MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
645 research outputs found
Sort by
SEBARAN PASIR LAUT SEBAGAI BAHAN GALIAN DI LEPAS PANTAI SELAT RIAU
Daerah penelitian terletak di perairan antara Pulau Batam dan Pulau Bintan (Selat Riau), termasuk ke dalam wilayah Kotamadya Batam dan Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Metode penelitian yang dilakukan adalah pengambilan posisi (navigasi), pengukuran kedalaman dasar laut, pengamatan dan pengambilan contoh sedimen pantai, pengambilan contoh sedimen dasar laut, serta analisis laboratorium. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sebaran pasir pasir laut, serta ketebalannya berdasarkan karakteristik ukuran butirannya, agar potensi bahan galian tersebut dapat diketahui. Berdasarkan analisis ukuran butir sedimen di pantai Pulau Batam dan Pulau Bintan diketahui berukuran pasir, kerikil pasiran, pasir kerikilan dan lanau pasiran, sedangkan sebaran sedimen dasar laut terdiri dari: kerikil pasiran, pasir kerikilan, pasir, pasir lanauan dan lanau pasiran. Kedalaman sedimen pasir di pantai Pulau Batam antara 1 meter sampai 2,6 meter, sedangkan ketebalan sedimen pasir di Pulau Bintan antara 0,6 meter sampai 2 meter. Kata Kunci: sedimen, ukuran butir, pasir, bahan galian, Selat RiauThe study area is located in offshore area between Batam and Bintan Islands (Riau Strait), including of Batam and Bintan regency, Kepulauan Riau Province. The research methods carried out were position taking (navigation), depth of seabed measurement (bathymetry), observation and coastal sediments sampling, seabed sediments sampling, and laboratory analysis. The objectives of the study is to know the sand beach and sea sand distribution and its thickness based on characteristics of grain size, as well as to know those construction materials. Based on sediment grain size analysis on the Batam and Bintan islands, sand beach consists of: sand, sandy gravel, gravelly sand and sandy silt, while seafloor surficial sediments distribution consist of sandy gravel, gravelly sand, sand, silty sand and sandy silt. The depth of sand sediment on Batam beach is between 1 to 2.6 meters, while the depth of sand sediment in Bintan Island coastal is between 0.6 meters to 2 meters. Keywords: sediment, grain size, sands, substrate material, Riau Strai
INTERPRETASI GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN ANALISIS DATA GAYABERAT MENGGUNAKAN FILTER OPTIMUM UPWARD CONTINUATION DAN PEMODELAN 3D INVERSI : (STUDI KASUS: CEKUNGAN AKIMEUGAH SELATAN, LAUT ARAFURA)
Cekungan Akimeugah terletak pada paparan Laut Arafura yang merupakan bagian dari passive margin yang berasosiasi dengan cekungan di kontinen Australia yang sudah memproduksi hidrokarbon seperti cekungan Bonaparte, Carnavon dan cekungan Canning. Secara tektonik cekungan ini berkembang akibat pertemuan lempeng Australia dengan Pasifik sehingga menyebabkan munculnya struktur lipatan, tinggian, rendahan dan patahan. Salah satu metoda geofisika yang dapat digunakan untuk mengetahui struktur geologi bawah permukaan adalah metoda gayaberat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi struktur geologi bawah permukaan, mendelineasi sub-cekungan sedimen serta memperkirakan ketebalan sedimen di Cekungan Akimeugah bagian selatan. Analisis data yang digunakan yaitu analisis spektrum, filter optimum upward continuation serta pemodelan inversi 3D. Hasil analisis spektral menunjukkan bahwa tebal batuan sedimen rata rata di daerah penelitian adalah sekitar 3.6 Km. Ketinggian optimum yang digunakan pada filter optimum upward continuation yaitu pada ketinggian 6000 m dan menghasilkan anomali regional serta residual. Sub-cekungan yang didelineasi dari analisis data gayaberat adalah sebanyak 7 sub-cekungan sedimen, dimana pola struktur yang teridentifikasi yaitu berupa tinggian, graben dan patahan. Hasil pemodelan 3D menunjukkan bahwa