Jurnal Kesehatan Indra Husada
Not a member yet
212 research outputs found
Sort by
KETIMPANGAN PERAN GENDER DALAM PENGASUHAN ANAK DAN KAITANNYA DENGAN STUNTING (Studi Kasus Pada Keluarga Yang Memiliki Balita Stunting Di Desa Plumbon Tahun 2024)
Patriarchal culture remains a persistent phenomenon in families in Plumbon Village, contributing to the high prevalence of stunting in toddlers. This study aims to describe the patterns of patriarchal behavior in families with stunted children. A descriptive qualitative design was employed, utilizing in-depth interviews with seven families having stunted toddlers. The results revealed that in patriarchal families, men primarily act as breadwinners, while women bear full responsibility for childcare and nutritional fulfillment. The low involvement of fathers in parenting and the limited access of mothers to economic resources and health information are key factors contributing to stunting. Additionally, interviews with village officials confirmed that patriarchal culture is still prevalent in the community, reinforcing parenting patterns that do not optimally support child development. Therefore, gender-based interventions that actively engage fathers in childcare and provide education to families are essential to promote a more inclusive parenting approach and prevent stunting.Budaya patriarki masih menjadi fenomena yang melekat dalam kehidupan keluarga di Desa Plumbon, yang berkontribusi terhadap tingginya angka stunting pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran perilaku patriarki dalam keluarga yang memiliki balita stunting. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap tujuh keluarga yang memiliki balita stunting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam keluarga patriarki, peran utama laki-laki adalah sebagai pencari nafkah, sementara perempuan bertanggung jawab penuh atas pengasuhan anak dan pemenuhan kebutuhan gizi. Rendahnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan serta keterbatasan akses ibu terhadap sumber daya ekonomi dan informasi kesehatan menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap kejadian stunting. Selain itu, wawancara dengan pihak desa mengonfirmasi bahwa budaya patriarki masih kuat di lingkungan setempat, memperkuat pola pengasuhan yang kurang mendukung pertumbuhan optimal anak. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berbasis gender yang melibatkan peran aktif ayah dalam pengasuhan serta edukasi bagi keluarga untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya pola asuh yang lebih inklusif guna mencegah stunting
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN VULVA HYGIENE DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN DI PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM DESA MULYASARI TAHUN 2024
According to the World Health Organization (WHO), it was estimated 33% of people worldwide Vaginal discharge is a reproductive health problem that is often experienced by women, this condition will cause uncomfortable conditions and can interfere with daily activities. This study aims to determine the relationship between knowledge, attitudes, and vulva hygiene simultaneously with the incidence of vaginal discharge at Bahrul Ulum Islamic Boarding School, Mulyasari Village in 2024. The type of research is used quantitative research (data in the form of numbers) with a survey research design with a cross-sectional approach. Data collection in this study used primary data obtained from filling out questionnaires. The population in this study were 51 young women at the Bahrul Ulum Islamic Boarding School in 2024. Sampling used the total sampling technique or a sampling technique where the number of samples was the same as the population. From the 51 respondents, there were 24 respondents (47.1%) who experienced vaginal discharge and 27 respondents (52.9%) did not experience vaginal discharge. From the results of the Chi Square test, was obtained the P-Value = 1,000, which means there was no relationship between Knowledge and the Incident of Vaginal Discharge. The P-Value = 0.766 was obtained, which means there was no relationship between Attitude and the Incident of Vaginal Discharge. The P-Value value <0.000 was obtained, indicating a significant relationship between vulva hygiene and the incidence of vaginal discharge at the Bahrul Ulum Islamic Boarding School, Mulyasari Village in 2024. In addition, the