Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
604 research outputs found
Sort by
Analisis Produksi Kepiting Bakau (Scylla seratta ) Kabupaten Bone
One of the biggest mangrove crab producing areas in Bone Regency is Cenrana District. The increase in the number of mangrove crab production in 2016 was the largest contribution of the Cenrana Subdistrict. However, as demand for mangrove crabs in Bone Regency continues to increase, the amount of production has not been able to meet the market demand for mangrove crabs even though their production has increased. This study aims to analyze the influence of production inputs (farmland, seeds, feed and labor) on the production of mangrove crabs. This research was conducted in Cenrana Subdistrict, Bone Regency, where the location was determined purposively. This research was conducted from February to March 2018. Respondents in this study were mangrove crab farmers who were selected using a sampling method of 92 people. The data analysis used is multiple regression analysis with the Ordinary Least Square (OLS) method, the model used is the Cobb-Douglas production function equation. The results showed that the increase in mangrove crab production was influenced by farmland factors (0,231), seeds (0,459), feed (0,155) and labor (0,238) and had a positive and significant effect on the production of mangrove crabs. Mangrove crab production will increase because there is a potential for increased production of mangrove crabs with the certainty of seed availability through improved mangrove habitat improvement, regulation of catching mangrove crab eggs laying eggs and environmental improvements due to pollution around the upper reaches of the Cenrana River Bone Regency.Salah satu daerah penghasil kepiting bakau terbesar di Kabupaten Bone adalah Kecamatan Cenrana. Peningkatan jumlah produksi kepiting bakau pada tahun 2016 adalah sumbangsi terbesar dari Kecamatan Cenrana. Akan tetapi, seiring permintaan kepiting bakau di Kabupaten Bone terus meningkat, jumlah produksinya belum mampu memenuhi permintaan pasar kepiting bakau meskipun produksinya pernah mengalami peningkatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh input produksi (lahan tambak, benih, pakan dan tenaga kerja) terhadap produksi kepiting bakau. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone, Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purvosive). Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Februari sampai dengan Maret 2018. Responden dalam penelitian ini adalah petani kepiting bakau yang dipilih menggunakan metode sampling sebanyak 92 orang. Adapun analisis data yang digunakan yaitu analisis regresi berganda dengan metode Ordinary Least Square (OLS), model yang digunakan adalah persamaan fungsi produksi Cobb-Douglas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan produksi kepiting bakau dipengaruhi oleh faktor lahan tambak (0,231), benih (0,459), pakan (0,155) dan tenaga kerja (0,238) dan berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi kepiting bakau. Produksi kepiting bakau akan semakin meningkat karena ada potensi peningkatan produksi kepiting bakau dengan adanya kepastian ketersediaan benih melalui perbaikan habitat mangrove yang lebih baik, peraturan penangkapan induk kepiting bakau yang bertelur dan perbaikan lingkungan akibat pencemaran disekitar hulu Sungai Cenrana Kabupaten Bone
Efektivitas Teh Kompos Berbahan Dasar Berbeda pada Pertumbuhan dan Produksi Rumput Benggala (Panicum maximum)
This research has been carried out in the experimental garden owned by the Faculty of Agriculture of the University of Timor, Sasi Village, Kefamenanu City District, Timor Tengah Utara Regency for one planting period (45) days from November 2018 to January 2019. The purpose of this study is to determine the effectiveness Compost based tea is different from the growth and production of Bengal grass (Panicum maximum). This study uses the experimental method, using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments 4 replications so that there are 16 units of experimental units. The treatments tested are as follows: R0: Without Compost Tea. R1: Guano-based Compost Tea. R2: Compost Tea Made from Cow's Stool. R3: Compost Tea Made from Chicken Exkreta. Variables observed were plant height, number of leaves, number of tillers, fresh weight of plants, dry weight of plants. The results showed