Jurnal Online Universitas Katolik Parahyangan / Parahyangan Catholic University Journal
Not a member yet
3954 research outputs found
Sort by
EVALUASI KARAKTERISTIK AGREGAT TERHADAP KERUSAKAN RUTTING PADA CAMPURAN SPLIT MASTIC ASPHALT HALUS
Abstract
Rutting is a type of damage that occurs in the form of grooves on the road pavement surface caused by traffic loads, material quality, and asphalt mix design. This study aims to determine the potential for rutting in a Split Mastic Asphalt-Fine mix using two types of aggregate, namely aggregate-1 and aggregate-2. Permanent deformation test was conducted using a Hamburg Wheel Tracking Device under dry conditions at 60°C and 10,000 passes. This study shows that aggregate characteristics influence the potential for rutting. Test results indicate that the SMA-Fine asphalt mix using aggregate-1 has better permanent deformation resistance than the SMA-Fine asphalt mix using aggregate-2.
Keywords: rutting damage; asphalt mix; permanent deformation; aggregate characteristics
Abstrak
Kerusakan Rutting merupakan suatu kerusakan yang berbentuk alur pada permukaan perkerasan jalan yang disebabkan oleh beban lalu lintas, kualitas material, dan rancangan campuran beraspal. Studi ini bertujuan untuk menentukan potensi terjadinya rutting pada campuran Split Mastic Asphalt-Halus, yang menggunakan 2 jenis agregat, yaitu agregat-1 dan agregat-2. Pengujian deformasi permanen dilakukan dengan alat Hamburg Wheel Tracking Device, dengan kondisi kering pada temperatur 60°C dan 10.000 lintasan. Studi ini menunjukkan bahwa karakteristik agregat memengaruhi potensi terjadinya kerusakan rutting. Hasil pengujian menunjukkan campuran beraspal SMA-Halus yang menggunakan agregat-1 memiliki ketahanan deformasi permanen yang lebih baik dibandingkan dengan campuran beraspal SMA-Halus yang menggunakan agregat-2.
Kata-kata kunci: kerusakan rutting; campuran beraspal; deformasi permanen; karakteristik agrega
MENGEKSPLORASI DOKTRIN STANDING DI PERADILAN ADMINISTRASI INDONESIA: TAFSIR DAN HASIL
The authority to bring a claim before Indonesia’s administrative courts originates from the phrase “feeling that his interests have been harmed” in Article 53(1) of the State Administrative Court Act. Because this clause is open‑textured, it must be interpreted to define its exact reach. Using doctrinal legal analysis of court rulings and scholarly commentary on standing, this study concludes that two categories of plaintiffs can sue: (1) individuals or private legal entities that suffer direct losses from government acts or decisions, and (2) qualifying organizations. For an individual or private entity to obtain standing, it must demonstrate (i) a recognizable interest, (ii) a legal connection to the disputed act or decision, and (iii) harm to that interest caused by the government’s unlawful conduct. Organizational standing is available to bodies that satisfy statutory requirements to appear in court and that litigate not for their own interests but for the public purpose they were created to serve. Standing may also be granted when the harm is merely potential, allowing the administrative court to act preventively before actual damage occurs
Perancangan Stasiun Menyetrika yang Ergonomis untuk Penyedia Jasa Penatu Rumahan dengan Pendekatan Antropometri dan Quality Function Deployment
Laundry services are still used by many people, indicated by its existence, especially in office areas and universities. Not only they offer clothes washing but also ironing such that the clothes are ready to wear directly by consumers. Ironing is a process that requires the longest time so that the workload of the operators is heavier than operators in other work stations. As repetitive force is required in controlling the iron, they need supportive facilities to lessen the burden to the body. Moreover, the narrow working space especially for small, medium enterprises (SMEs) does not allow them to take a seat for while working, leading to fatigue and sores. Motivated by this, through this research we designed an ergonomic facility for ironing work station in laundry shops. We employed Quality Function Deployment method for product development that takes what kind of support the customer needs into account, as well as anthropometry approach to ensure the comfort of the user. Design process consists of four common steps of Ulrich and Eppinger, namely planning, concept development, system-level design, and detail design, while the latter step of testing and refinement was not employed as the product is in the form of 3D prototype. The pilot study found complaints from ironing station operators of several stores due to the inadequate facilities. In this research, the design process involved uncovering main requirements along with supporting needs which are then translated into an ergonomic and multifunctional ironing facility for laundry services