Jurnal Keperawatan Komprehensif (JKK)
Not a member yet
497 research outputs found
Sort by
OPTIMALISASI PELAKSANAAN SUPERVISI HANDOVER KEPERAWATAN PADA RUMAH SAKIT DI JAKARTA SELATAN
Handover keperawatan di rumah sakit dapat berpengaruh terhadap hasil pelayanan kesehatan pasien. Handover merupakan bagian dari proses asuhan keperawatan sebagai pertukaran informasi pasien antar perawat, memastikan kontinuitas perawatan pasien, keselamatan pasien. Kepala ruangan memiliki fungsi melakukan supervisi pada proses handover, sehingga dapat meningkatkan kepedulian terhadap kualitas keperawatan, dan berpegang kepada etika keperawatan. Belum optimalnya pelaksanaan supervisi handover dianalisa menggunakan fishbone diagram untuk mendapatkan akar masalah/rootcause. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pelaksanaan supervisi handover keperawatan pada rumah sakit di Jakarta Selatan. Metodologi yang digunakan dengan metode wawancara, observasi, pengisian kuesioner dan telaah dokumen rekam medik pasien. Optimalisasi kualitas supervisi handover perawat dengan melakukan evaluasi pelaksanaan handover, memerlukan instrumen sesuai dengan standar prosedur operasional atau standar akreditasi rumah sakit. Kepala ruangan perlu melakukan sosialisasi prosedur dan supervisi berkala pelaksanaan handover keperawatan, komitmen bersama mendukung program ini, menggunakan instrumen penilaian handover yang seragam, adanya audit dan evaluasi dari manajemen bidang keperawatan
ANALISIS PERILAKU ETIK KEPALA RUANGAN PADA RUMAH SAKIT DI JAKARTA: STUDI KASUS
Keperawatan dalam menjalankan praktek keperawatan harus berdasarkan kode etik, standar pelayanan, standar profesi dan standar prosedur operasional.. Perilaku merupakan sikap yang ditampilakan atas keputusn nilai yang di anut, pengetaahuan dan ketrmpilan yang dimiliki. Etika profesional mengacu pada penggunaan komunikasi yang logis dan konsisten, pengetahuan, keterampilan klinis, emosi dan nilai-nilai dalam praktik keperawatan. Tujuan studi kasus ini untuk melakukan analisis perilaku etik kepala ruangan dalam melaksanakan peran dan fungsinya di pelayanan keperawatan rumah sakit di Jakarta. Metode yang dilakukan dengan survei menggunakan kuesioner, observasi, wawancara dan focus group discusion. Sample yang digunakan adalah seluruh kepal ruangan dan perawat primer dan pelaksana sesuai dengan rumus estimasi proporsio. Hasil yang didapat bahwa kepela ruangan membutuhkan pembekalan sebelum menjabat dengan peningkatan pengetahuan, keterampilan sebagai pemimpin dan pembentukan perilaku etik melalui pendampingan senior, adanya forum FGD antar kepala ruangan dan adanya panduan perilaku etik bagi kepala ruangan sebagai dasar acuan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari
EARLY SKRINNING HIPERURISEMIA DENGAN FAKTOR RESIKO GAGAL GINJAL AKUT DI WILAYAH KELURAHAN CIPAGERAN
Latarbelakang : Kejadian pasti hiperurisemia di masyarakat masih belum jelas. Namun dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di Puskesmas Cipageran pada tanggal 8 agustus 2018 terjadinya peningkatan angka kejadian asam urat yang meningkat setiap bulannya (Januari – Juni 2018), asam urat (gout) mencapai 17 kasus. Sedangkan menurut data dari Rikesdas 20131 prevalensi gagal ginjal kronis di Indonesia sebesar 0,2 % dan penyakit batu ginjal sebesar 0,6 %.Peningkatan kadar asam urat terdapat supersaturasi urat dalam plasma dan cairan tubuh dan diikuti dengan pengendapan kristal-kristal urat di luar cairan tubuh dan endapan dalarn dan sekitar sendi. Penimbunan asam urat sering terjadi pada