that the effect of the treatment of different compost-based tea produced the best plant height in the treatment of chicken exkreta compost based on the treatment R3 by 108, 12 cm, the highest number of tillers on R3 treatment with 3.85 tillers of chicken exkreta. The highest number of leaves was R3 treatment with 7 compost based chicken compost tea, 21 leaves, the lowest dry weight in R3 treatment with compost tea made from chicken exkreta as much as 190, 499%, highest fresh weight on R3 treatment with compost tea chicken exkreta base as much as 950.00 g. However, statistically it was shown that the treatment of different compost-based compost teas at the same level produced growth and production that were the same or not significantly different (P> 0.05) for all variebel observations (Plant Height, Number of Leaves, Number of tillers, Fresh Weight and Dry Weight) It was concluded that the administration of guano-based compost tea, cow feces and chicken exkreta produced the same growth and production value because the nutrients available in the given compost tea were relatively the same.Penelitian ini dilaksanakan pada kebun percobaan milik Fakultas Pertanian Universitas Timor, Kelurahan Sasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara selama satu periode penanaman (45) hari Terhitung Bulan November 2018 Sampai Bulan Januari 2019. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efektivitas teh kompos berbahan dasar berbeda terhadap pertumbuhan dan produksi rumput Benggala (Panicum maximum). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 4 ulangan. Adapun perlakuan yang diuji adalah sebagai berikut : R0 : Tanpa Teh Kompos. R1 : Teh Kompos Berbahan Dasar Guano. R2 : Teh Kompos Berbahan Dasar Feses Sapi. R3 : Teh Kompos Berbahan Dasar Ekskreta Ayam. Variabel yang diamati berupa: tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, berat segar tanaman, berat kering tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan teh kompos berbahan dasar berbeda menghasilkan tinggi tanaman terbaik pada perlakuan penggunaan teh kompos berbahan dasar ekskreta ayam yaitu pada perlakuan R3 sebesar 108, 12 cm, jumlah anakan terbanyak pada perlakuan R3 dengan bahan dasar ekskreta ayam sebanyak 3,85 anakan, jumlah daun terbanyak pada perlakuan R3 dengan teh kompos berbahan dasar ekskreta ayam sebanyak 7,21 helai daun, berat kering terendah pada perlakuan R3 dengan teh kompos berbahan dasar exkreta ayam sebanyak 190, 499 %, berat segar tertinggi pada perlakuan R3 dengan teh kompos bahan dasar ekskreta ayam sebanyak 950,00 g. Namun secara statistik menunjukan bahwa pemberian perlakuan teh kompos berbahan dasar berbeda pada level yang sama menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang sama atau berbeda tidak nyata untuk semua variabel pengamatan. Disimpulkan bahwa pemberian teh kompos berbahan dasar pupuk guano, feses sapi dan ekskreta ayam menghasilkan nilai pertumbuhan dan produksi yang sama hal ini karena unsur hara yang tersedia dalam teh kompos yang diberikan relatif sama
Uji Kualitas Fisik Susu Sapi Friesh Holland (Studi Kasus Peternakan Claretian Novisiat Benlutu Kabupaten TTS)
This study aims to determine the quality of milk in the Claretian Novisiat Benlutu Ranch, in terms of alcohol test, boiling test, specific gravity test and acidity degree. This study uses fresh milk samples taken at Benlutu. Alcohol test data, boiling test specific gravity test and the degree of acidity were analyzed using descriptive analysis. The data obtained were analyzed using descriptive analysis and presented in tabular form and the discussion was carried out descriptively based on average counts and standard deviations then compared with SNI 3141.1.2011 concerning the quality of fresh milk. The results of the study were negative in the alcohol test and boiling test, this is in accordance with SNI 2011 on fresh milk. Whereas the milk acidity test shows 6.8 according to SNI 2011 about milk acidity which ranges from 6.0 to 7.5, the specific gravity test shows a scale of 1.0276, this complies with SNI. Based on the results of the study it can be concluded that the fresh milk obtained from the Claretian Novisiat Benlutu Farm is physically good quality and fit for consumption, evidenced by the quality test on fresh milk fulfilling SNI in terms of alcohol test, acidity titration, and boiling test, and specific gravity test.