Jurnal Online Universitas Katolik Parahyangan / Parahyangan Catholic University Journal
Not a member yet
3954 research outputs found
Sort by
STUDI ARSITEKTUR BANGUNAN-BANGUNAN KAYU PADA KOMPLEKS DHARMASALA BERDASARKAN REKONSTRUKSI ARSITEKTUR VIRTUAL
Abstract - It was originally estimated that in the Dieng Plateau there were around 400 temples which brought up a theory that it was used to be an important Hindu pilgrimage site at its time. At the Dieng Temple Complex, stands Dharmasala Complex which is a wooden building complex with an area of approximately 4,500m2. In Hindu-Buddhist religious practice, dharmasala is a place for pilgrims to rest and get ready before doing the ritual in the temples. Many architectural studies on stone buildings, such as temples, have been carried out, however, buildings made of wood received less attention. This architectural study aims to provide an overview of the form of these wooden buildings and their functions. In archeology and architecture, to estimate the form of a building which parts are too separated or the remains are insufficient, virtual reconstruction techniques can be used. The result is the form of those buildings are composed of wooden structures that stand on stone pedestals, with woden plank walls, bamboo rafters, and roof coverings made of thatch. With rigid frame as the structural system and the roof forms vary between the saddle and the hip, all of them follow contextual building rules for a tropical climate which must protect its users from heat and rain. The three plots have different functions and characters. Plot 1 with the function of supporting the activities of the pilgrims that are getting ready to go to the temple, plot 2 with the function that is estimated to be classrooms and plot 3 with the function of lodging or dormitory.
Keywords: reconstruction, wooden structures, DharmasalaAbstrak - Diperkirakan semula di Dataran Tinggu Dieng terdapat sebanyak 400 candi yang menjadi teori bahwa daerah percandian Dieng merupakan suatu pusat keagamaan Hindu yang penting pada zamannya. Terdapat Kompleks Dharmasala yang merupakan kompleks bangunan kayu dengan luas kurang lebih 4.500m2. Dalam praktek keagamaan Hindu Buddha, dharmasala merupakan tempat untuk para peziarah yang akan ke candi untuk beristirahat dan bersiap-siap. Kajian arsitektur mengenai bangunan batu telah banyak dilakukan, namun untuk bangunan berbahan dasar kayu masih kurang mendapatkan perhatian. Studi arsitektur ini bertujuan memberikan gambaran mengenai wujud dari bangunan-bangunan kayu tersebut serta fungsinya. Dalam ilmu arkeologi dan arsitektur, untuk melakukan perkiraan wujud sebuah bangunan yang sudah tidak tersisa atau bagiannya terlalu terpisah, dapat digunakan teknik rekonstruksi virtual. Didapatkan hasil wujud bangunan-bangunan yang tersusun dari struktur kayu yang berdiri di atas umpak-umpak batu, berdinding papan kayu, berkaso bambu, dan penutup atapnya dari ijuk. Sistem strukturnya rangka batang dan bentuk atap antara pelana dan perisai, namun semuanya mengikuti kaidah bangunan di iklim tropis yang harus melindungi penngguna dari panas dan hujan. Ketiga petak memiliki fungsi dan sifat yang berbeda-beda. Petak 1 dengan fungsi menunjang kegiatan para peziarah yang hendak berziarah ke candi, petak 2 dengan fungsi bangunan yang diperkirakan merupakan ruang-ruang kelas, dan petak 3 yang diperkirakan memiliki fungsi penginapan atau asrama.
Kata Kunci: Rekonstruksi, Bangunan Kayu, Dharmasal
PENGARUH TEKNIK PENCAHAYAAN ALAMI DAN BUATAN TERHADAP PERSEPSI KESAKRALAN PENGGUNA DI RUANG IBADAH GEREJA SANTO MATIAS RASUL KOSAMBI, JAKARTA
Abstract - As one of the main design elements in sacred spaces, natural and artificial light, plays an important role in responding to the issue of the reduced sacredness of the modern Catholic Church. Santo Matias Rasul Kosambi Church, Jakarta, is a modern Catholic Church designed using natural and artificial lighting techniques. This study aims to determine the effect of differences in natural and artificial lighting techniques during morning and evening worship on the user’s perception of sacredness in the worship room of the Church of Santo Matias Rasul Kosambi, Jakarta.
