Universitas Hasanuddin: e-Journals
Not a member yet
10100 research outputs found
Sort by
DIVERSIFIKASI PRODUK KAIN ECOPRINT UNTUK PENGEMBANGAN BISNIS KOPERASI DESA SEBAGAI KETAHANAN BISNIS PASCA COVID 19
This community service program aims to enhance the economic scale of the Harum Manis Cooperative, which is part of the village cooperative business development initiative. The program, carried out in cooperatives based on KUB (Joint Business Groups), will introduce new products in the form of ecoprint fabrics, which are innovative creations inspired by the environmentally friendly practices of cooperative members. Ecoprint fabrics also represent a business alternative that has been widely developed by home industries and MSMEs to capture the fashion market. Following the COVID-19 pandemic, many people have transitioned from being employees to becoming entrepreneurs. This program serves as a follow-up to the UMY community empowerment initiative conducted at the Harum Manis Cooperative several years ago, which remains a UMY-supported group to this day. The program will be implemented in three stages: training in making and producing ecoprint fabrics, as well as organizational and business management. The methods used include discussions and practical training, along with business and marketing sessions. The steps include observations by the community service team in partner villages, preparation of community service proposals, workshops and mentoring, monitoring, and final reporting. The outcomes of this program include ready-to-sell ecoprint fabric products, improved business management skills, and standardized products meeting broader community preferences. This program has positively impacted the Harum Manis Cooperative and its members by fostering the development of marketable products and enhancing organizational management. --- Program pengabdian ini bertujuan untuk menambah economies of scale dari Koperasi Harum manis yang merupakan bagian dari pengembangan usaha koperasi desa. Program yang dilakukan di koperasi yang berbasis KUB ini akan menambah produk berupa kain ecoprint yang merupakan inovasi dari kreativitas anggota koperasi yang ramah lingkungan. Kain ecoprint juga merupakan alternatif bisnis yang banyak dikembangkan oleh home industri dan UMKM dalam menjaring pasar fashion. Terlebih lagi pasca pandemic Covid 19, banyak masyarakat yang beralih profesi atau merubah profesinya yang dulunya pegawai menjadi seorang entrepreneur. Program ini sebagai tindaklanjut program pemberdayaan masyarakat UMY yang telah dilakukan di Koperasi Harum Manis beberapa tahun yang lalu dan sampai sekarang masih menjadi kelompok binaan dari UMY. Program ini akan dilakukan melalui 3 tahapan yaitu pelatihan membuat kain ecoprint, memproduksi kain ecoprint dan pelatihan manajemen organisasi berupa pelatihan bisnis. Metode yang digunakan adalah diskusi dan pelatihan praktis, pelatihan bisnis dan pemasaran. Adapun Langkah-langkah yang ditempuh melalui observasi tim pengabdian ke desa mitra, penyusunan proposal pengabdian, workshop dan pendampingan, monitoring dan laporan akhir. Hasil pengabdian dalam program ini yakni terciptanya produk kain ecoprint yang siap dijual, kompetensi pengelolaan organisasi bisnis dan standardisasi produk sesuai dengan selera masyarakat luas. Pengabdian ini telah memberi dampak positif bagi koperasi Harum Manis beserta anggotanya dalam mengembangkan produk yang dijual dan pengelolaan organisasi
PELATIHAN BATIK ECO PRINT SEBAGAI UPAYA MENUJU KEMANDIRIAN MASYARAKAT PESISIR DI KELURAHAN PANGGUNGREJO PASURUAN
The development of fashion, particularly batik, has expanded significantly with various innovations in the diversity of raw materials. However, the local potential in the form of plant diversity in coastal areas, specifically Panggungrejo Sub-district, Pasuruan City, has not yet been optimally utilized. Mimbo and mangrove plants are currently only seen as naturally growing vegetation, with no further use or awareness of their potential for eco-print batik fabric innovation.