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas susu yang ada di Peternakan Claretian Novisiat Benlutu, ditinjau dari uji alkohol, uji didih, uji berat jenis dan derajat keasaman. Penelitian ini menggunakan sampel susu segar yang diambil di Benlutu. Data uji alkohol, uji didih uji berat jenis dan derajat keasaman dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan pembahasan dilakukan secara deskriptif berdasarkan hitungan rata-rata dan dan standar deviasi selanjutnya dibandingkan dengan SNI 3141.1.2011 tentang mutu susu segar. Hasil penelitian menunjukkan negatif pada uji alkohol dan uji didih, hal ini sesuai dengan SNI 2011 tentang susu segar. Sedangkan pada uji derajat keasaman susu menunjukkan angka 6,8 sesuai juga dengan SNI 2011 tentang derajat keasaman susu yang berkisar antara 6,0-7,5, pada uji berat jenis menunjukkan skala 1,0276, hal ini sudah memenuhi SNI. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa susu segar yang diperoleh dari Peternakan Claretian Novisiat Benlutu secara fisik berkualitas baik dan layak dikonsumsi, dibuktikan dengan uji kualitas pada susu segar memenuhi SNI ditinjau dari uji alkohol, titrasi keasaman, dan uji didih, dan uji berat jenis
Pendugaan Bobot Badan Ternak Kambing Betina Berdasarkan Ukuran Linear Tubuh di Desa Boronubaen Kecamatan Biboki Utara Kabupaten Timor Tengah Utara
This study aims to estimate the body weight of female goats that are traditionally raised by breeders in the village of Boronubaen, North Biboki District, North Central Timor Regency. Sampling of research and livestock is carried out by proposive sampling. The livestock that were the object of the study were 23 female goats belonging to breeders with different ages ie 1 and 2 years viewed based on fixed incisors. The method used in this study is an experimental method by making direct measurements of the linear body of a female goat and body weight. The variables measured in this study included estimating body weight, body length, chest circumference, shoulder height. The data obtained were analyzed by simple linear regression analysis according to the instructions (Akdon, 2013). The mathematical model is: Y = a + bX. Where, Y = the predicted value / projected bound variable subject; A = Constant price value; b = Regression coefficient / Direction value as a predictor / prediction showing the value of increasing (+) or decreasing value (-) of variable Y; X = free variable. It was concluded that body length at one year of age and chest circumference had a strong prediction and body weight with values ​​of 0.895 and two years of age 0.538, and chest circumference of one year of age 0.674 and two years of age of chest circumference of 0.535. 2. Shoulder height has a strong relationship between singnification and body weight of goats.Penelitian ini bertujuan untuk menduga bobot badan ternak kambing betina yang dipelihara secara tradisional oleh petani peternak di Desa Boronubaen Kecamatan Biboki Utara Kabupaten Timor Tengah Utara. Pengambilan sampel penelitian dan ternak dilakukan dengan proposive sampling. Ternak yang menjadi objek penelitian adalah 23 ekor kambing betina milik peternak dengan umur yang berbeda-beda yakni 1 dan 2 tahun dilihat berdasarkan gigi seri tetap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan melakukan pengukuran langsung terhadap linear tubuh ternak kambing betina dan bobot badan. Variabel yang diukur dalam penelitian ini meliputi pendugaan bobot badan, panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis regresi linear sederhana sesuai petunjuk (Akdon, 2013). Dengan model matematikanya adalah:Y = a + bX. Dimana, Y = Nilai yang diramalkan/ subjek variabel terikat yang diproyeksikan; A= Nilai Konstansta harga; b = Koefesien regresi/Nilai arah sebagai penentu ramalan/prediksi yang menunjukkan nilai peningkatan (+) atau nilai penurunan (-) variabel Y ; X = Variabel bebas. Disimpulkan bahwa panjang badan pada umur ternak satu tahun dan lingkar dada memiliki pendugaan yang kuat dan dengan bobot badan dengan nilai masing-masing adalah 0,895 dan umur dua tahun 0,538,dan lingkar dada umur satu tahun 0,674 dan umur dua tahun lingkar dada 0,535. 2.Tinggi pundak memiliki keereatan hubungan yang kuat dan singnifikasi dengan bobot badan ternak kambing
Aktivitas Antioksidan, Kadar Air, Nilai pH dan Total Fenolik Dendeng Sapi yang di Curing Menggunakan Ekstrak Rosella (Hibiscus sabdariffa L.)