The research was conducted using an qualitative approach (physical observation of the worship space, shape, zone and circulation, enclosing elements and space fillers) and quantitative data (dimensions and proportions of space) and photometric measurements of light (illumination level and luminance)). Aftab Alfa software was used to help display the contrast comparison of the overall church space. The questionnaire was conducted to take the user\u27s perception of the appearance of the room in the morning and evening with natural and artificial lighting which was carried out in a virtual reality room display with 360⁰ photo visualization. The analysis was used to develop the role of lighting techniques used in church rooms in awakening the sacredness of space. Quantitative analysis was carried out by processing the perception data of the questionnaire results using the JMP Pro data processing software.
The clarity of the symbolization and ornamentation in the altar area and the clarity of the flow of space in the morning worship has a better value than at night worship. However, night worship is still considered more sacred because of the size and monumental scale of space, clarity of the hierarchy of worship space, and emotion, the value at night worship is higher than during morning worship. The perception that most influences the assessment of the sacredness of the worship space is the size and monumental scale of the space, as well as indicators of the emotions felt in the space, especially positive emotions in the worship space. The clarity of the spatial hierarchy also influences the emotions of admiration, hope, joy, and peace.
Keywords: lighting technique, Catholic Church, perception of sacredness, Saint Matias Kosambi JakartaAbstrak - Sebagai salah satu elemen desain utama dalam ruang sakral, cahaya baik alami maupun buatan berperan penting dalam menanggapi isu berkurangnya sakralitas Gereja Katolik modern. Gereja Santo Matias Rasul Kosambi, Jakarta, merupakan Gereja Katolik modern yang didesain menggunakan strategi pemasukan pencahayaan alami dan teknik pencahayaan buatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan teknik pencahayaan alami dan buatan pada waktu ibadah pagi dan malam terhadap persepsi kesakralan pengguna di ruang ibadah Gereja Santo Matias Rasul Kosambi, Jakarta.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif (pengamatan fisik ruang ibadah yaitu bentuk, zona dan sirkulasi ruang, elemen-elemen pelingkup dan pengisi ruang) dan data kuantitatif (pengukuran ruang (dimensi dan proporsi ruang) dan pengukuran potometrik cahaya (tingkat iluminasi dan luminansi)). Perangkat lunak Aftab Alfa digunakan untuk membantu menampilkan perbandingan kontras pada ruang gereja secara keseluruhan. Kuesioner dilakukan untuk mengambil data persepsi pengguna terhadap tampilan ruang pada pagi dan malam hari dengan pencahayaan alami dan buatan yang dilakukan dalam tampilan ruang realitas virtual dengan visualisasi berupa foto 360⁰. Analisis kualitatif digunakan untuk mengevaluasi peran teknik pencahayaan yang digunakan pada ruang gereja dalam membangkitkan kesakralan ruang. Analisis kuantitatif dilakukan dengan mengolah data persepsi hasil kuesioner menggunakan perangkat lunak pengolah data JMP Pro.
Faktor kejelasan simbolisasi dan ornamentasi pada area altar dan kejelasan alur ruang pada ibadah pagi memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan dengan pada waktu ibadah malam. Namun, ibadah malam masih dinilai lebih sakral karena pada faktor ukuran dan skala monumental ruang, kejelasan hirarki ruang ibadah, dan emosi, nilai pada waktu ibadah malam lebih tinggi dibandingkan pada waktu ibadah pagi. Persepsi yang paling dirasakan mempengaruhi penilaian kesakralan ruang ibadah adalah ukuran dan skala monumental ruang, serta indikator emosi yang dirasakan pada ruang, terkhusus emosi positif pada ruang ibadah. Faktor kejelasan hirarki ruang juga turut mempengaruhi emosi kekaguman, harapan, kegembiraan, dan kedamaian.
