MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
    645 research outputs found

    PROSPEK SUMBER DAYA ENERGI BERDASARKAN ANALISIS POLA ANOMALI GAYA BERAT DI DAERAH BIAK DAN SEKITARNYA, PAPUA

    Get PDF
    Hasil penelitian gayaberat di Pulau Biak menghasilkan anomali gayaberat yang dikelompokkan kedalam 2 (dua) satuan yaitu anomali gayaberat 50 mGal hingga 120 mGal membentuk rendahan anomali mencerminkan cekungan. Kelompok anomali gayaberat 120 mGal hingga 220 mGal membentuk tinggian anomali. Pola tinggian anomali sisa 0 mGal hingga 2 mGal diduga sebagai perangkap struktur migas yang terdapat di daerah Kota Biak utara, Mandon dan lepas pantai timur P. Pai. Batuan bertahanan jenis rendah antara 0 - 16 Ohm-meter yang mengindikasikan batuan reservoir jenuh fluida terbentuk di kedalaman 2500 meter. Kedalaman batuan dasar terbentuk antara 7000-8500 meter, dengan rapat massa batuan 2.9 - 3.1 gr/cm3 bertahanan jenis tinggi 1000-8200 Ohm-meter diduga sebagai cerminan dari batuan ultramafik kerak samudera. Batuan yang menyusun di daerah penelitian terdiri atas lapisan batuan Tersier dengan rapat massa 2.45 gr/cm3, batuan Pra-Tersier dengan rapat massa 2.75 gr/cm3 dan batuan dasar dengan rapat massa 3.1 gr/cm3. Batuan sumber adalah serpih Formasi Makat berumur Miosen dengan rapat massa batuan 2.45 gr/cm3, sedangkan batuan reservoir terdiri dari batupasir Formasi Mamberamo. Kata kunci Gayaberat, cekungan, migas, anomali sisa, rapat massa, sesar, antiklin, batuan sumber, tahanan jenis. Gravity research on the island of Biak gravity anomalies are grouped into two (2) units is a gravity anomaly 50 mgal up to 120 mgal is basin reflecting. Gravity anomaly 120 mgal up to 220 mgal formed heights anaomaly. Altitude residual anomaly from 0 mGal to 2 mgal is oil and gas as trapping structures contained in the northern City of Biak, off the east coast Mandon and P. Pai. The rocks is of low resistivity between 0 -16 Ohm-meter that indicates the saturated fluid reservoir rocks are in the depths of 2500 meter. The depth of the bedrock formed between 7000-8500 meters, with density 2.9 - 3.1 gr / cm3 is heights resistivity types of 1000-8200 Ohm-meter interpreted as a reflection of ultramafic rocks oceanic crust. The rocks in the study area consists of Tertiary rocks layers with a density 2.45 gr / cm3, the Pre-Tertiary rocks with density 2.75 gr / cm3 and bedrock with density 3.1 gr / cm3. The source rocks is of shale from Makat Formation Miocene age with density 2.45 gr / cm3, and the reservoir rock consists of sandstone Mamberamo Formation. Keywords: Gravity, basin, oil and gas, recidual anomaly, density, fault, anticline, source rocks, resistivity

    SEISMIK STRATIGRAFI PERAIRAN LOMBOK LEMBAR PETA 1807, NUSA TENGGARA BARAT

    Get PDF
    Hasil studi seismik stratigrafi di perairan Lombok Lembar Peta 1807 menghasilkan empat runtunan stratigrafi A, B, C, D dan intrusi batuan volkanik. Kontak antara runtunan A dengan runtunan B adalah kontak onlap yang terletak di bagian barat laut dan utara daerah telitian. Kontak antara kedua runtunan tersebut di atas dengan runtunan C dibatasi oleh suatu reflektor yang kuat dan menerus, serta sudah mengalami perlipatan seperti terlihat di bagian baratlaut daerah telitian, tepatnya di bagian atas Pulau Bali bagian timur. Pola gambaran pantulan runtunan ini adalah paralel, diduga runtunan ini tidak terpengaruh tektonik yang terjadi di daerah telitian. Result of seismic stratigraphy study in Lombok Waters Map Sheet 1807 yielded four A, B, C, D and Volcanic rock intrusion. Contact between sequence A and sequence B is onlap, which is located in the northwestern and northerm part of the study area. Contact between both sequences mentioned above with sequence C is limited by strong continous reflector that have also underwent of fold like found in the northwestern part of the study area, precisely in eastern part of Bali. Internal reflector pattern of this sequence is parallel, which is guessed because this sequence this sequence does not influenced by tectonic activity in the study area