results of the Odds Ratio (OR) analysis showed an OR value of 0.026 and a Confidence Interval (CI) of 95% in adolescents who experienced vaginal discharge with a value range was 0.005-0.14Keputihan ialah masalah kesehatan reproduksi yang sering di alami oleh para wanita, keadaan ini akan menimbulkan kondisi yang tidak nyaman serta dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, dan vulva hygiene secara simultan dengan Kejadian Keputihan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Desa Mulyasari Tahun 2024. Jenis Penelitian yang digunakan termasuk penelitian kuantitatif (data yang berbentuk bilangan) dengan desain penelitian survey dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data primer yaitu didapatkan dari pengisian kuesioner. Adapun Populasi pada penelitian ini adalah Remaja Putri di Pondok Pesantren Bahrul Ulum tahun 2024 sebanyak 51 orang. Pengambilan sampel menggunkan teknik total sampling atau teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan jumlah populasi. Dari 51 responden terdapat 24 responden (47.1%) yang mengalami Keputihan dan yang tidak mengalami Keputihan berjumlah 27 reponden (52.9%). Dari hasil uji Chi Square di dapatkan nilai P-Value = 1.000 yang berarti tidak terdapat hubungan antara Pengetahuan dengan Kejadian Keputihan. Di dapatkan nilai P-Value = 0.766 yang berarti tidak terdapat hubungan antara Sikap dengan Kejadian Keputihan. Diperoleh nilai P-Value < 0,000 yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara vulva hygiene dengan kejadian keputihan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Desa Mulyasari pada tahun 2024. Selain itu, hasil analis Odds Ratio (OR) menunjukkan nilai OR sebesar 0.026 dan interval kepercayaan dengan Confidience Interval (CI) 95% pada remaja yang mengalami keputihan dengan rentang nilai 0.005-0.14
FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI RUMAH SAKIT BUNDA PALEMBANG TAHUN 2023
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Faktor resikoBBLR yaitu faktor ibu seperti usia ibu, paritas, anemia, KEK, pre-eklamsia dan faktor janin seperti kehamilan ganda, KPD serta faktor lingkungan seperti sosial ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan Kekurangan Energi kronik (KEK), Ketuban Pecah Dini (KPD), anemia dengan kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Penelitian ini menggunakan Kuantitatif dengan metode cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua bayi yang lahir di rumah sakit bunda Palembang pada bulan 1 Januari – 31 Desember tahun 2023. Penentuan Sampel diambil dengan menggunakan teknik sistematik random sampling. Dari analisis univariat didapat hasil dari 85 responden, 30 (35.3%) responden yang mengalami BBLR, dengan KPD 54 (63.5%) responden, 34 (40.0%) responden dengan KEK, 55 (64.7%) responden dengan anemia. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji statistik chi-square diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara BBLR dengan kejadian KPD di peroleh P value 0,036, tidak ada hubungan yang signifikan antara KEK dengan kejadian BBLR di peroleh P value 0,247, ada hubungan yang signifikan antara anemia dengan kejadian BBLR diperoleh P value 0,016 .Maka dapat di simpulkan bahwa ada hubungan antara KPD, Anemia dengan BBLR secara parsial dan simultan dan tidak ada hubungan antara KEK dengan kejadian BBLR secara parsial dan simultan.Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Faktor resikoBBLR yaitu faktor ibu seperti usia ibu, paritas, anemia, KEK, pre-eklamsia dan faktor janin seperti kehamilan ganda, KPDserta faktor lingkungan seperti sosial ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan KekuranganEnergi kronik (KEK), Ketuban Pecah Dini (KPD), anemia dengan kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Penelitianini menggunakan Kuantitatif dengan metode cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua bayi yang lahir dirumah sakit bunda Palembang pada bulan 1 Januari – 31 Desember tahun 2023. Penentuan Sampel diambil denganmenggunakan teknik sistematik random sampling. Dari analisis univariat didapat hasil dari 85 responden, 30 (35.3%)responden yang mengalami BBLR, dengan KPD 54 (63.5%) responden, 34 (40.0%) responden dengan KEK, 55 (64.7%)responden dengan anemia. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji statistik chi-square diketahui bahwa adahubungan yang signifikan antara BBLR dengan kejadian KPD di peroleh P value 0,036, tidak ada hubungan yang signifikanantara KEK dengan kejadian BBLR di peroleh P value 0,247, ada hubungan yang signifikan antara anemia dengan kejadianBBLR diperoleh P value 0,016 .Maka dapat di simpulkan bahwa ada hubungan antara KPD, Anemia dengan BBLR secaraparsial dan simultan dan tidak ada hubungan antara KEK dengan kejadian BBLR secara parsial dan simultan
