Jurnal Infotel (Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom Purwokerto)
Not a member yet
392 research outputs found
Sort by
Design and Analysis of Trash Monitoring System Prototype Based On Internet of Things (IoT) Using MQTT Protocol
On this research, Internet of Things (IoT) as an advanced technology is used to monitor the height of trash from a trash can in order to give notification whether the height of trash is already reaching the maximum height limit or not. To support those needs, we used NodeMCU as a microcontroller, ultrasonic sensor, MQTT as IoT protocol, and Android to display the data. After we did the system performance test, we had the biggest result of end-to-end delay which was 2.06875 seconds when the packet delivery was set to 1000 ms with 3 active nodes and the smallest result of end-to-end delay which was 0.26055 seconds when the packet delivery was set to 100 ms with 1 active node. The biggest result of throughput was 597.17 Bytes/s when the packet delivery was set to 100 ms with 1 active node and the smallest result of throughput was 75.86 Bytes/s when the packet delivery was set to 1000 ms with 3 active nodes. The biggest result of availability and reliability was 99.905% when the packet delivery was set to 1000 ms and the smallest result was 99.833% when the packet delivery was set to 100 ms.On this research, Internet of Things (IoT) as an advanced technology is used to monitor the height of trash from a trash can in order to give notification whether the height of trash is already reaching the maximum height limit or not. To support those needs, we used NodeMCU as a microcontroller, ultrasonic sensor, MQTT as IoT protocol, and Android to display the data. After we did the system performance test, we had the biggest result of end-to-end delay which was 2.06875 seconds when the packet delivery was set to 1000 ms with 3 active nodes and the smallest result of end-to-end delay which was 0.26055 seconds when the packet delivery was set to 100 ms with 1 active node. The biggest result of throughput was 597.17 Bytes/s when the packet delivery was set to 100 ms with 1 active node and the smallest result of throughput was 75.86 Bytes/s when the packet delivery was set to 1000 ms with 3 active nodes. The biggest result of availability and reliability was 99.905% when the packet delivery was set to 1000 ms and the smallest result was 99.833% when the packet delivery was set to 100 ms
Designing an Optimization of Orientation System toward Moving Object in 3-Dimensional Space Using Genetic Algorithm
This research offers a scheme of orientation system toward moving object in 3-dimensional space that using Stereo Vision Camera. The system benefits in giving an alternative solution in projecting practically without manual identification by conventional measuring device. The result of the projection in the system is in the form of coordinate position information (x, y, z), the length, the width, and the height of the object detected. The output displayed in the real-time digital image with 3-dimensional modeling. In the process of the object identification, there was a stage when an image was converted from colored image to binary image. But the conversion used the threshold method which was considered less efficient when an object moved. As consequence, the new adaptive method in solving the problem was needed. Genetic Algorithm was proposed as the optimization method because it was considered suitable with the emerging problems. In the optimization process, genetic algorithm was in a task of searching process and determining the threshold value as the process of creating binary image. The result shows an increased accuracy in the identification process after the system had been optimized by the Genetic Algorithm (GA).This research offers a scheme of orientation system toward moving object in 3-dimensional space that using Stereo Vision Camera. The system benefits in giving an alternative solution in projecting practically without manual identification by conventional measuring device. The result of the projection in the system is in the form of coordinate position information (x, y, z), the length, the width, and the height of the object detected. The output displayed in the real-time digital image with 3-dimensional modeling. In the process of the object identification, there was a stage when an image was converted from colored image to binary image. But the conversion used the threshold method which was considered less efficient when an object moved. As consequence, the new adaptive method in solving the problem was needed. Genetic Algorithm was proposed as the optimization method because it was considered suitable with the emerging problems. In the optimization process, genetic algorithm was in a task of searching process and determining the threshold value as the process of creating binary image. The result shows an increased accuracy in the identification process after the system had been optimized by the Genetic Algorithm (GA)
