Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate
Not a member yet
178 research outputs found
Sort by
PERSEPSI DAN SIKAP REMAJA TENTANG SEKS PRANIKAH DENGAN KEJADIAN KEHAMILAN PRANIKAH DI KELURAHAN RUMBALIBUNGA KOTA TIDORE KEPULAUAN TAHUN 2017
Latar Belakang : Berdasarkan data World Health Organization (WHO) Tahun 2010, sekitar 16 jutaperempuan berusia 15-19 tahun melahirkan setiap tahunnya, sekitar 11% dari semua kelahiran di seluruh dunia. Wanita yang hamil pada usia 15-19 tahun mempunyai risiko yang lebih besar untuk mengalami komplikasi kehamilan dan persalinan dibandingkan wanita yang hamil pada usia 20-24 tahun (Aera, 2012). Tujuan Penelitian :Mengetahui Hubungan persepsi dan sikap remaja tentang seks pranikah dengan kejadian kehamilan Pranikah di Kel. Rumbalibunga Tahun 2017. MetodePenelitian : Penelitian ini merupakan jenis penelitian Observasional dengan rancangan penelitianCross sectional. Hasil Penelitian: Menunjukkan adanya hubungan yang sangat positif antara Persepsidan Sikap Remaja dengan Kehamilan Pranikah di Kelurahan Rumbalibunga dengan menunjukkan nilai signifikansi 0.001 atau lebih kecil 0.05. Kesimpulan: Terdapat Hubungan Persepsi dan Sikap Remaja tentang Seks Pranikah dengan Kehamilan Pranikah di Kelurahan Rumbalibunga Kota Tidore Kepulauan
STUDI EKOLOGI VARIABEL CUACA TERHADAP KEJADIAN CAMPAK DI KOTA TANJUNGPINANG TAHUN 2010-2017
Campak merupakan penyakit sangat menular, penyebab utama kematian anak serta masih menjadi masalah global termasuk di Indonesia (Nadhirin 2010). Pada kurun waktu 2010-2017 terdapat 129 kasus campak di Kota Tanjungpinang (Dinkes Kota Tanjungpinang 2010). Penelitian ini bertujuan mengetahui pola hubungan variabel cuaca (curah hujan, kelembaban udara, suhu udara, dan kecepatan angin) terhadap kejadian campak di Kota Tanjungpinang Tahun 2010-2017. Desain penelitian merupakan studi ekologi dengan pendekatan spasial-temporal. Unit analisis adalah kelompok individu (agregat) mengukur paparan/faktor resiko kejadian penyakit dengan pertimbangkan faktor temporal atau waktu ditingkat populasi. Populasi penelitian adalah wilayah administrasi Kota Tanjungpinang dengan kejadian penderita campak selama periode tahun 2010-2017. Data yang digunakan merupakan data sekunder dari instansi terkait. Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan antara variabel curah hujan dan kelembaban udara dengan kejadian campak per tahun di Kota Tanjungpinang periode tahun 2010-2017. Sedangkan variabel suhu udara ratarata, suhu udara minimum, suhu udara maksimum serta kecepatan angin, tidak berhubungan dengan kejadian campak. Saran kepada Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang maupun Dinkes Provinsi Kepri perlu menggunakan data variabel cuaca dalam hal upaya survailance penyakit campak untuk upaya mitigasi dan kewaspadaan dini terhadap peningkatan kejadian campak terutama pada musim hujan setiap tahunny
PENGARUH AIR LAUT SEBAGAI KOAGULAN AIR SUMUR GALI DALAM PENURUNAN KEKERUHAN, WARNA, TDS
Sumur gali merupakan sarana air bersih yang banyak digunakan masyarakat, Akan tetapi sumur gali mempunyai resiko pencemaran yang sangat tinggi berupa pengolahan air dilakukan secara konvensional yaitu dengan proses koagulasi, flokulasi, sedimentasi, dan filtrasi (Suriawiria, 2005). Koagulan memegang peranan cukup penting dalam pengolahan air bersih yaitu dalam hal menurunkan kekeruhan, total dissoloved solid (TDS) dan total suspended solid (TSS) (Khasanah, 2017). Selain koagulan kimia, koagulan alami yang ada dilingkungan sekitar dapat dijadikan sebagai koagulan, salah satunya adalah air laut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan penurunan kekeruhan, warna, dan TDS dengan menggunakan air laut sebagai koagulan pada proses koagulasi-flokulasi air sumur gali dengan variasi dosis 1%, 2%, 3%, dan 4% dari volume air sumur gali” (Khasanah, 2017). Penelitian ini dilakukan di Workshop Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Bengkulu, kemudian sampel hasil penelitian dikirim ke laboraturium BLH Kota Bengkulu untuk dilakukan pemeriksaan kadar kekeruhan, warna dan TDS. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen murni (True Experimental) dengan desain Pretest-Posttest Design. Sampel pada penelitian ini adalah air sumur gali masyarakat Rawa Makmur kota Bengkulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar kekeruhan, TDS dan warna mengalami penurunan sebesar air sumur gali sebelum perlakuan dosis koagulan air laut adalah sebesar 1,09 NTU; 45,25 mg/l dan 2,20 PtCo. Kesimpulan Ada perbedaan dosis koagulan 1 %, 2 %, 3 % dan 4% terhadap penurunan kadar Kekeruhan, TDS dan Warna air sumur gali dengan p-value 0,002; 0,003; dan 0,014, Saran bagi masyarakat dapat menggunakan koagulan air laut sebagai koagulan alternatif dalam pengelolaan air bersih secara koagulasi-flokulasi untuk menurunkan parameter kekeruhan, TDS dan Warna air sumur gali
PENYEBAB KEJADIAN PENYAKIT SCABIES PADA SANTRI DI KABUPATEN SINTANG
Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan infestasi dan sensitisasi tungau Sarcoptes scabiei. Penyakit scabies umumnya menyerang individu yang hidup berkelompok seperti asrama dan pesantren. Prevalensi scabies di Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kabupaten Sintang sebanyak 24 orang, mengalami peningkatan dari tahun ketahun menjadi 43 orang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian scabies. Jenis penelitian adalah observasional dengan pendekatan analitik dan desain cross sectional. Total populasi 439 santri. 90 santri sebagai sampel diambil dengan teknik random sampling. Analisis data menggunakan software statistikdengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukan bahwa 58,9% responden pernah menderita scabies. Hasil uji statistik diketahui ada hubungan jenis kelamin dengan kejadian scabies (p=0,000), ada hubungan pengetahuan dengan kejadian scabies (p=0,005), ada hubungan sikap dengan kejadian scabies(p=0,021), ada hubungan praktik dengan kejadian scabies (p=0,015), ada hubungan personal hygiene dengan kejadian scabies (p=0,018) dan ada hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian scabies (p=0,006). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan bermakna antara variabel bebas dengan kejadian scabies. 
Hubungan Kunjungan Antenatal Care (ANC) Terhadap Kejadian Stunting Pada Ibu Hamil Anemia Di Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu
Latar Belakang: : Stunting adalah keadaan gagal tumbuh kembang pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Gizi buruk terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa-masa awal sietielah bayi lahir, namun stunting baru dapat dikietahui sietielah bayi bierusia 2 tahun, siedangkan Antienatal carie (ANC) adalah pielayanan kiesiehatan yang ditujukan untuk piemieriksaan pada ibu hamil biertujuan untuk miendietieksi kielainan-kielainan yang mungkin ada atau akan timbul pada kiehamilan tiersiebut ciepat dikietahui, dan siegiera dapat diatasi siebielum bierpiengaruh tidak baik tierhadap kiehamilan tiersiebut. Tujuan: Dikietahui hubungan kunjungan ANC tierhadap kiejadian stunting pada ibu hamil aniemia di Puskiesmas Sawah Liebar Kota Biengkulu. Mietodie: Pienielitian ini mienggunakan mietodie pienielitian analitik kuantitatif diengan rancangan pienielitian casie control (studi kasus-kontrol) diengan piendiekatan biersifat rietrospiektif, mienielusuri kiebielakang pienyiebab-pienyiebab yang dapat mienimbulkan suatu pienyakit di masyarakat tanpa adanya intierviensi, diengan miembandingkan dua kelompok case (balita yang mengalami stunting) dan kelompok control (balita yang tidak mengalami stunting). Hasil: menunjukkan bahwa sebagian besar kelompok kasus (72,7%) dengan kunjungan ANC yang tidak teratur, dan sebagian besar kelompok kontrol (78,8%) dengan kunjungan ANC tidak teratur. Hasil uji Fisher’s Exact didapatkan p-value=0,692, sehingga tidak ada hubungan antara kunjungan Antenatal Care (ANC) terhadap kejadian stunting pada balita dengan ibu hamil anemia di Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu. Kesimpulan: Kesimpulan penelitian adalah bahwa kunjungan ANC bukan penyebab langsung terjadinya stunting khususnya pada ibu hamil anemia di Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu
STUDI EKOLOGI KABUT ASAP DAN KEJADIAN ISPA DI KABUPATEN MUARO JAMBI
Bencana asap akibat kebakaraan hutan sangat serius terjadi di Provinsi Jambi termasuk di Kabupaten Muaro Jambi. Angka insidensi ISPA selama masa darurat bencana asap tercatat 900 hingga 1500 kasus per minggu selama bulan September sampai November 2015. Penelitian bertujuan mengetahui pola hubungan faktor cuaca (curah hujan, kelembaban udara, suhu udara, lama penyinaran matahari dan kecepatan angin), hotspot dan PM10 terhadap kejadian ISPA di Kabupaten Muaro Jambi tahun 2015 dan 2016. Penelitian menggunakan studi ekologi dengan pendekatan spasial-temporal. Populasi adalah wilayah administrasi Kabupaten Muaro Jambi dengan kejadian penderita ISPA selama periode tahun 2015 sampai 2016. Terdapat hubungan secara statistik antara variabel lama penyinaran matahari dengan kejadian ISPA (p=0,0089, r= -0,0522). Hasil analisis time-trend terdapat pola hubungan searah antara PM10 dan hotspot dengan kejadian ISPA sedangkan pola hubungan yang berlawanan cenderung terlihat antara curah hujan dengan, kelembaban udara dan lama penyinaran matahari dengan kejadian ISPA.Perlu peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya yang ditimbulkan akibat prilaku membakar lahan terutama pada musim kemarau serta Dinas Kesehatandapat menggunakan data variabel cuaca dan pencemaran udara serta titik api (hotspot) dalam survailance penyakit ISPA untuk upaya mitigasi dan kewaspadaan dini terhadap peningkatan kejadian ISPA terutama pada musim kemarau setiap tahunny
Tingkat Kepadatan Jentik Nyamuk Aedes Aegypti Di Wilayah Kerja Puskesmas Glugur Darat
Latar Belakang: Kejadian DBD di wilayah kerja UPT Puskesmas Glugur Darat mencapai angka 34 kasuspada tahun 2018 dan tahun 2019 meningkat menjadi 52 kasus. Tujuan :Penelitian ini bertujuan untukmengetahui tingkat kepadatan jentik nyamuk Aedes aegypty sebagai vektor demam berdarah di wilayahkerja UPT Puskesmas Glugur Darat. Metode :Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalahjenis penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerjaUPT Puskesmas Glugur Darat.Hasil : Diperoleh nilai HI (House Indeks) 20%, CI (Container Indeks)20%,BI (Bruteu Indeks) 6%, dan DF (Density Figure)4 sebagai kepadatan sedang. Pencegahannya adalahmelakukan PSN atau pemberantasan sarang nyamuk.Kesimpulan :Jumlah Rumah Positif Jentik diwilayah kerja UPT Puskesmas Glugur Darat adalah 6 rumah dari 30 rumah, nilai CI yang didapatkan adalah20 %. Diketahui jumlah container yang positif jentik adalah 6 container dari 30 kontainer yang diperiksa,nilai BI di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Glugur Darat adalah 6 %, didapatkan nilai Density Figure /Tingkat Kepadatan Jentik Nyamuk di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Glugur Darat berada pada nilai 4yang berarti wilayah memiliki Kepadatan Sedang
Penggunaan Honey Dressing dan Povidone Iodine untuk Ulkus Kaki Diabetes: Systematic Review
Latar Belakang: Dengan semakin meningkatnya penderita ulkus kaki diabetes, dan jenis luka yangkronis dan membutuhkan waktu yang lama untuk penyembuhan maka semakin banyak inovasi untukmempercepat penyambuhan luka. Salah satunya dengan pengunaan balutan yang digunakan denganberbagai jenis mulai dari konvensional hingga modern. Tujuan: Tinjauan ini ditujukan ntuk mengetahuiefektifitas pengunaan honey dressing dibandingkan povidone iodine pada ulkus kaki diabetes. Metode:Tinjauan sistematis digunakan sebagai metode dalam laporan ini. Artikel diperoleh dari PubMed, GoogleScholar Sciencedirect, dan EBSCO dengan kata kunci pencarian:“Diabetic foot ulcer”, “Honeydressing”, “Povidone iodine dressing”, dan “wound healing” dari jurnal yang terbit sejak 20 tahunterkahir. Selanjutnya dianalisis menggunakan analisis konten. Hasil: Dalam pengobatan ulkus kakidiabetes terdapat