Fish Scientiae (E-Journal)
Not a member yet
    216 research outputs found

    TROFIK LEVEL DAN STATUS SUMBERDAYA IKAN YANG TERTANGKAP DENGAN GILLNET MILLENIUM DI PERAIRAN LAUT KABUPATEN BANJAR

    Full text link
    Dalam Pengelolaan perikanan tangkap sering dihadapi terancamnya kelestarian sumberdaya ikan akibat kesetidakseimbangan tingkat trofik di ekosistem perairan. Penelitian ini bertujuan: (1) Mengidentifikasi secara teknis alat tangkap gillnet millenium; (2) Mengetahui Jenis ikan hasil tangkapan berdasarkan ukuran panjang ikan dan trofik level; (3) Menentukan status perikanan tangkap dengan menggunakan alat tangkap gillnet millenium. Metode yang digunakan pada saat penelitian adalah metode penelitian survei dan Deskriptif analistik. Bahan dan alat yang akan digunakan pada saat penelitian diantaranya adalah kuesioner, alat tulis, meteran, Software Microsoft Excel, kamera serta peralatan lainnya yang diperlukan. Analisis data diolah berdasarkan Komposisi hasil tangkapan utama dan sampingan, dikelompokkan berdasarkan spesiesnya, kemudian diukur panjang ikan. Komposisi hasil tangkapan dianalisis dengan menggunakan Software Microsoft Excel untuk melihat perbandingan jumlah dan bobot antar spesies. Spesies hasil tangkapan diklasifikasikan nilai trofik level dari Fish Base Online yang menyediakan informasi trofik level dari jenis dan komposisi makanan. Hasil penelitian menunjukan: (1) Gillnet millenium adalah jaring yang berbentuk persegi panjang, terdiri dari tali ris atas, tali pelampung, badan jaring, tali ris bawah, tali salambar, pemberat dan tali pemberat. Mesh size 4 -5 inchi, panjang 30 – 1000 meter, lebar 5 meter. (2) Jenis ikan hasil tangkapan yaitu Ikan Kakap (Lates calcarifer), Ikan Bawal (Pampus argenteus), Ikan Senangin (Eleutheronema tetradactylum), Ikan Tenggiri Papan (Scomberomorus guttatus), Ikan Manyung (Arius thalassinus), Ikan Hiu (Carcharhinus sp), dan Ikan Pari (Dasyatis sp). (3) Trofik level hasil tangkapan yaitu Ikan Bawal, Ikan Pari dan Ikan Manyung (TL3), Ikan Kakap (TL 4), Ikan Senangin, Ikan Hiu dan Ikan Tenggiri papan (TL5).   &nbsp

    KAJIAN PATOGENITAS BAKTERI SALURAN PENCERNAAN IKAN PAPUYU (Anabas testudineus BLOCH) SEBAGAI KANDIDAT PROBIOTIK SISTEM BIOFLOK

