Universitas Maritim Raja Ali Haji Pusat Jurnal Ilmiah
Not a member yet
76813 research outputs found
Sort by
KARBON AKTIF BERPORI DARI KULIT JERUK (Citrus sinensis (L.) Osbeck) MELALUI METODA DEHIDRASI UNTUK KAPASITOR ELEKTROKIMIA
Limbah kulit jeruk (Citrus sinensis (L.) Osbeck) adalah precusor karbon aktif yang ramah lingkungan dan ekonomis untuk bahan elektroda kapasitor elektrokimia. Pada penelitian ini kulit jeruk telah dimanfaatkan sebagai precusor karbon aktif berpori melalui metoda dehidrasi dengan H2SO4 dan penambahan aktivator KOH pada suhu karbonisasi 400°C. Karbon aktif yang dihasilkan terdiri dari karbon (71,42%) dan oksigen (28,58%), dengan volume pori adalah 0,04281 cm³/g, diameter pori 2,57 nm dan luas permukaan 140 m2/g dengan struktur dominan mesopori dan sedikit mikropori. Kinerja kapasitor elektrokimia dengan menggunakan karbon aktif dari kulit jeruk mencapai 10,75 mF dengan jumlah elektron 647,365 x 1015 elektron pada kondisi luas permukaan elektroda 3x3 cm2, ketebalan elektroda 0,15 cm dan elektrolit H3PO4 0,3 N. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sintesis karbon aktif kulit jeruk melalui dehidrasi asam memberikan keuntungan dalam segi efisiensi biaya, waktu dan proses preparasi untuk menghasilkan karbon aktif berpori dengan luas permukaan yang tinggi sebagai kapasitor elektrokimia berkinerja tinggi
Status Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) di Perairan Grajagan, Banyuwangi, Jawa Timur
Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) merupakan komoditas hasil tangkapan unggulan Banyuwangi untuk memenuhi kebutuhan skala rumahtangga dan industri. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis status pemanfaatan sumber daya ikan lemuru di perairan Grajagan Banyuwangi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model fox. Upaya penangkapan optimal untuk menjaga keberlanjutan stok ikan lemuru diperkirakan sebesar 269 trip per tahun. Upaya penangkapan aktual rata-rata mencapai 214 trip/tahun sehingga menunjukkan bahwa tekanan penangkapan masih di bawah batas MSY, akan tetapi mendekati kondisi biological overfishing dan terjadi economic overfishing karena melebihi EMEY sebanyak 204 trip. Volume produksi pada periode 2022–2024 secara berurutan melampaui estimasi produksi lestari yang dapat mengancam keberlanjutan stok apabila tidak dikendalikan. Tingkat pemanfaatan ikan lemuru sebesar 0,93 yang mengindikasikan fully exploited yang mendekati overexploited sehingga mengindikasikan sumber daya telah dimanfaatkan mendekati batas maksimum. Produksi rata-rata senilai 1.928.715 kg/tahun telah melebihi Jumlah Tangkap yang Diperbolehkan (JTB) senilai 1.656.465 kg/tahun sehingga pemerintah perlu melakukan pengendalian upaya penangkapan, penegakan regulasi kuota, dan menyusun strategi pengelolaan untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang ikan lemuru.Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) merupakan komoditas hasil tangkapan unggulan Banyuwangi untuk memenuhi kebutuhan skala rumahtangga dan industri. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis status pemanfaatan sumber daya ikan lemuru di perairan Grajagan Banyuwangi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model fox. Upaya penangkapan optimal untuk menjaga keberlanjutan stok ikan lemuru diperkirakan sebesar 269 trip per tahun. Upaya penangkapan aktual rata-rata mencapai 214 trip/tahun sehingga menunjukkan bahwa tekanan penangkapan masih di bawah batas MSY, akan tetapi mendekati kondisi biological overfishing dan terjadi economic overfishing karena melebihi EMEY sebanyak 204 trip. Volume produksi pada periode 2022–2024 secara berurutan melampaui estimasi produksi lestari yang dapat mengancam keberlanjutan stok apabila tidak dikendalikan. Tingkat pemanfaatan ikan lemuru sebesar 0,93 yang mengindikasikan fully exploited yang mendekati overexploited sehingga mengindikasikan sumber daya telah dimanfaatkan mendekati batas maksimum. Produksi rata-rata senilai 1.928.715 kg/tahun telah melebihi Jumlah Tangkap yang Diperbolehkan (JTB) senilai 1.656.465 kg/tahun sehingga pemerintah perlu melakukan pengendalian upaya penangkapan, penegakan regulasi kuota, dan menyusun strategi pengelolaan untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang ikan lemuru
Upaya Penanganan Permasalahan Ekowisata di Kelurahan Pulau Sicanang, Kecamatan Medan Belawan
Ekowisata Mangrove Sicanang di Kelurahan Pulau Sicanang, Kecamatan Medan Belawan memiliki potensi besar sebagai kawasan wisata berbasis konservasi dan edukasi. Namun, pengembangannya menghadapi berbagai kendala yang menyebabkan stagnasi bahkan kemunduran dalam operasional kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab permasalahan dalam pengembangan ekowisata di kawasan tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap masyarakat sekitar yang terlibat langsung dalam ekowisata. Dalam penelitian ini juga akan menyusun beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan disebabkan oleh faktor internal, seperti kurangnya kesadaran dan keterlibatan masyarakat, serta faktor eksternal berupa minimnya dukungan pemerintah, kerusakan infrastruktur, dan tidak adanya regulasi yang jelas
Pengaruh Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Berbantuan Modul Terhadap Motivasi dan Hasil Belajar Siswa pada Materi Ikatan Kimia
Abstrak
Pembelajaran materi ikatan kimia dengan metode konvensional cenderung kurang Model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantu modul yang pembelajarannya berpusat pada siswa dapat diterapkan untuk menumbuhkan motivasi belajar mereka sehingga memperoleh hasil belajar yang baik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian Non Equivalent Posttest Only Control Group Design. Sampel penelitian adalah siswa Kelas X MIA 1 sebagai kelas kontrol dan Kelas X MIA 2 sebagai kelas eksperimen. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa angket dan soal tes. Analisis data menggunakan uji uji t independen dan uji manova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Berdasarkan perhitungan uji t angket motivasi belajar diperoleh thitung ? ttabel = 2.691 ? 1.994 dengan nilai Sig. (2-tailed) = 0,009 < 0,05, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. 2) Berdasarkan perhitungan uji t hasil belajar diperoleh thitung ? ttabel = 5.385 ? 1.994 dengan nilai Sig. (2-tailed) = 0,000 < 0,05, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. 3) Berdasarkan perhitungan uji manova angket motivasi belajar dan hasil belajar diperoleh nilai signifikansi < 0,05, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima
Kata kunci: model pembelajaran inkuiri terbimbing, modul, motivasi, hasil belajar
Struktur Komunitas Bivalvia pada Ekosistem Padang Lamun Desa Teluk Bakau Kecamatan Gunung Kijang