batuan dasar cekungan berupa batuan metamorfik dengan nilai rapat massa 2.7 gr/cc. Kemudian secara berurutan dari bawah ke atas diendapkan batuan sedimen dari kelompok Aifam yang berumur Paleozoikum dengan nilai densitas 2.6 gr/cc, kemudian di atasnya lagi adalah batuan sedimen kelompok Kemblengan yang berumur Mesozoikum dengan nilai rapat massa 2.5 gr/cc, dan yang paling atas adalah batuan sedimen tersier kelompok batugamping Nugini dengan nilai rapat massa 2.4 gr/cc dan Formasi Buru dengan nilai rapat massa 2.2 gr/cc.. Hasil analisis model bawah permukaan menunjukkan bahwa berdasarkan pola graben dan tinggian, Cekungan Akimeugah bagian selatan cukup potensial untuk berkembangnya petroleum system seperti cekungan di Australia yang sudah berproduksi hidrokarbon.Kata Kunci : Gayaberat, spektral analisis, filter optimum upward continuation, pemodelan 3D inversi, Cekungan Akimeugah selatan, Papua.The Akimeugah Basin is located on the Arafura Shelf which is part of the passive margin associated with basins of Australian continent that have produced hydrocarbons such as the Bonaparte basin, Carnarvon and the Canning basins. Tectonically this basin develops due to the collision between the Australian and the Pacific plates, resulting folds, highs, lows and faults. One of the geophysical methods that can be used to determine the subsurface geological structure is the gravity method. The purposes of this study are to identify subsurface geological structures, delineating sediment sub-basin and to estimate sediment thickness in the southern Akimeugah basin. Data analysis used are spectrum analysis, optimum upward continuation filters and 3D inversion modeling.. The spectral analysis results show that the average thickness of the sedimentary rock in the study area is about 3.6 Km. Optimum height that used at the optimum upward contiuation filter was at an altitude 6000 m and resulting regional and residual anomaly. The delineated sub-basin obtained from gravity data analysis is as many as 7 sediment sub-basins, where the identified structural pattern is in the form of high, graben and fault. The 3D modeling results show that the basement of the basin is of a metamorphic rock with a mass density value of 2.7 gr/cc. Then sequentially from the lowest, sedimentary rocks from the Aifam group of Paleozoic were deposited with a density value of 2.6 gr/cc, hereafter is sediment group of Kemblengan of Mesozoic with mass density values of 2.5 gr/cc, and at the top is a Tertiary sedimentary rock, limestone Nugini group with a mass density value of 2.4 gr/cc and Buru Formation with density value 2.2 gr/cc. The results of the subsurface model analysis show that based on a graben and high pattern, the southern Akimeugah basin is potential for the development of petroleum systems such as the basins those already produce hydrocarbons in Australia.Keywords: gravity, spectral analysis, optimum upward continuation filter, modeling 3D inversion, southern Akimeugah Basin, Papua
STUDI MIKROFACIES DAN DIAGENESIS BATUGAMPING DARI FORMASI TETAMBAHU SEBAGAI MIKROKONTINEN MESOZOIKUM DI DAERAH TELUK TOMORI
Cekungan Tomori merupakan salah satu cekungan frontier yang terdapat di daerah Teluk Tomori, Sulawesi, termasuk didalamnya Formasi Tetambahu yang merupakan salah satu batuan reservoir berpotensi hidrokarbon. Kemunculan formasi ini yang didominasi oleh sedimen karbonat terjadi akibat adanya aktivitas tektonisme pada Miosen, bersamaan dengan kemunculan mikrokontinen Banggai-Sula. Berdasarkan analisis mikrofasies dan diagenesis dari tujuh sampel batugamping wackestone Formasi Tetambahu pada lintasan Korololama, menunjukkan karakteristik biosclastic wackestone dan coated grain in micrite, dan diendapkan pada lingkungan shelf lagoon open circulation. Proses diagenesis yang dialami formasi ini adalah eodiagenesis, mesodiagenesis, dan telodiagenesis, sehingga