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KECEMASAN PADA WANITA USIA SUBUR YANG MELAKUKAN PAP SMEAR
Women of reproductive age need to pay attention to their reproductive health, as neglecting it increases the risk of cervical cancer. One preventive measure for cervical cancer is screening through pap smears. Women’s low awareness and lack of interest in undergoing pap smears for prevention and early detection of cervical cancer are influenced by factors such as lack of family support and anxiety related to the pap smear procedure. This research aims to determine the relationship between family support and anxiety in women of reproductive age undergoing pap smears at SMC Telogorejo Hospital. This quantitative research was conducted using a cross-sectional approach. The sample consisted of 79 women of reproductive age at SMC Telogorejo Hospital, calculated using the Slovin formula and selected through purposive sampling. The instruments used were family support and anxiety measurement tools. The results showed that family support for women of reproductive age who had pap smears at SMC Telogorejo Hospital was sufficient (65.8%). The level of anxiety in these women was moderate (48.1%). There is a significant correlation between family support and anxiety in women of reproductive age undergoing pap smears at SMC Telogorejo Hospital (p-value = 0.000). The findings suggest that family support can play a crucial role in reducing anxiety for women of reproductive age undergoing pap smears. It is hoped that the results of this research can enhance nurses’ knowledge and involvement in forming support systems to reduce anxiety for these women.Wanita usia subur perlu untuk memerhatikan kesehatan reproduksinya, apabila tidak diperhatikan beresiko menderita kanker serviks. Salah satu usaha preventif kanker serviks yang dapat dilakukan adalah screening melalui pap smear. Rendahnya kesadaran wanita untuk melakukan pap smear sebagai sarana pencegahan dan deteksi dini kanker serviks dan kurangnya minat wanita dalam melakukan pap smear dipengaruhi oleh faktor dukungan keluarga yang kurang dan prosedur pap smear sering mengakibatkan kecemasan. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dilakukan dengan pendekatan cross-sectional. Sampel dalam penelitian adalah Wanita Usia Subur di SMC RS Telogorejo sebanyak 79 pasien dihitung menggunakan rumus slovin. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan alat ukur dukungan keluarga dan alat ukur kecemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga pada wanita usia subur yang melakukan pap smear di SMC RS Telogorejo memiliki dukungan keluarga yang cukup (65,8%). Tingkat kecemasan pada wanita usia subur yang melakukan pap smear memiliki tingkat kecemasan pada kategori sedang (48,1%). Ada hubungan dukungan keluarga dengan kecemasan pada wanita usia subur yang melakukan pap smear di SMC RS Telogorejo (p value = 0,000). Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan perawat dan dapat berperan dalam membentuk dukungan agar mengurangi kecemasan kepada wanita usia subur yang melakukan pap smear
UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS KUESIONER INTENSI ORANG AWAM TERHADAP TINDAKAN RESUSITASI JANTUNG PARU
This study aims to measure the accuracy and reliability of the lay people\u27s intention toward cardiopulmonary resuscitation questionnaire. It consists of 7 questions in case scenario with two answer choices. The validity testing of each question uses Pearson product-moment correlation and the internal consistency of the questionnaire uses Cronbach\u27s alpha. A total of 34 lay people completed the questionnaire. The characteristics of the respondents were female (97,06%), the average knowledge score was 14,2 (±SD 1,47), the average attitude score was 17,9 (± SD 1,79), and 100% never performed cardiopulmonary resuscitation on cardiac arrest victims. The results of the analysis of 7 questions have a correlation coefficient of more than r-table (0,339; CI=95%) and have an internal consistency of α=0,871 (CI=95%). The questionnaire has