Jurnal Kajian Wilayah (JKW)
Not a member yet
    160 research outputs found

    RELOKASI IBU KOTA NEGARA : LESSON LEARNED DARI NEGARA LAIN

    Full text link
    Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan analisis tentang rencana relokasi ibu kota negara ditinjau dari pengalaman negara-negara lain. Selain itu, artikel ini juga bertujuan untuk memetakan persoalan terkait dengan dampak yang muncul akibat dari rencana relokasi ibu kota negara. Penulisan artikel ini menggunakan sumber data primer dan sekunder yang berasal dari koran, buku, media internet, dan sebagainya.  Relokasi ibu kota sudah dilakukan oleh beberapa negara. Ada beberapa negara yang berhasil merelokasi ibu kota negaranya dan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kinerja pemerintahannya tetapi ada pula negara yang berhasil merelokasi namun tidak memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi baik di tempat baru maupun lama. Tentunya pemerintah perlu mempertimbangkan secara matang dampak dari relokasi ibu kota negara baik bagi ibu kota lama yang ditinggalkan dan dampak relokasi terhadap ibu kota  yang baru.

    THE CHINESE WAY OF THINKING Wang Meng: Beijing: Foreign Languages Press, 2018

    Full text link

    APAKAH PEKERJA MIGRAN INDONESIA SEHAT MENTAL?

    Full text link
    This study aims to describe the mental health of Indonesian migrant workers in Hong Kong. The respondents of this study were Indonesian female migrant workers who worked in domestic sectors in Hong Kong, the number of respondents in this study were 100 respondent, female Indonesia migrant workers. This study uses survey method and quantitative approach with a sampling technique aimed at criteria of minimum 1 year working period, women and working in the household or domestic sector. This research was carried out using a mental health questionnaire. Mental Health Inventory (MHI) constructed by RAND Health Insurance Experiment (Veil & Ware, 1983) 38 items that measure aspects of anxiety, depression, emotional control, affect. Data analysis using SPSS is by using description analysis and different test (T-test). Result shown that in general respondents showing a good mental health condition (81%), very good mental health condition (1%), and poor mental health condition (18%).Keywords: mental health, Indonesian migrant workers, women domestic workersAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesehatan mental pekerja rumah tangga perempuan migran Indonesia di Hong Kong. Responden penelitian ini adalah pekerja migran perempuan Indonesia yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Hong Kong, jumlah responden penelitian ini adalah sebanyak 100 orang pekerja rumah tangga perempuan asal Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan  pendekatan kuantitatif dengan teknik sampel bertujuan kriteria minimal masa kerja 1 tahun, perempuan dan bekerja pada sektor rumah tangga. Penelitan ini dilakukan dengan menggunakan alat ukur kuesioner kesehatan mental Mental Health Inventory (MHI) dikontruksi oleh RAND Health Insurance Experiment (Veil & Ware, 1983) yang terdiri dari 38 item yang mengukur aspek kecemasan, depresi, kontrol emosi, afek. Analisis data menggunakan SPSS yaitu dengan menggunakan analisis deskripsi dan uji beda (T-test) dan berdasarkan hasil analisa menggunakan SPSS menunjukkan bahwa secara umum responden mengindikasikan kondisi kesehatan mental yang kurang baik (18%), baik (81%), dan sangat baik (1%). Kata kunci: Kesehatan mental, pekerja migran Indonesia, pekerja rumah tangga perempua

