Jurnal Kajian Wilayah (JKW)
Not a member yet
160 research outputs found
Sort by
IDENTITAS, HARAJUKU STYLE, PROVOKASI SENSIBILITAS GENDER
Fashion is one the many ways that can be mobilized to form self-identity through the use of various signs which are deliberately chosen to create a particular narration of the self through citations and repetions of other signs understood by the society at large. Through fashion, these signs are understood to distinguish one occupational identity (such as mechanical worker), position (superior, staff and others), origin, and others, or in other words through the axis of class, race and gender, usually stereotypically used and performed to create the identity of the fashion consumers.Harajuku style is one of the most famous fahion style in the world originated and flourished in Harajuku in the center of Tokyo, Japan, and can be distinguished by their choice of styles, brands, colors and compositions which some observers call as anti-fashion. In this paper, Harajuku style that developed since the end of 1980s is seen as a style that provide space and freedom to conform, to exaggerate, to mock, or even completely to reject fashion signs commonly understood in mainstream fashion. By analyzing pictures from the FRUiTS magazine, and through semiotic and gender analyses, this paper is focused on how Harajuku style opens the space for their consumers to exaggerate feminine or masculine images through particular use of styles and accessories, and there a number of those who are aimed to mock or even create gender anomaly (gender bending) to challenge existing gender stereotypes. Keywords: Fashion, Harajuku, Japan, Gender bendingAbstrakGaya berpakaian (fashion) adalah salah satu cara yang biasa digunakan untuk membentuk identitas diri melalui pemakaian serangkaian tanda yang sengaja dipilih untuk menciptakan ‘narasi’ tertentu tentang pemakainya melalui sitasi dan pengulangan dari tanda lain yang dipahami oleh masyarakat. Dalam fashion maka tanda-tanda ini dipahami secara berbeda untuk membentuk identitas pekerjaan (misal, pekerja bengkel), posisi (pimpinan dan bawahan), asal daerah, dan sebagainya, atau dengan kata lain, menurut sumbu-sumbu kelas, ras, dan gender yang seringkali bersifat stereotip dan dipakai dan digunakan (performed) untuk menciptakan identitas pemakainya. Harajuku style adalah salah satu fashion yang paling dikenal di dunia yang awalnya berkembang di daerah Harajuku di tengah kota Tokyo, Jepang, dan dikenal dengan pilihan gaya, warna, brand, dan komposisi pemakaiannya yang oleh beberapa pengamat kadang disebut sebagai anti-fashion. Dalam tulisan ini, Harajuku style yang berkembang sejak akhir 1980-an, dilihat sebagai satu gaya yang memberi ruang dan kebebasan yang sangat luas untuk meneguhkan, melebih-lebihkan, mempermainkan, atau bahkan menolak sama sekali tanda-tanda fashion yang lazim dipahami dalam gaya berpakaian yang konvensional (mainstream). Dengan menggunakan foto-foto yang ada di majalah FRUiTS, dan dengan analisa semiotik dan analisa gender, tulisan ini memfokuskan pada bagaimana Harajuku style membuka ruang bagi pemakainya untuk melebih-lebihkan citra feminitas atau maskulinitas dengan menggunakan gaya dan aksesori tertentu, dan tidak kurang pemakai yang mencoba untuk mempermaikan sensibilitas gender, atau bahkan menciptakan anomali gender (gender bending) untuk mengacaukan stereotip yang ada. Kata Kunci: Fashion, Harajuku, Jepang, Gender bendin
THE DEVELOPMENT OF ORGANIC FARMING IN VIETNAM
