eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
Parameters by Spatial and Temporal Methods of Different Types of Phytoplankton in the Waters of Jakarta Bay
This study aims to determine the spatial and temporal variability of physical, chemical, biological aquatic parameters in Jakarta Bay. Experimental research methods are supported by spatial and temporal methods with calculation of physical parameters such as flow velocity, calculation of chemical parameters such as N, P, Silica, salinity, Dissolved organic nitrogen, Orthophosphate and amount of iron content in Jakarta Bay. As for the calculation of biological parameters in the form of abundance of phytoplankton communities. The results of the analysis of the spatial and temporal variability of the physical, chemical and biological parameters of the waters in Jakarta Bay have an influence on the development of phytoplankton communities in the waters. Changes in concentration and N:P ratio led to an explosion of phytoplankton populations of certain types in the waters of Jakarta Bay. Biological variability of phytoplankton types found to dominate phytoplankton communities in Jakarta Bay Waters are the genera Skeletonema, Chaetoceros, and Rhizosolenia
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENANGKAPAN IKAN TERUKUR DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI TAMPERAN, PACITAN, JAWA TIMUR
Penangkapan ikan terukur (PIT) merupakan kebijakan pemerintah untuk mengelola perikanan secara berkelanjutan dengan mengatur zona penangkapan (penetapan pelabuhan perikanan) dan menyesuaikan jumlah tangkapan dengan potensi sumber daya ikan. PPP Tamperan-Pacitan berada di Zona IV merupakan pelabuhan perikanan dibawah pengelolaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), aktivitas pendaratan ikan tertinggi di Selatan Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor keberhasilan implementasi PIT, menilai persepsi dan pengalaman pelaku perikanan, serta menguji hubungan keduanya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan purposive sampling dan sensus, melibatkan 33 responden dari pemilik kapal, pengurus, petugas pelabuhan, dan pengawas. Hasil penelitian menunjukkan persepsi pelaku perikanan cenderung positif, pengalaman cukup baik meski terkendala fasilitas, modal, dan literasi digital. Uji Chi-Square menghasilkan nilai Pearson 57,433 (sig. 0,000 < 0,05) dengan koefisien kontingensi 0,66, yang menandakan hubungan kuat antara persepsi dan pengalaman. Faktor yang memengaruhi keberhasilan PIT meliputi komunikasi, sarana prasarana, sikap pelaksana, struktur pengelola, dan pelaksanaan kebijakan. Disimpulkan bahwa semakin positif persepsi nelayan, semakin baik pengalaman mereka, sehingga diperlukan peningkatan sosialisasi, penyediaan fasilitas, dan penguatan kapasitas nelayan agar PIT berjalan efektif dan berkelanjutan.Quota-Based Fishing (QBF) is a government policy that aims to maintain the sustainability of fish resources by determining fishing zones and quotas. PPP Tamperan-Pacitan is a fishing port with the highest landing activity in South East Java and is located in Zone IV PIT. This study aims to analyze the factors influencing the successfull implementation of QBF, assess the perceptions and experiences of fishery actors, and examine their relationship. A quantitative descriptive method was employed, utilizing purposive sampling, with 33 respondents comprising vessel owners, managers, port officers, and field supervisors. The results show that the factors influencing the successful implementation of QBF include communication, infrastructure, implementers’ attitudes, management structure, and policy execution, all of which were generally rated as good by respondents. Furthermore, the perception of fisheries actors toward the QBF policy tends to be positive. At the same time, their experiences fall into the moderate category, although challenges remain, such as limited facilities, capital, and digital literacy. The Chi-Square test yielded a Pearson value of 57.433 (p < 0.05) with a contingency coefficient of 0.66, indicating a strong and significant relationship between the perceptions and experiences of fisheries actors regarding the implementation of the QBF policy
INTRODUKSI LAMPU ATRAKTOR CELUP (LAC) PADA OPERASIONAL GOMBANG (TIDAL TRAP) DI PERAIRAN BENGKALIS, PROVINSI RIAU, INDONESIA
