Jurnal Kajian Wilayah (JKW)
Not a member yet
    160 research outputs found

    CRISIS, GROWTH AND CHANGES IN SUB SAHARA AFRICA: EVIDENCE FROM KENYA

    Full text link
    Since 2008, the world economy has been overshadowed by a heavy pressure from the global financial crisis. With a relatively strong global relationship, it is difficult for Kenya to fully escape the global financial crisis. Kenya has also gone through a food crisis, the post-election political crisis and the security crisis. In fact, the Kenyan economy, since the early 2000s, continues to grow without much affected by the crises. With history and economics approach, this study departs from a simple curiosity, to know how Kenya’s economic development is during the crises. This study examines three sectors that survive and thrive during times of crisis, namely agricultural sector (tea, coffee and cut flowers), infrastructure, and financial technology. In addition, this study also describes the increasing role of China in the Kenyan economy, when other donor countries are in crisis.Keywords: Crisis, agricultural sector, infrastructure development, financial technology, ChinaAbstrakSejak 2008, perekonomian dunia telahdibayangi oleh tekanan krisis keuangan global. Dengan hubungan global yang relatif kuat, sulit bagi Kenya untuk sepenuhnya keluar dari krisis tersebut. Kenya juga mengalami krisis pangan, krisis politik pasca pemilu dan krisis keamanan. Namun, ekonomi Kenya, sejak awal tahun 2000an, terus bertumbuh tanpa banyak terpengaruh oleh krisis. Dengan pendekatan sejarah dan ekonomi, penelitian ini berangkat dari keingintahuan yang sederhanatentangbagaimana perkembangan ekonomi Kenya selama krisis. Studi ini meneliti tiga sektor yang bertahan hidup dan berkembang selama masa krisis, yaitu sektor pertanian (teh, kopi dan bunga potong), infrastruktur, dan teknologi keuangan. Selain itu, studi ini juga menggambarkan peningkatan peran China dalam perekonomian Kenya, ketika negara-negara donor lainnya berada dalam krisis.Kata kunci: Krisis, sektor pertanian, pembangunan infrastruktur, teknologi keuangan, China

    RINGKASAN HASIL PENELITIAN MIGRASI TRANSNASIONAL DAN IDENTITAS DIASPORA DI KOTAKOTA PERBATASAN DI ASIA TENGGARA STUDI KASUS THAILAND DENGAN MYANMAR DAN LAOS

    Full text link
    This research has done in the border cities in Southeast Asia, namely Thailand, Lao PDR and Myanmar that straight bordered with China. Border cities are strategic locations for transnational migration, including the mobility of human, goods, information and transfer of ideas, where at the same time also contributed as bridge that linked between two or three different countries in Southeast Asia. China’s economic expansion and people migration from neighbouring countries has influenced the dynamic of economic, social and culture for people who live in border areas, especially in North Thailand. This research focus on the process of transnational migration, the identity of diaspora, and small scale economic activity among diaspora groups in border areas between north Thailand and Myanmar and also Lao PDR.Keywords:  transnational migration, diaspora identity, border citiesAbstrakPenelitian ini dilakukan di kota-kota perbatasan Asia Tenggara, yaitu Thailand, Laos, dan Myanmar yang berbatasan langsung dengan China. Kota perbatasan merupakan lokasi strategis bagi pergerakan transnasional baik manusia, barang, informasi, dan ide-ide, sekaligus sebagai wilayah yang menghubungkan antara dua atau tiga negara yang berbeda di Asia Tenggara. Ekspansi ekonomi China dan pergerakan manusia dari negara-negara tetangga mempengaruhi dinamika ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat di perbatasan. Fokus penelitian ini adalah menggali proses migrasi transnasional, identitas budaya diaspora, dan aktivitas ekonomi skala kecil kelompok diaspora di wilayah perbatasan Thailand utara dengan Myanmar dan Laos.Kata Kunci: migrasi transnasional, identitas budaya diaspora, kota perbatasa

