MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
    645 research outputs found

    Mekanisme Pengendapan Berdasarkan Metoda Statistik Sedimen Dasar Laut (Pasir Laut) Di Perairan Bintan Selatan Dan Sekitarnya, Propinsi Kepulauan Riau

    Get PDF
    Daerah penelitian secara geografis terletak pada koordinat 0° 46' - 0° 50' Lintang Utara dan 104° 28' 30" - 104° 37' 30" Bujur timur, merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Fenomena yang menarik di daerah perairan Bintan Selatan ini adalah bagaimana kita mengetahui konsep mekanisme sedimentasi yang pendekatannya sangat akurat dengan menggunakan pemanfaatan dengan alat banti metoda statistik. Metoda penelitian yang dilakukan adalah pengambilan sedimen dasar laut, analisis besar butir (granulometri) dan parameter statistik besar butir. Pararameter statistik untuk mengetahui karakteristik tansportasi sedimen, dimana analisis perubahan spasial dalam parameter ukuran butir (rata-rata, sortasi dan skewness) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk identifikasi proses transportasi dan pengendapan sedimen. Setelah perhitungan ukuran rata-rata butir didapat, selanjutnya dihubungkan dengan keterdapatan batupasir dengan metode analisis regresi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui Proses pengendapan berdasarkan metoda statistik Ukuran Butir pada sedimen dasar laut (pasir laut) di Perairan Bintan Selatan dan Sekitarnya. Berdasarkan penentuan analisis parameter ukuran butir menunjukkan bahwa perairan Bintan Selatan pada daerah prospek area A, B, C, dan D didominasi oleh pasir sangat halus – kasar. Proses pengendapan dengan energi tinggi dan berubah-ubah tersebut dicirikan dengan terendapkannya sedimen berukuran sangat halus – kasar. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pengaruh ukuran butir signifikan pada sedimen batupasir daerah penelitia

    BACK COVER

    No full text
    Back Cover BoMG Vol. 37 No.1, December 202

    PROBLEMS IN USING ICHNOFACIES FOR DEPOSITIONAL ENVIRONMENT INTERPRETATION CASE STUDY: THE CISAAR FORMATION, SUNGAI CISAAR, SUMEDANG DISTRICT, WEST JAVA, INDONESIA

    Get PDF
    Although numerous researchers have used trace fossils method to determine depositional environment, this method is still considered less robust. This is due to the finding of several similar trace fossils in two or more diverse environments, leading to irrelevancy in environmental interpretation. Therefore, we conducted this study in order to verify how powerful the trace fossil analysis is, by applying this method to interpret the depositional environment of the Cisaar Formation in the Cihanyir Tonggoh area, Sumedang Regency, West Java. We combined trace fossil study with foraminiferal assemblage analysis and vertical succession of related sedimentary units. For this study, 19 rock samples that have been collected from outcrop along 16 m traverse and 14 m measured stratigraphic sections were examined.The result of the study shows that shallow marine trace fossils which were developed at the edge of the shelf, were transported into the basin by gravitational mass flow and re-deposited as deep marine turbidites. Trace fossils were generally found in sandstones, while planktonic foraminifers were found in claystones-sandstones interbeds. This study concludes that to avoid inconsistency in the interpretation of the depositional environment, performing trace fossils method must be integrated with other methods, e.g. analysis of lithofacies and biofacies.

    ANALISIS SEBARAN SEDIMEN BERDASARKAN HUBUNGAN ANTARA KECEPATAN ARUS DENGAN UKURAN BUTIR DI PERAIRAN PANTAI SIGANDU BATANG, PROPINSI JAWA TENGAH