    Front Cover

    No full text

    THE INCLINATION OF COASTLINE CHANGES AND ITS IMPLICATION FOR LANDUSE MANAGEMENT OF KARAWANG DISTRICT, WEST JAWA PROVINCE

    Get PDF
    Result of observation at 11 locations and the coastline analysis at year map 1990 published by Bakosurtanal and year map 2005 published by Bappeda of Karawang District shows that the existence of changes of the coastline is caused by abrasion and accretion process. The coastal abrasions are occurred in Muarabaru, South Pusakajaya, Cemarajaya and Tanjungpakis areas. The coastal accretions are occurred in Ciparage - Sukajaya, Mekarpohaci, Cemarajaya - South Pusakajaya, East and West Tanjungpakis areas. During the periods of 15 years the abrasions are occurred with the width of 813,171 ha (8,13171 km2) and the coastal long of 30,637 km, and accretions with the width of 1346,22 ha (13,4622 km2) and the coastal long of 43,313 km. Every year the width of abrasion is about 54,21 ha or about 0,5421 km2/year and the width of accretion is about 89,748 ha/year or 0,8975 km2/year. The growth of coastal area about 89,748 ha/year or 0,8975 km2/year. If the coastal management is conducted at the abrasion coasts, the coastal damage can be decreased, and the coastal growth for the productive landuse can be increased. Keywords: coastline changes, abrasion, accretion, landuse development. Hasil pengamatan pada 11 lokasi dan analisis garis pantai pada peta tahun 1990 yang dipublikasikan oleh Bakosurtanal dan peta tahun 2005 yang dipublikasikan oleh Bappeda Kabupaten Karawang menunjukkan adanya perubahan garis pantai yang disebabkan oleh proses abrasi dan akresi. Pantai abrasi terjadi di daerah Muarabaru, Pusakajaya Selatan, Cemarajaya, Sedari dan Tanjungpakis. Pantai akresi terjadi di daerah Ciparage - Sukajaya, Mekarpohaci, Cemarajaya - Pusakajaya Selatan dan Tanjungpakis Timur & Barat Selama kurun 15 tahun telah terjadi abrasi seluas 813,171 ha (8,13171 km2) dengan panjang pantai 30,637 km, dan akresi seluas 1346,22 ha (13,4622 km2) dengan panjang pantai 43,313 km. Setiap tahun terjadi abrasi seluas 54,21 ha atau sekitar 0,5421 km2/tahun dan akresi seluas 89,748 ha/tahun atau sekitar 0,8975 km2/tahun. Pertumbuhan kawasan pantai masih lebih besar, yaitu sekitar 89,748 ha/tahun atau sekitar 0,8975 km2/tahun. Bila pengelolaan dilakukan pada pantai-pantai abrasi, maka kerusakan pantai dapat dikurangi dan pertumbuhan pantai untuk lahan produktif masih dapat ditingkatkan. Kata kunci: perubahan garis pantai, abrasi, akresi, pengembangan tataguna lahan

