Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
    604 research outputs found

    Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Jeruk Baby (Citrus sinensis) di PT Kusuma Agrowisata, Kota Batu

    Full text link
    The demand for baby oranges is increasing from time to time, along with public awareness to consume fruits during the pandemic. However, the amount of production is different from the demand. To meet consumer demand, producers must be able to increase production to maximize profits. This study aims to determine the production factors and the level of the financial feasibility of baby orange farming. This research was conducted at PT Kusuma Agrowisata within one month. Primary data were obtained from interviews with production coordinators and baby oranges farmers who were adjusted to the guidelines. To determine the feasibility level of farming, the data analysis was carried out by calculating the NPV value, gross B/C Ratio, net B/C ratio, IRR, and payback period. Based on the results obtained, the production factors in baby orange farming are land area, labour, capital, and management. Meanwhile, at the feasibility level of baby orange farming, the NPV value was 383.582,459; the gross B/C ratio of 4.66; the net B/C ratio of 5.83; IRR of 97,776,560.51; and a payback period of three years and one month. From the results obtained, the baby orange farming at PT Kusuma Agrowisata is feasible to be cultivated and developed with a return on capital received within three years and one month. Thus, baby orange farming can be developed further by paying more attention to aspects of monitoring farming activities to produce superior quality products, meet consumer demand, and increase profits as much as possible.Permintaan jeruk baby dari waktu ke waktu semakin meningkat, seiring dengan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi buah-buahan di masa pandemi. Namun, jumlah produksi tidak sebanding dengan permintaan. Untuk memenuhi permintaan konsumen, maka produsen harus dapat meningkatkan produksi untuk memaksimalkan keuntungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor produksi dan tingkat kelayakan finansial usahatani jeruk baby. Penelitian ini dilakukan di PT Kusuma Agrowisata dalam jangka waktu satu bulan. Jenis data yang digunakan berupa data primer yang diperoleh dari wawancara kepada koordinator produksi dan petani jeruk baby yang disesuaikan dengan pedoman. Untuk mengetahui tingkat kelayakan usahatani, maka analisis data dilakukan dengan menghitung nilai NPV, gross B/C Ratio, net B/C ratio, IRR, dan payback period. Berdasarkan hasil yang diperoleh faktor produksi dalam usahatani jeruk baby adalah luas lahan, tenaga kerja, modal, dan manajemen. Sedangkan, pada tingkat kelayakan usahatani jeruk baby diperoleh nilai NPV sebesar 383.582.459; gross B/C ratio sebesar 4,66; net B/C ratio sebesar 5,83; IRR sebesar 97.776.560,51; dan payback period sebesar tiga tahun satu bulan. Dari hasil yang diperoleh, maka usahatani jeruk baby di PT Kusuma Agrowisata layak untuk diusahakan dan dikembangkan dengan pengembalian modal diperoleh dalam jangka waktu tiga tahun satu bulan. Dengan demikian, hal yang dapat direkomendasikan adalah usahatani jeruk baby dapat dikembangkan lebih lanjut dengan lebih memperhatikan aspek pengawasan kegiatan usahatani untuk menghasilkan produk yang bermutu unggul, memenuhi permintaan konsumen, dan meningkatkan keuntungan yang sebesar-besarnya

    Analisis Pendapatan dan Nilai Tambah Kelor (Moringa oleifera) pada Agroindustri CV. Atlantic Kabupaten Aceh Utara

