OJS Kader Bangsa University
Not a member yet
461 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN USIA DAN PARITAS IBU TERHADAP KETERATURAN PEMERIKSAAN ANTENATAL CARE PADA IBU HAMIL
women to reduce maternal and infant mortality. The high rate of maternal and infant mortality is partly due to the low level of maternal knowledge and the irregular frequency of ANC examinations. The regularity of ANC can be shown through the frequency of visits, this turns out to be a problem because not all pregnant women check their pregnancy regularly so that abnormalities that arise in pregnancy cannot be detected as early as possible (Sarwono, 2015). The purpose of this study was to determine the relationship between maternal age and parity on the regularity of antenatal examinations. This study uses an analytical survey with a cross sectional approach. The population of this study were 315 pregnant women. The number of samples in this study were 176 respondents. In the univariate analysis, it was found that from 176 respondents, there were 114 respondents (64.8%) of mothers with high risk age and 62 respondents (35.2%) of mothers with high risk parity. respondents (63.1%) and maternal parity with low risk as many as 65 respondents (36.9%). Bivariate analysis showed that age had a significant relationship with the regularity of the ANC examination (p value 0.002) and parity had a significant relationship with the regularity of the ANC examination (p value 0.001). The conclusion of this study is that there is a relationship between maternal age and parity on the regularity of antenatal care examinations.
Keywords : age, parity, antenatal car
HUBUNGAN STATUS GIZI , ANEMIA, DAN RIWAYAT ABORTUS DENGAN KEJADIAN ABORTUS
Abortion is the termination of pregnancy before the 20th week (calculated from the first day of the last menstrual period). Another definition states that abortion is the expulsion of products of conception weighing <500 grams. This research is a quantitative research with an analytical survey with a cross sectional approach. The population in this study were all pregnant women totaling 2110 pregnant women. The sample of this research used random sampling method. The sample of this study amounted to 95 respondents. Data analysis was carried out in two stages, namely univariate analysis and bivariate analysis with Chi-square statistical test. The results of the bivariate analysis found that there was a relationship between nutritional status (p value = 0.006), there was a relationship between anemia (p value = 0.000), and there was a relationship between abortion (p value = 0.000) and the incidence of abortion. The suggestions are expected for health workers so that this research can be taken into consideration in decision making, can improve the quality of services and especially regarding the incidence of abortion.
Keywords: nutritional status, anemia, and abortio
Kajian Potensi kandungan Senyawa Ferrum dan Plumbum Air Permandian Moramo, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara
Air merupakan salah satu media penularan berbagai agen penyakit, terutama penyakit yang ditularkan melalui air, seperti diare, kolera, disentri, dan tipus. Air juga sering tercemar oleh komponen anorganik, termasuk berbagai logam berat berbahaya. Beberapa logam berat, besi, dan timbal ini banyak digunakan untuk berbagai keperluan, oleh karena itu diproduksi secara rutin dalam skala industri. Kelebihan Ferrum jarang disebabkan oleh konsumsi makanan yang berasal darinya tetapi oleh konsumsi suplemen. Plumbum dan senyawanya banyak digunakan di berbagai bidang. Efek racun timbal terutama mempengaruhi saluran pencernaan, darah, dan sistem saraf. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan Ferrum dan Plumbum pada air mandi Moramo menggunakan metode Spektrofotometri Serapan Atom. Metode destruksi basah merupakan pilihan yang digunakan dalam penelitian ini untuk menentukan kadar Ferrum dan Plumbed menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Hasil analisis serapan diperoleh = 248,42 senyawa Ferrum dan = 283,27 nm pada Plumbum. Identifikasi sampel X1 = 0,0167 mg/l, sampel X2 = 0,0111 mg/l dan sampel X3 = 0,0167 mg/l, serta kandungan Plumbum (Pb) pada sampel X1 = 0,008 mg/l, sampel X2 = 0,0125 mg/l dan sampel X3 = 0,0042 mg/l. Berdasarkan potensi kandungan Ferrum (Fe) dan Plumbum (Pb) pada air mandi Moramo Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara tidak berpotensi membahayakan karena tidak melebihi batas maksimal yang ditetapkan pemerintah. dimana tingkat koreksi maksimum untuk Ferrum (Fe) adalah 0,3 mg/l dan Plumbum (Pb) adalah 0,05 mg/l