Kata-kata kunci: teknik pencahayaan, Gereja Katolik, persepsi sakralitas, Santo Matias Rasul Kosambi Jakart
Penerapan Model State Capitalism sebagai Strategi Pembangunan Ekonomi Singapura
Since its independence, Singapore has transformed from a developing country into one of the most economically developed ones by implementing state capitalism. State capitalism adopts liberalism and mercantilism to intensify the supervision of government in the midst of economic liberalization. This intrigues further question in regards how Singapore is able to find the common ground between state and business actors\u27 interest through the creation of State Owned Enterprises (SOEs) and how the government execute its involvement, this article focuses on the implementation of state capitalism and its impacts on the companies and vital industries’ development. This article analyses the implementation of state capitalism in three periods: pre state capitalism, after independence, and after crisis (1998-2022)
Keywords: state capitalism; State Owned Enterprises; Government Linked CompaniesSejak awal kemerdekaannya, Singapura telah bertransformasi dari negara berkembang menjadi salah satu negara perekonomian maju melalui penerapan state capitalism. State capitalism mengadopsi ide liberalisme dan merkantilisme yang sejatinya bertolak belakang, yaitu memperkuat supervisi pemerintah di tengah upaya liberalisasi ekonomi. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana penerapan model state capitalism mampu memacu pembangunan ekonomi Singapura. Dalam artikel ini, penulis hendak menjelaskan bagaimana model state capitalism Singapura mampu mempertemukan kepentingan negara dan aktor bisnis melalui kreasi State Owned Enterprises (SOEs) dan bagaimana pemerintah mengeksekusi keterlibatannya, tulisan ini akan fokus kepada penerapan state capitalism dan dampaknya pada level perusahaan serta pada pertumbuhan industri vital negara. Tulisan ini akan menganalisa penerapan state capitalism dalam tiga periode, yaitu pra-state capitalism, pasca kemerdekaan, dan pasca krisis 1998 hingga tahun 2022.
Kata kunci: state capitalism; State Owned Enterprises; Government Linked Companie
Gender and Feminism in an Islamic Perspective
The great dominance of men in various areas of life and the injustice felt by Western women had an impact on the emergence of the feminist movement, which initially only demanded equal rights to continue education in all aspects, including gender equality. This study uses a literature review method on writings that talk about Islam and Feminism. From the research results, it was found that in Islam, the roles of men and women in terms of politics, economics, education, social life and legal sanctions have the same portions and responsibilities. Islamic texts urge the progress and role of women in various areas of good life
Karisma dalam Sejarah dan Ajaran Gereja
Artikel ini bertujuan menelusuri kelahiran dan perkembangan ‘karisma’ dalam sejarah Gereja Katolik. Melalui studi kepustakaan, peneliti menemukan bahwa Pauluslah yang pertama kali menciptakan term tersebut. Kata karisma digunakan Paulus untuk menyebut anugerah karunia Roh Kudus demi pembangunan jemaat. Menurut kesaksian para Bapa Gereja, karisma-karisma, baik yang biasa maupun yang spektakuler, menyertai para rasul dan pemimpin jemaat Gereja perdana. Namun jejak-jejak karisma tidak ditemukan lagi dalam tulisan-tulisan di atas abad IV. Antara masa tersebut sampai akhir abad XIX disebut oleh Gereja sebagai masa ketika karisma tidak menjadi topik yang terdepan dan terutama dalam kehidupan Gereja. Tetetapi tidak berarti karisma hilang begitu saja, Karisma masih lestari dalam bentuknya yang biasa demi kelangsungan hidup Gereja sehari-hari dan dalam bentuknya yang luar biasa dalam individu-individu tertentu.This article seeks to participate in the efforts to trace the birth and development of \u27charisma\u27 in the history of the Catholic Church. Through literature examination, researchers found that Paul was the first to create this term. The word charism is used by Paul to refer to the gifts of the Holy Spirit for the edification of the church. According to the testimony of the Church Fathers, charisms, both ordinary and spectacular, accompanied the apostles and leaders of the early Church. However, traces of charisma are no longer found in the writings after the fourth century. Between this period and the end of the nineteenth century is called by the Church: the period when charisms were not in the front and center in the life of the Church. But that does not mean charisma just disappears. The charism is still preserved in its ordinary form for the daily life of the Church and in its extraordinary form in certain individuals
Memikirkan Ulang Fondasi Definitif Filosofis dari Fotografi