Organic products nowadays are very potential to be developed because of the increasing demand from consumers around the world on safe food which are free from agrochemicals, such as fertilizers and chemical. Demand for organic products mainly comes from countries in the western of Europe, in the northern America, in the East Asia. Besides promoting health for human and the environment, organic farming can also increase income for farmers due to the higher price of organic products compared to ordinary agricultural products. The growing market share of organic products in the world is a great opportunity for agricultural producers to shift its agriculture from conventional to organic systems. This article is written based on the PSDR-LIPI research about sustainable agriculture in Vietnam in 2013, coupled with current news on Vietnam's organic farming today. The research result shows that the opportunity to reach a large organic market has not been caught by the agricultural producer countries, such as Vietnam. Until now, organic agriculture in Vietnam has not developed rapidly, although it has spread in some provinces. The slow growth of organic agriculture is as the consequence of several things, such as the orientation of agricultural development which emphasize more on quantity and not quality, lack of legal framework, and complicated and high investment costs for developing organic farming.Keywords:organic farming, organic market, legal framework, high investment, agriculture AbstrakProduk-produk organik saat ini sangat potensial untuk dikembangkan karena semakin besarnya minat konsumen dunia akan produk makanan yang bebas dari penggunaan bahan-bahan kimia, seperti pupuk dan pestisida kimia, sehingga aman untuk dikonsumsi. Permintaan produk-produk organik terutama datang dari negara-negara Eropa Barat, Amerika Utara, serta Asia Timur. Berbagai keuntungan yang bisa didapatkan dari pertanian organik adalah peningkatan kesehatan tubuh, kesehatan ekosistem (tanah, air, hewan, dan tumbuhan), serta peningkatan penghasilan bagi para petani karena harga produk organik yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk-produk pertanian pada umumnya. Semakin besarnya pangsa pasar produk organik di dunia merupakan kesempatan besar bagi para produsen pertanian untuk beralih dari sistem konvensional ke sistem organik. Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis bersama dengan tim peneliti PSDR-LIPI lainnya tentang pertanian berkelanjutan di Vietnam pada tahun 2013, dan ditambah dengan berita-berita terkini tentang pertanian organik Vietnam. Hasil penelitian dan penelusuran menunjukkan bahwa kesempatan untuk meraih pasar organik yang besar belum banyak ditangkap oleh negara-negara produsen dan pengekspor hasil pertanian, misalnya Vietnam. Hingga saat ini, pertanian organik di Vietnam belum berkembang pesat, walaupun keberadaannya telah tersebar di beberapa daerah. Lambatnya perkembangan pertanian organik ini disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya pembangunan pertanian yang masih berorientasi pada masalah kuantitas dan bukan kualitas, belum ada tuntutan yang besar dari pasar domestik untuk masalah keamanan pangan, dan besarnya biaya investasi untuk sebuah pertanian organik.Kata kunci: pertanian organik, pasar produk organik, kerangka hukum, investasi besar, dan pertania
“FATHERING JAPAN” :DISKURSUS ALTERNATIF DALAM HEGEMONI KETIDAKSETARAAN GENDER DI JEPANG
The phenomenon of gender gap in Japan has brought many impacts of change in Japan from the declining birth rate and including the emergence of non-profit organizations (NPO) action groups namely "Fathering Japan"(Ikumen) founded by Tatsuya Ando in 2006, which tried to present as a form of resistance ideology from the myth of "Gender Stereotypes" hegemony in Japan.Ando established the NPOto encourage present and future fathers to play a more active role in child-rearing.“The priority of traditional Japanese fathers is work ... they don't know what to do even when they come home early," said Tetsuya Ando. Thus, it is important to study this social and cultural phenomenon to understand the whole structure of Japanese non-traditional security problem that can be seen through the “Fathering Japan” as a new discourse. By using the discourse alternative approach to analyze the role of the social movement of "Fathering Japan" (Ikumen) as the resistance ideology from Japan cultural mythology, the study was conducted by using qualitative methods through the Discourse Analysis by Ernesto and Chantal Mouffe.Keywords: Fathering Japan, discourse, Non Profit Organization, gender gap, JapanAbstrakFenomena kesenjangan gender di Jepang telah membawa banyak