Jurnal Online Universitas Islam Sumatera Utara
Not a member yet
6835 research outputs found
Sort by
Pengetahuan Ibu Yang Mempunyai Bayi Tentang Bayi Renang (Baby Swim) Dalam Perkembangan Motorik
Laporan Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan tentang Profil Kesehatan Kota Padangsidimpuan menunjukkan jumlah bayi baru lahir di Pijorkoling sebanyak 615 kelahiran hidup, Padangmatinggi 942 bayi, sebanyak 469 bayi. Kebiasaan bayi diajak berenang merupakan hal yang tidak terlalu umum. Namun, orang tua tidak perlu khawatir, karena bayi lebih mudah belajar berenang dibandingkan orang dewasa. Hal ini karena berenang sendiri merupakan naluri alami bayi dan bayi belum mengenal hal-hal yang ditakutkan oleh orang yang lebih tua seperti faktor bahaya, bayi sangat menyukai air sehingga akan suka diajak berenang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan ibu yang memiliki bayi tentang renang bayi dalam perkembangan motorik di Kelurahan V Kelurahan Sessionkal Kecamatan Padangsidimpuan Selatan Tahun 2022. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif dengan menggunakan total sampling sebanyak 31 responden, dipelajari berdasarkan umur, pendidikan, pekerjaan, sumber informasi, dan paritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas berpengetahuan kurang dengan usia 20-39 tahun sebanyak 24 orang (77,4%), mayoritas berpengetahuan kurang dengan pendidikan SMP-SMA sebanyak 10 orang (32,3%), mayoritas berpengetahuan kurang dengan pekerjaan rumah tangga yaitu sebanyak 28 orang (90,3%), mayoritas berpengetahuan kurang dengan paritas ibu multipara sebanyak 12 orang (38,7%), mayoritas berpengetahuan kurang dengan sumber Media Elektronik sebanyak 28 orang (90,3%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa mayoritas ibu yang memiliki bayi kurang memiliki pengetahuan tentang renang bayi dalam perkembangan motoriknya, sehingga diharapkan kepada ibu yang memiliki bayi untuk meningkatkan pengetahuannya tentang manfaat melakukan renang bayi
Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Matriks Kelas XI SMA Negeri 1 Paberiwai
Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) guna meningkatkan hasil belajar siswa pada materi matriks kelas XI di SMA Negeri 1 Paberiwai. Latar belakang penelitian mengidentifikasi rendahnya pemahaman siswa terhadap materi matriks, terlihat dari hasil ulangan harian yang tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa dari pra siklus ke siklus I dan II. Pada pra siklus, hanya 33% siswa yang tuntas, sedangkan pada siklus I meningkat menjadi 40% dan pada siklus II mencapai 77%. Data menunjukkan bahwa model PBL berhasil meningkatkan partisipasi dan motivasi siswa dalam pembelajaran. Siklus I mengidentifikasi sejumlah kelemahan yang diperbaiki pada siklus II, seperti peningkatan aktivitas siswa saat diskusi kelompok. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan model PBL efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi matriks. Produk akhir penelitian berupa modul ajar dan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang valid dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Peneliti merekomendasikan agar model PBL diterapkan pada materi lain untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan metode pembelajaran di kelas
ETIKA DALAM SISTEM EKONOMI: PERSPEKTIF ISLAM, LIBERALISME, DAN SOSIALISME
Sistem ekonomi, yang mencakup cara mengelola dan mendistribusikan sumber daya yang terbatas, memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan manusia. Salah satu elemen penting dalam sistem ekonomi adalah etika, yang menjadi pedoman pengambilan keputusan ekonomi dalam konteks nilai moral dan sosial. Artikel ini bertujuan mengkaji etika dalam sistem ekonomi dari tiga perspektif utama: Islam, Liberalisme, dan Sosialisme. Perspektif Islam menekankan keadilan sosial, tanggung jawab moral, dan pemerataan distribusi kekayaan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Sementara itu, Liberalisme memprioritaskan kebebasan individu, pasar bebas, dan intervensi pemerintah yang minimal dalam aktivitas ekonomi, dengan dasar bahwa etika ekonomi terletak pada kebebasan memilih dan hak-hak individu. Adapun Sosialisme berfokus pada kesetaraan ekonomi, penghapusan ketimpangan, serta peran negara dalam mengatur distribusi kekayaan demi kesejahteraan bersama. Analisis ini membahas bagaimana setiap sistem mengintegrasikan nilai-nilai etika ke dalam struktur ekonominya, serta implikasinya bagi keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat. Perbandingan ini diharapkan memberikan wawasan mengenai peran etika sebagai pedoman dalam pembangunan ekonomi yang adil dan berkelanjutan
POLA KOMUNIKASI KEPALA TOKO DALAM MEMBANGUN LOYALITAS KARYAWAN TOKO MERAH PUTIH MEDAN
