Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate
Not a member yet
178 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN USIA MENARCHE PADA REMAJA PUTRI DI SMP MUHAMMADIYAH I KOTA TERNATE TAHUN 2018
Menarche atau menstruasi pertama merupakan salah satu dari banyak manifestasi pubertas dan tanda remaja awal pada perempuan. Pergeseran usia menarche ke usia yang lebih muda, akan menyebabkan remaja putri mengalami dampak stress emosional. Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa usia menarche di bawah 12 tahun berhubungan dengan risiko terkena kanker payudara, obesitas abdominal, resistensi insulin, penumpukan lemak dalam jaringan adiposa, risiko penyakit kardiovaskular dan hipertensi. Variasi saat timbulnya menarche dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah Berat badan. Dalam penelitian ini berat badan di ukur menggunakan parameter Indeks Massa Tubuh (IMT). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan IMT dengan usia Menarche.Jenis penelitian ini adalah analitik korelasi dengan desain studi cross sectional. Tekhnik sample yang digunakan adalah Total sampel sebanyak 34 siswi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai dengan November 2018 di SMP Muhammadiyah I Kota Ternate. Data penelitian diperoleh dengan wawancara dan pengukuran langsung terhadap Berat dan tinggi Badan remaja putri. Analisis statistic yang digunakan adalah korelasi bivariate pearson product moment untuk mengetahui sejauh mana hubungan indeks massa tubuh terhadap menarche. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan positif antara IMT dengan usia Menarche
IDENTIFIKASI TELUR SOIL TRANSMITTED HELMINTH PADA FECES ANAKANAK MENGGUNAKAN METODE FLOTASI DI DESA NUSLIKO KECAMATAN WEDA KABUPATEN HALMAHERATENGAH
Kecacingan merupakan masalah kesehatan yang tersebar luas baik di daerah tropis maupun subtropis. Prevalensi cacingan di Indonesia pada umumnya sudah menyebar secara luas, baik di daerah pedesaan maupun di daerah perkotaan, terutama pada golongan penduduk yang kurang mampu, dengan sanitasi buruk. Spesies utama yang banyak menginfeksi masyarakat adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura) dan cacing kait (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale). Desa Nusliko, Kecamatan Weda Kabupaten Halmahera Tengah merupakan daerah yang penduduknya masih memiliki pengetahuan tentang kesehatan yang rendah, sehingga memungkinkan untuk terjadi penularan penyakit kecacingan. Tujuan Penelitian ;untuk mengidentifikasi telur Soil Trasmitted Helmither menggunakan Metode Flotasi pada anak – anak usia 6 – 12 tahun. Metode Penelitian : penelitian Deskriptif, dengan menggunakan metode pemeriksaan Flotasi, dengan jumlah sampel feces 40. Hasil : positif telur cacing Soil transmitted Helmith pada 12 anak (30%) dan 28 anak (70%) negatif, sedangkan distribusi berdasarkan spesies pada anak yang positif yakni ; Ascaris lumbricoides 6 anak (50 %), Trichuris trichiura 3 anak (25 %), Mix (Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura ) 2 anak (17 %) dan Mix (Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan hookwoom ) 1 anak ( 8%).Kesimpulan : positif telur cacing Soil transmitted Helmith pada 12 anak (30%) dan 28 anak (70%) negatif
Analisis Risiko Pajanan Gas Karbon Monoksida pada Petugas Parkir di Pusat Perbelanjaan X Surabaya
Latar Belakang: Kendaraan bermotor yang masuk dan keluar area parkir pusat perbelanjaan X Surabaya menghasilkan emisi gas buang kendaraan bermotor yaitu gas karbon monoksida. Petugas parkir yang berada di area parkir dapat terpajan gas karbon monoksida yang berisiko terhadap kesehatan petugas parkir. Tujuan: menganalisis tingkat risiko paparan gas karbon monoksida pada petugas parkir di pusat perbelanjaan X Surabaya. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan desain cross sectional dan menggunakan pendekatan studi Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Sampel yang digunakan adalah total populasi sebanyak 34 orang. Pengambilan sampel gas CO dilakukan di area parkir pusat perbelanjaan X Surabaya. Hasil: pengukuran rata-rata konsentrasi gas CO di area parkir adalah 1,589 ppm. Konsentrasi gas CO dibawah Nilai ambang Batas (NAB) berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 5 Tahun 2018. Nilai intake tertinggi yang diperoleh dari hasil perhitungan sebesar 0,159 mg/kg/hari dan tingkat risiko yang didapatkan 0,174 (RQ ≤ 1). Kesimpulan: paparan gas CO di area parkir pusat perbelanjaan X Surabaya RQ ≤ 1 aman atau tidak berisiko terhadap gangguan kesehatan petugas parkir