porositas yang terbentuk terdiri atas vuggy porosity, interparticle, dan intragranular microporosity. Kata kunci: Formasi Tetambahu, mikrofasies, diagenesa batugamping, Teluk Tomori Sulawesi. Tomori Basin is one of the frontier basins located in the Tomori Bay area, Sulawesi, including the Tetambahu Formation which is one of the potentially reservoir rocks of hydrocarbon. The appearance of this formation is dominated by carbonate sediment which occurs due to the tectonic activity on Miocene, along with the emergence of Banggai-Sula microcontinent. Based on the analysis of microfacies and diagenesis of seven limestone samples from Tetambahu Formation in the Korololama section, shows the characteristics of biosclastic wackestone and coated grain in micrite, and deposited in shelf lagoon open circulation. Tetambahu formation has experienced diagenesis process such as eodiagenesis, mesodiagenesis, and telodiagenesis, therefore the porosity is formed consisting of vuggy porosity, interparticle, and intragranular microporosity.Keywords: Tetambahu Formation, microfacies, limestone diagenesis Tomori Bay Sulawes
Seabed Characterization through Image Processing of Side Scan Sonar Case Study: Bontang and Batam
Acoustic waves propagate through a medium meet the Snell’s Law, its energy is reflected and some are scattered back at certain angle. The Side Scan Sonar (SSS) methods use this principle to identify seabed character. The intensity of the backscatter greatly depends on the morphology and sediments texture or rocks distributed on seabed.The intensity of backscatter waves is a representation of the morphology, sediments texture, and types of rock that distributed on the seabed, therefore it is possible to estimate sedimentary texture and identify the presence of rocks or coral reefs based on this information. In this publication authors estimate sediments texture, rocks or coral reefs based on backscatter intensity through the image processing on the Side Scan Sonar (SSS) image. Intensity will be converted into pixel values on the image with range value 1-255 (gray scale image) and entropy values which are statistical measures of randomness. Entropy value is maximum when most of pixel value image is in the middle of the colour spectrum range (between very dark to very bright), in contrast, it is minimum when pixel value is in the spectrum of very dark or very bright. Based on both parameters, classification is conducted. The classification is carried out on the SSS image at Bontang and Batam that have very different seabed characters.The classification results using an image processing shows that the distribution of sediment textures consist of 4 (four) classes for either Batam or Bontang. In the Bontang area, very fine sediments were identified which are associated with low value of both intensity and entropy - dark zones in gray scale images, and coarse sediments associated with high value of both intensity and entropy - bright zone in the gray scale image. Similar characteristic is observed in Batam area, which are identified fine sediment (associated to low intensity) - coarse sediments (high intensity). In contrast to Bontang, in Batam the entropy exhibit the opposite value, high value are correlated to fine sediment and vice versa. This might be due to the presence of rocks and sedimentary structures.Keywords: Side Scan Sonar, Intensity, Backscatter and entropy.Gelombang akustik sebagian besar energinya dipantulkan memenuhi prinsip snellius dan sebagian kecil dihamburkan balik dengan sudut. Metode Side Scan Sonar (SSS) memanfaatkan prinsip hambur-balik gelombang untuk mengidentifikasi permukaan dasar laut. Intensitas gelombang dari karakter hambur-balik akan sangat tergantung morfologi dan tekstur sedimen atau batuan dari permukaan dasar lautnya. Intensitas gelombang hambur-balik merupakan representasi dari