Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
604 research outputs found
Sort by
Analisis Pengelolaan Penjualan Penyambung (Entres) Kopi Berdasarkan Penerapan Social Oriented, Kebun Induk Kopi Robusta, Desa Sai, Kecamatan Pupuan
This study aims to: 1) To find out the background of Robusta Coffee Estate, Sai Village, Pupuan Subdistrict, selling coffee connoisseurs based on the application of Social Oriented; 2) To find out the characteristics and advantages of the Robusta Coffee Main Estate; and 3) To find out whether the sales of coffee connectors can achieve social oriented operations at the Robusta Coffee Estate operations, Sai Village, Pupuan District. This type of research is a qualitative study with research subjects, namely the Head of the Horticultural Agriculture Service Unit and Staff at the Robusta Coffee Estate. Data obtained in this study were collected through interviews, observations, documentation and literature studies. The results of this study indicate: 1) Background of Sales of Coffee Entres in Coffee Parent Farms is to provide coffee entres used by farmers in revitalizing their unproductive coffee plants; 2) Characteristics and Advantages of Application of Social Oriented is to improve the social life of the community so that it can improve the welfare of life through coffee farming activities; And 3) Sales of Oriented Social-Based Coffee Entres on Robusta Coffee Plantation Operations Activity is to set the selling price into two, specifically community coffee farmers at a price of Rp250 / section and project activities / Community Economic Institutions at a price of Rp750 / segment.Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Untuk mengetahui latar belakang Kebun Induk Kopi Robusta, Desa Sai, Kecamatan Pupuan melakukan penjualan penyambung kopi berdasarkan penerapan Social Oriented; 2) Untuk mengetahui karakteristik dan keunggulan Kebun Induk Kopi Robusta; dan 3) Untuk mengetahui apakah penjualan penyambung kopi dapat mencapai social oriented pada aktifitas operasi Kebun Induk Kopi Robusta, Desa Sai, Kecamatan Pupuan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan subyek penelitiannya yaitu Kepala UPT Dinas Pertanian Holtikultura dan Staf di Kebun Induk Kopi Robusta. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dokumentasi dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan: 1) Latar belakang penjualan penyambung Kopi pada Kebun Induk Kopi adalah untuk menyediakan kopi yang digunakan oleh petani dalam merevitalisasi tanaman kopinya yang sudah tidak produktif; 2) Karakteristik dan keunggulan penerapan Social oriented untuk meningkatkan kehidupan sosial masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan hidup melalui kegiatan pertanian kopi; Dan 3) penjualan Entres Kopi Berbasis Social oriented pada aktifitas operasi Kebun Induk Kopi Robusta adalah dengan mematok harga jual menjadi dua yaitu khusus petani kopi rakyat dengan harga Rp250/ruas dan kegiatan proyek/Lembaga Ekonomi Masyarakat dengan harga Rp750/ruas
Penggunaan Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum) Sebagai Bahan Alami Celup Puting terhadap Kualitas Mikrobiologis Susu Sapi Segar
This research was conducted at Claretian Benlutu dairy farm, Batu Putih District, TTS Regency for one month. This research consisted of 2 stages, namely 1 month of nipple dyeing and the second stage of testing the sample in the laboratory. The purpose of this study was to determine the effect of the use of garlic extract (Allium sativum) as a natural ingredient in the nipple on the microbiological quality of fresh cow's milk. In this study used 16 nipples from 4 dairy cattle. The experimental design used was a Completely Randomized Design of 4 treatments and 3 replications, with the treatment being R0 = commercial antisep solution as a control, R1 = concentration of garlic extract 20%, R2 = concentration of garlic extract 25% and R3 = concentration of onion extract white 30%. The variables observed in this study were reductase time and total bacteria. The results showed that the use of garlic extract (Allium Sativum) had the same effect as the commercial antisep solution seen from the time of bacterial and total bacterial reductase (P> 0.05). This is because garlic has anti-bacterial allicin which can inhibit