Jurnal Online Universitas Pertahanan (Indonesian Defense University)
Not a member yet
491 research outputs found
Sort by
Membangun Ketahanan Energi Pendukung Pertahanan Maritim Melalui Pemanfaatan Mikroalga Sebagai Biodiesel Bagi Masyarakat Pesisir
Abstrak – Sumber daya kelautan sebagai sumber daya energi menjadi salah satu sarana pembangunan kekuatan maritim dan pemersatu pertahanan wilayah bagi Indonesia. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan luas wilayah sebagian besarnya perairan, serta posisi silang yang strategis menjadi sumber fundamental bagi pengembangan energi yang berkelanjutan melalui pemanfaatan mikroalga sebagai tumbuhan laut yang potensial sebagai bahan bakar biodiesel, campuran solar bagi masyarakat pesisir Indonesia. Metode penelitian pada kajian artikel ini menggunakan konsep studi literatur dan observasi penelitian penulis sebelumnya, yang akan menghasilkan analisis dari tujuan energi sebagai pendukung pertahanan maritim yang mencakup: (1) pemahaman dengan baik tata pengelolaan dan pengembangan sumber daya energi kelautan melalui penggunaan biodiesel sebagai energi terbarukan dari tumbuhan laut mikroalga;(2) terciptanya kesadaran dan kerjasama yang efektif antara masyarakat pesisir, pemerintah serta industri akan kebesaran sejarah bangsa Indonesia berasal dari penguasaan lautan sebagai sumber pertahanan dalam membangun ketahanan energi pendukung pertahanan maritim.Kata Kunci : kekuatan maritim, ketahanan energi, mikroalg
POSISI BEBAS AKTIF INDONESIA DALAM RIVALITAS TIONGKOK DAN AMERIKA SERIKAT DI ASIA TENGGARA TERKAIT PENGADAAN ALUTSISTA
Rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok di perairan Asia Tenggara semakin mendorong kewaspadaan negara-negara di Asia Tenggara. Bagi Amerika Serikat, Asia Tenggara merupakan salah satu lokasi Forward Operating Site bagi militernya; sementara bagi Tiongkok, Asia Tenggara sebagai salah satu jalur perdagangannya yang paling penting (String of Pearl) dan memiliki klaim teritorial di wilayah perairan Laut Tiongkok Selatan. Artikel ini bertujuan untuk memaknai strategi bebas aktif Indonesia guna merespons rivalitas tersebut dalam konteks pengadaan kapal selam Kelas Chang Bogo dari Korea Selatan. Pertama, hadirnya Chang Bogo dapat menambah kompleksitas modernisasi persenjataan khususnya kapal selam serang di Asia Tenggara. Kedua, di sisi lain, Indonesia semakin aktif dalam rantai pasok persenjataan global yang melibatkan industri pertahanan mancanegara, khususnya kapal selam yang marak digunakan karena efektivitas serang sembunyi (stealth). Dengan menggunakan teori jejaring-aktor, artikel ini menyimpulkan bahwa kedua posisi Indonesia tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan dalam menghadapi konstelasi regional yang kompleks akibat rivalitas AS-Tiongkok, apabila Indonesia mampu memformulasikan strategi maritim berdasarkan kekuatan kapal selam yang dimiliki. Kata kunci: Asia Tenggara, kapal selam Kelas Chang Bogo,jejaring-aktor,politik bebas-aktifIndonesia, rivalitas maritim Amerika Serikat-Tiongko
PENGARUH ‘STRING OF PEARL’ TIONGKOK TERHADAP PENCAPAIAN MP3EI DALAM KONTEKS PASAR BEBAS ASEAN 2015
String of Pearl (SoP) merupakan strategi Tiongkok dalam menyebarkan pengaruh ekonominya dari daratan Tiongkok menuju Timur Tengah dengan melalui wilayah strategis, seperti Selat Malaka dan Samudera Hindia, yang merupakan bagian dari Indonesia. Strategi ini akan memengaruhi pencapaian MP3EI, yang menjadi pedoman pembangunan ekonomi Indonesia. Pelaksanaan Komunitas Ekonomi ASEAN (KEA), yang memperluas akses Tiongkok ke wilayah strategis tersebut, memberikan dampak terhadap pembangunan koridor-koridor ekonomi Indonesia, khususnya dalam kerangka MP3EI. Tulisan ini mengulas dampak SoP Tiongkok terhadap pembangunan ekonomi Indonesia yang dimotori oleh MP3EI, khususnya di era KEA. Ulasan ini menunjukkan strategi yang dapat dilakukan Indonesia untuk meminimalisasi dampak SoP terhadap pencapaian MP3EI dalam konteks pasar bebas ASEAN 2015. Potensi-potensi Indonesia yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya tawar dalam diplomasi dan negosiasi dengan Tiongkok juga disampaikan dalam ulasan singkat di bagian akhir tulisan ini. Kata Kunci: String of Pearl (SoP), KEA, MP3E
