eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
NILAI PARAMETER KUALITAS AIR PADA PEMELIHARAAN LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus)
Kualitas air merupakan salah satu indikator yang sangat mempengaruhi keberhasilan pemeliharaan lobster. Sumber air merupakan pertimbangan yang sangat penting dalam pemeliharaan lobster air tawar (Cherax quaricarinatus) karena untuk memelihara lobster air tawar memerlukan air yang cukup, serta air yang digunakan harus berkualitas baik sehingga pertumbuhan lobster menjadi lebih cepat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui nilai parameter kualitas air pada pemeliharaan lobster air tawar (Cherax quaricarinatus). Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan mengukur parameter kualitas air yang meliputi suhu, derajat keasaman (pH), Dissolved Oxygen (DO), amoniak dan total alkalinitas. Nilai rata-rata parameter kualitas air pada tandon meliputi suhu dengan nilai 26-28°C; pH dengan nilai 6-7 ppm; DO dengan nilai 3,3-6,8 ppm; amoniak dengan nilai 0; dan total alkalinitas dengan nilai 297,4-310,6 ppm. Nilai rata-rata parameter kualitas air pada kolam pemeliharaan meliputi suhu dengan nilai 26-32°C; pH dengan nilai 6,5-8,4 ppm; DO dengan nilai 57,4 ppm; amoniak dengan nilai 0.01 ppm; dan total alkalinitas dengan nilai 304,2-339,6 ppm. Nilai rata-rata pada kolam IPAL meliputi suhu 26,4-29,4°C; pH dengan nilai 7,4-8 ppm; DO dengan nilai 5,3-7,6 ppm; amoniak dengan nilai 0.01 ppm; dan total alkalinitas 332,971-351,6 ppm
Pengamatan Sistem Rantai Dingin, Mutu, Rendemen, Produktivitas dan Kelayakan Dasar Pengolahan Saku Beku Ikan Tuna Bluefin (Thunnus maccoyii)
Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang diperlukan oleh tubuh. Selain protein, zat lain yang terkandung dalam ikan dan dibutuhkan oleh tubuh adalah vitamin, lemak, dan mineral . Dari sejumlah jenis ikan tuna yang ditangkap di Indonesia, ikan tuna jenis sirip biru atau blue fin merupakan salah satu di antaranya. Dan negara tujuan ekspor untuk tuna sirip biru segar terbesar adalah Jepang, disusul oleh Amerika Serikat . Mutu organoleptik dari bahan baku sebelum thawing yang diterima diperoleh nilai rata-rata organoleptik 9, Untuk nilai organoleptik bahan baku yang telah di lakukan proses thawing mendapatkan nilai rata-rata 8. Hasil pengujian mikrobiologi bahan baku untuk coliform <2 Cfu/mL, E.coli negatif dan hasil uji salmonella negatif. Hasil pengujian produk akhir Dimana pada pengamatan pengujian ALT bakteri tidak ada yang melebihi 5 x 10⁵ Cfu/mL, E.coli negatif, dan salmonella negatif. Rata-rata hasil pengujian histamin pada bahan baku yaitu 0,7 ppm, dan hasil uji histamin produk akhir rat-rata 0,0 ppm dengan standar perusahaan yaitu maksimum 50 ppm, rendemen proses loining didapat kan hasil rata-rata sebesar 75,28%, rendemen proses skinning didapatkan hasil rata-rata 74,46%, rendemen proses trimming didapatkan hasil rata-rata 60,10%, rendemen proses pembentukan saku rata-rata 40,73%, dan rendemen retauching rata-rata 39,46%. produktivitas tahap skinning diperoleh hasil produktivitas dengan hasil rata-rata 1.258,80 kg/jam/org. Produktivitas tahap trimming dengan hasil rata-rata 1.170,91 kg/jam/org. pembentukan saku didapatkan hasil produktivitas dengan hasil rata-rata 619,34 kg/jam/org. Teknik penanganan dan pengolahan serta prosedur operasional dan sanitasi memiliki grade SKP dengan nilai “A” yaitu dengan kategori baik sekali. Dengan satu penyimpangan yang harus segera diperbaiki dan dilakukan pengawasan
Usaha Penangkapan Jaring Tarik Berkantung di Pelabuhan Perikanan Pantai Klidang Lor