accurate validity and consistent reliability. Questionnaires is valid and reliable for measuring lay people\u27s intentions toward cardiopulmonary resuscitation.Tujuan penelitian ini adalah mengukur ketepatan dan keandalan kuesioner intensi orang awam terhadap tindakan resusitasi jantung paru. Kuesioner terdiri dari 7 butir pertanyaan dalam bentuk skenario kasus dengan dua pilihan jawaban. Pengujian validitas setiap butir pertanyaan menggunakan korelasi Pearson product-moment dan pengujian konsistensi internal kuesioner menggunakan Cronbach\u27s alpha. Sebanyak 34 orang awam menyelesaikan pengisian kuesioner. Karakteristik responden yaitu 97,06% berjenis kelamin perempuan, rata-rata skor pengetahuan adalah 14,2 (± SD 1,47), rata-rata skor sikap adalah 17,9 (± SD 1,79), dan 100% tidak pernah melakukan resusitasi jantung paru kepada korban henti jantung. Hasil analisis 7 butir pertanyaan mempunyai nilai koefisien korelasi lebih dari r-tabel (0,339; CI=95%) dan memiliki konsistensi internal α=0,871 (CI=95%). Kuesioner memiliki validitas yang akurat dan reliabilitas yang konsisten. Kuesioner ini dapat menjadi alat ukur yang valid dan andal untuk mengukur intensi orang awam terhadap tindakan resusitasi jantung paru
ANALISIS HUKUM MANAJEMEN STRATEGIK KESELAMATAN PASIEN DI RUMAH SAKIT
Strategic Management of Patient Safety is a crucial aspect in modern hospital operations. This study aims to legally analyze Strategic Management of Patient Safety in hospitals through a literature review. In a legal context, patient safety refers to efforts made by hospitals to prevent and reduce the risk of medical errors and ensure optimal patient care. The literature review highlights various legal aspects that are relevant to Strategic Management of Patient Safety. These include the hospital\u27s legal obligation to provide appropriate standards of care, patients\u27 rights regarding information and consent to medical procedures, and the hospital\u27s legal responsibility in handling complaints and claims related to medical errors. The legal analysis also highlights the role of government regulations and policies in encouraging improved patient safety in hospitals. Clear regulations and consistent law enforcement are important factors in increasing accountability and transparency in medical practice. This study provides a deeper understanding of how legal aspects affect Strategic Management of Patient Safety in hospitals. The implications of this analysis can help develop more effective policies and practices in ensuring patient safety and well-being as a top priority in health services.Manajemen Strategik keselamatan pasien merupakan aspek yang krusial dalam operasional rumah sakit modern. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis secara hukum Manajemen Strategik keselamatan pasien di rumah sakit melalui tinjauan literatur. Dalam konteks hukum, keselamatan pasien mengacu pada upaya yang dilakukan oleh rumah sakit untuk mencegah dan mengurangi risiko terjadinya kesalahan medis serta memastikan pelayanan yang optimal bagi pasien. Studi pustaka menyoroti berbagai aspek hukum yang relevan dalam Manajemen Strategik keselamatan pasien. Hal ini termasuk kewajiban hukum rumah sakit untuk menyediakan standar pelayanan yang sesuai, hak-hak pasien terkait informasi dan persetujuan atas prosedur medis, serta tanggung jawab hukum rumah sakit dalam penanganan keluhan dan tuntutan terkait kesalahan medis. Analisis hukum juga menyoroti peran regulasi dan kebijakan pemerintah dalam mendorong peningkatan keselamatan pasien di rumah sakit. Pengaturan yang jelas dan penegakan hukum yang konsisten merupakan faktor penting dalam meningkatkan akuntabilitas dan transparansi dalam praktik medis. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana aspek hukum memengaruhi Manajemen Strategik keselamatan pasien di rumah sakit. Implikasi dari analisis ini dapat membantu pengembangan kebijakan dan praktik yang lebih efektif dalam memastikan keselamatan dan kesejahteraan pasien sebagai prioritas utama dalam layanan kesehata
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN CAKUPAN BALITA DI TIMBANG (D/S) DI POSYANDU WILAYAH KERJA PUSKESMAS BETUNG
