Jurnal Universitas PGRI Banyuwangi
Not a member yet
    3428 research outputs found

    LITERATUR REVIEW: SENYAWA AKTIF TUMBUHAN YANG EFEKTIF SEBAGAI PESTISIDA NABATI UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT TANAMAN

    No full text
    Abstrak Perlunya pengendalian penyakit tanaman yang ramah lingkungan mendorong dikembangkannya fitopestisida berbahan aktif senyawa tanaman. Senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan minyak atsiri terbukti efektif mengendalikan patogen tanaman sekaligus mengurangi efek negatif pestisida kimia. Senyawa tersebut berasal dari bagian tumbuhan seperti akar, batang, daun, bunga dan buah. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan dan menganalisis artikel terkait efektivitas senyawa aktif pada tanaman sebagai pestisida nabati. Perancangan menggunakan literatur review yang dikumpulkan melalui mesin pencari seperti PubMed, Google Scholar, dan ScienceDirect. Kriteria artikel yang digunakan adalah artikel terbitan tahun 2019 hingga 2024 yang membahas tentang penggunaan pestisida tanaman untuk mengendalikan penyakit tanaman. Hasil analisis menunjukkan bahwa senyawa aktif pada tanaman dapat menghambat pertumbuhan patogen dengan berbagai cara, misalnya dengan merusak membran sel patogen, mengganggu metabolisme, dan menghentikan beberapa enzim. Oleh karena itu, pestisida nabati dapat digunakan untuk pertanian organik dan kelestarian lingkungan. &nbsp

    ANALISIS VARIASI GENETIK PADA KERANG Anadara MENGGUNAKAN MARKER RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA)

    No full text
    Di Indonesia, kerang Anadara dikenal dengan nama umum kerang bulu dan kerang darah. Informasi mengenai variasi genetik spesies ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sidik jari DNA kerang Anadara guna mengidentifikasi polimorfisme dan variasi genetik antar individu dan antarpopulasi. Penelitian ini menggunakan metode analisis keragaman genetik pada populasi kerang Anadara menggunakan aplikasi teknik sidik jadi DNA, jenis primer yang efektif untuk mengidentifikasi pola polimorfisme, dan menentukan kekerabatan yang terbentuk dari teknik sidik jari DNA menggunakan marker Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) menggunakan enam primer yaitu, OPD 20, OPC 02, OPA 2, OPA 13, UBC 101 dan UBC 456. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik RAPD berhasil mengidentifikasi variasi genetik yang signifikan antar individu kerang Anadara. Total 27 pita DNA teramati dengan ukuran berkisar antara 200-3000 pasang basa. Tingkat polimorfisme mencapai 100% dengan rata-rata 5-8 pita polimorfik perprimer. Terdapat satu primer monomorfik dan satu primer tidak ter amplifikasi. Tingkat kemiripan genetik antar individu bervariasi dari 0,68 hingga 1.00, mengindikasikan keragaman genetik yang substantial. Dendogram hasil analisis menunjukkan pengelompokan yang jelas berdasarkan hasil yang di dapatkan dalam PCR-RAPD. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa metode RAPD efektif dalam mengungkap variasi genetik kerang Anadara. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam memahami struktur genetik spesies

    KEANEKARAGAMAN DAN DOMINANSI PLANKTON DI TAMBAK IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcarifer) PT. SURI TANI PEMUKA (STP) SOBO, BANYUWANGI

    No full text
    This study aims to identify the diversity and dominance of plankton in white snapper (Lates calcarifer) ponds at PT. Suri Tani Pemuka, Banyuwangi, and to analyze the effect of water quality on the presence of plankton. The study was conducted from 13 to 26 December 2024, with sampling in two pond plots, namely Plot 26 A and Plot 28 B. The results showed that in Plot 26 A there was a high dominance of Chlorella species in phytoplankton and Brachionus in zooplankton, which indicated less than optimal water quality and reduced diversity. In contrast, Plot 28 B showed better water quality, with more balanced plankton diversity and dominance of Euplotes in zooplankton. These findings confirm that the presence of diverse plankton is an indicator of good water quality, which supports ecosystem stability and aquatic productivity. This study is expected to provide insight into fish pond management and aquatic resource conservation

    ANALISIS BIBLIOMETRIK TANAMAN UMBI GADUNG (Dioscorea hispida)

