eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
Penanggulangan Praktik Destructive Fishing Melalui Optimalisasi Pengawasan Berbasis Masyarakat: Sebuah Upaya Menjaga Keamanan Maritim
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, menghadapi tantangan signifikan dalam mempertahankan ekosistem laut dan kedaulatan akibat praktik destructive fishing yang merusak, termasuk penggunaan bahan peledak, racun, dan penyetruman ikan. Praktik-praktik ini tidak hanya merusak habitat laut tetapi juga mengurangi keanekaragaman hayati dan merugikan ekonomi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis masalah terkait dectructive fishing practices, mengkaji partisipasi masyarakat dalam pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan, dan merumuskan strategi yang efektif dan berkelanjutan untuk menjaga keamanan maritim Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dan tinjauan literature.. Hasil analisis menekankan bahwa pentingnya pengawasan berbasis masyarakat dalam memerangi penangkapan ikan yang merusak. Kerangka kerja partisipatif yang mengintegrasikan masyarakat dalam pengawasan, pengambilan keputusan, dan implementasi strategi pengelolaan kelautan berkelanjutan menandai pergeseran dari pendekatan top-down ke model bottom-up yang lebih inklusif, mengakui pengetahuan lokal sebagai aset kunci. Studi ini menyimpulkan bahwa optimalisasi pengawasan berbasis masyarakat pesisir sangat penting untuk mengatasi penangkapan ikan yang merusak dan mendukung keamanan maritim yang berkelanjutan di Indonesia. Strategi tersebut perlu diimplementasikan di berbagai wilayah sesuai dinamika sosial-ekonomi untuk memverifikasi efektivitasnya dan mengidentifikasi area perbaikan
ECOSYSTEM ANALYSIS BETWEEN TOURIST AND NON-TOURIST BEACHES: BASED ON THE COMMUNITY STRUCTURE OF Ocypode sp.
This research aims to analyze the differences between tourist and non-tourist beach ecosystems based on the community structure of Ocypode sp. Community analysis was carried out at two locations: Loang Baloq Beach (tourism) and Setangi Beach (non-tourism). The line-transect method was chosen for sample collection. At each location, three stations were created, and at each station, there were five quadrants. The water physico-chemical data collection consists of brightness, pH, temperature, TDS, and EC (conductivity). Apart from that, data was collected on human activity around the beach using certain criteria: 1) distance from the beach to the city center; 2) the existence of hotels or buildings around the beach; 3) the presence of physical waste; 4) visitor frequency; and 5) the existence of public facilities. Samples of Ocypode sp. were identified and then analyzed using density formulas, relative density, and diversity index. We found five species of ghost crab (Ocypode sp.) at Loang Baloq and Setangi Beach: Ocypode kuhlii, Ocypode jousseamei, Ocypode pallidula, Ocypode ryderi, and Ocypode japonica. The highest density and diversity of Ocypode sp. are found at Setangi Beach (non-tourist). The physico-chemistry of Setangi Beach waters shows better quality than Loang Baloq Beach. Likewise, the characteristics of human activity in the coastal area were observed. It can be concluded that physico-chemical factors and human activities influence the density and diversity of Ocypode sp. In addition, based on the community structure of Ocypode sp., it is stated that Setangi Beach (non-tourist) has better ecosystem quality than Loang Baloq Beach (tourism)
ANALISIS MUTU SENSORI DAN BIAYA PRODUKSI PENGEMBANGAN GARAM RUMPUT LAUT DI DESA PENGAMBENGAN, NEGARA BALI
Rumput laut merupakan sumber daya alam yang potensial dengan berbagai manfaat, termasuk sebagai bahan baku garam yang memiliki karakteristik unik dan nilai tambah berbeda dibandingkan garam dapur biasa. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh garam rumput laut dengan mutu sensori terbaik dan menganalisis mutu sensori dan biaya produksi garam rumput laut di Desa Pengambengan, Bali, menggunakan jenis rumput laut Ulva lactuca, Gracilaria sp.,dan Sargassum sp. Metode penelitian meliputi pengambilan sampel, preparasi, pencucian, pengeringan, pembuatan tepung garam, dan uji mutu sensori serta analisis biaya produksi dengan metode full costing. Data hasil analisis diolah menggunakan program SPSS 26 dan analisis statistik menggunakan ragam analisis ANOVA-Duncan. Hasil analisa pengujian menggunakan ANOVA menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan (p <0,05) antara bahan baku rumput laut terhadap mutu sensori garam rumput laut. Mutu sensori terbaik adalah garam rumput laut dari jenis Ulva lactuca pada parameter warna dengan nilai 7.05, rasa 6.58, tekstur 6.49, dan kenampakan 7.36. Kandungan kadar air Ulva lactuca adalah 0.758%, natrium klorida 90.11%, bagian tidak larut dalam air 0.553%, kadmium <0.050 mg/kg, arsen 0.398 mg/kg, dan raksa 0.013 mg/kg, yang semuanya memenuhi standar SNI 3556:2016. Produksi garam rumput laut membutuhkan biaya sebesar Rp 2.508.000. Garam rumput laut dari Ulva lactuca aman dikonsumsi dan memiliki potensi pasar yang baik
Uji In Vitro Fungi yang Berpotensi Sebagai Kandidat Probiotik dari Organ Tubuh Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Terhadap Bakteri Vibrio parahaemolyticus
Udang vannamei (Litopenaeus vannamei) merupakan komoditas penting yang paling banyak dibudidayakan, namun telah mengalami kemunduran yang signifikan sebagai akibat penyakit Vibriosis yang disebabkan oleh Vibrio parahaemolyticus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa potensi dan menentukan spesies fungi yang berpotensi sebagai kandidat probiotik yang diisolasi dari organ tubuh udang vaname untuk mencegah penyakit vibriosis secara in vitro. Pengambilan sampel dilakukan secara langsung, lalu diisolasi dan dilakukan uji fisiologis (pH dan salinitas). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa fungi yang diisolasi dari organ tubuh udang vannamei memiliki adanya pertumbuhan setelah dikultur dalam media dengan karaketeristik pH dan salinitas yang berbeda diantaranya secara in vitro antara lain Curvularia lunata, Curvularia protuberata, Aspergillus flavus, Aspergillus fumigatus dan Saccharomyces spp
Pengolahan Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) Dalam Kaleng Dengan Media Saus Tomat
Pengalengan merupakan salah satu bentuk pengolahan dan pengawetan ikan secara modern yang dikemas secara hermetis dan disterilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengalengan ikan lemuru (Sardinella lemuru) dalam kaleng dengan media saus tomat. Metode penelitian dilakukan melalui observasi dengan mengikuti secara langsung seluruh proses pengolahan, mulai dari bahan baku datang hingga pemuatan. Pengujian dilakukan terhadap mutu organoleptik, kimia dan pengamatan suhu. Data yang didapat dianalisa dengan deskriptif-komparatif. Hasi penilitian uji mutu organoleptik bahan baku bernilai 8 dan nilai produk akhir 9 Uji histamin berkisar 50 ppm hingga 100 ppm. Pengamatan suhu proses pada receiving 0,5°C, penyimpanan beku dibawa 18ºC, thawing 0,4 ºC hingga 4, ºC pre-cooking 90 sampai 100ºC, skinning off 20 hingga 25 ºC, cleaning 10 hingga 15ºC. Kesimpulan menunjukkan bahwa proses pengolahan lemuru media saos tomat dalam kaleng sudah dilakukan dengan baik sesuai dengan SNI 2712:2013 ikan dalam kemasan kaleng hasil sterilisasi
Pengaruh Penambahan Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) Terhadap Karakteristik Nugget Ikan Tenggiri (Scomberomorus sp)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mutu nugget ikan tenggiri dengan penambahan bubur rumput laut Kappaphycus alvarezii dengan menggunakan One-Way ANOVA, dan uji Kruskal Wallis untuk mengetahui pengaruh penambahan rumput laut. Berdasarkan penelitian ini, didapat hasil bahwa alur proses pembuatan nugget ikan tenggiri dengan penambahan bubur rumput laut yaitu : tahapan proses pembuatan bubur rumput laut, menyiapkan alat dan bahan, thawing, pencucian, pelumatan daging, pencampuran, pencetakan, pengukusan, pendinginan dan pelapisan tepung, pengemasan dan penyimpanan. Selanjutnya nilai mutu sensori bahan baku rumput laut kering yaitu 7 sudah memenuhi standar SNI rumput laut 2690.1:2009. Sedangkan nilai sensori bahan baku fillet ikan tenggiri yaitu 7 sudah memenuhi standar SNI fillet ikan beku 2696:2013. Penambahan bubur rumput laut berpengaruh terhadap parameter tekstur, sedangkan pada parameter kenampakan, bau, rasa tidak berpengaruh. Hasil karakteristik terhadap komposisi proksimat bahwa penambahan bubur rumput laut berpengaruh terhadap kadar air, kadar abu dan kadar lemak nugget ikan tenggiri, sedangkan pada kadar protein tidak berpengaruh.