belonging to SMEs as the user-centric solution. That is, space saving and comfortable for the operators as well as reduce the risk of musculoskeletal disorder.Jasa penatu tidak hanya sekedar menawarkan jasa mencuci tetapi juga menyetrika hingga pakaian siap dipakai langsung oleh konsumen. Proses menyetrika merupakan proses yang memerlukan waktu paling lama sehingga beban kerja operator lebih berat dibandingkan dengan operator pada proses lainnya. Proses menyetrika membutuhkan dukungan fasilitas yang mumpuni untuk mengurangi beban kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang stasiun kerja menyetrika yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang ergonomis. Fasilitas stasiun kerja menyetrika harus mempertimbangkan kondisi area kerja yang sempit dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang kerja. Pengembangan desain produk dilakukan dengan menggunakan metode Quality Function Deployment untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan konsumen yaitu operator menyetrika di stasiun kerja menyetrika dalam menjalankan aktivitas pekerjaannya serta pendekatan antropometri agar fasilitas stasiun kerja menyetrika dapat memberikan kenyamanan bagi operator. Tahapan perancangan produk yang dilakukan menggunakan empat tahapan pengembangan produk umum dari Ulrich dan Eppinger yaitu perencanaan, pengembangan konsep, perancangan tingkatan sistem, dan perancangan detail, sedangkan tahapan selanjutnya yaitu pengujian dan perbaikan tidak dilakukan karena produk akhir masih berupa prototipe gambar 3D. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa operator penatu khususnya pada stasiun kerja menyetrika masih memiliki berbagai keluhan akibat fasilitas kerja yang tidak memadai. Dalam penelitian ini, proses perancangan meliputi penemuan terhadap kebutuhan utama dan pendukung aktivitas menyetrika pengguna yang kemudian diterjemahkan menjadi sebuah fasilitas menyetrika yang ergonomis dan multifungsi untuk pemberi jasa penatu khususnya yang termasuk ke dalam UMKM. Fasilitas menyetrika tersebut cukup menghemat ruang, memberikan kenyamanan bagi operator setrika, serta mengurangi risiko gangguan pada kesehatan
Intensi Konsumen dalam Menggunakan BBM yang Lebih Ramah Lingkungan berdasarkan UTAUT2 dengan Mempertimbangkan Aspek Keberlanjutan
This research aims to identify the factors influencing the intention to use more environmentally friendly fuel for private vehicles. According to the regulations of the Ministry of Energy and Mineral Resources (ESDM), environmentally friendly fuel is fuel with a minimum octane rating of 91 or a minimum cetane rating of 51. Although the Indonesian government has encouraged the public to use environmentally friendly fuel, the public has not yet made this fuel their primary choice. This study examines the intention to adopt environmentally friendly fuel based on the Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT2) model. In line with the characteristics of environmentally friendly fuel, this research enriches the UTAUT2 model with a sustainability perspective through the variables of environmental knowledge and environmental friendliness, which are the theoretical contributions of the study. The developed research model was evaluated using Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM) based on 129 data collected from residents of major cities in Indonesia who refuel their vehicles. The results of this study found that environmental knowledge, habit, and price value significantly influence the public\u27s intention to use environmentally friendly fuel. This research also offers practical contributions for stakeholders in the form of recommendations such as socialization and economic promotion to increase the use of more environmentally friendly fuel in Indonesia.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang memengaruhi intensi masyarakat dalam menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang lebih ramah lingkungan untuk kendaraan pribadi. Sesuai ketentuan Kementerian ESDM, BBM ramah lingkungan adalah BBM dengan nilai oktan minimal 91 atau nilai cetan minimal 51. Meski pemerintah Indonesia sudah mengajak masyarakat untuk menggunakan BBM ramah lingkungan, masyarakat masih belum menjadikan BBM ini sebagai pilihan utama. Penelitian ini mengkaji intensi adopsi BBM ramah lingkungan berdasarkan model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT2). Sesuai dengan karakteristik BBM ramah lingkungan, penelitian ini memperkaya model UTAUT2 dengan perspektif keberlanjutan melalui variabel pengetahuan lingkungan dan tingkat keramahan lingkungan, yang merupakan kontribusi teoretis penelitian. Model penelitian yang dikembangkan dievaluasi dengan Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM) berdasarkan 129 data yang diambil dari penduduk kota besar di Indonesia yang mengisi BBM untuk kendaraan pribadi. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pengetahuan lingkungan, kebiasaan, dan nilai harga secara signifikan memengaruhi niat masyarakat menggunakan BBM ramah lingkungan. Penelitian ini juga menawarkan kontribusi praktis bagi para pemangku kepentingan berupa rekomendasi seperti sosialisasi dan promosi ekonomis untuk meningkatkan penggunaan BBM yang lebih ramah lingkungan di Indonesia
