Journal Widya Mandala Catholic University Surabaya / Jurnal Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
Not a member yet
    4152 research outputs found

    INVESTIGASI KARAKTERISTIK SMART BIODEGRADABLE FILM PACKAGING BERBASIS KITOSAN

    Get PDF
    The purpose of this study is to examine the impact of adding active ingredients from butterfly pea flower extract and eggshell powder on the physicochemical attributes of chitosan-based smart biodegradable film packaging. To perform the investigation, a randomized block design (RBD) with two factors was used. The butterfly pea flower extract was prepared with different ratios of dry butterfly pea flower and water: 0 (control, without butterfly pea), 1:250, and 1:125 (w/v). Additionally, eggshell powder was used at concentrations of 0 (control, without eggshell powder), 0.15%, and 0.3% (w/v). The study included tests for total phenol, total anthocyanin, antioxidant activity, percent elongation (elongation at break), water vapor transmission rate (WVTR), tensile strength, and ability as chicken meat packaging (color of film and meat, aroma, and pH score) on days 0, 1, 2, and 3. Data were analyzed using ANOVA (α = 5%) followed by a DMRT test to examine interactions between each factor. Results showed that adding active ingredients of butterfly pea extract and eggshell powder produced an interaction effect on total phenol (87.00 – 251.00 mg GAE/100 g), total anthocyanin (0.1419 – 2.8639 mg cyanidin 3-glucoside equivalent/100 g), antioxidant activity (8.15 – 65.54%), and WVTR (100.9420 – 126.4609 g/day/m2). The addition of eggshell powder significantly decreased tensile strength (10.345 – 2.680 N/mm2) and elongation at break (55.43 – 33.36%). During three days of storage, changes in the color, aroma, and pH of chicken meat and the film's color were observed, indicating that the film can be used as smart biodegradable film packaging

    PENGARUH HIGH PRESSURE PROCESSING (HPP) TERHADAP JUMLAH MIKROORGANISME DAN MASA SIMPAN SUSU HEWANI

    Get PDF
    Susu merupakan hasil sekresi dari induk mamalia yang dapat diperoleh dari sapi, kambing, domba, unta, dan keledai betina dewasa yang produktif. Komponen makronutrien dan mikronutrien pada susu menjadi media pertumbuhan yang mengandung nutrisi bagi mikroorganisme untuk beraktivitas dan berkembangbiak yang menyebabkan susu mudah mengalami kerusakan. Kerusakan pada produk susu umumnya dicegah dengan pengolahan secara termal seperti pasteurisasi dapat mengakibatkan perubahan karakteristik fisikokimia dan penurunan mutu sensoris susu. Salah satu alternatif dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan proses non- termal seperti High Pressure Processing (HPP). HPP merupakan proses non-termal dengan variasi tekanan dan suhu untuk mereduksi mikroorganisme, meningkatkan masa simpan serta meminimalisir adanya perubahan fisikokimia dan sensoris produk. Perlakuan HPP pada susu sapi, kambing, dan keledai dengan tekanan 600 Mpa mampu mereduksi jumlah mikroorganisme cukup efektif hingga <1 log cfu/mL, sedangkan untuk susu unta dan susu domba mengalami pereduksian jumlah mikroorganisme yang cukup signifikan menjadi 1,7-4,85 log cfu/mL. Susu sapi, susu kambing dan susu keledai yang diberi perlakuan HPP dengan tekanan 600 MPa selama 3-10 menit memiliki umur simpan selama 22 hari hingga 28 hari dengan rentang suhu 3-8 0C, sedangkan susu unta dengan tekanan 550 MPa dengan suhu 40C memiliki umur simpan selama 21 hari dan susu domba dengan tekanan 500 MPa selama 15 menit memiliki umur simpan 20 hari tanpa ada perubahan karakteristik fisikokimia.Kata kunci : Susu, High Pressure Processing (HPP), Jumlah Mikroorganisme, Masa Simpa