dampak perubahan di Jepang dari tingkat kelahiran yang menurun dan termasuk munculnya Organisasi Non Profit (NPO) yaitu "Fathering Japan" (Ikumen) yang didirikan oleh Tatsuya Ando pada 2006, yang mencoba menyajikan bentuk ideologi perlawanan dari mitos hegemoni "Gender Stereotypes" di Jepang. Ando mendirikan NPO untuk mendorong ayah hadir di masa depan untuk memainkan peran yang lebih aktif dalam membesarkan anak. "Prioritas ayah tradisional Jepang adalah pekerjaan ... mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan bahkan ketika mereka pulang lebih awal," kata Tetsuya Ando.Dengan demikian, penting untuk mempelajari fenomena sosial dan budaya ini untuk memahami keseluruhan struktur masalah keamanan non-tradisional Jepang yang dapat dilihat melalui "Fathering Japan" sebagai diskursus baru. Dengan menggunakan pendekatan diskursus alternatif untuk menganalisis peran gerakan sosial "Fathering Japan" (Ikumen) sebagai ideologi perlawanan dari mitologi budaya Jepang, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif melalui Analisis Wacana oleh Ernesto dan Chantal Mouffe .Kata kunci: fathering Jepang, diskursus, NPO, ketimpangan gender, Jepan
CHINA BELT ROAD INITIATIVE: PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAN PERLUASAN HEGEMONI EKONOMI TIONGKOK DI DUNIA
POVERTY DEBATES IN THE DEWAN RAKYAT OF THE MALAYSIAN PARLIAMENT
This article highlights the nature of parliamentary debates in the Dewan Rakyat (House of Representatives) of the Malaysian Parliament related to the poverty issues in Malaysia. Using qualitative research technique, it focuses on the untold story of poverty in Malaysia that buried in the Dewan Rakyat Hansard. Analysing poverty issues qualitatively, however, can be ambiguous and open to challenge. Despite the success story of poverty eradication in Malaysia, poverty issues have always been debated in almost every parliament proceeding in the Dewan Rakyat. If Malaysia is so successful in eradicating poverty, why the Members of Parliament (MPs) are still debating the issue in the Dewan Rakyat to date? To understand this issue, it uses Hansard records of the Dewan Rakyat (1990-2012) to narrate the multifaceted of poverty issues in both rural and urban consistencies in Malaysia, qualitatively. It reevaluates the previous works on poverty in Malaysia by examining the debates extracted from the Dewan Rakyat Hansard. The aim is to understand whether and to what extent the poverty eradication agendas have benefited communities and spilled over throughout the constituencies in Malaysia.Key words: The Malaysian Parliament, Hansard, Members of Parliament, Dewan Rakyat; poverty eradication AbstrakArtikel ini menyajikan prediksi perdebatan tentang isu kemiskinan di Malaysia yang diungkapkan di Dewan Perwakilan Rakyat, Parlemen Malaysia. Dengan menggunakan teknik penelitian kualitatif, fokus utamanya adalah masih adanya isu kemiskinan di Malaysia yang disematkan dalam Pernyataan Resmi (Hansard) Dewan Perwakilan Rakyat. Namun demikian, menganalisis isu kemiskinan secara kualitatif akan mengundang keabsahan, dan bersifat ambigu serta terbuka terhadap tantangan. Terlepas dari keberhasilan pemberantasan kemiskinan di Malaysia, masalah kemiskinan selalu diperdebatkan hampir di setiap sidang parlemen di Dewan Rakyat. Jika Malaysia berhasil memberantas kemiskinan, mengapa anggota parlemen masih memperdebatkan isu kemiskinan di Dewan Rakyat sampai sekarang? Untuk memahami masalah ini, catatan Pernyataan Resmi, Hansard, Dewan Rakyat (1990-2012) digunakan untuk menggambarkan komposisi isu kemiskinan di daerah perkotaan dan pedesaanndi Malaysia secara kualitatif. Kajian-kajian sebelumnya mengenai kemiskinan di Malaysia dievaluasi kembali dengan meninjau kembali perdebatan yang dikutip dari Pernyataan Resmi, Hansard, Dewan Perwakilan Rakyat. Tujuan utamanya adalah untuk memahami apakah ada dan sejauh mana pengentasan kemiskinan menguntungkan masyarakat dan menyebar ke seluruh wilayah di Malaysia.Kata kunci: Parlemen Malaysia, Hansard (Pernyataan Resmi), Anggota Parlemen, Dewan Perwakilan Rakyat, pengentasan kemiskinan.
