Journal Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST)
Not a member yet
7128 research outputs found
Sort by
ke- Kesiapan Kerja Di Industri Fashion Bagi Siswa SMK
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: 1) kesiapan kerja di industri fashion bagi kelas XII Tata Busana SMK Negeri 1 Sewon, 2) faktor pendukung internal kesiapan kerja di industri fashion kelas XII Tata Busana SMK Negeri 1 Sewon, 3) faktor penghambat eksternal kesiapan kerja di industri fashion kelas XII Tata Busana SMK Negeri 1 Sewon. Metode penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian seluruh peserta didik kelas XII SMK Negeri 1 Sewon dengan jumlah peserta didik 144. Sampel menggunakan rumus Issac dan Michael berjumlah 59 peserta didik sebagai responden. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, angket dan dokumentasi. Hasil temuan dari penelitian ini adalah 1) kesiapan kerja di industri fashion bagi kelas XII tata busana SMK Negeri 1 Sewon dalam kategori tinggi dengan frekuensi relatif 71,2%, 2) faktor pendukung internal yang mempengaruhi kesiapan kerja di indusri fashion bagi kelas XII tata busana SMK Negeri 1 Sewon meliputi minat, motivasi, sikap dan kepribadian dalam kategori tinggi dengan frekuensi relatif 72,9%, 3) faktor penghambat eksternal yang menpengaruhi kesiapan kerja di industri fashion bagi kelas XII tata busana SMK Negeri 1 Sewon Yogyakarta meliputi bimbingan orang tua, keadaan teman sebaya, dan keadaan masyarakat sekitar dalam kategori tinggi dengan frekuensi relatif 76,3%. Kesimpulan adalah 1) Faktor kesiapan kerja di industri fashion dalam kategori tinggi 2) Faktor internal kesiapan kerja di indusri fashion dalam kategori tinggi 3) Faktor eksternal kesiapan kerja di industri fashion dalam kategori cukup.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: 1) kesiapan kerja di industri fashion bagi kelas XII Tata Busana SMK Negeri 1 Sewon, 2) faktor pendukung internal kesiapan kerja di industri fashion kelas XII Tata Busana SMK Negeri 1 Sewon, 3) faktor penghambat eksternal kesiapan kerja di industri fashion kelas XII Tata Busana SMK Negeri 1 Sewon. Jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian seluruh peserta didik kelas XII SMK Negeri 1 Sewon dengan jumlah peserta didik 144. Sampel menggunakan rumus Issac dan Michael berjumlah 59 peserta didik sebagai responden. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, angket dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah 1) kesiapan kerja di industri fashion bagi kelas XII tata busana SMK Negeri 1 Sewon dalam kategori tinggi dengan frekuensi relatif 71,2%, 2) faktor pendukung internal yang mempengaruhi kesiapan kerja di indusri fashion bagi kelas XII tata busana SMK Negeri 1 Sewon meliputi minat, motivasi, sikap dan kepribadian dalam kategori tinggi dengan frekuensi relatif 72,9%, 3) faktor penghambat eksternal yang menpengaruhi kesiapan kerja di industri fashion bagi kelas XII tata busana SMK Negeri 1 Sewon Yogyakarta meliputi bimbingan orang tua, keadaan teman sebaya, dan keadaan masyarakat sekitar dalam kategori tinggi dengan frekuensi relatif 76,3%
UPCYCLING USED JEANS IN OUTWEAR DESIGN : UPCYCLING USED JEANS IN OUTWEAR DESIGN
The aims of this study are 1) to determine and describe the upcycling process of fashion making outerwear by utilizing used jeans, and 2) to develop used jeans products into creative outerwear products. The method in this study uses the Gustami art creation model which includes three stages including 1) the exploration stage, namely collecting visual references, design ideas, and material studies on used jeans that are suitable for use; 2) the design stage, in the form of making three outwear design sketches with sustainable fashion characteristics, then a selection is carried out to choose the most suitable design for production; 3) the realization stage, namely the realization of the selected design into an outwear product using used jeans as the main material. Validation of the work is carried out through a structured interview method using an assessment rubric format, involving experts. The results of this study are expected to contribute to the development of sustainable fashion design and become a reference in textile waste management through a creative and functional approach.Upcycling merupakan sebuah kepedulian kami dosen Tata Busana terhadap banyaknya limbah fashion yang sulit terurai. Upcycling fashion merupakan inovasi produk sebagai solusi pengelolaan limbah tekstil yang sulit terurai sehingga hal tersebut mendukung sustainable fashion untuk menjaga lingkungan. Upcycling jeans bekas pada perancangan outwear ini menerapkan metode penelitian eksperimen terapan, yang terdiri dari 3 (tiga) tahapan, antara lain; (1) tahap eksplorasi yaitu mengumpulkan ide; (2) perancangan atau pembuatan sketsa desain outwear, pada tahap ini membuat 3 (tiga) desain outwear yang nantinya akan dipilih 1 (satu) desain outwear yang akan di produksi; dan (3) tahapan perwujudan atau produksi, pada tahap ini pembuatan outwear dengan bahan baku utama jeans bekas. Tujuan dari penelitian ini, antara lain; (1) mengetahui proses upcycling fashion pembuatan outwear dengan memanfaatkan jeans bekas sebagai material utama dalam perancangan outwear; (2) mengetahui ketepatan tema yaitu upcycling fashion dengan desain produk yang sudah dihasilkan. Partisipan atau validator pada penelitian ini melibatkan expert sesuai bidang keahlian. Tugas expert pada penelitian ini menilai produk dan memberi masukan upcycling jeanas bekas dalam perancangan outwear pada format rubrik wawancara. 