Ekstrak Sampah Kulit Jeruk Nipis Dan Bonggol Pisang Terhadap Daya Hambat Bakteri Staphylococcus aureus
Latar Belakang: Kandungan senyawa aktif yang terdapat pada bonggol pisang kulit jeruk nipis yaitu flavonoid, alkoloid, saponin dan tanin. Upaya mengatasi permasalahan dapat dilakungan dengan Pengelolaan sampah berbasis prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Tujuan: Untuk mengetahui kandungan ekstrak kulit jeruk nipis dan bonggol pisang terhadap daya hambat bakteri Staphylococcus aureus. Metode: True experiment menggunakan bentuk Posttest Only Control Group Design. Objek penelitian yang digunakan adalah kandungan senyawa antibakteri yang terdapat pada kulit jeruk nipis dan bonggol pisang. Metode modifikasi KirbyBauer dengan menggunakan sumuran. Pengulangan dilakukan sebanyak 3 kali pada setiap perlakuan dan kontrol. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji T-Test untuk membandingkan efektivitas kedua perlakuan terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Hasil: Ekstrak kulit jeruk nipis dan bonggol pisang memiliki kandungan flavonoid, alkoloid, saponin dan tanin yang berpotensi membunuh bakteri Staphylococcus aureus. Rata-rata daya hambat bakteri dengan ekstrak kulit jeruk nipis kosentrasi 75% sebesar 35,77mm, sedangkan rata-rata daya hambat bakteri dengan ekstrak bonggol pisang kosentrasi 75% sebesar 12,03mm. Kesimpulan: Berdasarkan kategori zona hambat bakteri, kemampuan dalam menekan bakteri Staphylococcus aureus pada ekstrak bonggol pisang tergolong kuat dan ekstrak kulit jeruk nipis tergolong sangat kuat sebab pada hasil uji didapatkan bahwa besar zona hambat pertumbuhan bakteri pada ekstrak bonggol pisang sebesar 12,03mm dan kulit jeruk nipis sebesar 35,77m
Peer Educator Dan Komunikator Dapat Meningkatkan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Tentang Pernikahan Dini Di SMA Negeri 11 Kota Bengkulu
Latar Belakang: Pernikahan usia dini seringkali dilakukan remaja yang disebabkan berbagai faktor. Salah satunya pengetahuan dan sikap remaja tentang pernikahan dini masih bervariasi. Tujuan: Mengetahui perubahan pengetahuan dan sikap tentang pernikahan dini melalui peer educator dan komunikator di SMA Negeri 11 Kota Bengkulu. Metode: Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan kuasi eksperimen dengan pre-test dan post-test satu kelompok.Setiap perlakuan diberikan berupa edukasi melalui peer educator dan komunikator pada masing-masing kelompok. Hasil: Hasil analisis uji statistik untuk melihat rerata pengetahuan responden pada kelompok peer educator (88,71) kelompok komunikator (80,97) selisih mean rank (7,74). Hasil analisi uji Mann Whitney diperoleh p=0,000 artinya bahwa skor pengetahuan responden pada kelompok peer educator lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok komunikator. Hasil uji statistik rerata sikap pada kelompok peer educator (37,29) kelompok komunikator (34,94) selisih mean rank (2,35). Hasil Independent T test p=0,000 artinya peningkatan skor sikap lebih tinggi pada kelompok peer educator dibanding kelompok komunikator. Kesimpulan: Temuan ini menegaskan pentingnya pemberian edukasi yang dilakukan oleh peer educator dan komunikator. Namun lebih efektif untuk remaja penyampaian melalui peer educator
Gambaran Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Selama Pandemi Covid- 19 pada Perawat di Rumah Sakit X