ANALISIS HUBUNGAN SANITASI DASAR DENGAN ANGKA KEPADATAN LALAT PADA WARUNG MAKAN DI PASAR ATAS BATURAJA TAHUN 2021
Lalat merupakan salah satu insekta (serangga) yang termasuk ordodipthera yaitu insekta yang mempunyai sepasang sayap yang berbentuk membran, dan termasuk golongan Clyptrata muscodiae bagian dari superfamily muscodiae.Semua bagian tubuh lalat bisa berperan sebagai alat penular penyakit (badan, bulu pada tangan dan kaki, feces, dan muntahannya). Sanitasi lingkungan merupakan langkah awal yang sangat penting dalam usaha menanggulangi berkembangnya populasi lalat baik dalam lingkungan peternakan maupun pemukiman. Pasar Atas Baturaja merupakan Pasar terbesar di Kota Baturaja yang di dalamnya terdapat banyak warung makan. umumnya warung makan di Pasar Atas sebagian besar masih belum mengerti betul prihal hygiene sanitasi yang erat hubunganya dengan kesehatan. Jenis Penelitian ini adalah penelitian Cross Sectional, Populasi meliputi semua warung makan yang ada di Pasar Atas Baturaja yang berjumlah 36 warung makan. Besar sampel yaitu 36 sampel. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara air bersih dengan angka kepadatan lalat dengan p value 0,575 , ada hubungan yang bermakna antara tempat sampah dengan angka kepadatan lalat dengan p value 0,03 ,ada hubungan yang bermakna antara tempat mencuci perlatan dengan angka kepadatan lalat dengan p value 0,003, ada hubungan yang bermakna antara tempat penyimpanan makanan dengan angka kepadatan lalat dengan p value 0,008, ada hubungan yang bermakna antara penyajian makanan dengan angka kepadatan lalat dengan p value 0,029, ada hubungan yang bermakna antara lokasi warung makan dengan angka kepadatan lalat dengan p value 0,008. Saran yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah pemilik warung makan, petugas pasar dan petugas kesehatan diharapkan lebih memperhatikan sanitasi warung makan agar terhidar dari vektor penyakit seperti lalat.
 
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI UMUR 12 BULAN DI PUSKESMAS 1 ULU KOTA PALEMBANG
Word Health Organization (WHO), Imunisasi merupakan hal yang terpenting dalam usaha melindungi kesehatan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, dukungan keluarga dan sikap dengan imunisasi. Jenis penelitian ini menggunakan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 56 responden dengan pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan. Analisis dilakukan dalam dua tahap yaitu analisis Univariat dan Bivariat. Uji statistik menggunakan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan α 5%. Didapatkan hasil bahwa Berdasarkan hasil penelitian dan analisa yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Ada hubungan pengetahuan ibu, dukungan keluarga dan sikap ibu secara simultan dengan kelengkapan pemberian imunisasi dasar pada bayi umur 12 bulan di Puskesmas 1 Ulu Kota Palembang tahun 2019. Saran untuk puskesmas agar selalu memberikan informasi/pelayanan tentang pentingnya imunisasiuntuk mencegah timbulnya penyakit yang banyak dialami oleh bayi. Sehingga kelengkapan imunisasi tersebut dapat ditangani secara benar dan tepat
Landasan Pengaturan Gratifikasi dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Piana Korupsi
Tindak pidana melalui gratifikasi dianggap sebagai bagian dari tindakan korupsi yang diatur di dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi disebut sebagai Tindak Pidana Korupsi Pegawai Negeri yangMenerima Gratifikasi sudah diatur di dalam Pasal 12B jo. Pasal 12C Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Namun demikian, belum ada kejelasan tentang undang-undang yang mengatur bahwa gratifikasi/pemberian yang berasal dari konteks budaya. Hal ini kemudian memicu perdebatan tentang pengaturan gratifikasi di dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi saat ini, adanya kelemahan-kelemahan yang muncul dalam pengaturan pemberian gratifikasi apabila dikaitkan dengan budaya yang berkembang di masyarakat Indonesia, dan dibutuhkan rekonstruksi pengaturan gratifikasi di dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi berbasis nilai keadilan yang bermartabat. Rekonstruksi pengaturan gratifikasi dalam tindak pidana korupsi berbasis nilai keadilan yang bermartabat. Setidaknya terdapat enam komponen yang harus diperjelas lebih mendalam, yaitu pertama adalah pasal-pasal harus diubah dalam bentuk konkret dengan menyesuaikan perkembangan realitas budaya yang terjadi di tengah-tengah kehidupanbermasyarakat. Kedua, untuk memangkas jiwa feodalisme yang membudaya, pemberatan hukuman harus diterapkan pada undang-undang tipikor khususnya bagi pemangku jabatan dan aparat penegak hukum yang terbukti menerima