Jurnal Kajian Wilayah (JKW)
Not a member yet
    160 research outputs found

    Separatisme di Asia Tenggara: Antara Penguasa dan Gerakan Nasionalis Kelompok Minoritas

    Get PDF
    This paper examine the existence of separatism in Southeast Asia, specifically, the interactions between state approaches in dealing with nationalist movements. The question is on how the identity of the Pattani Southern Thailand, Acehnese in Indonesia and Moro in the Philippines created and how state approaches contend with the movements. The aims of this paper are explaining these movements identity creation through historical experiences over centuries, and state approaches challenge the movements. The result shows that Moros and Acehnese identity formed through their conflicting historical journeys with kolonialists. However, Pattani identity constructed through history of Buddist rulers that also full of conflicts with Thai Muslim society. The values that referred on these three communities basically are ethno-nationalist shared with Islamic values. These communities are facing state repressions through military and bureaucracy policies, which only meet dead ends by the existence of conflicts. Pattani movement oppressed by Budhist Thailand acted discriminatively on Muslim community because of politics of differences of ethno-religion. The Thai rulers label Pattani as Islamic terrorist group. Likewise, the Philippines governerment fuels conflicts by demonizing Moros as same as Abu Sayyaf terrorist group. The Indonesian government did on the other side of the coin, which is not to demonize Acehnese as terrorist group when they have chance to did so and even after tsunami in 2004, they manage Helsinki agreement in 2005. It suggested that these three governments use multicultural nation approaches in dealing with the movements, which accommodate pluralist and multicultural identities on a more equal position

    Understanding the Interplay between the European Integration and Political and Policymaking Process

    Get PDF
    Perjalanan integrasi Eropa dan proses politik di Uni Eropa telah dibentuk dan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang dinamis. Artikel ini secara inti berfokus pada faktor-faktor yang saling terkait serta ketergantungan komplek yang membentuk proses Integrasi Eropa. Di saat yang sama, artikel ini dimaksudkan pula untuk menganalisa sifat dari proses pengambilan kebijakan pada area yang terkait dengan hubungan eksternal Uni Eropa yang merupakan salah satu aspek dari sekian luas kebijakan Uni Eropa. Dengan kata lain, tulisan ini ingin menjelaskan sebuah pengertian yang mendalam mengenai keadaan atau situasi yang saling mempengaruhi dan interaksi yang komplek antara integrasi Eropa dan proses pengambilan kebijakan dan politik. Untuk memahami ini dibutuhkan analisa dan perspektif yang multidisiplin dan studi kasus yang spesifik, dari pada menggunakan sudut pandang dan analisa yang relatif sempit. Langkah ini dirasa sejalan ketika memahami Uni Eropa yang merupakan entitas yang memiliki kekhasan tersendiri

    PERKEMBANGAN MUSIK ROCK DI KOTA MALANG TAHUN 19702000-AN: KAJIAN GLOBALISASI DAN EKSISTENSI SOSIAL-BUDAYA

    Get PDF
    This article aims to describe the development of rock music in Malang in 1970s 2000s. On the other hand, this article aims to look at the effect of the existence of rock music as a popular culture for socio-cultural life of youth in Malang in 1970s2000s. Writing this article is done by using the historical method, in which besides using secondary sources, primary sources are also used, such as contemporary newspaper, contemporary magazines, and oral sources. Rock music is a part of popular culture products that began developing in the 1970s. Young people become consumers of the existence of rock music continuing to be entrenched in the late 1970s. Rock music was neither present nor taken for granted, but through a journey of existence from time to time. The existence of rock music can be seen through the stages and the recording industry. Of the existence of rock music appeared a form of lifestyle inflences, which in turn was followed by its fans. On the other hand, the role of the mass media was highly effiient for the spread of a form of popular culture. Eventually the genre is able to spread widely throughout the world, including in Indonesia.Keywords: history of development, rock music, existence, popular cultur

    Bukan Sekadar Kekuatan Normatif: Uni Eropa, Good Governance, dan Diskursus Pembangunan Indonesia Pasca-Orde Baru

    Get PDF
    Indonesia and the European Union (EU) have been starting to cooperate in many sectors since 1990. However, there have been shifts the area of cooperation after the New Order. EU, through Partnership and Cooperation Agreement (firstly signed in 2003), has been agreed to take part in strengthening Indonesias civil society organisations. EU offers some funded program to be conducted by Indonesias civil society organisations in broad range of area, mainly in human rights, democratic participation, and development agenda, and good governance. This cooperation agreement made EU as one of main partner for Indonesias civil society organisations to strengthen their capacities in community empowerment and policy advocacy. However, EUs involvement in assisting civil society in post-Suharto Indonesia has also become an instrument for promoting EUs norms in Indonesia. This paper will raise two questions in relations to EUs involvement: (1) What is EUs main motive in assisting Indonesias development through civil society? (2) To what extent do the projects affect social and political practices in Indonesia? By using Foucaults concept of governmentality, this paper have analysed that EUs involvement in assisting civil society in Indonesia through its funded projects reflects EUs attempts to discipline the third world, particularly Indonesia and thus control the subjectivity through civil society engagement. This paper suggests that studies on EU power should address the changing discourse in international politics and how EU interacts with other global entity, particularly the third world, in a more critical perspective.Keywords: European Union, Civil Society, Development, Human Rights, Democracy, Normative Power Global Governmentalit

