MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
645 research outputs found
Sort by
LAJU SEDIMENTASI DI PERAIRAN BREBES, JAWA TENGAH MENGGUNAKAN METODE ISOTOP 210Pb
Beberapa upaya mitigasi terhadap bencana erosi yang terjadi di kecamatan Brebes telah dilakukan dengan penanaman mangrove, pemasangan hybrid engineering, alat pemecah ombak, namun dari keseluruhan upaya tersebut masih dianggap belum menjadi solusi terbaik mengurangi dampak bencana erosi pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat rata-rata kecepatan sedimentasi berdasarkan umur absolut sedimen dasar laut yang dianggap mewakili daerah penyelidikan. Penentuan umur absolut sedimen berdasarkan aktifitas kandungan isotop alam 210Pb pada sedimen. Hasil perhitungan laju sedimentasi tersebut dikorelasikan dengan data debit sungai dan kondisi hidro-oseanografi yang berperan dalam sistem sedimentasi. Berdasarkan profil unsupported 210Pb pada lokasi IST-01 (Muara Pemali) dan IST-02 (Muara Nipon) rata-rata laju sedimentasinya berturut-turut 0,224 cm/tahun dan 0,211 cm/tahun, debit Sungai Pemali sebesar 14,4-48,1 m3/s, kecepatan arus pada stasiun IST-01 berkisar antara 0,001-0,1 m/s dan kecepatan arus pada stasiun IST-02 berkisar antara 0,001-0,08 m/s. Kondisi hidro-oseanografi daerah penelitian yang fluktuatif memberikan pengaruh besar terhadap proses sedimentasi. Besarnya debit sungai memiliki korelasi terhadap peningkatan besarnya nilai laju sedimentasi di Muara Pemali dan Muara Nippon. Hasil penelitian tersebut dapat dijadikan bahan rekomendasi upaya mitigasi bencana erosi di kecamatan BrebesKata Kunci: Sedimentasi, Pesisir Brebes, Hidrodinamika arus, Isotop Unsupported 210Pb Several efforts to mitigate the erosion event which occurred in Brebes sub district have been done by mangrove cultivation, hybrid engineering, and breakwater as well. Nevertheless, all those efforts did not work right away to solve the erosion problem and deteriorate its impact. This study has aim to determine the absolute sediment dating, which represents the study area. We decided the absolute sediment dating based on natural isotop activity 210Pb contained on sediment. Sedimentation rate calculation result was correlated with the river discharge and hydro-oceanography conditions in the sediment area systems. Based on unsupported 210Pb profile, at the station IST-01 (Pemali estuary) and IST-2 (Nipon estuary), the averages of sedimentation rate are 0.22 cm/year and 0.211 cm/year respectively. The discharge of Pemali River has ranged 14.4-48.1 m3/s. The current speed at the point IST-01 has ranged 0.001-0.1 m/s and at the station IST-02 has ranged 0.001-0.08 m/s. The hydro-oceanography condition which is volatile has a big impact on the process of sedimentation. The enhancing of river discharge has a correlation with the sedimentation rate enhancement in Pemali and Nippon estuary. The result of this study could be a basis of erosion mitigation effort in Brebes sub district.Keywords: Sedimentation, Brebes, Hydrodunamics of surface current, Isotop Unsupported 210P
The Occurences of Heavy Mineral Placer at Kendawangan and Its Surrounding, West Kalimantan Province
The main objective of this study is to identify and to determine the variation and content of heavy mineral placer of Kendawangan coastal, offshore and its surrounding area. Sediment samples were taken from 18 locations, such as 12 samples from offshore and 6 samples from coastal area. For this analysis the heavy metals were identified and analyzed using isodynamic separator and binocular microscopic. The result indicates that heavy minerals consist of zircon, cassiterite, rutile, ilmenite, topaz, chalcopyrite, epidote, pyrite, hematite, hornblende and magnetite. Cassiterite and zircon are also found