Fish Scientiae (E-Journal)
Not a member yet
216 research outputs found
Sort by
ADDITION OF DIFFERENT GALANGAL PERCENTAGES AGAINST THE ORGANOLEPTIC VALUE OF SHREDDED DRIED SALTED GOURAMI (Trichogaster trichopterus)
The State of Indonesia has a fairly large archipelago of potential fish resources (6,520,100 tons/year), as stated in the Decree of the Minister of Marine Affairs and Fisheries number KEP.45/MEN/2011 seen from the potential of Indonesia's marine resources. According to Article 1 of Law 45 of 2009, fish are all kinds of living things which all or part of their life cycle is in the aquatic environment.The purpose of this study was to obtain the best percentage of galangal for shredded dried salted fish in Sepat Swamp. The benefits of this research are to optimize the utilization of salted salted fish (Trichogaster trichpterus) to increase public consumption, to increase the selling value of salted fish (Trichogaster trichopterus), to increase the diversification of processed products from dried salted fish.This study used an experimental method with 4 treatments, namely: treatment O = 0% galangal from the weight of fish meat, treatment A = 5% galangal from the weight of fish meat, treatment B = 10% galangal from the weight of fish meat and treatment C = 15% galangal from the weight of the fish. fish weight. Organoleptic testing used moderately trained panelists, selected from students of Fishery Products Technology, Faculty of Fisheries and Marine Affairs, Lambung Mangkurat University. After the panelists assessed the dried salted fish shredded product, the data analysis was continued using the sign test. The test uses organoleptic test with description method. Based on organoleptic test with descriptive test that the addition of galangal has a significant effect on the shredded dried marsh sepat fish. the organoleptic test results of dried sepat swamp salted fish shredded with the addition of galangal with the best formulation on the addition of the percentage of galangal in treatment C with 15% galangal. Specifications Appearance 7.05, Aroma 8.6, Taste 8.6 and Texture 8.
POTENTIAL AVAILABILITY AND FRESHITY LEVEL OF FIELD EEL (Monopterus albus Zuieuw) IN SUPPLY CHAIN IN 5 (FIVE) MARKETS AREA OF THE CITY OF BANJARBARU
Penelitian ini bertujuan yaitu mempelajari ketersediaan belut (Monopterus albus zuieuw) yang dijual pada 5 (lima) pasar di wilayah Kotamadya Banjarbaru dan mempelajari tingkat kesegaran belut pada nelayan dan penjual di 5 (lima) pasar Kotamadya Banjarbaru. Pasar di wilayah Banjarbaru sebagai salah satu tempat penjualan belut memperoleh sumbernya dari beragam pelosok baik di wilayah Kotamadya Banjarbaru maupun sekitarnya seperti Kabupaten Banjar. Pasar yang terletak pada 5 kecamatan di Banjarbaru tidak semua menjual belut sawah, karena khususnya di Kalimantan Selatan, belut merupakan hasil dari tangkapan alam bukan dari produksi budidaya. Data tentang ketersediaan belut di pasar, suplayer belut sampai dengan habitat dari belut perlu dikaji lebih dalam untuk memastikan bahwa belut yang dijual dan timgkat kesegaran sampai ke tangan konsumen, Hasil penelitian tentang Identifikasi Keamanan Pangan Belut Sawah (Monopterus albus Zuieuw) pada tingkat suplayer pasar Banjarbaru Kalimantan Selatan dapat diambil kesimpulan adalah penjualan belut di pasar pada wilayah Kodamadya Banjarbaru hanya tersedia pada pasar tertentu saja disebabkan tidak kesukaan terhadap belut yang didominasi oleh suku jawa; tingkat kesegaran belut umumnya masih bagus karena pada proses distribusi belut masih dalam kondisi sehat dan ditangani dengan baik, serta jarak tempuh antara daerah penangkapan dengan pasar paling jauh berkisar 25 – 34 km; dan pasar dengan jumlah penjualan belut terbanyak ada pada Pasar Bauntung di Kecamatan Banjarbaru Selatan, sedangkan terbanyak kedua adalah Pasar Ulin Raya.