Verifikasi Tanda Tangan Asli Atau Palsu Berdasarkan Sifat Keacakan (Entropi)
Tanda tangan merupakan penanda atau identitas yang ada pada suatu dokumen. Tanda tangan mempunyai peranan penting dalam memverifikasi dan melegalisasi dokumen. Tujuan dari penelitian ini menerapkan teknik pengolahan citra pada tanda tangan dan mengidentifikasi pola citra tanda tangan berdasarkan nilai entropi dan waktu perhitungan nilai entropi. Tahapan penelitian meliputi pengambilan data responden berupa tanda tangan citra analog, berikutnya akusisi citra tanda tangan digital dengan cara memindai tanda tangan tersebut, tahap selanjutnya mengkonversi citra tangan tangan digital dari true color menjadi binary. Tahap akhir melakukan perhitungan nilai entropi dan mencatat waktu perhitungan nilai entropi dengan menggunakan software matlab dan dilihat sebaran nilai entropi dari masing - masing citra tanda tangan. Sebaran nilai entropi pada tanda tangan asli mempunyai error 3,31% dari total responden (30 responden). Nilai error ini merupakan nilai entropi yang keluar dari kelompoknya. Waktu perhitungan nilai entropi pada tanda tangan palsu jika coretan atau piksel pada citra lebih besar dari citra tanda tangan asli maka waktu perhitungan nilai entropinya lebih lama dibandingkan dengan citra tanda tangan asli.Tanda tangan merupakan penanda atau identitas yang ada pada suatu dokumen. Tanda tangan mempunyai peranan penting dalam memverifikasi dan melegalisasi dokumen. Tujuan dari penelitian ini menerapkan teknik pengolahan citra pada tanda tangan dan mengidentifikasi pola citra tanda tangan berdasarkan nilai entropi dan waktu perhitungan nilai entropi. Tahapan penelitian meliputi pengambilan data responden berupa tanda tangan citra analog, berikutnya akusisi citra tanda tangan digital dengan cara memindai tanda tangan tersebut, tahap selanjutnya mengkonversi citra tangan tangan digital dari true color menjadi binary. Tahap akhir melakukan perhitungan nilai entropi dan mencatat waktu perhitungan nilai entropi dengan menggunakan software matlab dan dilihat sebaran nilai entropi dari masing - masing citra tanda tangan. Sebaran nilai entropi pada tanda tangan asli mempunyai error 3,31% dari total responden (30 responden). Nilai error ini merupakan nilai entropi yang keluar dari kelompoknya. Waktu perhitungan nilai entropi pada tanda tangan palsu jika coretan atau piksel pada citra lebih besar dari citra tanda tangan asli maka waktu perhitungan nilai entropinya lebih lama dibandingkan dengan citra tanda tangan asli
Penerapan Kartu Elektronis Berbasis Near Field Communication (NFC) Pada Sistem Keamanan Pintu Rumah Cerdas
Berdasarkan data laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015 bahwa angka kejadian tindak pencurian di Indonesia sampai tahun 2014 masih tergolong tinggi. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini adalah kurangnya penerapan sistem keamanan pintu elektronis di rumah-rumah penduduk. Penggunaan kartu elektronis berbasis Near Field Communication (NFC) menjadi pilihan yang sesuai karena teknologi NFC memberikan jaminan keamanan yang lebih baik untuk teknologi yang sejenis dengan konsumsi daya yang rendah. Proses otentifikasi sistem keamanan pintu elektronis dilakukan dengan membaca kode unik dari kartu NFC Tag yang akan dicocokkan dengan kode unik kartu NFC di basis data sistem. Jika hasil otentifikasi telah benar, Arduino sebagai pusat pengendali akan mengaktifkan solenoid lock door sehingga pintu akan terbuka. Hasil pengujian sistem menunjukkan bahwa jarak pembacaan sesungguhnya dari kartu NFC Tag sebesar 7 cm dengan jangkauan sudut pembacaan antara 0o - 85o. Tingkat keberhasilan sistem dalam melakukan proses otentifikasi sebesar 100%.Berdasarkan data laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015 bahwa angka kejadian tindak pencurian di Indonesia sampai tahun 2014 masih tergolong tinggi. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini adalah kurangnya penerapan sistem keamanan pintu elektronis di rumah-rumah penduduk. Penggunaan kartu elektronis berbasis Near Field Communication (NFC) menjadi pilihan yang sesuai karena teknologi NFC memberikan jaminan keamanan yang lebih baik untuk teknologi yang sejenis dengan konsumsi daya yang rendah. Proses otentifikasi sistem keamanan pintu elektronis dilakukan dengan membaca kode unik dari kartu NFC Tag yang akan dicocokkan dengan kode unik kartu NFC di basis data sistem. Jika hasil otentifikasi telah benar, Arduino sebagai pusat pengendali akan mengaktifkan solenoid lock door sehingga pintu akan terbuka. Hasil pengujian sistem menunjukkan bahwa jarak pembacaan sesungguhnya dari kartu NFC Tag sebesar 7 cm dengan jangkauan sudut pembacaan antara 0o - 85o. Tingkat keberhasilan sistem dalam melakukan proses otentifikasi sebesar 100%
Perbandingan Kemampuan Embedded Computer dengan General Purpose Computer untuk Pengolahan Citra
Perkembangan teknologi komputer membuat pengolahan citra saat ini banyak dikembangkan untuk dapat membantu manusia di berbagai bidang pekerjaan. Namun, tidak semua bidang pekerjaan dapat dikembangkan dengan pengolahan citra karena tidak mendukung penggunaan komputer sehingga mendorong pengembangan pengolahan citra dengan mikrokontroler atau mikroprosesor khusus. Perkembangan mikrokontroler dan mikroprosesor memungkinkan pengolahan citra saat ini dapat dikembangkan dengan embedded computer atau single board computer (SBC). Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan embedded computer dalam mengolah citra dan membandingkan hasilnya dengan komputer pada umumnya (general purpose computer). Pengujian dilakukan dengan mengukur waktu eksekusi dari empat operasi pengolahan citra yang diberikan pada sepuluh ukuran citra. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan bahwa optimasi waktu eksekusi embedded computer lebih baik jika dibandingkan dengan general purpose computer dengan waktu eksekusi rata-rata embedded computer adalah 4-5 kali waktu eksekusi general purpose computer dan ukuran citra maksimal yang tidak membebani CPU terlalu besar untuk embedded computer adalah 256x256 piksel dan untuk general purpose computer adalah 400x300 piksel.The improvements in computer technology make image processing developed widely to help people in various areas of work. However, some work canâ??t be developed with image processing because it doesnâ??t support the use of computers and it encourages the development of image processing with a microcontroller or special microprocessor. The improvement of microcontrollers and microprocessors features currently allows image processing can be developed with embedded computers. This study aims to test the performance of embedded computers for image processing and then compare the results with the performance of general purpose computer. The result shows that the optimized execution time of embedded computer is better than general purpose computer with the comparison of average execution time of embedded computer is 4-5 times slower than the general purpose computer and the maximal image size that does not make the CPU overload for embedded computer is 256x256 pixel and for general purpose computer is 400x300 pixels
Analisis Koeksistensi Jaringan LTE Non Lisensi dan Wi-Fi Pada Frekuensi 5GHz
Untuk memenuhi permintaan kebutuhan trafik layanan internet yang akan terjadi pada 2020, penggunaan spektrum harus dilakukan secara maksimal. Pemanfaatan spektrum frekuensi non-lisensi oleh teknologi LTE-Unlicensed atau LTE Non-Lisensi dapat memenuhi permintaan kebutuhan trafik. Tetapi spektrum frekuensi non-lisensi sudah terlebih dahulu digunakan oleh teknologi Wi-Fi, maka teknologi LTE Non-Lisensi harus dapat beradapatasi dan berkoeksistensi dengan Wi-Fi. Penelitian ini akan membahas jarak minimum yang dibutuhkan oleh eNodeB LTE Non-Lisensi dan Access Point Wi-Fi agar kedua teknologi ini dapat berkoeksistensi dengan kondisi indoor LOS dan NLOS serta outdoor LOS dan NLOS. Koeksistensi ditinjau dari nilai ACIR antara kedua teknologi tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, jarak minimum untuk indoor adalah 16m-35m dengan kondisi LOS dan outdoor adalah 51m-199m dengan kondisi LOS. Nilai SINR threshold adalah 22dB untuk LTE Non-Lisensi dan 19,7dB untuk Wi-Fi. Dari hasil