Jurnal Online Universitas Pertahanan (Indonesian Defense University)
Not a member yet
491 research outputs found
Sort by
SYARAT-SYARAT KESIAPAN PENYELENGGARAAN PROGRAM BELA NEGARA
Perkembangan lingkungan strategis di tingkat global dan regional menimbulkan ancaman terhadap negara, baik ancaman militer maupun nir militer sehingga memerlukan kesiapan negara untuk melakukan langkah antisipasi. Salah satu langkah kesiapan menghadapi musuh adalah menggelar program bela negara bagi semua masyarakat. Dalam hal ini masyarakat harus memiliki semangat nasionalisme, patriotisme, cinta tanah air dan kemampuan fisik dan disiplin untuk membela negara ketika negara dalam keadaan perang menghadapi musuh. Bela negara sangat penting bagi bangsa Indonesia mengingat sistem pertahanan negara adalah sistem pertahanan semesta dimana rakyat merupakan komponen pendukung yang harus siap membela negara dari berbagai ancaman musuh. Diperlukan kesiapan yuridis, sumber daya manusia, anggaran, sarana prasarana dan kultural dalam menyelenggarakan program bela negara. Kata kunci : bela negara, nasionalisme, patriotisme, cinta tanah ai
THE ROLE OF FISHERMEN IN ASSISTING MARITIME LAW ENFORCEMENT AGENCIES TO PREVENT MARITIME SECURITY THREATS
Abstract – Indonesia’s sea is approximately 2/3 wider than the mainland, with very strategic geographical posisition located at the cross point of Indian and Pacific Oceans. This geographical posisition serves as strategic route for shipping, with every shipment from the west to east and the opposite will sail through the Indonesian sea. This can be both opportunity or challenge, depending on how Indonesia will manage it. If the State did not manage it well, it will increase the maritime security threats, such as IUU fishing, smuggling, and piracy. These threats may seriously disrupt the marine economics development, given the limited number of armaments and personnel of marine law enforcement agencies. Therefore, the capacity of fishermen in assisting marine law enforcement agencies to prevent the maritime security threat is inevitable. This study uses descriptive qualitative method. There are two types of data sources, primary and secondary data sources. Primary sources is obtained through interview with stakeholders and fishermen organization, while secondary data source is obtained by literature study. The role of fishermen in assisting maritime law enforcement agencies, in this case PSDKP KKP and Navy, to prevent maritime security threats is prescribed role or recommended role. The prescribed role is shown by the community group program established by PSDKP and Coastal Development in Rural area which is established by the Navy. With this program, the fishermen can supply informations about maritime security threats to PSDKP and the Navy so that they can act immediately to prevent these threats.Keywords: Maritime Security Threats, Fishermen, Community Group Supervisor (Pokmaswas), Development Of Coastal In Rural Area (Bindesir
THE ROLE OF THE TNI NAVY’S HYDRO-OCEANOGRAPHIC CENTRE IN MANAGING SUSTAINABLE FISHERIES (A STUDY ON PROVIDING HYDROGRAPHIC DATA FOR MANAGING SUSTAINABLE FISHERY)
Indonesia is a rich country who has many natural resources, especially marine resource. To achieve good and sustainable marine resource management will need marine science as a tool such as hydrography. Nowaday, hydrography is often looked only for creating sea map or nautical chart for navigation. Whereas, if we look deeper about hydrography, it has a key role in fisheries resources management especially for fishermen which is hydrography can be a main support for sustainable fisheries and enhancing economic value. This paper explains about the role of hydrography in supporting economic value for fishermen and sustainable fisheries resource in installation fish aggregating devices (FADs), solving fishermen conflicts, and fisheries port. First, key role in installation FADs, effective and efficient of FADs is depend on the where FADs is installed. There are some criterias that must be considered for installing FADs such as sea depth, distance between FADs, seabed contour, free from shipping lanes, and oceanographic parameters. Those criterias needs data from Hidrography survey. Second, role of hydrography in conflict resolution by creating special map with clear coordinate points to show the boundary of fishing area that often occuring the conflict of fishermen. Third, role of hydrography to determine appropriate place for establishing fishing port. By doing hydrography survey to collect the field data in building jetty, cruise lanes, and break water port.Â
THE EFFECT OF LEADERSHIP STYLE AND COMPENSATION ON ORGANIZATIONAL COMMITMENT OF BABINSA IN JAKARTA
This study investigates the conceptualization of the leadership style and compensation within organizational commitment of Babinsa in Jakarta as well as examining the  leadership style and compensation  on  organizational commitment by previous researchers. This study use qualitative method by reviewing and integrates previous studies to point to the significance of the  leadership style and compensation towards organizational commitment of Babinsa specifically in  Jakarta. This study proposes a research framework to investigate the relationship of  leadership style and compensation on organizational commitment of Babinsa in Jakarta. The study is particularly useful for practitioners by identifying advantages of suitable organizational commitment of Babinsa in Jakarta. Â