DETERMINATION OF AIR DEFENSE IDENTIFICATION ZONE (ADIZ) IN ORDER TO SUPPORT SOVEREIGNTY OF NATIONAL AIR REGION
One aspect of air spatial arrangement relating to national airspace sovereignty is to establish Air Defense Identification Zone (ADIZ) which established on the basis of security considerations, particularly for the purposes of foreign aircraft identification. ADIZ Indonesia that has been established at this time is not ideal because it is still above Java and surrounding areas, which is still not sufficient in the face of the vast territory of Indonesia. In order to do so, the purpose of this study is to analyze the current condition of ADIZ Indonesia, what efforts have been made to re-establish ADIZ Indonesia in order to suport sovereign national airspace, and the ADIZ stipulation provision in accordance with international air law. This research using qualitative method, data collected by interview and literature review. The results show that ADIZ Indonesia currently resides in the airspace of a small portion of South Sumatra, Java and Madura, Bali, Lombok and a small portion of the western Sumbawa Island, not outside the territorial sea territory (ZEE). Attempts to reassign ADIZ Indonesian terrritory has been implemented through discussion forums or FGDs held at BNPP, and the appointment of ADIZ Indonesia is already based on international customary law at that time. Â Keywords: ADIZ, aircraft identification, airspace sovereignty, air law One aspect of air spatial arrangement relating to national airspace sovereignty is to establish Air Defense Identification Zone (ADIZ) which established on the basis of security considerations, particularly for the purposes of foreign aircraft identification. ADIZ Indonesia that has been established at this time is not ideal because it is still above Java and surrounding areas, which is still not sufficient in the face of the vast territory of Indonesia. In order to do so, the purpose of this study is to analyze the current condition of ADIZ Indonesia, what efforts have been made to re-establish ADIZ Indonesia in order to suport sovereign national airspace, and the ADIZ stipulation provision in accordance with international air law. This research using qualitative method, data collected by interview and literature review. The results show that ADIZ Indonesia currently resides in the airspace of a small portion of South Sumatra, Java and Madura, Bali, Lombok and a small portion of the western Sumbawa Island, not outside the territorial sea territory (ZEE). Attempts to reassign ADIZ Indonesian terrritory has been implemented through discussion forums or FGDs held at BNPP, and the appointment of ADIZ Indonesia is already based on international customary law at that time
SINO-MYANMAR DEFENSE COOPERATION AND CHINA’S EFFORTS TO BOLSTER ITS SPHERE OF INFLUENCE IN THE INDIAN OCEAN (2013-2017)
This paper deals with the implementation of China’s Defense Policy in Sino-Myanmar Defense Cooperation to bolster China’ sphere of influence in the Indian Ocean from 2013-2017. The rise of China has been viewed as a great phenomenon in the global political, economic and security realm, particularly in this 21st century. This rise has led China became the second biggest economy and also the strongest military in the world. This situation however pushed China to fulfill the increasing demand of energy and to seek for the alternative route. By sharing 2,204 kilometers of its border with China and having direct access to the Indian Ocean, Myanmar becomes a land bridge to get the access to Indian Ocean. Myanmar locates on tri-junction Southeast, South and East Asia and very abundance with