    Full text link
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pendapatan dan nilai tambah yang dihasilkan dari pengolahan kelor di CV Atlantic yang berlokasi di Desa Tanjung Ara, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara. Jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan menggunakan data kuantitatif. Untuk menganalisis pendapatan dan nilai tambah, metode Hayami digunakan. Data yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pemilik usaha pengolahan kelor, berdasarkan panduan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan kelor di CV Atlantic memberikan keuntungan bagi perusahaan karena pendapatannya lebih besar dari biaya produksi. Pendapatan per bulan dari produk teh kelor asli sebesar Rp.9.456.875, teh kelor jahe merah sebesar Rp.21.624.875, dan biji kopi kelor sebesar Rp.17.872.050. Selain itu, nilai tambah pengolahan kelor juga dihitung, dengan nilai tambah teh kelor asli sebesar Rp.18.761,00, teh kelor jahe merah sebesar Rp.54.916,00, dan dan biji kopi kelor sebesar Rp.327.867,00. Nilai tambah yang dihasilkan dari pengolahan kelor lebih besar dari nol (NT>0), sehingga dapat disimpulkan bahwa pengolahan kelor memberikan nilai tambah.The purpose of this study was to analyze the income and added value generated from moringa processing at CV Atlantic located in Tanjung Ara Village, Tanah Jambo Aye District, North Aceh Regency. This type of research is a case study using quantitative data. To analyze income and added value, the Hayami method was used. The data used in this study were collected through in-depth interviews with moringa processing business owners, based on a questionnaire guide. The results showed that moringa processing at CV Atlantic provides benefits for the company because the income is greater than the production costs. Revenue per month from original moringa tea products amounted to Rp.9,456,875, red ginger moringa tea amounted to Rp.21,624,875, and moringa coffee beans amounted to Rp.17,872,050. In addition, the added value of moringa processing was also calculated, with the added value of original moringa tea amounting to Rp.18,761.00, red ginger moringa tea amounting to Rp.54,916.00, and moringa coffee beans amounting to Rp.327,867.00. The added value generated from moringa processing is greater than zero (NT>0), so it can be concluded that moringa processing provides added value

    Kategori Studi dan Kesenjangan Pengetahuan di Literatur Standar dan Sertifikasi Kopi Berkelanjutan

    Full text link
    Sustainability standards and certification have been a trend in the coffee trade in the international market. Established based on the premise of the Theory of Change, sustainable standards and certification aim to improve the sustainability of the coffee sector, both economically, socially and environmentally. This article is a scientific review that summarizes and analyzes the results of studies on sustainable standards and certification. The literature on sustainability standards and certification is quite rich with studies conducted in coffee-producing countries in Asia, Africa, and Latin America. The aim of this paper is to categorize these studies by theme and, based on the existing knowledge gap, also provide recommendations for future research. The results of the review found that the majority of studies were conducted using macro and managerial approaches, and there is still a knowledge gap in the literature. It is necessary to change the approach in future studies to address this knowledge gap. Further research is recommended to use micro-level analysis and a bottom-up perspective (based on farmers’ perspective) to generate empirical knowledge on the social, economic, and environmental aspects of sustainability standards and certification.Standar dan sertifikasi berkelanjutan (sustainability standards and certification) telah menjadi tren dalam perdagangan kopi di pasar internasional. Dibentuk berdasarkan premis Teori Perubahan (the Theory of Change), standar dan sertifikasi berkelanjutan bertujuan meningkatkan keberlanjutan sektor kopi, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Artikel ini merupakan scientific review yang merangkum dan menganalisis hasil-hasil studi tentang standar dan sertifikasi berkelanjutan.  Literatur tentang standar dan sertifikasi berkelanjutan cukup kaya dengan berbagai studi yang dilakukan di negara-negara penghasil kopi  di Asia, Afrika dan Latin Amerika. Tujuan artikel ini adalah mengategorikan studi-studi tersebut berdasarkan temanya dan, berdasarkan kesenjangan pengetahuan (knowledge gap) yang ditemukan, memberikan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya. Hasil review menemukan bahwa mayoritas studi dilakukan dengan pendekatan makro dan manajerial, dan masih terdapat kesenjangan pengetahuan (knowledge gap) di literatur. Perubahan pendekatan dalam studi sangat perlu untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan (knowledge gap) tersebut. Penelitian selanjutnya direkomendasikan agar menggunakan analisis tingkat mikro dan perspektif bottom-up untuk menghasilkan pengetahuan empiris tentang aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan dari standar dan sertifikasi berkelanjutan berdasarkan perspektif petani