    PEMANFAATAN QUINOA DALAM PEMBUATAN PASTA DAN MIE

    Get PDF
    Pasta dan mie merupakan salah satu makanan instan dan praktis yang sering dikonsumsi oleh semua kalangan.Pasta dan mie umumnya terbuat dari gandum yang menghasilkan produk dengan kualitas protein dan aktivitasantioksidan yang kurang. Pasta dan mie dilakukan diversifikasi dengan substitusi bahan lain. Quinoa sebagaipseudo-serealia yang kaya akan protein dan aktivitas antioksidan dapat menjadi bahan potensial dalam pembuatanpasta dan mie gluten free maupun non-gluten free. Kajian ini mengulas tentang tepung quinoa, isolat protein quinoa, dan tepung germinated quinoa ketika disubstitusikan dalam pasta dan mie. Substitusi gandum dalam pasta dan mie menggunakan quinoa mampu meningkatkan kandungan dan kualitas protein, aktivitas antioksidan, kandungan pati, dan kemampuan daya serap air pasta dan mie. Peningkatan protein dan pati dalam pasta dan mie quinoa mempengaruhi proses pembuatan dan karakteristik akhir pasta dan mie. Substitusi pasta dan mie dengan quinoa meningkatkan jumlah air yang ditambahkan dalam adonan, ketebalan pasta dan mie, kadar air akhir, suhu dan waktu pengeringan. Karakteristik pasta dan mie quinoa yang dihasilkan mengalami peningkatan kekerasan, kemampuan daya serap air, swelling index, dan cooking loss serta mengalami penurunan warna kuning dan kecerahan.Kata Kunci: Quinoa, Karakteristik, Pasta, Mi

    The PENGARUH VARIASI KONSENTRASI XANTHAN GUM TERHADAP MUTU FISIK SERUM EKSTRAK DAUN MATOA (Pometia pinnata)

    No full text
    Excessive free radical production will cause wrinkles to appear on the skin. Matoa leaves contain flavonoid flavones that act as antioxidants to improve skin problems that can be utilized into serum preparations with the addition of xanthan gum thickening agent. This study was conducted with the aim to determine the effect of different concentrations of xanthan gum on viscosity, pH, spreadability and adhesiveness of matoa leaf extract (Pometia pinnata) serum preparations. This research was conducted with an experimental study using formulas with different concentrations of xanthan gum as a thickener, namely Formula I with a concentration of 0.5%, Formula II with a concentration of 1%, and Formula III with a concentration of 1.5%. Furthermore, the three formulas were evaluated for organoleptic test, homogeneity, pH, viscosity, spreadability, and stickiness. The data were then statistically processed using ANOVA or Kruskal Wallis method. The results of the study showed that of all the physical quality evaluations carried out there were significant differences between Formula I, Formula II, and Formula III. In the organoleptic test, the homogeneity, and adhesion of the serum preparation have met the requirements, but in the pH, viscosity, and dispersibility tests have not met the requirements. Therefore, it is concluded that the variation in xanthan gum concentration affects the physical quality of the serum preparation of matoa leaf extract (Pometia pinnata). The higher the xanthan gum given, it will increase the viscosity which will have an impact on reducing the dispersibility and lowering pH of the matoa leaf extract serum preparation.Produksi radikal bebas berlebih akan menyebabkan munculnya kerutan pada kulit. Daun matoa mempunyai kandungan flavonoid flavon yang berperan sebagai antioksidan untuk memperbaiki permasalahan kulit yang dapat dimanfaatkan menjadi sediaan serum dengan penambahan bahan pengental xanthan gum. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi xanthan gum terhadap viskositas, pH, daya sebar dan daya lekat dari sediaan serum ekstrak daun matoa (Pometia pinnata). Penelitian ini dilakukan dengan studi secara eksperimental menggunakan formula dengan perbedaan konsentrasi xanthan gum sebagai pengental, yaitu Formula I dengan konsentrasi 0,5%, Formula II dengan konsentrasi 1%, dan Formula III dengan konsentrasi 1,5%. Selanjutnya pada ketiga formula dilakukan evaluasi mutu fisik yaitu uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat. Data kemudian diolah secara statistik menggunakan metode ANOVA ataupun Kruskal Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari semua evaluasi mutu fisik yang dilakukan terdapat perbedaan yang signifikan antara Formula I, Formula II, dan Formula III. Pada uji organoleptis, homogenitas, dan daya lekat sediaan serum telah memenuhi persyaratan, namun pada uji pH, viskositas, dan daya sebar belum memenuhi persyaratan. Sehingga disimpulkan bahwa variasi konsentrasi xanthan gum memberikan pengaruh terhadap mutu fisik sediaan serum ekstrak daun matoa (Pometia pinnata). Semakin tinggi xanthan gum yang diberikan, maka akan meningkatkan viskositas yang berdampak pada penurunan daya sebar dan penurunan pH dari sediaan serum ekstrak daun matoa