simulasi didapatkan nilai rata-rata CINR untuk outdoor adalah 15dB sedangkan untuk indoor nilai SIR rata-rata adalah 0,62dB.By the 2020 the traffic internet demand will be increasing, so that the utilization of spectrum frequency should be maximize and use wisely. LTE-U which is using unlicensed spectrum frequency may be option to fulfil the demand of the internet traffic. Unfortunately it has to adapt and coexistence with Wi-Fi which already exist in unlicensed spectrum frequency. In this research, will talk about the minimum distance needed so that LTE-U eNodeB and Wi-Fi can be coexistence in indoor and outdoor deployment LOS and NLOS condition. The coexistence analyze in ACIR value. The result, minimum distance needed is in range 16 m-35 m for indoor deployment. In the other hand 51 m-199 m for outdoor deployment. With software simulation in 51 m distance the mean CINR value is 15 dB, and for 16 m distance the mean SIR value is 0.62 dB
Analisis Performansi Perubahan RAW Slot Pada Standar IEEE 802.11ah
Meningkaatnya kebutuhan dan permintaan layanan yang beragam oleh user untuk dapat bertukar dan mendapatkan informasi secara real time, reliable, dan fleksibel menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi oleh teknologi komunikasi yang ada saat ini. WLAN pada standar IEEE 802.11 merupakan salah satu teknologi wireless yang dapat menjadi solusi dari permasalahan tersebut. Memiliki cakupan area komunikasi yang tidak terlalu luas, yaitu antara 20-70 meter saja, hanya mampu melayani hingga 2007 stasiun, dan memiliki konsumsi energi yang cukup besar, menyebabkan beberapa sistem yang terdapat pada WLAN pada standar IEEE 802.11 kurang bekerja secara maksimal. Dengan beberapa kekurangan tersebut, maka WLAN pada standar IEEE 802.11 mengenalkan task group baru yang disebut IEEE 802.11ah. IEEE 802.11ah adalah standar WLAN baru yang bekerja pada spektrum frekuensi 900 MHz, cakupan area komunikasi yang mencapai 1 kilometer, mampu melayani 8192 stasiun dengan hierarki AID yang baru, memiliki konsumsi energi yang lebih rendah dan mampu meningkatkan nilai throughput dengan mekanisme RAW. Penelitian ini melakukan perubahan jumlah RAW slot pada IEEE 802.11ah untuk melihat bagaimana pengaruhnya terhadap performansi jaringan. Pada penelitian ini didapatkan bahwa perubahan jumlah RAW slot berpengaruh terhadap performansi jaringan, dalam hal ini adalah throughput, average delay, packet delivery ratio, dan energy consumption.The increasing needs and demands of diverse services by the users to be able to exchange and obtain information in real time, reliable, and flexible to be one of the problems faced by existing communication technology. WLAN on the IEEE 802.11 standard is one of the wireless technologies that can be the solution to the problem. It has a relatively small area of communication that is between 20-70 meters only, only able to serve up to 2007 stations, and has considerable energy consumption, causing some systems contained in the WLAN in IEEE 802.11 standard less work maximally. With these shortcomings, the WLAN on the IEEE 802.11 standard introduces a new task group called IEEE 802.11ah. IEEE 802.11ah is a new WLAN standard working on the 900 MHz frequency spectrum, a 1 kilometer communications coverage area, capable of serving 8192 stations with new AID hierarchies, has lower energy consumption, and can increase throughput value by the RAW mechanism. This study will make changes to the number of RAW slots in the IEEE 802.11ah to see how they affect the network performance. In this research, it is found that the change of RAW slot number influence to network performance, in this case, is throughput, average delay, packet delivery ratio, and energy consumptio
Kajian Aspek Security pada Jaringan Informasi dan Komunikasi Berbasis Visible Light Communication