OPERASI PEMELIHARAAN PERDAMAIAN DALAM PENDEKATAN KEAMANAN ABERYSTWYTH/WALES SCHOOL
Tulisan ini bertujuan untuk memahami operasi pemeliharaan perdamaian melalui pendekatan keamanan kritis (Critical Security Study) dalam kajian studi keamanan Aberystwyth/Wales School. Pendekatan keamanan dalam pemikiran Aberystwyth/Wales School merupakan hasil dari pergeseran fokus keamanan yang menghadirkan manusia sebagai obyek referen keamanan pasca perang dingin.Hal ini kemudian melahirkan konsep emansipasi sebagai konsep keamanan yang meletakkan kehadiran keamanan manusia yang pada hakikatnya membebaskan manusia dari segala jenis ancaman, baik militer maupun nonmiliter. Emansipasi adalah bentuk keamanan itu sendiri yang membebaskan manusia dari dampak perang baru berupa perang-perang sipil dalam bentuk berbagai macam tekanan, penyiksaan dan penindasan yang men-dehumanisasi manusia dari eksistensi kehidupannya sehari-hari. Melalui relevansi tujuan dan prinsip operasi pemeliharaan perdamaian dengan konsep emansipasi Aberystwyth/Wales School, maka pada intinya operasi pemeliharaan perdamaian merupakan fondasi utama penegakan keamanan manusia dalam menjamin keamanan dan ketertiban bagi perdamaian dunia. Esensi konsep emansipasi bagi penegakan keamanan manusia yang dimaksud dalam hal ini adalah membawa manusia kembali kepada hakekat penemuan kemanusiaannya, yaitu mampu menjalani kehidupan kemanusiaannya dalam lingkungan keamanan dan perdamaian yang menjamin kebebasannya dari setiap ancaman yang berusaha membatasi eksistensi kehidupan kemanusiannya secara individu dan sosial. Kata kunci: operasi pemeliharaan perdamaian, aberystwyth/wales school, pendekatan keamanan kritis, konsep emansipas
TEKNOLOGI MENANGKAL SERANGAN SINAR LASER GUNA MENDUKUNG KESELAMATAN PENERBANGAN
Dunia penerbangan, baik sipil maupun militer, adalah zona baru yang rentan terkena serangan laser. Jumlah peningkatan angka kejadian yang dilaporkan, menunjukkan ancaman serius terhadap keselamatan penerbangan. Serangan laser pada ketinggian rendah dapat menyebabkan gangguan pengelihatan yang menyilaukan hingga kebutaan mendadak kepada pilot pada fase kritis sebuah penerbangan, seperti saat mendarat atau tinggal landas. Sinar laser yang terlihat maupun yang tidak terlihat juga dapat menyebabkan kerusakan pada mata manusia. Studi literatur ini menyajikan diskusi dan kesimpulan dari sebuah literatur tentang teknologi baru untuk melindungi mata manusia dari ancaman serangan laser.Kata Kunci : serangan laser, ancaman laser, pencegahan laser, kacamata pelindung dari lase
THE POLITICAL ECONOMY OF TRADE LIBERALIZATION AND APEC GLOBAL AGENDA 2014: AN ANALYSIS FROM INDONESIA PERSPECTIVE
The 25 years of APEC shows a positive correlation between trade and economic growth. The strong correlation makes APEC seen as a future core of economic power and potential to be a global leadership in the development of international norm, rules, and cooperation. International political economy concerns to how scarce resources are allocated to different uses and distributed among individuals through the process of decentralized market. It also refers to the handling of issues related to cross-national boundaries and relationships between two or more than two countries through a complex political process involving a country, bilateral relations between the countries, international organizations, regional alliances, and global agreements. In globalization era, improving quality of human resource and sustainable growth is required. However, under the pressure of the international competition, Indonesia poses a number of new challenges, economic as well as political. The Indonesian economic challenge is in investment in commercial infrastructure to support greater connectivity. The new vision to be the world maritime axis has been promoted from the President Joko Widodo. It is the momentum for Indonesia to take advantage from the APEC global agenda to strengthen Indonesian role in sustaining national, regional, and international economic growth through infrastructure development in maritime sector. Keywords: APEC, connectivity, regional integration, maritime axis, trade liberalization, globalizatio