    Hubungan Pengetahuan, Sikap, Dan Motivasi Perawat Dengan Pelaksanaan Keperawatan Pada PAsien Dengan Kondisi End Of Life Di Ruang Intensive Care Unit Rumah Sakit X Jakarta

    No full text
    Pendahuluan: Perawatan End Of Life adalah perawatan pasien terminal mendekati akhir hayat sebagai persiapan pasien meninggal dengan damai dan bermartabat. Pengetahuan, sikap dan motivasi perlu dimiliki oleh perawat ICU untuk menentukan asuhan keperawatan EOL. Tujuan: Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan pengetahuan,sikap dan motivasi perawat ICU dalam memberikan perawatan EOL. Metode: Metode yang digunakan deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional pada 56 sampel di RS X. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan pelaksanaan perawatan EOL dengan pengetahuan perawat (nilai p 0.004), sikap (nilai p 0.006), dan motivasi perawat (nilai p 0.000). Pembahasan: Pengetahuan perawat ditentukan dari kesiapan pendidikan di kurikulum dan pelatihan perawatan EOL diperlukan untuk kesiapan perawat. Sikap perawat terhadap perawatan EOL ditentukan oleh persepsi perawat terhadap akhir hayat dan topik ini juga cenderung dihindari. Kesimpulan: Rekomendasi untuk kurikulum dan pelatihan akhir hayat serta pembinaan motivasi perawat agar pelaksanaan perawatan EOL dapat terlaksana dengan baik

    Cyberbullying Victimization Dan Kesehatan Mental Remaja

    Get PDF
    Latar Belakang: Cyberbullying victimization ditimbulkan secara sengaja dan terus menerus oleh para pelaku, yang bermaksud mengancam korban dengan bermacam rupa, baik secara verbal, fisik, hingga mengganggu kesehatan mental. Sebagian remaja di SMA Hang Tuah 4 Surabaya mengatakan bahwa mereka pernah menjadi cyberbullying victimization hingga mengalami gangguan kesehatan mental. Tujuan: tujuan penelitian ini menganalisis hubungan cyberbullying victimization terhadap kesehatan mental remaja pertengahan di SMA Hang Tuah 4 Surabaya. Metode: Desain penelitian ini menggunakan studi korelasi dengan pendekatan cross sectional. Responden dalam penelitian ini berjumlah 124 siswa dengan menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian cyberbullying victimization adalah kuesioner CYBVICS (Cyberbullying Victimization Scale) dan instrumen penelitian kesehatan mental adalah MHI-38 (Mental Health Inventory-38). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan lebih dari 50% (54%) responden termasuk cyberbullying victimization tinggi dan lebih dari 50% (61%) responden memiliki kesehatan mental rendah dengan hasil uji rank spearman p =0,000 dan r = (-) 0,633. Kesimpulan: ada hubungan kuat dengan arah negatif yang artinya semakin tinggi cyberbullying victimization maka semakin rendah kesehatan mental remaja pertengahan di SMA Hang Tuah 4 Surabaya. Sebagai masukan untuk meningkatkan efektivitas bimbingan konseling, kepala sekolah dapat meningkatkan kembali tugasnya dengan aktif membuat jadwal konseling tiap bulannya untuk mencegah adanya cyberbullying victimization