penyakit dengan metabolisme asam urat abnormal dan kelainan metabolik dalam pembentukan purin dan ekskresi asam urat yang kurang dari ginjal.Apabila terjadi hiperurisemia dalam jangka waktu lama akan menyebabkan fungsi ginjal dalam melakukan filtrasi akan meningkat dan dapat memungkinkan terjadinya penurunan fungsi ginjal. Dari keadaan hiperurisemia ini dapat mengakibat terjadinya kondisi patologis yaitu gagal ginjal. Sehingga untuk mengetahui fungsi ginjal masih dalam batas normal haruslah dilakukan upaya deteksi awal dari mengetahui kadar tingginya asam urat dalam darah dengan kejadian penurunan fungsi ginjal melalui beberapa indikatornya.Tujuan : Penelitian ini bertujuan umum mengidentifikasi korelasi early skrinning hiperurisemia dengan resiko gagal ginjal akut. Sedangkan pada tujuan khususnya yaitu mengidentifikasi rata rata kadar asam urat yang tinggi, tekanan darah, MAP, Ureum, Kreatinin dan GFR, mengetahui korelasi hiperurisemia dengan GFR, mengetahui korelari hiperuresemia dengan tekanan darah, MAP, Ureum, Kreatinin.Metode : Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian deskripsi korelatif dengan jenis rancangan cross sectional. Penelitian ini dilakukan terhadap 30 responden dengan kadar asam urat lebih dari normal melalui tehnik purposive sampling. Kriteria responden yaitu usia 36 – 65 tahun dan kadar asam urat darah lebih dari normal. Responden yang memenuhi kriteria selanjutnya di lakukan pemeriksaan tekanan darah, MAP, berat badan, ureum dan kreatinin dalam darah dan GFR. Analisa data pada penelitian ini adalah univariat menggunakan data numerik dengan nilai mean pada kadar asam urat , tekanan darah, MAP, Kreatinin, Ureum. Analisa Bivariat didapatkan data tidak berdistribusi normal, sehingga sebagai uji alternatif menggunakan uji rank spearment. Analisa multivariate untuk melihat hubungan variabel variabel digunakan uji Regresi linier.Hasil : Rerata setiap variabel, yaitu variabel tekanan darah dengan nilai mean sistolik 138,43 , nilai mean diastolik 81,47 , nilai mean MAP 100.733 , nilai mean asam urat (hiperuresemia) 7,190 , nilai mean ureum 19,777 , nilai mean kreatinin 1.265 dan nilai mean GFR 52.533. Nilai korelasi hiperiresemia dengan GFR adalah 0,066 (p value > α (0,05) yang menunjukkan bahwa korelasi hiperuresemia dengan fungsi ginjal melalui pemeriksaan GFR tidak bermakna. Nilai korelasi spearman sebesar -0,340 menunjukkan korelasi negative dengan kekuatan korelasi lemah. menggambarkan interpretasi model, setelah dilakukan analisis variabel indepeden yang masuk model regresi adalah GFR, Ureum, TD, Kreatinin, MAP. Pada Model Summary terlihat koefisien determinasi (R Square) menunjukkan nilai 0,234 artinya bahwa model regresi yang diperoleh dapat menjelaskan 23,4% variasi variabel dependen asam urat. Anova hasil uji F yang menunjukkan nilai P(sig) = 1,169, berarti pada alpha 5% dapat menyatakan bahwa model regresi tidak cocok dengan data yang ada. Atau dapat diartikan variabel tersebut secara signifikan tidak dapat untuk memprediksi variabel asam urat. Coefficient dapat memperoleh persamaan garisnya, yang digunakan untuk mengetahui variabel mana yang paling besar pengaruhnya. Pada hasil diatas variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap asam urat adalah kreatinin dengan hasil 1,091.Kesimpulan : Hiperuresemia bukan merupakan salah satu indikator terjadinya penurunan fungsi ginjal yang dapat menyebabkan gagal ginjal akut. Namun melihat metabolisme dari asam urat yang hasil akhirnya akan diekskresikan oleh ginjal, apabila kondisi hiperuresemia ini tidak segera ditangani maka dapat juga mempengaruhi fungsi ginjal dalam melakukan fungsi ekskresinya, sehingga resiko penurunan fungsi ginjal dapat terjadi
GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG LESBIAN, GAY, BISEKSUAL, DAN TRANSGENDER (LGBT) DI SMA X GARUT
Tercapainya kematangan seksual pada remaja akhir memunculkan dorongan seksual yang memicu remaja untuk memenuhi kebutuhan seksualnya bahkan melakukan hal yang tidak pantas untuk dilakukan. Apabila tidak tercapai akan terjadi kebingungan peran pada masa remaja yang akan menyebabkan remaja mengembangkan perilaku menyimpang. Salah satu perilaku menyimpang yang mungkin terjadi adalah perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja tentang lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Penelitian ini deskriptif kuantitatif. Populasi pada penelitian ini siswa-siswi kelas XI-XII di SMA X Garut. Sampel pada penelitian ini menggunakan stratified random sampling sebanyak 266 siswa. Data dikumpulkan dengan instrumen yang terdiri dari 26 item pertanyaan. Data dianalisis dengan analisa deskriptif dan disajikan dalam bentuk presentase. Hasil penelitian ini diketahui bahwa tingkat pengetahuan remaja tentang lesbian, gay, biseksual dan transgender adalah sebagian besar responden pengetahuan baik sejumlah 221 responden (83,1%). Simpulan penelitian ini bahwa sebagian besar responden dalam kategori pengetahuan yang baik
MODIFIKASI ASESMEN EARLY WARNING SYSTEM UPAYA PENINGKATAN PENERAPAN KESELAMATAN PASIEN
Salah satu faktor dalam meningkatkan penerapan keselamatan pasien adalah ketersediaan dan efektifitas prasarana dalam rumah sakit. Early warning system (EWS) merupakan prasarana dalam mendeteksi perubahan dini kondisi pasien. Penatalaksanaan EWS masih kurang efektif karena parameter dan nilai rentang scorenya belum sesuai dengan kondisi pasien. Tujuan penulisan untuk mengidentifikasi efektifitas EWS dalam penerapan keselamatan pasien. Metode penulisan action research melalui proses diagnosa, planning action, intervensi, evaluasi dan refleksi. Responden dalam penelitian ini adalah perawat yang bertugas di area respirasi dan pasien dengan kasus kompleks respirasi di Rumah Sakit Pusat Rujukan Pernapasan Persahabatan Jakarta. Analisis masalah dilakukan dengan menggunakan diagram fishbone. Masalah yang muncul belum optimalnya implementasi early warning system dalam penerapan keselamatan pasien. Hasilnya 100% perawat mengatakan REWS membantu mendeteksi kondisi pasien, 97,4 % perawat mengatakan lebih efektif dan 92,3 % perawat mengatakan lebih efesien mendeteksi perubahan kondisi pasien. Modifikasi EWS menjadi REWS lebih efektif dan efesien dilakukan karena disesuaikan dengan jenis dan kekhususan Rumah Sakit dan berdampak terhadap kualitas asuhan keperawatan dalam menerapkan keselamatan pasien. Rekomendasi perlu dilakukan monitoring evaluasi terhadap implementasi t.erhadap implementasi REWS dan pengembangan aplikasi berbasis tehnolog
GAMBARAN FASE BERDUKA PADA PASIEN STROKE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEMBANGUNAN
Stroke merupakan suatu masalah yang dapat terjadi kapan saja dan tidak terprediksi sebelumnya sehingga pasien dapat mengalami fase berduka. Populasi pada penelitian ini yaitu pasien stroke yang berkunjung ke Puskesmas Pembangunan sebanyak 30 orang. Teknik sampel dengan menggunakan total sampling. Instrumen berisi 15 pertanyaan dan data penelitian disajikan dengan distribusi frekuensi berdasarkan nilai fase berduka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien stroke yang mengalami fase berduka hampir setengahnya responden berada pada fase tawar menawar (bargaining) sebanyak 36,7%, fase anger 26,7%, fase denial 16,7%, fase depresi 13,3% dan sebagian kecil mengalami fase acceptance sebanyak 6,7%. Kesimpulan pada penelitian ini adalah hampir setengahnya responden mengalami fase tawar menawar (bargaining) dan sebagian kecil berada pada fase penerimaan acceptance. Saran pada penelitian ini untuk tenaga kesehatan agar lebih memperhatikan pasien pada saat mengalami fase berduka, untuk pasien agar lebih sabar lagi dalam menghadapi fase berduka
GAMBARAN TINGKAT DEPRESI, KECEMASAN DAN STRESS PADA MAHASISWA JUNIOR KEPERAWATAN DI INDONESIA
Stress adalah masalah kesehatan yang akan menjadi epidemik global pada abad ke-21. Mahasiswa keperawatan adalah kelompok masyarakat yang rentan akan stress dan dipicu oleh faktor akademik, klinik dan lingkungan. Dinamika perubahan belajar dan perbedaan proses akademik dari sekolah ke perguruan tinggi dan hal tersebut menjadi sumber utama stress pada mahasiswa baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan tingkatan depresi, kecemasan, dan stress pada mahasiswa junior keperawatan.. Penelitian ini adalah cross-sectional study yang dilakukan di salah satu institusi keperawatan di Indonesia pada bulan Desember-January 2019. Teknik sampling yang digunakan adalah convenience sampling dengan Instrumen DASS (Depression Anxiety Stress Scale). Pengambilan data menggunakan online questionnaire form dan teknik analisa univariate data dengan SPSS Version 25. Rata-rata usia pada tahap remaja 19.13 (SD±0.59), 82% perempuan dan 80.8% tinggal bersama orang tua kandung (p < 0.000). Rata-rata tingkat depresi 16.24 (SD±9.71), kecemasan 13.71 (SD±0.59) atau berada pada kategori sedang dan rata-rata tingkat stress adalah 12.49 (SD±10.18) (p < 0.000). Total 25 (32.1%), 28 (35.9%) dan 52 (66.7%) responden pada depresi, kecemasan dan stress adalah normal. Depresi - stress berada pada rata-rata tertinggi 1.14 (SD ± 0.89) dan terendah adalah kecemasan - stress (SD±0.68). Identifikasi data awal tingkat stress, depresi dan kecemasan pada mahasiswa junior dibutuhkan oleh institusi sebagai upaya dalam melakukan manajemen stress. Tindakan kolaboratif bersama dapat diupayakan oleh berbagai pihak meliputi pelatihan teknik relaksasi, pengenalan strategi koping efektif ataupun penyediaan sumber-sumber yang dapat digunakan oleh mahasiswa sebagai upaya institusi dalam menciptakan proses akademik dan praktik klinis yang baik.Â
EFEKTIVITAS MOBILISASI MIRING KIRI MIRING KANAN DALAM UPAYA PENCEGAHAN PRESSURE INJURY PADA PASIEN SEPSIS DI RUANG INSTALASI PELAYANAN INTENSIF
Pendahuluan : perawat berperan dalam merawat pasien dalam keterkaitan dengan kenyamanan pasien-pasien dengan total bedrest, salah satunya adalah dengan melakukan miring kanan dan kiri..Tujuan : untuk memgetahui efektivitas mobilisasi miring kiri miring kanan yang dalam hal ini posisi miring 30 derajat dalam upaya pencegahan pressure injury/luka tekan pada pasien sepsis.Metode: Metode yang digunakan Post Test Only Control Group Design dengan jumlah populasi sebanyak 30 responden.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa mobilisasi miring kiri miring kanan ada pengaruh dalam pencegahan pressure injury/luka tekan pada pasien sepsis baik itu dengan metode 30 derajat dan 90 derajat (p=0,004 < α=0,05).Kesimpulan: Mobilisasi miring kiri miring kanan efektif dalam pencegahan risiko pressure injury/luka tekan pada pasien sepsis
GAMBARAN KEPATUHAN MINUM OBAT ARV PADA ANAK DENGAN HIV/AIDS