This research has been carried out at the Widya Mandira Kupang Mipa Laboratory (UNWIRA), from February to April 2019. The material used in this study was 1 kg of thigh beef and 3 kg dried rosella petals (Hibiscus sabdariffa Linn). The method used is a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 4 treatments and 3 replications. The treatments given are R0 = Beef + Spices, R1 = Beef + Spices + Nitrate 200 ppm, R2 = Beef + Spices + Rosella Extract 40%, R3 = Beef + Spices + Roselle Extract 60%. The purpose of this study was to determine what antioxidant value, water content, pH and total phenolic beef jerky after being cured using rosella extract, and to determine the effect of rosella extract as a natural antioxidant substitute for nitrate in curing beef jerky. Based on the results of this study it can be concluded that in the R3 sample with the addition of 60% roselle extract concentration can increase the total value of beef jerky phenolic value of 0.650 mg / g. And the addition of nitrate in the R1 sample was able to reduce the pH value and moisture content and increase the antioxidant value of beef jerky, for the beef jerky pH value was 5.3, and the water content value was 16.331%, the pH value and water content value was the best because it was in accordance with SNI . Thus it can be concluded also that samples with the addition of nitrate still play a more effective role compared to 40% and 60% rosella extract samples.Penelitian dilaksanakan di Laboratorium MIPA Universitas Widya Mandira Kupang, sejak bulan Februari sampai dengan bulan April 2019. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging sapi bagian paha 1 kg dan kelopak rosella (Hibiscus sabdariffa Linn) kering 3 kg. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan masing-masing yaitu R0= Daging sapi + Bumbu-bumbu, R1= Daging sapi + Bumbu-bumbu + Nitrat 200 ppm, R2= Daging sapi + Bumbu-bumbu+ Ekstrak Rosella 40% , R3= Daging sapi + Bumbu-bumbu + Ekstrak Rosella 60%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai antioksidan, kadar air, pH dan total fenolik dendeng sapi setelah dicuring menggunakan ekstrak rosella, dan untuk mengetahui pengaruh ekstrak rosella sebagai antioksidan alami pengganti nitrat dalam proses curing dendeng sapi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada sampel R3 dengan penambahan konsentrasi ekstrak rosella 60% dapat meningkatkan nilai total fenolik dendeng sapi yaitu sebesar 0,650 mg/g. Penambahan nitrat pada sampel R1 mampu menurunkan nilai pH dan nilai kadar air dan meningkatkan nilai antioksidan dendeng sapi, untuk nilai pH dendeng sapi yaitu 5,3, dan nilai kadar air 16,331 %, nilai pH dan nilai kadar air ini terbaik karena sesuai dengan SNI. Penambahan nitrat masih memegang peranan yang lebih efektif dibandingkan dengan sampel ekstrak rosella 40% dan 60%
Biochar dari Biomassa Kusambi, Akasia, dan Kayu Putih sebagai Media Semai Benih Selada (Lactuca sativa L.)