 
PENGGUNAAN MEDIA AIR YANG BERBEDA UNTUK MENINGKATAN DAYA TETAS TELUR DAN KELULUSAN HIDUP BENIH IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy lac.)
Menyedia benih dalam usaha budidaya ikan gurami (Osphronemus gouramy lac.) memegang peranan yang sangat penting. Kendala utama dalam usaha pembenihan ikan gurami di kolam adalah tingginya tingkat mortalitas, terutama pada saat telur dan larva. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan persentasi daya tetas telur dan kelulusan hidup larva ikan gurami pada media sumber air pemeliharaan yang berbeda. Penelitian menggunakan RAL dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan yaitu perlakuan A sumber air sumur, perlakuan B sumber air kolam, dan perlakuan C sumber air bioflok. Hasil penelitian menunjukkan daya tetas telur perlakuan air sumur (98,43%) meningkat 0,28% dibandingkan dari perlakukan air kolam (98,15%) dan perlakukan air sumur (98,43%) meningkat 12,26% dibandingkan dari perlakuan air bioflok (86,17%), perlakuan air kolam (98,15%) meningkat 11,98% dibandingkan dari perlakuan air bioflok (86,17%). Kelulusan hidup pada perlakuan air sumur (88,72%) meningkat 1,11% dibandingkan dari perlakukan air kolam (87,61%) dan perlakukan air sumur (88,72%) meningkat 27,13% dibandingkan dari perlakuan air bioflok (61,57%), perlakuan air kolam (87,61%) meningkat 26,02% dibandingkan dari perlakuan air bioflok (61,57%). peningkatan daya tetas telur dan kelulusan hidup benih ikan gurami dengan media air sumur lebih baik dibandingkan dengan media air kolam dan media air bioflok.
Providing seeds in the cultivation of gouramy (Osphronemus gouramy lac.) plays an important role. One of the biggest obstacles in the hatchery of gouramy in ponds is the high mortality rate, especially at the time of eggs and larvae. This research was aimed to increase the percentage of egg hatchability and survival rate of gouramy larvae in different rearing water sources. The research used RAL with 3 treatments and 3 repetitions, they are treatment A from well water, treatment B from pond water, and treatment C from biofloc water sources. The results showed that the hatchability of eggs from well water treatment (98.43%) increased by 0.28% compared to that of pond water treatment (98.15%) and well water treatment (98.43%) increased by 12.26% compared to water treatment. biofloc (86.17%), pond water treatment (98.15%) increased by 11.98% compared to biofloc water treatment (86.17%). Life pass in well water treatment (88.72%) increased by 1.11% compared to pond water treatment (87.61%) and well water treatment (88.72%) increased by 27.13% compared to biofloc water treatment (61 ,57%), pond water treatment (87.61%) increased by 26.02% compared to biofloc water treatment (61.57%). The use of well water media increased egg hatchability and survival rate of gouramy compared to pond water media and biofloc water medi
PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera) TERHADAP PENERIMAAN PANELIS DAN KANDUNGAN ASAM AMINO KERUPUK IKAN GABUS (Channa striata)
Kerupuk ikan adalah jenis jajanan yang populer di Indonesia khususnya Kalimantan Selatan. Bahan kerupuk ikan gabus yang dicampur dengan ekstrak daun kelor adalah inovasi baru dalam mengolah bahan makanan dan menambah sumber protein hewani. Komponen utama pada protein adalah asam amino. Tujuannya untuk mengetahui kadar air dan kandungan asam amino pada kerupuk ikan gabus dengan penambahan ekstrak daun kelor. Rancangan yang digunakan adalah RAL dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan yaitu perlakuan O (tanpa penambahan ekstrak dun kelor), A (10 ml), B (20 ml), dan C (30 ml). Hasil dari keempat perlakuan menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun kelor pada kerupuk ikan gabus pada penerimaan panelis tidak mempengaruhi terhadap kenampakan aroma juga rasanya tetapi penambahan ekstrak 30 ml lebih disukai panalis untuk kenampakan dan rasanya, tekstur kerupuk ikan gabus jika ditambahkan di atas 20 ml menurunkan nilai penerimaan panelis. Pemberian ekstrak daun kelor berpengaruh terhadap pola asam aminonya dimana untuk Asam Amino esensial yang tertinggi adalah lisin dan yang non esenseal adalah asam glutamat.