    Perilaku Konsumen dalam Pembelian Kopi di Coffe Shop

    Full text link
    The purpose of this study was to analyze the factors that influence the purchasing decisions of coffee consumers at the coffee shop, to analyze the factors that influence consumer behavior in buying coffee at the coffee shop. This research was conducted using a survey method. The sampling method in this study was carried out using the Non-Probability Sampling method, namely convenience sampling. The analysis technique used is quantitative descriptive analysis using PLS Structural Equation Modeling (SEM). The results of the analysis show that of the five variables namely atmosphere, price, service quality, product quality, and environment, only the price variable influences the decision to buy coffee in a coffee shop with P-values of 0.013 (<0.05). Among the three variables, namely service quality, customer satisfaction and product quality, only customer satisfaction has an effect on consumer loyalty, with P-values of 0.000 (<0.05). Meanwhile, only the service quality variable has a significant effect on customer satisfaction with a P-value of 0.000 (<0.05).Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor apa saja yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen kopi di Coffee Shop, menganalisis faktor apa saja yang berpengaruh terhadap perilaku konsumen dalam melakukan pembelian kopi di coffee shop. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei Metode pengambilan sampel pada penelitian ini akan dilakukan dengan metode Non-Probability Sampling yaitu convenience sampling. Teknik analisis yang digunakan yakni analisis deskriptif kuantitatif menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) PLS. Hasil analisis menunjukan bahwa dari lima variabel yakni atmosfir, harga, kualitas pelayanan, kualitas produk, dan lingkungan, hanya variabel harga yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian kopi di coffee shop dengan P-values sebesar 0,013 (<0,05). Diantara tiga variabel yakni, kualitas pelayanan, kepuasan konsumen dan kualitas produk, hanya variabel kepuasan konsumen yang berpengaruh terhadap loyalitas kondumen, dengan P-values sebesar 0,000 (<0,05). Sementara, hanya variabel kualitas pelayanan yang berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen dengan P-values sebesar 0,000 (<0,05)

    Motivasi Petani Selada Air di Desa Popnam Kecamatan Noemuti Kabupten Timor Tengah Utara

    Full text link
    Agricultural development in Indonesia is very influential in increasing the selling value of production and business opportunities for farmers originating from several agricultural sub-sectors. One of them is the food crops and horticulture sub-sector. This condition motivates farmers to use land effectively in improving farming in a sustainable manner. The purpose of this research is to describe the motivation of watercress farmers in Popnam Village, TTU Regency. The data collection process uses a survey method of farmers first in order to find out the initial conditions. This study used a mix method approach, namely quantitative data were obtained using Likert scale measurements while qualitative data were obtained through in-depth interviews to explore intrinsic and extrinsic motivation data on farmers. The results of the study explain that intrinsic factor is in the high category with a percentage of 84%. Efforts to meet food needs, build a decent place to live, support each other and work together are very important in the development of farming. The safety and appreciation factors that farmers have strengthens their inner motivation for sustainable farming development. Furthermore, the extrinsic factor is in the high category with a percentage value of 82%. This is seen from the price, market reach, and technology which has a high category. Even though government policies are less effective in terms of attention to farmers, the relationship between farmers is quite close as a family unit in building economic solidarity.Pembangunan pertanian di Indonesia sangat berpengaruh terhadap peningkatan nilai jual produksi dan kesempatan usaha petani yang bersumber dari beberapa subsektor pertanian. Salah satunya adalah subsektor tanaman pangan dan hortikultura. Kondisi ini memotivasi petani untuk memanfaatkan lahan secara efektif dalam meningkatkan usahatani secara berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan motivasi petani selada air di desa Popnam Kabupaten TTU. Proses pengambilan data menggunakan metode survei terhadap petani terlebih dahulu agar mengetahui kondisi awal. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix method yaitu data kuantittatif diperoleh menggunakan pengukuran skala likert sedangkan data kualitatif diperoleh melalui metode wawancara mendalam (indepth interview) untuk menggali data motivasi secara intrinsik dan ekstrinsik pada petani. Hasil penelitian menjelaskan bahwa faktor intrinsik berada pada kategori tinggi dengan persentasi 84%. Upaya pemenuhan kebutuhan makanan, membangun tempat tinggal yang layak, saling mendukung dan bekerja sama sangat penting dalam pengembangan usahatani. Faktor keamanan dan penghargaan yang dimiliki petani menguatkan motivasi dalam diri untuk pengembangan usahatani yang berkelanjutan. Selanjutnya faktor ekstrinsik berada pada kategori tinggi dengan nilai persentasi 82%. Hal ini dilihat dari harga, jangkauan pasar, maupun teknologi yang memiliki kategori tinggi. Meskipun peran pemerintah kurang efektif dalam hal perhatian terhadap petani namun kaitan hubungan antar petani cukup erat sebagai satu-kesatuan keluarga dalam membangun solidaritas ekonomi