Pemanfaatan Bahan Bekas Dalam Pembuatan Tempat Pensil Pada Mata Pelajaran SBK Di Sdit Darul Istiqomah Palangka Raya
Abstrak
Pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan (SBK) di sekolah dasar seharusnya mampu mendorong siswa untuk berkreasi secara aktif dan kontekstual. Namun, dalam praktiknya, pembelajaran SBK masih minim dalam kegiatan praktik dan belum sepenuhnya mengembangkan potensi kreatif siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan mengembangkan keterampilan kreatif siswa melalui kegiatan membuat kotak pensil dari bahan bekas. Metode yang digunakan adalah pendekatan berbasis proyek (project-based learning) dengan tahapan sosialisasi, pelatihan, praktik, dan evaluasi. Subjek kegiatan adalah siswa kelas IV Darul Istiqomah Palangka Raya. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa dapat menghasilkan produk kreatif, berdaya guna, dan memiliki nilai estetika, sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pemanfaatan barang bekas. Kegiatan ini juga membentuk karakter siswa menjadi lebih peduli lingkungan, mandiri, dan mampu bekerja sama. Pemanfaatan bahan bekas terbukti efektif sebagai media pembelajaran kreatif yang mudah, murah, dan mendidik.
Abstract
The learning of Arts, Culture, and Skills (SBK) in elementary schools should be able to encourage students to create actively and contextually. However, in practice, SBK learning still lacks practical activities and has not fully developed the creative potential of students. This research aims to explore and develop students' creative skills thru the activity of making pencil boxes from recycled materials. The method used is a project-based learning approach with stages of socialization, training, practice, and evaluation. The subjects of the activity are the fourth-grade students of Darul Istiqomah Palangka Raya. The results of the activity show that students can produce creative, useful, and esthetically valuable products, while also raising awareness of the importance of utilizing used goods. This activity also shapes students' character to be more environmentally conscious, independent, and capable of working together. The use of recycled materials has proven to be an effective medium for creative learning that is easy, inexpensive, and educational.
Supervisi Klinis Berbasis Teknologi Informasi di SDIT Permata Mulia Mojokerto
This Research & Development research aims to develop and test the effectiveness of an Information Technology-based clinical supervision system to improve the quality of teacher supervision and learning at SDIT Permata Mulia. Using the Borg & Gall R&D method, the research includes needs analysis, product development, and trials and evaluations. The results show that the developed system is valid and practical. The implementation of this system is also significantly effective in improving teacher perceptions of supervision transparency (p < 0.001) and contributes to improving the quality of learning (substantial gain score increase in the experimental group). In conclusion, the IT-based supervision system is an effective innovation for optimizing clinical supervision and teacher professional development.Penelitian Research & Development ini bertujuan mengembangkan dan menguji efektivitas sistem supervisi klinis berbasis teknologi nformasi untuk meningkatkan kualitas supervisi dan pembelajaran guru di SDIT Permata Mulia. Menggunakan metode R&D Borg & Gall, penelitian meliputi analisis kebutuhan, pengembangan produk, serta uji coba dan evaluasi. Hasil menunjukkan sistem yang dikembangkan valid dan praktis. Implementasi sistem ini juga efektif secara signifikan dalam meningkatkan persepsi guru terhadap transparansi supervisi (p < 0.001) dan berkontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran (peningkatan gain score substansial pada kelompok eksperimen). Kesimpulannya, sistem supervisi berbasis IT adalah inovasi efektif untuk optimalisasi supervisi klinis dan pengembangan profesional guru
Manajemen Program Unggulan dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan di SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta
The purposes of this study are to analyze: (1) the practice of excellent program management at SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta. (2) the achievement of improving the quality of education at SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta. This study was a qualitative research which uses interview, observation, and documentation techniques. Data were analyzed using the Miles and Huberman model including data collection, reduction, data presentation, and drawing conclusions. Based on the results of the data analysis, the following conclusions were obtained: (1) Planning includes the stages of formulating objectives, formulating policies and budget planning; (2) Organizing consists of activities providing employees, dividing work, determining authority, training employees, and socializing programs; (3) Implementation includes the realization of the activities of the flagship program including Tahfidz, ICT, Arts and Culture and KKO in which consists of three sports branches: volleyball, badminton and football; and (4) Supervision includes determining standards, evaluation, corrective actions, and follow-up. Improving the quality of education at SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta through optimizing human resources is one of the processes of improving the quality of education through flagship programs at SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta. The potential of existing human resources is optimized by becoming trainers in flagship programs.Tujuan penelitian ini untuk menganalisis: (1) praktik manajemen program unggulan yang ada di SMP muhammadiyah 7 Yogyakarta. (2) capaian peningkatan kualitas pendidikan di SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta. Jenis Penelitian ini adalah menggunakan penelitian kualitatif, dimana menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman meliputi pengumpulan data, reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data maka diperoleh kesimpulan: (1) Perencanaan mencakup tahap perumusan tujuan, perumusan kebijakan dan perencanaan anggaran; (2) Pengorganisasian terdiri atas kegiatan penyediaan pegawai, pembagian kerja, penentuan kewenangan, pelatihan pegawai, dan sosialisasi program; (3) Pelaksanaan meliputi realisasi kegiatan program unggulan tersebut meliputi Tahfidz, ICT, Seni Budaya dan KKO itu ada tiga cabang olahraga yaitu, Voli, badminton dan sepak bola; dan (4) Pengawasan meliputi penentuan standar, evaluasi, tindakan perbaikan, dan tindak lanjut. Peningkatan kualitas pendidikan di SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta Pengoptimalan sumber daya manusia merupakan salah satu proses peningkatan kualitas pendidikan melalui program unggulan di SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta. Potensi-potensi sumber daya manusia yang ada dioptimalkan dengan menjadi pelatih dalam program unggulan
Persepsi Guru tentang Relevansi dan Implementasi Pembelajaran Mendalam melalui Inquiry Project STEAM di Sekolah Dasar
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi guru Sekolah Dasar mengenai relevansi dan implementasi pembelajaran mendalam melalui Inquiry Project berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics). Pergeseran paradigma pendidikan abad ke-21 menuntut penerapan pendekatan pembelajaran yang menekankan keterampilan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif. Namun, pembelajaran di Sekolah Dasar di Indonesia masih dominan berfokus pada hafalan dan ceramah, sehingga menimbulkan kesenjangan antara tuntutan kurikulum dan praktik di lapangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus dan melibatkan tiga orang guru Sekolah Dasar yang memiliki pengalaman dalam merancang atau menerapkan pembelajaran berbasis proyek dan/atau STEAM. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, dan catatan lapangan, kemudian dianalisis dengan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memandang proyek STEAM relevan untuk mendukung pembelajaran mendalam, meningkatkan keterlibatan belajar, kreativitas, dan berpikir kritis siswa. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan kompetensi guru dalam merancang proyek lintas disiplin, minimnya fasilitas pendukung, kebutuhan pelatihan praktis, serta pentingnya keterlibatan orang tua dan kebijakan sekolah yang mendukung. Temuan ini menegaskan perlunya dukungan holistik, termasuk kebijakan yang adaptif, penyediaan sarana prasarana, dan penguatan kapasitas guru, agar pembelajaran mendalam melalui Inquiry Project STEAM dapat diterapkan secara efektif dan berkelanjutan di Sekolah Dasar Indonesia.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi guru Sekolah Dasar mengenai relevansi dan implementasi pembelajaran mendalam melalui Inquiry Project berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics). Pergeseran paradigma pendidikan abad ke-21 menuntut penerapan pendekatan pembelajaran yang menekankan keterampilan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif. Namun, pembelajaran di Sekolah Dasar di Indonesia masih dominan berfokus pada hafalan dan ceramah, sehingga menimbulkan kesenjangan antara tuntutan kurikulum dan praktik di lapangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus dan melibatkan tiga orang guru Sekolah Dasar yang memiliki pengalaman dalam merancang atau menerapkan pembelajaran berbasis proyek dan/atau STEAM. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, dan catatan lapangan, kemudian dianalisis dengan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memandang proyek STEAM relevan untuk mendukung pembelajaran mendalam, meningkatkan keterlibatan belajar, kreativitas, dan berpikir kritis siswa. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan kompetensi guru dalam merancang proyek lintas disiplin, minimnya fasilitas pendukung, kebutuhan pelatihan praktis, serta pentingnya keterlibatan orang tua dan kebijakan sekolah yang mendukung. Temuan ini menegaskan perlunya dukungan holistik, termasuk kebijakan yang adaptif, penyediaan sarana prasarana, dan penguatan kapasitas guru, agar pembelajaran mendalam melalui Inquiry Project STEAM dapat diterapkan secara efektif dan berkelanjutan di Sekolah Dasar Indonesia
Pendidikan multikultural dalam program ”Catur Handayani” sebagai upaya penguatan wawasan kebangsaan Santri Pondok Pesantren Salafiyah Shirothul Fuqoha’
Multicultural education is an extraordinary idea in the education system in Indonesia. The implementation of multicultural education can be carried out in Islamic boarding schools to strengthen student’s national insight. It is important due to the possibility intolerance among students who have various ethnic and cultural backgrounds. The research aimed to: (1) determined implementation of multicultural education in the “Catur Handayani” program, (2) described the driving and inhibiting factors for the implementation of multicultural education in the “Catur Handayani” program, (3) analysed the potential and perspectives of students regarding multicultural education in the “Catur Handayani” program. The research used study cased methods. The primary data source way interviews and observations The secondary data obtained from literature review and documentation. Data analysis includes data reduction, data display, verification, and credibility test. Multicultural education in the “Catur Handayani” programs has took from of a collaborative program between the Munadzomah Santri Shirothul Fuqoha’ organization and academics. The program as evidenced by the fact that students were experiencing positive behavioural changes. However, the density of Islamic boarding school activities was a limitation for multicultural education to achieve more significant results. This happens because the perspective of Islamic boarding school students tend to prioritized religious knowledge and then connect it with national insight. This research was proved that multicultural education applies in Islamic boarding schools and that the students have a unique perspective in viewing national insight in Indonesia.Pendidikan multikultural adalah gagasan luar biasa dalam sistem pendidikan di Indonesia. Implementasi pendidikan multikultural dapat dilakukan di pondok pesantren untuk memperkuat wawasan kebangsaan santri. Pendidikan multikultural penting diajarkan di pondok pesantren dikarenakan peluang intoleransi para santri yang memiliki beragam latar belakang suku dan budaya. Riset ini bertujuan untuk: (1) mengetahui implementasi pendidikan multikultural dalam proyek “Catur Handayani” di pondok pesantren, (2) mendeskripsikan faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan pendidikan multikultural dalam proyek “Catur Handayani” di pondok pesantren, (3) menganalisis potensi dan perspektif santri mengenai pendidikan multikultural dalam proyek “Catur Handayani” sebagai upaya penguatan wawasan kebangsaan santri. Riset ini dilakukan dengan metode studi kasus. Sumber data primer adalah hasil wawancara dengan kepala, pengurus, dan santri, pondok pesantren dan observasi kegiatan santri. Data sekunder diperoleh dari kajian literatur dan studi dokumen sesuai keperluan riset ini. Analisis data mencakup reduksi data, display data, verifikasi, dan uji kredibilitas. Pendidikan multikultural dalam proyek “Catur Handayani” berupa program kolaborasi antara organisasi Munadzomah Santri Shirothul Fuqoha’ dengan akademisi. Program berjalan dengan baik dibuktikan bahwasannya santri mengalami perubahan perilaku positif seperti diadakannya dialog kebangsaan sebagai langkah minimalisir apatis politik, upacara bendera berjalan optimal, dan meningkatnya toleransi. Namun, kepadatan kegiatan pondok pesantren menjadi batasan pendidikan multikultural untuk mencapai hasil yang lebih signifikan. Hal tersebut terjadi dikarenakan perspektif santri pondok pesantren yang cenderung mendahulukan ilmu agama baru kemudian menghubungkannya dengan wawasan kebangsaan. Riset ini merupakan bukti bahwasannya pendidikan multikultural berlaku di pondok pesantren dan kaum santri memiliki perspektif unik dalam memandang wawasan kebangsaan di Indonesia.
