seng (Zn) dan timah (Sn). Kadar terendah yaitu emas berkisar 2 - 92 ppb dan tertinggi Sn < 10 - 320 ppm. Keterdapatan emas secara lateral relatif membesar ke arah bagian hulu dan secara vertikal membesar ke bagian bawah permukaan. Keterdapatan emas dan ikutannya tersebut tidak satupun dijumpai pembawa mineral bijihnya. Namun secara kualitatif keterdapatan unsur-unsur logam ini sesuai dengan hasil analisis geokimia dari percontohan "stream sediment" dan "pan concentrate" di Sungai Delta Kapuas. Primernya diduga berkaitan dengan peristiwa Batuan Terobosan Sintang yang dijumpai secara setempat di sebelah timur daerah penelitian. Delta Kapuas Waters are a good place for placer deposits accumulation originally from Kapuas River. The seafloor sediment surface are covered by sand, silty sand, sandy silt and silt. These sediments content of gold (Au) and its associate metal, such as silver (Ag), copper (Cu), lead (Pb), zinc (Zn) and tin (Sn). The lowest content of gold is approximately between 2 - 92 ppb and the highest content of tin is approximately between < 10 - 320 ppm. Laterally, the occurrence of gold is relatively higher to the upstream part and vertically higher to the deeper part of the sediment. The existence of gold (Au) and its associate metal as mentioned above could not be traced to its ore mineral. But qualitatively the existence of these metal elements are in accordance with the result of geochemical analysis of the stream sediments and concentrate pan samples in the Delta Kapuas river. Its primary source is anticipated relate to the Sintang intrusion event which occurred locally in eastern of research area

    KECEPATAN PENGANGKATAN PULAU BUTON DAN JEJAK PERUBAHANMUKA AIR LAUT DI ZAMAN KUARTER

    Get PDF
    Beberapa indikasi menunjukan adanya jejak muka laut cukup tinggi di zaman Kuarter, ketinggiannya mencapai ±250 meter diatas muka laut masa kini, ditemukan pada kawasan pantai Tira hingga Tanjung Labokeh, Buton bagian selatan. Jejak tersebut terrekam pada permukaan terumbu karang yang membentuk undak laut di kawasan pantai Buton Selatan. Tujuh buah hasil pentarikhkan Radiokarbon memberikan tiga contoh berumur 1500 hingga 3000 tahun dan contoh terumbu karang lainnya berumur lebih tua dari 40.000 tahun sebelum saat ini. Runtunan data Radiokarbon secara garis besar menunjukan kesesuaian dengan perubahan muka laut pada zaman Kuarter yang telah di prakirakan oleh teori astronomi perubahan cuaca masa lalu. Jika dibandingkan data Radiokarvbon dengan data urutan undak laut menunjukan bahwa rata-rata aktivitas tektonik pengangkatan dikawasan pantai Tira hingga Tanjung Labokeh adalah 0,7 = 0,8 mm/tahun. Pengangkatan rata-rata Pulau Buton tampak lebih cepat dari Pulau Muna akibat adanya sesar aktiv diantara kedua pulau tersebut. Several indicators of a slightly higher Quaternary sea-level, reaching about ± 250 meters above the present situation have been found along the coastas of Tira to Cape Labokeh. South Buton. They are corrals in growth position on the surface of reef platform of South Buton. Seven Radiocarbbon datings have provided ages of three samplewsa are 1500 to 3000 and the other four samples are more older than 40.000 years BP. The Radiochronological data are thus broadly consistent with the timing of sea-level fluctuations predicted by the astronomical theory of paleoclimates. Comparision with the data from terraces sequences and from Radiocarbon dating records indicates that the average tectonic uplift rate at Tira and Cape Labokeh, South Buton is on the order of 0,7 – 0.8 mm / years. The uplift rate of Buton is more faster than Muna because of the active fault in between

    ANALISIS SAMPEL PASIR BESI UNTUK STUDI REKONAIS REGIONAL DI KECAMATAN NANGAPANDA DAN ENDE - FLORES

    Get PDF
    Dengan semakin terbatasnya potensi sumberdaya alam di darat, kawasan pesisir dan laut Kabupaten Ende-Flores saat ini sedang menjadi alternatif bagi kegiatan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan investasi, terutama dari sektor pertambangan pasir besi. Dua buah contoh pasir besi yang dianalisis dalam penelitian ini sifatnya sangat regional yang diambil dari wilayah pantai Kecamatan Nangapanda dan Kecamatan Ende untuk tujuan rekonais. Kandungan bahan dalam contoh sedimen berdasarkan hasil analisis volumetrik kualitatif menunjukan bahwa kadar Fe-Total adalah 62,6 % dan 50,3 %, serta FeO adalah 30,5 % dan 27,0 %, masing-masing untuk Kecamatan Nangapanda dan Kecamatan Ende. Sedangkan untuk mengetahui jumlah kandungan Fe2O3 , hasil analisis volumetrik kuantitatif masing-masing menunjukan nilai 55,6 % dan 41,9 % untuk kedua daerah tersebut di atas. Kandungan TiO2 yang diketahui dari hasil analisis Spektofotometri masing-masing adalah 9,57 % dan 7.45 %, sedangkan kandungan Ni dengan menggunakan metoda AAS tidak terdeteksi untuk kedua daerah tersebut. The limited of on-land recourses impacting the coastal areas of Ende Regency-Flores as the alternative of human activities to get more treasures and investment, especially iron sands mining. The analyzed iron sand samples in this study were regionally taken from Nangapanda and Ende Districts for recognizance purposes. The compound of substances within samples based on a qualitative volumetric analysis indicates that the Total-Fe are 62.6 % and 50.3 %, and FeO are 30.5 % and 27.0 % each are for Nangapanda and Ende Districts. In contrast, to indicate the Fe2O3 compound, a quantitative volumetric shows the qualities are 55.6 % and 41.9 % for these two locations. TiO2 compound indicated from Spectrofotometric analysis are 9.57 % and 7.45 % for each location, and Ni compound was not indicated from AAS method for these two locations

    449

    full texts

    645

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