    Pengaruh Pemberian Mol (Mikroorganisme Lokal) Bonggol Pisang terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Melon (Cucumis melo. L)

    Full text link
    This study aimed to (i) determine the type of concentration and frequency MOL banana weevil on the growth and yield of melon plants, (ii) to determine the response of melon plants to the use MOL (banana weevil). This research was carried out in June-August 2021, on the land of farmers in mamsena, west Insana sub-district, Regency North Central Timor (TTU). with an altitude of 600 meters above sea levels, rainfall between 2500-4000 mm. the design used in the study was a factorial randomized block design (RAK) consisting of 2 factors with 3 replication, the first factor (K) concentration consisting of (control )g, (K1) 500 ml, (K2) 1000 ml, the second factor (F) frequency of fertilization which consists of: F1 which is 2 times fertilization at planting time (WT) and 14 DAP, F2 is 3 times fertilization at planting time (WT), 14, 28 DAP, F3 fertilizing 4 times: planting time (WT), 14,28,and 42 DAP. Of these two factors, there were 9 treatment combinations, namely K0F1, K1F1, K2F1, K0F2, K1F2, K2F2, K0F3, K1F3, K2F3, so there were 27 experimental units. The result showed (i) the treatment of banan weevil MOL concentration and the frequency of watering had a significant effect on the growth and yield of melon plants. This could be seen from the interaction on the growth parameters, namely plants height 14 DAP, 28 DAP and stem diameter 14 DAP, concentration treatment MOL banana weevil 1000 ml is the best treatment in increasing the growth and yield of melon plantes. This can be seen with the highest values in the parameters of stem diameter, number of leaves, fresh weight fruit per plant, fruith length, fruit diameter, total fresh weight, leaf weight, root weight and harvest index, Treatment frequency of watering 3 times is the best treatment in increasing the growth and yield of melon plants. This can be seen with the highest values for the parameters of stem diameter, number of leaves, fresh weight of fruit per plant, fruit length, diameter of fruit, total fresh weight, and harvest index.Penelitian ini bertujuan untuk (i) mengetahui respon tanaman melon terhadap penggunaan mol bonggol pisang untuk mengetahui jenis konsentrasi dan frekuensi mol bonggol pisang terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman melon, (ii) mengetahui jenis konsentrasi dan frekuensi mol bonggol pisang yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman melon. Penelitian ini di laksanakan pada bulan Juni – Agustus 2021, di lahan petani Mamsena, Desa Letneo Selatan kecamatan Insana Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini ialah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari 2 faktor dengan 3 kali ulangan, faktorpertama (K) ialah Konsentrasi yang terdiridari (kontrol) g, (K1) 500ml, (K2) 1000ml, faktor kedua (F) frekuensi pemupukan yang terdiri dari: F1 yaitu 2 kali pemupukan :waktu tanam (WT) dan 14HST, F2 yaitu 3 kali pemupukan: waktu tanam (WT), 14,dan 28 HST, F3 yaitu 4 kali pemupukan: waktu tanam (WT), 14,28,dan 42 HST. Dari kedua faktor tersebut terdapat 9 kombinasi perlakuan yaitu K0F1, K1F1, K2F1, K0F2, K1F2, K2F2, K0F3, K1F3, K2F3, sehingga terdapat 27unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan, Perlakuan konsentrasi MOL bonggol pisang dan frekuensi penyiraman berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman melon. Hal ini terlihat dengan terjadinya interaksi pada parameter pertumbuhan yaitu tinggi tanaman 14 HST, 28 HST dan diameter batang 14 HST, Perlakuan konsentrasi MOL bonggol pisang 1000 ml merupakan perlakuan terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman melon. Hal ini terlihat dengan nilai tertinggi pada parameter diameter batang, jumlah daun, berat segar buah per tanaman, panjang buah, diameter buah, berat segar total, berat batang, berat daun, berat akar dan indeks panen, Perlakuan frekuensi penyiraman 3 kali merupakan perlakuan terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman melon. Hal ini terlihat dengan nilai tertinggi pada parameter diameter batang, jumlah daun, berat segar buah per tanaman, panjang buah, diameter buah, berat segar total, dan indeks panen