Cahaya tampak dapat dimanfaatkan sebagai media informasi ataupun komunikasi, teknologi ini dikenal dengan istilah Visible Light Communication yang menawarkan beberapa keunggulan dibandingkan komunikasi nirkabel lainnya seperti RF dan IR. Yakni cakupan bandwidth lebih lebar dan bebas lisensi, aman bagi kesehatan manusia dan tidak terganggu interferensi elektromagnetik. Sistem VLC terdiri atas tiga bagian besar, yakni bagian transmitter dengan menggunakan devais LED, kanal yang berupa ruang bebas (free space) dan receiver dengan menggunakan devais photodetector atau image camera. Penerapan VLC berlandaskan pedoman IEEE 802.15.17 yang mana baru dirancang dalam waktu 5 tahun belakangani ini (sejak tahun 2009), meliputi meliputi layer fisik (physical layer) dan layer MAC (medium access control).  Sebagaimana teknologi komunikasi pada umumnya, VLC juga menyediakan akses security yang dibahas pada bagian layer MAC. Namun pada praktiknya masih belum begitu masif dilakukan oleh para peneliti. Hal ini sangat wajar karena mengingat VLC merupakan teknologi yang sedang dalam tahap pengembangan yang menjadikan penelitian VLC umumnya berfokus pada 'bagaimana meningkatkan speed dari keterbatasan komponen-komponen pembangun (IC, photodiode, LED, transistor, dll) yang tersedia saat ini'. Tantangan teknologi VLC selain target peningkatan kecepatan bit-rate, mobility communication, mengurangi interference noise, menyediakan layanan multi-acces juga salah satunya adalah isu security. Makalah ini merupakan studi literature (review paper) yang didapatkan dari dokumen-dokumen hasil peneltian baik di jurnal dan conference terkait dengan praktik-praktik security VLC yang pernah dilakukan dengan skema indoor maupun outdoor.Cahaya tampak dapat dimanfaatkan sebagai media informasi ataupun komunikasi, teknologi ini dikenal dengan istilah Visible Light Communication yang menawarkan beberapa keunggulan dibandingkan komunikasi nirkabel lainnya seperti RF dan IR. Yakni cakupan bandwidth lebih lebar dan bebas lisensi, aman bagi kesehatan manusia dan tidak terganggu interferensi elektromagnetik. Sistem VLC terdiri atas tiga bagian besar, yakni bagian transmitter dengan menggunakan devais LED, kanal yang berupa ruang bebas (free space) dan receiver dengan menggunakan devais photodetector atau image camera. Penerapan VLC berlandaskan pedoman IEEE 802.15.17 yang mana baru dirancang dalam waktu 5 tahun belakangani ini (sejak tahun 2009), meliputi meliputi layer fisik (physical layer) dan layer MAC (medium access control).  Sebagaimana teknologi komunikasi pada umumnya, VLC juga menyediakan akses security yang dibahas pada bagian layer MAC. Namun pada praktiknya masih belum begitu masif dilakukan oleh para peneliti. Hal ini sangat wajar karena mengingat VLC merupakan teknologi yang sedang dalam tahap pengembangan yang menjadikan penelitian VLC umumnya berfokus pada 'bagaimana meningkatkan speed dari keterbatasan komponen-komponen pembangun (IC, photodiode, LED, transistor, dll) yang tersedia saat ini'. Tantangan teknologi VLC selain target peningkatan kecepatan bit-rate, mobility communication, mengurangi interference noise, menyediakan layanan multi-acces juga salah satunya adalah isu security. Makalah ini merupakan studi literature (review paper) yang didapatkan dari dokumen-dokumen hasil peneltian baik di jurnal dan conference terkait dengan praktik-praktik security VLC yang pernah dilakukan dengan skema indoor maupun outdoor
Analisis Simulasi Penerapan Algoritma OSPF Menggunakan RouteFlow pada Jaringan Software Defined Network (SDN)
Pada jaringan konvensional, konfigurasi protocol routing sangat tidak fleksibel, tidak efisien dan konfigurasi dilakukan pada tiap perangkat. Hal ini tentu saja tidak dapat memenuhi tuntutan operasional saat ini yang rata-rata memiliki jaringan yang besar dan perangkat jaringan yang memiliki spesifikasi berbeda. Software Defined Network (SDN) muncul sebagai harapan untuk permasalahan kompleksitas jaringan konvensional. Paradigma baru SDN melakukan pemisahan antara control plane dan forwarding plane. RouteFlow merupakan salah satu komponen berbasis software yang dapat mengaplikasikan protocol routing konvensional pada jaringan SDN. Open Shortest Path First (OSPF) merupakan sebuah protokol routing konvensional yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi perubahan topologi jaringan dengan cepat dalam sebuah jaringan yang besar. Protokol routing OSPF diterapkan pada teknologi SDN menggunakan RouteFlow dengan tujuan untuk mempermudah dalam mengontrol jaringan dengan sistem terpusat. Convergence time dan parameter Quality of Service (Throughput, Delay, Jitter dan Packet Loss) diukur dengan skenario pemutusan link, penambahan jumlah switch dan background traffic. Hasil pengukuran convergence time menunjukan bahwa penambahan jumlah switch mempengaruhi pertambahan waktu konvergensi, sedangkan untuk parameter Quality of Service (QoS) pada peningkatan topologi switch didapatkan hasil yang masih sesuai dengan standar ITU-T G.1010 namun apabila ditambahkan