    INDONESIA’S CHAIRMANSHIP OF IORA 2015-2017 AND BEYOND

    Get PDF
    Development of Indian Ocean Rim Association (IORA) as is still an underdevelopeda regional cooperation forum is still slow and underdeveloped, even though it has potential to become a strong international organization. This paper aims to analyze how and what are Indonesia’s role, as the chairman of IORA in 2015-2017, in addressing the challenges and opportunities for the next two years. These challenges are, for instance, the low level of enthusiasm of member countries, and how IORA create tangible or concrete results to its state members. This paper also provides several recommendations for Indonesia to revitalize its policy orientation, which should give greater attention to the Indian Ocean and IORA in line with the doctrine of maritime fulcrum. Keywords: IORA, Indian Ocean, challenges, opportunities, chairmanship, maritime fulcrum.Abstrak Perkembangan Indian Ocean Rim Association (IORA) sebagai forum kerja sama regional masih tergolong lambat dan belum maju, walaupun sebenarnya memiliki modalitas yang kuat, bahkan dapat menjadi salah satu forum kerja sama internasional yang kuat. Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana dan peran apa yang bisa dimainkan Indonesia sebagai ketua IORA selama periode tahun 2015-2017 dalam menjawab tantangan dan peluang dalam dua tahun ke depan. Tantangan-tantangan seperti masih minimnya antusiasme negara-negara anggota, dan belum fokusnya bidang kerja sama yang selama ini telah dilakukan perlu segera diselesaikan. Tulisan ini juga memberikan beberapa saran atau rekomendasi usulan bagaimana Indonesia sebagai ketua IORA dapat merevitalisasi orientasi kebijakannya, yang salah satunya yaitu dengan memberikan perhatian yang lebih kepada Samudera Hindia dan IORA sejalan dengan doktrin Poros Maritim. Kata kunci: IORA, Samudera Hindia, tantangan, peluang, keketuaan, poros maritim

    "HERB FEITH: AKADEMISI DAN AKTIVIS" DARI WINA KE YOGYAKARTA: KISAH HIDUP HERB FEITH

    Get PDF

    Food for Indigenous Communities in Times of Global Crisis: Reflection from the Experiences of Orang Rimba Community (Jambi Province, Indonesia) and Ifugao Community (Ifugao Province, the Philippines)

    Get PDF
    Kertas kerja ini membahas ketahanan pangan bagi komunitas etnik, atau sering disebut sebagai indigenous people, yang hidup di pedalaman Provinsi Jambi (Indonesia) dan di Provinsi Ifugao (Filipina), yang sering disebut sebagai Orang Rimba dan Ifugao.Titik berat perhatian kertas kerja ini adalah ketahanan pangan di tingkat rumah tangga bagi Orang Rimba dan Ifugao. Sementara itu pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah apa saja tantangan yang dihadapi oleh komunitas etnik di Indonesia dan Filipina dalam memenuhi ketahanan pangan mereka di tengah gaya hidup dan budaya yang mereka miliki? Kertas kerja ini berdasarkan seri penelitian yang telah dilakukan sejak tahun 2006-2009. Pada tahun 2006-2007, penulis berkesempatan untuk melakukan penelitian di Provinsi Jambi (Sumatera). Komunitas Orang Rimba yang diteliti adalah Kelompok Orang Rimba Dalam dan Orang Rimba Luar yang hidup menetap di Bukit Dua Belas dan di sebelah selatan Provinsi Jambi atau tepatnya Orang Rimba yang hidup di sepanjang jalan Lintas Sumatera, yaitu di Desa Pematang Kancil, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin. Sementara itu, pada tahun 2008-2009, penulis mendapat kesempatan untuk melakukan penelitian di Provinsi Ifuga, sebelah utara Pulau Luzon di Filipina. Metode yang digunakan dalam penelitian-penelitian tersebut adalan metode kualitatif dengan pendekatan etnografis.Kata kunci : Ketahanan Pangan, Orang Rimba, Ifugao, Etnograf

    Cyber Clash di Dunia Maya: Cyberwar dan Conflict Resolution Indonesia-Malaysia

    Get PDF
    Cyber clash between Malaysia and Indonesia netter in mailing-list and blogs has been raised. There are crack dramatic issues such as I hate Indon, I hate Malon, Indonsial and Malingsia in website. It has been look as serious cyber conflict indeed. Scholars looked it as a latent conflict. Some of netters and blogger have been advocated and established offensive clash such as, making provocation, telling bad reality and just few write peace messages toward two nations stereotypes. It has been expressed in virtual wars through acts of like and dislike expression toward bilateral relations such as cultural heritage claim, nusantara workers condition in Malaysia, territorial boundaries, smokes impact, illegal logging, terrorism actors, etc. This radicalism has increasingly become a bilateral concern since the Sipadan-Ligitan and Ambalat Block cases, illegal logging, haze and forest burning, and Indonesia workers cases emerged between 2007-2009 periods

