Universitas Hasanuddin: e-Journals
Not a member yet
10100 research outputs found
Sort by
Assessing Performance and Sustainability of Child Protection in Jambi City
This study examines the performance and sustainability of child protection services in Jambi City through the implementation of the Family Learning Center (PUSPAGA). The research is motivated by the high incidence of violence against children, limited human resource capacity among service providers, and low public awareness and participation in PUSPAGA programs as a family-based preventive initiative. A qualitative research design with a case study approach was employed. Data were collected through in-depth interviews, direct observation of service delivery processes, and documentation, and were analyzed descriptively. The findings indicate that the performance of child protection services in Jambi City is generally satisfactory, particularly in terms of responsiveness and service quality, as reflected in timely service delivery, positive staff attitudes, and a strong preventive orientation. However, service performance has not been fully optimized in terms of productivity and equitable service coverage. These limitations are mainly caused by constraints in human resources, limited budget allocation, and insufficient intensity of community outreach and socialization activities. From a public service sustainability perspective, child protection services in Jambi City demonstrate institutional and programmatic sustainability. Nevertheless, further improvements are required in data governance, human resource development, funding support, and continuous community engagement to ensure the long-term effectiveness and sustainability of child protection services
ANALYSIS OF THE SYMBOLISM IN THE MANGNGARO’ RITUAL OF MAMASA IN CONTEMPORARY DANCE AS INTERCULTURAL COMMUNICATION
Ritual Mangngaro’ merupakan ritual adat Mamasa, Sulawesi Barat yang kaya akan simbolisme dan dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur. Dalam konteks modern, ritual ini diadaptasi ke dalam bentuk tari kontemporer untuk melestarikan nilai-nilai budaya dan mempromosikan pemahaman antarbudaya dari latar belakang budaya yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana simbolisme ritual Mangngaro’ direpresentasikan dalam bentuk tari kontemporer sebagai komunikasi antarbudaya. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata atau lisan dari orang-orang maupun perilaku yang diamati. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumen berupa video pertunjukan tari kontemporer. Dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes yang menelaah makna pada tingkat denotasi, konotasi, dan mitos untuk mengidentifikasi simbol-simbol yang terdapat dalam ritual Mangngaro’ yang diadaptasi ke dalam tari kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 simbol dalam ritual Mangngaro’ memiliki makna mendalam yang mencerminkan nilai-nilai budaya Mamasa dan dapat dikomunikasikan secara efektif melalui tari kontemporer. Dengan demikian, tari kontemporer yang terinspirasi oleh ritual Mangngaro’ tidak hanya berfungsi sebagai bentuk pelestarian budaya, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan budaya kepada audiens yang lebih luas
DI KELAS yang TAK BIASA: KOMUNIKASI TERAPEUTIK SEBAGAI JEMBATAN HARAPAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
This study aims to explore the implementation of therapeutic communication in supporting the development of children with special needs through dynamic interactions between teachers, therapists, and parents. A qualitative approach using the Focus Group Discussion (FGD) method was applied in this study, which was conducted at Special Harmony School and involved four teachers, four therapists, and four parents of students. The study is grounded in two primary theories: Joyce Travelbee\u27s Human-to-Human Relationship Model and Imogene King\u27s Theory of Goal Attainment. The findings reveal that social inclusion can be realized through empathetic and understanding interactions in daily life, where a supportive social environment greatly facilitates the effective implementation of therapeutic communication in the children\u27s lives. However, the study also identified significant challenges, particularly the children\u27s dependence on gadgets, which hampers their ability to engage in optimal social interaction. The role of the family, especially parents and siblings, proves to be a crucial element in the therapy process and in the development of the children\u27s social abilities. Psychological denial experienced by parents regarding their child’s condition was found to be an obstacle to effective therapeutic communication and the child’s overall developmental progress. These findings highlight the urgency for deeper authentic empathy, not just a cognitive approach, in addressing the needs of children with special needs. Therapeutic communication acts as a bridge connecting the interactions among individuals involved in the child’s developmental process, aligning with the concept of mutual goals in King’s theory and the human closeness emphasized in Travelbee’s model. Therefore, a cross-role collaborative approach (involving teachers, therapists, and families) that emphasizes meaningful interaction, deep emotional connection, and jointly agreed developmental goals is essential to optimizing the therapy and holistic development of the child.