in sediment samples in all locations and potentially to be further developed. Keywords: Heavy minerals placer, Zircon, Cassiterite, Kendawangan, West Kalimantan Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menentukan variasi kandungan mineral berat plaser pada sedimen pantai dan lepas pantai Kendawangan dan sekitarnya. Sampel sedimen diambil dari 18 lokasi yang terdiri atas 12 sampel sedimen lepas pantai dan 6 sampel sedimen pantai. Analisis dilakukan dengan menggunakan isodinamik separator dan mikroskop binokular. Hasil analisis menunjukkan bahwa mineral berat terdiri atas zircon, kasiterit, rutil, ilmenit, topas, kalkopirit, epidot, pirit, hematit, hornblende, dan magnetit. Kasiterit dan zircon juga dijumpai pada sampel sedimen di semua lokasi yang dianalisis dan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Kata kunci: Mineral berat plaser, Zirkon, Kasiterit, Kendawangan, Kalimantan Bara
Shallow Gas Features Based on Interpretation of Bottom Profilling Records at Topang Delta, Meranti Regency, Riau Province
One of the tasks in conducting a renewable energy research is finding a shallow gas contained commonly in river deltas. The location chosen is in Topang Delta,, Meranti District, Riau Province in 2015. The research was conducted by using sub-bottom profiling (SBP) method. Biogenic gas indications could be observed in the SBP records in the forms of free reflector, acoustic plumes and acoustic blanket. The shallow biogenic gas at research area is trapped in A and B sequences. Sequence A is characterized by plume gas and acoustic blanket, while B-type biogenic gas is showed by free-reflector feature of 10-15 meters depth. Sediment which does not have porocity such as old clay is required environment for anaerobic bacteria as catalyst in the formation of biogenic gas to be evolved. Old clay sediment is potential as a biogenic gas source rock afterwards migrated to a layer of sand as a reservoir rock. Some parts of biogenic gas does not appear to the surface because there have been traped in cap rock in form of young clay sediment.Keywords: Topang Delta, Biogenic Gas, free reflector, acoustic plumes, acoustic blanket Salah satu tugas dalam melakukan penelitian energi terbarukan adalah pecarian gas dangkal yang biasa terdapat di delta-delta sungai. Lokasi yang terpilih adalah di delta Topang Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau pada tahun 2015. Penelitian yang dilakukan salah satunya menggunakan metoda sub bottom profilling (SBP). Indikasi gas biogenik tampak dalam rekaman subbottom profilling berupa reflektor bebas pantul, terobosan gas dan selimut akustik. Keterdapatan gas biogenik dangkal di lokasi penelitian terjebak dalam sekuen sedimen A dan B. Sekuen A dicirikan dengan kenampakan berupa terobosan gas dan selimut akustik, sedangkan biogenik gas tipe-B dicirikan dengan kehadiran reflektor bebas pantul dengan ketebalan 10-15 meter. Sedimen yang tidak memiliki porositas seperti lempung tua merupakan lingkungan yang dimungkinkan untuk bakteri anaerobik sebagai katalisator dalam pembentukan gas biogenik. Endapan lempung tua berpotensi sebagai batuan sumber biogenik gas kemudian bermigrasi ke lapisan sedimen pasir sebagai tempat tersimpannya gas biogenik. Sebagian gas biogenik tidak dapat muncul ke permukaan hingga lapisan atas karena terjebak dalam lapisan sedimen penutup berupa lempung muda.Kata Kunci : Delta Topang, Gas Biogenik, bebas pantul, terobosan gas, selimut akusti
The Identification of Land Subsidance by Levelling Measurement and GPR Data at Tanjung Emas Harbour, Semarang
