Jurnal Infotel (Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom Purwokerto)
Not a member yet
392 research outputs found
Sort by
Pengaruh Code Rate untuk Komunikasi RBS Femtocell Frekuensi 47 GHz pada Tiang Lampu Jalan
Penelitian ini menjelaskan tentang sistem komunikasi radio base station femtocell yang diletakkan pada tiang lampu jalan. Frekuensi yang digunakan 47 GHz. Analisis pada penelitian ini terdiri dari variasi daya transmitter, dan variasi code rate dari signal-to-interference-plus-noise-ratio threshold 16 QAM. Daya transmitter yang digunakan 10 mW hingga 200 mW. Variasi code rate dari signal-to-interference-plus-noise-ratio threshold 16 QAM terdiri dari 1/2, 2/3, 3/4, dan 4/5. Sebagai hasil ditunjukkan hubungan antara daya transmitter dan code rate, dan hubungan antara persentase daerah tercakup pada lintasan mobile station dan code rate. Berdasarkan hubungan antara persentase daerah tercakup and code rate didapatkan semakin meningkat nilai code rate maka nilai persentase pada daerah tercakup semakin berkurangThis research describes about the communication systems at radio base station femtocell that placed at street lamp. The frequency that used was 47 GHz. The analysis in this research consists of transmitter power variation, and code rate variation from signal-to-interference-plus-noise-ratio threshold 16 QAM. The transmitter power that used was 10 mW until 200 mW. The code rate variation from signal-to-interference-plus-noise-ratio with threshold 16 QAM consists of 1/2, 2/3, 3/4, and 4/5. As the result showed relation between transmitter power and code rate, and relation between coverage area percentages at mobile station track and code rate. Based on the relation between coverage area percentages and code rate obtained the value of code rate increased then the percentage value of coverage area decrease
Analisis Performansi VLAN Pada Jaringan Software Defined Network (SDN)
Software defined network (SDN) adalah sebuah paradigma baru dalam dunia jaringan yang mampu memusatkan fungsi beberapa control plane pada layer 2 maupun di layer 3 secara terprogram, hal tersebut menyebabkan jaringan akan bersifat lebih fleksibel dan terskala. Dengan jumlah pertumbuhan pengguna internet yang semakin tinggi maka hal tersebut akan berbanding lurus terhadap kompleksitas dari jaringan internet itu sendiri. Sehingga paradigma SDN ini menjadi salah satu solusi yang muncul. Penerapan Virtual Local Area Network (VLAN) pada jaringan tradisional telah menjadi hal yang penting dan banyak diterapkan. Fungsi VLAN adalah untuk membatasi broadcast trafik dari suatu host, sehingga hanya dapat mengirim data kepada VLAN ID yang sama. Penelitian ini menganalisis performansi VLAN di jaringan SDN. Terjadi penurunan angka jumlah paket yang dapat terkirim (data transfer) dan nilai throughput pada sebuah VLAN ID karena terdapat pengaruh dari VLAN ID yang berbeda. Pada pengujian membandingkan VLAN dengan non VLAN over Netwok Functions Virtualization (NFV) didapatkan bahwa nilai data transfer dan throughput yang diperoleh pada VLAN lebih besar. Hasil analisis dari seluruh pengujian penambahan traffic terlihat bahwa kinerja VLAN pada SDN akan membebani kinerja jaringan pada VLAN yang berbedaSoftware defined network (SDN) adalah sebuah paradigma baru dalam dunia jaringan yang mampu memusatkan fungsi beberapa control plane pada layer 2 maupun di layer 3 secara terprogram, hal tersebut menyebabkan jaringan akan bersifat lebih fleksibel dan terskala. Dengan jumlah pertumbuhan pengguna internet yang semakin tinggi maka hal tersebut akan berbanding lurus terhadap kompleksitas dari jaringan internet itu sendiri. Sehingga paradigma SDN ini menjadi salah satu solusi yang muncul. Penerapan Virtual Local Area Network (VLAN) pada jaringan tradisional telah menjadi hal yang penting dan banyak diterapkan. Fungsi VLAN adalah