morfologi, tekstur sedimen, dan jenis batuan yang tersebar di permukaan dasar laut, sehingga sangat memungkinkan untuk melakukan estimasi tekstur sedimen dan identifikasi keberadaan batuan maupun terumbu karang berdasarkan informasi tersebut. Pada publikasi ini akan dilakukan estimasi tekstur sedimen atau batuan berdasarkan intensitas hambur-balik melalui image yang dihasilkan oleh Metode Side Scan Sonar (SSS). Intensitas akan dikonversi ke dalam nilai pixel dalam image dengan rentang nilai 1-255 (gray scale image) dan nilai entropi yang merupakan ukuran statistik ketidakteraturan dari image. Entropi akan maksimum ketika nilai pixel kebanyakan di tengah dari rentang spektrum warna dan sebaliknya akan minimum ketika nilai pixelnya berada di spektrum warna sangat gelap atau sangat terang. Berdasarkan kedua parameter tersebut, kemudian dilakukan klasifikasi. Klasifikasi dilakukan pada data SSS Bontang dan Batam yang memiliki karakter permukaan dasar laut yang sangat berbeda.Hasil klasifikasi dengan image processing memperlihatkan pola sebaran tekstur sedimen masing-masing terdiri dari 4 (empat) kelas baik untuk Batam atau Bontang. Pada area Bontang teridentifikasi sedimen sangat halus yang berasosiasi dengan intensitas dan entropy rendah - zona gelap pada gray scale image dan sedimen kasar yang berasosiasi dengan intensitas dan entropy tinggi - zona terang pada gray scale image. Karakter yang sama juga teramati pada area Batam, yaitu teridentifikasi sedimen halus (berasosiasi dengan intensitas rendah) - sedimen kasar (intensitas tinggi). Namun, berbeda dengan di Bontang, di Batam nilai entropi menunjukkan nilai yang sebaliknya, yaitu nilai tinggi berkorelasi dengan sedimen halus, dan sebaliknya. Hal ini diperkirakan akibat keberadaan batuan dan struktur sedimen.Kata Kunci: Side Scan Sonar, Intensitas, Hambur balik dan Entropi
Zonation of Marine Geological Environment of Wangi-wangi Island Waters and Adjacent Area Wakatobi Districs Southeast Celebes Province
Wakatobi is one of coastal and marine tourism destination in South–East Celebes Indonesia. Coastal and marine characteristics of this area is composed of diverse biota as the main tourism attraction. Unfortunately, increasing human needs and activities, particularly coral reefs exploitation for construction and other life aspect, endanger the sustainability of marine environment of Wakatobi and the surrounding area. The purpose of this study is to determine marine geology environmental zonation in Wangi–wangi– Kapota Islands, as a consideration for local government in monitoring and regulating the coastal area. The methods that were applied in this study are coastal characteristic mapping, sedimentology, and mineralogy analyses from 34 marine surface sediments. Marine surface sediments have been collected by Marine Geological Institute (MGI) team in 2014. The result indicates that coastal and marine characteristic of Wangi–wangi and Kapota are influenced by geological processes since Middle Miocene. The seafloor morphology is characterized by gentle slopes around coastline that is abruptly changed to very steep slopes seaward. In general, the surficial sediments consisted of biogenic sands that are distributed around coastlines and trapped within coral reefs. Coastal types of this area are generally white coral sand beaches, coral reef platforms, and notches. The area of Wangi–wangi and Kapota can be divided into 4 (four) environmental zone: Flat Plain (Zone I), Sandy Beach (Zone II), Limestone and Coral Reef (Zone III), and Sedimentary Flat (Zone IV). Zone IV in the centre area between Wangi–wangi and Kapota island is considered as the most vulnerable area due to both natural and anthropogenic factor. Keywords: zonation, seafloor morphology, tourism, Wangi–wangi–Wakatobi, Southeast Celebes ProvinceWakatobi adalah salah satu tujuan wisata pantai dan laut yang menarik