Recently, the main problem in Semarang City is flood. This area has low relief that consists of coastal alluvial deposits, swamp and marine sediments. The coastline is characterized by muddy, sandy, and rocky coasts, and mangrove coast. Ground Penetrating Radar (GPR) records, show that subsurface geological condition of northern part of Semarang is coastal alluvial deposit and in the south is volcanic rocks. The aims of this this research is to determine land subsidence by levelling measurement in 2005 in Tanjung Emas Harbour area built on 1995. During ten years, there are various land subsidance in this area: in Coaster Street (21 – 41 cm), container wharf (62 – 94 cm), north breakwater (64 – 79 cm), west breakwater (74 – 140 cm), east groin (76 – 89 cm), and stacking area ( 77 – 109 cm). According to this research, it is concluded that one reason causes of flooding in this area is land subsidence.Keywords : flood, land subsidence, levelling, Tanjung Emas Harbour, Semarang Permasalahan yang berkembang di Kota Semarang saat ini adalah terjadinya banjir. Kawasan ini berelief rendah yang disusun oleh endapan aluvial pantai, rawa dan sedimen laut. Karakteristik garis pantai dicirikan oleh pantai berlumpur, berpasir dan berbatuan, serta pantai berbakau. Rekaman Ground Penetrating Radar (GPR) menunjukkan kondisi geologi bawah permukaan utara kota Semarang merupakan endapan aluvial pantai dan bagian selatan disusun oleh batuan vulkanik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi penurunan tanah melalui pengukuran sifatdatar yang dilakukan pada tahun 2005, di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas yang dibangun pada tahun 1995. Dalam kurun waktu 10 tahun, diketahui bahwa terdapat variasi penurunan tanah di kawasan ini: ruas jalan Coaster (21-41 cm), di kawasan dermaga peti kemas (62-94 cm), pemecah gelombang sebelah utara (64-79 cm), pemecah gelombang sebelah barat (74-140 cm), penahan gelombang sebelah timur (76-89 cm), dan pelataran peti kemas (77-109 cm). Berdasarkan penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa salahsatu penyebab banjir di kawasan ini adalah akibat penurunan tanah.Kata Kunci : banjir, penurunan tanah, sipatdatar, Pelabuhan Tanjung Emas, Semaran
POTENSI ENERGI ARUS LAUT SEBAGAI ENERGI TERBARUKAN DI SELAT LOMBOK BERDASARKAN DATA INSTANT WEST MOORING DEPLOYMENT 1
Selat Lombok merupakan salah satu perlintasan massa air laut dunia, yang mengalir dari Samudera Pasifik menuju ke Samudera Hindia yang disebut sebagai Arus Lintas Indonesia (ARLINDO). Hal ini terbukti dengan adanya komponen harmonik periode panjang yang di pengaruhi oleh Matahari (SA, SSA), dan dipengaruhi Bulan (MSF). Hasil rekaman mooring selama 1,5 tahun, selat ini memiliki kecepatan arus harmonik rata-rata sebesar 0,25219 m/dt di kedalaman 100 meter. Arus laut merupakan salah satu energi baru terbarukan yang dapat di manfaatkan sebagai pembangkit listrik. Arus laut diolah dengan menggunakan modul toolbox T-Tide 1,3 beta, dan menghasilkan arus harmonik dan arus non harmonik. Berdasarkan komputasi skenario pertama, dengan menggunakan turbin Helix LC 500 dan menghasilkan listrik 3,56 KW (harmonic), dan 1,86 KW (non harmonik) dengan kecepatan arus terbesar terjadi pada kedalaman 146,31 meter. Nilai kecepatan arus rata-rata terdapat pada kedalaman 178,31 meter dengan daya yang dihasilkan sebesar 92,17 W pada kondisi arus non harmonik. Kecepatan arus rata-rata pada kondisi arus harmonik terdapat pada kedalaman 162,31 meter, dengan daya yang dihasilkan sebesar 32,943 W.Kata Kunci : arus laut, energi baru terbarukan, Selat Lombok, INSTANT West Mooring.Lombok Strait is one of seawater mass outlet, flowing from the Pacific Ocean toward the Indian Ocean called as Indonesian Through Flow (ITF). It is proven by long period of harmonic components influenced by sun (SA, SSA) and moon (MSF). The result of mooring record for 1.5 years, this strait has average speed of the harmonic ocean current