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji patogenitas bakteri pada saluran pencernaan ikan papuyu  sebagai kandidat probiotik sistem bioflok.  Penelitian  dimulai dengan mengisolasi, menyeleksi, mengidentifikasi bakteri yang didapatkan dari saluran pencernan, diawali dengan menggerus saluran pencernaan ikan papuyu dan diencerkan, kemudian dikultur. Koloni yang didapat dimurnikan dan diseleksi dengan uji metabolisme, uji antagonis dan diidentifikasi secara biokimiawi serta diuji tahan suhu dan tahan asam (pH), kemudian dilanjutkan uji patogenitas, LD50. dengan 10  pengenceran  (perlakuan) dan 4 ulangan dengan ikan papuyu 20 ekor per akuarium  sebagai ikan uji.  Hasil penelitian menunjukkan  Hasil penelitian dari 3 lokasi berbeda pada lokasi A1 Guntung Payung, lokasi A2 Loktabat dan lokasi A3 martapura. Bakteri yang ditemukan terdapat 47 isolat yang terdiri dari pada lokasi A1 15 isolat, lokasi A2 15 isolat dan lokasi A3 17 isolat. Hasil pengamatan makroskopik diperoleh 5 isolat morfologi yang berbeda berdasarkan bentuk, warna, tepian dan elevasi permukaan koloni. Pengamatan mikroskopik dengan uji KOH diperoleh 3 Gram positif dan 2 Gram negatif. Identifikasi bakteri yang ditemukan terdiri dari bakteri genus Bacillus sp., Plesiomonas sp., Staphylococcus sp., Flavobacterium sp., dan Micrococcus sp.  Hasil uji patogenitas dan LD50 menunjukkan semua perlakuan kelulusanhidupnya 100 %, dengan demikian uji ini bakteri dari usus ikan papuyu lulus – dapat digunakan  sebagai kandidat probiotik.   This study aims to examine the pathogenicity of bacteria in the digestive tract of papuyu fish as a candidate for probiotics in the biofloc system. The study began by isolating, selecting, identifying bacteria obtained from the digestive tract, starting with grinding the digestive tract of papuyu fish and diluted, then cultured. Colonies obtained were purified and selected by metabolic test, antagonist test and identified biochemically and tested for temperature resistance and acid resistance (pH), then continued with pathogenicity test, LD50. with 10 dilutions (treatment) and 4 replications with 20 papuyu fish per aquarium as test fish. The results showed the results of the study from 3 different locations at location A1 Guntung Payung, location A2 Loktabat and location A3 martapura. The bacteria found were 47 isolates consisting of 15 isolates at location A1, location A2 15 isolates and location A3 17 isolates. The results of macroscopic observations obtained 5 different morphological isolates based on the shape, color, edge and surface elevation of the colony. Microscopic observation with KOH test obtained 3 Gram positive and 2 Gram negative. Identification of bacteria found consisted of bacteria of the genus Bacillus sp., Plesiomonas sp., Staphylococcus sp., Flavobacterium sp., and Micrococcus sp. The results of the pathogenicity test and LD50 showed that all treatments had a 100% survival rate, thus this test passed bacteria from the intestines of papuyu fish – which could be used as probiotic candidates

    POTENSI LESTARI DAN UPAYA PENANGKAPAN OPTIMUM IKAN BETOK (Anabas testudineus) DI PERAIRAN UMUM DARATAN KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Menganalisis nilai produksi Lestari ikan Betok (Anabas testudineus) di perairan umum daratan Kabupaten Hulu Sungai Selatan; (2) Menganalisis upaya penangkapan optimum ikan Betok (Anabas testudineus) di perairan umum daratan Kabupaten Hulu Sungai Selatan; (3)  Mengetahui jumlah tangkapan yang diperbolehkan ikan Betok (Anabas testudineus) di perairan umum daratan Kabupaten Hulu Sungai Selatan; (4) Mengetahui tingkat pemanfaatan ikan Betok (Anabas testudineus) di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.  Penelitian ini menggunakan metode survey. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dengan observasi lapangan.  Analisis CPUE dilakukan untuk mengetahui kelimpahan dan tingkat pemanfaatan ikan Betok. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari–November 2021. Lokasi penelitian adalah di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Hasil penelitian menunjukkan Nilai produksi Lestari atau nilai Maximum Sustainable Yield (MSY) ikan Betok (Anabas testudineus) di perairan umum daratan Kabupaten Hulu Sungai Selatan  sebesar 1.537,39 ton. Nilai upaya penangkapan optimum (FMSY) ikan Betok (Anabas testudineus) di perairan umum daratan Kabupaten Hulu Sungai Selatan sebesar 1.074.332 trip.  Nilai jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) ikan Betok (Anabas testudineus) di perairan umum daratan Kabupaten Hulu Sungai Selatan sebesar 1.229,91 ton.  Tingkat pemanfaatan ikan Betok (Anabas testudineus) di Kabupaten Hulu Sungai Selatan pada tahun 2018 adalah  lebih dari 100% termasuk tingkat overfishing   This study aims to: (1)Analyze the Maximum Sustainable Yield (MSY) value of climbing gouramy (Anabas testudineus) in the fresh waters of Hulu Sungai Selatan Regency; (2) Analyzing the optimum effort of climbing gouramy (Anabas testudineus) in the fresh waters of Hulu Sungai Selatan Regency; (3) Knowing the Total  Allowable  Catch (TAC) of climbing gouramy (Anabas testudineus) in the fresh waters of Hulu Sungai Selatan Regency; (4) Knowing the level of utilization of climbing gouramy (Anabas testudineus) in Hulu Sungai Selatan Regency.  This research uses survey method. The data collected are primary data and secondary data. Data collection by field observation. CPUE analysis was conducted to determine the abundance and utilization rate of Betok fish.  This research was conducted from February–November 2021. The research location is in Hulu Sungai Selatan Regency.  The results showed that the value of the Maximum Sustainable Yield (MSY) of climbing gouramy (Anabas testudineus) in the fresh waters of Hulu Sungai Selatan Regency was 1,537.39 tons.  The value of the optimum effort (FMSY) of climbing gouramy (Anabas testudineus) in the fresh waters of Hulu Sungai Selatan Regency is 1,074,332 trips.  The value of the Total Allowable Catch (TAC) of climbing gouramy (Anabas testudineus) in the fresh waters of Hulu Sungai Selatan Regency is 1,229.91 tons.  The utilization rate of climbing gouramy (Anabas testudineus) in Hulu Sungai Selatan Regency in 2018 was more than 100% including overfishing rates