Lampu atraktor celup (LAC) dapat meningkatkan efisiensi pengoperasian perangkap pasang surut. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi penerapan LAC dalam pengoperasian perangkap untuk meningkatkan efisiensi tangkapan. Penelitian dilakukan di Perairan Bengkalis, Provinsi Riau, Indonesia, antara bulan Mei dan Oktober 2023. Pendekatan eksperimental diterapkan, dengan membandingkan hasil tangkapan perangkap standar (kontrol) dan perangkap yang dimodifikasi yang dilengkapi dengan LAC (perlakuan). Analisis statistik, uji t berpasangan, digunakan untuk menilai perbedaan berat tangkapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan LAC menghasilkan tangkapan yang lebih berat sebesar 17.5% dibandingkan alat tangkap tanpa LAC, dengan peningkatan yang signifikan dalam penangkapan spesies pelagis dan demersal (p < 0.05). Penggunaan SAL secara efektif menarik ikan dengan menciptakan agregasi plankton yang disebabkan oleh cahaya secara lokal, sehingga meningkatkan kepadatan ikan di dekat perangkap. Integrasi LAC secara signifikan meningkatkan efisiensi perangkap dan menyajikan metode yang berkelanjutan untuk meningkatkan perikanan skala kecil tanpa meningkatkan upaya penangkapan
ANALISIS DAYA DUKUNG DAN NILAI EKONOMI UNTUK PENGEMBANGAN WISATA PANTAI NGOBARAN YOGYAKARTA
Pantai Ngobaran di Gunungkidul memiliki potensi wisata melalui keberadaan Pura dan Arca, namun tingkat kunjungan masih rendah akibat penataan ruang publik yang belum optimal. Pengembangan berbasis daya dukung diperlukan untuk mendorong peningkatan kunjungan dan keberlanjutan destinasi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis daya dukung kawasan, persepsi masyarakat lokal, dan nilai ekonomi wisata Pantai Ngobaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2024 dengan metode survei dengan memberikan kuesioner kepada responden yang terdiri dari masyarakat lokal sebanyak 30 orang dan wisatawan sebanyak 100 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah snowball sampling untuk masyarakat lokal dan accidental sampling untuk wisatawan. Analisis data menggunakan perhitungan daya dukung kawasan (DDK), interval skor, dan willingness to pay (WTP). Hasil penelitian menunjukkan nilai DDK adalah 3.021 orang/hari dan nilai DDP adalah 302 orang/hari sehingga dalam setahun setara dengan 110.230 orang/tahun. Jumlah wisatawan Pantai Ngobaran pada tahun 2023 yaitu 67.960 orang/tahun yang berarti jumlah wisatawan tersebut belum melebihi daya dukung kawasannya. Hasil persepsi masyarakat lokal berdasarkan penerimaan masyarakat, berupa pengaruh wisatawan terhadap pola/gaya hidup masyarakat dan interaksi wisatawan dengan masyarakat, serta dukungan masyarakat tergolong baik. Nilai total WTP wisatawan sebesar Rp579.019.200/tahun dengan rata-rata nilai WTP individu adalah Rp8520/orang.TITLE: ANALYSIS OF CARRYING CAPACITY AND ECONOMIC VALUE FOR THE TOURISM DEVELOPMENT OF NGOBARAN BEACH IN YOGYAKARTANgobaran Beach in Gunungkidul possesses notable tourism potential due to its distinctive cultural features, including a Pura and Arca. However, suboptimal public space management has contributed to relatively low visitor numbers. This study aims to assess the area’s carrying capacity, evaluate local community perceptions, and estimate the economic value of tourism through tourists’ willingness to pay (WTP). A quantitative approach was employed, with data collected in February 2024 through structured questionnaires distributed to 30 local residents (via snowball sampling) and 100 tourists (via accidental sampling). Analysis included carrying capacity (CC) calculations, interval scoring, and WTP estimation. Findings indicate that the physical carrying capacity is 3,021 visitors/day, while the real carrying capacity is 302 visitors/day, equivalent to 110,230 visitors/year. The 2023 tourist volume (67,960/year) remained within these limits. Community perceptions were generally positive, particularly regarding lifestyle adaptation and tourist interaction. The total WTP value was estimated at IDR 579,019,200/year, with an average of IDR 8,520/ person. These results underscore the need for capacity-based development strategies to enhance both visitor numbers and sustainability outcomes at the site
Proses Pengolahan Ikan Lemuru (Sardinella longiceps) Dalam Kaleng Dengan Medium Saus Cabai