Monitoring the weight of toddlers monthly at Posyandu is an indicator related to the coverage of basic health services especially the prevalence of malnutrition in toddlers, early detection and preventing growth and development failure in toddlers. The aim of this study is to determine the relationship between the role of health workers, mother’s attitude, and the quality of service on the coverage of toddlers being weighed (D/S) in Betung Community Health Centre working area. This study uses an analytical survey method and a crosssectional approach. The population of the study was mothers who had toddlers with a tota) number of 101 toddlers in Betung Community Health Centre working area. The sample of this study included 50 toddlers taken by using accidental sampling technique. The data were analysed by using chi-square test. Univariate analysis showed that toddlers with low coverage of toddlers weighed (D/S) were 18 respondents (34%), while toddlers with D/S with high coverage were 32 respondents (66%). The result of bivariate analysis showed that there were significant relationships between the role of health workers (P-value was 0,047), mothers’ attitude (P-value was
0,001), the quality of service (P-value was 0,000) and the coverage of toddlers weighed (D/S) in Betung Community Health Centre working area. The conclusion is there is a significant relationship between the role of the health workers, mother’s attitude, and the quality of service on the coverage of toddlers weighed (D/S). It is hoped that mothers will be more consistent in monitoring the toddlers’ weight every month.Masa tahap awal (Bayi Balita) merupakan masa setelah bayi lahir sampai pada umur 59 bulan. Tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia diukur melalui tercapainya penurunan angka kematian balita. Kematian pada balita yang masih tinggi salah satu penyebabnya adalah status gizi, baik gizi kurang atau balita dengan stunting. Salah satu program pemerintah yaitu melakukan pemantauan berat badan setiap bulan pada balita di posyandu yang diharapkan dapat mendeteksi dini dan mencegah stunting pada balita. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan peran petugas kesehatan, sikap ibu dan kualitas pelayanan terhadap cakupan balita di timbang (D/S) di wilayah kerja Puskesmas Betung. Jenis penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki balita yang berjumlah 101 balita di wilayah kerja Puskesmas Betung. Besar sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus slovin sehingga di dapatkan 50 balita. Tehnik pengambilan sampel yaitu accidental sampling. Data dianalisis dengan uji Chi-Square. Analisa univariat didapatkan balita dengan cakupan balita di timbang (D/S) rendah berjumlah 18 responden (34%), sedangkan balita dengan cakupan tinggi berjumlah 32 responden (66%). Hasil analisa bivariat didapatkan bahwa ada hubungan bermakna antara peran petugas kesehatan dimana nilai (P-Value = 0,047), ada hubungan bermakna antara sikap ibu dimana nilai (P-Value = 0.001), dan ada hubungan bermakna antara kualitas pelayanan dimana (P-Value = 0.000) terhadap cakupan balita di timbang (D/S) di wilayah kerja Puskesmas Betung. Kesimpulan ada hubungan peran petugas kesehatan, sikap ibu, dan kualitas pelayanan terhadap cakupan balita di timbang (D/S). Diharapkan kepada ibu untuk lebih konsisten melakukan pemantauan berat badan balita setiap bulannya
ANGKA KEBERHASILAN TERAPI EKSISI DAN RADIOTERAPI ADJUVAN PADA PASIEN KELOID YANG DIOPERASI DI RUMAH SAKIT UNAND
Keloid is a benign fibroproliferative tumor of the dermal that extends beyond the original wound and invades adjacent dermal tissue due to an abnormal healing response from the wound in the dermis. Keloids can have a disturbing impact on individuals such as cosmetic disorders, pruritus, pain, and in severe cases, limited joint movement so that it is very necessary to be managed. One of the keloid therapies with quite promising results is surgical excision and adjuvant radiotherapy. This aim of this research was to determine the success rate of excision therapy and adjuvant radiotherapy in keloid patients operated on at Unand Hospital. This research is an observational descriptive study and uses a cross- sectional design using a total sampling technique of 12 samples. Data analysis uses univariate analysis and research data is presented in the form of a table of success rates. The Results In this study, the highest success rate was found in the 12-16 year age group, female gender, lower extremity predilection. All patients received external radiation with the highest success rate in the group of patients who were given a total dose of 20 Gy in 5 fractions, a