Fish Scientiae (E-Journal)
Not a member yet
    216 research outputs found

    BUSINESS ANALYSIS AND MARKETING OF TILAPIA CASE FLOATING NET CAGES IN ALANG RIVER VILLAGE, KARANG INTAN DISTRICT, BANJAR REGENCY, SOUTH KALIMANTAN PROVINCE

    Full text link
    Alang river Village, Karang Intan District is a village that has a lot of potential in the field of fisheries, especially in the floating net cage media with the commodity of Tilapia which is commonly used by the community, this fish cultivator business is a source of income in the village by utilizing the river that stretches around Alang river village. The problem that occurs in the Jasmine Fish Cultivator Group is the death of the fish which results in many losses and problems in access to fish marketing outside the South Kalimantan area. The purpose of this research was to analyze the feasibility of the business and to analyze the marketing of rearing tilapia in POKDAKAN Melati floating net cages in Sungai Alang village. The method this research is Primary, Secondary, Interview, Observation, Snowball Sampling, and Documentation Methods. The results of this research indicate that the business run by POKDAKAN Melati is feasible and profitable to be developed with profit the average per month is Rp. 5,309,863.2 within a repayment period of 0.46 years or 5 months 16 days, with a total NPV of 7% of Rp. 418,052,002, Net BCR 7% of 1.35% and IRR value of 136.74% Meanwhile, for the marketing channels, there are 2 marketing channels, namely semi-direct channels and indirect channels with the amount of Farmer Share analysis of 78% which can be said to be efficient.   Desa Sungai Alang Kecamatan Karang Intan merupakan desa yang memiliki banyak pontensi dibidang perikanan khusus nya pada media Karamba Jaring Apung dengan komoditi Ikan Nila yang biasa digunakan masyarakat, usaha pembudidaya ikan ini merupakan sumber penghasilan yang ada di desa tersebut dengan memanfaatkan sungai yang membentang disekitaran desa sungai alang. Permasalahan yang terjadi pada Kelompok Pembudidaya Ikan Melati adalah kematian ikan yang mengakibatkan banyaknya kerugian yang dialami dan permasalahan akses pemasaran ikan untuk luar daerah Kalimantan Selatan. Tujuan penelitian ini ialah menganalisis kelayakan usaha dan menganalisis pemasaran pembesaran ikan nila pada POKDAKAN Melati Karamba Jaring Apung Desa Sungai Alang. Metode dalam penelitian ini ialah Primer, Sekunder, Wawancara, Observasi, Snowball Sampling, dan Dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa usaha yang dijalankan POKDAKAN Melati layak dan menguntungkan untuk dikembangkan dengan hasil keuntungan rata-rata per bulan nya sebesar Rp. 5.309.863,2 dalam kurun waktu pengembalian 0,46 tahun atau 5 bulan 16 hari, dengan jumlah NPV 7% sebesar Rp. 418.052.002 , Net BCR 7% sebesar 1,35 % dan nilai IRR 136,74% sedangkan untuk salurannya pemasaran didapatkan 2 saluran pemasaran yaitu saluran semi langsung dan saluran tidak langsung dengan jumlah analisis Farmer Share 78% yang mana dapat dikatakan efisien.&nbsp

    VARIASI PENAMBAHAN TEPUNG TAPIOKA DAN TEPUNG TERIGU TERHADAP UJI ORGANOLEPTIK NUGGET BELUT (Monopterus Albus)

    Full text link
    Ikan Belut (Monopterus albus) secara maksimal dirubah bentuknya sehingga disukai menjadi bentuk olahan nugget. Nugget merupakan makanan siap saji yang sudah merakyat dan berupa olahan berbahan baku daging dan dilapisi dengan tepung dalam bentuk potongan-potongan kecil berwarna kuning keemasan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan ikan belut menjadi bahan olahan, secara maksimal merubah bentuk tubuh belut yang kurang disukai menjadi olahan yang disukai, mendapatkan karakteristik nugget yang baik dan nilai kadar air sesuai SNI. Kesimpulan penelitian nugget belut berdasarkan keempat parameter dalam uji organoleptik dengan menggunakan 20 orang panelis tak terlatih yang menujukkan kualitas optimal adalah pada perlakuan B dengan penambahan tepung tapioka 10%, tepung terigu 10% dan  kandungan kadar air, yaitu 48.32%.   Eel (Monopterus albus) is maximally transformed so that it is preferred to be a processed nugget. Nugget is a fast food that is populist and consists of processed ingredients made from meat and contains flour in the form of small pieces of golden yellow. This study aims to utilize eels into processed materials, maximally change the body shape of the eels that are less preferred to processed high protein, get good nugget characteristics and water content values according to SNI. The conclusion of the study of eel nuggets based on the fourth parameter in the organoleptic test using 20 untrained panelists who showed optimal quality was in treatment B with the addition of 10% tapioca flour, 10% wheat flour and water content, which was 48.32%