untuk membatasi broadcast trafik dari suatu host, sehingga hanya dapat mengirim data kepada VLAN ID yang sama. Penelitian ini menganalisis performansi VLAN di jaringan SDN. Terjadi penurunan angka jumlah paket yang dapat terkirim (data transfer) dan nilai throughput pada sebuah VLAN ID karena terdapat pengaruh dari VLAN ID yang berbeda. Pada pengujian membandingkan VLAN dengan non VLAN over Netwok Functions Virtualization (NFV) didapatkan bahwa nilai data transfer dan throughput yang diperoleh pada VLAN lebih besar. Hasil analisis dari seluruh pengujian penambahan traffic terlihat bahwa kinerja VLAN pada SDN akan membebani kinerja jaringan pada VLAN yang berbed
Manajemen Sumber Daya Teknologi Informasi Laboratorium Komputer Menggunakan Balanced Scorecard (BSC) dan COBIT 5
Laboratorium komputer merupakan salah satu sarana pembelajaran yang berbasis Teknologi Informasi (TI) yang terdiri dari tiga sumber daya TI, yaitu software, hardware, dan brainware. Tidak adanya kesesuaian antara kemampuan hardware dengan spesifikasi hardware yang digunakan dapat menghambat pengguna (brainware) dalam melakukan praktikum dan pembelajaran di laboratorium. Selain itu, ketidaksesuaian tersebut juga mengakibatkan software berjalan lambat dan computer sering error sehingga praktikum menjadi terganggu dan berjalan tidak lancar. Untuk mengetahui kesesuaian antar sumber daya TI yang ada di laboratorium dibutuhkan proses pengukuran manajemen sumber daya TI yang ada saat ini. Skala likert menjadi salah satu metode untuk mengukur kinerja software, hardware, dan tata kelola laboratorium saat ini. Hasil pengukuran kemudian dievaluasi menggunakan framework Balance Scorecard (BSC) dengan melalui beberapa tahapan dan penyelarasan strategi TI. Setelah mengetahui hasil evaluasi dan kendala-kendala apa saka yang ada dalam melakukan pengelolaan maka langkah berikutnya adalah menentukan bagaimana cara memperbaiki dan melakukan peningkatan tata kelola TI. COBIT 5 akan menjadi framework pelengkap untuk memperbaiki sekaligus memprediksi pengembangan manajemen sumber daya TI. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa integrase antara COBIT 5 dengan Balance Scorecard (BSC) memberikan kemampuan dalam melakukan pengukuran tata kelola laboratorium serta memberikan kemampuan untuk meningkatkan pelayanan secara kontinyu.Laboratorium komputer merupakan salah satu sarana pembelajaran yang berbasis Teknologi Informasi (TI) yang terdiri dari tiga sumber daya TI, yaitu software, hardware, dan brainware. Tidak adanya kesesuaian antara kemampuan hardware dengan spesifikasi hardware yang digunakan dapat menghambat pengguna (brainware) dalam melakukan praktikum dan pembelajaran di laboratorium. Selain itu, ketidaksesuaian tersebut juga mengakibatkan software berjalan lambat dan computer sering error sehingga praktikum menjadi terganggu dan berjalan tidak lancar. Untuk mengetahui kesesuaian antar sumber daya TI yang ada di laboratorium dibutuhkan proses pengukuran manajemen sumber daya TI yang ada saat ini. Skala likert menjadi salah satu metode untuk mengukur kinerja software, hardware, dan tata kelola laboratorium saat ini. Hasil pengukuran kemudian dievaluasi menggunakan framework Balance Scorecard (BSC) dengan melalui beberapa tahapan dan penyelarasan strategi TI. Setelah mengetahui hasil evaluasi dan kendala-kendala apa saka yang ada dalam melakukan pengelolaan maka langkah berikutnya adalah menentukan bagaimana cara memperbaiki dan melakukan peningkatan tata kelola TI. COBIT 5 akan menjadi framework pelengkap untuk memperbaiki sekaligus memprediksi pengembangan manajemen sumber daya TI. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa integrase antara COBIT 5 dengan Balance Scorecard (BSC) memberikan kemampuan dalam melakukan pengukuran tata kelola laboratorium serta memberikan kemampuan untuk meningkatkan pelayanan secara kontiny
