Al-Maiyyah - Media Transformasi Gender dalam Paradigma Sosial Keagamaan (E-Journal)
Not a member yet
168 research outputs found
Sort by
Kontekstualisasi Maqaashidu Al-Syariah terhadap Penerapan Hak Ex Officio Hakim
This study examines the perspective of judges in applying their ex officio rights to the protection of the rights of children and wives on divorce cases at Religious Court Pinrang. This research assessed with descriptive qualitative approach using observation and depth-interview to the judges. The result shows that the judges absolutely apply their ex officio to the issue of Mut’ah. There are cross-opinion for the issue of iddah alimony for women in post-divorce, some apply and some do not. While for the issue of hadanah or child rearing, madhiyah property, and common property, the judges agreed that those issues are not include in the judges’ ex officio rights. However, it still must be prosecuted to find out the clear real case.Penelitian ini mengkaji perspektif hakim dalam menerapkan hak ex officio terhadap perlindungan hak anak dan istri dalam perkara cerai talak di Pengadilan Agama Kabupaten Pinrang. Penelitian ini menggunakan pendekatan dekriptif kualitatif melalui observasi dan wawancara mendalam dengan para hakim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakim secara mutlak menerapkan hak ex officio-nya pada masalah mut’ah. Untuk masalah nafkah iddah bagi perempuan pasca perceraian terdapat silang pendapat, ada yang menerapkan dan ada yang tidak menerapkan. Sedangkan pada masalah hadanah atau pengasuhan anak, harta madhiyah, dan harta bersama, para hakim sepakat bahwa masalah tersebut tidak termasuk dalam hak ex officio hakim. Akan tetapi harus tetap dituntut untuk mengetahui kejelasan kasus yg sebenarnya
Perlindungan Perempuan Melalui Perjanjian Pra Nikah (Respon Terhadap Isu Hukum dan Gender)
Facing problem and misunderstanding in family becomes a necessity and humane. The goal of harmonious and happy family is a necessity and an order from the law. One of the mandates given by the law in order to overcome problems in the household is the “marriage agreement”. In the contemporary era, marriage agreements are needed in order to protect the interests of women. Where women in contemporary gender issues have the same roles and abilities as men. This study uses descriptive-qualitative analysis through library research, where this paper seeks to reveal the importance of prenuptial agreements as an effort to protect women’s interest in response to contemporary law and gender issues. The findings in this study indicates that women’s protection can be minimized and anticipated by prenuptial agreements. While in legal and gender issues, prenuptial agreements can be done before and after marriage to regulate all the things needed by both parties eliminate discrimination and oppression of women.Masalah dan kesalahpahaman dalam keluarga adalah suatu keniscayaan dan manusiawi. Cita-cita akan terciptanya sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia merupakan sebuah keharusan dan perintah dari Undang-undang. Salah satu amanat yang diberikan oleh Undang-undang dalam rangka menanggulangi problematika dalam rumah tangga adalah “perjanjian pra nikah”. Dalam era kontemporer saat ini, perjanjian pra nikah diperlukan dalam rangka melindungi kepentingan perempuan. Dimana perempuan dalam isu gender kontemporer ini mempunyai peran dan kemampuan sebagaimana laki-laki. Kajian ini menggunakan analisa deskriptif-kualitatif melalui kajian pustaka (library research), dimana tulisan ini berupaya mengungkap pentingnya perjanjian pra nikah sebagai upaya melindungi kepentingan perempuan guna merespon isu hukum dan gender kontemporer, Temuan dalam penelitian ini menujukkan bahwa perlindungan perempuan bisa diminimalisir dan diantisipasi dengan perjanjian pra nikah. Sementara dalam isu hukum dan gender, perjanjian pra nikah bisa dilakukan sebelum dan sesudah pernikahan untuk mengatur semua hal yang dibutuhkan oleh kedua belah pihak guna menghilangkan diskriminasi dan penindasan terhadap perempuan
Peran Perempuan Karir Membangun Komunikasi Positif Interpersonal dalam Keluarga Multikultural