suap dan gratifikasi. Ketiga, Undang-undang No. 20 Tahun 2001 harus mengatur secara khusus delik gratifikasi menurut bidangnya. Hal ini penting agar penangaan masalah gratifikasi memiliki nilai keadilan dan bermartabat. Keempat, Secara etika unsur pengecualian pada Undang-undang No. 20 Tahun 2001 Pasal 12 C ayat (1) harus ada pengecualian dengan penegasan bahwa pemberian hadiah yang tidak membengkokkan otoritas maka itu bukan tindak korupsi. Kelima, Undang-undang No. 20 Tahun 2001 harus memuat jenis-jenis tindakan korupsi sebagai pembeda antara korupsi yang dilakukan secara kolosal (besar) dan yang kecil. Keenam, semangat pada pasal-pasal di dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2001, belum tampak dan masih banyaknya masyarakat yang belum memahami.Criminal acts through gratuities are considered part of the acts of corruption regulated in Law Number 20 of 2001 concerning the Eradication of Corruption Crimes which are referred to as Corruption Crimes of Civil Servants Who Receive Gratifications which are regulated in Article 12B jo. Article 12C of Law Number 20 of 2001 concerning Eradication of Corruption Crimes. However, there is no clarity regarding the law that regulates gratuities/gifts originating from a cultural context. This then sparked a debate about the regulation of gratifications in the current Corruption Eradication Law, the weaknesses that arise in the regulation of gratuities when linked to the culture that is developing in Indonesian society, and the need for reconstruction of the gratification regulations in the Law. Eradicating Corruption Crimes is based on the value of dignified justice. Reconstruction of gratification regulations in criminal acts of corruption based on the value of dignified justice. There are at least six components that must be clarified in more depth, namely the first is that the articles must be changed in concrete form to adapt to developments in cultural realities that occur in the midst of social life. Second, to reduce the entrenched spirit of feudalism, tougher penalties must be applied to the anti-corruption law, especially for office holders and law enforcement officers who are proven to have accepted bribes and gratuities. Third, Law no. 20 of 2001 must specifically regulate gratification offenses according to their fields. This is important so that the handling of gratification issues has justice and dignity. Fourth, ethically, the exception element in Law no. 20 of 2001 Article 12 C paragraph (1) there must be an exception with the confirmation that giving gifts that do not bend authority is not an act of corruption. Fifth, Law no. 20 of 2001 must contain types of acts of corruption as a distinction between colossal (large) and small corruption. Sixth, the spirit of the articles in Law no. 20 of 2001, has not yet been seen and there are still many people who do not understan
HUBUNGAN JARAK TEMPAT TINGGAL DAN PENGETAHUAN MASYARAKAT DENGAN PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN
Good health center health services do not necessarily guarantee the number of patients visiting. This must also be supported by the accuracy and capacity of the puskesmas in serving community needs such as communication, time, quality and quantity of products and services, excellent service. This type of research is analytic survey with cross sectional study approach. With the sample of this study were all patients who went to the Puskesmas, amounting to 89 people. The results of this study indicate that of the 89 respondents studied, 45 respondents (50.6%) utilized health services, 45 respondents (50.6%) utilized health services. Suggestion: provide information about the importance of using the Puskesmas as the right place for treatment. Key words : Utilization of Health ServicesLatar Belakang: Pelayanan kesehatan puskesmas yang baik belum tentu menjamin banyaknya jumlah pasien yang berkunjung. Hal ini harus didukung juga dengan ketepatan dan kapasitas puskesmas dalam melayani kebutuhan masyarakat seperti komunikasi, waktu, kualitas serta kuantitas produk dan jasa, pelayanan prima. Jenis penelitian yang digunakan adalah survei analitik dengan pendekatan studi Cross Sectional. Dengan sampel penelitian ini adalah seluruh pasien yang berobat ke Puskesmas berjumlah 89 orang. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa dari 89 responden yang diteliti, responden yang memanfaatkan pelayanan kesehatan sebanyak 45 responden (50.6%), responden yang Jarak Tempat tinggalnya dekat sebanyak 45 responden (50.6%). Saran: memberikan penyuluhan tentang pentingnya memanfaatkan Puskesmas sebagai tempat berobat yang tepat.