    PENGOLAHAN NUGGET DENGAN VARIASI PERBANDINGAN DAGING IKAN TOMAN (Channa micropeltes) DAN KENTANG (Solanum tuberomus) YANG BERBEDA TERHADAP UJI ORGANOLEPTIK

    Full text link
    Ikan toman memang dikenal sebagai ikan yang mirip dengan gabus/ haruan. Ikan toman juga kurang diminati masyarakat karena rasa dagingnya yang kurang gurih dibandingkan ikan yang sejenisnya seperti gabus/haruan. Mengatasi hal ini maka dilakukan pengolahan produk ikan toman yaitu Nugget. Daging ikan toman ditambahkan pada pengolahan Nugget yang umumnya hanya dari daging giling dan daging ayam. Pada umumnya ikan toman hanya sebagai ikan konsumsi. Kemudian, dilkakukan pengolahan nugget ikan toman. Umumnya pengolahan nugget dengan penambahan tepung tapioka sebagai pengikat daging ikan dan bumbu, tetapi tekstur kurang disukai karena sangat alot, maka pada penelitian diganti dengan penambahan tepung terigu yang disubtitusikan dengan kentang.  Perlakuan yang terbaik untuk organoleptic adalah  pengolahan nugget dengan perbandingan ikan toman dan kentang berbanding 1:4. Kadar air nugget ikan dengan penambahan kentang memenuhi standard, karena  berdasarkan SNI 7758 :2013 pesyaratan mutu nugget ikan untuk kadar air yang dikandung maksimal 60%. Red snakehead is known as a fish similar to cork / haruan. Red snakehead is also less popular with the public because of the taste of the meat that is less savory than fish of the like such as cork / haruan. Overcoming this, the processing of toman fish products is Nugget. Toman fish meat is added to nugget processing which is generally only from ground meat and chicken meat. In general toman fish only as fish consumption. Then, the processing of red snakehead nuggets. Generally processing nuggets with the addition of tapioca flour as a binder of fish meat and seasoning, but the texture is less preferred because it is very tough, so in the study replaced with the addition of wheat flour substituted with potatoes.  The best treatment for organoleptics is the processing of nuggets with a ratio of red snakeheadtoman  and potatoes versus 1:4. The moisture content of fish nuggets with the addition of potatoes meets the standard, because based on SNI 7758: 2013 the quality requirements of fish nuggets for the maximum water content contained are 60

    MANIPULATION OF DIFFERENT WATER LEVELS AGAINST THE SPAWNING OF CLIMBING PERCH (Anabas testudineus Bloch) NATURALLY