Latar belakang:Penyakit HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan suatu penyakit yang terus berkembang dan menjadi masalah global. Permasalahan dalam pengobatan HIV/AIDS adalah ARV, di mana obat ini hanya untuk menekan replikasi virus, Penelitian klinik menunjukkan bahwa penderita yang mengikuti aturan pengobatan dan melakukan pemeriksaan kesehatan dengan teratur, umumnya obat-obat akan bekerja dengan baik. Kenyataannya, beberapa dokter mengatakan bahwa hanya separuh pasiennya menunjukkan hasil yang baik. Salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan adalalah kepatuhan pasien. Tujuan: Mengetahui gambaran kepatuhan minum obat pada pasien anak penderita HIV/AIDS. Metode:Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam. Data akan dianalisis menggunakan perspektif konstruksionis dengan asumsi memahami kenyataan melalui cerita, menerima pengalaman terjadi secara naratif, dan cerita berasal dari konstruksi dan persepsi peristiwa. Hasil: Hasil wawancara mendalam gambaran kepatuhan minum obat ARV pada anak dengan HIV/AIDS,  medapat  3 tema. Tema tersebut adalah alasan mengkonsumsi obat terus-menerus dipertanyakan, percaya atau believ terhadap efektifitas ARV. Dukungan keluarga. Kesimpulan:Setelah dilakukan proses wawancara mendalam kepada 4 partisipan didapatkan 3 tema,yaitu alasan mengkonsumsi obat terus-menerus dipertanyakan, percaya atau believ terhadap efektifitas ARV dan  Dukungan keluarga
HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN SIKAP CARING MAHASISWA KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
Kecerdasan emosional penting dimiliki oleh mahasiswa keperawatan sebagai calon perawat professional. Kemampuan mengelola emosi yang baik akan membantu seseorang untuk dapat memahami diri sendiri dan orang lain, memiliki empati terhadap orang lain, serta mampu melakukan tindakan yang tepat dalam berbagai situasi. Kemampuan tersebut mempengaruhi sikap seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatan, dimana dalam pelaksanaannya caringadalah inti dalam setiap asuhan keperawatan yang diberikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara kecerdasan emosional dengan sikap caring mahasiswa keperawatan Universitas Padjadjaran. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasi (descriptive correlational) yang bersifat kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa keperawatan angkatan 2014 sampai 2017 yang berjumlah 607 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah proportionate random sampling dan didapatkan jumlah sampel sebanyak 241 mahasiswa. Terdapat 2 instrumen yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu kuesioner kecerdasan emosional dan kuesioner sikap caring yang telah diuji masing-masing nilai validitas dan reliabilitasnya. Analisa univariat dengan tabel distribusi frekuensi dan analisa bivariat dengan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan kecerdasan emosional mahasiswa tinggi (51%) dan sikap caring positif (45,2%). Hasil uji hubungan didapatkan korelasi positif antara kecerdasan emosional dengan sikap caring mahasiswa (Pvalue = 0.000; r = 0,515) yang berarti terdapat hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan sikap caring mahasiswa. Kesimpulan penelitian ini adalah hampir setengah mahasiswa keperawatan Unpad yang memiliki kecerdasan emosional rendah, 72% memiliki sikap caring dengan kategori negatif. Sehingga saran bagi peneliti selanjutnya untuk meneliti faktor-faktor lain yang mempengaruhi sikap caring mahasiswa serta upaya untuk meningkatkan sikap caring tersebut