Rebuilding Coastal Institutions for Sustainable Fisheries Value Chains: Challenges and Pathways from Bajoe, Indonesia
Local institutions play a pivotal role in enhancing the sustainability of small-scale capture fisheries value chains, yet their contributions often remain fragmented and underexplored. This study analyzes the roles, challenges, and opportunities of local institutions—including fishermen’s groups, cooperatives, and village-owned enterprises—in supporting each stage of the fisheries value chain in Bajoe Village, Bone Regency, South Sulawesi. Using a qualitative exploratory case study, data were collected through in-depth interviews, participatory observation, focus group discussions, and document analysis. The findings reveal that government assistance programs have reached fishing communities but are unevenly distributed and highly dependent on active groups or elite networks. Institutional capacity remains weak, with cooperatives largely inactive and fishermen heavily reliant on mediators under informal patron–client arrangements. However, emerging aspirations for cooperative revitalization, digital marketing, and product diversification demonstrate strong potential for institutional renewal. This study introduces an integrative analytical model linking community-based institutional dynamics with value-chain governance—an approach rarely applied in Indonesian small-scale fisheries. Policy recommendations highlight the need for participatory governance reforms, equitable access to infrastructure and finance, and integration of digital innovations to strengthen fishermen’s bargaining position and ensure a more inclusive, resilient, and sustainable coastal econom
Model Percepatan Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar di Wilayah Pesisir Kabupaten Penajam Paser Utara
Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas kebijakan penertiban dan pendayagunaan tanah terlantar di wilayah pesisir Kabupaten Penajam Paser Utara serta merumuskan model percepatan implementasi berbasis kolaborasi antarsektor. Latar belakang penelitian ini adalah masih rendahnya tingkat pemanfaatan ruang pesisir akibat lemahnya koordinasi lintas instansi, tumpang tindih kewenangan, dan minimnya kapasitas kelembagaan daerah. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif dengan analisis kebijakan publik berdasarkan model implementasi Grindle (1980) untuk menelaah content of policy dan context of implementation. Analisis kuantitatif pendukung dilakukan melalui Location Quotient), Dynamic Location Quotient, Tipologi Klassen, dan Shift Share Analysis guna mengukur potensi ekonomi sektor perikanan daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 40 persen lahan tambak di wilayah pesisir PPU dalam kondisi tidak aktif dan belum memiliki kejelasan pengelolaan. Hambatan utama implementasi kebijakan meliputi koordinasi vertikal yang lemah, ketidaksinkronan data spasial, serta keterbatasan mekanisme partisipasi masyarakat. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan Model Percepatan Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar di Wilayah Pesisir mencakup lima pilar utama, yaitu koordinasi lintas sektor, percepatan administratif berbasis sistem digital spasial, pendayagunaan berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat pesisir, serta pengawasan dan penegakan hukum. Sebagai rekomendasi kebijakan, pemanfaatan tanah terlantar di wilayah pesisir diarahkan untuk pengembangan kegiatan perikanan budidaya dan pengolahan hasil perikanan yang bernilai tambah tinggi. Hal ini didasarkan pada potensi ekonomi lokal dan kesesuaian ekologis lahan pesisir yang mendukung pengembangan ekonomi biru secara berkelanjutan. Model ini diharapkan dapat memperpendek durasi penataan wilayah dari 8–12 tahun menjadi 1,5 tahun, meningkatkan produktivitas lahan pesisir hingga minimal 40 persen, serta menurunkan konflik agraria pesisir sebesar 50 persen. Temuan ini memberikan kontribusi operasional bagi pemerintah daerah dalam mewujudkan tata kelola pesisir yang kolaboratif, produktif, dan berkeadilan menuju pembangunan ekonomi biru berkelanjutan.Title: Accelerated Model for the Regularization and Utilization of Abandoned Land in the Coastal Areas of Penajam Paser Utara Regency This study aims to analyze the effectiveness of policies concerning the regularization and utilization of abandoned land in the coastal areas of Penajam Paser Utara (PPU) Regency and to formulate an accelerated implementation model based on cross-sectoral collaboration. The research is motivated by the low utilization of coastal spaces, which stems from weak interagency coordination, overlapping authorities, and limited institutional capacity at the local level. A qualitative approach was employed using public policy analysis grounded in Grindle’s (1980) implementation model to examine both the content of policy and context of implementation. Complementary quantitative analyses including Location Quotient (LQ), Dynamic Location Quotient (DLQ), Klassen Typology, and Shift-Share Analysis (SSA) were conducted to assess the economic potential of the regional fisheries sector. The findings reveal that approximately 40 percent of aquaculture pond areas in PPU’s coastal zones are inactive and lack clear management