    THE EXISTENCE OF “SAPI/PISANG” PEOPLE: CHALLENGES AND OPPORTUNITIES FOR INDONESIA-PHILIPPINES BORDER AREA DEVELOPMENT

    Full text link
    Indonesia’s border region to Phillippines,  especially to the Sangihe Islands which borders to southern, is mostly a less developed area. To accelerate development of this border region, Indonesia and the Philippines need to exercise a strategy  which optimize social connectivity which has been existed  since centuries by the Indonesian Sangihe people known as Sangir-Philippines (“Sapi”) or the Philippines-Sangir (“Pisang”). Although they are sovereign states now with their sovereign territorial rights, these facts  do not prevent these peoples to continue their traditional cross border for the purpose of social, culture and economic activities. This paper examines how their social connectivity could be utilized to develop border area between Indonesia and the Philippine. By using qualitative methods, the data for this paper is collected  from interviews, focus group discussions, field research and literature reviews.This paper concludes that social connectivity among Sapi/Pisang people on the Indonesian and the Philippines respective side raises some challenges such as problems of stateless people, illegal cross-border activities, and terrorism-related activities. However, this paper also found out some positive impacts from their social connectivities, such as  the establishment of traditional cross-border cooperation and trade, the opening of the Davao-Bitung ferry line, and cooperation between regional governments. As a step forward, this research emphasizes the importance of strong political will and active participation from both countries in utilizing social connectivity to build a shared border region.Keywords: “Sapi”, “Pisang”, Border, Social Connectivity, Development, Indonesia, Philippine AbstrakKawasan Perbatasan Indonesia di Kepulauan Sangihe yang berbatasan dengan Filipina bagian selatan, tergolong sebagai daerah tertinggal. Untuk mempercepat pembangunan kawasan tersebut, Indonesia dan Filipina dapat melaksanakan strategi yang memanfaatkan konektivitas sosial yang sudah dibangun oleh masyarakat perbatasan yang dikenal dengan istilah Sangir-Philipina (Sapi) atau Philipina-Sangir (Pisang). Berdirinya Indonesia dan Filipina sebagai dua negara yang berdaulat sejak berakhirnya Perang Dunia II ternyata tidak menghentikan orang Sapi/Pisang untuk melakukan kegiatan lintas batas tradisional untuk tujuan sosial, budaya, dan ekonomi. Tulisan ini menganalisis bagaimana dampak negatif dan dampak positif dari konektivitas sosial di atas dalam membangun kawasan perbatasan Indonesia-Filipina. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, diskusi kelompok terpimpin, penelitian lapangan dan studi pustaka. Tulisan ini menyimpulkan bahwa konektivitas sosial antar orang-orang Sapi/Pisang di sisi Indonesia dan di sisi Filipina menimbulkan masalah berupa orang-orang tanpa kewarganegaraan, kegiatan lintas batas ilegal, dan aktivitas terkait terorisme. Namun demikian, Tulisan ini juga menemukan dampak positif dari konektivitas sosial di atas berupa terjalinnya kerja sama lintas batas tradisional dan perdagangan, pembukaan jalur kapal feri Davao-Bitung, dan kerja sama antar pemerintah daerah. Sebagai langkah ke depan, penelitian ini menekankan pentingnya kehendak politik yang kuat dan partisipasi aktif dari kedua negara dalam memanfaatkan konektivitas sosial untuk membangun kawasan perbatasan bersama.

    Preface Jurnal Kajian Wilayah Vol. 9 No. 1 (2018)

    No full text

    ANIME, PORNOGRAFI, DAN PELANGGARAN HAK CIPTA: ASPEK HUKUM DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN COOL JAPAN

    Full text link

    Cover Jurnal Kajian Wilayah Vol 9, No.2 (2018)