Pengaruh Nostalgia Proneness terhadap Ad-evoked Vicarious Nostalgia Iklan Kodak Eastman pada Konsumen Indonesia
Generation Z consumer interest in products and services that evoke feelings of nostalgia has grown since the COVID-19 pandemic took place. This is due to the social distancing policy which causes various psychological problems, such as; loneliness, anxiety, and depression. Nostalgia itself is believed to be a powerful antidote in overcoming this problem. This phenomenon is shown in one way or another in the rise of the analog photography trend, particularly through the boom in demand for Kodak films which are popular with Generation Z consumers who do not have personal references to nostalgic Kodak advertising content. Based on this research, it is proven that nostalgia proneness or consumers\u27 tendency to feel nostalgic emotions will affect the intensity of nostalgic emotions generated through the nostalgic advertisements produced, even though they are historical in nature or they do not have personal experience with these advertisements. This research also proves that references and trends are one of the important factors for Generation Z consumers in Indonesia to have a strong tendency to feel nostalgia that is vicarious, especially in understanding the content of the Kodak advertisements they see.Minat konsumen Generasi Z terhadap produk dan layanan yang membangkitkan perasaan nostalgia telah meningkat sejak pandemi COVID-19 terjadi. Hal ini disebabkan oleh kebijakan pembatasan sosial yang menimbulkan berbagai masalah psikologis, seperti kesepian, kecemasan, dan depresi. Nostalgia sendiri diyakini sebagai penawar yang kuat untuk mengatasi masalah ini. Fenomena ini ditunjukkan, salah satunya, melalui tren fotografi analog yang kembali naik daun, khususnya lewat lonjakan permintaan terhadap film Kodak yang populer di kalangan konsumen Generasi Z yang sebenarnya tidak memiliki referensi pribadi terhadap konten iklan Kodak yang bersifat nostalgik. Berdasarkan penelitian ini, terbukti bahwa kecenderungan nostalgia atau kecenderungan konsumen untuk merasakan emosi nostalgia akan memengaruhi intensitas emosi nostalgia yang dihasilkan melalui iklan bernuansa nostalgia, meskipun iklan tersebut bersifat historis atau tidak berkaitan langsung dengan pengalaman pribadi mereka. Penelitian ini juga membuktikan bahwa referensi dan tren merupakan salah satu faktor penting bagi konsumen Generasi Z di Indonesia dalam memiliki kecenderungan kuat untuk merasakan nostalgia secara tidak langsung (vicarious), terutama dalam memahami konten iklan Kodak yang mereka lihat
Menakar Yang Kreatif dalam Demokrasi Komunikatif
This paper discusses creativity within Iris Marion Young\u27s communicative democracy. The analysis of creativity in Young\u27s communicative democracy focuses on the tension between the informal communication model proposed by Young through everyday communication such as greetings, rhetoric, and narrative (storytelling), and the procedural and rational argumentative models in deliberative democracy. On one hand, the rational argumentative model is considered the best way to achieve consensus, but on the other hand, this model is seen as betraying the participation of ordinary people who generally not only lack access to power structures but also have limited rational capabilities. Young\u27s communicative democracy model is viewed as an alternative way to address this practical deadlock. This paper aims to present a new perspective in the field of political philosophy about an alternative way of thinking that may overcome the procedural rigidity in deliberative democracy. The method used in writing this paper is descriptive and critical analysis, which aims not only to provide an overview of the ideas of communicative democracy and the tensions surrounding these ideas, but also to explore the possibility of linking communicative democracy with an understanding of creativity. The findings suggest that Young\u27s communicative democracy is best understood as creativity in democracy for the purpose of justice for all.Makalah ini membicarakan tentang yang kreatif dalam demokrasi komunikatif Iris Marion Young. Analisis tentang yang kreatif dalam demokrasi komunikatif Young berpusat pada tegangan antara model komunikasi informal yang diusulkan oleh Young melalui komunikasi sehari-hari seperti sapaan (salam), retorika, dan narasi (storytelling) dan model prosedural dan argumentasi rasional dalam demokrasi deliberatif. Di satu sisi model argumentasi rasional