    ABRASION WAVE OBSTRUCTS TOURISM DEVELOPMENT IN COASTAL REGIONS OF BINUANGEUN, LEBAK - BANTEN

    Get PDF
    Geographically, the study area is located in the southern coast of Java and also exposed to the influence of wave energy from the southeast, south and southwest. The energy flux of waves generated by surface wind components that affect the coastline and the surrounding waters of Binuangeun. The impact of the wave coming from southeast direction caused a continuous abrasion process in Binuangeun coast and its adjacent areas, included the tourism area in the eastern part of Binuangeun coast towards the center of the study area. The current movement along the coast was accompanied by sediments deposition which tends to westward. The value of sediments supply (Vq) in sample area point number 9 was bigger than the sample area number 4 about 33.703 m3/year within the same direction tendency of sediments deposition. Western part of Binuangeun coastal area would presumably become the sediment accumulation point throughout the year, while the erosion process in the central part of the study area were expanding and occured seasonally. Keywords : abrasion, Binuangeun, flux energy Secara geografis daerah penelitian terletak di pesisir selatan Pulau Jawa dan termasuk pantai terbuka terhadap pengaruh energi gelombang dari arah tenggara, selatan dan barat daya. Energi fluks gelombang yang dibangkitkan oleh komponen angin permukaan berpengaruh terhadap garis pantai perairan Binuangen dan sekitarnya. Efek gelombang dari arah tenggara mengakibatkan proses abrasi di pantai Binuangen dan sekitarnya, terutama kawasan wisata bagian timur pantai Binuangen hingga ke bagian tengah. Pergerakan arus sepanjang pantainya disertai oleh pengendapan sedimen yang cenderung mengarah ke barat. Nilai pasokan sedimen (Vq) pada titik tinjau 9 lebih besar dari pada di titik 4 yaitu sebesar 33.703 m3/tahun dengan pasokan sedimen cenderung bergerak ke arah barat. Daerah pesisir kawasan bagian barat Binuangen diperkirakan akan menjadi zona akumulasi sedimen sepanjang tahun, sementara proses erosi di bagian tengah daerah penelitian tetap berkembang dan berlangsung secara musiman. Kata kunci : abrasi, Binuangen, energi fluk

    Front Cover

    No full text

    3D PROPERTIES MODELING TO SUPPORT RESERVOIR CHARACTERISTICS OF W-ITB FIELD IN MADURA STRAIT AREA

    Get PDF
    The gas field, initial named W-ITB Field, is located at the southwestern part of the East Java sedimentary basin in Madura Strait area. W-ITB Field was discovered by W-ITB#1 well in 2006. In W-ITB#1 well gas reservoir layer was just only found at Selorejo and Mundu Formation, on the other hand, on W- ITB#2 the gas reservoir is not found in Mundu Formation. Determination of reservoir characteristic including the distribution and quality at W-ITB Field, was done by using 3D geological modelling both for structure and stratigraphy. This model was executed based on integration of well data (petrophysics) and cross section seismic interpretation. The results, at Zone 2 and Zone 3 for vertical V-shale distribution shows as a good quality reservoir (0-15%). Laterally distribution, area at southwest of W-ITB 1 well has low V-shale or chatagorized as a good quality reservoir. While, porosity distribution, zone 1 and zone 2 have better reservoir (29-35% V-shale value) than Zones 3 and 4. NTG distribution result indicates that zone 2 and 3, with high value means a good reservoir. Due to only two exploration well, to guide lateral distribution, so that acoustic from seismic data is used for porosity distribution. Key words: modelling, reservoir, characteristic, V-shale, porosity, quality, Madura Strait Lapangan gas dengan nama inisial W-ITB terletak di bagian barat daya cekungan sedimen Jawa Timur yang termasuk di wilayah Selat Madura. Lapangan ini ditemukan dari Sumur W- ITB#1 pada tahun 2006. Pada sumur W- ITB#1 Lapisan reservoir yang mengandung gas hanya dijumpai pada Formasi Selorejo dan Mundu, namun dari hasil sumur W- ITB#2, lapisan reservoir gas dalam Formasi Mundu tidak diperoleh. Penentuan karakteristik reservoir termasuk distribusi dan kualitasnya di Lapangan W-ITB dilakukan dengan pemodelan geologi 3-Dimensi baik secara struktur dan stratigrafi dengan berdasarkan pada integrasi data sumur pemboran dan penampang seismik yaitu analisis petrofisik dan interpretasi seismik. Berdasarkan pemodelan 3-Dimensi, pada Zone-2 dan Zone-3 untuk distribusi V-shale secara vertikal merupakan zone dengan kandungan reservoir yang baik dengan nilai V-sh 0 – 15%. ecara distribusi lateral, wilayah di bagian barat daya dari sumur W- ITB#1 memiliki kandungan V-sh yang rendah atau dikategorikan reservoir dengan kualitas baik. Adapun pada distribusi porositas, Zona-1 dan Zona-2 mengandung reservoir yang lebih baik dengan nilai 29- 35% daripada Zona-3 dan Zona-4. Hasil distribusi NTG mengindikasikan bahwa Zona-2 dan Zona-3 dengan nilai tinggi mengandung reservoir yang baik. Karena hanya memilki dua sumur eksplorasi, untuk memandu distribusi lateral maka hasil impedansi akustik dari data seismik digunakan untuk distribusi porositas. Kata kunci: pemodelan, reservoir, karakteristik, V-serpih, porositas, kualitas, Selat Madur