    REPRODUKSI KULTURAL MITOS “PEREMPUAN IDEAL” JEPANG MELALUI SERIAL TV OSHIN KARYA SUGAKO HASHIDA TAHUN 1983

    Full text link
    Japan was a fairly equitable matriarchal society until Confucian ideas immigrated from China. These ideas defined Japanese society up until the end of World War II. The integration of Confucian hierarchical structures where male domination shifted gender roles into a patriarchal system. Gender roles are defined by culture rather than physical differences between men and women. Japan traditional values that form the idealism of Japanese women continued until the early modern period. Those values known as “ryousai kenbo” (good wife and wise mother). This gender issues also widely seen in popular culture of the Japanese manga, anime to drama, one of the legendary popular drama is Oshin. Oshin is the name of the heroine of television drama that went out twice a day in Waku-waku Channel for a year . Oshin is much more than the epitome of the good wife and wise mother, she is courageous, hard working and preservering. This research is specifically conducted by looking at the dynamic of Japan gender issues through the serial movie of drama Oshin using cultural reproduction by Pierre Bourdieu.Key Words: Cultural Reproduction, Ideal Women,Oshin, Japan AbstrakJepang merupakan masyarakat matriarkal yang cukup sejajar hingga datangnya pemikiran Konfusian dari China. Pemikiran ini mendefinisikan masyarakat  Jepang sampai akhir Perang Dunia II. Integrasi struktur hierarkis Konfusian dengan dominasi peran gender laki-laki mengalihkan ke dalam sistem patriarki. Peran gender ditentukan oleh budaya dan bukan perbedaan fisik antara pria dan wanita. Nilai tradisional  Jepang yang membentuk idealisme wanita Jepang berlanjut hingga masa modern awal. Nilai itu dikenal sebagai “ryousai kenbo” (istri yang baik dan ibu yang bijak). Isu gender ini juga banyak terlihat dalam budaya populer manga Jepang, anime hingga drama, dengan salah satu drama populer dan legendaris adalah Oshin. Oshin adalah nama pahlawan drama televisi yang keluar dua kali sehari di Waku-waku Channel selama setahun. Oshin lebih dari sekadar lambang istri yang baik dan ibu yang bijak, dia pemberani, pekerja keras dan penjaga. Penelitian ini secara khusus dilakukan dengan melihat dinamika isu gender Jepang melalui serial drama drama Oshin dengan menggunakan reproduksi budaya oleh Pierre Bourdieu.Kata Kunci: Reproduksi Budaya, Wanita Ideal, Oshin, Jepan

    BOOK REVIEW: ECONOMIC GROWTH AND DEVELOPMENT IN AFRICA, UNDERSTANDINGS TRENDS AND PROSPECTS

    Full text link

    THE EUROPEAN UNION’S ROLE AS AN INTERNATIONAL ACTOR IN THE ACEH MONITORING MISSION

    Full text link
    The European Union (EU) involvement in the Aceh Monitoring Mission (AMM) was one of the successful story in the peaceful conflict settlement. In this mission, the EU has been able to show the world that it is one of significant actor in international politics. Admittedly, the EU represents uncertain image in international politics as if it can not be seen at the same level of sovereign-states. This article examines whether the EU played a significant role as an international actor in the peace process in Aceh through an indepth-look at the work of the AMM. By viewing the EU as an evolving entity which engaged in particular issues and by addressing its international presence in the context of its involvement in the AMM, it can be concluded the EU has played significant role as an international actor. Keywords: the European Union, international actor, the Aceh Monitoring Mission (AMM), Gerakan Aceh Merdeka (GAM) AbstrakKeterlibatan Uni Eropa (UE) dalam Aceh Monitoring Mission (AMM) merupakan salah satu cerita sukses dalam penyelesaian konflik secara damai. Dalam misi ini, UE mampu menunjukkan kepada dunia bahwa mereka merupakan salah satu aktor signifikan dalam politik internasional. Harus diakui bahwa UE merepresentasikan uncertain image (gambaran yang kurang jelas) dalam politik internasional yang tingkatannya tidak dapat disejajarkan dengan negara-bangsa. Artikel ini menganalisis apakah UE memainkan peran signifikan sebagai aktor internasional dalam proses perdamaian di Aceh melalui pendalaman terhadap kerja AMM. Dengan memandang UE sebagai entitas yang terlibat dalam isu-isu khusus dan dengan menekankan pada kehadiran UE di kancah internasional melalui keterlibatannya dalam AMM, maka dapat disimpulkan bahwa UE memainkan peran siginifikan sebagai aktor internasional.Kata kunci: Uni Eropa, aktor internasional, Aceh Monitoring Mission (AMM), Gerakan Aceh Merdeka (GAM)