dianggap sebagai cara terbaik mencapai konsensus, tetapi di sisi lain model tersebut justru dianggap menghianati partisipasi rakyat kecil yang umumnya tidak saja tidak memiliki akses ke dalam struktur kekuasaan, tetapi juga terbatas kemampuan rasionalitas mereka. Model demokrasi komunikatif Young dilihat sebagai jalan keluar alternatif untuk mengatasi kebuntuan praksis tersebut. Makalah ini bermaksud menghadirkan suatu pemikiran baru dalam kazanah filsafat politik tentang cara berpikir lain yang memungkinkan mengatasi keketatan prosedural dalam demokrasi deliberatif. Untuk mencapai tujuan tersebut, metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah deksipri dan analisis-kritis yang bermaksud selain memberikan gambaran tentang gagasan demokrasi komunkatif dan tegangan-tegangan di seputar gagasan tersebut, serta kemungkinan menghubungkan antara demokrasi komunikatif dan pemahaman tentang yang kreatif. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa demokrasi komuniaktif Young paling baik dipahami sebagai yang kreatif dalam demokrasi demi tujuan keadilan bagi semua orang.
 
The Power of Religion in Indonesia’s Public Sphere Discourses – A Philosophical Perspective
Makalah ini merupakan kajian tentang pembentukan dan praktik agama diskursif dalam ranah publik Indonesia. Agama merupakan salah satu dimensi fundamental dalam struktur politik Indonesia. Oleh karena itu, agama perlu direfleksikan secara rasional dan terbuka agar tidak terjebak pada pandangan eksklusif yang dapat mengarah pada fundamentalisme dan radikalisme. Filsafat telah menjadi mitra dalam diskusi agama sejak Era Yunani, diperkuat pada Abad Pertengahan, diperdebatkan pada Era Modern, dan mengalami proses redefinisi pada Era Postmodern. Eksplorasi kekuasaan agama dalam teks dan konteks Indonesia dimulai pada masa transisi dari Sukarno ke Suharto (1960–1998) hingga situasi terkini (1998–2023). Dalam dinamika tersebut, kekuasaan agama tampak mendominasi pola pikir dan tindakan masyarakat
Strategi Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan di Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat
Food security is one of the important issues in regional development, especially in West Bandung which contributes greatly to food production in West Java Province. Gunung Halu Subdistrict has extensive agricultural land, but its productivity is hindered by an inadequate irrigation system. This study aims to analyze the strategy of the Public Works and Spatial Planning Agency (PUTR) in improving food security, identifying supporting and inhibiting factors, and examining efforts that have been made to overcome obstacles in food security. Jack Kooten’s strategy model (1991:81) was used, which consists organizational strategy, program strategy, resource support strategy, and institutional strategy. This study is qualitative with a phenomenological approach. Data were collected through interviews, observations, and documentation studies. The results of the study indicate that the PUTR has implemented various irrigation development programs to support agricultural productivity in Gunung Halu Subdistrict. However, the challenges faced include the complex geographical conditions of the area and limited community involvement in the management of the irrigation system. Supporting factors for increasing food security include extensive agricultural land and the Development Planning Deliberation (Musrenbang) forum, which functions as a means of reporting if there is damaged irrigation. The PUTR strategies taken include water resource management and optimization of irrigation systems to increase agricultural yields. This research is expected to be a reference for local governments in developing more effective strategies to achieve food security.Ketahanan pangan menjadi salah satu isu penting dalam pembangunan daerah, khususnya di Kabupaten Bandung Barat yang berkontribusi besar terhadap produksi pangan di Provinsi Jawa Barat. Kecamatan Gunung Halu memiliki lahan pertanian yang luas, tetapi produktivitasnya terhambat karena sistem irigasi yang belum memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) dalam meningkatkan ketahanan pangan, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat, serta menelaah upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi hambatan ketahanan pangan. Teori strategi yang digunakan adalah model strategi Jack Kooten (1991:81), yang terdiri atas empat pendekatan, yaitu strategi organisasi, strategi program, strategi pendukung sumber daya, dan strategi kelembagaan. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dinas PUTR telah menerapkan berbagai program pembangunan irigasi untuk mendukung produktivitas pertanian di Kecamatan Gunung Halu. Namun, tantangan yang dihadapi mencakup kondisi geografis wilayah yang kompleks serta keterlibatan masyarakat yang masih terbatas dalam pengelolaan sistem irigasi. Faktor pendukung peningkatan ketahanan pangan meliputi lahan pertanian yang luas dan forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang berfungsi sebagai sarana pelaporan jika terdapat irigasi yang rusak. Strategi yang diambil Dinas PUTR mencakup pengelolaan sumber daya air dan optimalisasi sistem irigasi untuk meningkatkan hasil pertanian. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mencapai ketahanan pangan
