Jurnal Keperawatan Komprehensif (JKK)
Not a member yet
497 research outputs found
Sort by
OPTIMALISASI PERAN DAN FUNGSI KEPALA RUANGAN DALAM PELAKSANAAN SOSIALISASI REGULASI DAN STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL KESELAMATAN PASIEN
Keselamatan pasien merupakan hal yang penting dari suatu pelayanan kesehatan di era saat ini. Seorang perawat wajib memiliki kemampuan dan kepercayaan diri dalam melaksanakan program-program keselamatan pasien. Perawat butuh suatu acuan dan pedoman berupa pemahaman yang jelas mengenai suatu panduan dan standar oprasional prosedur yang ada dan disepakati disuatu organisasi. Manajemen berkewajiban memastikan bahwa seluruh stafnya paham, mengikuti dan patuh melaksanakan  panduan dan standar oprasional prosedur yang ada. Pengkajian di rumah sakit di Jakarta dengan metode studi kasus didapatkan adanya insiden jatuh, kesalahan identifikasi pasien, kesalahan pengobatan, ketidak seragaman pada tindakan asuhan keperawatan, belum optimalnya komunikasi SBAR saat serah terima, penyimpanan obat-obatan konsentrasi tinggi belum sesuai standar dan adanya konflik antar profesi. Tujuan study ini adalah memberikan penguatan peran dan fungsi manajemen kepala ruangan terkait cara sosialisasi panduan dan standar oprasional prosedur yang benar dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien. Penguatan yang diberikan kepada kepala ruangan dan perawat primer berupa bimbingan teknis yang benar menurut teori dan aplikasi langsung diruangan rawat inap. Kegiatan ini menggunakan tahap perubahan berencana dari kurt lewin untuk mengatasi permasalahan yang ditemui. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap standar oprasional prosedur akan mengubah perilaku seseorang kearah yang lebih baik, dan terdapat hubungan yang cukup kuat ditemukan antara kualitas standar operasional prosedur dengan kinerja, sehingga kepala ruangan wajib memiliki kompetensi yang baik dalam melakukan sosialisasi panduan dan standar oprasional prosedur. Disarankan untuk rumah sakit agar memberikan pelatihan manajemen bangsal kepada kepala ruangan sebagai penguat kompetensinya dan meningkatkan rasa percaya diri untuk memberikan justifikasi dan argumentasi, sebagai bekal negosiasi terhadap rekan-rekan petugas kesehatan lainnya
KESIAPSIAGAAN PERAWAT RUMAH SAKIT DALAM MENGHADAPI BENCANA: TINJAUAN SISTEMATIS
Kesiapsiagaan terhadap bencana merupakan aspek yang sangat penting penentu keberhasilan dalam penanggulangan bencana. Untuk mengurangi dampak bencana di seluruh fase yang berbeda, banyak tindakan keperawatan yang diperlukan, termasuk pencegahan atau mitigasi, kesiapsiagaan, respon, pemulihan, dan rekonstruksi atau rehabilitasi. Akan tetapi informasi tentang gambaran kesiapsiagaan perawat terhadap bencana secara sistematis masih terbatas. Sehingga tinjauan ini bertujuan untuk mengidentifikasi hasil penelitian yang ada tentang kesiapan perawat di rumah sakit dalam menghadapi bencana secara lebih komprehensif. Metode: Pencarian literature dilakukan terhadap artikel yang diterbitkan dari 2014 sampai 2019 menggunakan PubMed dan Google Scholar dengan kombinasi kata kunci readiness atau preparedness dan disaster dan healthcare professional atau nursing. Kriteria inklusi pencarian adalah studi yang berfokus pada analisis kesiapsiagaan pada perawat, jenis studi cross sectional, diterbitkan dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Semua makalah yang terpilih dimasukkan berdasarkan penilaian independen berdasarkan kriteria dari JBI. Hasil: Pencarian awal menghasilkan 1.143 artikel dan hanya 9 artikel yang termasuk dalam tinjauan artikel, dari 9 artikel menunjukan mayoritas perawat rumah sakit menunjukkan kesiapan yang buruk terhadap respon bencana rentang dari 45,8% sampai 78,5%. Mereka juga tidak percaya diri dengan kemampuannya dalam menghadapi bencana yang besar (52,1% - 72,4%). Akan tetapi, sebanyak (48,3% - 82,3%) perawat menunjukkan kesiapan yang baik terhadap respon bencana dalam hal manajemen klinis dan kesiapan dalam perlindungan diri. Kesimpulan : Hasil review menunjukan bahwa sebagian besar perawat memiliki kesiapan yang kurang optimal dalam menangani bencana. Pembuat kebijakan harus mendorong diadakanya pelatihan untuk perawat mengenai kesiapsiagaan bencana di rumah sakit