    Seeing vs Experiencing: Generation Z’s Needs and Satisfaction in Consuming 2D vs VR News

    No full text
    This study aims to examine the comparative experience of Generation Z as potential news consumers when utilizing two-dimensional (2D) and virtual reality (VR) news sources. What are their needs, and if those needs are fulfilled. Participants in the study were students between the ages of 18 and 21 who were enrolled in one of ten different study programs and lived in urban regions of Jabodetabek Indonesia. The study makes use of the concept of Gratification Sought, which encompasses five different aspects of needs: cognitive, affective, personal identity/interactive needs, social interaction and integration, and tension relief. The study employs a mixed-method approach, and the data gathering procedure is carried out through the use of questionnaires. A number of conclusions concerning the needs and levels of satisfaction related with the consumption of 2D and VR news can be identified from the outcomes of the study. Virtual reality media succeeds in fulfilling affective needs and delivering higher levels of satisfaction on identity and social connection when compared to 2D media. Nonetheless, there are limitations in adequately addressing cognitive needs. Meanwhile, 2D media remains a robust option for informational and cognitive needs, but it has a tendency to inadequately address affective needs and managing tension. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengalaman komparatif Generasi Z sebagai calon konsumen berita saat menggunakan sumber berita dua dimensi (2D) dan realitas virtual (VR). Penelitian ini mengeksplorasi apa kebutuhan mereka dalam mengkonsumsi berita dan sejauh mana kebutuhan tersebut terpenuhi. Informan dalam penelitian ini adalah mahasiswa berusia 18 hingga 21 tahun yang terdaftar dalam salah satu dari sepuluh program studi dan tinggal di wilayah perkotaan Jabodetabek di Indonesia. Penelitian ini mengadopsi konsep Gratification Sought yang mencakup lima aspek kebutuhan: kognitif, afektif, identitas pribadi/kebutuhan interaktif, interaksi dan integrasi sosial, serta pelepasan ketegangan. Pendekatan yang digunakan adalah metode campuran, dengan pengumpulan data melalui kuesioner. Hasil penelitian mengungkap sejumlah temuan terkait kebutuhan dan tingkat kepuasan yang berkaitan dengan konsumsi berita 2D dan VR. Media VR terbukti lebih mampu memenuhi kebutuhan afektif serta memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi dalam aspek identitas dan koneksi sosial dibandingkan dengan media 2D. Namun, media VR memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan kognitif secara memadai. Di sisi lain, media 2D tetap menjadi pilihan yang kuat untuk memenuhi kebutuhan informasi dan kognitif, meskipun cenderung kurang optimal dalam mengakomodasi kebutuhan afektif dan pengelolaan ketegangan..

    EPIDEMIOLOGICAL SURVEILLANCE ON DIARRHEAL DISEASES AT PASIR PANJANG PRIMARY HEALTH CARE CENTER 2025

    Get PDF
    Diarrheal disease remains a major public health concern in Kupang City, particularly in the service area of Pasir Panjang Public Health Center (PHC). Epidemiological surveillance plays a vital role in early detection and disease control. This study aims to describe the implementation of diarrheal disease surveillance at Pasir Panjang PHC. A descriptive qualitative approach involved in-depth interviews, observations, and document reviews. Informants included surveillance officers, health workers, and community health volunteers (cadres). Results showed that surveillance activities are conducted by trained personnel and supported by the Health Operational Assistance (BOK) program, which adequately funds promotive and preventive efforts. However, medicine procurement is managed by the District Health Office's Pharmacy Installation. Surveillance data are collected through reports from medical services, sub-health centers (Pustu), and cadres, with monitoring and reporting performed via the SIHEPI application. The surveillance targets all community members, especially vulnerable groups such as infants, toddlers, and the elderly. Notably, the highest incidence was found among children over five years old, potentially linked to school food hygiene, although further investigation has not been conducted. SWOT analysis revealed strengths in trained personnel and data completeness. Weaknesses include poor hygiene practices in the community (PHBS) and an increasing trend in cases. Opportunities lie in using digital media for health promotion and intersectoral collaboration to enhance surveillance efforts. These findings highlight the importance of strengthening health education and focusing on vulnerable groups to improve disease prevention and control strategies at the primary health care level