    Eksplorasi Jenis Produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di Pulau Tidore

    Full text link
    This study aims to determine the types of Non-Timber Forest Products (HHBK) products on Tidore Island and to determine their utilization. The method used in this research is the observation method (survey) with the research design being descriptive method and data collection procedures or data collection techniques namely observation, interviews, literature study, and documentation. This research was carried out in June-July 2022 in seven sub-districts, namely: Tomagoba, Soasio, Indonesiana, Gurabunga, Kalaodi, Doyado, and Jaya sub-districts. The results showed that there were 14 types of NTFP products on Tidore Island which were made by craftsmen and processors including Chairs, Tables, Yarn (natural dyes), Traditional dance attributes, Dipper, Baskets, Saloi, Nyiru (Susiru), Filters (Aya-aya ), caping (Tolu), coconut baskets (Bika), food box (besek), flower pots, and cinnamon. The use of NTFP product types by craftsmen and processors is as a livelihood and for daily needs in the form of handicraft products and beverage processing products with different forms of utilization that can be used by consumers and the public. Craftsmen and processors need a place and special attention from the government to distribute, support and promote the products they create, especially products from NTFPs on Tidore Island.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di Pulau Tidore dan mengetahui pemanfaatannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi (survei) dengan desain penelitian adalah metode deskriptif dan prosedur pengumpulan data atau teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Penelitian ini telah dilaksanakan pada Bulan Juni-Juli 2022 pada tujuh Kelurahan yaitu: Kelurahan Tomagoba, Soasio, Indonesiana, Gurabunga, Kalaodi, Doyado, dan Jaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 14 jenis produk HHBK di Pulau Tidore yang dibuat oleh pengrajin dan pengolah diantaranya: Kursi, Meja, Benang (pewarna alami), Atribut tarian tradisional, Gayung, Keranjang, Saloi, Nyiru (Susiru), Saringan (Aya-aya), Caping (Tolu), Keranjang kelapa (Bika), kotak makanan (Besek), Pot bunga, dan Kayu manis. Pemanfaatan jenis produk HHBK oleh pengrajin dan pengolah adalah sebagai mata pencaharian serta untuk kebutuhan sehari-hari berupa produk kerajinan dan produk pengolahan minuman dengan bentuk pemanfaatan berbeda-beda yang dapat digunakan oleh konsumen dan masyarakat. Pengrajin dan pengolah memerlukan wadah dan perhatian khusus dari pemerintah untuk menyalurkan, mendukung dan mempromosikan hasil produk yang mereka ciptakan terutama produk dari HHBK di Pulau Tidore

    Coccinella repanda Thunberg (Celeoptera: Coccinellidae) Aphidophagus Potensial pada Tanaman Cabai: Biologi, Demografi, dan Tanggap Fungsional Pada Beberapa Kutudaun