Analisis Unjuk Kerja Rancangan Jaringan Fiber To The Home Area Jakarta Garden City dengan Metode Eye-Diagram
Dalam tulisan ini, kami merancang jaringan akses fiber to the home berbasis gigabit passive optical network (FTTH-GPON) pada area Jakarta Garden City. Pemodelan rancangan menggunakan GoogleEarth dan OptiSystem. Rancangan yang kami usulkan menggunakan kecepatan downstream 2,4 Gbps dan upstream 1,2Gbps. Kami mengamati kesesuaian unjuk kerja rancangan terhadap standar FTTH-GPON yang dikeluarkan oleh ITU-T. Kami menggunakan metode perhitungan link power budget dan risetime budget dalam perancangan jaringan FTTH. Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan link budget sebesar 22 dB dengan margin daya sebesar 3 dB, risetime budgetd downstream sebesar 0,27 ns, dan risetime upstream sebesar 0,25 ns. Pengukuran unjuk kerja rancangan menggunakan metode eye-diagram yang menampilkan jitter, distorsi, signal-to-noise ratio (SNR), nilai Q-factor dan nilai BER. Pengukuran unjuk kerja dengan menggunakan power masukan 5 dBm dan panjang gelombang 1490 nm menghasilkan jitter sebesar 16,7 ps, distorsi sebesar 1,07µ a.u., SNR sebesar 6,87, Q Factor sebesar 21,249 dan BER sebesar 1,9 x 10-99. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis terhadap hasil tersebut, rancangan jaringan FTTH pada area Jakarta Garden City yang kami usulkan telah memenuhi standar ITU-T untuk penggunaan layanan internet kecepatan tinggi.In this paper, we introduced a fiber to the home network access based on gigabit passive optical network (FTTH-GPON) in Jakarta Garden City Area. We proposed a design using google earth and optisystem. The proposed system used 2.4 Gbps bitrate for downstream and 1.2 Gbps bitrate for upstream. We looked for suitability of the proposed design with the ITU-T FTTH-GPON standard. We used the link power budget and the risetime budget method to design the access network. Based on calculation, we got the value of link power budget equal to 22 dB, the power margin equal to 3 dB and the risetime budget equal to 0.27 ns for downstream and 0.25 ns for upstream. To analyze the system performance, we used eye-diagram method to get jitter, distortion, signal to noise ratio (SNR), Q-factor, and BER. Based on the experimental result with power 5dBm and wavelenght 1490nm, we got the jitter 16.7 ps, the distortion 1.07µ a.u., the SNR 6.87, the Q-factor 21.249 and the BER 1.9 x 10-99. The result reveal that in all cases, the Jakarta Garden City FTTH-GPON design met with ITU-T standard
Analisis Pengaturan Sistem Catu Daya Pada Satelit Nano
Keberhasilan suatu misi satelit nano sangat bergantung kepada keandalan Electrical Power System (EPS) untuk menjaga subsistem-subsistem pada satelit nano agar tetap berfungsi. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah pengendalian distribusi daya yang efektif. Penelitian ini menjelaskan tentang bagaimana cara pendistribusian daya listrik yang efektif dan sesuai dengan kondisi satelit nano ketika terkena sinar matahari atau ketika kondisi gelap pada saat mengorbit diluar angkasa. Untuk menjelaskan hal tersebut dilakukan simulasi dan analisis pada perancangan modul power management EPS yang terdiri dari rangkaian boost converter LT3757 dan battery charger IC LT3652. Hasil simulasi menunjukan bahwa pada saat kondisi terang sistem akan mencatu daya beban menggunakan daya masukan panel surya yang sebelumnya telah melewati komponen boost converter (12 Volt), sekaligus mengisi daya batere hingga terisi penuh (7,4 Volt). Tetapi pada saat kondisi gelap sistem akan mencatu beban dengan daya yang dihasilkan oleh batere (7,4 Volt).The success of a nanosatellite mission is depend on the reliability of the Electrical Power System (EPS) to ensure the subsystems on the nanosatellite working properly. Therefore, an effective power distribution control is required. This