is 0.25219 m/s at 100 meters water depth. Ocean current is one of renewable energy that can be used for generating power electric. Ocean currents processed by using T-tide matlab toolbox 1.3 beta to identified the harmonic and non harmonic currents. Based on first scenario of the computer conversion, by using a Helix turbine LC 500 and produce an electricity energy about 3.56 KW (harmonic), and 1.86 KW (non harmonic) ocean currents, with the maximum current speed at the 146.31 meters water depth. The average of current speed average found at 178.31 meters water depth, and it produces a power of 92.17 W (non harmonic). The current speed averages from the harmonic condition is found at 162.31 meters water depth, which can produce a power about 32.943 W.Keyword : ocean currents, potential renewable energy, Lombok Strait, INSTANT West Mooring
Interpretation of Paleo-Channel Based on Shallow Seismic Reflection Record in Banten Bay, Banten Province
The objective of this study is to find out the pattern of paleo channel which was formed in Banten Bay and its surrounding. The aims are to find out the paleo-channel pattern at study area. The study methods are including vessel positioning, and shallow seismic reflection work. Vessel positioning method is to locate the exact position of seismic work   when recording the data from single channel of shallow seismic reflection. Seismic line orientations are determined by regional geological setting of the area. Trend of seismic lines are dominantly north – south. In order to get the seismic data which could give geological setting configuration, seismic lines should be perpendicular to the strikes of the sediments.Based on the calculation of velocity of seismic refraction in sea water 1,500 meters/second, while within sediment 1,600 meters/second, it could be concluded that the paleo chanels were more or less in 32 meters below sea floor depth.This layer was the system that occur during the process of an interglacial on the Sunda Shelf when it was still a part of land that connects the Java, Sumatra and Kalimantan Islands. Paleo-channel deposits are characterized by subparalel - chaotic reflection character with a thickness between 5-35 meters.Keywords: Paleo-channels, seismic records and Banten BayMaksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sungai purba yang terdapat di Teluk Banten dan sekitarnya, yang tujuannya adalah untuk mengetahui pola penyebaran alur sungai purba di daerah penelitian. Metode penelitian terdiri dari penentuan posisi kapal dan penelitian seismik pantul dangkal. Penentuan posisi kapal berguna untuk menemukan posisi yang tepat saat merekam data oleh perlatan seismik saluran tunggal dangkal. Lokasi lintasan seismik disesuaikan dengan kondisi geologi daerah penelitian. Arah lintasan seismik pada umumnya berarah utara – selatan. Untuk mendapatkan data seismik yang bisa memberikan konfigurasi kondisi geologi, lintasan seismik harus tegak lurus terhadap kedudukan lapisan batuan.Berdasarkan cepat rambat gelombang seismik di air laut 1.500 meter/detik, dan sedimen 1.600 meter/ detik, dapat disimpulkan bahwa alur purba kurang lebih berada pada kedalaman 32 meter di bawah dasar laut.Lapisan ini merupakan sistem pengendapan yang terjadi selama proses interglasial di Paparan Sunda yang pada saat itu masih merupakan bagian dari daratan yang menghubungkan P. Jawa, Sumatera dan P. Kalimantan. Endapan alur purba dicirikan dengan pola refleksi subparalel sampai tidak beraturan dengan ketebalan antara 5-35 meter.Kata kunci: Alur purba, rekaman seismik dan teluk Bante
ANOMALI MAGNET HUBUNGANNYA DENGAN TATANAN LITOLOGI PADA PEMETAAN GEOLOGI DAN GEOFISIKA DI PERAIRAN MOROWALI SULAWESI TENGAH MOROWALI SULAWESI TENGAH