    COMPARISON OF THE QUALITY OF LIFE OF PATIENTS PRE AND POST SENILE CATARACT SURGERY WITH PHACOEMULSIFICATION TECHNIQUE AT PHC HOSPITAL SURABAYA

    Get PDF
    Background : Cataract is an eye disease that causes the clear lens to become cloudy. This results in visual impairment and reduces a person's quality of life. Cataracts impair a person's ability to see at a distance, resulting in impediments to mobility related to dependency such as the ability to recognize people, see and avoid obstacles on the road. Cataracts can also impair a person's ability to see at close range. Cataract patients can therefore experience difficulty in performing activities such as dressing, reading and sewing. One way to treat cataracts is by performing cataract surgery using the phacoemulsification technique. This surgery allows the lens to heal naturally without the need for stitches, allowing the patient to resume their daily activities and improve their quality of life. Objective: To find the difference in quality of life between pre and post senile cataract surgery patients with phacoemulsification technique at PHC Surabaya Hospital. Methods: Quality of life scores were taken using a quality of life research questionnaire for senile cataract patients containing 25 question points divided into 11 subscales. Data collection will be carried out twice, namely before phacoemulsification cataract surgery and 8 weeks after phacoemulsification cataract surgery. Results: There is a significant difference between pre and post cataract surgery quality of life with phacoemulsification technique based on the quality of life research questionnaire for senile cataract patients at PHC Surabaya Hospital, with the result (P=0.000). Conclusion: There is a significant difference between the quality of life pre and post phacoemulsification cataract surgery at PHC Surabaya Hospital based on the cataract patient quality of life research questionnaire

    THE DIFFERENCES BETWEEN SHORT WAVE DIATHERMY (SWD) AND EXTRACORPOREAL SHOCK WAVE THERAPY (ESWT) EFFICACY IN PATIENTS WITH SACROILIAC JOINT PAIN AT PHC HOSPITAL SURABAYA

    Get PDF
    Background: SIJ pain is a common cause of mechanical LBP with a prevalence of 15-30%. This condition causes various impacts so that it needs treatment in the field of Medical Rehabilitation. At PHC Hospital Surabaya, SIJ pain is typically treated with SWD-TENS therapy. There’s limited research on ESWT for this condition, but a research by Moon YE et al. (2017) found it to be quite effective. Researcher wants to know whether there is a difference in the efficacy of SWD-TENS with ESWT-TENS. Objective: Proving the results of differences in reducing pain intensity and increasing the functional ability of SIJ pain patients in groups given SWD-TENS with ESWT-TENS at PHC Hospital Surabaya. Methods: This research is an experimental study using two group pretest-posttest involving 30 subjects with consecutive sampling technique. Results: There are significant differences in pain intensity (p=0.001) and the level of functional ability (p = 0.009) at week 4 after therapy between SIJ pain patients who receive SWD-TENS with ESWT-TENS, Additionally, there is a significant difference in terms of healing between patients treated with SWD-TENS and ESWT-TENS (p = 0.007). Conclusion: There is a significant difference in pain intensity and the level of functional ability of SIJ pain patients in the groups given SWD-TENS with ESWT-TENS at PHC Hospital Surabaya so that ESWT-TENS has a higher efficacy in healing patients with SIJ pain, and proven to be more time-effective and cost-efficient

    3,513

    full texts

    4,152

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journal Widya Mandala Catholic University Surabaya / Jurnal Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