This community service activity aims to introduce and train the people of Panggungrejo Village in producing eco-print batik fabric to meet the community\u27s fashion needs. The participants of this training include sub-district officials, youth organization members, PKK mothers, and housewives. The training was conducted in a single session. Based on interviews conducted before the activity, the majority of the community members were still unfamiliar with eco-print batik. The training method consisted of two stages: a lecture combined with discussions, followed by a practical session. The results of this training show that the participants gained an understanding of eco-print batik and learned how to create it using the hitting technique. Through this training activity, it is hoped that the community will be able to enhance their entrepreneurial skills, particularly in developing expertise in eco-print batik production and achieving self-sufficiency in meeting their fashion needs. --- Perkembangan fashion terutama batik saat ini sangat masif dengan bermacam inovasi dalam keanekaragaman bahan dasarnya. Salah satunya adalah batik ecoprint yang memanfaatkan kekayaan flora alam menjadi bahan dasar pembuatannya. Daerah pesisir yang memiliki sumber daya alam mayoritas adalah ikan, menyimpan pula keanekaragam tanaman yang selama ini kurang maksimal untuk dikembangkan. Hal ini dialami juga oleh masyarakat kelurahan Panggungrejo Kota Pasuruan masih belum memanfaatkan ketersediaan tanaman secara maksimal. Keberadaan serta populernya batik ecoprint yang saat ini menjadi salah satu alternatif jenis kain batik belum diketahui oleh masyarakat Panggungrejo. Kondisi ini memerlukan perhatian karena sebenarnya kebutuhan fashion masyarakat pesisir bisa dipenuhi sendiri dengan kreatifitas mereka.Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan mengenalkan dan melatih masyarakat kelurahan Panggungrejo membuat kain batik ecoprint untuk memenuhi kebutuhan fashion masyarakat. Selain itu dengan kegiatan ini diharapkan masyarakat bisa menjadi salah satu UMKM batik ecoprint di kota Pasuruan yang bernuansa alam pesisir. Sasaran kegiatan pelatihan ini adalah perangkat kelurahan Panggungrejo, anggota karang taruna, ibu PKK serta ibu rumah tangga. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan dalam satu kali pertemuan. Berdasarkan wawancara yang dilakukan sebelum kegiatan bahwa mayoritas masyarakat masih belum mengetahui tentang batik ecoprint. Metode yang digunakan terdiri dari 2 tahap yaitu ceramah yang dikemas dengan diskusi kemudian dilanjutkan praktik. Hasil kegiatan ini adalah peserta pelatihan khususnya masyarakat pesisir memiliki pengetahuan dan ketrampilan membuat batik ecoprint melalui pemahaman proses pembuatannya sebagai bentuk inovasi fashion yang ramah lingkungan. Melalui kegiatan pelatihan ini diharapkan masyarakat bisa mengasah kemampuan berwirausaha khususnya mengembangkan ketrampilan membuat kain batik ecoprint serta mampu memenuhi kebutuhan fashion dengan mandiri
KEGIATAN KONSULTASI PUBLIK PENYUSUNAN DOKUMEN AMDAL PEMBANGUNAN REAL ESTATE DI DESA MUNDU PESISIR KECAMATAN MUNDU KABUPATEN CIREBON
Company X plans to develop a real estate project in Mundu Pesisir Village, Mundu District, Cirebon Regency, West Java Province, covering an area of 48,830 m². The development is expected to have both positive and negative environmental impacts. In accordance with Law No. 32 of 2009, Government Regulation No. 22 of 2021, and the Regulation of the Minister of Environment No. 17 of 2012, any development that has a significant impact is required to involve the community through a public consultation meeting as part of the environmental impact analysis and environmental permit process. The implementation process follows applicable regulations, beginning with an announcement published in mass media and at the development site. Ten days after the announcement is posted, a public consultation meeting is held to engage the community directly affected by the project. The purpose of this activity is to gather suggestions, opinions, and feedback from the community, which will serve as important considerations for business actors during real estate development. As a result of this activity, the community agreed to and supported the real estate development, provided that the following concerns are addressed: preventing the expansion of tidal flooding due to land conversion into real estate, managing potential traffic congestion at the entrance to the development site, preventing road damage and pollution during the construction phase, and controlling dust emissions that may arise due to the project. --- Perusahaan X akan melakukan pembangunan Real Estate di Desa Mundu Pesisir Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon Provinsi Jawa Barat dengan lahan seluas 48.830 m2. Pembangunan diperkirakan akan berdampak terhadap lingkungan, baik positif maupun negatif. Berdasarkan Undang-undang No. 32 Tahun 2009, Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2012 setiap pembangunan yang berdampak penting wajib melakukan pelibatan masyarakat dalam bentuk pertemuan konsultasi masyarakat dalam proses analisis mengenai dampak lingkungan hidup dan izin lingkungan. Metode pelaksanaan mengacu pada peraturan yang berlaku dimulai dengan memasang pengumuman di media massa dan di lokasi kegiatan pembangunan. 10 hari setelah pengumuman dipasang dilanjutkan dengan mengadakan pertemuan konsultasi masyarakat yang bermaksud melibatkan masyarakat yang terkena dampak langsung kegiatan. Tujuan kegiatan ini memperoleh saran, pendapat, dan tanggapan dari masyarakat yang akan menjadi bahan pertimbangan pelaku usaha pada saat pembangunan real estate. Hasil dari kegiatan ini, masyarakat setuju dan mendukung pembangunan Real Estate yang akan dilakukan dengan memperhatikan saran pendapat, dan masukan yaitu: mencegah terjadinya banjir rob semakin meluas akibat adanya alih fungsi lahan menjadi real estate, mengelola kemacetan yang akan terjadi di pintu masuk ke Lokasi kegiatan, mencegah terjadinya kerusakan dan pengotoran jalan selama tahap konstruksi, dan mengendalikan emisi debu yang diprediksi akan timbul akibat pembangunan ini.
