Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
387 research outputs found
Sort by
Partisipasi pemimpin umat dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19
The pastor, as the leader of the people, has an important role in the church. One of his important roles is to participate in breaking the chain of the spread of Covid-19, ending the pandemic period until it becomes a Covid-19 endemic. This is undertaken as a reflection of the value of love: to love God and human beings. The purpose of this study is to describe the reality of the pastor\u27s participation in breaking the chain of the spread of Covid-19, as a call to love God and others as oneself. This action explains the motivation and mutual understanding in the form of love. The method used is qualitative research with a descriptive-interpretation approach to the text of Matthew 22:37-40. The results of this study, namely the actions taken by the pastor toward the GKE Kapakat Tumbang Samba congregation, it appears that the pastor\u27s motivation is to support the government\u27s health program with the aim of protecting his congregation by supporting the provision of vaccines to his people as an action to stop the spread of Covid-19 and stay healthy. This motivational goal can be realized if there is a mutual agreement between the pastor and the congregation. Through this motivation and agreement, the pastor\u27s participation has a vital role in breaking the chain of the spread of Covid-19 based on Matthew 22:37-40 as a real and active activity that begins with loving oneself in loving God and others to achieve the goal of using vaccines. AbstrakPendeta, sebagai pemimpin umat, memiliki peran penting dalam gereja. Salah satu peran pentingnya adalah ikut berpartisipasi dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19, mengakhiri masa pandemi hingga menjadi endemi Covid-19 Hal tersebut dilakukan sebagai refleksi atas nilai kasih; mengasihi Allah dan sesama manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan realitas partisipasi pendeta dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19, sebagai panggilan mengasihi Allah dan sesama seperti diri sendiri. Aksi ini menjelaskan motivasi dan saling pengertian dalam wujud cinta. Metode yang digunakan yaitu penelitian kualitiatif dengan pendekatan deskriptif-interpretasi teks Matius 22:37-40. Hasil penelitian ini yaitu tindakan yang telah dilakukan oleh pendeta terhadap jemaat GKE Kapakat Tumbang Samba tampak bahwa motivasi pendeta tersebut mendukung program kesehatan pemerintah dengan tujuan dapat melindungi jemaatnya dengan mendukung pemberian vaksin kepada umatnya sebagai tindakan pemutusan persebaran Covid-19 dan tetap sehat. Tujuan motivasi tersebut dapat terealisasi, jika ada kesepakatan bersama antara pendeta dan jemaat. Melalui motivasi dan kesepakatan tersebut, maka partisipasi pendeta memiliki peran vital dalam memutus mata rantai persebaran Covid-19 berdasarkan Matius 22:37-40 sebagai perbuatan nyata dan aktif yang dimulai dengan mencintai diri sendiri dalam mengasihi Tuhan dan sesama demi mencapai tujuan dari penggunaan vaksin
Berteologi secara moderat dalam konteks kebhinekaan
Doing theology is a means that can bring people to understand more about every teaching in religion so that what is understood can encourage people to apply it in everyday life. Theological ideas and views have developed very dynamically, resulting in many emerging views that are diverse, even contradicting one another. The problem that arises is when theology is not based on an attitude of respect and respect for the different views of each group, class, theological tradition, and even religion. This research is a Christian view and attitude in moderate theology in the context of Indonesian diversity. In this study, the method used is descriptive qualitative with an approach to an understanding and understanding of the importance of good theology and which does not tend to be extreme towards a particular religious group. Moderate theology within the scope of religions will be able to confront two different views and ideas by prioritizing the values of diversity as a glue to build humanist religious moderation. AbstrakBerteologi merupakan sarana yang dapat membawa manusia agar semakin memahami setiap ajaran dalam agama, sehingga apa yang dipahami dapat mendorong manusia menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Gagasan serta pandangan teologi mengalami perkembangan yang sangat dinamis, sehingga banyak bermunculan pandangan yang beragam, bahkan bertentangan satu dengan yang lain. Masalah yang timbul adalah ketika berteologi tidak didasari pada sikap menghargai dan menghormati perbedaan pandangan dari setiap kelompok, golongan, tradisi teologi, bahkan agama. Penelitian ini merupakan pandangan dan sikap Kekristenan dalam berteologi secara moderat dalam konteks kebhinnekaan Indonesia. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan terhadap suatu pengertian dan pemahaman akan pentingnya berteologi yang baik dan yang tidak cenderung bersikap ekstrim kepada suatu kelompok agama tertentu. Berteologi secara moderat dalam lingkup agama-agama akan mampu untuk mengonfrontasikan dua pandangan serta gagasan yang berbeda dengan mengedepankan nilai-nilai kebhinnekaan sebagai suatu perekat guna membangun moderasi beragama yang humanis
Rereading qahal as Deuteronomist history works: Literal and ideological criticism approach
Some biblical scholars understand Deuteronomy to be the end of the Pentateuch. Before the nation of Israel became a confederate system, the socio-political reality could usually be seen in the composition, interaction, and behavior of relationships in society, which were assumed to be political elements. The Israeli confederation which is like the ambition centered on Yahweh is what the author refers to as Israel\u27s "Qahal". Martin Noth explains Qahal Israel in Deuteronomist Historical Works, which began with a period of wandering under the leadership of Musa, then became an immigrant in the Land of Canaan, followed by Saul\u27s leadership where Israel asked the king to directly lead the Israelites. In the leadership of David and Solomon, which originally had 12 tribes, eventually split into two nations. With this monarchical system, God hates, because he does not reject God as the government in their life. The purpose of this study was to find the location of the Deuteronomy and Eating Qahal books in the book of laws. The research method uses critical research with a study of literature and ideological sources using Martin Noth\u27s theory which is an early thesis in Deuteronomic History Works. The novelty of this research is the existence of a new meaning where the main message of Deuteronomic history works, namely Israel is forced to turn to God, confess His sins, and return to submit and obey His word because they have been chosen to be God\u27s people (2 Ki 17:13)
Koreksi prospektif teks 2 Samuel 24 terhadap perilaku Daud bagi rekonstruksi kebijakan publik yang akuntabel
This article offers another solution from the various solutions that have been offered previously to the problem in 2 Samuel 24 which is more disjunctive rather than conjunctive. In fact, conjunctive understanding using the public theology perspective of Paul Hanson which is analyzed by Oliver Glanz??"s Participant-Reference Shifts Theory has the potency to produce a conjunctive solution in the form of an accountable public policy. This accountable public policy is based upon the correction of David??"s behavior, which should communicate dialogically with God, and consecutively, a dialogical communication with his subordinates through transparent sharing of vision and values. This communication model becomes a preparation key for interaction with less familiar communities that are characterized by mutual respect, and not a compromising attitude, while still promoting togetherness in solving problems that arise in a community. AbstrakArtikel ini menawarkan solusi lain dari berbagai solusi yang pernah ditawarkan sebelumnya terhadap permasalahan dalam 2 Samuel 24 yang lebih bersifat disjungtif dan bukan konjungtif. Padahal, pemahaman secara konjungtif dengan menggunakan perspektif teologi publik dari Paul Hanson yang dianalisis berdasarkan Teori Participant-Reference Shifts dari Oliver Glanz terhadap teks tersebut berpotensi menghasilkan solusi konjungtif berupa suatu kebijakan publik yang akuntabel. Kebijakan publik yang akuntabel tersebut bermuara pada koreksi perilaku Daud yang seharusnya berkomunikasi secara dialogis dengan Tuhan, dan berdampak pada terciptanya komunikasi dialogis dengan para bawahannya melalui sharing visi dan nilai-nilai secara transparan. Model komunikasi tersebut menjadi kunci persiapan menuju interaksi dengan komunitas yang kurang familier yang bercirikan sikap saling menghormati, dan bukan sikap kompromistis, dengan tetap mengedepankan kebersamaan dalam menyelesaikan masalah yang muncul dalam suatu komunitas
Gereja dan perlindungan anak: Analisis keberpihakan Gereja Masehi Injili di Halmahera terhadap kasus cyberbullying pada anak
Perlindungan Anak merupakan suatu upaya berkelanjutan untuk membebaskan anak dari berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi. Salah bentuk kekerasan terhadap anak yang sedang marak mengikuti perkembangan teknologi digital adalah kekerasan cyberbullying. Komunitas gereja tidak dapat terlepas dari penggunaan teknologi digital yang berpotensi menyebabkan mereka menjadi korban maupun pelaku. Keberpihakan gereja dibutuhkan untuk melakukan penanganan yang terfokus, terarah dan memberikan solusi konstruktif dari hulu ke hilir. Penelitian ini https://ej.ejsst.com/ dilakukan untuk menjawab bagaimana GMIH baik secara kelembagaan maupun oleh para pengerja gereja, memahami dan menyikapi cyberbullying dan bagaimana model penanganan yang tepat terhadap kasus ini. Tujuan penelitian ini adalah a) Menganalisis strategi GMIH menangani kasus kekerasan cyberbullying terhadap anak baik sebagai pelaku maupun sebagai korban dan b) Mengumpulkan dan merekonstruksi model perlindungan anak yang tepat untuk menanganai kekerasan cyberbullying terhadap Anak di GMIH. Hasil penelitian menunjukan adanya penetrasi digital yang masif ditandai dengan tingkat kepemilikan dan penggunaan media social yang cukup signifikan, namun disisi lain pemahaman terhadap Perlindungan Anak termasuk cyberbullying belum komprehensif. Sikap-sikap di media sosial yang memenuhi unsur cyberbullying juga semakin marak dialami dan dilakukan. Penangananya pun masih seputar mendoakan, mengedukasi dan memfasilitasi sehingga dibutuhkan suatu konsep penanganan yang strategis, sistematis melibatkan semua sumber daya dan stakeholder gereja.
Nilai pendidikan Kristiani "terimalah satu akan yang lain" dalam bingkai moderasi beragama
This study specifically examined the interaction of IAKN Palangka Raya Christian students in a joint group of Real Work Lectures with IAIN Palangka Raya Islamic students and Hindu students kaharingan IAHN Palangka Raya. The location of special activities of Bukit Sua Village and Mungku Baru Village. The purpose of this study is also to examine and analyze the implementation of the value of Christian education "accept one another" Romans 15:7 in the framework of religious moderation. Empirical studies become the methods that researchers use to achieve these goals. The results stated that the interaction and implementation of the value of Christian education "accept one another" in the framework of religious moderation by Christian students in a combined group with Islamic students and Hindu Kaharingan students was empirically realized very well. Christian students amid differences in faith in KKN activities can realize and apply the values of Christian education and religious moderation with indicators: attitude of acceptance with love, communication based on love, cooperation based on love, attitudes that make room for differences in beliefs, and attitudes that accept local culture as part of religious expression. AbstrakPenelitian ini khusus mengkaji interaksi mahasiswa Kristen IAKN Palangka Raya dalam kelompok gabungan Kuliah Kerja Nyata dengan mahasiswa Islam IAIN Palangka Raya dan mahasiswa Hindu Kaharingan IAHN Palangka Raya. Lokasi kegiatan khusus Kelurahan Bukit Sua dan Kelurahan Mungku Baru. Tujuan penelitian ini juga untuk mengkaji dan menganalisis implementasi nilai pendidikan Kristiani "terimalah satu akan yang lain" melalui pembacaan Roma 15:7 dalam bingkai moderasi beragama. Studi empiris menjadi metode yang peneliti gunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Hasil penelitian menyatakan bahwa interaksi dan implementasi nilai pendidikan kristiani ??Sterimalah satu akan yang lain? dalam bingkai moderasi beragama oleh mahasiswa Kristen dalam kelompok gabungan dengan mahasiswa Islam dan mahasiswa Hindu Kaharingan secara empiris terwujud dengan sangat baik. Mahasiswa Kristen di tengah-tengah perbedaan keyakinan, dalam dalam kegiatan KKN, dapat mewujudkan dan menerapkan nilai pendidikan kristiani dan moderasi beragama dengan indikator: sikap menerima dengan kasih, komunikasi berlandaskan kasih, bekerja sama didasarkan pada kasih, sikap yang memberi ruang terhadap perbedaan keyakinan, serta sikap yang menerima budaya lokal sebagai bagian dari ekspresi beragama
Menjaga relasi manusia dengan alam: Konstruksi ekoteologis pada religi budaya "Allah Dalam Tubuh" Masyarakat Desa Musi, Kecamatan Lirung, Kabupaten Talaud
Awareness of preserving nature and maintaining ecological harmony is essential to address the current environmental issues. This perspective can be seen in one of the local beliefs of the Musi Village community, which is the belief in "God Within the Body" (ADAT). Although ADAT belief is not one of the recognized six religions, it is a cultural heritage or local belief. ADAT\u27s belief in principles and behavior contains ecological values that regulate the relationship between God and humans, humans with each other, and humans with nature. This research aims to reflect an ecoteological This qualitative studywisdom, particularly in Musi Village, Lirung District, Talaud Regency. This qualitative study uses descriptive methods based on literature review, observation, and interview data. The results of this study are expected to construct an ecoteology based on local culture. AbstrakKesadaran menjaga alam dan keselarasan ekosistem sangat perlu demi mengatasi permasalahan ekologis saat ini. Cara pandang ini dapat diihat pada salah satu kepercayaan lokal masyarakat Desa Musi, yaitu kepercayaan "Allah Dalam Tubuh" (ADAT). Sekalipun kepercayaan ADAT tidak termasuk dalam enam agama yang diakui, namun ini adalah aliran kepercayaan yang menjadi warisan budaya atau kepercayaan lokal. Kepercayaan ADAT dalam prinsip dan perilaku hidup mengandung nilai ekologi yang saat baik, yang mengatur hubungan antara Allah dan manusia, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan alam. Penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan sebuah refleksi kajian ekoteologis yang berbasis pada kearifan budaya lokal, khususnya di Desa Musi, Kecamatan Lirung, Kabupaten Talaud. Ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskriptif, berbasis pada kajian literatur, yang juga mempergunakan data hasil observasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mengonstruksi sebuah bentuk ekoteologi yang berbasis pada budaya loka
Spiritualitas egaliter mengantisipasi eksklusivitas budaya di lingkungan gereja pada wilayah Sumba Timur: Refleksi teologis Filipi 2:1-8
The phenomenon of religious exclusivity does not only occur with other religions but in one religion. The phenomenon of religious exclusivity does not only occur between religious adherents but also between groups of people within the same religion. This phenomenon can be seen in the district of East Sumba, where there is still persecution of priests of different denominations, bullying related to the caste of the congregation, and pastors are higher than others, in local culture. This article provides an understanding of the spirituality of the church\u27s egalitarianism in anticipating Sumba\u27s socio-cultural institutions in placing equal values and rights of everyone in the eyes of God and others, according to Philippians 2:1-8. Research with a qualitative descriptive approach through a literature review found that churches in East Sumba Regency must be inclusive by opening themselves up to existing differences, not just doctrinal differences, but also ethnicity and caste egocentricity which must be minimized. The spirituality of the egalitarianism of the church is a divine value to continue to work on, through the existing local culture with the leaders of the people and the nobles (maramba), who sit together in divine leadership. Whole human development in the work of Christ\u27s salvation is the focus of the church, with equal actions by leaders from any caste, open and providing equal opportunities for every believer in the local culture. AbstrakFenomena eksklusivitas beragama bukan saja terjadi dengan agama lainnya tetapi dalam satu Fenomena eksklusivitas beragama bukan saja terjadi antarpemeluk agama, namun juga antarkelompok umat dalam satu agama. Fenomena ini dapat dilihat di daerah Kabupaten Sumba Timur, di mana masih terjadi persekusi terhadap pendeta yang berbeda denominasi, perundungan terkait kasta jemaat, bahwa pendeta lebih tinggi dari yang lain, dalam budaya lokal. Artikel ini memberikan pemahaman spiritualitas egalitarianisme gereja dalam mengantisipasi pranata sosial budaya Sumba dalam mendudukakn kesejajaran nilai dan hak setiap orang