    Full text link
    Climbing perch enlargement activities are constrained by available fry, due to insufficient production. One of the unknown aquaculture factors is the best water level that can be used in spawning activities for climbing perch. The purpose of the study was to determine the effect of water level manipulation on the spawning results of climbing perch carried out naturally. The study used 3 treatments, namely water levels of 40 cm, 50 cm, and 60 cm and each treatment was repeated 4 times, while the parameters observed included fecundity, egg diameter, fertilization rete, hatching rate, survival rate, and water quality. The results showed that fecundity, egg diameter, fertilization rate, the highest hatching rate were obtained at treatment B of 26419.50 eggs, 0.63 mm, 59.50%, and 41.25%, respectively, while the highest survival rate was obtained in treatment A, which was 71.00%. Water quality during the study was still at the tolerance limit that supports the spawning of climbing perch, namely temperatures between 25.2 – 26.2oC, pH between 7.05 – 7.34, and DO between 3.77 – 4.21 mg / L. Based on diversity analysis (ANOVA) it shows that Fhitung < Ftabel is stated to be no real difference between all treatments given (receive H0) and the results of regression tests show that a water level of 45 cm is optimal for natural spawning of climbing perch   Kegiatan pembesaran ikan papuyu terkendala dengan benih yang tersedia, karena produksinya yang tidak mencukupi. Salah satu faktor budidaya perairan yang belum diketahui adalah ketinggian air yang terbaik yang dapat digunakan dalam kegiatan pemijahan ikan papuyu. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh manipulasi ketinggian air terhadap hasil pemijahan ikan papuyu  yang dilakukan secara alamiah.  Penelitian menggunakan 3 perlakuan, yakni ketinggian air 40 cm, 50 cm, dan 60 cm serta masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali, sedangkan parameter yang diamati meliputi fekunditas, diameter telur, derajat pembuahan, derajat penetasan, survival rate, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fekunditas, diameter telur, derajat pembuahan, derajat penetasan  tertinggi diperoleh pada  perlakuan B masing-masing 26419,50 butir, 0,63 mm,  59,50%,  dan 41,25%, sedangkan survival rate tertinggi diperoleh  pada perlakuan A, yakni 71,00%. Kualitas air selama penelitian masih berada pada batas toleransi yang menunjang pemijahan ikan papuyu  yaitu suhu  antara 25,2 – 26,20C, pH antara 7,05 – 7,34, dan DO antara 3,77 – 4,21 mg/L. Berdasarkan analisis keragaman (ANOVA) menunjukan bahwa Fhitung < Ftabel  dinyatakan tidak berbeda nyata antara semua perlakuan yang diberikan (terima H0) dan hasil uji regresi menunjukkan bahwa ketinggian air 45 cm adalah optimal untuk pemijahan ikan papuyu secara alamiah

    ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI USAHA PERIKANAN TANGKAP DI ERA NEW NORMAL PADA PELABUHAN PERIKANAN PANTAI BONDET CIREBON JAWA BARAT