Fish crackers are one of the most popular types of snacks in Indonesia, especially in South Kalimantan. Cork fish cracker material mixed with Moringa leaf extract is the latest innovation in the manufacture of food ingredients and can add sources of animal protein. The main components of protein are amino acids. This study aims to determine the water content and amino acid content in snakehead fish crackers with the addition of Moringa leaf extract. The method used in this study was RAL with 4 treatments and 4 repetitions, namely design O (without the addition of dun Moringa extract), A (10 ml), B (20 ml), and C (30 ml). The results of the four treatments showedthat the addition of Moringa leaf extract to snakehead fish crackers at the reception of the panelists did not affect the appearance of the aroma as well as the taste but the addition of an extract of 30 ml was preferred panalis for the appearance and taste, the texture of snakehead fish crackers if added above 20 ml lowered the value of the panelist's acceptance. The administration of Moringa leaf extract affects the amino acid pattern where for the highest essential amino acid is lysine and the non-esenseal one is glutamic acid
STRUCTURE OF THE PLANKTON COMMUNITY IN THE TECHNICAL IMPLEMENTING UNIT OF FRESHWATER AQUACULTURE PRODUCTION IN BANJARBARU, SOUTH KALIMANTAN
Plankton is an important organism forming the food chain and material cycle in the waters. Plankton is divided into two groups, namely the group of phytoplankton (plant plankton) and zooplankton (animal plankton). These two organisms has an important role, namely as producers and consumers in one ecosystem (Aini et al., 2018). It has important role in a waters as a primary producer and bioindicator of the fertility level of a waters. The results of calculating the average value of plankton abundance in weeks 1, 2, 3, and 4 of phytoplankton are 35,523 cells/l and zooplankton are 16,327 ind/l, plankton diversity index values in weeks 1, 2, 3, and 4 of phytoplankton are 1.967 cells/l and zooplankton are 1.091 ind/l. The results of calculations using the STORET method in week 1 with a total score (-10), week 2 with a total score (-1), week 3 with a total score (0), and week 4 with a total score ( -12). The difference in these values is influenced by several factors and differences in the values of water quality measured during the study
PENGARUH KONSENTRASI GARAM YANG BERBEDA TERHADAP PROFIL ASAM LEMAK IKAN SEPAT RAWA (Trichogaster trichopterus)
Ikan sepat rawa merupakan salah satu bahan makanan yang memiliki sumber protein relatif murah dibandingkan dengan sumber protein lainnya. Sebagai salah satu pengawetan dari ikan sepat rawa, teknik penggaraman digunakan karena kebanyakan bakteria, fungi dan organisme patogenik lainnya tidak dapat bertahan hidup dalam sebuah lingkungan dengan kadar garam yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi garam yang berbeda terhadap prosil asam lemak ikan sepat rawa. Rancangan penelitian ini bersifat eksperimental dengan penambahan konsentrasi garam yang berbeda memberikan pengaruh terhadap prosil asam lemak ikan sepat rawa. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi garam yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap profil asam lemak ikan sepat rawa. Jumlah kadar asam lemak tertinggi yaitu B dengan konsentrasi garam 10% sebesar 65,74 % dan untuk profil asam lemak terdapat 29 jenis dengan asam lemak terbanyak yaitu asam palmitat (asam lemak jenuh) sebesar 20,89 %, asam oleat (asam lemak tak jenuh tunggal) sebesar 17,86% dan asam linolenat (asam lemak tak jenuh jamak) sebesar 3,70%.