Ekosistem padang lamun merupakan salah satu ekosistem tempat pemijahan biota dan berfungsi sebagai tempat perlindungan, mencari makan, dan habitat. Bivalvia adalah salah satu biota yang hidup di ekosistem padang lamun. Karena nilainya yang tinggi, banyak masyarakat memanfaatkannya sebagai makanan. Selain itu, bivalvia biasanya hidup di substrat, sehingga sering digunakan sebagai bioindikator untuk menentukan kualitas air laut. Mengingat betapa pentingnya ekosistem padang lamun dan bivalvia, pengamatan tentang struktur komunitas bivalvia dilakukan di ekosistem padang lamun Desa Teluk Bakau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan struktur komunitas bivalvia di Desa Teluk Bakau. Pengamatan dilakukan dari bulan Oktober hingga Desember 2022 di pesisir Desa Teluk Bakau. Metode purposive sampling digunakan untuk menentukan titik stasiun berdasarkan keberadaan ekosistem padang lamun dan bivalvia. Untuk mengumpulkan sampel bivalvia, plot berukuran 1 x 1 m2 digunakan, dan panjang transek adalah 100 m ke arah laut. Pengukuran parameter dilakukan secara in situ pada saat air laut surut dan pasang. Dengan menggunakan Microsoft Excel, data yang telah dikumpulkan untuk dianalisis. Hasil analisis struktur komunitas disajikan dalam grafik dan tabel. Hasil perhitungan kemudian menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman sebesar 1,195 termasuk dalam kategori sedang, indeks keseragaman sebesar 0,441, dan indeks dominansi sebesar 0,485 termasuk dalam kategori sedang. Hasil nilai indeks menunjukkan bahwa komunitas Bivalvia di Teluk Bakau tetap stabil. Selain itu, berdasarkan baku mutu air laut bagi biota, hasil pengukuran parameter perairan masih berada di bawah batas toleransi.Ekosistem padang lamun merupakan salah satu ekosistem tempat pemijahan biota dan berfungsi sebagai tempat perlindungan, mencari makan, dan habitat. Bivalvia adalah salah satu biota yang hidup di ekosistem padang lamun. Karena nilainya yang tinggi, banyak masyarakat memanfaatkannya sebagai makanan. Selain itu, bivalvia biasanya hidup di substrat, sehingga sering digunakan sebagai bioindikator untuk menentukan kualitas air laut. Mengingat betapa pentingnya ekosistem padang lamun dan bivalvia, pengamatan tentang struktur komunitas bivalvia dilakukan di ekosistem padang lamun Desa Teluk Bakau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan struktur komunitas bivalvia di Desa Teluk Bakau. Pengamatan dilakukan dari bulan Oktober hingga Desember 2022 di pesisir Desa Teluk Bakau. Metode purposive sampling digunakan untuk menentukan titik stasiun berdasarkan keberadaan ekosistem padang lamun dan bivalvia. Untuk mengumpulkan sampel bivalvia, plot berukuran 1 x 1 m2 digunakan, dan panjang transek adalah 100 m ke arah laut. Pengukuran parameter dilakukan secara in situ pada saat air laut surut dan pasang. Dengan menggunakan Microsoft Excel, data yang telah dikumpulkan untuk dianalisis. Hasil analisis struktur komunitas disajikan dalam grafik dan tabel. Hasil perhitungan kemudian menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman sebesar 1,195 termasuk dalam kategori sedang, indeks keseragaman sebesar 0,441, dan indeks dominansi sebesar 0,485 termasuk dalam kategori sedang. Hasil nilai indeks menunjukkan bahwa komunitas Bivalvia di Teluk Bakau tetap stabil. Selain itu, berdasarkan baku mutu air laut bagi biota, hasil pengukuran parameter perairan masih berada di bawah batas toleransi
Diversitas Bivalvia di Perairan Senggarang Besar Kota Tanjungpinang