    Full text link
    Coccinella repanda Thunberg (Coleoptera: Coccinellidae) is one of the important predators in pest control of chili plants. However, information about this predator's biology, demography, and functional response is still limited in Indonesia. This study aimed to evaluate the potential of C. repanda by studying its biology, demography, and functional response to several species of main pest aphids on chili plants. Observations of biology and demography were conducted using five replications, with each replication treated with a pair of C. repanda. Observations of preference and predation ability of C. repanda on different prey were conducted using a factorial design with two factors and five replications. The first factor was prey exposure to different densities, and the second was the use of different prey species. Data were analyzed using variance analysis and continued with Duncan's New Multiple Range Tests (DNMRT) at the 5% level. The pre-adult and adult development periods, as well as the longevity of Coccinella transversalis (Thunberg) (Coleoptera: Coccinellidae), were studied in the laboratory using Aphis gossypii (Glover) (Homoptera: Aphididae) as prey. The results showed that the development period of C. repanda was 31.02 ± 4.73 days. During their lifespan, female adults were able to lay 90.44 ± 14.38 eggs. The demographic parameters of C. repanda were gross reproductive rate (GRR) of 74.80 individuals per generation; net reproductive rate (Ro) of 18.22 individuals per female per generation; intrinsic rate of increase (rm) of 0.46 individuals per female per day; mean generation time (T) of 12.40 days; and doubling time (DT) of the population for 1.51 days. There was no significant difference in the predation rate of C. repanda on three different prey exposed. Logistic regression analysis also revealed that C. repanda exhibited type I functional response to A. gossypii, A. craccivora, and M. persicae. These results indicate that C. repanda can be categorized as an effective biological control agent. This study is expected to contribute to developing biological pest control strategies on chili plants.Coccinella repanda Thunberg (Coleoptera: Coccinellidae) adalah salah satu predator penting dalam pengendalian hama pada tanaman cabai. Hanya saja informasi tentang biologi, demografi dan tanggap fungsional predator tersebut masih sedikit di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi C. repanda dengan mempelajari biologi, demografi dan tanggap fungsional pada beberapa spesies kutudaun hama utama tanaman cabai. Pengamatan biologi dan demografi menggunakan 5 ulangan, dengan masing-masing ulangan diperlakukan satu pasang C. repanda. Pengamatan preferensi dan kemampuan memangsa C. repanda pada beberapa mangsa yang berbeda menggunakan rancangan faktorial dengan 2 faktor dan 5 ulangan. Faktor pertama adalah pemaparan mangsa dengan kerapatan yang berbeda dan faktor kedua jenis mangsa yang berbeda. Data dianalisis dengan uji sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan’s New Multiple Range Tests (DNMRT) pada taraf 5%. Masa perkembangan pradewasa dan imago serta keperidian Coccinella transversalis (Thunberg) (Coleoptera: Coccinellidae) telah diteliti di laboratorium dengan menggunakan Aphis gossypii (Glover) (Homoptera: Aphididae) sebagai mangsa. Hasil penelitian memperlihatkan masa perkembangan C. repanda yakni 31,02 ± 4,73 hari. Selama hidupnya imago betina mampu meletakkan telur sebanyak 90,44 ± 14,38 butir. Parameter demografi C. repanda adalah laju reproduksi kotor (GRR) adalah 74,80 individu per generasi; laju reproduksi bersih (Ro) 18,22 individu per induk per generasi; laju pertumbuhan intrinsik (rm) sebesar 0,46 individu per induk per hari; masa rata-rata generasi (T) selama 12,40 hari; populasi berlipat ganda (DT) selama 1,51 hari. Laju pemangsaan C. repanda berbeda tidak nyata pada tiga jenis mangsa yang dipaparkan. Begitu juga hasil analisis regresi logistik terungkap bahwa C. repanda dimana pada mangsa A. gossypii, A. craccivora dan M. persicae tergolong pada tanggap fungsional tipe I. Hasil ini menunjukkan bahwa C. repanda dapat dikategorikan sebagai agens kontrol biologis yang efektif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi pengendalian hama secara hayati pada tanaman cabai

    Pengaruh Modifikasi Media Penyulingan Dan Waktu Penampung Nira Bunga Lontar Jantan (Borassus Flabellifer L.) Terhadap Kualitas Produk Sopi Timor (Tua nakaf).