dikunjungi di Sulawesi Tenggara, Indonesia. Karakteristik pantai dan laut daerah ini disusun oleh keragaman biota laut yang merupakan daya tarik bagi pariwisata. Sayangnya, seiring dengan berkembangnya aktifitas dan kebutuhan manusia, terutama meningkatnya eksploitasi pemanfaatan terumbu karang untuk konstruksi bangunan dan berbagai aspek kehidupan, mengancam kelestarian lingkungan alami Wakatobi dan sekitarnya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membuat zonasi lingkungan pantai dan sekitarnya di Pulau Wangi–wangi dan Kapota, sehingga bisa memberikan pertimbangan bagi pemerintah setempat dalam pengawasan dan regulasi lingkungan kawasan pantai dan sekitarnya. Untuk penelitian ini, metode yang dilakukan adalah pemetaan karakteristik pantai, analisis sedimentologi dan mineralogi yang dilakukan terhadap 34 sedimen permukaan dasar laut. Pengambilan sampel sedimen permukaan dasar laut telah dilakukan oleh Tim Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL) pada tahun 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pantai dan laut Wangi–wangi dan Kapota dipengaruhi oleh proses geologi yang telah berlangsung sejak Miosen Tengah. Morfologi dasar laut dicirikan oleh lereng landai di sekitar tepi pantai dan berubah dengan tegas menjadi curam ke arah laut lepas. Pada umumnya tekstur sedimen permukaan dasar laut terdiri atas pasir biogenik tersebar di sekitar garis pantai, dan mengisi di dalam terumbu koral. Jenis pantai sebagian besar berupa pantai pasir koral berwarna putih, pedataran pantai terumbu koral, serta morfologi pantai berupa takik. Kawasan pantai Wangi–wangi dan Kapota bisa dibagi ke dalam 4 (empat) zonasi lingkungan: Flat Plain (Zona I), Sandy Beach (Zona II), Limestone and Coral Reef (Zona III), dan Sedimentary Flat (Zona IV). Zona IV di area tengah antara Pulau Wangi–wangi dan Pulau Kapota merupakan area yang paling rentan mengalami kerusakan lingkungan akibat faktor alami dan aktifitas manusia. Kata kunci: zonasi, morfologi dasar laut, wisata, Wangi–wangi–Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggar
Structural complexity in the boundary of forearc basin – accretionary wedge in the northwesternmost Sunda active margin
The area from Andaman to northern Sumatran margin is a region where major faults collided that complicates the structural configuration. The origin of structures in the boundary between the accretionary wedge and forearc basin in the northwesternmost segment of the Sunda margin has been a subject of debates. This article reviews several published works on the Andaman – north Sumatran margin to characterize the boundary between forearc basin and accretionary wedge. Complex strain partitioning in this margin is characterized by sliver faults that crossing boundaries between the backarc basin, volcanic arc, forearc basin, and accretionary wedge. The fault zone can be divided into two segments: The West Andaman Fault (WAF) in the north and Simeulue Fault (SiF) in the southern part. A restraining step-over formed in between WAF and SiF. The SiF may extent onshore Simeulue to a strike-slip fault onshore. Strain-partitioning in such an oblique convergent margin appears to have formed a new deformation zone rather than reactivated the major rheological boundary in between the accretionary wedge and forearc basin. The eastern margin of the Andaman-north Sumatra accretionary wedge appears to have form as landward-vergent backthrusts of Diligent Fault (DF) and Nicobar Aceh Fault (NAF) rather than strike-slip faults. This characteristic appears to have formed in the similar way with the compressional structures dominated the eastern margin accretionary wedge of the central and south Sumatra forearc. Keywords: Andaman, North Sumatra, forearc, structure, accretionary wedge, strain partitioningDaerah Andaman - Sumatera bagian utara adalah wilayah di mana patahan-patahan