    No full text
    Umbi gadung (Dioscorea hispida) merupakan salah satu sumber pangan lokal yang memiliki potensi tinggi sebagai alternatif dalam menghadapi tantangan ketahanan dan keberlanjutan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren dan sebaran penelitian terkait gadung melalui pendekatan bibliometrik dengan menggunakan database Scopus. Data dari tahun 1990-2020 dikumpulkan dan dianalisis menggunakan perangkat lunak OpenRefine dan VOS Viewer untuk memetakan hubungan antar topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fokus utama penelitian terbagi menjadi tiga klaster, yaitu: pengolahan umbi dan faktor anti-nutrisi, aplikasi dalam industri kosmetik, dan potensi sebagai bioherbisida dalam konteks keanekaragaman hayati lokal. Selain itu, analisis distribusi institusi menunjukkan dominasi institusi dari Asia Tenggara, terutama Malaysia dan Indonesia. Visualisasi kepadatan istilah juga menunjukkan topik-topik populer dan potensi penelitian yang belum banyak dieksplorasi. Studi ini memberikan dasar penting untuk pengembangan lebih lanjut dalam pemanfaatan Dioscorea hispida sebagai komoditas multifungsi yang berkelanjutan

    PENGARUH SALINITAS AIR TAWAR DAN AIR LAUT TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN PADA MENCIT (Mus musculus L.)

    No full text
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membuktikan pengaruh salinitas air tawar dan air laut terhadap kadar hemoglobin pada mencit (Mus musculus L.). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ekperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dimana menggunakan 15 ekor mencit jantan yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu: kelompok kontrol (K), kelompok P1 dengan perlakuan berenang di air tawar dan kelompok P2 dengan perlakuan berenang di air laut. Pengamatan dari kadar hemoglobin menggunakan metode sahli. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil dimana rerata kadar hemoglobin mencit yang diberi perlakuan berenang di air tawar yaitu: 5,62 g/dL dan pada air laut yaitu: 5,76 g/dL sedangkan untuk perlakuan kontrol yaitu: 8,625 g/dL. Dari penelitian ini dapat disimpulkan salinitas air dapat mempengaruhi hemoglobin pada mencit (Mus musculus L.) yang mana dapat menurunkan kadar hemoglobin mencit (Mus musculus L.) Kata kunci: Mus musculus L.; hemoglobin,; darah; salinitas Abstract This study aims to determine and prove the effect of fresh water and seawater salinity on hemoglobin levels in mice (Mus musculus L.). The method used in this study was an experimental method with a completely randomized design (CRD) which used 15 male mice which were divided into 3 groups, namely: the control group (K), group P1 with the treatment of swimming in fresh water and group P2 with the treatment of swimming. in seawater. Observation of hemoglobin levels using the Sahli method. Based on the results of the study, it was found that the average hemoglobin level of mice treated with swimming in fresh water was: 5.62 g/dL and in seawater, namely: 5.76 g/dL while for the control treatment, namely: 8.625 g/dL. From this study it can be concluded that water salinity can affect hemoglobin in mice (Mus musculus L.) which can reduce hemoglobin levels in mice (Mus musculus L.) Keywords: Mus musculus L; hemoglobin; blood; salinit

    CHARACTERISTICS OF NANOCREAM SUNSCREEN COMBINING KEPOK BANANA CORM AND RED WATERMELON MESOCARP

    No full text
    Plant parts deemed as waste, such as banana corm and watermelon mesocarp, show promise as raw materials for cosmetics when processed using nanocream technology. This study aimed to assess the characteristics of nanocream creams combining these extracts. The characterization of the nanocream creams included organoleptic testing, homogeneity testing, pH testing, nanocream type testing, spreadability testing, stability testing, viscosity testing, antioxidant activity testing using the DPPH method, and sunscreen activity evaluation through SPF determination using UV-Vis spectrophotometry. The research results show that the organoleptic properties of all formulations are semi-solid, with a white to yellowish color. The type of cream for all formulations is oil-in-water, and homogeneous. The pH values for FI, FII, and FIII are 6.37, 6.2, and 6.2, respectively (pvalue=0.017), the spreadability values are 5.94, 5.72, and 5.64 respectively (p=0.024), the viscosity values are 5635, 5339, and 5181, respectively (p<0.05), the antioxidant activity is indicated by IC50 values of 66.39, 24.50, and 56.45 respectively, while the SPF values are 0.95, 0.87, and 1.01 repectively. The resulting nanocream demonstrate favorable organoleptic characteristics, pH, homogeneity, spreadability, and viscosity meeting the required standards, with the highest antioxidant activity observed in FII and no significant sunscreen potential in any of the formulations