Kawasan Pesisir Senggarang Besar memiliki keunikan ekosistem alam yang produktif, serta mempunyai nilai ekologis dan ekonomi yang signifikan. Berdasarkan hasil observasi awal ditemukan keberadaan beberapa spesies bivalvia di Perairan Senggarang Besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis, menghitung jumlah kepadatan dan indeks ekologi bivalvia di Perairan Senggarang Besar, Kelurahan Senggarang, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Juli 2023 yang bertempat di Perairan Senggarang Besar, Kelurahan Senggarang, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Penentuan stasiun penelitian menggunakan metode purposive sampling sebanyak tiga stasiun. Pengambilan data bivalvia menggunakan transek kuadran ukuran 1x1 m dengan jumlah 9 transek per stasiun. Di Perairan Senggarang Besar ditemukan 9 spesies bivalvia yang terdiri dari 5 family dan 9 genera, yaitu: Pitar floridana, Plakuna plasenta, Anomalodiscus squamosus, Anadara antiquata, Placamen chloroticum, Cyclotellina remies, Geloina expansa, Ruditapes variegatus, dan Circe tumefacta. Dari hasil ketiga stasiun, jenis bivalvia yang banyak ditemukan yaitu jenis Cyclotellina remies, dengan total individu yang ditemukan sebanyak 8 individu. Kepadatan tertinggi ditemukan pada Stasiun 3 sebesar 14.444 ind/ha, sedangkan kepadatan terendah pada Stasiun 1 sebesar 6.667 ind/ha. Kategori indeks keanekaragaman (H’) pada semua stasiun di Perairan Senggarang Besar tergolong “Sedang”. Indeks keseragaman pada semua stasiun di Perairan Senggarang Besar tergolong “Tinggi”. Indeks dominasi pada semua stasiun di Perairan Senggarang Besar tergolong “Rendah”.Kawasan Pesisir Senggarang Besar memiliki keunikan ekosistem alam yang produktif, serta mempunyai nilai ekologis dan ekonomi yang signifikan. Berdasarkan hasil observasi awal ditemukan keberadaan beberapa spesies bivalvia di Perairan Senggarang Besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis, menghitung jumlah kepadatan dan indeks ekologi bivalvia di Perairan Senggarang Besar, Kelurahan Senggarang, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Juli 2023 yang bertempat di Perairan Senggarang Besar, Kelurahan Senggarang, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Penentuan stasiun penelitian menggunakan metode purposive sampling sebanyak tiga stasiun. Pengambilan data bivalvia menggunakan transek kuadran ukuran 1x1 m dengan jumlah 9 transek per stasiun. Di Perairan Senggarang Besar ditemukan 9 spesies bivalvia yang terdiri dari 5 family dan 9 genera, yaitu: Pitar floridana, Plakuna plasenta, Anomalodiscus squamosus, Anadara antiquata, Placamen chloroticum, Cyclotellina remies, Geloina expansa, Ruditapes variegatus, dan Circe tumefacta. Dari hasil ketiga stasiun, jenis bivalvia yang banyak ditemukan yaitu jenis Cyclotellina remies, dengan total individu yang ditemukan sebanyak 8 individu. Kepadatan tertinggi ditemukan pada Stasiun 3 sebesar 14.444 ind/ha, sedangkan kepadatan terendah pada Stasiun 1 sebesar 6.667 ind/ha. Kategori indeks keanekaragaman (H’) pada semua stasiun di Perairan Senggarang Besar tergolong “Sedang”. Indeks keseragaman pada semua stasiun di Perairan Senggarang Besar tergolong “Tinggi”. Indeks dominasi pada semua stasiun di Perairan Senggarang Besar tergolong “Rendah”
Strategi Pengelolaan Ekosistem Mangrove Sebagai Upaya Adaptasi Perubahan Iklim di Pesisir Tanjungpiayu Kota Batam