bacterial growth. It can be concluded that garlic extract has the same ability as a commercial antisep solution in inhibiting the bacteria that causes mastitis in the nipples of dairy cows. Microbiological test results of 2 variables of milk use of garlic extract with a concentration of 20% are very optimal in the use of dairy milk nipple dyes in addition to inhibiting bacteria also saves costs in making garlic extract.Penelitian ini dilaksanakan di Peternakan sapi perah Claretian Benlutu, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten TTS selama satu bulan. Penelitian ini terdiri dari 2 tahap yaitu pencelupan puting selama 1 bulan dan tahap kedua pengujian sampel di laboratorium. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penggunaan ekstrak bawang putih (Allium sativum) sebagai bahan alami celup puting terhadap kualitas mikrobiologis susu sapi segar. Dalam penelitian ini digunakan 16 puting susu dari 4 ekor ternak sapi perah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dari 4 perlakuan dan 3 ulangan, dengan dengan perlakuannya adalah R0= larutan antisep komersial sebagai kontrol, R1= konsentrasi ekstrak bawang putih 20%, R2 = konsentrasi ekstrak bawang putih 25% dan R3= konsentrasi ekstrak bawang putih 30%. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah waktu reduktase dan total bakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak bawang putih (Allium Sativum) memiliki efek yang sama dengan larutan antisep komersial dilihat dari waktu reduktase bakteri dan total bakteri (P>0,05). Hal ini karena bawang putih memiliki kandungan anti bakteri allicin yang mampu menghambat pertubuhan bakteri. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak bawang putih memiliki kemampuan yang sama seperti larutan antisep komersial dalam menghambat bakteri penyebab mastitis pada puting susu sapi perah. Hasil uji mikrobiologis dari2 variabel susu penggunaan ekstrak bawang putih dengan konsentrasi 20 % sudah sangat optimal dalam penggunaan celup puting susu sapi perah selain menghambat bakteri juga menghemat biaya dalam pembuatan ekstrak bawang putih
Perbandingan Level Tepung Gamal (Gliricidia sepium) dan Tepung Lamtoro (Leucaena leucocephala) Yang Berbeda terhadap Parameter Kimia Wafer Sebagai Pakan Ruminansia Kecil
The purpose of this study was to determine the chemical quality of wafers using gamal flour (Gliricidia sepium) and lamtoro flour (Leucaena leucocephala) with different levels as small ruminant feed. This research was carried out at the Faculty of Agriculture, University of Timor in May to June 2019. Making wafers was carried out at the Faculty of Agriculture, while the analysis of feed quality was carried out at the Feed Chemistry Laboratory of the Faculty of Animal Husbandry Undana Kupang. The variables measured in this study were crude protein content, crude fat content, crude fiber content, dry matter, organic matter and BETN. The materials used in this study were gamal flour, lamtoro flour, rice bran, corn flour, mineral mix, starch flour, water. The method used is a Completely Randomized Design with the following treatment: R1 = Gamal Flour 20% + Lamtoro Flour 60% + Rice Bran + Corn Corn 8% + Mineral mix 2%, R2 = Gamal Flour 40% + Lamtoro Flour 40% + Bran Rice 10% + Corn Flour 8% + Mineral mix 2%, R3 = Gamal Flour 60% + Lamtoro Flour 20% + Rice bran 10% + Corn Flour 8% + Mineral mix 2, R4 = 80% Gamal Flour + Lamtoro Flour 0% + Rice Bran 10% + Corn Flour 8% + Mineral mix 2%. The results showed that there was a significant effect (P <0.01) on the chemical quality (dry matter, organic matter, crude protein, crude fat, crude fiber and BETN) wafers for small ruminants made with comparison of different gamal flour and lamtoro flour . It was concluded that the comparison of the levels of gamal flour and lamtoro flour in making wafers for small ruminant animals had different impacts on the quality of the chemical produced, but in general a ratio of 40% gamal flour and 40% lamtoro flour (R2) had the highest effect on the parameters of Quality Parameters Dry Ingredients, Organic Ingredients, Crude Protein and Crude Fiber.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kualitas kimia wafer yang menggunakan tepung gamal (Gliricidia sepium) dan tepung lamtoro (Leucaena leucocephala ) dengan level berbeda sebagai pakan ruminansia kecil. Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Pertanian Universitas Timor pada bulan Mei sampai Juni 2019. Pembuatan wafer dilaksanakan di Fakultas Pertanian, sedangkan analisis laboratorium kualitas pakan dilakukan di Laboratorium Kimia Pakan Fakultas peternakan Undana Kupang. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah kandungan protein kasar, kandungan lemak kasar, kandungan serat kasar, bahan kering, bahan organik dan BETN. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tepung gamal, tepung lamtoro, dedak padi, tepung jagung, mineral mix, tepung kanji, air. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan sebagai berikut: R1= Tepung Gamal 20%+Tepung Lamtoro 60% + Dedak Padi + Jagung Jagung 8% + Mineral mix 2%, R2= Tepung Gamal 40% + Tepung Lamtoro 40% + Dedak Padi 10% + Tepung Jagung 8%+ Mineral mix 2%, R3= Tepung Gamal 60%+ Tepung Lamtoro 20%+ Dedak Padi 10% + Tepung Jagung 8% + % Mineral mix 2, R4=Tepung Gamal 80%+Tepung Lamtoro 0%+ Dedak Padi 10%+ Tepung Jagung 8%+ Mineral mix 2%. Hasil menunjukkan bahwa ada pengaruh secara nyata (P<0,01) terhadap kualitas kimia (bahan kering, bahan organik, protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan BETN) wafer untuk ruminansia kecil yang dibuat dengan perbandingan tepung gamal dan tepung lamtoro yang berbeda. Disimpulkan bahwa perbandingan level tepung gamal dan tepung lamtoro dalam pembuatan wafer untuk ternak ruminansia kecil memberikan dampak yang berbeda-beda terhadap kualitas kimia yang dihasilkan namun secara umum perbandingan 40% tepung gamal dan 40% tepung lamtoro (R2) memberikan efek tertinggi terhadap parameter Parameter Kualitas Bahan Kering, Bahan Organik, Protein Kasar dan Serat kasar
Profil Glukosa dan Urea Darah Sapi Bali Jantan yang digemukkan dengan Pakan Komplit yang Mengandung Level Protein Kasar berbeda
The purpose of this study was to determine the glucose and urea profile of Bali bovine blood fattened with complete feed containing different levels of crude protein (PK). Cattle used by male Bali cattle are 2 - 2.5 years old with an initial weight of 200 kg. The rations used in the manufacture of complete feed are prepared with feed ingredients such as: natural grass, gliricida sepium, rice bran, corn flour, pollard bran. The variables measured in the study were blood glucose and blood urea of male Bali cattle. The method used is an experimental method using a completely randomized design (CRD) with the following treatment: T1: 27% Natural Grass + Gliricida sepium 10% + Corn Flour 34% + Pollard 15% + Rice Bran 14% T2: Natural Grass 27% + 20% Gliricida Sepium + 18% Corn Flour + 15% Pollard + 10% Rice Bran T3: 27% Natural Grass + 13% gliricida sepium + 20% Corn Flour + 15% Pollard + 7% Rice Bran The results of this study indicate that, the use of complete feed with different PK levels does not affect the glucose and urea levels of blood of Bali bulls (P> 0.05). Where the blood glucose level for each treatment is, T1: 92,392 ± 9,779, T2: 87,448 ± 7,905 T3: 93,717 ± 14,969 while the blood urea levels for each treatment are T1: 44,629 ± 5,663, T2: 45,473 ± 4,152, T3: 44,543 ± 8,343. Based on description of the results of the research that has been done, it can be concluded that the provision of complete feed with PK level (11%, 13%, 15%) at 72% TDN has the same effect for all treatments and produces blood glucose and urea levels in the normal range.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil glukosa dan urea darah sapi bali jantan yang digemukkan dengan pakan komplit yang mengandung level protein kasar (PK) berbeda. Ternak yang digunakan berupa sapi bali jantan berumur 2 – 2,5 tahun dengan berat awal 200 kg. Ransum yang digunakan berupa ransum komplit yang disusun dengan bahan pakan yang terdiri dari: rumput alam, tepung gamal, dedak padi, jagung giling, bran pollard. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen menggunakan RAL dengan perlakuan sebagai berikut: T1: Tepung Rumput 27 % + Tepung Gamal 10 % + Jagung 34 % + Pollard 15 % + Dedak Padi 14 % T2: Tepung Rumput 27 % + Tepung Gamal 20 % + Jagung 18 % + Pollard 15 % + Dedak Padi 10 % T3: Tepung Rumput 27 % + Tepung Gamal 13 % + Jagung 20 % + Pollard 15 % + Dedak Padi 7 %. Variabel yang diukur meliputi kandungan glukosa darah dan urea darah ternak sapi bali jantan dengan waktu pengambilan 0 jam, 2 jam, 4 jam dan 6 jam setelah diberi makan. Data yang diperoleh ditabulasi kemudian dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) sesuai prosedur rancangan acak lengkap (RAL) menggunakan SPSS versi 19.