This research seeks to uncover the role of women in building positive interpersonal communication in multicultural families. One of the roles of women in the family is to build positive interpersonal communication within the family. Where in interpersonal communication patterns there is a dependency of each individual to face each other face to face. But ignorance is a major problem of communication in multicultural families. The qualitative descriptive method of phenomenology in this study was used to uncover the social psychological aspects experienced by women when she had a role as a builder of active interpersonal communication in her family. This research was conducted on working women speakers who have large families from various races. In addition, researchers also conducted a literature study on interpersonal communication theory that could be applied in multicultural families and women's psychological theories. In this study it was found that the role of women in building active communication in their families is very important.Penelitian ini berupaya untuk mengungkap tentang peran perempuan dalam membangun komunikasi positif interpersonal di dalam keluarganya yg multikultural. Salah satu peran perempuan dalam keluarga adalah membangun komunikasi positif interpersonal di dalam keluarganya. Komunikasi yang diharapkan terjadi dalam keluarga sebaiknya bersifat interpersonal. Dimana dalam pola komunikasi interpersonal ada ketergantungan dari masing-masing individu untuk saling bertatap muka satu sama lainnya. Akan tetapi sikap acuh menjadi masalah utama komunikasi dalam keluarga multikultur. Metode kualitatif deskriptif fenomenenologi dalam penelitian ini digunakan untuk mengungkap aspek sosial psikologis yang dialami perempuan ketika dia memiliki peran sebagai pembangun komunikasi aktif interpersonal dalam keluarganya. Penelitian ini dilakukan pada narasumber perempuan bekerja yang memiliki keluarga besar berasal dari beraneka ras. Selain itu peneliti juga melakukan studi pustaka mengenai teori komunikasi interpersonal yang bisa diterapkan dalam keluarga multikultural dan teori psikologi perempuan. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa peran perempuan dalam membangun komunikasi aktif di dalam keluarganya adalah sangat penting
Refleksi Praktek Harmful Traditional Practices di Indonesia
Sexual violence against women that occurs in several countries, including Indonesia, is not only a legal phenomenon, but also closely related to tradition, which are greatly influenced with constructions of injustice gender-relations, or called harmful traditional practices. Sexual violence against women based on its tradition often goes unnoticed because it was considered as a common thing, however in fact it was a very detrimental practice to women. This research was conducted using a library research method. The study discribes the solution for the problem of sexual violence against women based on traditional values that underlie harmful traditional practices. This problem can be solved in a various steps, changing substance of the rules in the tradition that rise harmful traditional practices, give awareness about gender-equality, integrating gender-equality in law enforcement agencies and policy makers and empowering women to fight harmful traditional practices.Fenomena kekerasan seksual kepada perempuan yang terjadi di beberapa negara termasuk di Indonesia, diyakini bukan hanya merupakan fenomena hukum semata, tetapi juga terkait erat dengan persoalan tradisi masyarakat, yang sarat dengan konstruksi ketidakadilan relasi gender, atau disebut dengan harmful traditional practices. Kekerasan seksual kepada perempuan berbasis tradisi ini sering luput dari perhatian karena dianggap sebagai hal yang biasa, namun sesungguhnya merupakan praktek-praktek yang sangat merugikan bagi kaum perempuan. Penelitian ini dilakukan dengan metode kajian pustaka (library research). Penelitian ini mengambarkan penyelesaian masalah kekerasan seksual kepada perempuan berbasis tradisi harus diselesaikan dari nilai-nilai tradisi yang mendasari munculnya harmful traditional practices. Persoalan ini dapat diselesaikan dengan beberapa langkah yaitu merubah aturan dalam tradisi yang menimbulkan harmful traditional practices, penyadaran tentang kesetaraan gender, pengintegrasian kesetaraan gender dalam lembaga penegakkan hukum dan pembuat kebijakan serta memberdayakan perempuan untuk melawan praktek-praktek harmfu traditional practices.