PERCEPATAN PEMBANGUNAN PERTAHANAN DALAM UPAYA MEWUJUDKAN NEGARA MARITIM INDONESIA YANG KUAT: SUATU TINJAUAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Percepatan pembangunan pertahanan, sebagaimana pembangunan nasional lainya yang cakupannya banyak. Diantaranya, menyoal peningkatan profesionalisme Tentara Nasional Indonesia (TNI), komponen cadangan (komcad), dan komponen pendukung (komduk) pertahanan diarahkan pada upaya terusÂmenerus untuk mewujudkan kemampuan pertahanan yang melampaui kekuatan pertahanan minimal. Kemampuan pertahanan tersebut, terus ditingkatkan agar memiliki efek penggetar yang disegani untuk mendukung posisi tawar dalam ajang diplomasi (Undang Undang-UU 17/2007-UU 37/1999). Namun, ketika memasuki tahapan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2015 atau pada jabaran lanjutan tahapan ke 3  dengan acuan Peraturan Presiden (Perpres) 2/2015. Peningkatan kemampuan pertahanan dengan dukungan kelengkapan komponen pertahanan lainnya. Misalnya, komponen cadangan (komcad) dan komponen pendukung (komduk) yang strategis untuk mendukung TNI sebagai komponen utama (komput) seharusnya dipercepat/diregulasi perwujudannya. Justru, seakan terkunci. Jika tidak tertunda, akibat menguatnya orientasi perubahan pembangunan menjadi Negara maritime yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional dengan berbagai variasi misi pendukungnya. Analogi ideologis Pancasila, dengan Tri Sakti, Nawa Cita, dan mengambil dukungan makna misi RPJPN atau peraturan perundang-undangan yang terkait ciri khas nusantara/kelautan/kepulauan/ maritim. Dimunculkan dan dijadikan acuan dasar dalam penerapan semua pembangunan nasional. Tanpa mengabaikan, kepemimpinan, tuntutan nasional, dan mengatasi ancaman/tantangan global akibat dimungkinkannya masalah: (i) infrastruktur yang terbatas; (ii) penguatan infrastruktur yang lambat; (iii) beberapa peraturan perundang undangan yang tumpang tindih dan kontradiktif; (iv) penerapan dan penggunaan teknologi yang terbatas; (v) kemampuan untuk membiayai pembangunan terbatas. Oleh karena itu, mengurangi resiko dan mencari solusi dalam suksesnya pembangunan pertahanan yang cakupannya banyak dengan memperhatikan konteks pandangan bangsa Indonesia tentang perang dan damai (Penjelasan UU 3/2002) menjadi bagian wajib. Khususnya, dalam kerangka memposisikan kebijakan dan strategi jika menuju keadaan bahaya bereskalasi tinggi (perang). Apalagi, dalam penerapan kebijakan dan keputusan politik yang dituangkan dalam lembaran/berita negara (peraturan perundang-undangan) mengenai penguatan sektor pertahanan. Masih mefokuskan, diantaranya TNI yang profesional tanpa memaknai pentingnya dukungan nyata berbagai manfaat strategis dari peran, fungsi, dan tugas SDM pertahanan yang berupa komponen cadangan (komcad) dan komponen pendukung (komduk). Lalu, dalam kerangka penegakan hukum di wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi, khususnya dalam melaksanakan patroli keamanan dan keselamatan di wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi Indonesia mengutamakan badan keamanan laut (Bakamla) sebagai bagian unsur utama (lembaga pemerintah di luar bidang pertahanan). Kata Kunci: sumber daya manusia (SDM) pertahanan, visi negara maritim, pembangunan pertahanan negaraÂ
DIPLOMASI INDONESIA DALAM MISI PEMELIHARAAN PERDAMAIAN PBB
Semakin pentingnya PBB dan diplomasi multilateral bagi Indonesia, Indonesia harus mengoptimalkan potensi perannya dalam mendorong partisipasinya pada operasi pemeliharaan perdamaian PBB sebagai suatu instrumen kebijakan luar negeri bebas dan aktif. Indonesia telah meningkatkan peran dan inisiatifnya dalam operasi Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014) sebagai implementasi dari kebijakan luar negeri Indonesia yang kreatif dan dinamis. Tulisan ini juga akan membahas tantangan dan peluang dalam memperkuat partisipasi Indonesia pada operasi Pasukan Penjaga Perdamaian PBB. Pemerintah Indonesia perlu menyusun suatu kebijakan nasional yang mempromosikan kepentingan nasional Indonesia dalam misi pemeliharaan perdamaian PBB. Menjadi sepuluh besar negara kontributor pasukan pada operasi pemeliharaan perdamaian PBB akan menjadi suatu perjalanan yang bersejarah bagi Indonesia pada dekade-dekade berikutnya. Penyusunan suatu Buku Putih Partisipasi pada Misi Pemeliharaan Perdamaian Internasional akan menjadi langkah penting yang pertama.    Kata Kunci : Perserikatan Bangsa-Bangsa, pemeliharaan perdamaian, kebijakan luar neger
STATE DEFENSE EDUCATION AS A COURSE IN UNIVERSITY
Indonesia currently faces multidimensional threats, from small to large, concerning all aspects of the country's life, from ideology, politics, economics, social, culture, defense, and security. The nature of contemporary threat has a human security aspect rather than only state security. As such, a thorough effort is needed to deal with those Threats, Disruption, Obstacle, Challenge (TDOC). State defense can be the answer to such problems because state defense itself can be interpreted as an obligation and responsibility of citizens to maintain the existence and sovereignty of the state. State defense will be optimal if disseminated through formal education. In this case, the formal education in question is at the level of higher education. This paper proposes that state defense can be held at higher education level in the form of university compulsory course, and is organized under the name State Defense Education. This State Defense Education is not military education or conscription, but an education that is adjusted to the condition and nuance of higher education.Keywords: Threat, Human Security, State Defense, and State Defense Educatio