berbagai balutan yang bertujuan untuk pengobatan ulkus kaki namun hingga saat inibelum ada satu dressing yang tepat untuk mempercepat penyembuhan dan selalu dikembangkan. Hasildari analisis ini menjelaskan bahwa honey dressing memiliki manfaat lebih baik dibandingkanpenggunaan povidone iodine. Manfaat tersebut yaitu berpangaruh pada total penyembuhan luka,mempercepat waktu penyembuhan luka, dan ukuran luka. Kesimpulan: Upaya untuk mempercepatpenyembuhan ulkus kaki diabetes dengan mengunakan honey dressing telah menujukan manfaat yangdiharapkan sehingga hal ini dapat menjadi alternative dressing dalam pemilihan perawatan ulkus kakidiabetes
Literature Review: Gambaran Usia Dan Pendidikan Ibu Melahirkan Dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah Pada Bayi
Latar Belakang: Berat badan lahir rendah termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas,morbiditas dan juga usia dan pendidikan ibu berdampak terhadap bayi. Tujuan: Literature review inibertujuan untuk mengetahui gambaran usia dan pendidikan ibu melahirkan dengan kejadian BBLRpada bayi. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan mencari jurnal melaluidatabase Portal Garuda dan Google Scholar (2011-2020). Kata kunci yang digunakan “usia dengankejadian BBLR”, “BBLR”, dan “pendidikan dengan kejadian BBLR”. Hasil penelusuran yangdidapatkan pada portal garuda 179 artikel dan google scholar 5640 artikel di mana hanya 14 artikelsesuai dengan penelitian ini. Usia melahirkan yang berkaitan dengan BBLR merupakan faktor risikotinggi pada bayi. Pada usia ibu < 20 tahun perkembangan organ reproduksi dan fungsionalnya belumsempurna, Sedangkan pada usia ibu > 35 tahun tidak dianjurkan untuk melahirkan, karena ibu lebihrentan mengalami penyakit degeneratif. Tingkat pendidikan ibu faktor yang mendasari dalammengambil keputusan. Salah satunya, mengambil keputusan saat memberikan nutrisi bagi bayi.Kesimpulan pada penelitian ini bahwa usia dan pendidikan ibu melahirkan yang berisikomemengaruhi kejadian BBLR pada bayi. Saran kepada tenaga kesehatan hendaknya meningkatkanpengetahuan ibu, yang berkaitan dengan umur dan pendidikan ibu melahirkan dengan kejadian BBLRpada bayi, melalui kegiatan penyuluhan atau pada saat ibu memeriksakan kandunga
Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kadar Rheumatoid Factor Pada Lansia
Latar Belakang: Rheumatoid Arthritis (RA) tergolong penyakit sistemik yang cenderung menjadi kronis dan sering menyerang sendi. Usia menjadi salah satu fakto risiko terjadinya RA. Rheumatoid Factor (RF) merupakan immunoglobulin yang bereaksi dengan molekul IgG, pada serum penderita juga mengandung IgG. RF merupakan parameter atau pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi adanya RA. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan kadar rheumatoid factor pada lansia. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional dengan melibatkan 28 orang lansia di Desa Banteran, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas pada bulan Mei-Juni 2023. Responden dilakukan pemeriksaan kadar RF dengan metode aglutinasi lateks dan pengisian kuesioner IPAQ yang telah dimodifikasi untuk menentukan aktivitas fisik. Data dianalisis dengan Fisher Exact (X2). Hasil: Hasil analisis Fisher Exact terdapat hubungan signifikan antara aktivitas fisik dengan kadar RF (p= 0,001; OR= 2.5; CI 95%= 1.346-4.646). Tidak terdapat lansia dengan aktivitas fisik sedang yang memiliki kadar RF reaktif sedangkan lansia dengan aktivitas fisik sedang yang memiliki kadar RF non reaktif sebanyak 13 orang (100%). Lansia dengan aktivitas fisik berat yang memiliki kadar RF reaktif sebanyak 9 orang (60%) sedangkan lansia dengan aktivitas fisik berat yang memiliki kadar RF non reaktif sebanyak 6 orang (40%). Lansia dengan aktivitas fisik berat berisiko 2.5 untuk memiliki kadar RF reaktif. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara aktivitas fisik dengan kadar RF lansia. Responden dengan aktivitas fisik berat memiliki peluang 2,5 kali untuk memiliki kadar RF reaktif