 
Pemecahan Masalah Matematika Siswa Al-Fityan School Gowa ditinjau dari Gender
Problem solving is the highest level of thinking which students need in learning mathematics. This study aims to describe students' mathematical problem solving abilities in terms of gender’s perspective. The research subjects consisted of four students of Class X at SMAIT Al-Fityan School Gowa in the 2018/2019 academic year, consisting of two male students and two female students. The research phase begins with the selection of research subjects determined based on equivalent problem solving ability tests. After selecting the subject, the next phase is giving assignment problem solving, quadratic equations, and interviews. The validity of the data is done by using triangulation of sources by twice interviews, giving tests to students who are different but have the same ability and the same sex in order to produce consistent data. The results showed that female students had better mathematical problem-solving abilities compared to male students based on Polya Steps: 1) understanding the problem, 2) planning the solution, 3) solving the problem, and 4) looking back at the answers.Pemecahan masalah adalah tingkatan berpikir tertinggi yang dibutuhkan siswa dalam belajar matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa ditinjau dari perspektif gender. Subjek penelitian terdiri dari empat siswa SMAIT Al-Fityan School Gowa kelas X pada tahun pelajaran 2018/2019, yang terdiri dua siswa laki-laki dan dua siswa perempuan. Tahap penelitian dimulai dengan pemilihan subjek penelitian yang ditentukan berdasarkan tes kemampuan pemecahan masalah yang setara. Setelah pemilihan subjek, selanjutnya pemberian tugas pemecahan masalah, persamaan kuadrat, dan wawancara. Keabsahan data dilakukan dengan menggunakan triangulasi sumber dengan wawancara dua kali yaitu memberi tes kepada siswa yang berbeda tetapi memiliki kemampuan yang sama dan jenis kelamin yang sama sehingga menghasilkan data yang konsisten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa perempuan memiliki kemampuan pemecahan masalah matematika yang lebih baik dibandingkan dengan siswa laki-laki berdasarkan langka Polya: 1) memahami masalah, 2) perencanaan penyelesaian, 3) menyelesaikan masalah, dan 4) melihat kembali jawaban
Pemikiran Islam Kontemporer Tentang Reposisi Kesetaraan Gender dalam Perspektif Al-Quran
Gender is one of the many discourses that can be considered contemporary that attracts the attention of various groups ranging from adolescents, activists, academics, researchers, and government and even scholars. This discourse intends to close social injustice based on gender differences in order to realize the equality of men and women in their social aspects. Until now, gender discourse can be grouped into at least four parts, namely as a movement, as a philosophical discourse, the development of social issues into religious issues, and as an approach in religious studies. This paper will examine the perspective of gender equality understood by Muslim feminists. In general it can be mentioned that the purpose of feminist struggle is to realize the equality, dignity, and freedom of women in choosing and managing their lives, both inside and outside the household.Gender merupakan salah satu dari sekian wacana yang bisa dibilang kekinian yang banyak menarik perhatian berbagai kalangan mulai dari kalangan remaja, aktivis, akademisi, peneliti, dan pemerintah bahkan ulama. Wacana ini bermaksud menutup ketidakadilan sosial yang berlandaskan perbedaan jenis kelamin yang betujuan mewujudkan kesetaraan laki-laki dan perempuan pada aspek sosialnya. Hingga sekarang, wacana gender bisa dikelompok setidaknya menjadi empat bagian, yakni sebagai suatu gerakan, sebagai diskursus kefilsafatan, perkembangan dari isu sosial ke isu keagamaan, dan sebagai pendekatan dalam studi agama. Tulisan ini mengkaji mengenai perspektif kesetaraan gender yang dipahami oleh kaum feminis muslim. Secara umum dapat disebutkan bahwa tujuan perjuangan feminisme adalah mewujudkan kesetaraan, harkat, dan kebebasan perempuan dalam memilih dan mengelola kehidupannya, baik di dalam maupun di luar rumah tangga
Tingkat Pendidikan Sebagai Penentu Takaran Belis pada Gadis Sumba