Sepat rawa fish is a food that has a relatively cheap source of protein compared to other protein sources. As one of the preservation of three sepat rawa fish, the salting technique is used because most bacteria, fungi and other pathogenic organisms cannot survive in high salinity environments. This study aims to determine the effect of different salt concentrations on the fatty acid prosyl of three sepat rawa fish. The design of this research was experimental with the addition of different salt concentrations to affect the fatty acid prosyl of sepat rawa fish. The results showed that the difference in salt concentration had a significant effect on the fatty acid profile of three sepat rawa fish. The most fatty acid content is B with a salt concentration of 10% of 65.74% and for the fatty acid profile there are 29 types with the most fatty acids, namely palmitic acid (saturated fatty acid) of 20,89%, oleic acid (monounsaturated fat acids) by 17,86% and linolenic acid (poly unsaturated fatty acid) by 3,70%
PERBANDINGAN POLA KELAYAKAN EKOLOGIS DAN FINANSIAL USAHA PADA KEGIATAN BUDIDAYA UDANG VANAME(L. vannamei)
Budidaya udang vaname (L. vannamei) adalah salah satu kegiatan akuakultur yang banyak dikembangkan di daerah pesisir Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat perbandingan kelayakan ekologis dan finansial usaha budidaya udang vaname pola semi-intensif dengan pola intensif di pesisir perairan Pekalongan, Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam riset ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif dengan metode pengambilan sampel secara purposive sampling. Adapun data indikator penelitian yang diambil adalah data kualitas air (oksigen terlarut, pH, suhu, salinitas, dan profil plankton) serta data indikator kelayakan finansial usaha seperti nilai keuntungan usaha, R/C Ratio, rentabilitas usaha, nilai NPV (Net Present Value), nilai Payback Periods, dan nilai Profitability Index usaha. Dari hasil penelitian menunjukan tingkat kelayakan ekologis pada tambak semi-intensif dengan nilai pH 8.3, suhu 300C, oksigen terlarut 8.07 mg/L, ketinggian air 120 cm, dan warna air hijau memiliki tingkat kelayakan yang lebih baik dibandingkan tambak intensif. Sedangkan untuk kelayakan finansial, pada tambak intensif dengan nilai keuntungan Rp. 451.494.403,-, R/C Ratio 1.77, BEP Unit 2.455 kg, BEP Sales Rp. 134.573.507,-, rentabilitas usaha 7.7, NPV Rp. 35.466.189.367,-, payback periods 2.9, profitability index 52.83. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah Kegiatan budidaya udang vaname di pesisir perairan Pekalongan memiliki tingkat kelayakan ekologis dan finansial yang sangat baik untuk dijalankan serta dikembangkan. Pada tambak semi-intensif memiliki kelayakan ekologis yang lebih baik dibandingkan tambak intensif, begitu juga dengan tingkat kelayakan finansial usaha yang memiliki pola sebaliknya.
Kata kunci : ekologis, finansial usaha, udang vaname, L. vannamei
Vaname shrimp (L. vannamei) cultivation is one of the most widely developed aquaculture activities in coastal areas of Indonesia. The purpose of this study was to determine the level of comparison of the ecological and financial feasibility of a semi-intensive vaname shrimp farming business with an intensive pattern in the Pekalongan coastal waters, Central Java. The method used in this research is descriptive quantitative and qualitative research with purposive sampling method. The research indicator data taken are water quality parameters (dissolved oxygen, pH, temperature, salinity, and plankton profile) as well as business financial feasibility indicator data such as business profit value, R/C Ratio, business profitability, NPV (Net Present Value), Payback Periods, and the business Profitability Index. The results showed that the level of ecological feasibility in semi-intensive ponds with a pH value of 8.3, temperature 300C, dissolved oxygen 8.07 mg/L, water level 120 cm, and green water color had a better feasibility level than intensive ponds. As for financial feasibility, in intensive ponds with a profit value of Rp. 451.494.403,-, R/C Ratio 1.77, BEP Unit 2.455 kg, BEP Sales Rp. 134,573,507, -, business profitability 7.7, NPV Rp. 35,466,189,367,-, payback periods 2.9, and profitability index 52.83. The conclusion from the results of this study is that vaname shrimp cultivation activities in the Pekalongan coastal waters have a very good level of ecological and financial feasibility to be carried out and developed. Semi-intensive ponds have better ecological feasibility than intensive ponds, as well as the level of financial feasibility of businesses that have the opposite pattern..