Loyalitas merupakan bentuk sikap yang diberikan karyawan untuk menunjukan suatu komitmen, kesetiaan dan keterikatan terhadap perusahaan tempatnya bekerja, Karyawan yang loyal cenderung melakukan yang terbaik terhadap pekerjaan dan kewajibannya, Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang positif, Peran Lingkungan yang positif akan membawa hubungan yang saling menguntungkan kedua belah pihak diperusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola komunikasi kepala toko dalam membentuk loyalitas karyawan di toko merah putih medan, dan menggunakan teori interdepedensi sosial untuk melihat bagaimana hubungan saling ketergantungan kepala toko dan karyawan, Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengaan tekhnik pengumpulan data wawancara, observasi dan dokumentasi setelah data lalu diolah lebih spesifik dengan cara mereduksi data yaitu memfokuskan dan menyusun data lalu membuat rangkuman dalam satuan analisis, setelah itu data disajikan dalam bentuk narasi penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pola komunikasi yang digunakan kepala toko adalah pola formal dan informal, dari pola komunikasi yang dibangun kepala toko menciptakan hubungan lingkungan yang positif , dari lingkungan yang positif menghasilkan komitmen dan kepuasan antara kepala toko dan karyawan
EFEKTIFITAS KOMUNIKASI INTERPERSONAL GURU DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV
Komunikasi interpersonal guru dan siswa harus dilakukan secara sebaik mungkin baik pada saat proses pembelajaran maupun saat tidak melakukan proses pembelajaran. Minat belajar siswa sangat berkaitan dengan komunikasi yang dilakukan guru saat pembelajaran berlangsung, komunikasi yang efektif akan membuat siswa bersemangat dalam belajar. Dalam proses belajar mengajar matematika diperlukan komunikasi interpersonal guru yang baik, karena idealnya komunikasi yang baik antara guru dan siswa dapat meningkatkan minat belajar, karena siswa merasa diperhatikan oleh guru sehingga siswa akan terbuka untuk mengkomunikasikan kesulitannya dalam belajar. Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah ialah Bagaimana Komunikasi Interpersonal Guru Meningkatkan Minat Belajar Matematika Siswa Kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Bidayatul Hidayah -4 Jalan. Pertahanan Dusun II No. 33 PatumbakPenelitian yang dilakukan oleh penulis ini menggunakan metodologi kualitatif. Metodologi penelitian ini menggunakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Sikap positif dari siswa dapat mempengaruhi kebiasaan belajar mereka secara positif, sehingga meningkatkan keterlibatan dan kesenangan dalam proses pembelajaran. Membangun lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan melalui kegiatan seperti diskusi, memotivasi siswa dengan penghargaan, dan membina sikap terbuka sangat penting dalam mendorong praktik belajar mengajar yang efektif
TRANSLATION ERRORS IN UNDERGRADUATE SCIENTIFIC WRITINGS: A CORPUS-BASED STUDY
This study investigates translation errors found in 100 undergraduate thesis abstracts sourced from five Indonesian universities, with particular attention to syntactic, semantic, and miscellaneous error types. The data were collected from institutional online repositories, and all identifying information related to the authors was removed to ensure anonymity. Only the main bodies of the abstracts were used as the corpus for analysis. The findings reveal that the majority of errors fall under the syntactic category, including incorrect use of tenses, prepositions, and punctuation. Semantic errors, such as literal translations, meaning deviations, and unnecessary additions, were also frequently observed. These errors largely stem from students’ limited understanding of English grammar and translation strategies. The study highlights the importance of strengthening translation competence in undergraduate curricula. By systematically identifying and analyzing these common errors, the research provides valuable insights for improving the teaching of academic translation and suggests the integration of targeted translation materials in English language instruction at the tertiary level
EFL TEACHERS’ WRITING STRATEGIES IN ACADEMIC WRITING WHILE PURSUING A MASTER’S DEGREE ABOARD
The use of English for adult L2 writers encountered significant challenges in an English-mediated environment. This phenomenon is experienced by EFL teachers while pursuing a Master’s degree abroad. The necessity of challenges and the lack of writing strategies may highlight the obstacles to writing productivity. Therefore, identifying the challenges and effective writing strategies is needed to achieve the goal of writing a thesis. This study used a qualitative narrative inquiry, with in-depth interviews, and focused on 3 Indonesian participants who studied abroad. The findings showed several challenges faced by participants, including academic and non-academic challenges. Academic challenge covers language and content challenge, including problems in grammar, academic style, vocabulary, finding a topic, and novelty, as well as non-academic challenge, including issues in supervisor relationship, time management, mental and emotional pressure. Also, four strategies are applied: cognitive, metacognitive, affective, and social. This research may guide future Master’s students on the importance of specific writing strategies in academic writing and may highlight effective English teaching and impact future international writing publications