Kata kunci : Pemanfaatan Pelayanan Kesehata
GAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN LAJU ENDAP DARAH (LED) MENGGUNAKAN METODE WESTERGEN PADA PASIEN RAWAT JALAN
Background: ESR is one of the routine blood parameters that is often requested as a complement to other haematological examinations. Purpose: To determine the description of the results of the blood sedimentation rate (LED) using the Westergen method on outpatients. Methods: This type of research is quantitative using cross sectional research design with sampling techniques using accidental sampling obtained a sample of 82 respondents. Results: that the results of the LED examination using the Westergren method on outpatients found 11 people (22%) with normal ESR, and 39 people (78%) with abnormal ESR. Suggestion: input material in improving the quality of examinations and services in the health sector, so that it is more detailed and thorough in carrying out LED examinations using the Westergen method.
Key words: Precipitation Rate (LED)Latar Belakang: Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) merupakan salah satu parameter darah rutin yang sering diminta sebagai pelengkap pemeriksaan hematologi lain. Tujuan: Untuk mengetahui Gambaran hasil pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) menggunakan metode Westergen pada pasien rawat jalan. Metode: Jenis penelitian ini kuantitatif menggunakan desain penelitian cross sectional dengan tehnik pengambilan sampel menggunakan Accidental sampling didapatkan sampel 82 responden. Hasil: bahwa hasil pemeriksaan LED menggunakan metode Westergren pada pasien rawat jalan ditemukan 11 orang (22%) dengan LED normal, dan 39 orang (78%) dengan LED abnormal. Saran: bahan masukan dalam meningkatkan mutu pemeriksaan dan pelayanan dibidang kesehatan, supaya lebih rinci dan teliti dalam melakukan pemeriksaan LED menggunakan metode Westergen.
Kata kunci: Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED
ANALISIS LINGKUNGAN FISIK DENGAN KEBERADAAN JENTIK NYAMUK AEDES AEGYPTI PADA VEGETASI PERINDUKAN DAUN PISANG
Latar Belakang : Aedes aegypti merupakan vektor yang paling banyak ditemukan menjadi perantara timbulnya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan lingkungan fisik seperti tingkat pH, volume air, kelembaban udara dan jenis perindukan daun pisang dengan keberadaan jentik Aedes aegypti dan faktoryang paling dominan mempengaruhi keberadaan jentik Aedes aegypti. Metode : Penelitian ini menggunakan penelitian survei analitik dengan desain Cross Sectional. Analisis data yang digunakan meliputi analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Variabel independen dikaitkan dengan variabel dependen dengan analisis statistik uji chi-square dan untuk melihat variabel yang paling dominan mempengaruhi variabel dependen digunakan uji regresi logistik. Populasi penelitian ini adalah semua jenis perindukan tanaman pohon pisang yang terdapat air pada pelepah daunya yang ada di wilayah kerja puskesmas Sako Kota Palembang. Sampel dalam penelitian berjumlah 87 pelepah yang terdapat air. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan Simple Random Sampling. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat PH (p value 0,253) dengan keberadaan Jentik Aedes aegypti. Kemudian ada hubungan antara volume air (p value 0,0), kelembaban udara (p value 0,038) dan jenis perindukan daun pisang (p value 0,012) dengan keberadaan Jentik Aedes aegypti dan variabel volume air adalah variabel yang paling dominan mempengaruhi keberadaan jentik Aedes aegypti. Saran :Perlunya meningkatkan kegiatan sanitasi lingkungan khususnya ditujukan pada pemutusan rantai perkembangbiakan jentik dan nyamuk Aedes aegypti.