Seedling media is one of the factors that influence seed germination. The requirements for seed germinating are media constituent material have a porosity for water retention and air circulation. One of the porous material that can be used as seedling media is biochar. Characteristic of biochar depend on the pyrolisis temperature and the type of biomass. This study aims to determine the percentage conversion of biomass from 3 types of woody biomass to biochar, the chemical characteristics of biochar resulting from pyrolysis at 3 different temperatures, viability of lettuce seeds on seedlings media with biochar, soil, and compost. This study used a factorial completely randomized design that was repeated 3 times. The first factor is the type of woody biomass which consists of 3 levels, namely lac tree, eucalyptus, and acacia. While the second factor is the pyrolisis temperature which consists of 3 temperature variations namely 350 oC, 450 oC, and 550 oC. The results showed that the higher percentage of biochar yield was produced on the type of lac tree with pyrolysis temperature at 350 oC. Biochar pH is alkaline except for biochar from lac tree with pyrolysis temperature at 350 oC. The highest EC value is produced by eucalyptus biochar with a pyrolysis temperature at 550 oC. The type of eucalyptus biochar has C-total, N, P, and K content greater than the other, while the largest CEC value is produced by the type of lac tree biochar. The best seed germination of lettuce is produced by eucalyptus biochar at pyrolysis temperature on 450 oC. Generally, the type of acacia wood biochar gives the best germination in all pyrolisis temperatures.Media perkecambahan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkecambahan benih. Syarat media tanam yang baik untuk proses perkecambahan adalah bahan penyusun media yang menyediakan cukup ruang berpori untuk udara dan air. Salah satu bahan berpori yang dapat digunakan sebagai media semai benih adalah biochar. Karakteristik biochar umumnya tergantung pada kondisi temperatur pembakaran biomassa dan jenis biomassa yang digunakan. Tujuan dilakukannya penelitian adalah untuk mengetahui persentasi konversi biomassa dari 3 jenis biomassa kayu menjadi biochar, karakteristik kimia biochar hasil pirolisis pada 3 temperatur yang berbeda, dan viabilitas benih selada pada media semai campuran biochar, tanah, dan kompos. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial yang diulang 3 kali. Faktor pertama merupakan jenis biomassa kayu yang terdiri atas 3 level yakni kayu kusambi, kayu putih, dan kayu akasia. Sedangkan faktor kedua adalah temperatur pembakaran yang terdiri atas 3 variasi suhu yakni 350 oC, 450 oC, dan 550 oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase hasil biochar terbaik dihasilkan pada jenis biomassa kayu kusambi dengan temperatur pirolisis sebesar 350oC. pH biochar bersifat alkali kecuali pada biochar kusambi dengan temperatur pirolisis 350 oC. Nilai DHL tertinggi dihasilkan oleh jenis biochar kayu putih dengan temperatur pirolisis 550 oC. Jenis biochar kayu putih memiliki kandungan C-total, N, P, dan K lebih besar dibanding 2 jenis biochar lainnya, sedangkan nilai KTK terbesar dihasilkan oleh jenis biochar kusambi. Daya berkecambah benih selada terbaik dihasilkan oleh jenis biochar kayu putih pada temperatur pirolisis 450 oC. Secara umum jenis biochar kayu akasia memberi hasil daya berkecambah yang baik pada semua temperatur pembakaran
Analisis Produksi Dan Pendapatan Usahatani Padi Sawah Di Desa Manleten Kecamatan Tasifeto Timur Kabupaten Belu
This study aims: 1) To know the general description of wetland rice farming in Manleten Village, Tasifeto Timur District, Belu Regency; 2) Knowing the income of rice paddy farming in Manleten Village, Tasifeto Timur District, Belu Regency. This research has been carried out in Manleten Village, Tasifeto Timur Subdistrict, Belu Regency, from January to September 2018. The method used in this study is a survey method with the type of data used primary data and secondary data, to find out the first purpose descriptive analysis, while for knowing the income of lowland rice farming, namely the difference between revenue and all costs. The results of the study show that rice farming activities go through several stages: 1) nursery; 2) preparation and processing of paddy fields; 3) planting; 4) maintenance; 5) harvest; 6) post-harvest; and 7) marketing. The receipt of lowland rice farming in the village of Manleten ranged from Rp. 18,000,000 to Rp. 137,500,000 with an average of Rp. 57,889,063. The cost of producing paddy rice farming ranged from Rp. 495,470 to Rp. 24,757,700 with an average of Rp. 12,696. 