ENHANCING STUDENTS’ READING COMPREHENSION OF HORTATORY EXPOSITION TEXTS THROUGH THE THINK-PAIR-SHARE METHOD: A CLASSROOM RESEARCH STUDY
This study explores the effectiveness of the Think-Pair-Share (TPS) method in improving students' reading comprehension of hortatory exposition texts. Conducted with 32 grade XI social studies students at SMA PGRI 2 Bandung, the research employed a quantitative approach using a survey design and purposive sampling. Data were collected through a validated questionnaire with 16 items rated on a five-point Likert scale. The TPS method was implemented over two cycles, and results showed significant improvements in students' reading comprehension and motivation. The average perception score was 3.78, with 65.6% of students agreeing or strongly agreeing that TPS facilitated their understanding of the text. Additionally, student motivation increased, with an average score of 3.81, reflecting enhanced engagement and active participation in learning activities. Reliability testing of the instrument yielded a Cronbach's Alpha value of 0.914, indicating high internal consistency. The study also highlighted the TPS method's ability to foster collaboration and critical thinking, as paired discussions enabled students to analyze arguments effectively and connect ideas within the text. These findings suggest that TPS is an effective strategy for improving comprehension and engagement in reading hortatory exposition texts, offering valuable insights for educators in creating interactive and collaborative learning environments
CHARACTER ANALYSIS THROUGH DIALOGUE IN ENOLA HOLMES (2020): A STUDY USING M.H ABRAM’S THEORY
This study examines the characterization of the film Enola Holmes (2020), focusing on the emotional, intellectual, and moral aspects of the characters as revealed through dialogue. By employing qualitative analysis, the research explores how character’s self-reliance, resilience, and rejection of social norms through dialogue. Using M.H. Abram’s theory of characterization and Schachter-Singer’s two-factor theory of emotion, the study provides a deeper understanding of how emotions, cognitive processes, and physiological reactions are intertwined in shaping the characters’ traits. While previous studies focused more on gender representation in films, this study fills the void by highlighting the role of dialog in shaping character identity. This study has found that dialog not only functions as an expositional tool, but also as a primary means to convey thematic depth and character complexity. This study contributes to the discourse of film analysis by showing how dialog serves as a narrative device that engages the audience and reinforces the portrayal of characters as multidimensional
HOW GENDER IS NAMED IN UNISEX PERFUMES: A SOCIO-ONOMASTIC APPROACH
Perfume has long been used as a body fragrance, but in today’s world, its role extends far beyond mere scent enhancement. It has evolved into a significant aspect of personal identity, self-expression, and lifestyle. In fact, perfume is often perceived as a symbolic presentation of one’s character, emotions, social status and even cultural identity. This article explored gender representation in unisex perfume names using a socio-onomastics approach. This study analyzed a dataset of 3,390 unisex perfume names from 2017-2024 sourced from Fragrantica. Sketch Engine toolkit was used to measure word frequency and concordance. Finally, the findings revealed five primary naming references: specific natural elements, inventors or manufacturers, places of origin, materials and identity-related and gender-stereotyped. Among the identified, material-based naming was the most dominant particularly through references to floral, fruity, and woody elements. Although no specific words explicitly indicated a unisex representation or any association, some findings disclosed that terms traditionally linked to either masculinity or femininity were not always intended exclusively for that particular gender. In short, this showed the effort to break traditional gender boundaries. Nonetheless, it was found that names referring to males had a higher frequency compared to names referring to females, meaning that gendered elements in naming unisex perfume names remain exist