Penelitian ini dilakukan dari September 2023 hingga Mei 2024 di kawasan hutan mangrove pesisir Tanjungpiayu Kota Batam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi biomassa, stok karbon, dan serapan karbon di kawasan hutan mangrove Tanjungpiayu, menghitung nilai ekonomi karbon hutan mangrove Tanjungpiayu, serta untuk merumuskan pengelolaan ekosistem mangrove dalam upaya adaptasi perubahan iklim di pesisir Tanjungpiayu Kota Batam. Lokasi penelitian ditentukan melalui metode survei, dimana titik sampling dipilih secara purposive sampling. Untuk menghitung biomassa pohon dilakukan tanpa merusak (nondestructive), dengan mengukur diameter batang setinggi dada (Diameter at Breast Height/DBH) yang diambil pada ketinggian sekitar 1,3 m dari permukaan tanah. Selanjutnya, perhitungan dilakukan dengan model allometrik untuk menghitung potensi biomassa dan penyimpanan karbonnya. Penentuan strategi pengelolaan menggunakan metode AHP dengan responden sejumlah 7 orang sebagai informan kunci. Berdasarkan hasil analisis data nilai total biomassa, stok karbon dan serapan CO2 pada lokasi penelitian adalah sebesar 150,32 ton/ha, 70,65 ton/ha dan 259,06 tonC/ha. Hal ini menunjukkan bahwa mangrove Tanjungpiayu memiliki potensi sebagai penyerap karbon atmosfer. Berdasarkan perhitungan nilai ekonomi karbon mangrove di pesisir Tanjungpiayu adalah Rp 25.054.254,16 (pasar sukarela) dan Rp 65.475.117,55 (CDM). Berdasarkan perolehan skor tertinggi aspek saintek menjadi prioritas dalam mempertimbangkan alternatif strategi pengelolaan ekosistem mangrove. Alternatif prioritas dengan skor tertinggi untuk pengelolaan ekosistem mangrove di pesisir Tanjungpiayu berupa pendampingan peningkatan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan ekosistem mangrove berbasis adaptasi perubahan iklim.Penelitian ini dilakukan dari September 2023 hingga Mei 2024 di kawasan hutan mangrove pesisir Tanjungpiayu Kota Batam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi biomassa, stok karbon, dan serapan karbon di kawasan hutan mangrove Tanjungpiayu, menghitung nilai ekonomi karbon hutan mangrove Tanjungpiayu, serta untuk merumuskan pengelolaan ekosistem mangrove dalam upaya adaptasi perubahan iklim di pesisir Tanjungpiayu Kota Batam. Lokasi penelitian ditentukan melalui metode survei, dimana titik sampling dipilih secara purposive sampling. Untuk menghitung biomassa pohon dilakukan tanpa merusak (nondestructive), dengan mengukur diameter batang setinggi dada (Diameter at Breast Height/DBH) yang diambil pada ketinggian sekitar 1,3 m dari permukaan tanah. Selanjutnya, perhitungan dilakukan dengan model allometrik untuk menghitung potensi biomassa dan penyimpanan karbonnya. Penentuan strategi pengelolaan menggunakan metode AHP dengan responden sejumlah 7 orang sebagai informan kunci. Berdasarkan hasil analisis data nilai total biomassa, stok karbon dan serapan CO2 pada lokasi penelitian adalah sebesar 150,32 ton/ha, 70,65 ton/ha dan 259,06 tonC/ha. Hal ini menunjukkan bahwa mangrove Tanjungpiayu memiliki potensi sebagai penyerap karbon atmosfer. Berdasarkan perhitungan nilai ekonomi karbon mangrove di pesisir Tanjungpiayu adalah Rp 25.054.254,16 (pasar sukarela) dan Rp 65.475.117,55 (CDM). Berdasarkan perolehan skor tertinggi aspek saintek menjadi prioritas dalam mempertimbangkan alternatif strategi pengelolaan ekosistem mangrove. Alternatif prioritas dengan skor tertinggi untuk pengelolaan ekosistem mangrove di pesisir Tanjungpiayu berupa pendampingan peningkatan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan ekosistem mangrove berbasis adaptasi perubahan iklim
Aspek Biologi Teripang Parean (Holothuria hilla) yang Ditangkap di Perairan Jepara Jawa Tengah