    INDICATION OF HYDROTHERMAL ALTERATION ACTIVITIES BASED ON PETROGRAPHY OF VOLCANIC ROCKS IN ABANG KOMBA SUBMARINE VOLCANO, EAST FLORES SEA

    Get PDF
    The presence of mineral alteration or secondary processes to rocks on submarine volcano of Abang Komba was caused by an introduction of hydrothermal solutions. Those are indicated by the presence of a resembly of minerals alteration seen in their petrographic analyses. They are characterized by replacement partially surrounding of plagioclase phenocrysts, partially replacing plagioclase by sericite, carbonate and clay minerals. The replacement of pyroxene partly by chlorite, and the presence of albitisation (secondary albite) contained in fine rectangular plagioclase sized. Other fitures occasionally observed by the presence of partial oxidation of ore minerals and the presence of quartz, and epidote as an alteration from plagioclase and pyroxene. Keywords : alteration, resembly of minerals alteration, oxidation, submarine vulcano of Abang Komba. Gejala alterasi atau proses-proses sekunder yang terjadi pada batuan di gunung bawah laut Abang Komba adalah disebabkan oleh introduksi larutan hidrotermal. Semua ini ditunjukkan dengan kehadiran kumpulan mineral ubahan yang terlihat dalam sayatan batuan. Kumpulan mineral ini dicirikan dengan adanya penggantian sebagian yang mengelilingi fenokris plagioklas, penggantian sebagian plagioklas oleh serisit, karbonat dan mineral lempung. Penggantian sebagian piroksen oleh klorit, dan adanya gejala albitisasi (albit sekunder) yang terdapat pada plagioklas berbentuk balokan yang berukuran halus. Gejala lainnya yang kadang-kadang teramati adanya oksidasi sebagian dari mineral bijih dan hadirnya kuarsa, serta epidot sebagai hasil ubahan plagioklas dan piroksen. Kata kunci : alterasi, kumpulan mineral ubahan, oksidasi, gunung bawahlaut Abang Komba

    THE SAFETY FACTOR ANALYSIS OF THE MARINE SLOPE STABILITY MODEL ON THE ACCESS CHANNEL OF MARINE CENTRE PLAN CIREBON, WEST JAVA.

    Get PDF
    This study is focused on access channel model that safety factors of some slopes stability would be investigated. Plaxis version 8 is applied to analyze a magnitude of safety factors and displacements based on three different slopes of access channel there are 30°, 45° and 60°. Furthermore, parameters are adopted from geotechnical drilling and laboratory tests. A finite element is applied as a simple model to analyze within a Mohr-coulomb equation. Based on soil data analyses on Marine Center Plan, indicates low safety factor and high deformation. As results, 10 to 40 meters deformation of the slopes and 0.80 to 2.34 of safety factor are obtained of the models. For that reason, a combination between slope channel and infrastructure must be considered. Keywords: Safety factor, slope stability, access channel, Marine centre, Plaxis Kajian ini dilakukan terhadap faktor keamanan dari beberapa jenis kemiringan dinding alur pelayaran yang selanjutnya dilakukan pemodelan dengan menggunakan alur pelayaran Besarnya keruntuhan dan faktor keamanan pada beberapa sudut kemiringan yang berbeda telah dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak geoteknik Plaxis Versi 8. Tiga jenis kemiringan yang berbeda telah dibuat yaitu sudut kemiringan 30°, 45° dan 60°. Sebagai data masukan, parameter diambil berdasarkan hasil pemboran geoteknik yang telah dianalisis di laboratorium. Model sederhana elemen terbatas telah dibuat dan dianalisis berdasarkan persamaan Mohr-Coulumb. Berdasarkan analisis data tanah pada rencana Marine Centre menunjukan faktor keamanan yang rendah dan deformasi yang besar. Total deformasi yang dihasilkan berkisar 10-40 meter dengan nilai faktor keamanan 0,80~2,34. Oleh karena itu, dari hasil tersebut perlu dipertimbangkan untuk mengkombinasikan kemiringan alur dengan infrastruktur. Kata kunci : faktor keamanan, kemiringan lereng, alur pelayaran, Marine centre, Plaxi