Keywords: Children with Special Needs, Interaction, Interpersonal Communication, Therapeutic Communication
PUBLIC SPHERE VS HOAX SPHERE: MENGHADIRKAN HABERMAS DI TENGAH FENOMENA HOAKS POLITIK
Public sphere (ruang publik) telah tersusupi oleh hoaks, khususnya hoaks politik. Di Indonesia hoaks politik menunjukkan peningkatan di tahun 2024, karena dipicu oleh peristiwa pemilihan Presiden dan Kepala Daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana hoaks bisa tersebar ke ruang publik, yang kemudian berhasil menurunkan kualitas ruang publik. Padahal konsep ruang publik menurut Jurgen Habermas, seharusnya bisa menjadi ruang yang inklusif, terbuka bagi siapa saja untuk mendialektikakan pemikiran-pemikiran rasionalnya. Penelitian ini melakukan analisis isi terhadap tiga konten yang berisi hoaks politik, yang tersebar di berbagai platform media sosial. Unit analisis mengambil acuan dari karakteristik ruang publik yang digagas oleh Jurgen Habermas (Rational-critical debate, accessibility, independence from authority, focus on common interest, formation of public opinion, cultural and social context). Hasilnya menunjukkan bahwa media sosial, sebagai ruang publik hari ini, telah dijadikan sebagai sarana penyebaran hoaks politik. Dengan media sosial hoaks politik menjadi lebih canggih dan semakin sulit untuk dikenali
PERBANDINGAN KOMUNIKASI PEMERINTAHAN DALAM IMPLEMENTASI E-GOVERNMENT PADA DUNIA YANG MENGAKU MAJU DAN YANG DIJULUKI BERKEMBANG
Penelitian ini menyelami jurang antara janji dan kenyataan dari e-government, membentangkan dua dunia: yang satu tertata, yang lain tertatih. Negara-negara maju—seperti Amerika Serikat dan Jepang—berjalan di atas kehendak akan kekuasaan teknologi, menjelmakan keterbukaan dan partisipasi sebagai wujud tertinggi dari komunikasi pemerintahan. Di sisi lain, Indonesia, Bangladesh, dan Nigeria terjerembab dalam kepatuhan terhadap struktur usang: hierarki, ketakutan pada perubahan, dan infrastruktur yang rapuh. Dengan pisau tajam teori Difusi Inovasi, Komunikasi Organisasi, dan Ketergantungan Sumber Daya, penelitian ini membedah tubuh birokrasi, membongkar ilusi efisiensi yang sering disembah sebagai dewa modernitas. Kesimpulannya terang benderang: teknologi hanyalah alat, bukan keselamatan. Hanya transformasi menyeluruh—baik dalam cara berkomunikasi maupun cara memerintah—yang dapat menuntun bangsa menuju pencerahan digital sejati
REVIVING THE HANACARAKA: DIGITAL STORYTELLING FOR EDUCATING AND PRESERVING THE JAVANESE SCRIPT AND ORAL TRADITIONS AT MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA
Upaya pelestarian aksara dan bahasa daerah menghadapi tantangan besar di era digital, termasuk krisis pewarisan tradisi lisan antar generasi. Penelitian ini bertujuan memetakan pengalaman pengunjung terhadap digital storytelling Hanacaraka di Museum Sonobudoyo Yogyakarta, serta menelaah bagaimana strategi komunikasi museum berperan dalam mengedukasi sekaligus melestarikan warisan budaya takbenda. Menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis tematik, data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi artefak digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurasi konten berbasis kisah Aji Saka, meski bersumber dari tradisi lisan fiksi sejarah, mampu menghadirkan pengalaman pengunjung yang menyentuh aspek spiritual, edukatif, dan rekreatif. Pengalaman ini dianalisis melalui model komunikasi museum berbasis SERU (Spiritual, Edukasi, Rekreasi, Ukhuwah). Sementara aspek spiritual dan edukatif telah terbangun, dimensi ukhuwah masih membutuhkan penguatan melalui aktivitas interaktif yang lebih kolaboratif. Penelitian ini menegaskan bahwa digital storytelling merupakan strategi efektif dalam memperkuat literasi budaya, menghidupkan kembali aksara tradisional, serta mendorong keterlibatan pengunjung dalam pelestarian bahasa Ibu secara partisipatif dan berkelanjutan
LITERASI DIGITAL MUSLIM FRIENDLY DI INSTAGRAM @NAVITO_HALAL
Meningkatnya jumlah wisatawan muslim yang berkunjung ke Jepang menghadirkan tantangan dalam memperoleh makanan halal, mengingat Jepang adalah salah satu negara dengan populasi muslim yang sedikit. Kebutuhan akan informasi yang akurat dan mudah diakses terkait kuliner halal mendorong berkembangnya konten rekomendasi makanan halal di media sosial, salah satunya melalui akun Instagram @Navito_halal. Akun ini dikelola oleh kreator konten asal Jepang yang secara konsisten membagikan rekomendasi makanan halal dan Muslim friendly, lengkap dengan informasi lokasi, bahan, sertifikasi halal, hingga pengalaman mencicipi makanan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konten-konten yang dibuat oleh akun Instagram @Navito_halal