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penggunaan pakan komplit dengan level PK yang berbeda tidak mempengaruhi kadar glukosa dan urea darah sapi bali jantan (P>0,05). Dimana kadar glukosa darah (mg/dL) setiap perlakuan adalah T1: 92,392 ± 9,779; T2: 87,448 ± 7,905; T3: 93,717 ± 14,969; Kadar urea darah (mg/dL) sapi bali jantan masing-masing perlakuan adalah T1: 44,629 ± 5,663; T2: 45,473 ± 4,152; T3: 44,543 ± 8,343. Disimpulkan bahwa pemberian pakan komplit dengan level PK (11%, 13%, 15%), dengan energi (TDN 72%) memberikan pengaruh yang sama untuk semua perlakuan dan menghasilkan kadar glukosa dan urea darah dalam kisaran normal
Efisiensi Ekonomi Usahatani Padi Lahan Kering di Kabupaten Lampung Selatan
Dryland rice farming can be use to increase rice production in order to meet national food needs. To achieve high productivity, dryland rice farming systems must be carried out efficiently so that extra skills are needed from each individual farmer. This study aims to analyze factors that influence the production and economic efficiency level of dryland rice farming in Lampung Selatan Regency. Data collection was conducted by survey method with 60 farmers. The stochastic frontier production function is used in this study for data analysis. The results showed that the factors affecting dry land rice production in Lampung Selatan Regency were land area, seeds, N fertilizer, P fertilizer, solid pesticides, labor, and types of seeds. The average level of technical, allocative, and economic efficiency of dryland rice farming in Lampung Selatan Regency is 0.869; .957; and 0.829. These results indicate that farmers can still improve technical efficiency and allocative efficiency in order to achieve economically efficient conditions.Pemanfaatan lahankering untuk usahatani padi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi padi nasional dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan. Untuk mencapai produktivitas yang tinggi, sistem usahatani padi lahan kering harus dilakukan secara efisien sehingga perlu keterampilan ekstra dari setiap individu petani. Penelitian ini bertujuan untukuntuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dan tingkat efisiensi ekonomi usahatani padi lahan kering di Kabupaten Lampung Selatan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survey pada 60petani responden. Fungsi produksi stochastic frontierdigunakan dalam penelitian ini untuk analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwafaktor-faktor yang mempengaruhi produksi padi lahan kering di Kabupaten Lampung Selatan adalah luas lahan, benih, pupuk N, pupuk P, pestisida padat, tenaga kerja, dan jenis benih. Rata-rata capaian efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomi usahatani padi lahan kering di Kabupaten Lampung Selatan adalah sebesar 0,869; 0,957; dan 0,829. Untuk mencapai tingkat efisien secara ekonomi, petani perlu meningkatkan capaian efisiensi teknis dan alokatifnya
Kajian Pengaruh Residu Kompos Biochar Dan Aplikasi Teh Kompos terhadap Pembentukkan Bawang Putih (Allium sativum L. ) Siung Tunggal Menggunakan Bibit Asal Bagian Luar Siung Majemuk pada Penanaman Tahun Kedua
The aim of the study was to determine the effect of biochar compost residue on the second year of planting and the proper application of compost tea on the formation of single clove garlic (Allium sativum L.) using seeds from the outside of compound cloves. The research was carried out from June to September 2019, in the experimental garden of the Faculty of Agriculture, University of Timor, Sasi Village, Kefamenanu City District, North Central Timor Regency. Using a factorial randomized block design (RAK) 3 x 3. The first factor was the residue of biochar compost that was applied one year earlier, which consisted of 3 levels, namely without biochar compost, 10% compost plus biochar, 20% biochar plus compost. The second factor was the application of compost tea which consisted of 3 levels, namely, without compost