    Full text link
    Sopi is an alcoholic drink distilled from Nira Lontar. For the indigenous people, dawan Sopi is a traditional drink, a cultural symbol and a tie for friendship between family members, for example as a traditional conversation starter and or media for solving problems. The problem that is happening in today's society is that people still tend to apply the conventional distillation process or their ancestral heritage, which requires a relatively longer time to produce the best quality sopi. Shok is a medium used from bamboo which is used for sopi distillation. The formulation of the problems in this study are i) How does the modification of the distillation medium (high shock) affect the quality of Timor sopi products, ii) How is the quality of Timor sopi products based on the length of storage time for sap of 24 hours and 12 hours of palm flower. This study aims to determine the effect of modified distillation media on the quality of Timor sopi products. To find out the quality of Sopi Timor products based on the length of time for palm sap to be stored. This research was carried out in Lanaus Village from September to October 2020. The palm sap used as research raw material was tapped from male lontar trees that grow around plantations and community forests in Lanaus Village, Insana Tengah District, TTU-NTT Regency. This study used a completely randomized design (CRD), which consisted of 2 factors. The results showed that there was no interaction between high shock treatment and sap storage time on parameters of sap alcohol content, sap acidity, sap soluble solids, sopi alcohol content, sopi acidity degree, and sopi soluble solids. The high shock treatment greatly affected the sopi alcohol content, this was indicated by the value of the sopi alcohol content at 12 hours of distillation at 3 meters high shock treatment where the yield reached an alcohol content of 48.33%. The duration of the sap storage has a significant effect on the quality of sopi, this is exemplified by the storage time of 12 hours in the morning giving the highest value of sap alcohol content and degree of acidity, while the soluble solids of the sap treatment of 12 hours in the afternoon give the highest soluble solids value. However, for the parameters of sopi alcohol content, degree of acidity of sopi and dissolved solids of sopi, the best holding time is the treatment time of 12 hours afternoon (shock height 3 meters). for 12 hours afternoon and with a shock height of 3 meters.Sopi merupakan minuman beralkohol hasil penyulingan terhadap Nira Lontar. Bagi masyarakat adat dawan Sopi adalah minuman tradisional simbol budaya dan pengikat tali silaturahmi antar anggota keluarga misalkan pembuka pembicaraan adat dan atau media penyelesaian perselisihan. Persoalan yang terjadi di masyarakat saat ini adalah masyarakata masih cenderung menerapkan proses penyulingan secara konvensional atau warisan leluhur, dengan membutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk menghasilkan minuman sopi dengan kwalitas terbaik. Shok merupakan media yang digunakan dari bambu yang digunakan untuk penyulingan sopi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah i) Bagaimana pengaruh modifikasi media penyulingan (tinggi shok) terhadap kualitas produk sopi Timor, ii) Bagaimana kualitas produk sopi Timor berdasarkan lama waktu penampung nira 24 jam dan 12 jam bunga lontar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh modifikasi media penyulingan terhadap kualitas produk sopi Timor. Untuk mengetahui kualitas produk Sopi Timor berdasarkan lama waktu penampung nira lontar. Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Lanaus pada bulan September sampai dengan Oktober 2020. Nira lontar yang digunakan sebagai bahan baku penelitian, disadap dari pohon lontar jantan yang tumbuh disekitar perkebunan dan hutan rakyat di Desa Lanaus, Kecamatan Insana Tengah, Kabupaten TTU-NTT. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial, yang terdiri atas 2 faktor. Hasil penelitian menunjukan tidak terjadi interaksi antara perlakuan tinggi shok dan lama penampungan nira terhadap parameter kadar alkohol nira, derajat keasaman nira, padatan terlarut nira, kadar alkohol sopi, derajat keasaman sopi, dan padatan terlarut sopi. Perlakuan tinggi shok sangat berpengaruh terhadap kadar alkohol sopi hal ini di tunjukkan dengan nilai kadar alkohol sopi pada waktu penyulingan 12 jam sore pada perlakuan tinggi shok 3 meter dimana hasil mencapai kadar alkohol 48.33 %. Perlakuan lama penampung nira berpengaruh nyata terhadap kualitas sopi hal ini di tunjukkan dengan lama penyimpanan 12 jam pagi memberikan nilai kadar alkohol nira, dan derajat keasaman nira tertinggi sedangkan pada padatan terlarut nira perlakuan 12 jam sore memberikan nilai padatan terlarut tertinggi. Namun pada parameter kadar alkohol sopi, derajat keasaman sopi serta padatan terlarut sopi lama penampung terbaik adalah perlakuan lama penampung 12 jam sore (tinggi shok 3 meter). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka penulis menyarankan untuk mendapatkan penyulingan sopi yang berkualitas sebaiknya perlunya waktu penampung nira selama 12 jam sore dan dengan tinggi shok 3 meter