    TRANSNATIONAL MIGRATION AND ETHNIC ENTREPRENEURSHIP AMONG THE CHAM DIASPORA IN MALAYSIA

    Full text link
    This article is concerned with the Cham diaspora in Malaysia, who maintain transnational ties to their home land of “Kampong Cham” in Cambodia. With the process of movement and resettlement, this community confronted real challenges and had to develop new ways of life in a new milieu. From traditional forms of farming and fishing, which had been their main sources of economic support in Cambodia, these people transformed their main traditional activities to develop commercially-oriented economic activities in their new settlement.This paper aimed to answer two questions, first, how migrants use patron client relationships to survive and pursue their life in Malaysia. Second, how Cham diaspora in Malaysia who take the role of ethnic entrepreneur or patron help other migrants to negotiate transnational space and therefore facilitate transnationalism. This ethnic network plays an important role in their ethnic businesses and economic survival strategy, both for the previous migrant and new comer migrants. This paper contributes to a contemporary issue of Cham diaspora in Malaysia, one of ethnic minority in Cambodia and their strategy to face globalization by establishing transnational networking.  Keywords: Diaspora, Cham, transnational migration, entrepreneurship, ethnic network, Malaysia AbstrakArtikel ini berkaitan dengan diaspora Cham di Malaysia, yang mempertahankan hubungan transnasional dengan tanah asal mereka "Kampong Cham" di Kamboja. Dengan proses perpindahan dan pemukiman kembali, komunitas ini menghadapi tantangan nyata dan harus mengembangkan cara hidup baru di lingkungan baru. Dari bentuk tradisional pertanian dan perikanan, yang merupakan sumber utama dukungan ekonomi mereka di Kamboja, orang-orang ini mengubah kegiatan tradisional utama mereka untuk mengembangkan kegiatan ekonomi berorientasi komersial di pemukiman baru mereka. Makalah ini bertujuan untuk menjawab dua pertanyaan, pertama, bagaimana migran menggunakan hubungan klien patron untuk bertahan dan mengejar kehidupan mereka di Malaysia. Kedua, bagaimana Cham diaspora di Malaysia yang mengambil peran pengusaha etnis atau pelindung membantu migran lainnya untuk menegosiasikan ruang transnasional dan karena itu memfasilitasi transnasionalisme. Jaringan etnik ini memegang peranan penting dalam bisnis etnik dan strategi bertahan hidup ekonomi mereka, baik bagi pendatang migran migran sebelumnya maupun pendatang baru. Makalah ini berkontribusi pada isu kontemporer Cham diaspora di Malaysia, salah satu etnis minoritas di Kamboja dan strategi mereka untuk menghadapi globalisasi dengan membangun jaringan transnasional. Kata kunci: Diaspora, Cham, migrasi transnasional, kewirausahaan, jaringan etnik, Malaysia

    DIASPORA DAN IDENTITAS KOMUNITAS EKSIL ASAL INDONESIA DI BELANDA

    Full text link
    This paper is the result of research on Indonesian migration that focuses on the diaspora of the exile community in the Netherlands. The purpose to discuss this issue is to tell about the existence of an Indonesian community that has been exiled from the country for decades and became stateless or lost citizenship, because its passport was revoked by the Indonesian government. They are the generation who have been forced to move to several countries and choose to seek asylum in various Western European countries after the collapse of the Soviet Union. The history of their existence abroad as a result of the event of G30S/1965. They were abroad when the G30S occurred in the country. Their departure abroad was in the leftist (socialist) countries of the mid-1960s not because of political affairs but for various interests, but in fact it was related to the occurrence of the G30S/1965. In 1989 with the fall of communism and the end of the cold war after the collapse of the superpower of the Soviet Union, most of them have registered themselves as asylum seekers to several countries in Western Europe, including to the Netherlands. As a Dutch citizen, their descendants get education and work in the Netherlands. Their descendants feel that the Dutch or Europeans are his identity but the exiles keep their nationalism for Indonesia. We call that with long-distance nationalism.Keywords: Dutch, diaspora, exile community, asylum, citizenshipABSTRAKTulisan ini merupakan hasil penelitian tentang migrasi orang Indonesia yang fokus pada diaspora komunitas eksil di Belanda. Tujuan untuk membahas masalah ini adalah untuk menceritakan tentang keberadaan komunitas Indonesia yang sejak puluhan tahun terbuang dari tanah air dan menjadi stateless atau kehilangan kewarganegaraan, sebab pasportnya dicabut oleh pemerintah Indonesia. Mereka merupakan anak bangsa dari satu generasi yang terpaksa pindah ke beberapa negara dan memilih mencari suaka ke berbagai negara Eropa Barat pascaruntuhnya Uni Soviet. Sejarah keberadaan mereka di luar negeri sebagai akibat dari peristiwa G30S tahun 1965. Mereka sedang berada di luar negeri ketika terjadi peristiwa G30S di dalam negeri. Kepergian mereka ke luar negeri yaitu di negara-negara beraliran kiri (sosialis) di pertengahan tahun 60-an bukan karena hanya karena urusan politik, tetapi untuk berbagai kepentingan, namun pada kenyataannya disangkutpautkan dengan terjadinya peristiwa G30S tahun 1965 tersebut. Pada tahun 1989 dengan kejatuhan komunisme dan berakhirnya perang dingin setelah keruntuhan negara adi kuasa Uni Soviet sebagian besar mereka telah mendaftarkan diri menjadi pencari suaka ke beberapa negara di Eropa Barat, termasuk ke Belanda. Sebagai warga negara Belanda, anak keturunannya mendapatkan pendidikan dan bekerja di Belanda. Anak-anak keturunannya merasa Belanda atau Eropa adalah identitasnya akan tetapi orang eksil tetap menjaga nasionalisme mereka buat tanah airnya yaitu Indonesia. Kami menyebutnya dengan nasionalisme jarak jauh.  Kata Kunci: Belanda, diaspora, komunitas eksil, suaka, kewarganegaraa