natural resources. In the context of “Belt and Road Initiative†(BRI), China has implemented its defense policy through the economic and military cooperation with Myanmar. This study therefore explains the implementation of China’s defense policy in Sino-Myanmar defense cooperation to strengthening its position in the Indian Ocean in the search for stronger influence in the region. This research is using qualitative method qualitative research. The review of theories, literatures and previous research findings are the basic sources to form a research design and data analysis from both primary and secondary sources. This study found that China utilized its economic and defense cooperation with Myanmar to spread its hegemonic power in the region
ANALYSIS OF DEFENSE COOPERATION AGREEMENT BETWEEN INDONESIA AND SINGAPORE IN 2007–2017 THROUGH DEFENSE DIPLOMACY GOAL VARIABLE
Defense cooperation agreement between Indonesia and Singapore has been signed on April 27th 2007 in Tampak Siring, Bali by both country’s defense Minister, signifying a further comprehensive agreement based on the content of the DCA (Defense Cooperation Agreement). This defense agreement, in addition of being a continuation of other previous defense cooperation such as Military Training Area in 1995 until 2003, is also a further initiative of Singapore in order to build a mutually beneficial cooperation. In fact, this agreement has also been packaged with extradition agreement which was the initiative of Indonesia. Although the agreement has been signed and agreed by both countries, this agreement was not ratified by Indonesian House of Representatives. Thus, this research will explain about factors or variables that causes the failure of Singapore defense diplomacy. This research uses liberalism perspective, defense diplomacy and bilateral diplomacy concept. The employed research method is analytical descriptive method. Data is collected through interview with 7 informants including academicians, practioners, and other related expert. The data is also obtained from various literatures. Based on 4 defense diplomacy goals variables such as Diplomacy, National Interest, Defense Instrument Usage, Peacetime and Potential Enemy, this research finds that Defense Cooperation Agreement in 2007-2017 has not been succsesful yet because there was a difference between Indonesia’s and Singapore’s national interest. The difference came from the division in Indonesia between its government and parliament where the Government prioritized beneficial cooperation while the Parliament prioritized sovereignty principle
DIPLOMASI PERTAHANAN INDONESIA TERHADAP AUSTRALIA PASCA SKANDAL PENYADAPAN
Penyadapan informasi secara tidak sah merupakan suatu tindakan melanggar hukum yang dapat mengganggu privasi seseorang. Namun dalam konteks antar negara, penyadapan sebenarnya biasa dilakukan untuk mengetahui niat yang sebenarnya dari suatu negara, terutama yang berkaitan dengan kepentingan nasional negara yang melakukan penyadapan. Disamping itu, informasi yang lebih rinci mengenai kebijakan dan implementasinya perlu diketahui agar dapat melakukan tindakan antisipasi dan mencegah pendadakan. Tindakan penyadapan secara tidak sah merupakan tindakan tercela dan melanggar etika diplomasi, terutama jika diterapkan terhadap negara sahabat sebagaimana yang diakukan oleh Australia terhadap Indonesia. Oleh sebab itu perlu diambil langkah yang tegas namun tepat dan terukur. Kata Kunci: penyadapan, intelijen, spionase, diplomas
PERAN DAN KAPABILITAS TNI DALAM PENGAWASAN LINTAS BATAS : STUDI KASUS KAPABILITAS KOMPI TEMPUR I YONIF 631/ANTANG DI PULAU SEBATIK TAHUN 2010-2011