GAMBARAN KEPATUHAN MINUM PADA PASIEN TB DI WILAYAH PUSKESMAS KECAMATAN CIMAUNG
AbstrakLatarbelakang:Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit serius bukan hanya di Indonesia tetapi di Dunia.Kepatuhan minum obat adalah indikator keberhasilan yang sangat penting untuk kesembuhan pasien TB selama 6-9 bulan dimana pasien harus minum obat non stop, akan tetapi di Indonesia masih banyak kasus drop out dengan berbagai alasan seperti efek samping obat, kurang dukungan keluarga, sosial ekonomi dalam pengobatan pasien TB.Tujuan:ujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi prevalensi kepatuhan minum obat anti tuberculosis pada pasien TB di Wilayah Kerja Puskesmas Cimaung. Metode:Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita TB Paru dari April 2019 sebagai pasien di Puskesmas Cikalong dan di Puskesmas Cimaung. Untuk pemilihan sampel pada penelitian ini mengacu kepada Non Probability Samplingjenis total Sampling.kepatuhan minum obat, diukur dengan menggunakan instrument yaitu Medication Morisky Adherence Scale (MMAS-8). Hasil: didapatkan prevalensi kepatuahan minum oabat anti tuberkulosis (OAT) dengan hasil responden dengan tingkat kepatuhan sebanyak 54% patuh, 40% kurang patuh, dan 6% responden tidak patuh. Kesimpulan:puskesmas mengadakan penyuluhan secara rutin tentang penyakit TB paru terutama tentang cara penularan dan pencegahannya kepada masyarakat. Perawat dan kader kesehatan diharapkan lebih rutin melakukan kunjungan terutama kepada pasien yang tidak patuh, sehingga pasien dapat terhindar dari drop outpengobatan. Â
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS SENAM PROLANIS DAN SENAM DIABETES TERHADAP GLUKOSA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2
Penyakit Diabetes Melitus (DM) kini menjadi ancaman yang serius bagi umat manusia di dunia. Komplikasi pada Diabetes Melitus (DM) tipe 2 dapat dihambat melalui kemampuan menjaga kadar gula darah selalu normal atau mendekati batas normal. Berbagai macam cara harus dilakukan untuk dapat mengontrol kadar gula darah. Penting untuk kita mengetahui manakah cara yang paling sesuai dilakukan sehingga perlu untuk membuktikan apakah senam diabetes dan prolanis dapat efektif terhadap pengontrolan gula darah. Metode penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan pretest-posttest with control group. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas wilayah kerja Singkawang Tengah. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 60. Hasil dari penelitian ini adalah ada perbedaan yang nyata nilai GDS pada kelompok Senam Prolanis, kelompok Senam DM dan kelompok kontrol dengan nilai p-value sebesar 0,000 < 0,05 artinya perbedaan yang nyata nilai GDS pada kelompok Senam Prolanis, kelompok Senam DM dan kelompok kontrol. Keluarga dianjurkan berolahraga selama 30 – 40 menit, dapat meningkatkan pemasukan glukosa kedalam sel sebesar 7 sampai 20 kali lipat dibandingkan tanpa latihan fisik
GAMBARAN STATUS GIZI IBU HAMIL PRIMIGRAVIDA DAN MULTIGRAVIDA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANG MULYA KABUPATEN GARUT
