Pelita Perkebunan (Coffee and Cocoa Research Journal, CCRJ)
Not a member yet
402 research outputs found
Sort by
Preliminary research of the effect of shading and pruning on cocoa production
Penelitian untuk mengetahui pengaruh tingkat naungan dan frekuensi pemangkasan pada kakao telah dilakukan di Perkebunan Jatirono PTP XXVI. Penelitian dilakukan pada tanaman kakao umur 9 tahun. Jarak tanam 3 x 3 m. Perlakuan merupakan kombinasi antara jumlah populasi penaung dengan frekuensi pemangkasan. Empat tingkat kerapatan penaung masing-masing 0 pohon/ha (tanpa naungan), 69 pohon/ha (Jarak tanam 12 X 12 m), 138 pohon/ha (jarak tanam 6 X 12 m), 277 pohon/ha (jarak tanam 6 X 6m). Frekuensi pemangkasan ada 3, yaitu : setiap bulan, setiap dua bulan dan setiap 3 bulan, sehingga keseluruhan terdapat 12 kombinasi perlakuan.
Hasil penelitian sampai dengan tahun ketiga setelah perlakuan menunjukkan bahwa naungan berpengaruh nyata terhadap daya hasil pada pengamatan tahun pertama, akan tetapi tidak berpengaruh nyata pada pengamatan tahun kedua dan ketiga. Terdapat kecenderungan bahwa jarak tanam penaung 6 X 6 m memberikan pengaruh paling baik dibandingkan perlakuan lainnya. Dibandingkan dengan jarak tanam 12 X 12 m, kenaikan daya hasil mencapai 14,36 dan 38% untuk tiga tahun pengamatan. Untuk perlakuan pemangkasan, sampai dengan tahun ketiga pengamatan belum menunjukkan pengaruh yang nyata. Tanaman kakao yang tidak dinaungi pada awal pengamatan mempunyai Indeks Luas Daun (ILD) paling tinggi. Nilai tersebut menurun pada pengamatan tahun berikutnya karena adanya serangan Colletotrichum
A Study on cocoa (Theobroma cacao L.) budding V. The influence of rootstocks on scion-yield quality
Tulisan ini merupakan kelanjutan hasil penelitian yang telah ditulis sebelumnya. Analisis mutu biji dilaksanakan pada panenan umur 7 tahun.
Hasilnya menunjukkan bahwa batang bawah kakao tidak berpengaruh nyata pada mutu fisik maupun mutu kimiawi hasil biji batang atas. Akan tetapi ada petunjuk bahwa batang bawah sedikit memodifikasi harkat mutu tersebut lewat perubahan vigor. Ada kemungkinan mutu hasil akan terpengaruh jika dipakai batang bawah yang lebih jauh hubungan kekerabatannya.
Berkaitan dengan hal itu maka kakao yang bermutu tinggi dapat dihasilkan dari lingkungan yang bermasalah dengan cara okulasi asalkan tersedia batang bawah yang toleran kondisi tersebut