Kata kunci: Lingkungan, Fisik, Jentik, Aedes aegypt
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUNJUNGAN IBU MEMBAWA BALITA KE POSYANDU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANAH ABANG KABUPATEN PALI
Posyandu merupakan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan memperoleh pelayanan kesehatan dasar. Pemanfaatan pelayanan kesehatan erat kaitan nya dengan kualitas pelayanan. Terbatasnya dana untuk pembinaan dan pengembangan program posyandu, maka kunjungan terhadap posyandu mengalami penurunan Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Abang Kabupaten Pali terdapat 3 posyandu yaitu Posyandu Saudara kunjungannya 153 bayi dan balita, Posyandu Seruni gannya 160 bayi dan balita, Posyandu Harapan 136 bayi. Tujuan Umum: untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kunjungan ibu membawa balita ke posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Abang Kabupaten Pali Tahun 2020 .Jenis penelitian survei analitik dengan metode pendekatan cross sectional.Populasi adalah seluruh ibu yang mempunyai balita dan bertempat tinggal Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Abang Kabupaten Pali .Populasi adalah seluruh ibu yang mempunyai balita dan bertempat tinggal Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Abang Kabupaten Pali berjumlah 459 orang sampel 83 orang pengambilan sampel dengan metode Accidental Sampling. Pengolahan data: Editing, Coding,EntryCleaning .Analisa data Univariat dan bivariat. Hasil Penelitian Ada hubungan pengetahuan (p value. 0.000), pekerjaan (p value, 0.006) dan Jarak rumah ke Posyandu (p value,0.010) dengan kunjungan ibu membawa balita ke Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Abang Kabupaten Pali Tahun 2020. Kesimpulan semua variabel independen berhubungan secara bermakna dengan variabel dependen. Saran meningkatkan pengetahuan dengan penyuluhan, mengaktifkan kembali posyandu yang ada Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Abang Kabupaten Pali meningkatkan dan mengembangkan program-program yang dapat menarik minat ibu agar tertarik ke PosyanduPosyandu merupakan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan memperoleh pelayanan kesehatan dasar. Pemanfaatan pelayanan kesehatan erat kaitan nya dengan kualitas pelayanan. Terbatasnya dana untuk pembinaan dan pengembangan program posyandu, maka kunjungan terhadap posyandu mengalami penurunan Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Abang Kabupaten Pali terdapat 3 posyandu yaitu Posyandu Saudara kunjungannya 153 bayi dan balita, Posyandu Seruni gannya 160 bayi dan balita, Posyandu Harapan 136 bayi. Tujuan Umum: untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kunjungan ibu membawa balita ke posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Abang Kabupaten Pali Tahun 2020 .Jenis penelitian survei analitik dengan metode pendekatan cross sectional.Populasi adalah seluruh ibu yang mempunyai balita dan bertempat tinggal Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Abang Kabupaten Pali .Populasi adalah seluruh ibu yang mempunyai balita dan bertempat tinggal Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Abang Kabupaten Pali berjumlah 459 orang sampel 83 orang pengambilan sampel dengan metode Accidental Sampling. Pengolahan data: Editing, Coding,EntryCleaning .Analisa data Univariat dan bivariat. Hasil Penelitian Ada hubungan pengetahuan (p value. 0.000), pekerjaan (p value, 0.006) dan Jarak rumah ke Posyandu (p value,0.010) dengan kunjungan ibu membawa balita ke Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Abang Kabupaten Pali Tahun 2020. Kesimpulan semua variabel independen berhubungan secara bermakna dengan variabel dependen. Saran meningkatkan pengetahuan dengan penyuluhan, mengaktifkan kembali posyandu yang ada Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Abang Kabupaten Pali meningkatkan dan mengembangkan program-program yang dapat menarik minat ibu agar tertarik ke Posyand