Keywords: ecological, business finance, white shrimp, L. vanname
PRODUKTIVITAS TEMPIRAI KAWAT TERHADAP TANGKAPAN SEPAT RAWA DI DESA BANGKAU KALIMANTAN SELATAN
Salah satu alat tangkap yang paling banyak digunakan dan masih dioperasikan nelayan di perairan rawa Bangkau untuk menangkap sepat rawa adalah tempirai karena hasil tangkapan yang di dapat lebih banyak dari alat tangkap lainnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui konstruksi dan cara pengoperasian tempirai, fluktuasi hasil tangkapan sepat rawa per trip penangkapan dan menganalisis tingkat produktifitas tempirai kawat terhadap tangkapan sepat rawa di Desa Bangkau Kalimantan Selatan. Penelitian ini dilaksanakan bulan Mei hingga Agustus 2021, di Desa Bangkau Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah experimental fishing. Yang dimaksud experimental fishing dalam penelitian ini adalah dengan melakukan percobaan penangkapan ikan sepat rawa dengan menggunakan tempirai kawat. Pada percobaan penangkapan yang dilakukan sebanyak 16 kali trip penangkapan dengan menggunakan 50 unit tempirai kawat. analisis produktivitas dilakukan melalui pendekatan perbandingan hasil tangkapan setiap tripnya dengan jumlah unit tempirai per trinya yang terisi ikan sepat rawa selama penelitian. Tempirai kawat yang ada di lokasi penelitian terdiri dari 4 komponen, yaitu pintu pengeluaran ikan, badan tempirai, pintu masuk ikan dan rangka tempirai. pintu pengeluaran ikan terletak pada bagian atas tempirai, badan tempirai terbuat dari bahan kawat besi dengan ukuran panjang 45 sentimeter, lebar 50 sentimeter dan tinggi 76 sentimeter dengan lubang atau celah kawat yang berukuran 1,2 sentimeter. Pintu masuk ikan dibuat melekuk masuk ke dalam terletak pada sisi depan tempirai kawat dengan lebar 4 sentimeter. Sedangkan rangka tempirai terbuat dari kawat besi yang berfungsi untuk membentuk alat tangkap tempirai. Total tangkapan ikan sepat rawa sebanyak 29,73 kg, dimana hasil tangkapan tertinggi terjadi pada trip penangkapan ke-10 dengan tangkapan sebanyak 3,2 kg, sedangkan hasil tangkapan terendah didapatkan pada trip penangkapan ke-4 dengan jumlah tangkapan sebesar 1,1 kg. Produktivitas alat tangkap yang tertinggi sebesar 65 gr/unit/trip, sedangkan produktivitas terendah adalah 24 gr/unit/trip.
 
DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMAR DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI MARTAPURA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
Penelitian daya tampung beban pencemar dilakukan pada daerah hulu-tengah dan hilir Sub-DAS Martapura selama periode pengamatan Oktober 2020 – Desember 2021. Hasil penelitian menunjukkan daya tampung beban pencemar Daya Tampung Beban Pencemar pada periode pengamatan Oktober 2020 diketahui bahwa pada parameter pH mempunyai nilai di atas baku mutu -0,8, pada daerah hulu lebih rendah dari baku mutu. Daya Tampung Beban Pencemar pada periode pengamatan April 2021 diketahui bahwa pada parameter PO4 sebesar -0,8, di bagian tengah dan -4,1 di bagian hilir berada di atas baku mutu. Daya Tampung Beban Pencemar pada periode pengamatan Bulan Desember 2021 diketahui bahwa pada parameter pH sebesar -0,6, DO sebesar -6,1 di daerah hulu berada di atas baku mutu, parameter PO4 sebesar -0,05, di bagian tengah berada di atas baku mutu dan parameter PO4 sebesar -0,03 di bagian hilir berada di atas baku mutu. Status mutu perairan dengan menggunakan metode STORET termasuk dalam kategori cemar sedang dengan total skor -20. Penurunan kualitas perairan di sepanjang Sub DAS Martapura disebabkan masukan bahan pencemar dari kegiatan antropogenik (akivitas masyarakat) di sepanjang bantaran sungai berupa Mandi, Cuci dan Kakus, dan kegiatan Keramba Jaring Apung (KJA) di bagian Hulu.