    Full text link
    Desa Bondet merupakan wilayah potensial dalam usaha pengembangan perikanan tangkap di Pantai Utara Jawa Barat. Usaha perikanan tangkap merupakan salah satu mata pencaharian nelayan yang mulai berkembang di era new normal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek-aspek yang mempengaruhi usaha perikanan tangkap di Daerah Bondet di era new normal pasca pandemi Covid-19. Metode yang digunakan adalah metode survei terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat nelayan di sekitar Pelabuhan Perikanan Pantai Bondet. Data diperoleh melalui kegiatan wawancara kepada nelayan pemilik kapal kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi usaha perikanan tangkap dapat dilihat melalui lima faktor yaitu faktor teknis, faktor produktivitas, faktor pemasaran, faktor sosial dan finansial. Berdasarkan analisis faktor teknis, unit penangkapan ikan yang ada di perairan Bondet terdiri dari kapal motor (5-10 GT) dan perahu motor tempel (<5 GT), produktivitas kapal motor lebih besar dibandingkan perahu motor tempel. Pola pemasaran hasil perikanan masih belum optimal karena belum ditunjang sarana dan prasarana yang memadai. Hasil analisis finansial, kapal motor memperoleh keuntungan sebesar Rp 73.399.560 per tahun, R/C 5,92  dan PP 2,44. Perahu motor tempel memperoleh keuntungan sebesar  Rp 33.658.200 per tahun, R/C 5.29 dan PP 2,67.   Bondet Village is a potential area in the development of capture fisheries on the North Coast of West Java. Capture fisheries business is one of the livelihoods of fishermen who are starting to develop in the new normal era. This study aims to analyze the aspects that affect the capture fisheries business in the Bondet area in the new normal era after the Covid-19 pandemic. The method used is a survey method to the factors that affect the fishing community around the Bondet Beach Fishing Port. The data was obtained through interviews with fishermen who own boats and then analyzed using qualitative descriptive methods. Based on the research results, it is known that the factors that influence the capture fisheries business can be seen through five factors, namely technical factors, productivity factors, marketing factors, social and financial factors. Based on the analysis of technical factors, fishing units in Bondet waters consist of motor boats (5-10 GT) and outboard motor boats (<5 GT), the productivity of motor boats is greater than outboard motor boats. The marketing pattern of fishery products is still not optimal because it has not been supported by adequate facilities and infrastructure. The results of financial analysis, motor boats earn a profit of Rp. 73,399,560 per year, R/C 5.92 and PP 2.44. Outboard motor boats earn a profit of Rp 33,658,200 per year, R/C 5.29 and PP 2.67

    RELATIONSHIP WATER QUALITY WITH STRUCTURE OF FISH COMMUNITIES CAPTURED IN LAKE HANJALUTUNG

    Full text link
    This study aims to determine the water quality and structure of the fish community as well as the relationship between water quality and the structure of the fish community in Lake Hanjalutung. This research was conducted from September to November 2021 at Lake Hanjalutung, Palangka Raya City. The method used is direct observation or (survey) directly to Lake Hanjalutung. The results of the study obtained temperature values of 28.33oC- 29.40 oC, brightness 22.83cm- 24.50 cm, depth 0.42m- 1.17m, pH 5.67-6.07, DO 2.91 mg / l - 3.51mg / l, BOD 1.93mg / l-10.30mg / l, and COD 38.40mg / l-85.33 mg / l. The number of fish species caught in Lake Hanjalutung using gill nets is 816 individuals, 17 species, and 9 families. The results of the data analysis showed that the diversity index value ranged from 1.35-1.59 in the medium category, the uniformity index value ranged from 0.63-0.94 in the high category and the dominance index value ranged from 0.25-0.44 which means that no fish species dominated. Based on the results of the analysis using multiple linear regression, water quality parameters simultaneously have a relationship with the structure of fish communities, where the diversity index with values (sig. 0.016), the uniformity index with values (sig. 0.036) and the dominance index with values (sig. 0.038). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air dan struktur komunitas ikan serta hubungan antara kulaitas air dengan struktur komunitas ikan di Danau Hanjalutung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Nopember 2021 di Danau Hanjalutung Kota Palangka Raya. Metode yang digunakan adalah observasi langsung atau (survei) secara langsung ke Danau Hanjalutung. Hasil penelitian diperoleh nilai suhu 28,33oC- 29,40 oC, kecerahan 22,83cm- 24,50 cm, kedalaman 0,42m- 1,17m, pH 5,67-6,07, DO 2,91 mg/l - 3,51mg/l, BOD 1,93mg/l-10,30mg/l, dan COD 38,40mg/l-85,33 mg/l. Jumlah spesies ikan yang tertangkap di Danau Hanjalutung dengan menggunakan jaring insang sebanyak 816 individu, 17 spesies, dan 9 famili. Hasil analisis data menunjukkan nilai indeks keanekaragaman berkisar 1,35-1,59 dalam kategori sedang, nilai indeks keseragaman berkisar 0,63-0,94 dalam kategori tinggi dan nilai indeks dominasi berkisar 0,25-0,44 yang berarti tidak ada spesies ikan yang mendominasi. Berdasarkan hasil analisis menggunakan regresi linier berganda bahwa parameter kualitas air secara simultan memiliki hubungan dengan struktur komunitas ikan, dimana indeks keanekaragaman dengan nilai (sig. 0,016), indeks keseragaman denagn nilai (sig. 0,036) dan indeks dominasi dengan nilai (sig. 0,038). &nbsp

