Jurnal Online Universitas Islam Sumatera Utara
Not a member yet
6835 research outputs found
Sort by
Modernisasi Pendidikan Agama Islam Sebagai Upaya Membangun Peradaban Dalam Film Sang Pencerah
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji upaya modernisasi pendidikan agama Islam yang digunakan oleh K.H. Ahmad Dahlan dalam mengimplementasikan pembaruan pendidikan Islam sebagaimana ditampilkan dalam film Sang Pencerah. Film ini dipilih karena merepresentasikan tokoh pembaru Islam yang progresif, kritis terhadap praktik keagamaan yang stagnan, dan berorientasi pada rasionalitas serta kemajuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi terhadap narasi, dialog, dan visual dalam film. Hasil kajian menunjukkan bahwa Sang Pencerah merepresentasikan pendidikan Islam yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan modern, bersifat kontekstual, serta menjunjung nilai-nilai toleransi dan ijtihad. Strategi K.H. Ahmad Dahlan dalam film ditampilkan melalui pembentukan institusi pendidikan formal, penekanan pada pemurnian akidah, dan penggunaan metode pengajaran yang lebih rasional dan sistematis. Dengan demikian, film ini menjadi media edukatif yang menggambarkan pentingnya modernisasi pendidikan Islam dalam membangun peradaban yang maju dan humani
ANALISA PERBANDINGAN PENGGUNAAN SNI 2847:2013 DENGAN SNI 2847:2019 PADA BALOK
Perubahan standar dalam konstruksi beton bertulang, khususnya pada balok beton, telah mengalami evolusi signifikan antara SNI 2847:2013 dan SNI 2847:2019. Dalam konteks ini, gaya dalam yang bekerja pada balok beton, termasuk tulangan lentur dan tulangan geser, menjadi fokus utama. SNI 2847:2019 memperkenalkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam perhitungan gaya dalam, dengan penekanan pada ketahanan dan keamanan struktur. Tulangan lentur yang digunakan dalam balok beton kini harus memenuhi kriteria yang lebih ketat, memastikan distribusi beban yang lebih efisien. Selain itu, perubahan pada ketentuan tulangan geser memberikan panduan yang lebih jelas dalam mencegah keruntuhan akibat gaya geser. Dengan demikian, pemahaman yang mendalam tentang perubahan ini sangat penting bagi para insinyur dan profesional di bidang konstruksi untuk memastikan bahwa desain dan pelaksanaan proyek memenuhi standar keselamatan dan kinerja yang ditetapkan.Setelah dilakukan analisa perbandingan menggunakan SNI 2847:2013 dengan SNI 2847:2019 pada balok, maka diperoleh hasil untuk luas tulangan lentur dimana berdasarkan kombinasi pembebanan gempa SNI 1726-2012 tidak mengalami selisih di daerah lapangan, namun terjadi selisih sebesar 67% di daerah tumpuan yang menimbulkan gaya tarik pada penampang balok lebih besar guna mendapatkan kekuatan beton dan baja yang sebaik baiknya dengan menambah jumlah tulangan. Sedangkan berdasarkan kombinasi pembebanan gempa SNI 1726-2019 tidak mengalami selisih di daerah lapangan, namun terjadi selisih sebesar 100% di daerah tumpuan yang menimbulkan gaya tarik pada penampang balok lebih besar guna mendapatkan kekuatan beton dan baja yang sebaik baiknya dengan menambah jumlah tulangan. Untuk tulangan geser tidak mengalami selisih pada luas tulangan, namun terjadi selisih pada spasi tulangan sebesar 41% untuk menahan retakan beton pada struktur balok yang terjadi di daerah ujung balok yang dekat dengan tumpuan
PERAN PENGASUH PESANTREN DALAM MEMBANGUN KARAKTER RELIGIUS DAN NASIONALIS SANTRI
Penelitian ini memanfaatkan pendekatan kualitatif untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian secara alami dan sesuai dengan apa yang berada dilapangan tanpa adanya unsur manipulasi data dan fakta sewaktu melakukan penelitian dilapangan. Objek penelitian mencakup kepada kyai/pengasuh, Asatidz, pengurus, santri, Alumni dan pihak lain yang terlibat dalam Yayasan atau Pesantren. Penelitian ini akan dilaksanakan di pondok pesantren Assulthon. Penelitian tentang peran kiyai dalam membangun karakter religius dan nasionalis santri memiliki manfaat yang signifikan bagi berbagai pihak: Secara keseluruhan, penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam pengembangan strategi pendidikan pesantren dan dalam memperkaya literatur akademik mengenai pendidikan karakter Subyek penelitian adalah orang yang bersangkutan dalam latar penelitian, yaitu orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang kondisi dan situasi latar penelitian. Untuk menentukan subyek penelitian sebagai sumber informasi dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik Purposive sampling atau penentuan informan ditentukan sendiri oleh peneliti dengan pertimbangan tertentu. Dengan pendekatan teori ini,dimana kyai diharapkan mampu menjalankan peranya dalam upaya membentuk karakter religius dan nasionalis terhadap santri yang tidak hanya taat beragama tetapi juga memiliki rasa cinta dan tanggung jawab terhadap negara. menjadikanya santri memiliki kepribadian yang religius dan nasionalis,dapat diperankan oleh kyai nya melalui sikap dan tindakan sehari-hari,mengajarkan agama secara konsisten serta mengimplementasikan nilai nilai kebangsaan denga menceritakan sejarah bangsa dan jasa para pahlawan dan memperkuat akan persatuan antar suku dan umat beragama lainya.serta kyai dapat memotivasi santri untuk terlibat dalam kegiatan sosial dan pengabdian masyarakat,dan memberikan pemahaman akan kaya seni dan budaya lokal dan nasional serta semua hal hal yang dapat memperkuat jiwa santri menjadi bangga akan identitas nya sebagai bagian dari anak bangs