From Smart City to Smart Village: Akselerasi Transformasi Digital dalam Optimalisasi Pelayanan Publik di Desa Kepatihan Kabupaten Gresik
Village digitalization is urgent in achieving sustainable development, especially in realizing the concept of smart village. Smart village is designed as an effort to develop the village’s potential and resources through the application of digital technology in various aspects of governance. This study discusses the implementation of the smart village concept in Kepatihan Village, Menganti District, Gresik Regency, with a focus on the dimensions of smart government, smart economy, smart society, and smart infrastructure. The research used a qualitative approach method with interviews, observations, and documentation studies to obtain comprehensive data related to the information and communication technology used in the governance of Kepatihan Village. The results of the study show that Kepatihan Village has adopted various digital innovations, such as the use of the Premium Village Information System (SID) and collaboration with the Gresik Regency Communication and Informatics Agency in managing the village website. In addition, digital technology is also utilized to support local economic growth through a digital-based micro, small, and medium enterprises marketing platform. However, obstacles in the continuity of technological features training and optimization are still challenges in realizing a more effective and sustainable smart village. The conclusion of this study confirms that although digitalization steps have been implemented, it is necessary to increase human resource capacity through continuous training and strengthening the synergy between the government, community, and private sector to accelerate digital transformation of the village. With the right strategy, Kepatihan Village can continue to develop as an independent, innovative, and highly competitive village in the context of sustainable development.Digitalisasi desa menjadi urgensi dalam pembangunan berkelanjutan, terutama dalam mewujudkan konsep smart village. Smart village dirancang sebagai upaya untuk mengembangkan potensi dan sumber daya desa melalui penerapan teknologi digital dalam berbagai aspek tata kelola. Penelitian ini membahas implementasi konsep smart village di Desa Kepatihan, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, dengan fokus pada dimensi smart government, smart economy, smart society, dan smart infrastructure. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi untuk memperoleh data yang komprehensif terkait pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam tata kelola desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Kepatihan telah mengadopsi berbagai inovasi digital, seperti penggunaan Sistem Informasi Desa (SID) Premium dan kolaborasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Gresik dalam pengelolaan website desa. Selain itu, teknologi digital juga dimanfaatkan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal melalui platform pemasaran Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) berbasis digital. Namun, kendala dalam kesinambungan pelatihan dan optimalisasi fitur teknologi masih menjadi tantangan dalam mewujudkan smart village yang lebih efektif dan berkelanjutan. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa meskipun langkah digitalisasi telah diterapkan, diperlukan peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan berkelanjutan serta penguatan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk mempercepat transformasi digital desa. Dengan strategi yang tepat, Desa Kepatihan dapat terus berkembang sebagai desa mandiri yang inovatif dan berdaya saing tinggi dalam konteks pembangunan berkelanjutan
Peran Inklusi Keuangan terhadap Pencapaian Target Presentase Penduduk Miskin dalam RPJMN 2024 Studi Kasus : di Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran inklusi keuangan dalam mencapai tujuan presetase kemiskinan yang telah di tetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasioanal 2019-2024 (RPJMN). Data yang digunakan merupakan data panel yang mencakup 34 provinsi di Indonesia pada periode 2010-2022. Data diolah menggunakan metode Panel Least Square (PLS). Didapatkan hasil bahwa inklusi keuangan signifikan membantu menurunkan presentase kemiskinan. Dengan menggunakan forecasting didapatkan hasil bahwa persentase kemiskinan pada tahun 2024 sebesar 9,07% yang artinya tujuan RPJMN 2024 tidak tercapai.