    No full text
    Pantai Sigandu di Kabupaten Batang merupakam pantai yang sangat dinamis dimana proses abrasi, akresi dan suplai sedimen dari beberapa sungai yang bermuara di perairan pantai ini telah mengakibatkan bentuk pantai yang berubah – ubah. Perubahan bentuk pantai ini diikuti dengan pola sebaran sedimen dasar laut. Parameter hidrooseanografi yang berpengaruh secara langsung terhadap proses-proses sebaran sedimen permukaan dasar laut yang terjadi di laut adalah arus, gelombang dan pasang surut. Parameter-parameter ini akan berpengaruh terhadap pergerakan sedimen di laut, sehingga perlu dianalisi hubungan antara aspekhidrooseanografi dan sebaran sedimen permukaan dasar laut di Pantai Sigandu. Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui jenis sedimen yang sangat dominan dan pengaruh kecepatan arus terhadap sebaransedimen pada Perairan Pantai Batang. Pengambilan data lapangan dilakukan menggunakan metode kuantitatif dan metode deskriptif yang bersifat eksploratif yang meliputi pengukuran dan pengambilan data pasang surut, pemetaan karakteristik pantai, data sampel permukaan dasar laut, dan kompilasi data arus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran butir sedimen perairan Pantai Batang dominan lanau dengan kandungan presentasinya mencapai 96,4 %, lempung 3,1 %, dan pasir 0,5% dan mendapat nilai korelasi sebesar 0,0109 di mana nilai tersebut sangat kecil korelasinya, dan arus tidak memiliki pengaruh terhadap distribusi besar ukuran butir sedimen. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jenis sedimen yang paling dominan adalah lanau dan arus yang memiliki pengaruh terhadap distribusi besar ukuran butir sedimen.Berdasarkan analisa sebaran sedimen selama penelitian diketahui jenis sedimen di Perairan Pantai Sigandu Batang didominasi oleh sedimen lanau dan lanau pasiran dengan pola sebaran sedimennya sejajar garis pantai, dimana sedimen jenis lanau pasiran berada pada perairan yang dangkal sedangkan sedimen jenis lanau dan lempung berada pada perairan yang dalam. Hal ini terjadi karena pengaruh arus laut yang didominasi oleh pasang surut yang semakin lemah

    Sebaran Granit Klabat Berdasarkan Interpretasi Seismik Saluran Tunggal Di Perairan Utara Tanjung Berikat

    Get PDF
    Perairan Tanjung Berikat merupakan salah satu perairan di daerah Pulau Bangka yang dilalui oleh jalur granit Asia Tenggara. Keberadaan jalur granit ini berhubungan erat dengan keterdapatan batuan granit yang berperan sebagai batuan sumber pembawa timah baik di daratan dan perairan. Namun demikian, keterdapatan Granit Klabat yang diketahui pada daerah Tanjung Berikat hanya batuan granit yang terlihat di darat saja. Sementara itu, jika melihat keterdapatan granit dalam bentuk singkapan maupun bongkah-bongkah pada wilayah pantai Tanjung Berikat dan sekitarnya, maka diduga adanya sebaran Granit Klabat ini menerus hingga ke arah laut. Metode yang digunakan ialah seismik saluran tunggal (single channel) dengan sumber suara berupa Boomer Single Plate dengan energi sebesar 400 Joule dan frekuensi 300 – 600 Hz. Dari rekaman seismik diinterpretasikan menjadi 4 (empat) unit dimana Unit-1, Unit-2, dan Unit-3 yang berada di atas basement akustik diduga berumur Kuarter. Basement akustik yang berumur Trias Awal kemudian diterobos oleh batuan yang diduga sebagai Granit Klabat. Selanjutnya dilakukan konturing menggunakan metode convergence interpolation. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebaran batuan Granit Klabat di daerah penelitian terlihat hingga area ±2,5 km dari garis pantai dengan kedalaman berkisar antara 20-80 milisecond pada bagian tengah-timur daerah penelitian dan 40-80 milisecond pada bagian barat daerah penelitian