    Preface Jurnal Kajian Wilayah Vol. 8 No.2 (2017)

    No full text

    AGAMA KHONGHUCU DAN BUDDHA DALAM LINTASAN SEJARAH KOREA

    Full text link
    South Korean society has a plural society with its different religious background. Khonghucu (Confucianism) and Buddhism have grown in the country for the last several centuries. Khonghucu teaches philosophy and thingking about politics and culture which form identity and ethic of Korean society. Likewise, Buddhism has a role in establishing basic identity and culture of Korean society. Other religions such as Catholic, Islam, Protestant, and shamanism are also followed by Korean. This article tries to respond the question about religious environment among Korean society, especially the question for the ground of Confucianism and Buddhism in Korean history. This article is resulted from a desk literature research which also aims at describing the current development of Confucianism and Buddhism and their role in forming culture as well as identity of Korean people.Keywords: Confucianism, Buddhism, shamanism, Xu she scripture, and mass culture.AbstrakMasyarakat Korea Selatan merupakan masyarakat yang heterogen dari sisi agama. Agama Khonghucu dan Agama Buddha telah berkembang di Korea sejak berabad lampau. Agama Khonghucu sangat mengandung unsur-unsur filsafat pemikiran, politik, dan kebudayaan yang berakar dan berpengaruh ke dalam pembentukan etika dan identitas bangsa Korea. Agama Buddhajuga berperan dalam pembentukan dasar-dasar identitas dan kebudayaan Korea. Selain Agama Kristen, Islam dan Katholik, agama setempat atau shamanisme juga tetap dipeluk sebagian masyarakat Korea Selatan. Artikel ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan bagaimanakah situasi kehidupan beragama di Korea Selatan dan bagaimanakah kedudukan Agama Khonghucu dan Buddha dalam sejarah perjalanan bangsa Korea. Tulisan yang dihasilkan dari penelitian literature ini ini juga dimaksudkan untuk mendeskripsikan bagaimanakah kondisi Agama Khonghucu dan Buddha di Korea pada masa kini dan bagaimana perannya dalam membentuk kebudayaan dan identitas nasional Bangsa Korea.Kata Kunci: Agama Khonghucu, Agama Buddha, shamanisme, teks-teks Xu she, dan budaya massa

    'COME TO HOLLAND': PROMOSI PARIWISATA BELANDA BAGI HINDIA-BELANDA DAN INDONESIA

    Full text link
    Relation between Indonesia and The Netherlands, particularly in the tourism sector has been established long time ago. The relation has been built since Indonesia still part of Dutch colony until now. Relation in the tourism sector had disconnected between the beginning of Second World War until the 1950s. This article tries to trace the relation and the contemporary situation of the tourism sector in Netherland. The discussion focuses on the Netherlands as a tourism destination for the Dutch East Indies’ verlofgangers (those who furlough) and for Indonesian tourists. The question is how Netherlands promote their country as tourist destination and the reason why they promote their country to Dutch East Indies and Indonesian tourists. The data sources for this article are from Dutch’s newspapers and magazines during the colonial period, archives of tourism agencies in the Netherlands as well as Dutch contemporary newspapers,.Keywords: The Netherlands, Indonesia, Dutch East Indies, tourism, promotionAbstrakHubungan antara Indonesia dengan Belanda dalam sektor kepariwisataan sudah terjalin lama. Hubungan tersebut terjalin sejak Indonesia masih Hindia-Belanda dan berada di bawah kepemimpinan Belanda hingga Indonesia merdeka. Hubungan di sektor kepariwisataan itu sempat terputus pada masa awal Perang Dunia II hingga tahun 1950-an. Artikel ini membahas jejak hubungan dan situasi kontemporer sektor kepariwisataan di kedua negara. Bahasan dititikberatkan pada Belanda sebagai negara tujuan wisata bagi penduduk Hindia Belanda yang ketika itu disebut verlofgangers (orang yang mengambil cuti) dan wisatawan Indonesia pada saat ini. Pertanyaan yang akan dijawab pada studi ini adalah bagaimana Belanda mempromosikan negerinya serta alasan di balik promosi itu. Sumber yang digunakan adalah arsip surat kabar dan majalah pada periode tersebut, arsip dari lembaga pariwisata di Belanda. serta surat kabar kontemporer terbitan Belanda.Kata kunci: Belanda, Indonesia, Hindia-Belanda, kepariwisataan, promos

    141

    full texts

    160

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kajian Wilayah (JKW)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