Penelitian tentang Aspek Biologi Teripang Parean (Holothuria hilla) bertujuan untuk mengetahui hubungan panjang berat, indeks kematangan gonad (IKG), tingkat kematangan gonad (TKG), fekunditas, dan ukuran biologi minimum di Perairan Jepara. Penelitian ini dilakukan dari bulan Agustus 2023 hingga Oktober 2023. Lokasi penelitian dibagi menjadi dua Lokasi yaitu, Kelompok Usaha Bersama (KUB) Berkah Samudera dan nelayan Ujungbatu. Metode yang digunakan adalah metode random sampling dengan melakukan pengukuran Teripang Parean pada dua Lokasi tersebut sebanyak 1000 ekor. Berdasarkan 1000 ekor sampel Teripang Parean tersebut dilakukan pengukuran panjang bobot, selanjutnya teripang dibedah menggunakan pisau untuk mengetahui Tingkat kematangan gonad maupun pengukuran berat gonad untuk mengetahui indeks kematangan gonad. Kemudian dipisahkan 40 ekor Teripang Parean betina yang termasuk dalam TKG IV dan TKG V untuk perhitungan fekunditasnya, Data hasil penelitian menunjukkan bahwa Teripang Parean yang tertangkap di Perairan Jepara mempunyai pola pertumbuhan allometrik negatif yaitu pertambahan panjang lebih cepat dari pertambahan bobot, tingkat kematangan gonad (TKG) rata-rata adalah TKG I, panjang rata-rata adalah 14-15 cm dan bobot rata-rata adalah 50,5 gram; rata-rata fekunditasnya adalah 4.506 - 12.917 butir telur.Penelitian tentang Aspek Biologi Teripang Parean (Holothuria hilla) bertujuan untuk mengetahui hubungan panjang berat, indeks kematangan gonad (IKG), tingkat kematangan gonad (TKG), fekunditas, dan ukuran biologi minimum di Perairan Jepara. Penelitian ini dilakukan dari bulan Agustus 2023 hingga Oktober 2023. Lokasi penelitian dibagi menjadi dua Lokasi yaitu, Kelompok Usaha Bersama (KUB) Berkah Samudera dan nelayan Ujungbatu. Metode yang digunakan adalah metode random sampling dengan melakukan pengukuran Teripang Parean pada dua Lokasi tersebut sebanyak 1000 ekor. Berdasarkan 1000 ekor sampel Teripang Parean tersebut dilakukan pengukuran panjang bobot, selanjutnya teripang dibedah menggunakan pisau untuk mengetahui Tingkat kematangan gonad maupun pengukuran berat gonad untuk mengetahui indeks kematangan gonad. Kemudian dipisahkan 40 ekor Teripang Parean betina yang termasuk dalam TKG IV dan TKG V untuk perhitungan fekunditasnya, Data hasil penelitian menunjukkan bahwa Teripang Parean yang tertangkap di Perairan Jepara mempunyai pola pertumbuhan allometrik negatif yaitu pertambahan panjang lebih cepat dari pertambahan bobot, tingkat kematangan gonad (TKG) rata-rata adalah TKG I, panjang rata-rata adalah 14-15 cm dan bobot rata-rata adalah 50,5 gram; rata-rata fekunditasnya adalah 4.506 - 12.917 butir telur
Analisis Kesesuaian Kawasan untuk Pengembangan Marikultur di Kabupaten Pulau Morotai
Indonesia memiliki perairan yang luas dengan potensi besar untuk pengembangan marikultur. Kabupaten Pulau Morotai adalah salah satu wilayah strategis untuk pengembangan marikultur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian lahan untuk pengembangan marikultur berbasis keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pulau Morotai. Penelitian dilakukan di perairan Pulau Galo-Galo dan Pulau Loleba. Pengambilan data dilakukan pada enam stasiun di Pulau Galo-Galo dan empat stasiun di Pulau Loleba. Parameter kualitas air yang diamati meliputi parameter fisik, kimia, dan biologi. Data parameter fisik kualitas air yang diamati adalah keterlindungan, kedalaman, kecerahan air, kecepatan arus, suhu perairan, dan salinitas. Data parameter kimia kualitas air yang diamati adalah pH air, DO, TAN, nitrit, nitrat, dan fosfat. Sementara data parameter biologi yang diamati adalah kelimpahan plankton. Analisis data kesesuaian lahan dilakukan menggunakan GIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan tersebut memiliki karakteristik terlindung dengan kedalaman berkisar antara 15-23 meter, kecepatan arus 0,20-0,50 m/s, kecerahan lebih dari 5 meter, suhu 24,30-30,70 ℃, dan salinitas 26-29 ppt. Parameter kimia menunjukkan nilai DO antara 3,10-5,50 mg/L, pH 7, TAN 0,004-0,078 mg/L, nitrit 0,008-0,062 mg/L, nitrat 0,002-0,052 mg/L, dan fosfat 0,007-0,017 mg/L. Parameter biologi menunjukkan kelimpahan plankton di perairan Pulau Galo – Galo adalah 4,1×109 sel/L dan Pulau Loleba 8,5×109 sel/L. Analisis kesesuaian lahan menunjukkan bahwa 1000 Ha lahan termasuk kategori sangat sesuai (S1) dan 1000 Ha lainnya termasuk kategori sesuai (S2). Kesimpulan penelitian ini adalah kawasan Pulau Galo-Galo dan Loleba memiliki potensi besar untuk pengembangan marikultur berbasis KJA karena kondisi kualitas air yang optimal dan kesesuaian lahan yang mendukung.Indonesia memiliki perairan yang luas dengan potensi besar untuk pengembangan marikultur. Kabupaten Pulau Morotai adalah salah satu wilayah strategis untuk pengembangan marikultur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian lahan untuk pengembangan marikultur berbasis keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pulau Morotai. Penelitian dilakukan di perairan Pulau Galo-Galo dan Pulau Loleba. Pengambilan data dilakukan pada enam stasiun di Pulau Galo-Galo dan empat stasiun di Pulau Loleba. Parameter kualitas air yang diamati meliputi parameter fisik, kimia, dan biologi. Data parameter fisik kualitas air yang diamati adalah keterlindungan, kedalaman, kecerahan air, kecepatan arus, suhu perairan, dan salinitas. Data parameter kimia kualitas air yang diamati adalah pH air, DO, TAN, nitrit, nitrat, dan fosfat. Sementara data parameter biologi yang diamati adalah kelimpahan plankton. Analisis data kesesuaian lahan dilakukan menggunakan GIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan tersebut memiliki karakteristik terlindung dengan kedalaman berkisar antara 15-23 meter, kecepatan arus 0,20-0,50 m/s, kecerahan lebih dari 5 meter, suhu 24,30-30,70 ℃, dan salinitas 26-29 ppt. Parameter kimia menunjukkan nilai DO antara 3,10-5,50 mg/L, pH 7, TAN 0,004-0,078 mg/L, nitrit 0,008-0,062 mg/L, nitrat 0,002-0,052 mg/L, dan fosfat 0,007-0,017 mg/L. Parameter biologi menunjukkan kelimpahan plankton di perairan Pulau Galo – Galo adalah 4,1×109 sel/L dan Pulau Loleba 8,5×109 sel/L. Analisis kesesuaian lahan menunjukkan bahwa 1000 Ha lahan termasuk kategori sangat sesuai (S1) dan 1000 Ha lainnya termasuk kategori sesuai (S2). Kesimpulan penelitian ini adalah kawasan Pulau Galo-Galo dan Loleba memiliki potensi besar untuk pengembangan marikultur berbasis KJA karena kondisi kualitas air yang optimal dan kesesuaian lahan yang mendukung
Pengaruh Gender dan Dukungan Politik terhadap Kinerja Pemerintah Daerah
This study aims to investigate how gender and political support influence the performance of local governments in Java. This study is based on public policy theory. This study also examines several control variables related to regional characteristics such as local government size, capital expenditure, and regional wealth levels. The sample in this study consisted of all regencies/cities in Java, namely 113 regencies/cities, and the observation period was from 2016 to 2018. The results of this study indicate that local government performance is influenced by gender and political support. This study also conducted further tests such as analysis of non-expansion areas, which yielded consistent results