Pengalengan adalah teknik pengawetan makanan dengan memanaskan pada suhu yang membunuh mikroorganisme, lalu memasukkannya ke dalam stoples atau kaleng. Ikan lemuru dengan saus cabai merupakan ikan yang dikemas dalam kaleng dengan beragam pilihan saus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalis proses pengalengan ikan lemuru (Sardinella lemuru) dalam kaleng menggunakan saus cabai. Metode penelitian dilakukan melalui observasi langsung seluruh proses pengolahan, mulai dari penerimaan bahan baku hingga pengiriman. Pengujian dilakukan pada mutu bobot tuntas, organoleptik, sensori dan kimia serta pengamatan suhu. Analisa data dilakukan secara deskriptif-komparatif. Hasil pengujian mutu nilai organoleptik bahan baku dan produk akhir adalah 8. Hasil uji histamin pada bahan baku yaitu 7,42 ppm. Pengamatan suhu pada tahapan proses adalah: Penerimaan bahan baku 3,98; Penyimpanan sementara 5,95; Pengguntingan 9,73; Pencucian I 13,67; Filling 14,54; Pre-cooking 67,47; Penirisan 66,97; Pengisian medium saus 88,54. Kesimpulan menunjukkan bahwa proses pengolahan lemuru dalam kaleng media saus cabai sudah dilakukan dengan bai
Total Amonia dan Keberadaan Bakteri Vibrio Koloni Kuning dan Hijau Pada Hatchery di Pesisir Kalianda Lampung Selatan
Pesisir Kalianda banyak dimanfaatkan untuk usaha pembenihan udang vaname. Hatchery-hatchery ini memanfaatkan sumber air dari Pesisir Kalianda dalam kegiatan pembenihan. Kualitas air yang baik menjadi persyaratan penting bagi keberhasilan usaha pembenihan udang vaname. Keberadaan bakteri vibrio menjadi potensi ancaman bagi keberhasilan usaha pembenihan udang vaname. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara amonia dengan bakteri Vibrio sp koloni kuning dan hijau. Penelitian ini menggunakan data dari tiga hatchery udang vaname yang berada di Pantai Pesisir Kalianda, Lampung Selatan. Pendekatan deskriptif digunakan untuk menganalisis pola hubungan amonia dengan total bakteri Vibrio sp koloni hijau dan kuning. Secara statistik dilakukan analisis korelasi antara amonia dengan total bakteri Vibrio sp koloni hijau dan kuning menggunakan rumus Pearson dengan software Microsoft Excel. Hubungan antara amonia dengan total vibrio koloni kuning di ketiga hatchery memperoleh, nilai regresi yaitu Y = -148737x + 47474 dengan nilai koefisien determinasi (R2 ) sebesar 0,977 dan nilai koefisien korelasi negatif (r) sebesar -0,9885. Hubungan antara amonia dengan total vibrio koloni hijau di ketiga hatchery memperoleh nilai regresi yaitu Y = 129149x – 28292 dengan nilai koefisien determinasi (R2 ) sebesar 0,8506, nilai koefisien korelasi positif (r) sebesar nilai koefisien korelasi negatif (r) sebesar 0,9222. Tingginya amonia di air bagi kegiatan pembenihan udang vaname dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih udang, karena itu perlu dilakukan upaya untuk menurunkan kandungan amonia dengan menerapkan manajemen kualitas air yang baik dengan beragam metode diantaranya dengan menambahkan DO dan melakukan fitoremediasi
Penerapan dan Pengembangan Sistem Ketertelusuran (Traceability) Pada Pengolahan Tuna (Thunnus sp.) Loin Beku di CV. MF, Maluku
Sebagai komoditas ekspor perikanan andalan Indonesia, industri pengolahan tuna (Thunnus sp.) membutuhkan sistem ketertelusuran yang mudah dan akurat. Sistem ketertelusuran yang akurat akan memudahkan pencatatan serta menjamin mutu dan keamanan pangan dari produk tuna yang dihasilkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui alur proses pengolahan tuna loin beku, mengetahui penerapan dan pengembangan sistem ketertelusuran pengolahan produk. Metode penelitian dengan cara observasi, partisipasi langsung, wawancara. Sistem ketertelusuran dilakukan secara eksternal pada pemasok bahan baku (supplier) dan pembeli produk (buyer), serta secara internal pada proses produksi di CV. MF. Hasil penelitian diperoleh alur proses pembuatan tuna loin beku di CV. MF terdiri atas 17 tahapan dari penerimaan bahan baku hingga pemuatan. Sistem ketertelusuran eksternal pada supplier bahan baku telah diterapkan melalui data nama supplier, jenis bahan baku, daerah penangkapan bahan baku, jumlah bahan baku, dan kondisi bahan baku. Sistem ketertelusuran eksternal pada pembeli telah diterapkan melalui data tanggal pengiriman produk, tujuan pengiriman produk, jenis produk, nomer kontainer, dan penanggung jawab. Sistem ketertelusuran internal telah diterapkan mulai dari pembentukan tim manajemen ketertelusuran hingga rekaman alur proses pengolahan. Penerapan sistem ketertelusuran di CV. MF dirumuskan dalam bentuk kode yang terdiri atas kode penerimaan dan kode produksi. Kode penerimaan dan kode produksi meliputi kode supplier, size, grade, trip produk, dan kode perusahaan. Sistem ketertelusuran di CV. MF dapat dikembangkan dari sistem manual berbasis kertas yang memiliki banyak kekurangan, menuju sistem ketertelusuran berbasis kode digital yang mudah dan akurat salah satunya dalam bentuk QR code