GERAKAN MASYARAKAT ADAT SAMI DAN KONTESTASI SUMBER DAYA ALAM
The main agenda of the indigenous movement is fighting for political and cultural rights of ethnic minority communities in accordance with unique historical and cultural practices that they have. As Kymlicka said, minority rights must also be fought because they are on a system that is governed by the majority who pretend to produce injustice. Sami Indigenous Movement in Norway is a form of a long struggle to obtain the right independently to manage natural resources. Currently Sami struggling to maintain the uniqueness of the cultural identity and living practices that have been owned for generations. This paper would like to see the establishment of indigenous peoples' movement Sami in Norway as well as the practice of social movements committed to demanding social change related to self-governance and autonomy of management of natural resources.Keywords: Indigenous Movement, Sami People, Identity, Otonomy,Natural Resource ManagementAbstrakAgenda utama dalam gerakan adat atau indigenous movement adalah memperjuangkan hak politik dan budaya komunitas etnis yang menjadi minoritas sesuai dengan keunikan historis serta praktik budaya yang mereka miliki. Seperti yang dikatakan oleh Kymlicka, bahwa hak-hak minoritas juga harus diperjuangkan karena mereka berada pada sistem yang diatur oleh mayoritas yang berpretensi menghasilkan ketidakadilan. Gerakan Masyarakat Adat Sami di Norwegia merupakan bentuk perjuangan panjang untuk memperoleh hak secara mandiri untuk mengelola sumber daya alam. Saat ini masyarakat Sami berjuang untuk mempertahankan keunikan identitas budaya dan praktik hidup yang telah dimiliki secara turun temurun. Tulisan ini ingin melihat pembentukan gerakan masyarakat adat Sami di Norwegia serta praktik gerakan sosial yang dilakukan untuk menuntut perubahan sosial terkait dengan self-governancedan otonomi pengelolaan sumber daya alam.Kata kunci: Gerakan Masyarakat Adat, Sami, Identitas, Otonomi, Pengelolaan Sumber DayaAlam
KUDETA YANG (DIRANCANG) GAGAL DAN KONSOLIDASI REZIM (NEO) ATATURK? HIZMET GULEN, PARALEL STATE, DAN AMBISI TERSELUBUNG ERDOGAN
This study seeks to undertake critical reading of a number of military coup d’etat attempts that took place in 2016. The failure of the military coup d’etat can be read not as a victory of democracy, but rather as the consolidation effort that is continuously formed by Erdogan’s regime to increasingly exert his power in all areas of Turks life. This study rests on official discourse voiced by the Turkish government that states Gulen Hizmet movement plays an important role in the coup d’etat attempt. Unfortunately, Erdogan’s regime has acknowledged Gulen steps. Then, he designed a counter-coup operation in such a way in order to, firstly, quell the coup d’etat attempts that occur thus ensuring Erdogan’s regime persisted; second, make sure the coup d’etat attempt at certain level is still running so that it can be utilized for the benefit of Erdogan’s regime. The research method used in this research is discourse analysis with analytical framework based on Rossa and Nugroho Notosusanto theory about G30S event in Indonesia (which has been modified to read coup attempt in Turkey). The data sources used in this study are based entirely on secondary sources, including international and Turkish media coverage of the course of the coup. Includes various articles written by various experts / analysts about the incident.Keywords: Erdogan, Gulen, Paralel State, Coup d’etat, Neo AtaturkAbstrakStudi ini berupaya melakukan pembacaan kritis upaya kudeta sejumlah kalangan militer yang berlangsung di tahun 2016. Kegagalan kudeta militer yang terjadi dapat dibaca bukan sebagai kemenangan