PENGEMBANGAN MI BASAH DENGAN PENAMBAHAN IKAN MUJAIR SEBAGAI PANGAN ALTERNATIF UNTUK BALITA: DEVELOPMENT OF WET NOODLES WITH ADDITIONAL MUJAIR FISH AS AN ALTERNATIVE FOOD FOR TODDLERS
Introduction: Stunting in toddlers due to malnutrition is still a major problem in Indonesia. Instant noodles as a practical food are often consumed by children, but have limited nutritional content. Modification of instant noodles with the addition of tilapia fish has the potential to improve nutritional quality. Aim: This study aims to develop wet noodles made from wheat flour with the addition of tilapia fish which is expected to be an alternative nutritious food. This study analyzed the organoleptic value and nutritional content of wet noodles. Materials and Method: This experimental study was conducted with a single factor in the form of the addition of tilapia fish from December 2023 to January 2024. The formula consisted of F1 (10% fish), F2 (15% fish), and F3 (20% fish). Data were obtained through hedonic tests, hedonic quality, and nutrient analysis (air, ash, protein, fat, carbohydrates) using one-way ANOVA statistical tests and Duncan\u27s test. Results: The wet noodle formula with the addition of 15% tilapia fish(F2) was the most preferred product, although the aroma and distinctive taste of fish were significant (p <0.05). The protein content in F2 of 4.97% meets the standard requirements for MPASI for children aged 12-24 months according to BPOM standard Number 24 of 2020, and the total fat content is <4.5 g/100 kcal. Conclusion: Tilapia wet noodles have the potential to be a nutritious and preferred alternative MPASI and support adequate nutrition for toddlers.Keywords: Stunting, MPASI, Organoleptic Test, Nutrient Analysi
Knowledge, Attitude, and Practice Survey of Cattle Farmers in Makassar towards Animal Welfare
Animal welfare is a critical aspect of livestock management, yet its implementation among smallholder farmers often remains inadequate. This study assessed the knowledge, attitudes, and practices (KAP) of cattle farmers in Tamangapa Subdistrict, Manggala District, Makassar City, Indonesia, where cattle are grazed at the Tamangapa urban landfill. A structured questionnaire was administered to 32 respondents, and data were analyzed using Spearman correlation, Kruskal-Wallis, and Mann-Whitney-Wilcoxon tests. Results revealed an average knowledge score of 0.92 (out of 1), an attitude score of 4.59 (out of 5), and a practice score of 3.07 (out of 5). No significant correlations were observed between knowledge, attitudes, and practices. However, significant positive correlations were observed between knowledge and the number of cattle (ρ = 0.548; p = 0.001) and between attitude and education (ρ = 0.362; p = 0.042), and a negative correlation between attitude and age (ρ = −0.468; p = 0.007). These results highlight the influence of demographic factors on animal welfare awareness and behaviors, emphasizing the need for targeted education and training programs to bridge the gap between knowledge and practice
Subtle Allegory within the Sacred Text: Political Motivations behind the Ramayana Manuscript in the 16th-17th Century CE Mughal Empire
The Ramayana manuscript is well-known as a text embedded with prominent Hindu religious values. On various occasions, illustrations are added as a visual form that facilitates the narrative of the existing text. This phenomenon is seen in the Ramayana manuscript produced by order of the Emperor, local rulers, also known as Rajputs, or high officials during the Mughal period, where political dynamics are reflected in the manuscript\u27s Illustrations produced in the royal court environment. This paper will use an iconological method that combines a comprehensive formal analysis of an illustration with an understanding of the contemporary socio-political context of the work\u27s creation period. This study found that the depiction of the background, characters, and buildings in the Mughal Empire Ramayana Manuscript is filled with subtle allegorical elements rich in political satire. This work asserts that the Ramayana has a dual position: functioning primarily as a source of wisdom yet subtly hiding an allegorical message corresponding to the context of its creation reflected in the text\u27s visual illustrations
Students’ Learning Strategies in Dealing with Speaking Anxiety at Universitas Negeri Makassar
Speaking is one of the four fundamental skills in learning English language beside writing, reading, and listening. While it is condemned important, many students still struggle in mastering speaking skill. There are many reasons on why students might have trouble in speaking and one of them is excessive anxiety. With this situation, many students recommended to use learning strategies to help them in overcoming their speaking anxiety. This study provides us with knowledge about what learning strategies that students use to overcome speaking anxiety by implementing qualitative descriptive methods. The research subjects consist of ten (10) undergraduate students from English Education Program at Universitas Negeri Makassar. The study’s data collected with the help of non-participant observations and semi-structured interview sessions. After the data were collected and analyze, the researcher was able to identify fifteen (15) kinds of learning techniques that the students use to cope with their speaking anxiety. These fifteen (15) kinds of learning techniques are then categorized into three types of learning strategies, namely cognitive, meta-cognitive, and socio-affective learning strategies