This research aims to describe the impact of education on Sumba Women in marriage culture. The approach which is used in this research is descriptive qualitative. The subject of this research is Sumba community in NTT Province. The data was collected by interview, observation, and filed notes. This data analyzed by the Miles and Hubermann technique which is obtained from the fact situation in the field, reduction data, display data, verification data, description data, and conclusion. The result of the research showed that the process of marriage tradition of Sumba people, especially women in Sumba Regency were already the changing the dowry (belis) which was determined according to the level of women education, and not based on the social strata or her mother dowry before. The marriage tradition process of Sumba people is no longer maintained traditionally, but they follow the times or modern era.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dampak pendidikan terhadap budaya belis (mahar) pada masyarakat Sumba. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Informan dalam penelitian ini adalah masyarakat Sumba di Provinsi NTT. Data yang dikumpulkan dengan menggunakan observasi, wawancara dan catatan lapangan. Data penelitian ini dianalisis dengan menjabarkan data yang diperoleh dari lapangan, reduksi data, display data, vertifikasi data, deskripsi data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa prosedur tradisi adat pernikahan orang Sumba telah mengalami pergeseran yang mana belis ditentukan berdasarkan tingkat pendidikan perempuan bukan lagi menurut tradisi atau strata belis ibu. Proses adat pernikahan tidak lagi dipertahankan secara tradisional, tetapi mengikuti perkembangan zaman atau modernisasi
The Power of Emak-Emak: Perempuan dalam Pusaran Kampanye Politik Pemilihan Presiden 2019
This research describe the militancy shown by women in the presidential election at 2019 in Indonesia. This paper aimed to explore women's political participation in presidential elections at 2019. The research approach used Critical Discourse Analysis (CDA) in the construction of the power of emak-emak (motherhood). The author explored a series of political actions by a group of mothers who were skilled at producing unique song texts and interesting political campaigns as an expression of support for one of the candidates. These findings indicated that the role of women in current general election was increasingly apparent by involved joining creative campaigns, controling government policies, and giving voice of women`s independence. One side of the political activities is a form of democratic maturity phase, but on the other hand cannot be separated from the power and authority relation of the opposition groups.Penelitian ini menggambarkan militansi yang ditunjukkan perempuan dalam pemilihan presiden 2019 di Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi salah satu bentuk dari partisipasi politik perempuan dalam pemilihan presiden 2019. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah analisa wacana kritis (Critical Discourse of Analysis-CDA) dalam konstruksi slogan the power of emak-emak. Penulis mengeksplorasi rangkaian tindakan politik kelompok ibu-ibu yang terampil memproduksi teks lagu unik dan kampanye politik menarik sebagai perwujudan dukungan kepada salah satu calon presiden. Hasil temuan ini menunjukkan bahwa peran perempuan dalam prosesi demokrasi tahun 2019 kian terlihat nyata dengan melibatkan diri dalam kampanye kreatif bersama, melakukan kontrol bagi jalannya pemerintahan, serta menyuarakan kemerdekaan kaum perempuan dalam memilih pemimpin. Serangkain aktivitas politik tersebut satu sisi merupakan wujud fase kematangan berdemokrasi, namun di sisi lain suara kaum perempuan tersebut tidak bisa lepas dari kepentingan kekuasaan kelompok oposisi
Active Coping Ibu yang Memiliki Anak Tuna Grahita di Kota Sorong
This study aims to obtain a picture of active coping of mother with a mentally disabled children in terms of decision making abilities, situation improvement, meaning, and positive thinking in overcoming children's problems. This study used a qualitative method with a phenomenological study approach involving three respondents, mother who have biological children with mild, moderate, and severe mental disability. The results of this study indicate that: 1) In terms of decision making ability, mothers have a great desire to plan intensive guidance to the children. 2) In terms of improving the situation, the mother puts the child in a public school after that she transfers to the developmental school, provides therapy and a doctor's examination. 3) Judging from the meaning, the mother can accept the condition of the child, see that the child has a deficiency, and believes that all the gifts of God must have wisdom. 4) In terms of positive thinking, the mother believes that one day the child can grow normally, remain optimistic, hoping that the child's condition can make them go to heaven. Based on the four aspects of active coping, mothers with mildly disabled children show more effort in optimizing their children's abilities. Whereas for mothers who have moderate and severe mentally disabled children, they show more meaning to the situation they are facing.Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentangactive coping ibu yang memiliki anak tuna grahita di kota Sorong ditinjau dari kemampuan pengambilan keputusan, perbaikan situasi, pemaknaan, dan berpikir positifdalam mengatasi problem anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi yang melibatkan tiga orang responden yaitu ibu yang memiliki anak kandung dengan tuna grahita ringan, sedang, dan berat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa:1) Ditinjau dari kemampuan pengambilan keputusan, ibu memiliki keinginan besar merencanakan bimbingan intensif pada anak. 2) Ditinjau dari perbaikan situasi, ibu memasukkan anak ke sekolah umum setelah itu memindahkan ke sekolah luar biasa, memberikan terapi dan pemeriksaan dokter. 3) Ditinjau dari pemaknaan,ibu bisa menerima kondisi anak, memandang bahwa anaknya memiliki kekurangan, dan berkeyakinan bahwa semua pemberian Tuhan pasti ada hikmahnya. 4) Ditinjau dari berpikir positif, ibu berkeyakinan bahwa suatu saat anak dapat tumbuh normal, tetap optimis, berharap dengan kondisi anak bisa membuatnya masuk surga. Berdasarkan empat aspek active coping, ibu dengan anak tuna grahita ringan menunjukkan usaha lebih keras dalam mengoptimalkan kemampuan anaknya.Sedangkan untuk ibu yang memiliki anak tuna grahita sedang dan berat menunjukkan lebih banyak pemaknaan terhadap situasi yang dihadapinya
Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Praktek Pemberian Makan Anak Usia Bawah Dua Tahun (12-23 Bulan)
This study aims to determine the relationship of family support with parenting practices in feeding practices to children under the age of two years (Baduta) in the working area center for health community of Binamu Kab Jeneponto. This type of research is observational analytic with cross sectional study approach. The sample used was mothers who have children aged 12-23 months, totaling 136 people out of 210 population. The sampling technique was done by simple random sampling and data were collected using a questionnaire. Hypothesis testing is done using the Chi Square testwith a significance value of 0.05, p<0.05. Statistical analysis using the SPSS 21 aplication. The results of data analysis showed that there was no relationship between family support toward the practice of feeding children under two years of age, p values 0.449 >0.005. This research requires further research that analyzes the nutritional status of children.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan pola asuh praktek pemberian makanan pada anak usia bawah dua tahun (Baduta) di wilayah kerja puskesmas Binamu Kab. Jeneponto. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional study. Sampel yang digunakan adalah ibu yang memiliki anak berusia 12-23 bulan yang berjumlah 136 orang yang di tarik dari populasi sebesar 210 orang ibu. Teknik penarikan sampel dilakukan secara simpel random sampling dan data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square dengan nilai signifikansi 0.05, p < 0.05. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan aplikasi SPSS 21. Hasil analisis data menunjukkan tidak ada hubungan antara dukungan keluarga terhadap praktek pemberian makan pada anak usia bawah dua tahun p value sebesar 0.449 >0.05. Penelitian ini memerlukan penelitian lanjutan yang menganalisis sampai pada status gizi anak