berfungsi sebagai media informasi dan literasi digital bagi audiens, khususnya umat Muslim, dalam mempermudah pencarian makanan halal dan Muslim friendly di Jepang. Penelitian ini penting karena di tengah meningkatnya mobilitas wisatawan Muslim ke negara-negara non-Muslim seperti Jepang, informasi mengenai makanan halal masih terbatas dan sulit diakses secara langsung. Dalam konteks ini, media sosial seperti Instagram berperan penting sebagai saluran komunikasi dan literasi digital yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan konsumsi. Melalui tampilan visual dan cerita yang dibagikan oleh @Navito_halal, informasi mengenai makanan halal dan Muslim friendly dapat disampaikan dengan cara yang menarik, mudah dipahami, dan bisa dipercaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis terhadap 12 konten @Navito_halal di Jepang selama tahun 2024, untuk memahami bagaimana informasi mengenai makanan halal disampaikan, serta bagaimana konten tersebut berkontribusi dalam mempermudah audiens Muslim menemukan makanan halal di lingkungan non-Muslim seperti Jepang. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran konten media sosial dalam mendukung literasi digital umat Muslim, khususnya dalam konteks pencarian makanan halal di negara non-Muslim, serta menjadi acuan bagi pengembangan strategi komunikasi digital yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan wisatawan Muslim, Konten tersebut juga berkontribusi nyata dalam membantu audiens Muslim menemukan makanan halal di Jepang, sekaligus memperkuat peran media sosial sebagai sarana literasi digital yang responsif terhadap kebutuhan wisatawan Muslim
VIRTUAL CAPITAL : STUDI KASUS TERKAIT KONSTRUKSI KAPITAL SOSIAL PADA PEMAIN PEREMPUAN GAME ONLINE VALORANT: VIRTUAL CAPITAL: A CASE STUDY OF SOCIAL CAPITAL CONSTRUCTION IN FEMALE PLAYERS OF THE ONLINE GAME VALORANT
Online games with the FPS (First Person Shooter) genre are media that are categorized as hot media. This game has features and instructions that can be easily understood by its users. But behind the ease of understanding the game, Valorant triggers quite intense interactions between players. Many studies have exposed the diverse range of symbolic violence that arises as an implication of negative interactions in games such as flaming, sexting, trashtalking and cyberbullying. Symbolic violence occurs when one's capital capacity is insufficient to meet the needs and demands of the arena. This condition explains how the concept of capital is the fundamental foundation that makes a person comfortable in online games. Especially women, as a gender who often get negative behavior in games, makes this research significant. The concept of capital used is social capital proposed by Bourdieu where the capacity of one capital has implications for how far the quality of the relationship can be mobilized. Therefore, this study seeks to reveal how the social capital of female players in the online game Valorant is constructed. This research uses a qualitative approach with a case study research method. The data collection technique used was an in-depth interview with 4 female players of the online game Valorant. The results of the study show that female players have social capital when playing Valorant games. Social capital is constructed through (1) participation in the community, (2) in-game skills, experience, andcommunication, and (3) gaming cosmetics and device quality.Game online dengan genre FPS (First Person Shooter) merupakan media yang dikategorisasikan sebagai hot media. Game ini memiliki fitur dan instruksi yang dapat dipahami dengan mudah oleh penggunanya. Namun di balik kemudahan dalam memahami game, Valorant memantik interaksi yang cukup intens antar pemain. Banyak penelitian telah memaparkan beragam kekerasan simbolik yang muncul sebagai implikasi dari interaksi negatif dalam game seperti flaming, sexting, trashtalking dan cyberbullying. Kekerasan simbolik terjadi ketika kapasitas modal seseorang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan arena. Kondisi ini menjelaskan bagaimana konsep kapital menjadi landasan fundamental yang membuat seseorang nyaman dalam game online. Khususnya perempuan, sebagai gender yang seringkali mendapatkan perilaku negatif dalam game membuat penelitian ini menjadi signifikan. Konsep kapital yang digunakan adalah kapital sosial yang dikemukakan Bourdieu dimana kapasitas kapital seseorang berimplikasi pada seberapa jauh kualitas hubungan yang dapat dimobilisasi. Oleh sebab itu, penelitian ini berusaha mengungkapkan bagaimana konstruksi kapital sosial dari pemain perempuan dalam game online Valorant. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode riset studi kasus. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah indepth interview kepada 4 pemain perempuan game online Valorant. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemain perempuan memiliki kapital sosial ketika bermain game Valorant. Kapital sosial tersebut dikonstruksi melalui (1) partisipasi dalam komunitas, (2) keterampilan, pengalaman, dan komunikasi dalam game, serta (3) kosmetik game dan kualitas perangkat
ANALISIS PRAGMATIKA KATA “TAWE” DALAM ETIKA KOMUNIKASI MASYARAKAT MANDAR
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pragmatik kata \u27tawe\u27 dalam etika komunikasi masyarakat Mandar. \u27Tawe\u27 merupakan sebuah ungkapan yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari masyarakat Mandar sebagai bentuk penghormatan atau permohonan maaf. Dalam kajian ini, pendekatan pragmatik digunakan untuk menggali makna dan fungsi kata \u27tawe\u27 dalam konteks sosial budaya, serta bagaimana kata tersebut mencerminkan nilai-nilai etika komunikasi dalam masyarakat Mandar. Data diperoleh melalui observasi langsung dan wawancara dengan masyarakat setempat. Analisis dilakukan dengan mengkaji konteks penggunaan \u27tawe\u27, tujuan komunikatifnya, dan hubungan sosial antara penutur dan lawan bicara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kata \u27tawe\u27 tidak hanya sebagai bentuk sopan santun, tetapi juga sebagai alat untuk memelihara keharmonisan hubungan sosial dan menjaga norma-norma dalam masyarakat Mandar. Kata ini memiliki fungsi pragmatik yang kompleks, yakni sebagai ekspresi permohonan maaf, ungkapan penghormatan, serta penanda kedekatan sosial antar individu. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana bahasa, dalam hal ini kata \u27tawe\u27, berperan penting dalam membentuk etika komunikasi dalam suatu komunitas budaya tertentu
Multiple Identity on Nano Celebrity Instagram Account Sidoarjo
Social media, especially Instagram, has become a strategic space for nano celebrities to present and manage multiple identities simultaneously. This study aims to analyze how the concept of multiple identities is presented by nano celebrities in Sidoarjo. Using a qualitative approach through netnography method and identity management theory from Imahori and Cupach, this study found that subjects such as @q_annisa and @siscaks04 actively construct identities as mothers, wives, food vloggers, and complementary social figures. They utilize visual elements such as photos, videos, captions, and Instagram features such as stories, reels, and feeds consistently to strengthen their diverse digital personas. In addition, research shows that the presentation of content that can be connected to the audience\u27s experience, as well as mutual interaction with the audience through comments and stories are key factors in building loyalty and trust among followers. @q_annisa and @siscaks04, present identities as private individuals, professionals, as well as part of a social community, each of which is tailored to the context and expectations of the audience. The results of this study confirm that the representation of multiple identities is done consciously and structurally, making nano celebrities not only as media users, but also as strategic actors in shaping their image.Social media, especially Instagram, has become a strategic space for nano celebrities to present and manage multiple identities simultaneously. This study aims to analyze how the concept of multiple identities is presented by nano celebrities in Sidoarjo. Using a qualitative approach through netnography method and identity management theory from Imahori and Cupach, this study found that subjects such as @q_annisa and @siscaks04 actively construct identities as mothers, wives, food vloggers, and complementary social figures. They utilize visual elements such as photos, videos, captions, and Instagram features such as stories, reels, and feeds consistently to strengthen their diverse digital personas. In addition, research shows that the presentation of content that can be connected to the audience\u27s experience, as well as mutual interaction with the audience through comments and stories are key factors in building loyalty and trust among followers. @q_annisa and @siscaks04, present identities as private individuals, professionals, as well as part of a social community, each of which is tailored to the context and expectations of the audience. The results of this study confirm that the representation of multiple identities is done consciously and structurally, making nano celebrities not only as media users, but also as strategic actors in shaping their image