arrangements. The main barriers to policy implementation include weak vertical coordination, unsynchronized spatial data, and limited mechanisms for community participation. Based on these findings, the Accelerated Model for the Regularization and Utilization of Abandoned Coastal Land was developed, encompassing five key pillars: cross-sectoral coordination, administrative acceleration through spatial digital systems, sustainable utilization, coastal community empowerment, and enhanced supervision and law enforcement. As a policy recommendation, the utilization of abandoned coastal lands should be directed toward the development of aquaculture and high value-added fishery processing activities. This approach is justified by the region’s strong local economic potential and the ecological suitability of coastal lands to support sustainable blue economy development. The model is expected to shorten the spatial planning process from 8–12 years to approximately 1.5 years, increase coastal land productivity by at least 40 percent, and reduce coastal agrarian conflicts by up to 50 percent. These findings provide an operational contribution for local governments in realizing collaborative, productive, and equitable coastal governance toward sustainable blue economy development
Optimasi Budi Daya Ikan Nila Menggunakan Recirculating Aquaculture Systems (RAS) di Kolam Terpal Bundar: Analisis Kelayakan Tahap Pendederan
Budi daya ikan nila (Oreochromis niloticus) memegang peran strategis dalam penyediaan protein perikanan, namun peningkatan produksi masih dihadapkan pada tantangan efisiensi dan keberlanjutan, khususnya pada tahap pendederan yang bersifat kritis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan teknis dan finansial pendederan ikan nila menggunakan Recirculating Aquaculture Systems (RAS) pada kolam terpal bundar di SLP Magetan, Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo. Penelitian dilakukan melalui pendekatan eksperimental berbasis demplot lapangan dengan pengumpulan data kualitas air, parameter teknis pemeliharaan, biaya investasi dan operasional, serta hasil produksi. Analisis kelayakan finansial dilakukan menggunakan indikator keuntungan usaha, Revenue - Cost Ratio, Break Even Point, Net Present Value, Internal Rate of Return, dan Payback Period. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem RAS menghasilkan keuntungan bersih Rp213.625 per siklus dengan nilai Revenue - Cost Ratio sebesar 1,10 dan Break Even Point penjualan sebesar Rp1.658.317,95 per siklus. Analisis jangka panjang menunjukkan nilai Net Present Value sebesar Rp17.178.294 pada tingkat suku bunga 13% serta Internal Rate of Return sebesar 27,58%, yang mengindikasikan bahwa usaha mampu menciptakan nilai tambah dan tingkat pengembalian yang kompetitif. Namun demikian, Payback Period selama 12 tahun 7 bulan melampaui umur proyek delapan tahun, menunjukkan keterbatasan dari sisi likuiditas dan kecepatan pengembalian modal. Temuan ini menegaskan bahwa pendederan nila berbasis RAS layak secara teknis dan finansial dalam perspektif nilai dan pengembalian, tetapi memerlukan optimasi biaya awal dan dukungan pembiayaan agar berkelanjutan. Implikasi penelitian ini memberikan dasar empiris bagi pengambilan keputusan teknis dan kebijakan dalam pengembangan budidaya nila berbasis RAS.Title: Optimizing Tilapia Farming Using Recirculating Aquaculture Systems (RAS) in Round Tarpaulin Ponds: Feasibility Analysis of the Fingerling Stage Nile tilapia (Oreochromis niloticus) aquaculture plays a strategic role in global fish protein supply; however, production expansion continues to face efficiency and sustainability challenges, particularly during the critical fingerling stage. This study aims to evaluate the technical and financial feasibility of tilapia fingerling production using a Recirculating Aquaculture System (RAS) in round tarpaulin ponds at SLP Magetan, Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo. The research employed a field-based experimental demonstration plot, collecting data on water quality, husbandry performance, investment and operational costs, and production output. Financial feasibility was assessed using profit analysis, Revenue–Cost Ratio, Break Even Point, Net Present Value, Internal Rate of Return, and Payback Period. The results indicate that RAS-based fingerling production generates a net profit of IDR 213,625 per cycle with a Revenue–Cost Ratio of 1.10 and a Break Even Point of IDR 1,658,317.95 per cycle. Long-term analysis shows a positive Net Present Value of IDR 17,178,294 at a 13% discount rate and an Internal Rate of Return of 27.58%, confirming the project’s ability to create economic value and offer a competitive return. Nevertheless, the Payback Period of 12 years and 7 months exceeds the project lifespan of eight years, indicating constraints related to liquidity and capital recovery speed. These findings suggest that RAS-based tilapia fingerling production is technically viable and financially attractive in terms of value creation, yet requires cost optimization and appropriate financing schemes to enhance long-term sustainability. The study provides empirical evidence to support technical decision-making and policy formulation for sustainable RAS-based tilapia aquaculture