This research aims to reveal the role and capability of TNI in monitoring border crossing. Case study was conducted in Sebatik Island, where border situation comprises complex vulnerabilities. However, TNI border security task force in charge succeeded to foil only small number of illegal activities. Research was conducted by qualitative methods based on military capability and border security management concepts, towards documents and interview to selected figures. Result of this study shows that force posture organised in accordance with border security operational standard, will be able to achieve optimum capability in monitoring border crossing if the main role is exercised in activities which are stick with determined strategy, and supported with actual intelligent information. Additional roles related to main tasks of the strategy may emerge in the effects of contributing factors. Whereas in the existence of contributing partners, formal framework is needed to synergize strategies among parties and ensure comprehensive capabilities. Keywords : role of TNI, border security, border crossing, capability, monitorin
SINERGI INSTRUMEN KEKUATAN MARITIM INDONESIA MENGHADAPI KLAIM CINA ATAS LAUT CINA SELATAN
Indonesia bukan salah satu negara claimant, tetapi provokasi Cina melalui kapal nelayan yang dikawal oleh kapal Chinese Coast Guard telah melanggar hak berdaulat Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia di Laut Cina Selatan (LCS) yang berpotongan dengan Nine Dashed Line (NDL).Sampai saat ini sinergi antar instrumen kekuatan maritim Indonesia untuk menjaga hak berdaulat Indonesia di LCS masih terlihat lemah, sehingga rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana sinergi instrumen kekuatan yang berwenang pada domain maritim Indonesia dalam menghadapi Klaim Cina atas LCS. Analisa sinergi dilihat dari tiga aspek yaitu perspektif, kebijakan, dan Rules Of Engangement (ROE) yang diterapkan pada operasional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk mengeksplorasi pertanyaan penelitian secara mendalam, dengan teknik analisa Soft System Methodology untuk melakukan pendekatan terhadap permasalahan dengan perbandingan sistem berpikir dan dunia nyata secara terstruktur, dan dibantu dengan NVivo untuk proses triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan instrumen kekuatan maritim di Indonesia belum memiliki perspektif yang selaras terhadap NDL. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kebijakan dari pembuat kebijakan dan turunan strategi dari pembuat strategi Pemerintah Republik Indonesia belum diharmonisasi, sehingga ROE pada level operasional yang tepat untuk menghadapi provokasi Cina atas LCS belum dirumuskan dengan menyesuaikan antara wewenang dengan kapabilitas instrumen. Secara keseluruhan, penelitian menemukan bahwa sinergi instrumen kekuatan maritim Indonesia masih perlu dioptimalkan untuk menghadapi Klaim Cina atas wilayah yurisdiksi Indonesia di LCS. Kata Kunci: Sinergi, Instrumen Kekuatan Maritim, Nine Dashed Line, Laut Cina Selatan, Hak Berdaula
GLOBALISASI DAN PEMETAAN KEKUATAN STRATEGIS PERTAHANAN MARITIM INDONESIA DALAM MENGHADAPI ANCAMAN TRANSNASIONAL: Berdasarkan Analisis Model Element of National Power: (Political, Military, Economic, Social, Infrastructure, and Information/PMESII)
Arus globalisasi saat ini jelas memberikan ruang gerak yang semakin bebas bagi ancaman untuk masuk dan mengganggu keamanan nasional. Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar tidak boleh menutup mata terhadap ancaman yang sudah didepan mata yang dapat masuk melalui jalur-jalur perairan strategisnya. Peningkatan kapasitas kekuatan pertahanan maritim menjadi kunci bagi pemerintah untuk terus mengawal langkah Indonesia kedepan dalam menghadapi rangkaian perubahan lingkungan strategis, baik dalam skala regional maupun global. Proyeksi pembangunan kekuatan maritim perlu diberikan prioritas utama untuk menjadikan Indonesia sebagai negara poros maritim dunia yang dipandang negara-negara internasional. Pada akhirnya, Indonesia akan memiliki posisi tawar yang strategis dalam pergaulan internasional apabila mampu membangun kekuatan maritimnya. Kata Kunci: pertahanan, globalisasi, ancaman transnasional, element of national powe