    No full text

    POTENSI DAN TANTANGAN ONE BELT ONE ROAD (OBOR) BAGI KEPENTINGAN NASIONAL INDONESIA DI BIDANG MARITIM

    Full text link
    OBOR is one of the globalization phenomena which causes borderless effect for every country passed by it. OBOR is China’s ambitious connectivity project through infrastructure development and also sea and land transportation route which connect China with Asia, Europe, and Africa. Global connectivity as a goal of OBOR has created opportunities and challenges for Indonesia because it intersects with Indonesia’s national interests. In analyzing the opportunities and challenges of OBOR for Indonesia, the researchers used qualitative method with the concept of national interest and maritime security. The results of this study show that the challenges of OBOR for Indonesia are that OBOR is in line with the Global Maritime Fulcrum related to maritime connectivity and development. On the other hand, OBOR has become a challenge for Indonesia such as in economic sector, in which there are competition between local product and China’s product, and also competition between domestic labors and China’s labors; in defense sector especially in maritime, the challenges are in Malacca Strait, Natuna Islands, South China Sea, and transnational crimes which becomes threats for maritime security.Keywords: Opportunity, Challenge, One Belt One Road, National Interest, MaritimeAbstrakOBOR adalah salah  satu bentuk dari fenomena globalisasi yang menciptakan efek borderless bagi setiap negara yang dilaluinya. OBOR merupakan proyek konektivitas ambisius Tiongkok melalui pembangunan infrastruktur dan jalur transportasi darat dan laut yang menghubungkan negaranya dengan kawasan Asia, Eropa, dan Afrika. Konektivitas global sebagai tujuan OBOR telah menciptakan potensi dan tantangan tersendiri bagi Indonesia karena bersinggungan dengan kepentingan nasional. Untuk menganalisis potensi dan tantangan OBOR bagi Indonesia, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan konsep kepentingan nasional dan keamanan maritim. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa potensi OBOR bagi Indonesia yaitu OBOR dapat sejalan dengan kebijakan Poros Maritim Dunia terkait dengan konektivitas dan pembangunan infrastruktur maritim. Namun, di sisi lain, OBOR juga menjadi tantangan bagi Indonesia antara lain; di bidang ekonomi yakni persaingan produk lokal dengan produk asal Tiongkok dan tenaga kerja domestik dengan tenaga kerja asal Tiongkok; di bidang pertahanan maritim yaitu di Selat Malaka, Kepulauan Natuna, Laut Tiongkok Selatan, ancaman transnasional crimebagi keamanan maritim.  Kata kunci: Potensi, Tantangan, One Belt One Road, Kepentingan Nasional, Mariti

    GLOBALISASI DAN MASYARAKAT MENUA TIONGKOK: PARIWISATA DAN POTENSI LANSIA

    Full text link
    China is one of the countries that has a large number of elderly in the world. In 2016, China has 230.8 million elderly people and it is predicted that 40 percent of China's population in 2050 is elderly. Although the elderly are often regarded as a burden for the State and the family, but fortunately the elderly also have substantial potency, especially in the economic realm. One of the Chinese elderly potency is in tourism. In tourism, elderly travel activities are followed by the development of technology and services that related to tourism. This paper tries to observe the potency of Chinese elderly in their leisure time with travel. Filling leisure time with a tour not only can improve the health conditions of the elderly that affect to longer life expectancy, but also stimulate the development of silver hair industry in tourism for China and other countries.Keywords : elderly, leisure time, ChinaAbstrakTiongkok adalah salah satu Negara yang memiliki jumlah lansia yang cukup besar di dunia. Tahun 2016 saja Tiongkok telah memiliki 230,8 juta jiwa lansia dan tahun 2050, diprediksikan 40 persen penduduk Tiongkok adalah lansia. Meskipun lansia kerap dianggap sebagai beban bagi Negara dan keluarga, namun lansia juga memiliki potensi yang cukup besar terutama dalam aspek ekonomi. Salah satu potensi lansia Tiongkok adalah pada sektor pariwisata. Dalam pariwisata, kegiatan berwisata lansia diikuti dengan berkembangnya teknologi dan jasa yang berkaitan dengan turisme. Tulisan ini berupaya melihat potensi lansia Tiongkok dalam mengisi waktu luang dengan berwisata. Mengisi waktu luang dengan berwisata bukan hanya dapat memperbaiki kondisi kesehatan lansia yang berdampak pada harapan hidup yang semakin panjang, namun juga merangsang berkembangnya industri lansia terkait pariwisata di Tiongkok dan Negara lain.Kata kunci : Lansia, waktu luang, pariwisata, Tiongko

    Cover Jurnal Kajian Wilayah Vol.9 No.1 (2018)

    No full text

    141

    full texts

    160

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kajian Wilayah (JKW)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