    POTENSI LESTARI DAN MUSIM PENANGKAPAN IKAN GULAMAH YANG DIDARATKAN PADA PELABUHAN PERIKANAN MUARA KINTAP

    Full text link
    Pengetahuan tentang berapa besar potensi lestari dan pola musim penangkapan ikan pada suatu wilayah perairan menjadi penting untuk fungsi kontrol dan monitoring terhadap tekanan penangkapan yang dilakukan terhadap sumberdaya tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengestimasi potensi lestari dan pola musim penangkapan ikan gulamah yang didaratkan pada Pelabuhan Perikanan Muara Kintap Kabupaten Tanah Laut. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli hingga Oktober 2020. Pendekatan yang digunakan adalah surplus production model yang dikembangkan oleh shaefer  untuk menganalisis potensi lestari ikan gulamah, dan indeks musim penangkapan ikan untuk menduga pola musim penangkapan ikan gulamah yang didaratkan pada Pelabuhan Perikanan Muara Kintap. Hasil analisis menunjukkan bahwa besarnya Potensi lestari, Maximum Sustainable Yield sumberdaya ikan gulamah pada Pelabuhan Perikanan Muara Kintap diestimasi mencapai 13.388 ton per tahun dengan tingkat upaya optimum fMSY adalah 5.598 trip per tahun. Jumlah tangkapan maksimal yang dibolehkan atau Total Allowable Catch (TAC) sebesar 10.710 ton per tahun. Dari data produksi aktual ikan gulamah dengan hasil jumlah tangkapan yang dibolehkan, maka tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan gulamah baru mencapai 27.32 persen.. Kemudian hasil analisis dugaan musim penangkapan ikan gulamah yang didaratkan pada Pelabuhan Perikanan Muara Kintap sebaiknya penangkapan ikan dilakukan pada bulan Oktober-Desember dan Februar-April, karena sumberdaya yang melimpah pada bulan-bulan tersebut.   &nbsp

    KARAKTER MORFOMETRIK DAN MERISTIK IKAN TAPAH (Wallago Leeri ) DARI STASIUN ULES DAN STASIUN KARANEN DI SUNGAI SEBANGAU KOTA PALANGKA RAYA KALIMANTAN TENGAH

    Full text link
    Penelitian ini tujuannya untuk mengetahui karakter morfometrik dan meristik ikan Tapah yang terdapat di hulu, tengah, dan hilir di Sungai Sebangau. Manfaat dalam penelitian ini karakter morfometrik dan meristik ikan Tapah (W. leeri) yang tertangkap pada 2 (dua) stasiun yaitu stasiun 1 (satu) pengambilan sampel di Ules, stasiun 2 (dua) pengambilan sampel di Karanen. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif, regresi linear dan perhitungan. Data primer dimasukkan kedalam sistem database yang menggunakan software Microsoft Excel untuk menganalisis statistik deskriptif, regresi linear dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil penelitian dapat disimpulkan: Morfometrik ikan Tapah (Wallago Leeri) di Ules dan di Karanen bahwa hasil analisis persamaan regresi linear karakter morfometrik ikan Tapah betina dan jantan di Ules dan di Karanen memiliki keeratan hubungan sangat kuat, kuat, sedang, lemah dan sangat lemah. status hubungan pola pertumbuhan ikan Tapah betina dan jantan di Ules dan di Karanen memiliki pola pertumbuhan alometrik postif. Ikan Tapah betina dan jantan di Ules dan di Karanen memiliki kondisi kualitas air yang cukup baik dan mendukung pertumbuhan.   The aim of this study is to determine the morphometric and meristic characters of Tapah fish found in the upstream, middle and downstream of the Sebangau River. The benefits of this study are the morphometric and meristic characters of Tapah (W. leeri) fish caught at 2 (two) stations, namely station 1 (one) sampling in Ules, station 2 (two) sampling in Karanen. The research method used in this research is descriptive research, linear regression and calculation. Primary data was entered into a database system using Microsoft Excel software to analyze descriptive statistics, linear regression in the form of tables and graphs. The results of the study can be concluded: The morphometric fish of Tapah (Wallago Leeri) in Ules and Karanen showed that the results of linear regression analysis of the morphometric character of female and male tapah fish in Ules and in Karanen had very strong, strong, moderate, weak and very weak relationships. The relationship status of female and male tapah fish growth patterns in Ules and Karanen had positive allometric growth patterns. Female and male tapah fish in Ules and Karanen have fairly good water quality conditions and support growth