Karakteristik Fisikokimia Tepung Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus), Lele (Clarias sp.) Dan Nila (Oreochromis niloticus) Sebagai Sumber Protein
Tepung ikan merupakan produk olahan yang dihasilkan dari ikan, baik dari ikan utuh maupun limbah dari pengolahan ikan. Umumnya tepung ikan diolah untuk dijadikan sebagai bahan tambahan pakan. Seiring perkembangan zaman, tepung ikan diolah secara saniter dan higienis untuk ditambahkan dalam pembuatan pangan sebagai sumber protein. Beberapa jenis ikan yang dapat dijadikan tepung ikan yaitu ikan patin, ikan lele dan ikan nila. Ketiganya merupakan jenis ikan air tawar yang dibudidayakan, mudah ditemukan dan harganya terjangkau. Oleh sebab itu pada penelitian ini dilakukan pengolahan terhadap ikan patin, ikan lele dan ikan nila menjadi produk tepung ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan dan karakteristik fisikokimia tepung ikan dari bahan dasar tiga jenis ikan berbeda. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor 3 jenis tepung ikan berbeda. Parameter penelitihan ini adalah kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, kadar karbohidrat dan uji sensori terhadap kenampakan, bau, ukuran butiran dan benda asing serta rendemen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuatan tepung ikan terdiri atas tahapan penerimaan bahan baku, pemfilletan, leaching, pengukusan, pengepresan, pengeringan dan penghalusan. Karakteristik mutu kimia tepung ikan patin, tepung ikan lele dan tepung ikan nila yaitu kadar air 7,41%; 5,01%; 5,21%; kadar abu 2,01%; 2,99%; 2,23%; kadar protein 81,66%; 76,60%; 81,24%; kadar lemak 4,58%; 8,10%; 4,31%; kadar karbohidrat 4,34%; 7,30%; 7,01%; dan mutu sensori tepung ikan patin, tepung ikan lele dan tepung ikan nila yaitu 7,5;8,0;8,0 serta rendemen tepung ikan patin, lele dan nila yaitu 7,33%; 7,22%; 7,10%
Karakteristik Mutu Produk Beras Analog Dengan Penambahan Tepung Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)
Ikan lele dumbo merupakan salah satu jenis ikan yang tinggi nutrisi, populasi berlimpah, dan memiliki harga harga jual yang rendah di Indonesia. Salah satu potensi pemanfaatan ikan lele dumbo adalah sebagai bahan tambahan untuk meningkatkan kandungan gizi pada beras analog. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu beras analog dengan penambahan tepung ikan lele dumbo. Metode penelitian rancangan acak lengkap dan analisis sidik ragam digunakan untuk menentukan pengaruh perlakuan penambahan tepung ikan lele dumbo berdasarkan komposisi proksimat. Hasil penelitian menunjukan beras analog memiliki kadar protein berkisar 8,67- 10,30%, kadar lemak berkisar 1,33 - 1,60 %, kadar air berkisar 8,34%- 8,63, kadar abu berkisar 1,67 - 2,58%, kadar karbohidrat berkisar 76,70%-79,97%, dan kadar serat kasar berkisar 1,84%-1,90%. Hasil uji one way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan nyata penambahan tepung ikan lele dumbo terhadap kadar protein, lemak, abu, dan kadar air produk beras analog. Semakin banyak penambahan tepung ikan maka akan meningkatkan kadar protein, lemak, abu, dan air pada beras analog. Hasil uji hedonik menunjukkan produk terpilih beras analog terdapat pada penambahan tepung ikan 2,5%
THE FORGOTTEN : ACHIEVING SUSTAINABLE FISHERIES THROUGH THE EMPOWERMENT OF LOCAL WISDOM
To understand the impact of culture on the economy, it is important to know the values and cultural norms that exist and have been applied by individuals in their economic activities. Fisheries sector also has several attributes that can be developed to create sustainability scenarios that have not yet been studied in West Pasaman district, West Sumatra province, Indonesia. This study aimed to demonstrate the potential of local wisdom as a valuable asset for fisheries sustainability. The research was conducted between January 2023 and June 2023 in West Pasaman Regency, West Sumatra Province, Indonesia, using RAPFISH and Participatory Prospective Analysis. The study identified key factors essential for achieving sustainable fisheries. The community of West Pasaman has a rich history of local fishing knowledge that can be fully utilised to achieve sustainability in the future. The crucial role of customary rules and local wisdom is highlighted. It is important to note that this knowledge should be taken into account in any efforts to achieve fisheries sustainability