research will explain how to distribute electrical power effectively to the subsystems according to the condition of the nanosatellite (sunlight or eclipse). To illustrate this, a simulation and analysis of the EPS power management module design consisting the LT3757 boost converter and LT3652 battery charger were performed. From the simulation results, it will be seen that when the nanosatellite is exposed to the sun, the system will distribute the power to the load using the input power from the panel surya that has passed the boost converter component (12 Volt), while charging the battery until it’s fully charged (7,4 Volt). But during the eclipse phase the system will supply the load with the power generated by the battery (7,4 Volt
Perancangan dan Implementasi Sistem Informasi Akuntansi Berbasis Android
Toko Maestro Accessories Duri membutuhkan sebuah perangkat lunak yang dapat mencatat kegiatan toko serta menyajikan informasi keuangan yang dapat diakses hanya dengan menggunakan smartphone. Maka dari itu, penelitian ini dibuat untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan membangun sebuah sistem informasi akuntansi (SIA) berbasis Android. SIA ini dibangun menggunakan Android Studio sebagai integrated development environment (IDE), dan MySQL sebagai database. Pengujian menggunakan teknik user acceptance testing (UAT) yang dilakukan oleh pemilik toko, dimana pada UAT tahap pertama menghasilkan persentase kepuasan sebesar 76,9% dengan indikator sebanyak 52 butir uji. Lalu, pada UAT tahap kedua diperoleh persentase kepuasan sebesar 98,1% dengan 15 butir uji, serta UAT tahap ketiga diperoleh persentase kepuasan sebesar 100% yang diperoleh dari 3 butir uji. Penelitian ini dianalisa menggunakan teknik wawancara yang dilakukan sebanyak dua kali. Wawancara pertama dilakukan dengan narasumber seorang staf pengajar program studi Akuntansi di Politeknik Caltex Riau guna memperoleh informasi mengenai kelayakan SIA Android bernama Maestro yang dibangun dari sudut pandang independen dan berkompetensi di bidang akuntansi. Selanjutnya, wawancara kedua dengan narasumber yaitu pemilik toko Maestro Accessories dengan tujuan untuk memperoleh informasi mengenai kinerja aplikasi Maestro dari sudut pandang klien.Maestro Accessories Duri requires a software that can record shop activities and presents financial information accessed quickly and accurately using smartphone. Therefore, this study is made to solve the problem by building an accounting information system (AIS) based on Android. The AIS is built by using Android Studio as an integrated development environment (IDE), and MySQL as database. The testing of this study is user acceptance testing (UAT) method done by shop owner, where the first stage of UAT results 76.9% in satisfaction with 52 testing units as success indicator. The second stage of UAT tells there are 15 testing units which have 98.1% of success, and the third one has 3 testing units with 100% in satisfaction. This study is analyzed by using interview method which is two times done. The first interview is done with a teaching staff of accountancy study program in Caltex Polytechnic of Riau as interviewee which aims to obtain information about feasibility of Android AIS Maestro that is from an independent individual’s perspective who has competence in accounting. The second interview is held to find information about performance of the software from client’s point of view who is the owner of Maestro Accessories
Eyeglass Frame Identification Using Pixel Measurement Method and k-NN Algorithm