besar saling bertemu dan membuat konfigurasi struktur menjadi rumit. Asal-usul struktur di batas antara prisma akresi dan cekungan busur muka di bagian paling baratlaut dari tepian Sunda telah menjadi topik perdebatan. Artikel ini mengulas beberapa studi yang telah diterbitkan sebelumnya mengenai tepian Andaman - Sumatra bagian utara untuk mengkarakterisasikan batas antara cekungan muka dan prisma akresi. Pemisahan regangan yang kompleks di tepian ini dicirikan oleh sliver fault yang melintasi batas antara cekungan busur belakang, busur vulkanik, cekungan busur muka, dan prisma akresi. Zona sesar tersebut dapat dibagi menjadi dua segmen, yaitu Sesar Andaman Barat (WAF) di utara dan Simeulue Fault (SiF) di bagian selatan. Sebuah restraining step-over terbentuk di antara WAF dan SiF. SiF kemungkinan menerus sampai ke Pulau Simeulue dan menyatu dengan sesar geser. Pemisahan regangan di tepian konvergen yang miring seperti itu tampaknya telah membentuk zona deformasi baru daripada mengaktifkan kembali batas reologi utama di antara prisma akresi dan cekungan busur muka. Batas bagian timur dari prisma akresi di Andaman – Sumatera bagian utara memiliki bentuk sebagai backthrusts berarah darat yaitu Sesar Diligent (DF) dan Sesar Nicobar Aceh (NAF) dan bukan merupakan sesar geser. Karakteristik ini tampaknya terbentuk dengan proses yang mirip dengan struktur-struktur kompresional yang mendominasi bagian timur prisma akresi di daerah Sumatra bagian tengah dan selatan.Kata kunci: Andaman, Sumatera bagian, busur muka, struktur, prisma akresi, pemisahan regangan
Sediment Characteristics of Mergui Basin, Andaman Sea based on Multi-proxy Analyses
This paper presents the characteristics of sediment from core BS-36 (6°55.85’ S and 96°7.48’ E, 1147.1 m water depth) that was acquired in the Mergui Basin, Andaman Sea. The analyses involved megascopic description, core scanning by multi-sensor core logger, and carbonate content measurement. The purpose of this study is to determine the physical and chemical characteristics of sediment to infer the depositional environment. The results show that this core can be divided into 5 lithologic units that represent various environmental conditions. The sedimentation of the bottom part, Units V and IV were inferred to be deposited in suboxic to anoxic bottom condition combined with high productivity and low precipitation. Unit III was deposited during high precipitation and oxic condition due to ocean ventilation. In the upper part, Units II and I occurred during higher precipitation, higher carbonate production and suboxic to anoxic condition.Keywords: sediment characteristics, Mergui Basin, Andaman Sea, suboxic, anoxic, oxic, carbonate content Makalah ini menyajikan karakteristik sedimen contoh inti BS-36 (6°55,85’ LS dan 96°7,48’ BT, kedalaman 1147,1 m) yang diambil di Cekungan Mergui, Laut Andaman. Metode analisis meliputi pemerian megaskopis contoh inti, pemindaian contoh inti dengan menggunakan multi-sensor core logger, dan pengukuran kandungan karbonat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik fisik dan kimiawi sedimen untuk menafsirkan kondisi lingkungan pengendapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa contoh inti ini dapat dibagi menjadi 5 unit litologi yang mewakili kondisi lingkungan yang berbeda. Pada bagian bawah sedimen, Unit V dan IV ditafsirkan sebagai hasil endapan pada kondisi suboksik hingga anoksik pada saat produktivitas tinggi dan curah hujan rendah. Unit III diendapkan pada saat curah hujan tinggi dan kondisi oksik yang diperkirakan berkaitan dengan ventilasi samudera. Pada bagian atas, Unit II dan I diendapkan pada saat curah hujan cukup tinggi dengan produksi karbonat yang cukup besar dan kondisi dasar laut suboksik hingga anoksik. Kata kunci: karakteristik sedimen, Cekungan Mergui, Laut Andaman, suboksik, anoksik, oksik, kandungan karbonat