    Pengaruh Krisis terhadap Nilai Ekspor Kakao Indonesia di Pasar Internasional

    Full text link
    Cocoa is one of the important commodities in the plantation industry which is marketed in international trade, one form of international trade is export. Indonesia's cocoa export destination countries are Malaysia, America, India, China, the Netherlands, Germany, and Australia. Export activities are usually influenced by the country's economic conditions, so that the global crises in 1998, 2008, 2011, and 2020 are thought to have affected Indonesia's cocoa exports. This study uses a gravity model approach to examine the impact of the crisis on cocoa export value. The variables used in this study are the value of Indonesia's cocoa exports (EXVAL) and GDP per capita (GDPCAP), the exchange rate of the destination country's currency against the US dollar (ER), and economic distance as the dependent variable. (ECODIST) and crisis (CRISIS) as the independent variable. The emergency variable is used as a dummy variable. The results of the analysis of the gravity regression model show that all independent variables are significantly based on the t-test with the coefficient values of GDPCAP, ER, ECODIST, and CRISIS of 2.10, 2.28, –0.71, and 0.28 with an R2 value of 82%. . The crisis variable has a positive effect on the value of Indonesia's cocoa exports, so that the crisis does not weaken the development of Indonesia's cocoa exports.Kakao merupakan salah satu komoditas penting dalam industri perkebunan yang dipasarkan dalam perdagangan internasional, salah satu bentuk perdagangan internasional adalah ekspor. Negara tujuan ekspor kakao Indonesia adalah Malaysia, Amerika, India, China, Belanda, Jerman dan Australia. Kegiatan ekspor biasanya dipengaruhi oleh kondisi perekonomian negara, sehingga krisis global pada tahun 1998, 2008, 2011, dan 2020 diduga mempengaruhi ekspor kakao Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan model gravitasi untuk mengkaji dampak krisis terhadap nilai ekspor kakao. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai ekspor kakao Indonesia (EXVAL) dan PDB per kapita (GDPCAP), nilai tukar mata uang negara tujuan terhadap dolar AS (ER), jarak ekonomi sebagai variabel dependen. (EKODIST) dan krisis (KRISIS) sebagai variabel bebas. Variabel darurat digunakan sebagai variabel dummy. Hasil analisis model regresi gravitasi menunjukkan bahwa semua variabel independen signifikan berdasarkan uji-t dengan nilai koefisien GDPCAP, ER, ECODIST dan CRISIS sebesar 2,10, 2,28, –0,71 dan 0,28 dengan nilai R2 sebesar 82%. Variabel krisis berpengaruh positif terhadap nilai ekspor kakao Indonesia, sehingga situasi krisis tidak melemahkan perkembangan ekspor kakao Indonesia

    564

    full texts

    604

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