    ANALISIS KUANTITATIF CEMARAN LOGAM BERAT PADA MINUMAN SERBUK TRADISIONAL BERBASIS KUNYIT (Curcuma longa L)

    No full text
    Traditional herbal drinks have many health benefits because they contain active ingredients. Traditional drinks that are widely marketed are liquids that cannot be stored for long periods. One way to extend the shelf life is by formulating it into powder. Powdered drinks are more practical and easier to serve so it is hoped that they will be well received by consumers. Heavy metal contamination is an indicator that needs to be considered in food safety. The presence of heavy metal contamination in this study, namely Pb and Cu, can occur during the processing of traditional drinks or in the raw materials used. In this research, 3 turmeric-based powder drink formulations (Curcuma longa L) were carried out, with several other ingredients, namely tamarind, cinnamon, lemongrass and cloves with variations in the amount of sugar added. Analysis of heavy metal contamination was carried out on fresh turmeric raw materials and on powdered drink products. The test results show that in fresh turmeric raw materials there is 0.423 mg/kg Cu and 0.012 mg/kg lead. Tests on the three turmeric powder drink formulations, namely F1: contained 0.595 mg/kg Cu and 0.018 mg/kg lead. In F2 there was 0.435 mg/kg Cu and 0.005 mg/kg lead. In F3 there was 0.672 mg/kg Cu and 0.008 mg/kg lead. These results still meet the quality requirements for traditional powdered drinks based on SNI 01-4320-1996.     &nbsp

    SIFAT FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK SUSU KEDELAI DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG TULANG RAWAN AYAM PEDAGING

    No full text
    Susu kedelai merupakan hasil teknologi pangan yang mengekstrak fraksi terlarut dari kedelai dengan kualitas yang tidak jauh berbeda dengan susu sapi. Susu kedelai bebas laktosa dengan kandungan lemak yang lebih rendah dari susu sapi sehingga baik digunakan untuk orang yang diet dan lactose intolerance. Susu kedelai mengandung kalsium dan fosfor yang lebih rendah dari susu sapi sehingga pada penelitian ini dilakukan penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging pada susu kedelai dengan tujuan untuk meningkatkan jumlah kalsium dan fosfor yang terkandung pada susu kedelai. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah RAL pola searah dengan tiga kali ulangan. Perlakuan yang dilakukan adalah penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging pada 250 ml susu kedelai sebanyak 0 g, 1 g, 2 g, 3 g, dan 4 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging pada susu kedelai tidak berbeda nyata terhadap sifat fisikokimia susu kedelai kecuali pada kadar airnya. Semakin tinggi konsentrasi tepung tulang rawan ayam pedaging yang ditambahkan maka kadar air susu kedelai semakin menurun. Kadar abu susu kedelai berkisar 1,68-3,17 %bk. Kadar lemak susu kedelai berkisar 0,65-1,44 %bk. Kadar protein susu kedelai berkisar 19,47-20,29 %bk. Kadar kalsium susu kedelai berkisar 0,66-2,15 mg/g bk, dan kadar fosfor susu kedelai berkisar 0,16-0,22 mg/g bk. Penilaian uji organoleptik susu kedelai dengan uji hedonik (kesukaan) terhadap warna, kekentalan dan rasa menunjukkan berbeda nyata, sedangkan untuk aroma tidak berbeda nyata. Secara umum susu kedelai yang paling disukai oleh konsumen adalah susu kedelai dengan penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging 4 g. Kata kunci: Susu kedelai, tepung tulang rawan ayam, kalsium, hedonik &nbsp

    SKRINING POTENSI EKSTRAK KULIT JANTUNG PISANG KEPOK (Musa paradisiaca Linn.) SEBAGAI ZAT ANTIBAKTERI