This text discusses the problematic nature of photography since its inception. This disposition arises because photography is a manifestation of the dualistic thinking pattern matured by René Descartes and radicalized by Immanuel Kant. Photography, which began in the 19th century, was analog and relied on the permanent traces of time caused by chemical reactions. The strong claim of photography against the singularity of artistic work positions it as a threat to the value of art on one hand, while on the other, photography opens up various new approaches to artistic expression. Around 150 years after its birth, photography faced a serious challenge: even with digital technology, which eliminates the permanence of time traces, photography was considered "dead." This perceived death of photography led to ideological approaches viewing the existence of photography as post-medium discourse. By examining the development of major literature during the transition from analog to digital photography, this ideological approach further guides the discourse on photography as a metatheoretical and paradigmatic area. By shedding temporal elements, the discourse on photography moves more agilely within the framework of complex material monism—becoming a way of existing in a non-dualistic knowledge structure.Fotografi sudah selalu problematis mulai dari masa kelahirannya. Disposisi ini terjadi karena fotografi adalah pengejawantahan dari pola pikir dualisme yang matang di René Descartes dan diradikalkan oleh Immanuel Kant. Fotografi yang dimulai di abad ke-19 adalah fotografi analog yang mengandalkan pada jejak permanen waktu yang disebabkan oleh reaksi kimia. Gugatan kuat fotografi terhadap singularitas karya seni membuat fotografi di satu sisi dianggap sebagai ancaman terhadap nilai dari karya seni, di sisi lain fotografi membuka berbagai pendekatan baru terhadap cara berkesenian. Sekitar 150 tahun setelah kelahirannya, fotografi mendapatkan tantangan yang sangat serius: bahkan dengan teknologi digital yang membuat jejak waktu tidak lagi menjadi permanen, fotografi dianggap “mati”. Kematian fotografi ini kemudian memunculkan pendekatan ideologis yang melihat keberadaan fotografi sebagai pewacanaan pasca-medium. Dengan memeriksa perkembangan literatur utama di masa transisi fotografi analog ke digital, pendekatan ideologis ini selanjutnya menuntun pewacanaan fotografi sebagai wilayah metateori yang paradigmatik. Dengan menanggalkan elemen temporal, diskursus fotografi bergerak lebih lincah dalam kerangka monisme material kompleks – dengan menjadi cara berada dalam bangun pengetahuan non-dualis.  
Fenomena Hate Speech (Ujaran Kebencian) Di Indonesia Dalam Tinjauan Filsafat Manusia
Tulisan ini berfokus pada fenomena hate speech (ujaran kebencian) yang terjadi dalam realitas kehidupan manusia terutama dalam konteks Indonesia sebagai negara multikultural. Perkembangan teknologi komunikasi yang semakin pesat menjadi lahan subur bagi penyebaran hate speech karena komunikasi sudah dapat digunakan melalui jarak jauh yaitu dengan melalui berbagai platform media sosial. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan kualitatif: studi atas berbagai referensi yang membahas fenomena hate speech yang kemudian ditelusuri dalam telaah ilmu filsafat manusia terutama dalam hal komunikasi manusia, kesadaran manusia akan kehadiran yang lain, dan kebebasan manusia sebagai makhluk yang otonom terutama dalam berpendapat. Hal yang dapat penulis temukan melalui tulisan ini adalah bahwa hate speech terjadi karena manusia hanya mengandalkan perasaan dan kebebasan kehendak dalam berhadapan dengan yang lain. Manusia masih kurang sadar bahwa kehidupannya tidak dapat dilepaskan dari peranan yang lain. Hate speech membuat antara manusia sebagai subjek ‘aku’ dengan yang lain saling membenci dan memusuhi. Maka, tinjauan filsafat manusia ini berusaha untuk membangun kembali kesadaran manusia sebagai ‘being with the others’ (ada bersama yang lain) sehingga manusia seharusnya lebih mengutamakan upaya persahabatan dan kerukunan daripada membuat suatu permusuhan dan kebencian satu sama lain
Transformasi Budaya Organisasi melalui Internalisasi Core Values AKHLAK di PT TASPEN Kantor Cabang Jember
The Trusting, Competent, Harmony, Loyal, Adaptive, and Collaboarative (AKHLAK) Core Values serve as a unifying element for work culture, moral principles, and behavioral guidelines that must be implemented by human resources in state-owned enterprises, including TASPEN Jember. This is crucial for an organization’s progress due to recent challenges faced by state-owned enterprises, such as a lack of adherence to high moral standards. The objective of this research is to understand the changing process of organizational culture at TASPEN Jember through the implementation of AKHLAK Core Values. The theory used in this research is Kurt Lewin\u27s (1947) Change of Model Theory. This study employs a qualitative method with a phenomenological approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The data were then tested for validity and