Kacamata yang tersedia saat ini memiliki beragam jenis dan bentuk. Bentuk frame kacamata terdiri dari rectangle, square, oval, aviator, round, geometric, dan wrap. Penelitian ini ditujukan untuk pendekatan optisien mengenal bentuk kacamata. Pemanfaatan citra digital menjadi bagian yang penting dalam penelitian ini. Citra kacamata diambil dari IP Camera dan internet. Gambar diproses ke dalam Grayscale, lalu diproses ke citra Biner untuk mendapatkan pola tinggi dan lebar kacamata. Lebar dan tinggi digunakan dalam melakukan ekstraksi ciri. Proses tersebut menghasilkan 6 atribut, 3 rasio tinggi kacamata dan 3 rasio lebar kacamata. Ke-6 atribut tersebut diklasifikasikan dengan menggunakan algortima k-NN. Berdasarkan pengujian yang dilakukan, akurasi identifikasi mencapai 58%-71%Eyeglasses have a variety of types and shapes recently. The shape of the eyeglasses frames are rectangular, square, oval, pilot, round, geometric, and wrap. This study proposed an approach them to recognize the shape of eyeglasses. The digital image becomes an important part of this research. Eyeglasses image is taken from IP Camera and other sources (internet). The image should be processed into grayscale, then convert it to the binary image to get the height and width of the eyeglasses. The height and width were used to perform feature extraction. It generates 6 attributes, 3 ratios of glasses height and 3 ratios of eyeglasses width. That six attributes are classified by the k-NN algorithm. Based on the tests performed the accuracy reaches around 58% - 71
Perancangan Dan Analisis Antena Mikrostrip Mimo Circular Pada Frekuensi 2.35 GHz Untuk Aplikasi LTE
LTE (long Term Evolution) merupakan teknologi komunikasi wireless generasi keempat yang saat ini sedang mengalami perkembangan. Salah satu perangkat yang sangat dibutuhkan pada teknologi tersebut adalah antenna. Teknik yang digunakan adalah teknik MIMO. Teknik MIMO menggunakan multiantena baik di sisi transmitter maupun di sisi receiver dengan koefisien korelasi di bawah 0.2. Untuk menghasilkan nilai koefisien korelasi di bawah 0.2, antena menggunakan ?/2 untuk jarak antar dua antena. Perancangan dan realisasi antena pada skripsi ini dipergunakan untuk aplikasi LTE yang bekerja pada frekuensi 2.3 GHz sampai 2.4 GHz. Simulasi antena menunjukkan frekuensi kerja yang direncanakan yaitu antara 2.3 GHz – 2.4 GHz, memiliki Return Loss -38.582 dB dan VSWR 1.0238 pada frekuensi tengah 2.350 MHz, gain sebesar 4.332 dBi. Hasil pengukuran antena satu terdapat pergeseran frekuensi dari 2.300 MHz - 2.400 MHz menjadi 2.310 - 2.384 MHz, antena  ini memiliki  Return  Loss -35.476 dB dan VSWR 1.034. Bandwidth 74 Mhz. Untuk antena dua terdapat pergeseran frekuensi menjadi 2.310 - 2.382 MHz, dengan Return  Loss -33.637 dB  dan VSWR  1.042. Bandwidth 72 MHz. Pada frekuensi 2.35 GHz gain sebesar 8 dBi dengan pola radiasi unidirectional dan polarisasi elips. Dari perancangan dan analisis tersebut, maka antena ini dapat digunakan sebagai antena teknologi LTE.LTE (long Term Evolution) merupakan teknologi komunikasi wireless generasi keempat yang saat ini sedang mengalami perkembangan. Salah satu perangkat yang sangat dibutuhkan pada teknologi tersebut adalah antenna. Teknik yang digunakan adalah teknik MIMO. Teknik MIMO menggunakan multiantena baik di sisi transmitter maupun di sisi receiver dengan koefisien korelasi di bawah 0.2. Untuk menghasilkan nilai koefisien korelasi di bawah 0.2, antena menggunakan ?/2 untuk jarak antar dua antena. Perancangan dan realisasi antena pada skripsi ini dipergunakan untuk aplikasi LTE yang bekerja pada frekuensi 2.3 GHz sampai 2.4 GHz. Simulasi antena menunjukkan frekuensi kerja yang direncanakan yaitu antara 2.3 GHz – 2.4 GHz, memiliki Return Loss -38.582 dB dan VSWR 1.0238 pada frekuensi tengah 2.350 MHz, gain sebesar 4.332 dBi. Hasil pengukuran antena satu terdapat pergeseran frekuensi dari 2.300 MHz - 2.400 MHz menjadi 2.310 - 2.384 MHz, antena  ini memiliki  Return  Loss -35.476 dB dan VSWR 1.034. Bandwidth 74 Mhz. Untuk antena dua terdapat pergeseran frekuensi menjadi 2.310 - 2.382 MHz, dengan Return  Loss -33.637 dB  dan VSWR  1.042. Bandwidth 72 MHz. Pada frekuensi 2.35 GHz gain sebesar 8 dBi dengan pola radiasi unidirectional dan polarisasi elips. Dari perancangan dan analisis tersebut, maka antena ini dapat digunakan sebagai antena teknologi LTE