follow-up interval of 6 months, and a distance of excision and adjuvant radiotherapy for <3x24 hours, and adhered to the fixed therapy protocol. The success of therapy is largely influenced by predilection, age, gender, radiation dose, and patient compliance with therapy.Keloid adalah tumor jinak fibroproliferatif jinak dermal meluas di luar luka asli dan menginvasi jaringan dermal yang berdekatan akibat respons penyembuhan abnormal dari luka di dermis. Keloid dapat berdampak mengganggu bagi individu seperti gangguan kosmetik, pruritus, nyeri, dan pada kasus yang parah, pergerakan sendi yang terbatas sehingga sangat perlu untuk ditatalaksana. Salah satu terapi keloid dengan hasil yang cukup menjanjikan adalah bedah eksisi dan radioterapi adjuvan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui angka keberhasilan terapi eksisi dan radioterapi adjuvan pada pasien keloid yang dioperasi di Rumah Sakit Unand. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observatif dan menggunakan desain cross-sectional dengan menggunakan teknik total sampling sebanyak 12 sampel. Analisis data memakai analisis univariat dan data penelitian disajikan dalam bentuk tabel angka keberhasilan. Hasil Pada penelitian ini didapatkan angka keberhasilan tertinggi berada pada kelompok usia 12-16 tahun, jenis kelamin perempuan, predileksi esktremitas bawah. Seluruh pasien mendapatkan jenis radiasi eksterna dengan angka keberhasilan tertinggi berada pada kelompok pasien yang diberikan dosis total 20 Gy dalam 5 fraksi, jarak follow up 6 bulan, dan jarak eksisi dan radioterapi adjuvan selama < 3x24 jam, dan patuh terhadap protokol tetap terapi.Keberhasilan terapi sebagian besar dipengaruhi oleh predileksi, umur, jenis kelamin, besar dosis radiasi, serta kepatuhan pasien terhadap terapi
PEMENUHAN GIZI PADA SERIBU HARI PERTAMA KEHIDUPAN TERHADAP KEJADIAN STUNTING DI INDONESIA : LITERATURE REVIEW
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak,terutama jika tidak ditangani sejak dini. Periode seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK) dimulai darimasa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, merupakan fase kritis yang menentukan kualitaspertumbuhan fisik, kognitif, dan kesehatan anak secara menyeluruh. Tujuan penelitan ini adalah untukmemberikan penjelasan mengenai faktor penyebab stunting, serta tindakan yang perlu dilakukan pada seribuhari pertama kehidupan untuk mencegah kejadian stunting anak. Penelitian ini menggunakan metodeliterature review, dengan database Google Scholar, Semantic Scholar, dan PubMed dari tahun 2016-2025.Pencarian artikel menggunakan kata kunci "Pemenuhan gizi”, “Seribu hari pertama kehidupan” dan“Kejadian Stunting Di Indonesia”. Hasil penelitian didapatkan 14 artikel penelitian relevan. Yang menjaditemuan spesifik dari penelitian tersebut adalah kurangnya asupan gizi selama kehamilan, faktor yangberhubungan dengan kemiskinan, serta pengaruh dari kondisi ibu menjadi faktor dominan dalam kejadianstunting. Upaya intervensi gizi pada ibu hamil dan bayi, edukasi dalam pemberian ASI eksklusif selamaperiode seribu hari pertama kehidupan efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahanstunting. Kesimpulannya, optimalisasi pemanfaatan pada periode 1000 HPK sangat penting bagipertumbuhan dan perkembangan anak, serta dapat menjadi strategi utama dalam menurunkan prevalensistunting di Indonesia.Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak, terutama jika tidak ditangani sejak dini. Periode seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK) dimulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, merupakan fase kritis yang menentukan kualitas pertumbuhan fisik, kognitif, dan kesehatan anak secara menyeluruh. Tujuan penelitan ini adalah untuk memberikan penjelasan mengenai faktor penyebab stunting, serta tindakan yang perlu dilakukan pada seribu hari pertama kehidupan untuk mencegah kejadian stunting anak. Penelitian ini menggunakan metode literature review, dengan database Google Scholar, Semantic Scholar, dan PubMed dari tahun 2016-2025. Pencarian artikel menggunakan kata kunci "Pemenuhan gizi”, “Seribu hari pertama kehidupan” dan “Kejadian Stunting Di Indonesia”. Hasil penelitian didapatkan 14 artikel penelitian relevan. Yang menjadi temuan spesifik dari penelitian tersebut adalah kurangnya asupan gizi selama kehamilan, faktor yang berhubungan dengan kemiskinan, serta pengaruh dari kondisi ibu menjadi faktor dominan dalam kejadian stunting. Upaya intervensi gizi pada ibu hamil dan bayi, edukasi dalam pemberian ASI eksklusif selama periode seribu hari pertama kehidupan efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan stunting. Kesimpulannya, optimalisasi pemanfaatan pada periode 1000 HPK sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, serta dapat menjadi strategi utama dalam menurunkan prevalensi stunting di Indonesia