Pembatalan Perlindungan Paten Dikarenakan Memiliki Kesamaan Dalam Sistem Kinerja Dengan Yang Telah Ada Sehingga Menimbulkan Iklim Usaha Yang Tidak Sehat (Studi Putusan Nomor 754 K/Pdt.Sus-HKI/2024)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlindungan paten atas kesamaan dalam sistem kinerja terhadap hak yang telah ada sebelumnya. Pemegang Paten sendiri adalah inventor sebagai pemilik paten, pihak yang menerima hak atas paten dari pemilik paten, atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak atas paten tersebut yang terdaftar dalam daftar umum Paten hal ini sesuai dengan Pasal 1 ayat (6) dan apabila ditemukan invensi yang mirip/sama dengan invensi dari pemegang paten tersebut maka ada pihak lain yang bernama pemakai terdahulu sehingga perlu diteliti apakah kedua invensi benar-benar mirip/sama. Bahwa perlindungan hukum merupakan gambaran dari bekerjanya fungsi hukum untuk mewujudkan tujuan-tujuan hukum yaitu keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. permohonan kasasi yang diajukan Pemohon Kasasi harus ditolak, oleh karena permohonan kasasi ditolak, maka Pemohon Kasasi harus dihukum untuk membayar biaya perkara dalam semua tingkat peradilan. Kata Kunci: Pembatalan, Paten, Kesamaan Abstract This study aims to analyze patent protection for similarities in the performance system against previously existing rights. The Patent Holder himself is the inventor as the patent owner, the party who receives the rights to the patent from the patent owner, or another party who further receives the rights to the patent that is registered in the general Patent list, this is in accordance with Article 1 paragraph (6) and if an invention is found that is similar/the same as the invention of the patent holder, then there is another party called the previous user so it is necessary to examine whether the two inventions are truly similar/the same. That legal protection is a description of the functioning of the legal function to realize the objectives of the law, namely justice, benefit and legal certainty. the cassation application submitted by the Cassation Applicant must be rejected, therefore the cassation application is rejected, the Cassation Applicant must be sentenced to pay court costs at all levels of court. Keywords: Cancellation, Patent, Similarit
Manajemen Sumber Daya Manusia di Era Revolusi Industri 4.0
Memasuki paruh pertama milenium kedua, tantangan yang dihadapi perusahaan atau organisasi semakin berat dan kompleks. Berbagai bentuk ketidakmenentuan muncul seperti cepatnya globalisasi, percepatan inovasi, dan kompetisi yang terus tumbuh yang mengakibatkan mudah berubahnya situasi pasar (volatility), kompleksitas, dan ambiguitas (Schwenker & Wulf, 2013: 38). Era ini lebih dikenal dengan istilah era Industri 4.0 atau Revolusi Industri 4.0 (disingkat RI 4.0) yang ditandai dengan meningkatnya digitalisasi di segala bidang sehingga orang, objek, dan sistem dapat terhubung secara real time (Hecklau et al., 2016: 2). Otomatisasi dan pertukaran data berukuran besar (big data) dalam teknologi manufaktur menjadi kecenderungan yang nyaris tidak dapat dihindari perusahaan agar tetap kompetitif
Motivasi Kerja Pada Buruh Tani Kelapa Sawit (Studi Kasus di Kecamatan Silaut Kabupaten Pesisis Selatan)
Pokok permasalahan penelitian ini ialah tidak semua orang mampu bekerja berat menjadi buruh tani kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab motivasi kerja pada buruh tani kelapa sawit di Kecamatan Silaut Kabupaten Pesisir Selatan. Penelitian ini merupahkan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Data penelitian ini dikumpulkan menggunakan wawancara. Wawancara dilakukan dengan enam orang buruh tani yang terdiri atas Asnan, Paris, Abdul, Edo, Taha, serta Kono. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data Milles And Huberman. Hasil penelitian dari faktor-faktor penyebab motivasi kerja pada buruh tani kelapa sawit ialah upah kerja, bonus kerja dan fasilitas kerja. Setelah dibahas, upah kerja dan bonus kerja termasuk ke dalam bentuk kompensasi finansial. Sedangkan fasilitas kerja termasuk ke dalam bentuk kompensasi intrinsik. Kedua bentuk kompensasi ini dibayarkan dan diberikan bertujuan untuk memotivasi buruh tani agar memberikan kinerja terbaiknya. Karena keduanya sama-sama membutuhkan, dan memiliki tanggung jawab pada keluarganya (telah menikah), dan memiliki keinginan untuk menikah (belum menikah)
Konstruksi Makna Pernikahan pada Kalangan Muslim Gen Z di Media Sosial: Studi Kasus Penonton Konten “Marriage is Scary” di TikTok