Latar Belakang: Alat pelindung diri (APD) adalah perangkat alat yang dirancang sebagai penghalangterhadap penetrasi zat, partikel padat, cair, atau udara untuk melindungi pemakainya dari cedera ataupenyebaran infeksi atau penyakit. Penggunaanalat pelindung diri oleh tenaga kesehatan khusunyaperawat saat memberikan pelayanan merupakan salah satu upaya pencegahan penularan virus Covid-19 yang saat ini masih menjadi wabah di seluruh dunia.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui gambaran penggunaan alat pelindung diri oleh perawat di Ruang UGD dan Ruang khususCovid-19.Metode: Penelitian ini merupakanpenelitian deskriptif yang melibatkan 45 orangperawatRuang UGD dan Ruang khusus Covid-19. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesionerdalam bentuk google form kemudian data dianalisis secara deskriptif dengan bantuan Program SPSSfor Windows 17,0 version.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan gambaran penggunaan alatpelindung diri (APD) oleh perawat di ruang UGD dan Ruangan Khusus Covid-19 dalam pemakaianpenutup kepala, masker bedah atau N95, pelindung wajah, gaun bedah dan gaun isolasi, apron, sarungtangan dan pelindung sepatu. Kesimpulan: secara umum perawat di Rumah Sakit X sudahmenggunakan alat pelindung diri sesuai dengan aturan Kementerian Kesehatan tahun 202
Literature Review: Pengaruh Faktor Lingkungan Dan Personal Hygiene Ibu Dengen Kejadian Diare Pada Balita Di Indonesia
Latar Belakang: Faktor lingkungan dan personal hygiene ibu memiliki keterkaitan dengan kejadiandiare. Salah satunya yaitu keberadaan vektor yang disebabkan oleh sanitasi dan SPAL yang burukserta CTPS. Tujuan: Literature review ini bertujuan mengetahui keterkaitan factor lingkungan danpersonal hygiene ibu dengan kejadian diare. Metode: Metode yang digunakan dalam penulisanliterature review adalah tradisional literature review. Sumber data berasal dari google scholar danportal garuda dalam rentang waktu 2015-2020. Kata kunci yang digunakanyaitu “kejadian diare,factor lingkungan dan personal hygiene ibu”. Setelah dilakukan screening didapatkan sebanyak 22artikel rujukan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 18 dari 22 jurnal yangmenyimpulkan bahwa factor lingkungan menjadi salah satu penyebab kejadian diare, 13 dari 22jurnal menyimpulkan bahwa personal hygiene ibu menjadi salah satu penyebab kejadian diare.Faktor lingkungan dan personal hygiene ibu yang dominan memicu kejadian diare yaitu sanitasi,SPAL dan CTPS. CTPS yang buruk lebih dominan mengakibatkan diare denga nnilai OR sebesar6,985. Kesimpulan: Kesimpulan literature review ini adalah penyebab kejadian diare pada balitalebih didominasi pada kondisi sanitasi, SPAL dan salah satu personal hygiene ibu yaitu CTPS yangkurang baik. CTPS yang baik yaitu menggunakan sabun serta air mengalir saat mencuci tangan.Oleh karena itu, perbaikan sanitasi, SPAL dan penerapan CTPS yang baik menjadi salah satu untukmeminimalisir kejadian diar
Efektifitas Alat Filtrasi Sederhana Berbahan Pelepah Pisang dalam Menurunkan PM2.5 dan PM10 pada Rumah Pengasapan Ikan di Kota Ternate
Latar Belakang: Particulate Matter (PM) merupakan jenis polutan berbahaya dengan berbagaiukuran, yang dapat mengakibatkan tingginya kematian akibat pajanan polusi udara. ParticulateMatter <2,5µm (PM2.5) atau yang disebut dengan fine particle merupakan salah satu jenis partikulatyang berukuran sangat kecil dan dapat menimbulkan berbagai penyakit. Apabila terhirup ke dalamtubuh dapat berpenetrasi ke dalam saluran pernapasan bawah serta dapat melewati aliran darah. Asapyang dihasilkan oleh pembakaran tempurung kelapa di lingkungan pengasapan ikan merupakanpermasalahan yang ada di ruang pengasapan ikan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untukMenganalisis Efektifitas Alat Filtrasi Sederhana Dalam Menurunkan PM2.5 Dan PM10 Pada RumahPengasapan Ikan Di Kota Ternate. Metode: Rancang bangun penelitian yang digunakan adalah praeksperimental