background traffic yang memenuhi 50% bandwidth jaringan maka QoS memburuk.Pada jaringan konvensional, konfigurasi protocol routing sangat tidak fleksibel, tidak efisien dan konfigurasi dilakukan pada tiap perangkat. Hal ini tentu saja tidak dapat memenuhi tuntutan operasional saat ini yang rata-rata memiliki jaringan yang besar dan perangkat jaringan yang memiliki spesifikasi berbeda. Software Defined Network (SDN) muncul sebagai harapan untuk permasalahan kompleksitas jaringan konvensional. Paradigma baru SDN melakukan pemisahan antara control plane dan forwarding plane. RouteFlow merupakan salah satu komponen berbasis software yang dapat mengaplikasikan protocol routing konvensional pada jaringan SDN. Open Shortest Path First (OSPF) merupakan sebuah protokol routing konvensional yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi perubahan topologi jaringan dengan cepat dalam sebuah jaringan yang besar. Protokol routing OSPF diterapkan pada teknologi SDN menggunakan RouteFlow dengan tujuan untuk mempermudah dalam mengontrol jaringan dengan sistem terpusat. Convergence time dan parameter Quality of Service (Throughput, Delay, Jitter dan Packet Loss) diukur dengan skenario pemutusan link, penambahan jumlah switch dan background traffic. Hasil pengukuran convergence time menunjukan bahwa penambahan jumlah switch mempengaruhi pertambahan waktu konvergensi, sedangkan untuk parameter Quality of Service (QoS) pada peningkatan topologi switch didapatkan hasil yang masih sesuai dengan standar ITU-T G.1010 namun apabila ditambahkan background traffic yang memenuhi 50% bandwidth jaringan maka QoS memburuk
Analisis Jaringan VPN Menggunakan PPTP dan L2TP
VPN adalah teknologi yang membuat jaringan private (pribadi) dengan menggunakan jaringan publik agar proses pertukaran data menjadi aman. Teknologi VPN biasanya diterapkan untuk koneksi antara kantor pusat dan kantor cabang. Dinhubkominfo Kabupaten Banyumas sebagai tempat penelitian memiliki beberapa kantor cabang (SKPD). Data yang dipertukarkan antar kantor cabang pada Dinhubkominfo terdiri dari beberapa jenis, namun pada penelitian ini hanya difokuskan pada pertukaran layanan FTP. Teknologi vpn yang saat ini digunakan pada jaringan Dinhubkominfo adalah PPTP. Akan tetapi, penggunaan teknologi tersebut belum tersebut masih belum diketahui tingkat performansi jaringan dibandingkan dengan penggunaan teknologi vpn yang lain. Pada penelitian ini akan dibandingkan penggunaan dua teknologi vpn yang berbeda yaitu antara PPTP dan L2TP, dimana parameter yang digunakan adalah throughput, delay, jitter, dan packet loss. Proses pengambilan data dilakukan dengan menambahkan beban trafik sebesar 512 kbps, 1024 kbps, dan 2048 kbps. Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa, rata-rata nilai Delay pada L2TP lebih besar hingga 41% dibanding saat menggunakan PPTP, rata-rata Throughput PPTP naik hingga 34% dibandingkan L2TP, Rata-rata Jitter pada PPTP lebih besar hingga 44% dibandingkan L2TP, sedangkan packet loss yang terjadi pada masing-masing layanan vpn adalah 0VPN adalah teknologi yang membuat jaringan private (pribadi) dengan menggunakan jaringan publik agar proses pertukaran data menjadi aman. Teknologi VPN biasanya diterapkan untuk koneksi antara kantor pusat dan kantor cabang. Dinhubkominfo Kabupaten Banyumas sebagai tempat penelitian memiliki beberapa kantor cabang (SKPD). Data yang dipertukarkan antar kantor cabang pada Dinhubkominfo terdiri dari beberapa jenis, namun pada penelitian ini hanya difokuskan pada pertukaran layanan FTP. Teknologi vpn yang saat ini digunakan pada jaringan Dinhubkominfo adalah PPTP. Akan tetapi, penggunaan teknologi tersebut belum tersebut masih belum diketahui tingkat performansi jaringan dibandingkan dengan penggunaan teknologi vpn yang lain. Pada penelitian ini akan dibandingkan penggunaan dua teknologi vpn yang berbeda yaitu antara PPTP dan L2TP, dimana parameter yang digunakan adalah throughput, delay, jitter, dan packet loss. Proses pengambilan data dilakukan dengan menambahkan beban trafik sebesar 512 kbps, 1024 kbps, dan 2048 kbps. Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa, rata-rata nilai Delay pada L2TP lebih besar hingga 41% dibanding saat menggunakan PPTP, rata-rata Throughput PPTP naik hingga 34% dibandingkan L2TP, Rata-rata Jitter pada PPTP lebih besar hingga 44% dibandingkan L2TP, sedangkan packet loss yang terjadi pada masing-masing layanan vpn adalah