The research on the carrying capacity of the pollutant load was carried out in the upstream-middle and downstream areas of the Martapura Sub-watershed during the observation period from October 2020 to December 2021. The results showed that the carrying capacity of the pollutant load was carried out in the observation period of October 2020, it is known that the pH parameter has a value above the quality standard of -0.8, in the upstream area it is lower than the quality standard. Pollutant Load Carrying Capacity in the observation period of April 2021, it is known that the PO4 parameter is -0.8, in the middle, and -4.1 in the downstream, which is above the quality standard. Pollutant Load Capacity in the observation period in December 2021, it is known that the pH parameter is -0.6, DO is -6.1 in the upstream area which is above the quality standard, the PO4 parameter is -0.05, in the middle it is above the quality standard and the PO4 parameter of -0.03 in the downstream are above the quality standard. The status of water quality using the STORET method is in the moderately polluted category with a total score of -20. The decline in water quality along the Martapura Sub-watershed is caused by the input of pollutants from anthropogenic activities (community activities) along the riverbanks in the form of bathing, washing, toileting, and floating net cages (KJA) activities in upstream
PENGARUH LAMA WAKTU PENGGARAMAN YANG BERBEDA TERHADAP KADAR LEMAK DAN PROFIL ASAM LEMAK CUMI-CUMI (Loligo feakii)
Cumi-cumi adalah binatang yang mempunyai tubuh lunak dan berbentuk silindris sedangkan siripnya berbentuk trianguler. Pada bagian kepala dekat mulut terdapat 10 tentakel serta dilengkapi alat penghisap dan pada bagian tubuh cumi-cumi memiliki sumber asam lemak hewani dimana komponen penyusun lemak. Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh lama waktu penggaraman yang berbeda terhadap profil asam lemak cumi-cumi. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap (RAL) dengan menggunakan 4 perlakuan lama waktu yang berbeda terhadap lemak dan profil asam lemak cumi-cumi (Loligo fiealii). Hasil penelitian menyatakan bahwa kandungan lemak tidak berbeda nyata dan asam lemak cumi-cumi (Loligo fiealii) terdapat 30 jenis asam lemak dengan asam tertinggi yaitu asam stearat sebesar 3,40% pada perlakuan O (cumi segar) di golongan asam lemak jenuh (SFA), sedangkan golongan asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA) yang tertinggi yaitu asam cis-10-pentadekanoat sebesar 11,30% pada perlakuan C (5 hari) dan asam lemak tak jenuh jamak (PUFA) tertinggi terdapat pada asam cis-4,7,10,13,16,19-dokosaheksanoat sebesar 11,10% pada perlakuan C (5 hari).
The squid is an animal that has a soft and cylindrical body while its fins are triangular. On the head near the mouth there are 10 tentacles and equipped with a suction device and on the body part of the squid has a source of animal fatty acids, which are the constituent components of fat. The aim of this study was to determine the effect of different salting times on the fatty acid profile of squid. The research design used was a completely randomized design (CRD) using 4 different treatments of time to the fatty acid profile of squid (Loligo fiealii). The results showed that the fatty acids of squid (Loligo fiealii) Contained 30 types of fatty acids with the highest acid, namely stearic acid at 3.40% in treatment O (fresh squid) in the saturated fatty acid (SFA) group, while the highest monounsaturated fatty acid (MUFA) was cis-10-pentadecanoic acid at 11.30% in C treatment (5 days) and the highest polyunsaturated fatty acid (PUFA) was cis-4,7. 10,13,16,19-docosahexanoate 11,10% in treatment C (5 days