Analisis Penerapan Teknik AMC dan AMS Untuk Peningkatan Kapasitas Kanal Sistem MIMO-SOFDMA
Kapasitas kanal adalah parameter penting sistem komunikasi nirkabel. Suatu sistem komunikasi diharapkan mampu menyediakan kapasitas kanal yang tinggi. Sistem dengan Multipe Input Multiple Output (MIMO) antenna mampu menyediakan kapasitas kanal yang tinggi. Pada penelitian ini, kinerja sistem MIMO diamati dengan penerapan Scalable Orthogonal Frequency Division Multiple Access (SOFDMA). Teknik Adaptive Modulation and Coding (AMC) serta Adaptive MIMO Switching (AMS) juga diterapkan pada sistem ini. Jumlah subcarrier yang digunakan dalam SOFDMA tersebut yaitu 128 dan 2048. Kinerja sistem yang diamati yaitu kapasitas kanal dengan variasi kecepatan pengguna. Variasi pergerakan pengguna meliputi 0 km/jam dan 120 km/jam. Kapasitas kanal sistem dengan kombinasi teknik AMC dan AMS dapat mencapai 419,5115 Mbps saat kecepatan pengguna sebesar 0 km/jam. Saat kecepatan pengguna sebesar 120 km/jam, kapasitas kanal sistem dapat mencapai 23,9820 MbpsKapasitas kanal adalah parameter penting sistem komunikasi nirkabel. Suatu sistem komunikasi diharapkan mampu menyediakan kapasitas kanal yang tinggi. Sistem dengan Multipe Input Multiple Output (MIMO) antenna mampu menyediakan kapasitas kanal yang tinggi. Pada penelitian ini, kinerja sistem MIMO diamati dengan penerapan Scalable Orthogonal Frequency Division Multiple Access (SOFDMA). Teknik Adaptive Modulation and Coding (AMC) serta Adaptive MIMO Switching (AMS) juga diterapkan pada sistem ini. Jumlah subcarrier yang digunakan dalam SOFDMA tersebut yaitu 128 dan 2048. Kinerja sistem yang diamati yaitu kapasitas kanal dengan variasi kecepatan pengguna. Variasi pergerakan pengguna meliputi 0 km/jam dan 120 km/jam. Kapasitas kanal sistem dengan kombinasi teknik AMC dan AMS dapat mencapai 419,5115 Mbps saat kecepatan pengguna sebesar 0 km/jam. Saat kecepatan pengguna sebesar 120 km/jam, kapasitas kanal sistem dapat mencapai 23,9820 Mbp
Identifikasi Tanda Tangan Berdasarkan Grid Entropy Menggunakan Multi Layer Perceptron
Tanda tangan merupakan salah satu bukti pengesahan dokumen yang sering digunakan. Pentingnya mengenal bentuk tanda tangan seseorang diperlukan untuk melakukan verifikasi terhadap dokumen apakah benar yang memberikan tanda tangan adalah orang yang bersangkutan atau orang lain. Pada penelitian ini penulis mendesain sistem identifikasi tanda tangan dengan fitur yang digunakan adalah nilai entropy yang diambil dari grid image (sub-citra) suatu citra tanda tangan. Model pelatihan dan pengujian menggunakan multi layer perceptron dan cross validation dengan tiga ukuran grid (4x4, 8x8, dan 16x16) dan dua jenis representasi citra (citra biner dan citra outline). Hasil pengujian terbaik adalah untuk pengujian ukuran grid sebanyak 8x8 dan menggunakan citra outline yaitu dengan tingkat akurasi sebesar 97.78%, nilai korelasi 0.981, dan nilai kappa 0.977.The signature is one frequently proof validation used on documents. Recognition of signature is required to verify document whether the signature is gived by concerned person or others. In this study the authors design a signature identification system based on the value of entropy that taken from the grid image of an image of a signature. Training and testing model using a multi layer perceptron and cross validation by three grid sizes (4x4, 8x8, and 16x16) and two types of image representation (binary image and the image of the outline). The best test results obtained on the grid size 8x8 using outline image that is the accuracy rate of 97.78%, the value of the correlation 0.981, and a kappa value of 0.977