    SUPLEMENTASI Artemia sp DAN Daphnia sp UNTUK PERTUMBUHAN DAN SINTASAN LARVA IKAN PAPUYU (Anabas testudineus)

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pertumbuhan dan sintasan larva ikan papuyu (Anabas testudineus Bloch) dengan pemberian Artemia sp dan Daphnia sp bersuplemen Viterna dan mengetahui pakan alami bersuplemen terbaik untuk dijadikan pakan larva papuyu. Larva ikan papuyu dipelihara selama 34 hari. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan antara lain A (Daphnia sp non suplemen), B (Artemia sp non suplemen), C (Daphnia sp bersuplemen), D (Artemia sp bersuplemen). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian Artemia sp dan Daphnia sp bersuplemen berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan panjang dan berat relatif, dan sintasan larva papuyu. Perlakuan terbaik untuk panjang relatif, yakni C (266,67%) yang diikuti D (254,94%), berat relatif pada perlakuan D (187,78%) dan sintasan pada perlakuan D (77%) dan C (70%). Sedangkan kualitas air media pemeliharaan, yakni suhu 25 -27,4 oC, DO 2,01-3,10 mg/L, pH 6,3 – 7,9, dan amoniak (NH3) 0,15 – 0,26 mg/L masih dalam kisaran yang baik untuk kehidupan papuyu. This study aimed to study the growth and survival of climbing perch (Anabas testudineus Bloch) larvae with Artemia sp and Daphnia sp supplemented with Viterna and to find out the best natural food supplemented to be used as feed for climbing perch larvae. Climbing perch fish larvae were reared for 34 days. The design used in this study was a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. The treatments used included A (Daphnia sp non-supplemented), B (Artemia sp non-supplemented), C (Daphnia sp supplemented), D (Artemia sp supplemented). The results of this study showed that the supplementation of Artemia sp and Daphnia sp had a significant effect on the growth of relative length and weight, and the survival of climbing perch larvae. The best treatment for relative length, namely C (266.67%) followed by D (254.94%), relative weight in treatment D (187.78%) and survival in treatment D (77%) and C (70%) . While the water quality of the maintenance media, namely the temperature 25 -27.4 oC, DO 2.01-3.10 mg/L, pH 6.3 - 7.9, and ammonia (NH3) 0.15 - 0.26 mg/L is still in a good range for climbing perch's life

    KEANEKARAGAMAN FITOPLANKTON DAN ZOOPLANKTON DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BARITO (SUB DAS NAGARA, SUB DAS MARABAHAN DAN SUB DAS KUIN) PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