Penelitian magnet terletak di lepas pantai perairan Morowali dan sekitarnya dengan batas koordinat 04o00’-01o30’ Lintang Selatan dan 121o30’-123o00’ Bujur Timur. Maksud dari penelitian ini untuk mengetahui nilai anomali hubungannya dengan tatanan geologi daerah penelitian. Nilai anomali rendah (negatif) mulai dari -95nT hingga -130nT, dengan notasi warna biru menempati bagian utara dan selatan daerah penelitian, diduga merupakan batuan sedimen yang mendominasi daerah tersebut. Struktur sesar dan antiklin yang dijumpai pada lintasan seismik L-9 diduga merupakan kelurusan dari Sesar Matano yang berarah baratlaut-tenggara dari lengan Sulawesi Tenggara. Pola struktur pada rekaman seismik tersebut, memberi indikasi adanya pola perubahan anomali magnet secara signifikan di daerah tersebut seperti yang ditunjukan dalam peta anomali magnet di bagian selatan daerah penelitian. Nilai negatif anomali magnet ini memperlihatkan tatanan dari batuan dasar di daerah Teluk Tolo dan sekitarnya yang diduga merupakan bagian dari Cekungan Banggai bagian barat.Kata kunci : anomali magnet, kelurusan sesar, cekungan The magnet research is located offshore Morowali waters and its surroundings with coordinate boundaries of 04o00’-01o30’ South Latitude and 121o30’-123o00’ East Longitude. The purpose of this study to determine the value of anomaly relationships with the geological of study areas. Low anomalous (negative) values of ranging from -95 nT to -130 nT, with blue notation occupying the north and south of the study area, are thought to be sedimentary rocks that dominate the area. The fault and anticline structures found on the seismic path in the L-9 are thought to be the straightness of the northwest-southeast Fault Matano from the southeast Sulawesi arm. The structural pattern on the seismic recording, indicating a significant pattern of magnetic anomaly changes in the area as shown in the magnetic anomaly map in the southern part of the study area. The negative value of this magnetic anomaly shows the setting of the bedrock in the Tolo Bay area and its surrounding that is thought to be part of the western Banggai Basin.Keywords: magnetic anomaly, straightness faults, basi
KEBENCANAAN GEOLOGI KELAUTAN DI BAGIAN UTARA PULAU OBI, MALUKU
Lokasi penelitian terletak di bagian utara pulau Obi, Maluku. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji aspek kebencanaan geologi kelautan berupa pengumpulan data primer dan sekunder. Data primer meliputi hasil pengukuran kedalaman dan pemetaan karakteristik pantai. Data sekunder berupa energi gelombang yang dihitung melalui pendekatan energi fluks dari data angin di stasiun pengamatan Labuha/Taliabu tahun 2004 – 2013. Hasil penelitian berupa peta karakteristik pantai dan peta batimetri. Kedalaman daerah penelitian berkisar dari 0 sampai 310 meter dan perairan terdalam terletak di antara Pulau Obi dan Pulau Bisa. Kebencanaan geologi di Pulau Obi berupa banjir bandang, abrasi pantai dan tsunami.Kata kunci : kebencanaan geologi, energi fluks, banjir bandang, abrasi pantai dan tsunami, Pulau ObiThe study area is located on northern part of Obi Island, Moluccas. The research objective is to determine the potential of marine geological hazard by primary and secondary data collecting. Primary data consists of bathymetric and coastal characteristic mapping. Secondary data is from calculated wave energy flux by using wind data from Labuha / Taliabu observation stations (2004 – 2013). The result composed of coastal characteristic and bathymetric maps. The water depth range from 0 to 310 metres and the deepest part in between Obi and Bisa islands. The geological hazard on Obi Island consist of flooding,coastal abrasion and tsunami.Keywords : geological hazard, flux energy, flooding, coastal abrasion and tsunami, Obi Islan