analyzed through source and technique triangulation. The results of this study indicate the stages or processes of organizational culture transformation through the phases of unfreezing, movement, and refreezing. The transformation process begins with the unfreezing stage, which involves dissolving the old culture of Taspen, known as TASPENKU. During this phase, employees are motivated to adapt and open themselves to change. This is followed by the movement stage, where Core Values AKHLAK are implemented. In this phase, employees are required to apply every aspect of AKHLAK values within their work environment. Finally, the refreezing stage involves TASPEN Jember employees maintaining and reinforcing the AKHLAK values that have been successfully adopted.Core Values Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif (AKHLAK) hadir sebagai perekat budaya kerja, prinsip moral, dan panduan perilaku yang harus diimplementasikan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) termasuk TASPEN Jember. Nilai moral yang tidak dijunjung tinggi berpotensi menjadi masalah penting bagi kemajuan organisasi BUMN. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses perubahan budaya organisasi yang terjadi di TASPEN Jember melalui penerapan Core Values AKHLAK. Teori yang digunakan dalam penelitian adalah model perubahan Kurt Lewin (1947). Penelitian ini dijalankan dengan menggunakan metode kualitatif. Data dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Selanjutnya, keabsahan data diuji untuk dianalisis menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil dari penelitian ini adalah penjabaran proses transformasi budaya organisasi melalui tahapan unfreezing, movement dan refreezing. Proses transformasi diawali dengan tahap unfreezing atau mencairkan budaya TASPEN yang lama yakni TASPENKU. Dalam hal ini, para pegawai memiliki motivasi untuk menyesuaikan dan membuka diri terhadap perubahan yang terjadi. Kemudian, transformasi dilanjutkan dengan tahap movement yakni dengan penerapan Core Values AKHLAK. Dalam hal ini, para pegawai diharuskan mengimplementasikan setiap aspek nilai AKHLAK di dalam lingkungan kerjanya. Selanjutnya, yakni tahap refreezing, para pegawai TASPEN Jember mempertahankan dan memperkuat nilai-nilai AKHLAK yang telah berhasil diadopsi
Mencari Bentuk Estetika Nusantara: Problematika dan Relevansi Estetika Kantian dari Perspektif Estetika Analitis
Finding a common philosophical grounding for an Indonesian aesthetics seems to have been problematic. In another word, for a string of archipelagos consisting diverse customs and cultures partially constructed through colonial invasions dating from the 17th century, defining its existential beauty is never a simple argumentative task. The author attempts to elaborate Immanuel Kant’s ideas from his seminal work Critique of Judgment, although Kant’s central position in aesthetics studies does not imply that his disposition is free from ambiguity. The author employs analytical philosophy approaches to elaborate Kant’s ambiguous position and weakness. These are intended as preliminary step towards implementing Kant’s argument in building a fundamental Indonesian aesthetics theory with sufficient explanatory power to describe the variety of Indonesian traditional arts. Further step is to form a strong theoretical foundation for the development of artistic practices in the modern Indonesia. This article concludes that Kant’s implied position of the sublime could be a viable alternative in resolving this conundrum
Kritik Pemikiran Theodor Adorno tentang Status Heteronom Musik Jazz
Theodor W. Adorno, a prominent thinker in the Frankfurt School, articulated his views on jazz music. He considered jazz music to be ‘functional’ music (Gebrauchsmusik) serving the bourgeois class in the post-war period. Furthermore, Adorno observed that the spontaneity in jazz music was a myth as it originated from the 32-bar song patterns akin to Broadway tunes. Through improvisation, jazz music created an illusion of uniqueness in its ‘products’ by emphasizing a distinctive style of performance. However, Adorno argued that improvisation, inadvertently, was constructed within similar constraints across various musical compositions. Additionally, in another accusation, Adorno regarded blue notes in jazz music performance as an error that one attempts to correct within their own auditory perception. Conversely, Adorno extolled music containing Arnold Schoenberg’s twelve-tone technique as autonomous art capable of social critique through internal logic within the music itself. This article seeks to pinpoint Adorno’s fallacies in his critique of jazz music, based on his failure to formulate the ontological aspects of jazz music which rigidly adhere to canonical forms, his inability to situate the potential of jazz music within autonomous art, and the distortions stemming from stereotypes about jazz music prevalent in his time