Enhancing Students Vocabulary Mastery by Using Differentiated Instruction in SMAN 7 Soppeng
Vocabulary mastery is a key challenge for EFL students in Indonesia, particularly at the senior high school level. This study aims to investigate the effectiveness of Differentiated Instruction (DI) in improving students\u27 vocabulary mastery and engagement in English learning at SMAN 7 Soppeng. Employing a mixed-method explanatory sequential design, the research involved both quantitative and qualitative data collection. The quantitative phase used a quasi-experimental method with pre- and post-tests, while the qualitative phase employed semi-structured interviews to explore students\u27 perceptions. This study was grounded in Tomlinson’s theory (2001) of Differentiated Instruction, which emphasizes tailoring instruction based on students’ readiness, interests, and learning profiles. In addition, Fredricks et al.’s (2004) theory of student engagement was used to examine behavioral, emotional, and cognitive aspects of learners’ involvement. The findings revealed that DI significantly enhanced students’ vocabulary acquisition and promoted higher levels of engagement. These results suggest that implementing DI is a beneficial instructional strategy to address diverse learning needs and foster active participation in vocabulary learning
Pemanfaatan Pestisida Nabati (Umbi Gadung) sebagai Solusi Ramah Lingkungan untuk Pertanian Berkelanjutan
Pemanfaatan umbi gadung (Dioscorea hispida) sebagai pestisida nabati di Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone, merupakan langkah inovatif untuk mendukung pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan. Umbi gadung mengandung senyawa aktif yang efektif dalam mengendalikan hama tanaman, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia yang berpotensi merusak lingkungan. Penggunaan pestisida nabati dari umbi gadung membantu menjaga keseimbangan ekosistem dan meningkatkan kesuburan tanah, sehingga mendukung praktik pertanian yang berkelanjutan. Pestisida ini dapat dibuat dengan cara merendam umbi gadung dalam air, yang kemudian dapat digunakan untuk menyemprot tanaman. Proses ini sederhana dan dapat dilakukan oleh petani lokal. Dengan memanfaatkan umbi gadung, petani di Kecamatan Libureng dapat mengurangi biaya pembelian pestisida kimia, sehingga meningkatkan profitabilitas usaha tani mereka. Program pelatihan bagi petani tentang cara pembuatan dan penggunaan pestisida nabati sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mereka tentang praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan. Keterlibatan masyarakat dan dukungan dari pemerintah setempat sangat diperlukan untuk mempromosikan penggunaan pestisida nabati dan meningkatkan akses terhadap bahan baku
NILAI MORAL DALAM KUMPULAN CERITA PENDEK KARYA NAJIB KAILANI (SUATU TINJAUAN INTRINSIK)
Penelitian ini berfokus pada nilai nilai moral dalam kumpulan cerpen karya Najib Kailani dengan menggunakan pendekatan intrinsik yang merupakan salah satu bentuk sastra yang memiliki potensi besar dalam menyampaikan nilai moral kepada pembaca. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya sastra sebagai media yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan membentuk karakter pembacanya. Cerpen sering kali mengandung nilai-nilai moral yang disampaikan secara eksplisit maupun implisit melalui tokoh-tokoh, dan tema yang diangkat. Namun, tidak semua pembaca mampu menangkap dan memahami nilai moral yang tersembunyi dalam teks sastra tersebut.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap jenis nilai moral dalam kumpulan cerpen karya Najib Kailani serta bagaimana nilai-nilai moral ini disampaikan oleh pengarang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik baca dan catat. Teknik baca yaitu membaca untuk mengetahui keseluruhan isi cerpen agar mampu mengidentifikasi nilai moral yang terkandung dalam cerpen, kemudian dilanjutkan dengan teknik catat yaitu mencatat data-data yang mengandung nilai moral dalam cerpen karya Najib Kailani.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa jenis dan wujud nilai moral dalam kumpulan cerpen karya Najib Kailani terdiri dari tiga aspek, pertama nilai moral hubungan manusia dengan Tuhan terdiri beberapa komponen yaitu ibadah, akhlak, syariah, kedua hubungan manusia dengan diri sendiri yaitu keikhlasan, kesabaran dan kesederhanaan, ketiga nilai moral hubungan manusia dengan manusia lain terdiri dari kekeluargaan, persahabat dan kesetiaan. Kemudian dalam bentuk penyampaian nilai moral terdiri dari dua komponen yaitu, pertama bentuk penyampaian secara langsung melalui uraian pengarang dan tokoh, kedua bentuk penyampaian secara tidak langsung melalui konflik, peristiwa.