    THE GEOCHEMICAL CHARACTERISTIC OF MAJOR ELEMENT OF GRANITOID OF NATUNA, SINGKEP, BANGKA AND SIBOLGA

    Get PDF
    A study of geochemical characteristic of major elelemnt of granitoid in Western Indonesia Region was carried out at Natuna, Bangka, Singkep and Sibolga. The SiO2 contents of the granites are 71.16 to 73.02 wt%, 71.77 to 75.56wt% and 71.16 to 73.02wt% at Natuna, Bangka, and Singkep respectively, which are classified as acid magma. While in Sibolga the SiO2 content from 60.27 to 71.44wt%, which is classified as intermediate to acid magma. Based on Harker Diagram, the granites from Natuna, Bangka and Singkep as a co-genetic. In other hand the Sibolga Granite show as a scatter pattern. Granites of Natuna, Bangka and Singkep have the alkaline-total (Na2O + K2O) between 6.03 to 8.51 wt% which are classified as granite and alkali granite regime. K2O content ranges from 3.49 to 5.34 wt% and can be classified as calc-alkaline type. The content of alkaline-total of Sibolga granite between 8.12 to 11.81 wt% and classified as a regime of syenite and granite. The range of K2O is about 5.36 to 6.94wt%, and assumed derived from high-K magma to ultra-potassic types. Granites of Natuna, Bangka and Singkep derived from the plutonic rock types and calc-alkaline magma, while Sibolga granite magma derived from K-high to ultra-potassic as a granite of islands arc. Based on the chemical composition of granite in Western Indonesian Region can be divided into two groups, namely Sibolga granite group is representing the Sumatera Island influenced by tectonic arc system of Sumatera Island. Granites of Bangka and Singkep are representing a granite belt in Western Indonesian Region waters which is influenced by tectonic of back arc.Keywords: magma, geochemical characteristic, major element and Western Indonesian Region Kajian karakteristik geokimia dari unsur utama granitoid di Kawasan Barat Indonesia telah dilakukan di daerah Natuna, Bangka, Singkep dan Sibolga. Kandungan SiO2 granit Natuna antara 71,16 - 73,02%, Bangka antara 71,77 - 75,56%, Singkep antara 72,68 - 76,81% termasuk dalam magma asam. Granit Sibolga memiliki kandungan SiO2 antara 60,27 - 71,44% termasuk dalam magma menengah - asam. Berdasarkan Diagram Harker, granit Natuna, Bangka dan Singkep mempunyai asal kejadian yang sama (ko-genetik), sedangkan granit Sibolga membentuk pola pencar. Granit Natuna, Bangka dan Singkep mengandung total alkalin (K2O+Na2O) antara 6,03 - 8,51% termasuk dalam jenis rejim granit dan alkali granit. Berdasarkan kandungan K2O antara 3,49 - 5,34 %berat, bersifat kalk-alkali. Granit Sibolga mengandung total alkali antara 8,12 - 11,81% termasuk dalam rejim syenit dan granit, dan berdasarkan kandungan K2O antara 5,36 - 6,94% berasal dari jenis magma K-tinggi sampai ultra-potassik. Granit Natuna, Bangka dan Singkep berasal dari jenis batuan beku dalam dan magma kalk-alkalin yang berhubungan dengan penunjaman, sedangkan granit Sibolga berasal dari jenis magma K-tinggi - ultra-potassik sebagai granit busur kepulauan. Berdasarkan komposisi unsur kimia utama, granit di Kawasan Barat Indonesia dapat dibagi dalam dua, yaitu granit Sibolga yang mewakili P. Sumatera, dipengaruhi oleh sistem tektonik busur P. Sumatera. Granit Bangka dan Singkep dapat mewakili suatu jalur granit di perairan Kawasan Barat Indonesia yang dipengaruhi oleh tektonik busur belakang. Kata kunci: jenis magma, karakteristik geokimia, unsur utama, dan Kawasan Barat Indonesi

    449

    full texts

    645

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