demokrasi tetapi justru upaya kondolidasi yang terus dibangun rezim Erdogan untuk semakin mencengkramkan kuasanya di semua lini kehidupan masyarakat. Studi ini berpijak pada wacana resmi yang disuarakan oleh pemerintah Turki bahwasanya gerakan Hizmet Gulen memegang peranan penting dalam upaya kudeta. Akan tetapi rezim Erdogan telah membaca langkah Gulen dan merancang operasi kontra kudeta sedemikian rupa untuk: Pertama, menumpas upaya kudeta yang terjadi sehingga memastikan rezim Erdogan tetap bertahan; Kedua, memastikan upaya kudeta dalam level tertentu tetap berjalan sehingga dapat dimanfaatkan sedemikian rupa bagi kepentingan rezim Erdogan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana dengan kerangka analisis yang didasarkan pada teori Rossa dan Nugroho Notosusanto mengenai peristiwa G30S di Indonesia (yang dimodifikasi sedemikian rupa untuk membaca upaya kudeta di Turki). Sumber data yang dipakai dalam penelitian ini sepenuhnya mendasarkan pada sumber sekunder, baik pemberitaan media internasional dan Turki sendiri mengenai jalannya kudeta tersebut, ditunjang dengan berbagai artikel yang ditulis oleh berbagai analis mengenai kejadian tersebut.Kata Kunci: Erdogan, Gulen, Paralel State, Kudeta, Neo Atatur
THE LIFE OF MUSLIM INDONESIAN STUDENTS IN GERMANY: CHALLENGES AND OPPORTUNITIES
Immigration of people attached to a certain religion in a country where most of the population do not embrace the same religion has always been an interesting topic to explore, especially when it is regarding the discourse of student mobility in higher education world. A lot of factors must be taken into account before one makes a decision on which country to continue the study. As Muslims adhere to certain religious values, any factor that supports one’s piousity would be ideally weighed. This study explores the life of Muslim Indonesian students studying in Germany. Departing from the study motivation, the concept of push and pull factor is then enriched with religious perspectives. The research findings show that even though there are challenges that these students face as a Muslim, there is still an interesting opportunity that they have experienced when residing in Germany and later deem most significant in relation to their Islamicity. Realizing the importance of this kind of discourse for Indonesian immigrants, be it student or non-student, a suggestion of further research under the same topic is emphasized. Keywords: Germany, Hajj, higher education,Muslim Indonesian student, push-pull factor AbstrakImigrasi orang-orang yang melekat pada agama tertentu di negara yang mana sebagian besar penduduknya tidak memeluk agama yang sama selalu menjadi topik yang menarik untuk dieksplor, terutama ketika menyangkut wacana mobilitas siswa di dunia pendidikan tinggi. Banyak faktor harus diperhitungkan sebelum seseorang membuat keputusan ke negara mana untuk melanjutkan studi. Sebagai umat Islam yang mematuhi nilai-nilai agamanya, setiap faktor yang mendukung kesalehan seseorang akan dipertimbangkan. Studi ini mengeksplorasi kehidupan pelajar Indonesia Muslim yang belajar di Jerman. Studi ini berangkat dari motivasi belajar, konsep push dan pull factor yang kemudian diperkaya dengan perspektif agama. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan yang dihadapi para siswa ini sebagai seorang Muslim, namun masih ada peluang menarik yang mereka alami ketika tinggal di Jerman yang kemudian dianggap sangat penting dalam kaitannya dengan keislaman mereka. Menyadari pentingnya wacana semacam ini bagi para imigran Indonesia, baik itu mahasiswa maupun non-pelajar, maka perlu penelitian lebih lanjut dengan topik yang sama.Kata kunci: Mahasiswa Muslim Indonesia, Jerman, push-pull factor,pendidikan tinggi, Haj