Masalah gizi di Indonesia masih tinggi termasuk masalah gizi pada ibu hamil. Status gizi ibu hamil tergambar dari angka kejadian anemia dan Kekurangan Energi Kronis (KEK). Ibu hamil yang mengalami resiko KEK di Jawa Barat cukup tinggi, termasuk di Kabupaten Garut. Status gizi pada ibu hamil berperan penting dan merupakan faktor prenatal yang akan menyebabkan komplikasi pada ibu serta bayi yang dilahirkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gizi ibu hamil. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang berada di wilayah kerja Puskesmas Karang Mulya Kabupaten Garut. Sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling didapatkan sebanyak 74 ibu hamil. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. dan disajikan dalam bentuk presentase. Hasil penelitian menunjukan bahwa status gizi berdasarkan ukuran LILA kurang sebesar  (<23,5 cm) pada ibu primigravida sebesar 6,7% dan 2,7% ibu multigravida, kenaikan berat badan kategori baik selama hamil 54,1% primigravida dan 48,7% multigravida, dan kadar hemoglobin (<11 gr/dl) ibu primigravida 40,5% dan ibu multigravida 54,1%. Simpulan penelitian ini dapat menjadi data awal bagi institusi kesehatan dalam mengembangkan intervensi atau program sesuai dengan kondisi ibu hamil diwilayah kecamatan Karang Mulya
KOMPETENSI PERAWAT HEMODIALISIS
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien hemodialisis, perawat membutuhkan kemampuan dalam prosespengambilan keputusan yang kompleks, keterampilan dalam praktek, dan memberikan intervensi keperawatan yangholistik agar pasien dapat mengelola penyakitnya. Agar menghasilkan asuhan keperawatan hemodialisis yangberkualitas diperlukan perawat hemodialisis yang memiliki kompetensi yang baik. Penulisan ini bertujuan untukmemberikan penjelasan mengenai kompetensi perawat hemodialisis. Metode penulisan ini menggunakan literaturreview yang didapatkan dari 10 artikel mengenai kompetensi perawat hemodialisis. Data yang diperoleh melaluipenelusuran EBSCOHost, Scienedirect dan Willey Online Library. Pencarian artikel menggunakan kata kuncipengetahuan perawat hemodialisis, sikap dan keterampilan perawat hemodialisis dan kualitas asuhan keperawatanhemodialisis. Hasil penulusuran artikel didapatkan kompetensi inti perawat hemodialisis terdiri dari enam domain yaitupengetahuan tentang anatomi dan fisiologi ginjal, kemampuan memberikan informasi dan edukasi, kemampuan dalammeningkatkan kesehatan dan pencegahan penyakit, memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas danmengutamakan keselamatan pasien, memberikan lingkungan perawatan yang nyaman, mampu melakukan penelitiandan pengembangan ilmu pengetahuan, dan mampu mengelola dan bekerja sama dengan tim professional kesehatan laindalam proses perawatan pasien. Kesimpulan: Dengan tercapainya standar kompetensi yang baik, diharapkankeperawatan hemodialisis yang diberikan memiliki kualitas yang tinggi sehingga berdampak pada status kesehatanpasien yang optimal
IMPLEMENTASI HIERARKI MASLOW KEBUTUHAN KLIEN PENGGUNA NAPZA DALAM MENINGKATKAN STATUS KESEHATAN DI PANTI REHABILITASI YAYASAN SEKAR MAWAR LEMBANG STUDY PHENOMENOLOGY
Implementasi hierarki maslow kebutuhan klien pengguna napza dalam meningkatkan status kesehatan di panti Rehabilitasi Yayasan Sekar Mawar Lembang. NAPZA merupakan singkatan untuk narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lain. Status kesehatan merupakan suatu keadaan kedudukan orang dalam tingkat sehat atau sakit, meningkatnya status kesehatan ditinjau dari faktor sosial adalah sejalan dengan meningkatnya derajat pendidikan pengetahuan dan teknologi. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi Implementasi Hierarki kebutuhan klien pengguna NAPZA dalam meningkatkan status kesehatan di Panti Rehabilitasi NAPZA Yayasan Sekar Mawar Lembang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode fokus grup diskusi. Pengolahan data dilakukan dengan analisis coalizi yaitu menentukan kata kunci, kategori dan tema. Penelitian dilaksanakan di Yayasan Sekar Mawar Lembang, dengan melibatkan 8 partisipan yang merupakan klien di Yayasan Sekar Mawar Lembang. Penelitian ini memperoleh tiga belas tema yaitu 1. Menggali bakat, 2. Menerima apa yang diberikan oleh panti, 3. Sharing 4. konseling dengan konselor, 5. Pola hidup sehat 6. Support, 7.tetap berpikir positif, 8. Percaya diri 9.perubahan sikap. Pengalaman yang dialami oleh klien dalam meningkatkan status kesehatan berbeda-beda