    Full text link
    Sungai Barito yang panjangnya sekitar 900 km merupakan sungai besar yang penting di Kalimantan. Penelitian dilakukan di Sub Das Nagara, Sub Das Marabahan dan Sub Das Kuin. Berdasarkan perhitungan indeks keanekaragaman plankton pada Sub Das Nagara untuk fitoplankton dan zooplankton termasuk dalam kategori perairan tidak tercemar, Sub Das Marabahan untuk fitoplankton termasuk dalam kategori perairan tercemar sedang dan zooplankton termasuk dalam kategori perairan tercemar berat, Sub Das Kuin untuk fitoplankton termasuk dalam kategori perairan tercemar ringan dan zooplankton termasuk dalam kategori perairan tercemar sedang. Koefisien Saprobik plankton di Das Barito pada Sub Das Nagara dan Sub Das Marabahan termasuk kategori  perairan β-Mesosaprobik, sedangkan pada Sub Das Kuin nilai indeks koefisien saprobik plankton termasuk kategori  perairan α-Mesosaprobik. Perhitungan kelimpahan plankton pada stasiun I, II dan III termasuk dalam kategori perairan kesuburan sedang. Bedasarkan perhitungan indeks keseragaman pada stasiun I,II dan III termasuk dalam kategori perairan dengan keseragaman jenis tinggi dan berdasarkan indeks dominasi pada stasiun I,II dan III tidak ada jenis plankton yang mendominasi   The Barito River, which is about 900 km long, is an important large river in Kalimantan. The research was conducted in the Nagara sub-watershed, the Marabahan sub-watershed and the Kuin sub-watershed. Based on the plankton diversity index in the Nagara sub-watershed for phytoplankton and zooplankton included in the category of unpolluted waters, the Marabahan sub-watershed for phytoplankton was included in the moderately polluted waters category and zooplankton included in the heavily polluted waters category, Kuin sub-basin for phytoplankton was included in the category lightly polluted waters and zooplankton are included in the category of moderately polluted waters. The saprobic coefficient of plankton in the Barito watershed in the Nagara sub-watershed and the Marabahan sub-watershed is in the -Mesosaprobic waters category, while in the Kuin sub-watershed the value of the plankton saprobic coefficient index is in the -Mesosaprobic waters category. Plankton calculations at stations I, II and III are included in the medium time category. Based on the calculation of the uniformity index at stations I, II and III included in the category of waters with high species uniformity and based on the dominance index at stations I, II and III no plankton species dominate

    PENGARUH LAMA WAKTU PENGGARAMAN YANG BERBEDA TERHADAP KADAR PROTEIN DAN ASAM AMINO CUMI-CUMI (LOLIGO SP.)

    Full text link
    Cumi-cumi (Loligo sp.) merupakan binatang lunak dengan tubuh berbentuk silindris. Sirip-siripnya berbentuk triangular atau radar yang menjadi satu pada ujungnya. Pada kepalanya disekitar lubang mulutnya terdapat 10 tentakel yang dilengkapi dengan alat penghisap (sucker) dan merupakan sumber protein hewani yang mana komponen utama penyusun proteinnya adalah asam amino. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu penggaraman yang berbeda pada proses pengolahan cumi-cumi terhadap kadar protein dan profil asam amino. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama waktu penggaraman yang berbeda memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap kadar protein berdasarkan hasil Analysis of Variance (ANOVA) α 5%.  Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengaruh lama waktu penggaraman cumi yang berbeda tidak berpengaruh terhadap kadar protein, Hasil analisa kadar protein tertinggi ada pada perlakuan C yaitu penggaraman selama 5 hari sebesar 15,09% sedangkan untuk profil asam amino lisin  sebesar 1,38% dari perlakuan 0 yaitu cumi-cumi segar merupakan jenis asam amino esensial tertinggi dari profil asam amino penyusun protein cumi, sedangkan jenis asam amino non esensial tertinggi adalah asam glutamat sebesar 2,79% dari perlakuan 0 yaitu cumi-cumi segar.   The squid (Loligo sp.) Is a soft animal with a cylindrical body. The fins are triangular or radar-shaped which are joined at the ends. On the head around the mouth opening there are 10 tentacles which are equipped with a sucker (sucker) and are a source of animal protein where the main component of protein is amino acids. This study aims to determine the effect of different salting times in the processing of squid on protein content and amino acid profile. The results showed that the different salting time treatments had no significant effect on protein content based on the results of the Analysis of Variance (ANOVA) α 5%. The conclusion of this study is that the effect of different salting time of squid has no effect on protein content.The results of the analysis of the highest protein content were in treatment C, namely salting for 5 days at 15.09%, while for the lysine amino acid profile of 1.38% of the treatment. 0, namely fresh squid is the highest type of essential amino acid from the amino acid profile of squid protein, while the highest type of non-essential amino acid is glutamic acid at 2.79% from treatment 0, namely fresh squid

    209

    full texts

    216

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Fish Scientiae (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