    No full text
    Abstract   Indonesian Food and Drug Authority or BPOM no longer recommends the use of synthetic preservatives due to their toxic properties and potential carcinogenic risks. One of the natural ingredients that is potential as a natural preservative is the peel of kepok banana blossom (Musa paradisiaca Linn.), which is known to contain secondary metabolites with microbial activity, including steroids, terpenoids, saponins, tanning, alkaloid, flavonoids, and phenols. This study aim to determine the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC) in Staphylococcus aureus bacteria. The peel extract of kepok banana blossom (Musa paradisiaca Linn.) was obtained by maceration with a mixture of 96% ethanol: 3% Citric Acid (85:15) solvent. Concentration of extract varied from 12.5%; 25%; 50%; until 100%, it is used for antibacterial activity test in which aquadest as a negative control and Chloramphenicol as a positive control. The Minimum Inhibitory Concentration (MIC) test was conducted using the liquid macrodilution method and the Minimum Bactericidal Concentration (MBC) test was conducted using the spread method. The Minimum Inhibitory Concentration (MIC) value was obtained at a concentration of 50% and the Minimum Bactericidal Concentration (MBC) value was obtained at a concentration of 100%. The peel extract of Kepok banana blossom (Musa paradisiaca Linn.) with a concentration of 50% was able to inhibit the growth of Staphylococcus aureus bacteria and with a concentration of 100% was able to kill Staphylococcus aureus bacteria.    Keywords: kepok banana blossom peel extract, natural preservatives, antibacterial acitivity test   Abstrak   Badan Obat dan Makanan atau BPOM telah menyarankan untuk menghindari penggunaan bahan pengawet sintesis karena cenderung toksi dan karsinogenik. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai pengawet alami yaitu kulit jantung pisang kepok (Musa paradisiaca Linn.), yang diketahui mengandung metabolit sekunder yang berfungsi sebagai senyawa antimikroba diantaranya steroid, terpenoid, saponin, tanin, alkaloid, flavonoid dan fenol. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) pada bakteri Staphylococcus aureus. Ekstrak kulit jantung pisang (Musa paradisiaca Linn.) diperoleh dengan cara maserasi dengan pelarut yang terdiri dari campuran etanol 96% : Asam Sitrat 3% (85:15). Variasi konsentrasi ekstrak dibuat untuk pengujian aktivitas antibakteri dari 12,5%; 25%; 50%; hingga 100%, aquades sebagai kontrol negatif dan Kloramfenikol sebagai kontrol positif. Uji Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dilakukan dengan metode makrodilusi cair dan uji Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dilakukan dengan metode sebar (spread). Nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) didapatkan pada konsentrasi 50% dan nilai Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) didapatkan pada konsentrasi 100%. Berdasarkan hasil penelitian ini, ekstrak kulit jantung pisang (Musa paradisiaca Linn.) dengan konsentrasi 50% diketahui mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan dengan konsentrasi 100% mampu membunuh bakteri Staphylococcus aureus.    Keywords: ekstrak kulit jantung pisang, pengawet alami, uji aktivitas antibakter

    EKSPLORASI ZAT WARNA ALAMI DARI TUMBUHAN LOKAL MENGGUNAKAN TEKNIK DECOCTION DAN APLIKASINYA PADA KAIN KATUN

    No full text
    Industri tekstil merupakan salah satu penyumbang utama pencemaran lingkungan, terutama akibat penggunaan zat warna sintetis yang bersifat toksik dan tidak dapat terurai secara hayati. Sebagai alternatif, zat warna alami yang berasal dari bahan nabati menawarkan solusi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi warna dari delapan sumber tanaman lokal, yaitu Tectona grandis (daun jati), Psidium guajava (daun jambu biji), Mangifera indica (daun mangga), Carica papaya (daun pepaya), Vitex pinnata (kulit kayu mauni), Cocos nucifera (sabut kelapa), dan Morinda citrifolia (akar mengkudu) saat diaplikasikan pada kain katun tanpa penggunaan mordant. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui eksperimen laboratorium yang melibatkan tahapan persiapan, ekstraksi menggunakan metode dekoksi, dan aplikasi langsung zat warna pada kain katun. Observasi dilakukan terhadap karakteristik visual warna yang dihasilkan serta hubungannya dengan kandungan fitokimia masing-masing bahan tumbuhan, seperti flavonoid, tanin, antosianin, dan senyawa fenolik. Hasil penelitian menunjukkan intensitas dan variasi warna yang beragam pada kain katun, yang mengindikasikan potensi beberapa spesies tumbuhan untuk dikembangkan sebagai pewarna tekstil alami. Studi ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan awal teknologi pewarnaan berbasis hayati lokal yang selaras dengan prinsip tekstil ramah lingkungan dan kimia hijau

    1,112

    full texts

    3,428

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Universitas PGRI Banyuwangi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