Trend "Marriage is Scary" has influenced Generation Z Muslims by presenting narratives of fear and doubt about marriage on social media. This study aims to understand how Gen Z Muslims construct the meaning of this trend using Berger and Luckmann's social construction theory through in-depth interviews. The findings show that while the trend raises fears for some, the desire for marriage remains, with a stronger impact on women due to exposure to narratives of domestic violence, double burden, social pressure, and risks in marriage, whereas men remain unaffected. This research suggests the need for balanced educational media content, dialogues with parents and clerics, and pre-marital education for singles to build a positive yet realistic view of marriage. This study contributes to the literature on digital narratives and social constructions among Gen Z Muslims and highlights gendered experiences in marriage perceptions
ANALISIS IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKN SISWA SEKOLAH DASAR
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi model pembelajaran inovatif dan dampaknya terhadap peningkatan hasil belajar PKn siswa sekolah dasar melalui kajian sistematis terhadap berbagai hasil penelitian. Metode penelitian menggunakan pendekatan systematic review dengan analisis kualitatif terhadap 10 artikel penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal nasional dan internasional bereputasi periode 2019-2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa implementasi model pembelajaran inovatif, khususnya Problem Based Learning (PBL), Discovery Learning, dan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS), memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Model PBL terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dengan effect size 0.85, Discovery Learning unggul dalam mengembangkan kemandirian belajar dengan effect size 0.72, dan model TPS efektif dalam meningkatkan keterampilan sosial dengan effect size 0.68. Keberhasilan implementasi model-model pembelajaran tersebut dipengaruhi oleh faktor kesiapan guru, ketersediaan sarana prasarana, dan dukungan lingkungan pembelajaran. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya pengembangan profesional guru, penyediaan sarana pendukung pembelajaran, dan penelitian lanjutan untuk mengukur dampak jangka panjang serta pengembangan model pembelajaran yang lebih adaptif
PEDAGOGICAL CHANGE IN THE AI ERA: INDONESIAN EFL TEACHERS' VOICES AND CONTEXTUAL CONSTRAINT
This study examines how Indonesian English as Foreign Language (EFL) teachers perceive and negotiate pedagogical change arising from the integration of Artificial Intelligence (AI) into language instruction. This research uses an interpretive qualitative approach through semi-structured interviews with seven teachers from diverse institutional backgrounds in Sumatera. Thematic analysis identified six key themes: (1) pedagogical change through AI integration, (2) evolving teacher identity, (3) reflective professional agency, (4) contextual constraints, (5) students' engagement and critical awareness, and (6) the need for instructional support and teacher training. Findings indicate that AI tools, such as ChatGPT and Grammarly, have facilitated a shift toward more student-centered, project-based, and reflective teaching practices. Teachers reported a redefinition of their roles from content transmitters to facilitators and mentors, with an increasing emphasis on assessing learning processes rather than outcomes. However, AI integration was hindered by infrastructural limitations, unequal access to technology, and a lack of AI literacy. The study reveals that technological transformation in ELT is not merely technical but also shaped by contextual realities and teacher identity. It highlights the need for context-sensitive professional development and inclusive policy support that enhance teachers' adaptive capacities in an AI-mediated learning environment
INCLUSION OF THE SEHANANWA DIALECT IN GRADE 10 LEARNERS' SEPEDI ACADEMIC WRITING: AN ANALYSIS OF DIALECTAL INTERFERENCE
Home Language learners always face multiple challenges in their formal writing activities. One of these is the frequent inclusion of dialects in their academic writing. There seems to be an unresolved argument regarding whether dialects should be included in the academic writing of a standard language or not. This article aims to analyse how Sehananwa-speaking learners include their dialectal orthography in the Sepedi academic writing. This is a qualitative study located within the interpretivism paradigm. Essays from 4 learners were purposefully sampled using a document review as a data collection method. Thematic steps were incorporated to analyse the collected data. Findings demonstrate that spoken variety plays a great role in differentiating Sehananwa as a dialect and Sepedi as a standard language. Speech sounds and lexicons reflect some gap between Sehananwa and Sepedi, notwithstanding the fact that both languages are sociolinguistically bound. It is also noted that Bahananwa-speaking learners are rigid in maintaining and sustaining the linguistic features of their dialect. The question remains: how is a language deemed officially standard while its dialectal orthographies are not recognised in formal discourses? For language development, vocabulary enhancement and learner academic performance, this study recommends that the incorporation of dialects such as Sehananwa should be allowed in formal settings like educational spaces