tea, pure compost tea, compost with added biochar, which was repeated 3 times plus control so that there were 30 experimental plot units. The results showed that there was an interaction between the combination of 10% biochar compost residue treatment and the application of pure compost tea on the soil moisture content of 45 DAP, and the number of tubers per plot. Although there was no interaction between treatment of pure compost residue and pure compost tea, the weight of single clove tuber per plot was 0.93 t/ha. The main effect of 10% biochar compost residue treatment was to increase the yield of total tuber weight, single clove bulb weight, and compound clove bulb weight although not significantly different. The main effect of the application of biochar compost tea treatment was to increase the total tuber weight yield, single clove bulb weight, while the compound tuber weight yield was higher when applying pure compost tea.Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh residu kompos biochar pada penanaman tahun kedua dan aplikasi teh kompos yang tepat terhadap pembentukan bawang putih (Allium sativum L. ) siung tunggal menggunakan bibit asal bagian luar siung majemuk. Penelitian dilaksanakan bulan Juni sampai dengan bulan September 2019, di kebun percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Timor, Kelurahan Sasi Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara. Menggunakan Rancangan acak kelompok (RAK) faktorial 3 x 3. Faktor pertama adalah residu kompos biochar yang diaplikasikan satu tahun sebelumnya, yang terdiri dari 3 aras yaitu tanpa kompos biochar, kompos ditambah biochar 10%, kompos ditambah biochar 20%. Faktor kedua adalah aplikasi jenis teh kompos yang terdiri dari 3 aras yaitu, tanpa teh kompos, teh kompos murni, kompos ditambahakan biochar, yang diulang sebanyak 3 kali ditambah dengan kontrol sehingga terdapat 30 unit petak percobaan. Hasil penelitian membuktikan bahwa Terjadi interaksi antara kombinasi perlakuan residu kompos biochar 10% dan perlakuan aplikasi teh kompos murni terhadap kadar lengas tanah 45 HST, dan jumlah umbi per petak. Walaupun tidak terjadi interaksi antar perlakuan residu kompos murni dengan jenis teh kompos murni menghasilokan bobot umbi siung tunggal per petak terberat 0,93 t/ha. Pengaruh utama perlakuan residu kompos biochar 10% lebih meningkatkan hasil bobot umbi total, bobot umbi siung tunggal, dan bobot umbi siung majemuk walaupun tidak berbeda nyata. Pengaruh utama perlakuan aplikasi teh kompos biochar meningkatkan hasil bobot umbi total, bobot umbi siung tunggal, sedangkan bobot umbi majemuk hasilnya lebih tinggi apabila menerapkan teh kompos murni. 
Daya Saing Komoditas Padi Sawah di Kecamatan Biboki Moenleu Kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara Timur
This study aims to analyze competitiveness (comparative advantage and competitive advantage) as well as to analyze the impact of government policies on input prices (fertilizer subsidies) and output (basic price of grain) on lowland rice farming income in Biboki Moenleu District, North Central Timor Regency. This research was conducted from July to August 2020. The sample was determined using simple random sampling technique, namely randomly totaling 100 farmers. The types of data used are primary data and secondary data. The data analysis method used is descriptive qualitative method and Policy Analysis Matrix (PAM). Results of the study: 1) Rice farming in Biboki Moenleu District, North Central Timor Regency has a competitive advantage with a Private Cost Ratio (PCR) value of 0.19 and a comparative advantage in a Domestic Resource Cost Ratio (DRCR) of 0.13 so that lowland rice farming is feasible to continue. . 2). The government policy on input-output prices for lowland rice farming in Biboki Moenleu District, North Central Timor Regency has a significant impact on the income of lowland rice farmers at private prices with a Nominal Protection Coefficient on Tradable Output (NPCO) value of 1.13 and a Subsidy Ratio of Producer (SRP) of 0.05.Penelitian inibertujuan untuk menganalisis daya saing ( keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif) serta menganalisa dampak kebijakan pemerintah pada harga input (subsidi pupuk) dan output (harga dasar gabah) terhadap pendapatan usahatani padi sawah di Kecamatan Biboki Moenleu, Kabupaten Timor Tengah Utara. Penelitian ini dilaksanakandari bulan Juli s/d Agustus tahun 2020. Penentuan sampel mengunakan teknik simple random samplingyaitu secara acak berjumlah 100 petani. Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Metode analisis data yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif dan Policy Analisys Matrix(PAM). Hasil penelitian: 1)Usahatani padi sawah di Kecamatan Biboki Moenleu,Kabupaten Timor Tengah Utaramemilki keunggulan kompetitif nilai Private Cost Ratio(PCR) sebesar 0,19 dan keunggulan komparatif nilai Domestic Resource Cost Ratio(DRCR) sebesar 0,13 sehingga usahatani padi sawah layak untuk diteruskan. 2). Kebijakan pemerintah pada harga input-output pada usahatani padi sawah di Kecamatan Biboki Moenleu,Kabupaten Timor Tengah Utaraberdampak nyata terhadap pendapatan petani padi sawah pada harga privatdengan nilai Nominal Protection Coefficient on Tradable Output(NPCO) sebesar 1,13 dan nilai Subsidy Ratio of Producer(SRP) sebesar0,05
Sistem Pendukung Keputusan Kelayakan Panen pada Tanaman Jagung
Corn is one of the most important carbohydrate-producing food crops in the world. For some of the world's population, including in Indonesia, corn is used as a staple food. Corn can be harvested if the physiological ripe conditions are 80-90 days, the husk of the husks is brown, the hair of the corn on the cob is dry and black, the population for dry husks reaches 90%, the texture of the corn kernels is quite hard, and there are black dots on the tip of the corn kernels. Some farmers, especially those who are just starting to learn to plant corn or who do not have sufficient knowledge in agriculture, harvest corn earlier or later than the harvest time. This will have an impact on the chemical composition of the corn which will determine its quality. Therefore, a computer-based system model is needed that can provide convenience in analyzing data, calculating the assessment of harvest-worthy criteria, and helping to process data into information for making decisions. A decision support system (DSS) is the right choice for the above problem. The SPK is designed using the Simple Additive Weighting (SAW) method, which is one of the Fuzzy Multiple Attribute Decission Making (FMADM) methods. The SAW method was chosen because the weighted criteria calculation is not too complicated, so it is easy to learn. The system built is expected to help farmers accelerate the process of selecting criteria and reduce errors in determining the feasibility of harvesting the corn plantJagung adalah salah satu tanaman pangan penghasil karbohidrat yang terpenting di dunia. Bagi sebagian penduduk dunia termasuk di Indonesia, jagung dijadikan sebagai makanan pokok. Jagung dapat di panen jika kondisi masak fisiologis berumur 80-90 hari, kulit klobot telah berwarna coklat, rambut jagung pada tongkol telah kering dan berwarna hitam, jumlah populasi untuk klobot kering mencapai 90%, tekstur biji jagung cukup keras, dan terdapat titik hitam pada bagian ujung biji jagung. Beberapa petani, khususnya yang baru mulai belajar menanam jagung ataupun yang kurang memiliki pengetahuan yang cukup di bidang pertanian memanen jagung lebih awal ataupun lebih lama dari waktu panen nya. Hal ini akan berakibat pada komposisi kimiawi jagung yang akan menentukan kualitasnya. Oleh karena itu, diperlukan model sistem berbasis komputer yang dapat memberikan kemudahan dalam melakukan analisa data, perhitungan penilaian kriteria layak panen, serta membantu pengolahan data menjadi informasi untuk mengambil keputusan. Sebuah sistem pendukung keputusan (SPK) merupakan pilihan tepat untuk masalah diatas. SPK yang ada dirancang dengan menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW) yang merupakan salah satu metode Fuzzy Multiple Attribute Decission Making (FMADM). Metode SAW dipilih karena perhitungan pembobotan kriteria yang tidak terlalu rumit, sehingga mudah dipelajari. Sistem yang dibangun diharapkan dapat membantu kerja para petani mempercepat proses penyeleksian kriteria dan dapat mengurangi kesalahan dalam menentukan kelayakan panen dari tanaman jagung
Efektifitas Bahan Mikro Organisme Lokal (Mol) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah (Allium ascalonikum L.)