Penguatan toleransi beragama melalui tradisi tulun tali di Desa Sukutokan
Indonesia has a lot of diversity, including ethnicity, culture, language, and religion. This divercity makes Indonesia a country ini rich in divercity. In responding to this diversity, of course there is an attitude of tolerance to prevent division. In the midst of this era of development, there is still a phenomenon of intolerance, so tolerance needs to be echoed and strengthened continuously. One of them in through the local tradition of tulun tali which is practiced by the people of Sukutokan Village, Kelubagolit District, on Adonara Island.This tradition is a praktice of mutual cooperation in terms of helping in the form of goods, foodstuffs and animals in people’s lives at certain events or events. This study aims to determine how to strengthen religious tolerance through the tulun tali tradition in Sukutokan Village. The research method used in this study is a qualitative using a descriptive approach. The results of study show that the tulun tali tradition practiced by the Sukutokan Village community in various social activities, such as death customs, marriages, religious events, building traditional house, and building residents house can strengthen religious tolerance.Negara Indonesia memiliki banyak keragaman, di antaranya suku, budaya, bahasa, dan agama Keragaman ini menjadikan negara Indonesia sebagai negara yang kaya akan keragaman. Menyikapi keragaman ini tentu adanya sikap toleransi untuk mencegah terjadinya perpecahan. Namun, di tengah perkembangan zaman ini masih adanya fenomena intoleransi, maka toleransi perlu digaungkan dan diperkuat secara terus-menerus. Salah satunya adalah melalui tradisi lokal tulun tali yang dipraktikkan oleh masyarakat Desa Sukutokan Kecamatan Kelubagolit, di Pulau Adonara. Tradisi ini merupakan salah satu praktik gotong royong dalam hal tolong menolong berupa barang, bahan makanan, dan hewan dalam kehidupan masyarakat pada acara atau perisitiwa tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penguatan toleransi beragama melalui tradisi tulun tali di Desa Sukutokan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi tulun tali yang dipraktikkan oleh masyarakat Desa Sukutokan dalam berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan, seperti adat kematian, perkawinan, acara keagamaan, bangun rumah adat, dan bangun rumah warga dapat memperkuat toleransi beragama
Improving mathematical problem-solving abilities through the development of Articulate Storyline learning media
Students' mathematical problem-solving abilities are still relatively low, thus requiring innovative, effective, and contextual learning media. This study aims to develop learning media based on Articulate Storyline to improve junior high school students’ mathematical problem-solving skills by integrating Polya’s problem-solving steps. The research method employed is Research and Development (R&D) using the 4D model (Define, Design, Develop, Disseminate). The research instruments included expert validation questionnaires, student response questionnaires, and mathematical problem-solving ability tests. The results showed that the developed media was valid according to media experts (score: 3.39) and material experts (score: 3.27), and was considered highly attractive by students (average score: 3.62 for the small group and 3.49 for the large group). The effectiveness test using N-gain indicated an improvement in students’ mathematical problem-solving skills, with average scores of 0.67 (small group) and 0.69 (large group), both falling into the moderate category. These findings imply that learning media based on Articulate Storyline is effective and feasible to be used as an alternative interactive learning tool for enhancing students’ mathematical problem-solving skills. This research contributes theoretically to the development of media based on Polya’s indicators and practically by providing a media model that can be adapted by mathematics teachers
Cooperative learning models to improve mathematical problem solving ability of high school students: A systematic review of applications, factors, and barriers
Mathematical problem-solving skills are a key competency in 21st century education, yet many secondary school students still struggle to apply mathematical concepts to real world contexts. This study employed a Systematic Literature Review (SLR) guided by the PRISMA protocol to analyze 26 relevant national and international articles published between 2015 and 2025. Findings indicated that several cooperative learning models, particularly Think Pair Share (TPS), Group Investigation (GI), and Student Teams Achievement Divisions (STAD), effectively enhanced students’ problem-solving abilities by fostering structured collaboration, critical thinking, and peer interaction. The effectiveness of these models was influenced by internal factors such as student motivation and independence, as well as external factors including teacher facilitation, classroom management, and the use of appropriate learning media. Nonetheless, practical barriers such as limited instructional time, insufficient teacher training, and inadequate school facilities hindered optimal implementation. This study underscored the importance of teacher professional development and curriculum alignment to support the integration of cooperative strategies in mathematics education. Its primary contribution lay in systematically mapping cooperative learning models, enabling factors, and implementation challenges, offering evidence-based insights for enhancing collaborative learning practices in mathematics classrooms