    ANALISIS PRODUKTIVITAS SERASAH MANGROVE DI DESA MUARA PAGATAN TANAH BUMBU KALIMANTAN SELATAN

    Full text link
    Mangrove adalah salah satu tumbuhan tropis yang hidup di sekitar daerah pesisir dan estuarin. Mempunyai banyak fungsi salahsatunya menghasilkan serasah yang mengandung bahan organik dimanfaatkan oleh ekosistem yang hidup disekitar mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerapatan mangrove dan menganalisis produktifitas serasah mangrove di Desa Muara Pagatan. Metode penentuan lokasi menggunakan metode purpossive sampling. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei – Juni 2019. Analisis data menggunakan perasamaan (Siska,2016) Berdasarkan hasil penelitian Desa Muara Pagatan total rata-rata produktifitas serasah 7,57 g/m2/hari dengan kerapatan mangrove yang tertinggi pada stasiun 3 yakni 2700 ind/ha yang didominasi oleh jenis Rhizophora mucronata.   Mangroves are tropical plants that live around coastal and estuarine areas. It has manyfunctions, one of them produces litter that contains organic material used by ecosystems that live around mangroves. This study aims to analyze the density of mangroves and analyze the productivity of mangrove litter in Muara Pagatan Village. The location determination method uses a purposive sampling method. This research was conducted in May - June 2019. Data analysis using equations (Siska, 2016) Based on the research results in Muara Pagatan Village, the total average litter productivity was 7.57 g / m2 / day with the highest mangrove density at station 3, which is 2700 ind/ha dominated by Rhizophora mucronata species. &nbsp

    PENGARUH PENAMBAHAN RIMPANG JAHE MERAH (Zingiber officinale varietas rubrum) YANG BERBEDA TERHADAP NILAI ORGANOLEPTIK OLAHAN DENDENG IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

    Full text link
    Dendeng adalah produk olahan daging tradisional khas Indonesia dan sampai saat ini minat masyarakat dalam mengonsumsi dendeng cukup tinggi. Dendeng didefinisikan sebagai makanan yang berbentuk lempengan yang terbuat dari irisan atau gilingan daging segar yang diberi bumbu dan dikeringkan. Dendeng yang berada di pasar kebanyakan mengandung air antara 9,9-35,5%, kadar gula antara 20- 52%, kadar garam antara 0,4-0,6%, kadar lemak antara 1,0-17,4%, serat kasar antara 0,4-15,5%, dan aw antara 0,4-0,5 (Purnomo, 1996). Dalam penelitian ini menggunakan 4 perlakuan yaitu  Perlakuan yang diberikan adalah O (tanpa penambahan jahe merah), A penambahan jahe merah 1 %, B penambahan jahe merah 2 %  dan C penambahan jahe merah 3%. Parameter yang diamati adalah uji organoleptik (rasa, warna, tekstur dan aroma). Berdasarkan penilaian panelis diketahui bahwa   perlakuan C  merupakan perlakuan terbaik dengan spesifikasi   warna dengan nilai 2,7 yang dimana mendekati agak coklat kehitaman, untuk aroma dengan nilai 5,6 menyatakan mendekati kuat aroma bumbu, tekstur dengan nilai 4,2 menunjukan agak empuk, dan rasa dengan nilai 4,2 menyatakan cukup manis dan gurih. Dengan kadar air  33,19 % ,dan berdasarkan penelitian Harnisah dkk,  kadar protein dendeng ikan nila sebesar 27,67 %  yang dimana menurut Astawan, 2004 bahwa dendeng tergolong dalam bahan.makanan semi basah yaitu bahan pangan yang mempunyai kadar air tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah yaitu 15-50%. Dendeng ikan nila memiliki nilai rata-rata  untuk uji organoleptik berbeda nyata pada setiap perlakuan terhadap spesifikasi warna, aroma, rasa dan tekstur. Hal ini menunjukan  bahwa H1 dapat diterima pada pembuatan dendeng ikan nila   Dendeng is a traditional Indonesian processed meat product and until now the public's interest in consuming beef jerky is quite high. Dendeng is defined as food in the form of plates made from sliced ​​or ground fresh meat which is seasoned and dried. Most of the jerky on the market contains water between 9.9-35.5%, sugar content between 20- 52%, salt content between 0.4-0.6%, fat content between 1.0-17.4%, crude fiber between 0.4-15.5%, and aw between 0.4-0.5 (Purnomo, 1996). In this study using 4 treatments, namely the treatments given were O (without the addition of red ginger), A was the addition of 1% red ginger, B was the addition of 2% red ginger and C was the addition of 3% red ginger. The parameters observed were organoleptic test (taste, color, texture and flavor). Based on the panelist's assessment, it is known that treatment C is the best treatment with a color specification with a value of 2.7 which is closer to dark brown, for an aroma with a value of 5.6 which indicates that it is close to the strong aroma of spices, the texture with a value of 4.2 indicates a bit soft, and the taste with a value of 4.2, it is quite sweet and savory. With a water content of 33.19%, and based on the research of Harnisah et al, the protein content of tilapia jerky is 27.67% which according to Astawan, 2004 that jerky is classified as a semi-wet food ingredient, namely food that has a water content that is not too high and not too low at 15-50%. Nile tilapia has an average value for the organoleptic test which is significantly different in each treatment with respect to color, flavor, taste and texture specifications. This shows that H1 is acceptable for making nile tilapi