    COVER DEPAN

    No full text
    COVER DEPA

    COVER BELAKANG

    No full text
    COVER BELAKAN

    KARAKTER ARUS PASUT DI PERAIRAN PULAU PUTRI, NONGSA, BATAM BERDASARKAN PEMODELAN HIDRODINAMIKA 2D

    Get PDF
    Pulau Putri merupakan pulau kecil terdepan bagian dari Nongsa, Batam yang sempat terancam hilang akibat perubahan garis pantai besar-besaran. Arus dan pasang surut ini merupakan parameter oseanografi yang penting diketahui dalam menganalisis karakteristik perairan. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan arus pasang surut di perairan Pulau Putri Pada penelitian ini digunakan pendekatan numeris 2D dengan menggunakan model Delft3D- FLOW. Simulasi dimulai pada Maret-Mei 2020 Validasi model dengan data elevasi muka air laut menghasilkan nilai yang baik, yaitu dengan RMSE 0,135 dan bias 0,018. Adapun validasi komponen pasang surut menujukkan selisih yangkecil yaitu 0 - 8 cm untuk amplitudo dan 0o - 9o untuk fase. Berdasarkan simulasi, pasang surut di Pulau Putri termasuk tipe condong semidiurnal dan termasuk perairan microtidal dan sedikit mesotidal dengan tunggang pasut kurang dari 2 - 2,5 m. Hasil model arus pasut menghasilkan nilai rata-rata residu 0,1 m/s dan rata-rata arus pasang surut yang dapat mencapai 0,5 m/s. Pola pergerakan arus pasut yang dihasilkan adalah bidirectional, yaitu dari barat menuju timur dan tenggara

    Kajian Genangan Bahaya Tsunami di Kawasan Pantai Palabuhanratu, Geopark Ciletuh

    Get PDF
    Daerah Selat Sunda masuk dalam segmentasi Sumatera dan Jawa dari Busur Sunda, yang memiliki karakteristik sangat aktif dalam aktivitas vulkanik, kegempaan, dan pergerakan tektonik. Patahan naik busur Sunda menimbulkan Gempa bumi yang kuat hingga 8.8Mw yang dapat memicu tsunami. Kawasan Palabuhanratu masuk dalam kategori yang terdampak dalam bahaya tsunami dari Busur Sunda. Kajian pembuatan peta zona bahaya genangan tsunami model ketinggian 5 meter, 10 meter, dan 30 meter berdasarkan periode ulang tsunami dikawasn Selat Sunda. Metode penelitian dengan menggunakan data sekunder dari NASA yaitu ASTER GDEM untuk menunjukkan elevasi dan Sentinel 2B untuk menunjukkan penggunaan lahan. Tools Pengolahan data citra satelit dengan Software QGIS. Hasil kajian menunjukkan bahwa bahaya genangan tsunami dengan ketinggian 5 meter memiliki luasan keterpaparan 113,65 ha, 10 meter keterpaparan 720,27 ha, dan 30 meter sebesar 1531.78 ha. Dengan cakupan desa yang terdampak Citepus, Palabuhanratu, Jayanti, Citarik dan Tonjong

    Litofasies Dan Lingkungan Pengendapan Pada Formasi Elat, Kecamatan Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku

    Get PDF
    Daerah Kei Besar merupakan bagian timur busur banda tepatnya pada zona lengkungan sistem busur banda bagian timur yang didominasi oleh batuan karbonat. Informasi mengenai fasies dan lingkungan pengendapan Formasi Elat berdasarkan batuan yang tersingkap masih sangat sedikit sehingga diperlukan penelitian yang lebih akurat. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi 31 stasiun pengamatan dan pengukuran penampang stratigrafi pada 5 lintasan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan Formasi Elat didominasi oleh litologi kalkarenit dan batulempung.yang digolongkan menjadi 6 litofasies yaitu alternating calcarenite & shale, amalgamated calcarenite, blocky calcarenite, structurless mud, slump deposit dan coarsening upward calcarenite. Asosiasi fasies berdasarkan 5 lintasan penelitian menunjukkan lingkungan pengendapan daerah penelitian berdasarkan Wilson (1975) adalah Foreslope, Deep Shelf Margin dan Open Sea Shelf. Sedangkan berdasarkan Christopher G St C Kendall (2012) lingkungan pengendapan daerah penelitian adalah Lower Slope, Middle Fan dan Lower Fan. Sejarah pengendapan Formasi Elat dimulai dengan mengendapnya litofasies alternating calcarenite & shale pada Channel Complex, setelah itu terbentuk litofasies amalgamated calcarenite, blocky calcarenite dan coarsening upward calcarenite pada lingkungan Middle Fan dan pada akhirnya pada Lower Fan terbentuknya litofasies structurless mud dan alternating calcarenite & shale. Proses sedimentasi Formasi Elat termasuk dalam siklus sedimentasi yang berada pada fase low stand system tract

    449

    full texts

    645

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