dengan metode one group pra-post test design. Penelitian dilaksanakan di rumahpengasapan ikan Kota Ternate Provinsi Maluku Utara. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruhrumah pengasapan ikan di Kota Ternate. Data yang terkumpul kemudian diolah menggunakanprogram statistik. Hasil : penelitian menunjukan bahwa nilai p value PM2.5 sebesar 0,048 dimanakurang dari batas kritis penelitian ( < 0,05), artinya bahwa terdapat perbedaan bermakna antarapengukuran PM2.5 sebelum dan sesudah yang artinya alat filtrasi sederhana dengan berbahan dasarpelepah pisang efektif dalam menurunkan PM2.5. Nilai p values PM10 = 0,042 lebih kecil dari < 0,05,artinya bahwa ada perbedaan antara hasil sebelum dan sesudah pengukuran untuk variabel PM10 dirumah pengasapan ikan di Kota Ternate. Kesimpulan : Sistem filtering berbahan dasar pelepah pisangefektif dalam menurunkan kosentrasi PM2,5 Dan PM10 di rumah pengasapan ika
Imunisasi Dasar Lengkap Pada Anak Masa Pandemi Covid-19 Di Puskesmas 23 Ilir
Latarbelakang: Cakupan imunisasi dasar lengkap merupakan salah satu indikator dalam TujuanPembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs). World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa padatahun 2018 sekitar 20 juta anak di dunia tidak mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL), bahkan adayang tidak mendapatkan imunisasi sama sekali. Tujuan: untuk mengetahui faktor yang mempengaruhiimunisasi dasar lengkap pada anak masa pandemic Covid-19 di Puskesmas 23 Ilir Kota Palembang. Metode:Penelitian ini menggunakan pendekan crossectional sampel dengan sampel yang berjumlah 107 orangresponden diambil dengan cara accidental sampling. Penelitian telah dilakukan pada tanggal 15 Agustus2021 hingga 16 Oktober 2021. Tehnik pengumpulan data pada penelitian ini adalah wawancara terstruktukdengan menggunakan kuisiner tertutup. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan (pvalue:0,004), sikap (p-value:0.003), akses pelayanan kesehatan (p-value:0.022), peran petugas(pvalue:0.006) dengan kelengkapan imunisasi dasar pada anak di masa pandemic. Tidak terdapat hubunganantara pendidikan dan kelengkapan imunisasi dasar (p-value:0.211). Variabel sika merupakan variabel yangpaling berpengaruhi terhadap kelengkapan imunisasi dasar pada anak di masa pandemic covid-19 denganOR: 5.625. Kesimpulan: imunisasi dasar pada anak di masa pandemic covid-19 dipengaruhi oleh faktorpengetahuan, sikap dan peran petugas dimana faktor sikap merupakan faktor dominan mempengaruhikelengkapan imunisasi pada anak di masa pandemic covid-19. Disarankan kepada petugas Puskesmas 23 ilirUntuk meningkatkan promosi kesehatan yang berupa penyuluhan menggunakan media banner di setiap unitlayanan meliputi posyandu dan pustu
Pemanfaatan Sampah Kulit Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Dalam Sabun Padat Terhadap Daya Hambat Staphylococcus aureus
Latar Belakang: Kulit jeruk nipis tidak banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga terbuang menjadi sampah. Padahal kulit jeruk nipis masih memiliki nilai guna yaitu diantaranya sebagai antibakteri. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pemanfaatan sampah kulit jeruk nipis sebagai bahan tambahan sabun padat terhadap karakteristik fisik sabun, kadar air sabun dan daya hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Metode: Metode dalam penelitian ini yakni berjenis penelitian true experiment dengan menggunakan bentuk Posttest Only Control Group Design. Terdapat empat kelompok perlakuan sampel ialah konsentrasi ekstrak kulit jeruk nipis 0%, 25%, 50% dan 75% dengan enam replikasi pada tiap kelompok sampel. Hasil uji dianalisis dengan menggunakan uji Kruskal Wallis dan uji Mann-Whitney. Hasil: Hasil karakteristik fisik masing-masing perlakuan sabun memiliki warna putih, kuning muda, dan kuning tua. Pada semua perlakuan sabun berbentuk padat dan aroma khas jeruk nipis. Rata-rata kadar air pada masing-masing perlakuan sabun 9,13%, 11,19%, 11,95%, dan 14,87%. Terdapat pengaruh penambahan ekstrak kulit jeruk nipis terhadap kadar air sabun. Rata-rata daya hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dari masing-masing perlakuan sabun padat 1,9 mm, 2,7 mm, 3,0 mm, dan 4,6 mm. Terdapat pengaruh penambahan ekstrak kulit jeruk nipis terhadap daya hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh pemanfaatan sampah kulit jeruk nipis sebagai bahan tambahan sabun padat terhadap daya hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus