Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
387 research outputs found
Sort by
Kepemimpinan naratif-memori: Paradigma pembangunan jemaat melalui praktik anamnesis komunal
Artikel ini mengkonstruksi paradigma kepemimpinan naratif-memori sebagai alternatif terhadap model kepemimpinan gereja yang dominan bersifat visioner-futuristik dan manajerial-korporat. Melalui pendekatan kualitatif-konstruktif dengan metode korelasi kritis, penelitian ini mengintegrasikan teologi memori (Metz, Volf, Ricoeur), teori kepemimpinan naratif (Gardner, Hauerwas), dan liturgi formatif (Smith, Schmemann) untuk mengembangkan kerangka kepemimpinan yang berakar pada praktik anamnesis. Temuan menunjukkan bahwa kepemimpinan naratif-memori menawarkan lima dimensi transformatif: pemimpin sebagai kurator memori komunal, liturgi sebagai teknologi pembentukan identitas, narasi sebagai medium integrasi pengalaman fragmentaris, memori sebagai sumber rekonsiliasi pasca-trauma, dan anamnesis sebagai kritik profetik. Dalam konteks Indonesia yang ditandai pluralitas dan berbagai luka sejarah, model ini menyediakan kerangka teologis dan praktis untuk pembangunan jemaat yang mengintegrasikan pengakuan atas penderitaan masa lalu dengan harapan eskatologis
Teologi indigenous dan rekonsiliasi bangsa: Dekonstruksi dan rekonstruksi nilai-nilai kearifan lokal sebagai paradigma pemulihan sosial di Indonesia
This study examines the construction of indigenous theology as a foundation for national reconciliation by deconstructing and reconstructing local wisdom values in Indonesia. Drawing on Stephen Bevans\u27s contextual theology methodology and Robert Schreiter\u27s framework for constructing local theology, this research examines how indigenous religious values can serve as bridges for social healing in post-conflict Indonesian society. Through qualitative analysis of indigenous traditions, such as Pela Gandong and Aluk Mappurondo, as well as various other local wisdoms, this study reveals that indigenous theology offers alternative paradigms for reconciliation that are more culturally rooted and sustainable than Western-imposed models. The findings demonstrate that integrating indigenous cosmological understanding with Christian theological reflection creates transformative potential for national resilience. This research contributes to the development of Indonesian contextual theology, which respects cultural plurality while maintaining theological integrity, and offers practical implications for peacebuilding and social reconstruction in Indonesia\u27s multi-religious society.
Abstrak
Penelitian ini mengkaji konstruksi teologi indigenous sebagai fondasi rekonsiliasi bangsa melalui dekonstruksi dan rekonstruksi nilai-nilai kearifan lokal di Indonesia. Menggunakan metodologi teologi kontekstual Stephen Bevans dan kerangka konstruksi teologi lokal Robert Schreiter, penelitian ini menganalisis bagaimana nilai-nilai religius indigenous dapat berfungsi sebagai jembatan pemulihan sosial dalam masyarakat Indonesia pascakonflik. Melalui analisis kualitatif tradisi indigenous seperti Pela Gandong, Aluk Mappurondo, dan kearifan lokal lainnya, studi ini mengungkapkan bahwa teologi indigenous menawarkan paradigma alternatif rekonsiliasi yang lebih berakar budaya dan berkelanjutan dibanding model-model yang dipaksakan dari Barat. Temuan menunjukkan bahwa integrasi pemahaman kosmologis indigenous dengan refleksi teologis Kristen menciptakan potensi transformatif bagi resiliensi bangsa. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teologi kontekstual Indonesia yang menghargai pluralitas budaya sambil mempertahankan integritas teologis, menawarkan implikasi praktis bagi pembangunan perdamaian dan rekonstruksi sosial dalam masyarakat Indonesia yang multi-religius
Inkarnasi mendalam dan krisis iklim: Menuju eko-kristologi penebusan planetari di era antroposen
This article explores the theological concept of deep incarnation as a framework for addressing the climate crisis in the Anthropocene epoch. Drawing from contemporary eco-theological discourse, particularly the work of Niels Henrik Gregersen and Elizabeth Johnson, this study examines how the incarnation of Christ extends beyond humanity to encompass all creation. The research employs a systematic theological methodology, integrating biblical exegesis, patristic sources, and contemporary ecological science. The article argues that deep incarnation provides a robust theological foundation for environmental ethics by affirming God\u27s redemptive presence within the entire cosmos. This eco-Christological approach challenges anthropocentric interpretations of salvation and calls for a renewed understanding of humanity\u27s role as co-creators in the planet\u27s healing. The findings suggest that deep incarnation theology offers transformative potential for Christian environmental engagement in the Anthropocene.
Abstrak
Artikel ini mengeksplorasi konsep teologis inkarnasi mendalam sebagai kerangka kerja untuk mengatasi krisis iklim di era Antroposen. Berdasarkan wacana eko-teologi kontemporer, khususnya karya Niels Henrik Gregersen dan Elizabeth Johnson, penelitian ini mengkaji bagaimana inkarnasi Kristus melampaui kemanusiaan untuk mencakup seluruh ciptaan. Penelitian menggunakan metodologi teologi sistematis, mengintegrasikan eksegesis alkitabiah, sumber-sumber patristik, dan ilmu ekologi kontemporer. Artikel ini berargumen bahwa inkarnasi mendalam menyediakan fondasi teologis yang kuat untuk etika lingkungan dengan menegaskan kehadiran redemptif Allah dalam seluruh kosmos. Pen-dekatan eko-kristologis ini menantang interpretasi antroposentris tentang keselamatan dan menyerukan pemahaman baru tentang peran manusia sebagai rekan pencipta dalam penyembuhan planet. Temuan menunjukkan bahwa teologi inkarnasi mendalam menawarkan potensi transformatif untuk keterlibatan lingkungan Kristen di era Antroposen
Pendidikan kristiani dewasa berkeadilan gender: Sebuah konstruksi teologis berdasarkan tafsir feminis-dialektis Kejadian 3:16
Gender-biased patriarchal ideas permeate even the church. These ideas result in unequal gender construction between men and women, which, in turn, leads to gender-based violence (GBV). The church has a major role to play in preventing and addressing GBV against women. On the one hand, the church has the potential to be exposed, but on the other hand, it has the potential to erode the patriarchal ideas that have permeated it. For this reason, we offer adult Christian education with gender justice. Adults are people who may have been exposed to patriarchal ideas, as well as stakeholders who can criticize and educate the next generation about more gender-equitable ideas. In an effort to build a gender-equitable Adult PK, we interpret Genesis 3:16 through a feminist-dialectical lens. This approach will critically and constructively interpret the position and experience of women in the text. By conducting this gender-equitable Adult PK, in turn, the church plays an active role in the prevention and handling of GBV that is rampant in Indonesia.
Abstrak
Gagasan patriarki yang bias gender merambah bahkan menubuh di gereja. Gagasan ini menghasilkan konstruksi gender yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan, yang pada gilirannya, menyebabkan kekerasan berbasis gender (KBG). Gereja memiliki peran besar dalam mencegah dan menangani KBG terhadap perempuan. Di satu sisi, gereja berpotensi terpapar, tetapi di sisi lain, gereja berpotensi mengikis gagasan patriarki yang telah merasukinya. Untuk itu, kami menawarkan pendidikan Kristiani dewasa berkeadilan gender. Orang dewasa adalah yang kemungkinan telah terpapar gagasan patriarki sekaligus stakeholder yang dapat mengkritisi sekaligus mendidik generasi berikut tentang gagasan yang lebih adil gender. Dalam upaya membangun PK Dewasa berkeadilan gender ini, kami menafsir Kejadian 3:16 dengan menggunakan pendekatan feminis-dialektis. Pendekatan ini akan menafsir secara kritis dan konstruktif terutama tentang posisi dan pengalaman perempuan di dalam teks. Dengan mengadakan PK Dewasa berkeadilan gender ini, pada gilirannya, gereja berperan aktif dalam pencegahan dan penanganan KBG yang marak terjadi di Indonesia
Cyber-pneumatology: Diskursus pekerjaan Roh Kudus di ruang siber
Today\u27s modern humans engage in both physical and digital connections through cyberphysical activities. Activities in cyberspace are no longer a supplement to physical activity but have often become the dominant activity. Cyberspace has become a second world inhabited by homo digitalis. Therefore, this paper aims to contribute to theological discourse in cyberspace through a Pentecostal theological perspective. To achieve this goal, we conduct a hermeneutic study of Psalm 104 and then compare it with Steven M. Studebaker\u27s thoughts on the calling of Pentecostals as citizens of the city. The result of this study suggests that cyberspace must be treated as an arena for the creative work of the Holy Spirit, because cyberspace is the earth for homo digitalis who are called to work creatively within it.
Abstrak
Manusia modern saat ini tidak hanya terhubung secara fisik, tetapi juga secara digital di ruang siber (cyberspace). Aktivitas-aktivitas di ruang siber ini bukan lagi sebagai suplemen bagi aktivitas fisik, namun sering telah menjadi aktivitas yang dominan. Ruang siber telah menjadi bumi kedua yang dihuni oleh homo digitalis. Oleh sebab itu, tulisan ini bermaksud untuk menyumbang diskursus teologi di ruang siber melalui perspektif teologi Pentakostal. Untuk mencapai maksud tersebut, kami melakukan kajian hermeneutik atas Mazmur 104 dan kemudian memperjumpakannya dengan pemikiran Steven M. Studebaker tentang panggilan kaum Pentakostal sebagai warga kota. Hasil kajian ini menyatakan bahwa ruang siber haruslah diperlakukan sebagai arena karya kreatif Roh Kudus, karena ruang siber adalah bumi bagi homo digitalis yang dipanggil untuk berkarya secara kreatif di dalamnya
Dari kesenjangan menjadi jembatan: Transformasi kepemimpinan kristiani intergenerasional
Intergenerational gaps often pose a significant challenge within the church and Christian leadership context. Differences in values, perspectives, communication styles, and ministry preferences can create barriers that hinder unity, mission effectiveness, and the spiritual continuity from one generation to the next. This article analyzes the nature and impact of intergenerational gaps in Christian leadership and proposes a transformative approach to convert these "gaps" into robust "bridges." Through theological reflection and an analysis of intergenerational social dynamics, this paper explores key principles for developing inclusive, collaborative leadership that integrates the strengths and perspectives of every generation. This transformation requires understanding, empathy, open communication, and a willingness to learn from one another. The ultimate goal is to foster Christian leadership that is relevant across all ages and effectively prepares the church for the future by leveraging the rich experience and innovation found across generations.
Abstrak
Kesenjangan antargenerasi seringkali menjadi tantangan signifikan dalam konteks gereja dan kepemimpinan kristiani. Perbedaan nilai, cara pandang, gaya komunikasi, dan preferensi dalam pelayanan dapat menciptakan hambatan yang menghambat kesatuan, efektivitas misi, dan kelangsungan spiritual dari satu generasi ke generasi berikutnya. Artikel ini menganalisis sifat dan dampak kesenjangan antargenerasi dalam kepemimpinan kristiani serta mengusulkan pendekatan transformatif untuk mengubah "kesenjangan" ini menjadi "jembatan" yang kokoh. Melalui refleksi teologis dan analisis dinamika sosial antargenerasi, tulisan ini mengeksplorasi prinsip-prinsip kunci bagi pengembangan kepemimpinan yang inklusif, kolaboratif, dan mampu mengintegrasikan kekuatan serta perspektif dari setiap generasi. Transformasi ini membutuhkan pemahaman, empati, komunikasi terbuka, dan kesediaan untuk belajar dari satu sama lain. Tujuan akhirnya adalah menumbuhkan kepemimpinan kristiani yang tidak hanya relevan bagi semua usia tetapi juga secara efektif mempersiapkan gereja untuk masa depan dengan memanfaatkan kekayaan pengalaman dan inovasi lintas generasi
Kesetaraan relasi sosial dalam falsafah esa cita waya, tou peleng masu’at; cawana parukuan, cawana pakuruan: Sebuah konstruksi teologis berbasis budaya Minahasa
Awareness of maintaining and appreciating local philosophy about respect for equality in the diversity of society is being eroded in the Minahasa land. This article discusses the socio-cultural issue of esa cita waya, tou peleng masu’at; cawana parukuan, cawana pakuruan, which can be the basis for equal social relations. This study repositions the local wisdom defined and constructed by the ancestors as a social identity that appreciates diversity and equality in society. For this purpose, I use a qualitative research approach with descriptive methods and socio-cultural analysis. This research will start from cultural data transmitted orally and maintained by cultural actors and the Minahasa community in several villages. Furthermore, based on this approach, the author will offer esa cita waya, tou peleng masu’at. Cawana parukuan, cawana pakuruan, pute waya tou maesa (hereinafter abbreviated as ECWTPMCPCP) as the basis of social relations that give respect to equality in social diversity in the land of Minahasa today. As a result, the people in the land of Minahasa are educated to build relations that provide equal and constructive space for plurality in society.
Abstrak
Kesadaran untuk memelihara dan menghargai falsafah lokal tentang penghargaan terhadap kesetaraan dalam keragaman masyarakat sedang tergerus di tanah Minahasa. Artikel ini bertujuan membahas persoalan sosio-kultural esa cita waya, tou peleng masu’at; cawana parukuan, cawana pakuruan, yang dapat menjadi dasar relasi sosial yang setara. Kajian ini memosisikan kembali kearifan lokal tersebut sebagaimana yang didefinisikan dan dikonstruksi para leluhur sebagai identitas sosial yang menghargai keragaman dan kesetaraan bermasyarakat. Untuk tujuan itu, saya menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode dekriptif dan analisis sosio-kultural. Penelitian ini akan bertolak dari data kultural yang ditransmisikan secara lisan dan masih terpelihara pada para pelaku budaya dan masyarakat Minahasa di beberapa kampung. Selanjutnya berdasar pendekatan demikian, penulis akan menawarkan esa cita waya, tou peleng masu’at. Cawana parukuan, cawana pakuruan, pute waya tou maesa (selanjutnya disngkat ECWTPMCPCP) sebagai dasar relasi sosial yang memberi penghargaan terhadap kesetaraan dalam kemajemukan sosial di tanah Minahasa kini. Hasilnya, masyarakat di tanah Minahasa teredukasi untuk membangun relasi yang memberi ruang setara dan konstruktif bagi pluralitas bermasyarakat
Teologi sebagai praksis nation-building: Kontribusi pendidikan teologi dalam transformasi peradaban Indonesia menuju visi 2045
Indonesia faces multidimensional crises rooted in moral, mental, and spiritual degradation, as evidenced by high corruption levels (CPI 37/100), persistent poverty (8.57%), and significant social inequality (Gini ratio 0.379). This research examines the strategic role of theological education in achieving Indonesia\u27s 2045 vision through qualitative approaches that employ theological-critical analysis methods. Findings indicate that theological education can contribute to five main strategies: memorializing digital space as a constructive arena for social transformation, developing theological education as an integral laboratory for character formation, implementing development theology as an antithesis to oligarchy, institutionalizing transformation through sustainable educational ecosystems, and building strategic multi-stakeholder synergy. The research concludes that theological education has significant potential as an incubator for the next generation of leaders capable of driving social transformation toward a just, dignified, and sustainable Indonesia by 2045.
Abstrak
Indonesia menghadapi krisis multidimensional yang mengakar pada degradasi moral, mental, dan spiritual yang termanifestasi dalam tingkat korupsi tinggi (IPK 37/100), kemiskinan persisten (8,57%), dan ketimpangan sosial signifikan (Gini ratio 0,379). Penelitian ini menganalisis peran strategis pendidikan teologi dalam mewujudkan visi Indonesia 2045 melalui pendekatan kualitatif dengan metode analisis teologis-kritis. Temuan menunjukkan pendidikan teologi dapat berkontribusi melalui lima strategi utama: memorialkan ruang digital sebagai arena transformasi sosial konstruktif, mengembangkan pendidikan teologi sebagai laboratorium pembentukan karakter integral, mengimplementasikan teologi pembangunan sebagai antitesis oligarki, menginstitusionalisasikan transformasi melalui ekosistem pendidikan berkelanjutan, dan membangun sinergi strategis multi-stakeholder. Penelitian menyimpulkan pendidikan teologi memiliki potensi signifikan sebagai ruang inkubasi generasi emas yang mampu memimpin transformasi sosial menuju Indonesia yang berkeadilan, bermartabat, dan berkelanjutan sesuai target 2045
Yesus Kristus, sebuah negasi atau revolusi agama: Tinjauan terhadap eksklusivitas wahyu Karl Barth berdasarkan Church Dogmatics
This article explores Karl Barth’s understanding of the exclusive-ty of revelation in the Church Dogmatics, addressing whether understood Jesus Christ should be seen as a negation of the understanding ofr as its re-volution. Barth rejects religion as a means of knowing God, since revelation is given only in Christ. On this basis, any appeal to general revelation as an independent way of knowing God proves invalid. At the same time, Barth affirms that creation stands under the grace of God, which can be un-derstood only as hidden grace in Christ. This dialectic indicates that Jesus Christ does not simply negate religion but transforms it. Religion is no longer regarded as a source of revelation but as a sphere drawn into the horizon of Christ’s grace. The article, therefore, affirms Barth’s Christo-centric exclusivity while also offering a reinterpretation of his position on religion and general revelation.
Abstrak
Artikel ini menelaah eksklusivitas wahyu Karl Barth sebagaima-na dipaparkan dalam Church Dogmatics, dengan fokus pada pertanyaan apakah Yesus Kristus merupakan sebuah negasi terhadap agama atau jus-tru sebuah revolusi terhadapnya. Barth menolak agama sebagai jalan pe-ngetahuan tentang Allah atas dasar bahwa penyingkapan Allah hanya ada di dalam Kristus. Dari posisi ini, setiap klaim wahyu umum sebagai sarana otonom untuk mengenal Allah kehilangan validitasnya. Namun, Barth te-tap mengakui realitas ciptaan berada di bawah anugerah Allah dalam arti, ia hanya dapat dipahami sebagai rahmat yang tersembunyi (hidden grace) di dalam Kristus. Dialektika ini menunjukkan bahwa Yesus Kristus bukan sekadar menegasi agama, tetapi juga merevolusinya. Agama tidak lagi berfungsi sebagai sumber wahyu, melainkan dipahami sebagai ruang yang ditarik masuk ke dalam horizon kasih karunia Kristus. Dengan de-mikian, artikel ini menegaskan eksklusivitas kristosentris Barth sekaligus menafsirkan ulang posisinya terhadap agama dan wahyu umum
Dari "aku" ke "kita" yang terfragmentasi: Studi fenomenologi tentang krisis solidaritas komunal dalam gereja urban di era hiperindividualisme digital
This article examines the crisis of communal solidarity in Indonesian urban churches during the era of digital hyper-individualism through a phenomenological lens. Drawing on Charles Taylor\u27s theoretical framework of "expressive individualism" and Robert Putnam\u27s concept of "social capital," this research examines how digital technology and the culture of individualism have reshaped the dynamics of ecclesial communion. Through a comprehensive literature analysis, this study finds that the fragmentation of church communities is not only a sociological phenomenon but also a profound theological crisis. The results show that while digital technology offers new opportunities for connectedness, it also fosters "networked individualism," which weakens traditional communal bonds within the church. This article proposes a reconstruction of ecclesiological understanding that integrates contemporary digital challenges with fundamental theological principles of koinonia.
Abstrak
Artikel ini menganalisis fenomena krisis solidaritas komunal dalam gereja-gereja urban Indonesia di era hiperindividualisme digital melalui pendekatan fenomenologi. Dengan menggunakan kerangka teoretis dari Charles Taylor tentang "expressive individualism" dan konsep "social capital" dari Robert Putnam, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana teknologi digital dan budaya individualisme telah mengubah dinamika persekutuan gerejawi. Melalui analisis literatur komprehensif, studi ini menemukan bahwa fragmentasi komunitas gereja tidak hanya merupakan fenomena sosiologis tetapi juga krisis teologis yang mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun teknologi digital menawarkan peluang baru untuk keterhubungan, ia juga menciptakan "networked individualism" yang melemahkan ikatan komunal tradisional dalam gereja. Artikel ini mengusulkan rekonstruksi pemahaman eklesiologi yang mengintegrasikan tantangan digital kontemporer dengan prinsip-prinsip teologis fundamental tentang koinonia