538 the income of wetland rice farming also ranged from Rp 1,820,667 to Rp. 113,774,000 with an average of Rp. 45,192,524.Penelitian ini bertujuan: 1) Mengetahui gambaran umum usahatani padi sawah di Desa Manleten Kecamatan Tasifeto Timur Kabupaten Belu; 2) Mengetahui pendapatan usahatani padi sawah di Desa Manleten Kecamatan Tasifeto Timur Kabupaten Belu. Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Manleten Kecamatan Tasifeto Timur Kabupaten Belu sejak bulan Januari sampai bulan September 2018. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan jenis data yang digunakan data primer dan data sekunder, untuk mengetahui tujuan pertama digunakan analisis deskriptif, sedangkan untuk mengetahui pendapatan usahatani padi sawah yaitu selisih antara penerimaan dan semua biaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan usahatani padi sawah melalui beberapa tahapan: 1) persemaian; 2) persiapan dan pengolahan lahan sawah; 3) penanaman; 4) pemeliharaan; 5) panen; 6) pasca panen; dan 7) pemasaran. Penerimaan usahatani padi sawah di Desa Manleten berkisar antara Rp 18.000.000 sampai dengan Rp 137.500.000 dengan rata-rata Rp 57.889.063 biaya produksi usahatani padi sawah berkisar antara Rp 495.470 sampai dengan Rp 24.757.700 dengan rata-rata sebesar Rp 12.696.538 pendapatan usahatani padi sawah juga berkisar antara Rp 1.820.667 sampai dengan Rp 113.774.000 dengan rata-rata sebesar Rp 45.192.524
Analisis Respon dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Beras Indonesia
This study aims to 1) analyze the factors that influence the demand for Indonesian rice, and 2) analyzing the response to rice demand from the factors that influence it. The data in this study use time series data for the period 1988-2017. Data analysis using linear regression analysis method. The results showed that Indonesian rice demand was influenced by retail rice prices, per capita income, population, rice production and Indonesian rice demand lag at α level of 5 percent with an R-Squared value of 91.3 percent. Based on the analysis of responses, the population number variable is the only independent variable that has elastic elasticity (E> 1) both in the short and long term analysis. Variable retail rice prices, per capita income and rice production, have elasticity values ​​that are inelastic (E <1) in both the short and long term analysis.Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan beras Indonesia; dan 2) menganalisis respon permintaan beras dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Data pada penelitian ini menggunakan data time series periode 1988-2017. Analisis data menggunakan metode analisis regresi linear. Hasil penelitian menunjukan bahwa Permintaan beras Indonesia dipengaruhi oleh harga beras eceran, pendapatan perkapita, jumlah penduduk, produksi beras dan lag permintaan beras Indonesia pada taraf α sebesar 5 persen dengan nilai R-Squared sebesar 91.3 persen. Berdasarkan analisis respon, variabel jumlah penduduk menjadi satu-satunya variabel bebas yang memiliki nilai elastisitas yang bersifat elastis (E >1) baik dalam analisis jangka pendek maupun jangka panjang. Variabel harga beras eceran, pendapatan perkapita dan produksi beras memiliki nilai elastisitas yang bersifat inelastis (E<1) baik dalam analisa jangka pendek maupun jangka panjang. 
Pengaruh Pemberian Pupuk Kompos Berbahan Dasar Guano dengan Level Berbeda terhadap Pertumbuhan Turi (Sesbania grandiflora)
The abstracts represent all of the writing material and its implications, written briefly (about 200-250 words). A concise and factual abstract is required. The abstract should state briefly the purpose of the research, the principal results and major conclusions. An abstract is often presented separately from the article, so it must be able to stand alone. For this reason, References should be avoided, but if essential, then cite the author(s) and year(s). Also, non-standard or uncommon abbreviations should be avoided, but if essential they must be defined at their first mention in the abstract itself.Abstract should commence with a clear introduction of two or three sentences mentioning background of research. Subsequently, state the general problem of the research, followed by results/main findings that directly answer the problem. Give one or two sentence(s) to discuss the finding(s) or prospective(s).Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk kompos berbahan dasar guano dengan level yang berbeda terhadap pertumbuhan turi (Sesbania grandiflora). Alat yang digunakan terdiri dari: peralatan ukur seperti mister, meteran, jangka sorong, oven, timbangan duduk (digital); peralatan bercocok tanam seperti parang, ember, linggis, pacul dan skop sedangkan bahannya terdiri dari bibit atau anakan turi sebanyak 128 anakan, kotoran kelelawar (guano) 100 kg, jerami padi 10 kg, dedak padi 6 kg, gula 0,5 kg, EM4 (Effective Microorganisms 4) 500 cc, terpal, karung dan air secukupnya. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan sehingga terdapat 16 satuan percobaan. R0 = Tanpa pemberian kompos guano (kontrol), R1 = Pemberian pupuk kompos 200 g/lubang tanam, R2 = Pemberian pupuk kompos 500 g/lubang tanam, R3 = Pemberian pupuk kompos 800 g/lubang tanam. Variabel pengamatan yaitu Tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah helai daun. Pengamatan dan pengambilan data dilakukan sebanyak 4 kali (14 HST, 21 HST, 28 HST dan 35 HST). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji duncan untuk melihat perbedaan antara perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian kompos guano pada level 800g pada hari ke 35 HST secara signifikan meningkatkan tinggi tanaman yaitu sebesar 57,18 cm, diameter batang 0,81 mm dan jumlah helai daun 16,00 helai. Disimpulkan bahwa pemberian pupuk kompos berbahan dasar guano sangat efektif dalam meningkatkan nilai kesuburan tanah sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman turi (Sesbania grandiflora) yang terlihat dari tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah helai daun
Pengaruh Lama Fermentasi terhadap Kualitas Pupuk Bokashi Padat Kotoran Sapi
The purpose of this study was to find out to determine the fermentation time of the quality of solid bokashi fertilizer cow manure. The research took place at the Faculty of Agriculture, the University of Timor for 3 months with the ingredients used were dry cow feces, gamal leaves, rice bran, water, sugar, EM4, while the tools used are spades, scales, dippers, buckets, tarps, sacks, thermometers, and pH meter. The method used in this study was a completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments and 4 replications;R0: bokashi is fermented for 14 days, R1: bokashi is fermented for 21 days, R2: bokashi is fermented for 28 days, R3: bokashi fermented for 35 days while the variables are seen were physical quality (aroma, texture, and color) and chemical quality (N, P, K, and C / N and pH ratio). The data obtained were processed using variance according to the Completely Randomized Design (CRD) and the test continued by using Duncan's multiple distance test to see the difference. The results show that the color produced is brown to blackish brown, soil scented, fine textured, normal pH while the chemical qualities produced included in the ideal bokashi category. It was concluded that the length of different solid bokashi fertilizer fermentation provides influence on physical characteristics (color, aroma, texture) and chemistry (N, P, K, C / N ratio and pH) bokashi fertilizer is dense cow manure. The best bokashi fertilizer is 35 days of fermentation.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui untuk mengetahui waktu fermentasi terhadap kualitas pupuk bokashi padat kotoran sapi. Penelitian berlangsung di Fakultas Pertanian Universitas Timor selama 3 bulan dengan bahan yang digunakan adalah feses sapi kering, daun gamal, dedak padi, air, gula, EM4, sedangkan alat yang digunakan adalah skop, timbangan, gayung, ember, terpal, karung, termometer dan pH meter. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan; R0 : bokashi difermentasi selama 14 hari, R1 : bokashi difermentasi selama 21 hari, R2 : bokashi difermentasi selama 28 hari, R3 : bokashi difermentasi selama 35 hari sedangkan variabel yang dilihat adalah kualitas fisik (aroma, tekstur dan warna) dan kualitas kimia (N, P, K, dan Rasio C/N dan pH). Data yang di peroleh diolah dengan menggunakan sidik ragam sesuai Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan uji lanjut dengan menggunakan Uji Jarak berganda Duncan untuk melihat perbedaan. Hasil menunjukkan bahwa warna yang dihasilkan adalah berwarna cokelat sampai cokelat kehitaman, beraroma tanah, bertekstur halus, pH normal sedangkan kualitas kimia yang dihasilkan termasuk dalam kategori bokashi yang ideal. Disimpulkan bahwa lama fermentasi pupuk bokashi padat yang berbeda-beda memberikan pengaruh terhadap karakteristik fisik (warna, aroma, tekstur) dan kimia (N, P, K, Rasio C/N dan pH) pupuk bokashi padat kotoran sapi. Pupuk bokashi yang paling baik adalah dengan lama fermentasi 35 hari