    Trend Issues on Indonesian Labor Migration in the Netherlands

    Get PDF
    Tulisan ini dalah tentang migrasi internasional yang dilakukan oleh orang Indonesia ke Belanda. Sejarah dari migrasi warga Indonesia itu sendiri sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu. Catatan sejarah menunjukan bahwa di era tahun 1950-an ada arus migrasi orang Maluku ke Belanda. Pada tahun 1958 terjadi migrasi para ekspatriat Belanda karena adanya peristiwa nasionalisasi perusahaan milik kolonial Belanda dan bersama kepulangan warga Belanda itu mereka membawa serta istri-istrinya yang sebagian adalah warga negara Indonesia. Untuk kasus ini disebut juga migrasi karena adanya perkawinan. Pada masa sekarang, dimulai sejak akhir tahun 1990-an, arus masuk orang Indonesia untuk berbagai macam motif makin banyak terlihat. Migrasi karena mendapatkan sekolah lalu memutuskan bekerja dan menetap di Belanda. Mereka dalam kategori ini bekerja sebagai tenaga kerja terampil dan terdidik (skilled workers). Migrasi yang lain adalah dalam bentuk kunjungan keluarga dan akhirnya orang tersebut memutuskan tinggal di Belanda. Pada kasus ini, hampir sebagian besar dari mereka bekerja di sektor pekerjaan informal atau unskilled workers. Mereka yang bekerja sebagai tenaga kerja unskilled workers jarang memiliki dokumen lengkap atau dilekatkan pada mereka istilah undocumented migrant. Dari beberapa tipe migrasi yang tampak, tulisan ini menceritakan bagaimana proses migrasi itu berlangsung dan seperti apa pola-pola migrasi yang muncul dari aktifitas migrasi orang Indonesia di Belanda. Dengan adanya orang Indonesia yang menjadi undocumented migrant di Belanda, perlu juga diinformasikan bagaimana mereka bertahan tinggal di Belanda dengan status tidak resminya itu. Data dari tulisan ini diperoleh dari hasil penelitian melalui hasil wawancara dengan beberapa orang Indonesia yang bekerja di Belanda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, pengumpulan data lapangan dilakukan di Amsterdam, Leiden and Utrecht, Belanda pada tahun 2010 dan 2011.Kata kunci: migrasi, pekerja migran, pekerja terampil, pekerja tidak terampil, pekerja tak terdokumentasi

    Stakeholders Perspective on Forest Management: A Case Study of the Philippines

    Get PDF
    Pembalakan hutan di Filipina telah berlangsung selama 40 tahun belakangan ini. Ada dua faktor pembalakan hutan ini. Pertama adalah faktor politik yang memerlakukan hutan sebagai komoditi dan keuntungan politik. Kedua adalah konversi hutan produksi menjadi lahan pertanian, seperti perkebunan sawit, tebu, dan sayur mayur. Di berbagai negara berkembang, seperti di Filipina, lahan hutan menjadi semakin sempit, akibat peningkatan populasi, pemukiman transmigran, khususnya peralihan lahan (kaingin) di perbukitan. Dampak pembalakan hutan ini dikritik oleh organisasi non-pemerintah dan akademisi, sebab aktifitas ini dapat menyebabkan bencana banjir, erosi tanah dan tanah longsor. Kerangka teoritis untuk menganalisa isu pembalakan hutan dan program pemulihannya (kebijakan pembalakan hutan, rehabilitasi hutan dan konsesi penebangan) menggunakan ekologi politik yang menggarisbawahi peran para pemangku kebijakan (stakeholders).Hasil penelitian menunjukan aktifitas pembalakan hutan ini berdampak buruk. Para pengambil keputusan dan pemangku kebijakan yang berasal dari donor internasional mendukung upaya untuk merehabilitasi hutan, mengembalikan lahan hutan, dan reboisasi dengan memberikan konsesi penebangan pada pihak swasta (IFMA/ITPLA), sektor kerjasama, dan individual (SIFMA). Tujuan kebijakan ini adalah untuk meningkatkan produksi hutan dan menjaga area konservasi. Umumnya, organisasi non-pemerintah, petani lokal, dan akademisi merespon baik dan melibatkan diri dalam program ini, sebab aktifitas ini berdampak positiif bagi pemulihan kawasan hutan di masa depan.Kata kunci: pembalakan hutan, rehabilitasi hutan, reboisasi, konsesi penebangan (IFMA dan SIFMA), Forest Management Bureau (FMB), pemangku kebijaka

    141

    full texts

    160

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kajian Wilayah (JKW)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