The need for onions by the people from year to year has increased but productivity has declined. Thus, the productivity of domestic shallots, especially in the TTU district, needs to be increased. Increasing the productivity of shallots needs the absorption of appropriate technology. The purpose of this study was to determine the type of local micro-organisms and the appropriate frequency of watering on the growth and yield of shallots as well as to determine the incidence and severity of disease. This research used factorial Randomized Block Design (RBD), with three replications. The first factor is the type of mole consisting of three levels, namely: control, mole of bamboo root, mole of banana weevil and the second factor is the frequency of watering, namely: once a week, once every two weeks and once every three weeks. The results showed that there was an interaction between the treatment of local micro-organisms and the frequency of MOL watering on the dry weight observation parameters per plot and the severity of the disease, while the other observation parameters did not interact. Local microorganism ingredients that can increase the growth and yield of shallots are local microorganism (MOL) banana weevil with the right frequency for application of MOL banana weevil is once every 3 weeks. Shallots that were applied with MOL were able to reduce the incidence and severity of disease compared to controlsKebutuhan bawang merah oleh masyarakat dari tahun-ketahun mengalami peningkatan tetapi produktifitas menurun. Dengan demikian produktivitas bawang merah dalam negeri khususnya kabupaten TTU perlu ditingkatkan. Peningkatan produktivitas bawang merah perlu penyerapan teknologi yang tepat. Tujuan penelitian yakni untuk mengetahui jenis bahan mikro organisme lokal dan frekuensi penyiraman yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah serta untuk mengetahui kejadian dan keparahan penyakit. Penelitan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial, dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis mol yang terdiri dari tiga aras yaitu: kontrol, mol akar bambu, mol bonggol pisang dan faktor ke dua adalah frekuensi penyiraman yaitu: satu minggu sekali, dua minggu sekali dan tiga minggu sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara perlakuan jenis microorganism lokal dengan frekoensi penyiraman MOL terhadap parameter pengamatan berat kering per petak dan keparahan penyakit sedangkan parameter pengamatan lainnya tidak terjadi interaksi. Bahan mikroorganisme lokal yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah adalah mikroorganisme lokal (MOL) bonggol pisang dengan frekuensi yang tepat untuk aplikasi MOL bonggol pisang adalah 3 minggu sekali. Tanaman bawang merah yang diaplikasikan dengan bahan MOL mampu menekan kejadian maupun keparahan penyakit dibandingkan dengan kontrol
Efek Model Penyimpanan Jagung (Zea mays L.) terhadap Kadar Gula Reduksi
Corn is a food material that is easily accepted by the community, because it is a staple food ingredient. One of the causes of decreased maize productivity is the ineffective maize storage model so that the need for seeds becomes less available and affects the quality of the maize. The habits of the people of TTU Regency generally save the corn harvest by fumigating it in the kitchen, storing it in barns, and storing corn drums. The three storage models are believed to be able to increase the shelf life of corn longer and avoid powder pests. However, in reality in the field resilience only covers the quantity (availability) aspect, while the quality aspect is not given much attention. In connection with the constraints experienced by the community, it is necessary to conduct a study to determine reducing sugar levels. The purpose of this study was to determine the storage model that can maintain quality and does not reduce reducing sugar levels in corn. This research was conducted from May to July 2014. The research method was carried out by testing in the laboratory. The tools used in the study were ovens, analytical scales, desiccators, and sample containers. The materials used were maize from the three storage models (fumigation, granary, and drum). The results showed that the highest reducing sugar content was in the drum storage model. In addition, the storage model for corn in the drum has the highest moisture content value of 15.26%.Jagung merupakan bahan pangan yang mudah diterima masyarakat, karena merupakan bahan makanan pokok. Penyebab penurunan produktifitas jagung salah satunya adalah model penyimpanan jagung yang tidak efektif sehingga kebutuhan benih menjadi kurang tersedia serta mempengaruhi kualitas jagung. Kebiasan masyarakat Kabupaten TTU pada umumnya menyimpan hasil panen jagung dengan cara pengasapan di dapur, penyimpanan di lumbung, dan penyimpanan jagung drum. Ketiga model penyimpanan tersebut dipercaya dapat meningkatan daya simpan jagung lebih lama dan terhindar dari hama bubuk. Namun dalam kenyataan di lapangan ketahanan hanya mencakup aspek kuantitas (ketersediaan) saja, sedangkan aspek kualitas kurang diperhatikan. Berkaitan dengan kendala-kendala yang dialami oleh masayarakat maka perlu dilakukan kajian untuk mengetahui kadar gula reduksi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui model penyimpanan yang dapat mempertahankan kualitas serta tidak menurunkan kadar gula reduksi jagung. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Mei sampai Juli 2014. Metode penelitian di lakukan dengan pengujian di laboratorium. Alat yang digunakan dalam penelitian yakni oven, timbangan analitik, desikator, wadah sampel. Bahan yang digunakan yakni jagung dari ketiga model penyimpanan (pengasapan, lumbung, dan drum). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar gula reduksi tertinggi terdapat pada model penyimpanan di drum. Selain itu juga pada model penyimpanan jagung di drum memiliki nilai kadar air yang tertinggi sebesar 15.26%