Klidang Lor merupakan salah satu lokasi yang memiliki potensi perikanan tinggi di Kabupaten Batang. Hasil perikanan tangkap di PPP Klidang Lor melimpah dengan berbagai jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi antara lain ikan Tongkol, Pari, Kurisi, Lemuru, Manyung, Kakap Merah, Cumi-cumi, dan ikan lainnya dengan harga ikan paling tinggi adalah ikan Kakap Merah. Penggunaan alat tangkap Jaring Tarik Berkantung dianggap dapat memberikan keuntungan bagi masyarakan di desa Kabupaten Batang. Berkaitan dengan hal tersebut, perlu diketahui sampai seberapa jauh kegiatan penangkapan menggunakan alat tangkap cantrang masih dapat memberikan keuntungan dan dapat dikatakan layak untuk diusahakan. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Nilai B/C ratio usaha perikanan tangkap cantrang di PPP Klidang Lor sebesar 1,13. Suatu usaha dikatakan layak dan memberikan manfaat apabila nilai B/C lebih besar dari satu, maka dapat dikatakan usaha tersebut layak dijalankan dan diteruskan. Berdasarkan hasil perhitungan nilai IRR rata-rata untuk usaha perikanan tangkap cantrang di PPP Tasik Agung adalah sebesar 31%. Nilai IRR sebesar 31% lebih besar dari discount factor (7%) sehingga dapat di katakan bahwa usaha perikanan tangkap cantrang layak untuk diteruskan. Nilai Payback Periode usaha perikanan tangkap cantrang di PPP Klidang Lor rata-rata sebesar 3,30 atau 3 tahun 3 bulan 18 hari (berkisar antara 3 - 5 tahun). jika nilai payback period kurang dari 3 tahun pengembalian modal usaha dikategorikan cepat. Nilai payback period 3 - 5 tahun kategori pengembalian sedang, dan lebih dari 5 tahun kategori lambat. Untuk usaha perikanan tangkap cantrang di PPP Klidang Lor termasuk kedalam kategori pengembalian sedang
Pengaruh Perbedaan Temperatur Terhadap Kelangsungan Hidup Larva Teripang Pasir (Holothuria scabra)
Teripang pasir (Holothuria scabra) sumber protein yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Upaya budidaya dan pembenihan telah dapat dilakukan di beberapa tempat dengan berbagai kepentingan. Suhu menjadi faktor penting karena dapat mempengaruhi proses fisiologis dan dapat dilihat terhadap nilai Tingkat kelangsungan hidup. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan suhu yakni 20 ºC; 25 ºC; 30 ºC dan 35ºC, dengan total hewan uji adalah 1000 ekor/ulangan. Sedangkan parameter yang diamati adalah Tingkat kelangsungan hidup dan parameter kualitas air diantaranya salinitas, pH, dan DO. Hasil penelitian menunjukkan nilai Tingkat kelangsungan hidup tertinggi berada pada suhu 25 ºC yakni 80±10%, dengan hasil uji ANOVA adalah (p<0.05). Nilai parameter kualitas air adalah salinitas 30- 31 ppt, pH 7,9-9 ppm dan DO adalah 4,9
Mutu dan Proporsi Bagian Tubuh Ikan Tuna (Thunnus sp.) serta Rendemen Produk Turunannya : Studi Kasus di PT. X, Benoa-Bali
Tuna (Thunnus sp.) merupakan jenis ikan pelagis yang memiliki nilai ekonomis tinggi dalam perdagangan perikanan dunia. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji mutu, proporsi bagian tubuh dan produk turunan ikan tuna pada unit pengolahan ikan. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu pengujian mutu bahan baku dan pengukuran berat bagian tubuh ikan serta produk turunannya. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan mutu organoleptik pada bahan baku ikan segar mendapatkan nilai 8 dengan kadar histamin 2,26 ppm. Proporsi bagian tubuh ikan tuna dengan size under 30 kg (hasil penyiangan 21%, daging hitam 18%, kulit 6%, loin 55%); size under 40 kg (hasil penyiangan 20%, daging hitam 19%, kulit 5%, loin 56%); size under 50 kg( hasil penyiangan 20%, daging hitam 18%, kulit 5%, loin 57%); size under 60 kg (hasil penyiangan 18%, daging hitam 20%, kulit 5%, loin 57%); size under 70 kg (hasil penyiangan 18%, daging hitam 19%, kulit 4%, loin 59%). Produk turunan loin pada pengolahan ikan tuna dengan size under 30 kg (saku 57%, kiriotoshi 27%, produk lainnnya 16%); size under 40 kg (saku 55%, kiriotoshi 30%, produk lainnya 15%); size under 50 kg (saku 66%, kiriotoshi 24%,produk lainnya 10%); size under 60 kg (saku 64%, kiriotoshi 27%, produk lainnya 9%); size under 70 kg (saku 64%, kiriotoshi 25%, produk lainnya 11%). Berdasarkan perhitungan maka mutu bahan baku dan produk akhir sangat baik sedangkan proporsi bagian ikan terbesar selain daging adalah hasil penyiangan dan daging hitam serta pemanfaatan produk dari loin menjadi produk saku
Potensi dan Permasalahan Kawasan Berbasis Komoditas Ikan Gurame di Kampung Perikanan Budidaya Desa Pagersari, Kecamatan Kalidawur, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur
Kabupaten Tulungagung merupakan wilayah yang memiliki potensi perikanan budidaya ikan air tawar yang besar. Komoditas unggulan di Kabupaten Tulungagung meliputi ikan gurame, patin, nila dan lele. Berkaitan dengan itu, salah satu wilayahnya dijadikan sebagai kawasan berbasis komoditas ikan gurame melalui program Kampung Budidaya Perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan potensi perikanan dan permasalahan di Kampung Budidaya Perikanan di Tulungagung. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober tahun 2023 di Desa Pagersari Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung Provinsi Jawa Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa Kampung Perikanan Budidaya di Desa Pagersari memiliki potensi yang sangat besar sebagai salah satu produsen ikan gurame dan patin di Kabupaten Tulungagung. Permasalahan yang ditemukan pada kawasan ini yaitu sumberdaya manusia yang kurang bisa memaksimalkan potensi sumberdaya yang ada serta fluktuasi harga jual ikan. Maka dari itu, penelitian ini merekomendasikan agar pemerintah dapat memfasilitasi pelatihan dan memperhatikan kebutuhan masyarakat pembudidaya ikan di Desa Pagersari
Pengamatan Alur Proses, Sistem Rantai Dingin, Mutu Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) Steak Beku di PT. X, Denpasar Selatan, Kota Denpasar-Bali
Indonesia sebagai negara penghasil tuna terbesar memiliki potensi dalam pasar tuna internasional. Salah satu produk yang prospektif dikembangkan dari tuna adalah tuna beku. Metode dilakukan dengan observasi dan survey. Produk tuna steak beku merupakan suatu produk olahan hasil perikanan dengan bahan baku ikan tuna segar atau beku yang mengalami perlakuan penyiangan (pemisahan sirip, kepala, ekor, belly, dan tulang); pembelahan menjadi 4 bagian (proses loining); pembuangan daging gelap (dark meat) dan kulit; pembentukan steak; perapihan dan pembekuan hingga suhu pusat maksimum -180C atau lebih rendah dengan atu tanpa pelapisan es (glazing). Penerapan suhu telah dilakukan dengan baik dengan suhu ikan pada tahap penerimaan bahan baku sebesar 1,040C, penyimpanan sementara 0,910C, penyiangan 1,200C, loinning 1,260C, skinning dan trimming 1,360C, grading dan cutting 1,420C, chilling 0,460C, pembentukan steak 0,460C, vacum sealing 1,370C, metal detecting 1,420C, sizeing 1,670C, pembekuan -18,140C, packaging -18,010C, cold storage -26,370C. Suhu air dan es untuk pencucian I 1,640C, pencucian II 1,680C, suhu pencucian III 1,840C, jelly ice 1,050C, ABF -37,340C. Suhu ruangan receiving I, receiving II, processing I, processing II, dan packing room 18-210C, temporary storage dan chiller room 0-4,40C dan 0-3,30C. Suhu ABF ≤-300C, suhu cold storage berkisar -260C. Hasil pengujian mutu menunjukan organoleptik bahan baku dan sensori produk akhir steak beku berkisar antara 8-8,5. Hasil pengujian mikrobiologi jumlah coliform <3 x 10, serta E. coli, salmonella, vibrio cholerae, dan vibrio parahaemolyticus menunjukkan hasil yang negatif. Hasil pengujian histamin tidak melebihi standar yang telah ditetapkan perusahaan yakni maksimal 50 ppm
INVENTARISASI GASTROPODA YANG BERASOSIASI PADA EKOSISTEM MANGROVE DI TAPAK SEMARANG JAWA TENGAH
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan inventarisasi gastropoda yang berasosiasi pada ekosistem mangrove di Tapak Semarang, Jawa Tengah. Mangrove merupakan ekosistem yang memiliki peran penting, dan gastropoda sebagai salah satu komponen biotiknya memegang peran kunci dalam menjaga keseimbangan ekosistem ini. Metode penelitian yang digunakan, yaitu metode deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan dengan mengumpulkan data distribusi gastropoda pada lingkungan ekosistem mangrove. Sampel gastropoda diidentifikasi hingga tingkat spesies, dan parameter lingkungan (salinitas, suhu air, pH, DO dan substrat). Analisis statistik regresi linear dan Principal Component Analysis (PCA) untuk mengevaluasi keragaman spesies dan hubungan ekologi antara gastropoda dan ekosistem mangrove. Ditemukan beberapa spesies gastropoda yaitu Telescopium telescopium, Cerithidea obtusa, Pirenella microptera, Cassidula aurisfelis, Cassidula nucleus, Littoraria scabra, Melampus globulus, dan Cerithidea cingulate memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem mangrove. Struktur komunitas pada Ekosistem Mangrove Tapak Semarang didominasi oleh gastropoda T. Telescopium dan C. cingulate. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diketahui rentang Indeks Keanekaragaman 0,20 – 1,47 (keanekaragaman rendah), Indeks Keseragaman 0,09 – 0,47 (keseragaman rendah – sedang), Indeks Dominasi 0,26 – 0,85 (dominasi rendah – tinggi). Jumlah mangrove mempengaruhi kepadatan gastropoda sebesar 57%, sedangkan faktor lain yang mempengaruhi kepadatan gastropoda sebanyak 43%.Title: Inventory Of Gastropods Associated With Mangrove Ecosystem In Tapak Semarang, Central JavaThis research aims to carry out an inventory of gastropods associated with the mangrove ecosystem in Tapak Semarang, Central Java. Mangroves are an ecosystem that has an important role, and gastropods as one of its biotic components play a key role in maintaining the balance of this ecosystem. The research method used is an exploratory descriptive method with a quantitative approach. This research was carried out by collecting data on the distribution of gastropods in the mangrove ecosystem. Gastropod samples were identified to species level and environmental parameters (salinity, air temperature, pH, DO and substrate). Statistical analysis of linear regression and Principal Component Analysis (PCA) to trigger species diversity and ecological relationships between gastropods and mangrove ecosystems. Several species of gastropods were found, namely Telescopium telescopium, Cerithidea obtusa, Pirenella microptera, Cassidula aurisfelis, Cassidula Nucleus, Littoraria scabra, Melampus globulus, and Cerithidea cingulate which have an important role in maintaining the balance of the mangrove ecosystem. The community structure in the Tapak Semarang Mangrove Ecosystem is dominated by the gastropods T. Telescopium and C. cingulate. Based on the research conducted, it can be seen that the Diversity Index range is 0.20 – 1.47 (low diversity), the Uniformity Index is 0.09 – 0.47 (low – medium diversity), the Dominance Index is 0.26 – 0.85 (low – tall). The number of mangroves influenced gastropod density by 57%, while other factors influenced gastropod density by 43%
Analisis Penerapan Standard Sanitation Operating Procedure (SSOP) pada Proses Pembekuan Cumi-Cumi (Loligo vulgaris)
Cumi-cumi (Loligo vulgaris) sebagai bahan baku produk pangan merupakan sumber protein laut yang bernilai ekonomi tinggi dan umumnya dijual dalam kondisi beku. Untuk menjaga mutu produk cumi beku, industri pembekuan diwajibkan menerapkan SSOP (Standard Sanitation Operating Procedure) sebagai bentuk tanggungjawab perusahaan dalam rangka memenuhi sumber pangan yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat dengan aman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan SSOP di pabrik pembekuan cumi-cumi yang berlokasi di Jawa Timur selama tiga bulan (Januari sampai Maret 2022). Penelitian dilakukan dengan mengacu pada metode analisis kesenjangan berdasarkan FDA (1995) dan NSHATE (1999). Wawancara dengan karyawan perusahaan dan observasi langsung dilakukan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan. Dari hasil penelitian, penerapan SSOP pada pabrik pembekuan cumi-cumi telah memenuhi standar yaitu sebesar 78,5%. Namun demikian, seluruh aspek masih mengalami penyimpangan dengan % penerapan: aspek keamanan air (85%), kebersihan permukaan yang kontak dengan makanan (87,5%), pencegahan kontaminasi silang (77,14%), menjaga fasilitas cuci tangan, sanitasi tangan dan toilet (53,33%), pencegahan adulterasi (81,67%), pelabelan, penyimpanan dan penggunaan bahan kimia yang tepat (74,55%), pengendalian kesehatan karyawan (76,67%) dan pemberantasan hama (91,11%). Oleh sebab itu, perlu perbaikan pada aspek SSOP tersebut dengan menerapkan rekomendasi teknis dan manajerial yang diberikan