PENGARUH PENERAPAN PANDUAN PERILAKU CARING TERHADAP PENINGKATAN PERILAKU CARING MAHASISWA DI FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
Terdapat insiden pada proses pembelajaran yaitu mahasiswa bermain smartphone dikelas, insiden tersebutmengakibatkan mahasiswa menjadi tidak menghargai, hal tersebut tidak sesuai dengan aspek caring pada penelitian.Dibutuhkan upaya untuk mengubah perilaku tersebut, yaitu menggunakan penerapan panduan perilaku caring padaproses pembelajaran. Tujuan: mengetahui adakah pengaruh penerapan panduan perilaku caring terhadap perilakucaring mahasiswa Fakultas Keperawatan UNPAD. Metode: penelitian quasy experimental, populasi penelitian yaitu 12kelompok tutorial angkatan 2016 dan sampel terpilih 5 kelompok tutorial. Data dikumpulkan menggunakan KuesionerPerilaku Caring dan sudah melalui proses content validity dengan uji CVI dan CVR. Hasil: seluruh kelompokberperilaku caring dalam proses tutorial maupun praktikum baik sebelum dan sesudah penerapan panduan perilakucaring dan didapatkan hasil peningkatan mean. Hasil uji statistik pada proses pembelajaran didapatkan p value = 0.004(p < 0.05) untuk proses tutorial dan p value = 0.2854 (p > 0.05) untuk proses praktikum. Simpulan: terdapat pengaruhpenerapan panduan perilaku caring dalam proses tutorial dan tidak terdapat pengaruh penerapan panduan perilakucaring dalam proses praktikum terhadap perilaku caring mahasiswa
TINGKAT AKTIVITAS FISIK PADA LANSIA DI PROVINSI JAWA BARAT, INDONESIA
Latar belakang: Aktivitas fisik dapat meningkatkan kesehatan dan mengurangi risiko beberapa penyakit, dan yang paling terpenting adalah dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kegiatan fisik pada lansia di panti jompo di Provinsi Jawa Barat. Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan di dua panti jompo di Provinsi Jawa Barat Indonesia dengan menggunakan tehnik total sampling. Aktifitas fisik lansia di ukur dengan  menggunakan International Physical Activity Questionnaire Short Form (IPAQ-SF) versi bahasa Indonesia. Hasil: Penelitian ini melibatkan 58 lansia, dan jumlah lansia pria dan wanita sama jumlahnya (50%). Tingkat pendidikan yang paling umum dicapai oleh peserta adalah Sekolah Dasar (41,4%) dan tidak memiliki pendidikan (37,9%). Mayoritas peserta memiliki aktivitas fisik sedang (77,6%), dan hanya 15,5% memiliki aktivitas fisik yang rendah. Kesimpulan: Panti Jompo memiliki banyak kegiatan yang tersedia untuk para lansia, namun, masih ada beberapa lansia yang tidak berpartisipasi dalam program yang ada di panti. Dengan ini penyedia layanan kesehatan harus merancang kegiatan yang lebih tepat untuk meningkatkan jumlah partisipasi lansia dalam kegiatan/olahraga sehari-hari.  Â
PENGARUH METODE HEARTH DALAM MODIFIKASI DIET PADA BALITA DENGAN MALNUTRISI
Model Tungku (Hearth) merupakan salah satu pendekatan yang efektif dalam mengatasi gizi buruk karena berbasis empowering dan pembelajaran bagi masyarakat bahwa dalam pemecahan masalah sosial sebenarnya solusi ada di dalam masyarakat itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model tungku (Hearth) dalam meningkatkan status gizi balita malnutrisi melalui modifikasi diet. Jenis penelitian ini adalah Quasi eksperimen tanpa pembanding dengan  tehnik one group pre test and post test design. Sampel didapatkan sebanyak 17 balita dengan tehnik purposive sampling. Status gizi balita dianalisa menggunakan pendekatan standar antropometri balita berdasarkan ambang batas (Z-score). Hasil uji T menunjukkan adanya pengaruh model hearth terhadap status gizi balita dengan p value 0,00 (p < 0,05). Nilai beda didapatkan sebesar 1,482. Kesimpulannya adalah pendekatan model Hearth memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan status gizi pada balita malnutrisiÂ