yang sama di mata Tuhan dan sesama, menurut Filipi 2:1-8. Penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui kajian literatur menemukan bahwa gereja di Kabupaten Sumba Timur harus bersikap inklusif dengan membuka diri terhadap perbedaan yang ada, bukan sekadar perbedaan doktrin, tetapi juga egosentris sukuisme dan kasta yang harus diminimalisir. Spiritualitas egalitarianisme gereja menjadi nilai ilahi untuk terus dikerjakan, melalui budaya lokal yang ada dengan para pemimpin umat dan para bangsawan (maramba), yang duduk bersama dalam kepemimpinan Ilahi. Pembangunan manusia seutuhnya di dalam karya keselamatan Kristus menjadi fokus utama gereja, dengan tindakan kesetaraan para pemimpin dari kalangan kasta apa pun, terbuka dan memberi kesempatan yang sama untuk setiap orang percaya dalam lingkup budaya lokal
Kristologi disabilitas di kalangan brother and sister living with HIV-AIDS (BROSLIH)
This paper is the result of a Christology of Disability studies on the understanding of Jesus according to the Brothers and Sisters living with HIV-AIDS (BROSLIH) at the Victory Plus Foundation, Yogyakarta. BROSLIH found a new perspective and meaning about the Image of Jesus Christ. Issues regarding stigma, discrimination, violence, and even loss of self-esteem brought BROSLIH out of the construction of a perfect understanding of Jesus. There are three main findings that will be put forward in this paper: First, Jesus is in solidarity with the lowly creation, through His Spirit in the lament of human suffering who prays to God in complex life situations. Second, BROSLIH who accepts rejection and various social injustices find the meaning of Jesus as the One who brings justice to those who are marginalized. Third: Jesus who is present in the souls of people who are broken and injured, is the meaning of the figure of Jesus who is present in BROSLIH\u27s life and is depressed because of rejection from parents. AbstrakArtikel ini merupakan hasil dari kajian Kristologi Disabilitas terhadap pemahaman tentang Yesus menurut Brother and Sister living with HIV-AIDS (BROSLIH) di Yayasan Victory Plus Yogyakarta. BROSLIH menemukan cara pandang serta pemaknaan yang baru mengenai Citra Yesus Kristus. Persoalan mengenai stigma, diskriminasi, kekerasan bahkan hilangnya penghargaan diri membawa BROSLIH keluar dari konstruksi pemahaman mengenai Yesus yang sempurna. Terdapat tiga temuan utama yang akan dikedepankan dalam tulisan ini: Pertama, Yesus yang bersolidaritas kepada ciptaan yang hina, melalui Roh-Nya dalam ratapan penderitaan manusia yang berdoa kepada Allah dalam situasi kehidupan yang kompleks. Kedua, BROSLIH yang menerima penolakan serta berbagai ketidakadilan sosial menemukan makna Yesus sebagai Dia yang mendatangkan keadilan bagi mereka yang termarginalisasi. Ketiga: Yesus yang hadir dalam jiwa orang-orang yang hancur dan terluka, adalah pemaknaan terhadap sosok Yesus yang hadir dalam kehidupan BROSLIH yang mengalami depresi karena mendapat penolakan dari orang tua
Roh Kudus dan kehidupan sosial politik: Sebuah tawaran peranan Roh Kudus dalam tanggung jawab sosial politik Gereja
Too often the work of the Holy Spirit is reduced to mere personal, interpersonal, or ecclesial dimensions which becomes subjective, and unrelated to the social-political life in the public space. This is a common perspective that we see in the churches. On the contrary, the Scripture places a great emphasis on the social and global dimension of the Holy Spirit who, in the Nicene Creed, is called the Giver of Life. This paper will discuss the socio-political dimension of the Holy Spirit. The method used in this paper is literary research. This paper is based on the idea that the Holy Spirit works not only in a personal, interpersonal, or ecclesial dimension, but has a strong socio-political dimension, which in that way we can truly understand and involve ourselves in the work of the Spirit in the socio-political life of each of us. AbstrakKarya Roh Kudus terlalu sering direduksi hanya pada dimensi personal, interpersonal, ataueklesial belaka. Padahal, Kitab Suci sangat menekankan dimensi sosial dan global dari Roh Kudus yang, dalam Kredo Nicea, disebut sebagai Pemberi Kehidupan (the Giver of Life). Makalah ini akan membahas dimensi sosial-politik dari Roh Kudus sehingga kita dapat sungguh memahami dan melibatkan diri dalam karya Roh di dalam kehidupan sosial-politik kita masing-masing