Al-Maiyyah - Media Transformasi Gender dalam Paradigma Sosial Keagamaan (E-Journal)
Not a member yet
168 research outputs found
Sort by
Perempuan dan Diskriminasi: Analisis Permasalahan Buruh Tani di Pengalengan Bandung
Gender equality is a necessity that has not been maximized. Although it continues to be campaigned, however, many women are still found. This study aims to analyze the problems of female farm workers in Pangalengan Bandung and the factors that cause it. Assessed by descriptive method using interview and observation techniques. The result of the research shows that the problems which are often problems are economic problems, welfare problems, work comfort problems, and national problems. The basic forms of women include: gender in wage patterns between men and women, gender workload between men and women, and the view that women are weaker than men. Meanwhile, the main national cause is the strong patriarchal culture which is not aware that it is still attached to society. This research also finds a concept that the welfare level of female farm workers is not the same. This depends on their daily income. Some include prosperous agricultural laborers, almost prosperous farm workers, and less prosperous farm workers. These findings provide a different view from previous studies which state that agricultural labor is closely related to poverty.Kesetaraan gender merupakan sebuah keniscayaan yang belum termaksimalkan. Meskipun terus dikampanyekan, tetapi diskriminasi perempuan masih banyak ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan buruh tani perempuan di Pangalengan Bandung dan faktor penyebabnya. Dikaji dengan metode deskriptif dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan yang kerap dihadapi buruh tani perempuan diantaranya: masalah ekonomi, masalah kesejahteraan, masalah kenyamanan bekerja, dan diskriminasi. Bentuk diskriminasi yang dialami meliputi: perbedaan pola upah antara laki-laki dan perempuan, perbedaan beban kerja antara laki-laki dan perempuan, dan pandangan bahwa perempuan lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki. Sementara itu penyebab utama diskriminasi adalah kuatnya budaya patriarki yang secara tidak disadari masih melekat pada masyarakat. Penelitian ini juga menemukan sebuah konsep bahwa sebenarnya tingkat kesejahteraan buruh tani perempuan tidaklah sama. Hal tersebut tergantung dari pendapatan kesehariannya. Ada yang termasuk buruh tani sejahtera, buruh tani hampir sejahtera, dan buruh tani kurang sejahtera. Temuan tersebut memberikan pandangan berbeda dengan kajian-kajian sebelumnya yang menyatakan bahwa buruh tani erat kaitannya dengan kemiskinan
Eksistensi Feminisme Mesir dan Transformasi Gerakan Perempuan di Indonesia
Islamic feminism becomes an interesting issue when there are injustice and inequality in the functions and structures of life. The Egyptian state is part of the Middle East which inspired the reformist movement pioneered by Zainab Al Ghazali (1917-2005) by prioritizing preaching, social and political approaches. Given the organization view, there is support for the direction of the Indonesian women's movement to contribute to the country. The purpose of this research is to examine Islamic feminism in Egypt and to find out the direction of the Indonesian women's movement. This research uses qualitative research with a book-based literature study approach, official institution reports, and journals. The results showed that Islamic feminism in Egypt was oriented towards the socio-political field through preaching activities on the occurrence of injustice and differences in political views. Meanwhile, the direction of the Indonesian movement at the same time uses organized women through Aisyiyah and Muslimat with educational, economic, social, health and religious approaches that aim to seize independence and fill it up to this day. The implication is that the Islamic feminism movement, both in Egypt and Indonesia, have the same premise as an effort for the existence of women to contribute to life.Feminisme Islam menjadi isu menarik ketika terjadi ketidakadilan dan ketidaksetaraan dalam fungsi dan struktur kehidupan. Negara Mesir merupakan bagian Timur Tengah menginspirasi gerakan reformis dipelopori Zainab Al Ghazali (1917-2005) dengan mengedepankan pendekatan dakwah, sosial dan politik. Hal tersebut memberi dukungan arah gerakan perempuan Indonesia untuk berkontribusi bagi negara. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji feminisme Islam di Mesir dan mengetahui arah gerakan perempuan Indonesia. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka berdasar buku, laporan lembaga resmi, dan jurnal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa feminisme Islam di Mesir terjadi dengan berorientasi pada bidang sosial politik melalui kegiatan dakwah atas terjadinya ketidakadilan dan perbedaaan pandangan politik. Sedangkan arah gerakan Indonesia di saat yang bersamaan menggunakan perempuan yang terorganisir melalui Aisyiyah dan Muslimat dengan pendekatan pendidikan, ekonomi, sosial, kesehatan dan agama yang bertujuan merebut kemerdekaan dan mengisinya hingga saat ini. Implikasinya gerakan feminisme Islam keduanya sebagai upaya eksistensi perempuan dalam berkontribusi dalam kehidupan
Karakteristik Ibu dan Pola Asuh Praktek Pemberian Makan Pada Anak Usia Bawah Dua Tahun
The purpose of this study was to determine the relationship between the characteristics of respondents to the practice of feeding under two years old children in the work area of Puskesmas Binamu Kec. Binamu, Kab. Jeneponto. This research is a cross-sectional study with simple random sampling technique. The sample was mothers who have children under the age of two years, totaling 136 mothers. Data was collected through direct interviews with respondents. Hypothesis testing is done using the Chi Square statistical test, with α 0.05 and coefficient φ (phi). The results of the study are known to the characteristics of maternal education (p = 0.030) and family income (p = 0.002) associated with feeding practices in children under the age of two years. Meanwhile there was no correlation between maternal work (p = 0.514) and the number of family members (p = 0.692) to the practice of providing food for under-two-year-old children. It is recommended to increase counseling about correct feeding practices for children, especially on the amount and frequency of food provided, besides that nutritional information is provided not only to mothers but also to people around mothers.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keterkaitan antara karateristik responden terhadap praktek pemberian makanan anak usia bawah dua tahun pada wilayah kerja Puskesmas Binamu Kec. Binamu Kab. Jeneponto. Penelitian ini merupakan studi potong lintang dengan penarikan sampel secara random sederhana. Sampel adalah ibu anak usia bawah dua tahun berjumlah 136 ibu. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung kepada responden. Uji hipotesis yang dilakukan menggunkan uji statistic Chi Square, dengan α= 0,05 dan koefisien φ (phi). Hasi penelitian diketahui karateristik pendidikan ibu (p=0,030) dan pendapatan rumah tangga (p=0,002) berhubungan dengan praktek pemberian makanan pada anak usia bawah dua tahun. Sementara itu tidak ditemukan keterkaitan pekerjaan ibu (p=0.514) dan jumlah anggota keluarga (p=0,692)terhadap praktek pemberan makanan anak usia bawah dua tahun. Disarankan agar meningkatkan penyuluhan tentang praktek pemberian makan yang benar pada anak khususnya pada jumlah dan frekuensi makanan yang diberikan, selain itu informasi gizi yang diberikan tidak hanya pada ibu tetapi juga pada orang disekitar ibu
The Basic Principle of The Man to Islamic View
The concept of man according to the Qur'an is understood by paying attention to the words that each man is pointing at the meaning of Bechar, insane, and al - nas. God used the concept of Bechar in the Qur'an 37 times, the concept of Bechar is always connected to the biological properties of human origin such as clay or dry plate, the human eating and drinking, Bechar is just a creature being) static like animals. The word insan is mentioned in the Qur'an as much as 65 times. The concept of insane is always connected to the insane concept of psychological or spiritual nature of man as a creature who thinks, bear the mandate and given knowledge ( al - Ahzab : 72 ), human beings are becoming (becoming) and continues to move forward towards perfection. Said Al - Nas called 240 times, the concept of al - Nas refer to all human beings are social or collective.The concept of man according to the Qur'an is understood by paying attention to the words that each man is pointing at the meaning of Bechar, insane, and al - nas. God used the concept of Bechar in the Qur'an 37 times, the concept of Bechar is always connected to the biological properties of human origin such as clay or dry plate, the human eating and drinking, Bechar is just a creature being) static like animals. The word insan is mentioned in the Qur'an as much as 65 times. The concept of insane is always connected to the insane concept of psychological or spiritual nature of man as a creature who thinks, bear the mandate and given knowledge ( al - Ahzab : 72 ), human beings are becoming (becoming) and continues to move forward towards perfection. Said Al - Nas called 240 times, the concept of al - Nas refer to all human beings are social or collective
Relevansi Kesetaraan Gender dan Peran Perempuan Bekerja terhadap Kesejahteraan Keluarga di Indonesia (Perspektif Ekonomi Islam)
This study aims to identify problems related to the relevance of gender equality and the status of working women to family welfare in Indonesia based on an Islamic economic perspective. This study uses descriptive qualitative research methods with secondary data provided is documentation. The results of this study indicates that there is no dichotomy of public space for women and men in work. Both have the same rights and obligations. Islam as a religion rahmatan lil alamin also expressly explains about human freedom to work and cooperate in "amar ma'ruf nahi munkar". In addition, within the scope of statehood in Indonesia, attention to equality of rights and obligations to work is also regulated in Law No. 13 of 2003 concerning employment. Gender equality in this work provides opportunities for women to participate in meeting the family economy. So that it will directly change the source of household income which initially only 1 (one) source, that is husband, becomes 2 (two) sources, namely husband and wife. The establishment of synergy between men and women in the domestic and public sectors, will improve family welfare, both material (financial) and non-material.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah terkait relevansi kesetaraan gender dan status perempuan bekerja terhadap kesejahteraan keluarga di Indonesia berdasarkan perspektif ekonomi Islam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan sumber data sekunder yaitu dokumentasi. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa tidak ada dikotomi ruang publik bagi perempuan maupun laki-laki dalam pekerjaan. Keduanya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Islam sebagai agama rahmatan lil alamin pun secara tegas menerangkan tentang kebebasan manusia berkarya dan bekerjasama dalam “amar ma’ruf nahi munkar”. Di samping itu, dalam lingkup kenegaraan di Indonesia, perhatian atas kesetaraan hak dan kewajiban bekerja juga diatur dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Dengan adanya kesetaraan gender dalam pekerjaan ini, memberikan peluang bagi perempuan untuk ikut serta dalam memenuhi perekonomian keluarga. Sehingga secara langsung akan merubah sumber pendapatan rumah tangga yang awalnya hanya 1 (satu) sumber yaitu suami menjadi 2 (dua) sumber yaitu suami dan istri. Terbentuknya sinergitas antara laki-laki dan perempuan dalam sektor domestik maupun publik, akan meningkatkan kesejahteraan keluarga, baik material (keuangan) maupun non material
Budaya Patriarki dan Akses Perempuan dalam Pendidikan
This paper aims to describe the patriarchal culture and women's access to education. The method used in this research is literature study from various sources such as books, journals, reports and data from the Central Statistics Agency. The results of this study are that patriarchal culture is inherent in a society that considers that the primary education should be boys. This causes women's access to education to be hampered due to cultural problems that exist in the community. This situation can be seen based on data on the percentage of literacy for women totaling 83.42 while men 91.86. This data is also supported by the data of the Human Development Index for men reaching 75.43 while the Human Development Index for women is 68.63. This data shows the level of education of women, especially in higher education is low. This reality certainly contradicts the goal of national education which does not differentiate access to education based on gender, all of whom are entitled to education.Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan budaya patriarki dan akses perempuan dalam pendidikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi pustaka yang berasal dari berbagai sumber seperti dari buku, jurnal, laporan dan data dari Badan Pusat Statistik. Hasil kajian ini adalah budaya patriarki sudah melekat dalam masyarakat yang menganggap bahwa yang harus mendapatkan pendidikan yang utama adalah anak laki-laki. Hal ini menyebabkan akses perempuan untuk mengenyam pendidikan terhambat karena masalah kultur yang ada dalam masyarakat. Keadaan ini dapat dilihat berdasarkan data persentase melek huruf untuk perempuan berjumlah 83,42 sedangkan laki-laki 91,86. Data ini juga didukung data Index Pembangunan Manusia laki-laki mencapai 75,43 sementara Index Pembangunan Manusia perempuan sebesar 68,63. Data ini menunjukkan tingkat pendidikan perempuan terutama pada pendidikan tinggi rendah. Realitas ini tentunya bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional yang tidak membedakan akses pendidikan berdasarkan jenis kelamin semuanya berhak mendapatkan pendidikan
Potensi Perempuan Aceh dalam Pendidikan
Historically the Acehnese women play an important roles either as leaders, commandos of wars, experts of cultures or other sorts of leaders. Post conflict, tsunami, and peace in Aceh, women in Aceh continue to play an important role in various fields of government, politics, culture, and education. These roles have been preserved until now with different patterns and models. This research is aimed to find out the potential of Acehnese women especially in education fields relating to their roles and functions. The results of this research found that Acehnese women have a big power in education fields. Evidently there are many Acehnese women who have access to become teachers, lecturers, and even professors. More ever they have more quantity to access it. Furthermore, this situation is also supported by the current Qanun in Aceh concerning the protection and empowerment of women. It can be concluded that the culture of Aceh have put the equality level among girls and boys to access the education based on their passion in it.Secara historis perempuan Aceh memainkan peranan penting baik sebagai pemimpin, panglima perang, budayawan maupun tokoh penting lainnya. Pasca konflik, tsunami dan perdamaian di Aceh, perempuan di Aceh tetap memainkan peranan penting dalam berbagai bidang, baik dalam pemerintahan, politik, budaya maupun pendidikan sehingga apa yang pernah berlaku sebelumnya tetap berkesinambungan hingga saat ini dengan pola dan model yang berbeda. Penulisan ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana potensi yang dimiliki perempuan Aceh khususnya dalam pendidikan sehingga didapatkan jawaban tentang peran dan fungsi perempuan di Aceh dalam kancah dunia pendidikan. Hasil penulisan ini menemukan bahwa perempuan Aceh memiliki potensi yang besar, tidak hanya sama dalam dunia pendidikan tetapi perempuan juga mampu mengakses lebih banyak secara kuantitas. Terbukti banyaknya perempuan Aceh yang memiliki akses menjadi guru, dosen, bahkan professor. Hal ini juga didukung oleh Qanun yang berlaku di Aceh saat ini tentang perlindungan dan pemberdayaan perempuan.Dalam penulisan ini dapat disimpulkan bahwa budaya Aceh dalam perlakukan antara anak perempuan dan laki-laki saat ini tidak berbeda dalam akses pendidikan sehingga masing-masing dapat menentukan arah pendidikan yang ingin ditempuh
Beban Ganda Perempuan: Penguatan Ekonomi Perempuan Melalui Inklusi Keuangan Syariah di Minangkabau
This study aims to analyze double burden and its relation to woman’s economic strengthening. The times have transformed woman’s thinking and movements that they not only function in the domestic sphere but also in the public sphere. This research is field research with qualitative analysis conducted in Padang and involved female costomers of sharia bank X. This study proves that the double burden of woman does not hinder women’s economic strengthening. Woman who experience double burdens can strengthen their economy if they are given access to finance through Islamic financial inclusion.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis beban ganda (double burden) perempuan serta kaitannya dengan penguatan ekonomi perempuan. Perkembangan zaman telah mentransformasi pemikiran dan gerakan kaum perempuan sehingga tidak hanya berfungsi diranah domestik tetapi juga diranah publik. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan analisis kualitatif yang dilakukan di Kota Padang dengan melibatkan para perempuan nasabah bank Bank Syariah X. Penelitian ini membuktikan bahwa beban ganda (double burden) perempuan tidak menghalangi penguatan ekonomi perempuan. Perempuan yang mengalami beban ganda bisa melakukan penguatan ekonomi jika diberikan akses keuangan melalui inklusi keuangan syariah.
 
Analisis Perbedaan Rata-Rata Indeks Pemberdayaan Gender di Jawa Timur
This paper examines the average difference test of the gender empowerment index in the City / Regency in East Java Province in the period 2010-2015. This study aims to be used as a reference for the relevant government in East Java Province to detect cities / regencies that have a low gender empowerment index value and identify forming indicators that are the cause of the low value of the gender empowerment index in the area. The results of this study indicate that the development of the gender empowerment index in the City / Regency in East Java Province in the period 2010-2015 has improved. This indicates that the achievement of the role of women in politics and the economy and in making decisions from time to time is getting better. Although it cannot be denied that there are still gaps between the male and female population in the City / Regency in East Java.Tulisan ini mengkaji mengenai uji perbedaan rata-rata indeks pemberdayaan gender pada Kota/Kabupaten di Provinsi Jawa Timur periode tahun 2010-2015. Penelitian ini bertujuan untuk dapat dijadikan rujukan bagi pemerintah terkait di Provinsi Jawa Timur untuk mendeteksi Kota/Kabupaten yang memiliki nilai indeks pemberdayaan gender yang rendah dan mengidentifikasi indikator-indikator pembentuk yang menjadi penyebab rendahnya nilai indeks pemberdayaan gender di daerah tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan indeks pemberdayaan gender pada Kota/Kabupaten di Provinsi Jawa Timur periode tahun 2010-2015 mengalami perbaikan. Hal ini mengindikasikan bahwa pencapaian peran wanita dalam politik dan ekonomi serta dalam pengambilan keputusan semakin membaik dari waktu kewaktu. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa kesenjangan antara penduduk laki-laki dan perempuan bahwa masih terjadi pada Kota/Kabupaten di JawaTimur
Wawasan Hadis Tentang Hubungan Mahram Karena Penyusuan
The aims of this study was to conduct a hadist insight into the relationship of mahram due to breastfeeding. The method used was the thematic method with a historical approach. Other approaches was used such as pedagogical, sociological, linguistic and normative theological in understanding hadist. The analysis technique was used textual, contextual, and intertextual analysis. The Insight of the Prophet's hadist about sibling’s mahram shows the existence of breastfeeding provides the absolute prohibition of marriages from and above associated with breastfeeding. All children who were breastfeeding directly and sprayed ware classified as children of sesusuan causing a mahram relationship. The process of giving breastfeedingto the baby, then contextually breast milk that has been pleasurable the baby can result in the legal status of mahram. For this reason, a woman when she wants to make a decision for breastfeeding children should be careful with regard to the frequency of breast milk, quality or content of breast milk, as well as the time or age of breast milk.Studi ini bertujuan untuk melakukan kajian wawasan hadis tentang hubungan mahram karena penyusuan. Metode yang digunakan yaitu metode tematik dengan pendekatan historis. Pendekatan lainnya digunakan adalah pedagogis, sosiologis, linguistik dan teologis normatif dalam memahami hadis.Teknik analisis menggunakan analisis tekstual, kontektual, dan intertekstual.Wawasan hadis Nabi tentang mahram sesusuan menunjukkan dengan adanya penyusuan memberikan kemutlakan terjadinya pengharaman perkawinan dari dan atas yang terkait dengan penyusuan.Semua anak yang menyusu secara langsung digolongkan anak sesusuan menyebabkan terjadinya hubungan mahram. Proses sampainya air susu ibu tersebut ke dalam rongga perut bayi, maka secara kontekstual air susu ibu yang telah menyenangkan sibayi dapat mengakibatkan status hukum mahram. Untuk itu seorang perempuan ketika hendak mengambil keputusan untuk anak susuan hendaknya berhati-hati dengan memperhatikan frekuensi susuan, kualitas ataupun kadar susuan, serta waktu atau batas umur susuan