    ANALISIS USAHA DAN PROSPEK PEMASARAN TERIPANG (Holothuria SP) DI DESA MUARA KINTAP KECAMATAN KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

    Full text link
    Penelitian bertujuan untuk menganalisis keuntungan dan menganalisis prospek pemasaran teripang. Penelitian dilaksanakan di Desa Muara Kintap Kecamatan Kintap Kabupaten Tanah Laut Provisi Kalimantan Selatan. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode survey dan metode wawancara, penentuan lokasi penelitian dipilih secara purposive atau sengaja. Pengambilan data pada responden dilakukan secara sensus yang artinya keseluruhan sampel responden diambil datanya. Keseluruhan nelayan yang dijadikan responden yaitu sebanyak 10 orang nelayan pemilik kapal usaha penangkapan teripang, dimana setiap nelayan pemilik kapal ini memiliki anak buah kapal (abk) sebanyak 9 hingga 12 orang. Teripang yang dijual sudah dalam bentuk setengah jadi karena sudah dilakukan dua kali proses pemasakan, teripang ini biasanya dijual kepulau Jawa dan Bangka Belitung sebelum akhirnya di ekspor kebeberapa Negara seperti Cina, Vietnam, dan Jepang. Analisis yang di gunakan pada penelitian ini terbagi menjadi 2 yaitu analisis keuntungan dan analisis SWOT. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa nilai π tertinggi berjumlah Rp. 329.705.000,00/tahun nilai π terendah yaitu Rp. 54.188.000,00/tahun dan rata-rata nilai π Rp. 228.224.800,00/ tahun. Untuk mengetahui prospek usaha teripang digunakan analisis SWOT yang bertujuan untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, ancaman dan peluang yang terdapat pada usaha penangkapan teripang berdasarkan analisis SWOT diketahui bahwa usaha penangkapan teripang masih lemah namun memiliki peluang yang tinggi untuk dikembangkan hal ini dapat diketahui dari tingginya resiko usaha yang tinggi yaitu berupa resiko keselamatan kerja namun masih memiliki peluang karena teripang sendiri merupakan komoditi ekspor dimana permintaan teripang tergolong tinggi. Saluran pemasaran teripang merupakan saluran pemasaran tidak langsung, saluran pemasaran teripang yaitu : produsen/nelayan teripang, pengumpul, pabrik pengemasan teripang, ekspor, pedagang, konsumen   &nbsp

    ANALISIS PENUTUPAN KANOPI MANGROVE MENGGUNAKAN METODE HEMISPHERICAL PHOTOGRAPHY DAN NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX (NDVI) DI PULAU KAGET KABUPATEN BARITO KUALA