ASUHAN KEBIDANAN BERKELANJUTAN (CONTINUUM OF CARE) PADA NY.M USIA 27 TAHUN SEKUNDIGRAVIDA DI PMB ISTRI UTAMI
Bidan merupakan profesi yang berperan penting untuk berhubungan serta berkomunikasi langsung dengan masyarakat, dalam memberikan pelayanan yang dibutuhkan. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia untuk meningkatkan kualitas hidup ibu dan bayi serta menurunkan angka kematian adalah dengan melakukan asuhan kebidanan berkelanjutan atau Continuum of Care. Asuhan Kebidanan berkelanjutan merupakan salah satu upaya pendampingan komprehensif meliputi fisiologis, psikologis, sosial, dan spiritual pada ibu sejak kehamilan hingga masa nifas yang memungkinkan petugas kesehatan selalu memantau pasien setiap tahap sehingga dapat mencegah komplikasi. Penelitian ini bertujuan memberikan asuhan kebidanan berkelanjutan atau Continuum of Care pada Ny. M G2P1A0 di Praktik Mandiri Bidan Istri Utami Sleman Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan desain Continuum of Care pada asuhan kebidanan dengan pendokumentasian SOAP. Asuhan yang diberikan sesuai dengan standar pada saat ANC, INC, PNC dan KB. Hasil ANC menunjukan Ny. M hamil dengan anemia ringan, tetapi dapat teratasi dengan mengonsumsi tablet Fe 2 kali sehari. Saat persalinan kala I-IV menunjukan Ny. M dalam keadaan normal dan tanpa penyulit. Pada masa nifas, Ny. M memiliki keluhan berupa kelelahan, tetapi dapat teratasi dengan baik. Pada KF I- IV Ny. M dalam kondisi fisiologis dan proses involusi berjalan dengan baik. Perawatan bayi baru lahir untuk bayi Ny. M selama KN I – III berada dalam keadaan sehat dan tidak ada cacat bawaan. Ibu memilih menggunakan KB IUD post plasenta dikarenakan kontrasepsi jangka panjang dan non- hormonal sehingga tidak mengganggu produksi ASI. Penulis telah melakukan asuhan kebidanan berkelanjutan pada Ny.M sesuai standar, keluhan ibu selama kehamilan teratasi, Ny.M melahirkan di fasilitas kesehatan dan ditolong tenaga kesehatan, masa nifas berjalan normal, keadaan bayi baik dan Ny.M merupakan akseptor KB IUD post plasenta.Bidan merupakan profesi yang berperan penting untuk berhubungan serta berkomunikasi langsung dengan masyarakat, dalam memberikan pelayanan yang dibutuhkan. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia untuk meningkatkan kualitas hidup ibu dan bayi serta menurunkan angka kematian adalah dengan melakukan asuhan kebidanan berkelanjutan atau Continuum of Care. Asuhan Kebidanan berkelanjutan merupakan salah satu upaya pendampingan komprehensif meliputi fisiologis, psikologis, sosial, dan spiritual pada ibu sejak kehamilan hingga masa nifas yang memungkinkan petugas kesehatan selalu memantau pasien setiap tahap sehingga dapat mencegah komplikasi. Penelitian ini bertujuan memberikan asuhan kebidanan berkelanjutan atau Continuum of Care pada Ny. M G2P1A0 di Praktik Mandiri Bidan Istri Utami Sleman Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan desain Continuum of Care pada asuhan kebidanan dengan pendokumentasian SOAP. Asuhan yang diberikan sesuai dengan standar pada saat ANC, INC, PNC dan KB. Hasil ANC menunjukan Ny. M hamil dengan anemia ringan, tetapi dapat teratasi dengan mengonsumsi tablet Fe 2 kali sehari. Saat persalinan kala I-IV menunjukan Ny. M dalam keadaan normal dan tanpa penyulit. Pada masa nifas, Ny. M memiliki keluhan berupa kelelahan, tetapi dapat teratasi dengan baik. Pada KF I- IV Ny. M dalam kondisi fisiologis dan proses involusi berjalan dengan baik. Perawatan bayi baru lahir untuk bayi Ny. M selama KN I – III berada dalam keadaan sehat dan tidak ada cacat bawaan. Ibu memilih menggunakan KB IUD post plasenta dikarenakan kontrasepsi jangka panjang dan non- hormonal sehingga tidak mengganggu produksi ASI. Penulis telah melakukan asuhan kebidanan berkelanjutan pada Ny.M sesuai standar, keluhan ibu selama kehamilan teratasi, Ny.M melahirkan di fasilitas kesehatan dan ditolong tenaga kesehatan, masa nifas berjalan normal, keadaan bayi baik dan Ny.M merupakan akseptor KB IUD post plasenta