    Full text link
    Pulau Kaget merupakan sebuah delta yang terletak di muara Sungai Barito Kabupaten Barito Kuala. Pulau ini masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut dengan bentuk geomorfologi pulau yang landai sehingga memungkinkan Pulau Kaget menjadi habitat tempat tumbuhnya vegetasi mangrove. Aktivitas Sungai Barito sebagai jalur tranportasi laut, pembuangan limbah alami partikel biotik maupun non-biotik serta faktor lingkungan lainnya seperti sedimentasi dapat mengancam pertumbuhan vegetasi mangrove di sekitarnya sehingga dapat berdampak pada kesehatan vegetasi mangrove di Pulau Kaget. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk melihat kondisi kesehatan mangrove melalui penutupan kanopi atau kerapatan tajuk menggunakan metode Hemispherical Photography dan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Analisis kesehatan vegetasi mangrove mengacu pada Estimasi Kerapatan Tajuk oleh Badan Informasi Geospasial 2014 dan Pedoman Inventarisasi dan Identifikasi Lahan Kritis Mangrove oleh Departemen Kehutanan tahun 2005 yang diolah menggunakan metode Sistem Inormasi Geografis (SIG). Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa vegetasi mangrove dengan kelas lebat sebesar 26,703 Ha pada HP dan 29,453 pada NDVI, vegetasi mangrove kelas sedang sebesar 4,133 Ha pada HP dan 1,383 Ha pada NDVI dengan total luas kajian 30,836 Ha dengan nilai akurasi keseluruhan 83,33% dan akurasi kappa 65,38%. Secara keseluruhan kesehatan mangrove di Pulau Kaget memiliki status lebat atau baik. Kaget Island is a delta located at the mouth of the Barito River, Barito Kuala Regency. This island is still influenced by the tides and the sloping geomorphology of the island allows Kaget Island to become a habitat for mangrove vegetation to grow. The activity of the Barito River as a sea transportation route, disposal of natural waste, biotic and non-biotic particles and other environmental factors such as sedimentation can threaten the growth of mangrove vegetation in the vicinity so that it can have an impact on the health of mangrove vegetation on Pulau Kaget. This research was conducted to determine the health condition of mangroves through canopy closure or canopy density using Hemispherical Photography and Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) methods. The analysis of the health of mangrove vegetation refers to the Head Density Estimation by the Geospatial Information Agency 2014 and the Guidelines for Inventory and Identification of Critical Mangrove Land by the Ministry of Forestry in 2005 which were processed using the Geographic Information System (GIS) method. Based on the results of the analysis showed that mangrove vegetation with dense class was 26,703 Ha on HP and 29,453 on NDVI, medium class mangrove vegetation was 4,133 Ha on HP and 1,383 Ha on NDVI with a total study area of ​​30.836 Ha with an overall accuracy value of 83.33% and accuracy kappa 65.38%. Overall, the health of the mangroves on Pulau Kaget has a dense or good status. &nbsp

    APLIKASI DATA CITRA SATELIT UNTUK PENYUSUNAN MODEL NERACA AIR DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai evaporasipotensial (Etc) tanaman kelapa sawit dan tanaman hutan konversi dengan menggunakan model perubahan neraca air menurut Mather (1957) dan Blaney-Criddle pada perkebunan kelapa sawit dengan lahan hutan konversi. Lokasi penelitian terletak di PTPN IX Danau Salak, Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai curah hujan peluang kejadian terlampaui 75% selama 10 tahun terlihat bahwa curah hujan tertinggi diperoleh pada bulan Januari sebesar 249,6 mm/bulan, sedangkan curah hujan terendah diperoleh pada bulan September yaitu sebesar 66,5 mm/bulan.  Nilai evapotranspirasi potensial (ETc) rata-rata di lahan kebun sawit adalah 129,96 mm, sedangkan evapotranspirasi aktual (ETA) adalah sebesar 174,23 mm. Nilai kandungan air tanah (KAT) rata-rata sebesar 66,68 mm dengan surplus air sebesar 14,06 mm. Nilai evapotranspirasi potensial (ETc) rata-rata di lahan hutan konversi (karet) sebesar 122,97 mm, sedangkan evapotranspirasi aktual (ETA) sebesar 174,23 mm. Nilai kandungan air tanah (KAT) rata-rata sebesar 66,68 mm, dengan rata-rata surplus air sebesar 21,05 mm. Terdapat perbedaan antara lahan hutan konversi dengan lahan yang sudah dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Perubahan ini menyebabkan penurunan nilai surplus air yang ada sekitar 9 mm per tahun dengan perhitungan nilai surplus pada hutan konversi sebesar 1.569 mm per tahun menjadi  1.560 mm per tahun pada lahan perkebunan. Penurunan ini akan berakibat pengurangan pada debit air yang berakibat pengurangan nilai air tersedia yang mampu dimanfaatkan oleh stakeholder pengguna air, dan salah satunya adalah sektor domestik.   This study aims to assess the potential evaporation value (Etc) of oil palm and conversion forest plantations using the water balance change model according to Mather (1957) and Blaney-Criddle on oil palm plantations with conversion forest land. The research location is PTPN IX Lake Salak, Astambul District, Banjar Regency. The results showed that the probability of rainfall being exceeded by 75% for 10 years showed that the highest rainfall was obtained in January of 249.6 mm/month, while the lowest rainfall was obtained in September of 66.5 mm/month. The average potential evapotranspiration (ETc) in oil palm plantations is 129.96 mm, while the actual evapotranspiration (ETA) is 174.23 mm. The average value of soil water content (KAT) is 66.68 mm with a surplus of 14.06 mm. The average potential evapotranspiration (ETc) in conversion forest land (rubber) is 122.97 mm, while the actual evapotranspiration (ETA) is 174.23 mm. The average value of soil water content (KAT) is 66.68 mm, with an average surplus of 21.05 mm. There is a difference between conversion forest land and land that has been converted to oil palm plantations. This change causes a decrease in the value of the existing surplus of water by about 9 mm per year with the calculation of the surplus-value in conversion forests from 1,569 mm per year to 1,560 mm per year on plantation land. This decrease will result in a reduction in water discharge which results in a reduction in the value of available water that can be utilized by water user stakeholders, and one of them is the domestic sector

    PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN BIOFLOK YANG BERBEDA TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN LARVA IKAN PAPUYU (Anabas testudineus BLOCH 1792)

    Full text link
    Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh frekuensi pemberian bioflok yang berbeda terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan papuyu (Anabas testudineus Bloch 1792). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Basah Jurusan Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Lambung Mangkurat. Pemeliharaan larva ikan papuyu dilakukan dalam  wadah baskom berdiameter 45 cm dengan media berupa air bersih dan setiap baskom dimasukkan larva ikan papuyu sebanyak 200 ekor/baskom.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan yaitu frekuensi pemberian pakan sebanyak 2 kali/hari  (Perlakuan A), sebanyak 4 kali/hari (Perlakuan B) dan sebanyak 6 kali/hari (Perlakuan C) dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media bioflok tidak memiliki pengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup larva ikan papuyu, ini dilihat dari Fhitung = 0,351852 < Ftab 5% (5,409451) dan Ftab 1% (12,05995). Sedangkan pertumbuhan larva ikan papuyu berpengaruh nyata terhadap larva ikan papuyu dilihat dari Fhitung = 39358,54 > Ftab 5% (5,409451) dan Ftab 1% (12,05995). Kualitas air media hidup larva ikan papuyu masih pada batas toleransi yang diinginkan ikan uji pada media penelitian, dimana suhu (27,7 – 27,90C), DO (4,8 – 4,9 mg/L), pH (7,5) dan amoniak (<0,6 mg/L)   The purpose of this study was to determine the effect of different frequency of biofloc on the survival and growth of fish larvae (Anabas testudineus Bloch 1792). This research was done in the Wet Laboratory of Aquaculture Department, Fisheries and Marine Faculty, Lambung Mangkurat University. The maintenance of papuyu fish larvae was carried out in a basin with diameter 45 cm in with media in the form of clean water and each basin is inserted as many as 200 fish / climbing perch larvae / basin. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with 3 treatments, namely the frequency of feeding as much as 2 times / day (Treatment A), as much as 4 times / day (Treatment B) and as many as 6 times / day (Treatment C) and 3 replications. The results showed that the biofloc media did not have a significant effect on the survival of climbing perch larvae, this was seen from F count = 0.351852 <Ftab 5% (5.409451) and Ftab 1% (12.05995). While the growth of climbing perch larvae significantly affected climbing percch larvae seen from F count = 39358.54> Ftab 5% (5.409451) and Ftab 1% (12.05995). Water quality of live media of climbing perch larvae is still at the desired tolerance level of test fish in the research medium, where the temperature (27.7 - 27.90C), DO (4,8 - 4,9 mg / L), pH (7.5 ) and ammonia (<0.6 mg / L

    209

    full texts

    216

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Fish Scientiae (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