JOS - UNSOED (Jurnal Online Soedirman - Universitas Jenderal Soedirman)
Not a member yet
6212 research outputs found
Sort by
Hierarchies of Power and Civic Politics: Dynamics of Affirmative Action of Marginalized Communities on Government Policies through FPIC
Public participation is an important factor in policymaking. This participation must be viewed asmeaningful rather than merely symbolic. Recently, the government's power structure set a bad precedentfor policymaking that does not provide affirmative action to affected communities, particularly Indigenousones. Marginalized communities are forced to follow and implement government policies. This study willexamine the dynamics of marginalized communities' affirmative action toward government policies usingFPIC (free, Prior, Informed, and Consent). To formulate the argument, this research uses normative legalresearch with a conceptual and statutory approach. According to this hypothetical research, 1) there areat least three problems in public participation and affirmative action towards marginalized communities;First, non-inclusive governance undermines not only the democratic credo, but also the political role ofcommunity citizenship, which has four major dimensions: membership, legal status, rights, andparticipation. Second, the government wields power through state institutions, including acts of violencethat result in persecution and criminal activity. Third, the government through state institutions needs toprioritize political will to present policy products that provide protection to Indigenous peoples. 2) Basedon these issues, the power hierarchy has a significant influence in policy making. Recognizing civic politicsis critical for meaningful participation. The author proposes that in order to improve inclusive governance,the government's implementation of the FPIC approach allows communities to exercise their fundamentalright to state whether they agree or disagree with a policy that will be implemented in their living space,ensuring that governance runs smoothly and inclusively
Promosi Wisata Kopi Organik dengan Aplikasi Mobile Katalog di Kalibaru, Banyuwangi
Program pengabdian ini bertujuan untuk mempromosikan wisata kopi organik khususnya di kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi. Adapun bentuk dari promosi wisata kopi organik ini adalah dengan menggunakan aplikasi mobile katalog produk di Kecamatan Kalibaru Kabupaten banyuwangi sebagai informasi sekaligus untuk mempromosikan daya tarik wisata yang telah ada. Dengan adanya pengabdian ini kendala yang ada saat ini yaitu kurangnya SDM dalam hal kemampuan atau skill membuat aplikasi mobile katalog produk dari masyarakat sehingga berakibat kurang maksimalnya dalam penjualan produk kopi bisa segera di atasi. Mengingat, kecamatan Kalibaru ini memiliki potensi yang sangat besar untuk menarik daya kunjung wisatawan baik domestik dan berharap ke depan dapat menarik minat wisatawan asing lebih besar. Maka dengan pengabdian ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing wisata dan juga peningkatan ekonomi masyarakat. Pada pengabdian ini, pengabdi berpartisipasi dalam memberikan solusi atas kendala yang dihadapi masyarakat agar dapat dirasakan manfaatnya bagi potensi wisata kopi di Kalibaru secara berkelanjutan. Adapun solusi yang ditawarkan berupa pemberdayaan masyarakat dengan memberikan pelatihan untuk membuat aplikasi mobile katalog produk khususnya untuk produk kopi bagi masyarakat di Kalibaru secara gratis. Selain itu, dengan adanya pelatihan pembuatan aplikasi mobile katalog produk diharapkan dalam melakukan upaya memaksimalkan pengelolaan website wisata dan sarana media sosial sebagai sarana promosi agar lebih banyak agar di kenal secara global. Adapun metode pelaksanaan dengan pelibatan mitra pengabdian yaitu masyarakat petani/pengusaha yang bergerak di bidang kopi di Kecamatan Kalibaru Kabupaten Banyuwangi. Sedangkan tahap-tahap pelaksanaan meliputi: sosialisasi tentang program Pengabdian masyarakat, pendampingan proses pembuatan aplikasi mobile katalog produk, monitoring dan evaluasi kegiatan. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini adalah terciptanya E-katalog produk kopi Kalibaru
Upaya Pencegahan Retinopati Diabetika melalui Edukasi dan Deteksi Dini pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Lumbir
Retinopati Diabetika (RD) merupakan komplikasi mikrovaskular akibat Diabetes Melitus (DM) yang dapat menyebabkan kebutaan permanen. Di Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas, rendahnya pengetahuan masyarakat, keterbatasan akses pelayanan kesehatan, dan kurangnya tenaga medis terlatih menjadi kendala utama dalam pencegahan RD. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan pasien DM tipe 2 tentang faktor risiko RD dan melaksanakan deteksi dini di Puskesmas Lumbir melalui edukasi, diskusi, dan pemeriksaan mata. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test, menunjukkan peningkatan sebesar 325 dalam pemahaman peserta mengenai RD dan pentingnya pemeriksaan mata rutin. Hasil pengamatan menunjukkan peningkatan kesadaran peserta tentang RD dan pentingnya pemeriksaan mata rutin
Implementasi Algoritma k-Means Clustering untuk Pengelompokan Kecamatan di Kabupaten Banyumas Berdasarkan Jumlah Fasilitas Kesehatan
Pemerataan fasilitas kesehatan di Indonesia masih menjadi salah satu tantangan besar dalam pembangunan nasional. Salah satu wilayah yang mengalami tantangan tersebut yaitu Kabupaten Banyumas, di mana distribusi fasilitas kesehatan belum merata secara optimal antar kecamatan. Penelitian ini menganalisis pengelompokan kecamatan di Kabupaten Banyumas berdasarkan jumlah fasilitas kesehatan menggunakan metode k-means clustering. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kecamatan-kecamatan dengan akses terbatas terhadap pelayanan kesehatan. Data yang digunakan adalah jumlah fasilitas kesehatan menurut kecamatan yang meliputi rumah sakit umum, puskesmas, apotek, dan posyandu balita yang diperoleh dari hasil publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyumas. Hasil analisis pengelompokan ini menunjukkan bahwa kecamatan di Kabupaten Banyumas terbagi dalam tiga klaster dengan karakteristik fasilitas kesehatan yang berbeda secara signifikan yaitu klaster 1 memiliki akses terbaik, klaster 2 memiliki akses yang memadai, dan klaster 3 memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan. Pengelompokan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pemerataan pembangunan fasilitas kesehatan oleh pemerintah Kabupaten Banyumas
Family Support and Self-Efficacy in The Management of Diabetes Mellitus Among The Elderly
Elderly individuals with diabetes mellitus often face challenges in managing their disease, which requires a high level of self-efficacy to consistently maintain a healthy lifestyle. Self-efficacy is crucial in managing diabetes treatment among elderly patients. Family support plays a significant role in helping elderly individuals with diabetes improve their self-efficacy or confidence in performing self-care activities. The aim of this study was to determine the relationship between family support and self-efficacy in managing diabetes mellitus among the elderly at Health Center A. This research used a correlational analytic design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 114 respondents selected through purposive sampling. The instruments used were validated and reliable questionnaires, namely the Family Support Questionnaire and the Diabetes Management Self-Efficacy Scale. Data were analyzed using the Spearman rank correlation test. The cross-tabulation results between family support and self-efficacy showed that among those who received good family support, the majority—45 respondents (69.23%)—had good self-efficacy, and half—24 respondents (50%)—had moderate self-efficacy.Meanwhile, among those who received poor family support, nearly half—20 respondents (30.77%)—had good self-efficacy, half—24 respondents (50%)—had moderate self-efficacy, and one respondent (100%) had low self-efficacy.Based on the Spearman’s rho test, a p-value of 0.024 (< 0.05) was obtained, indicating a significant relationship between family support and self-efficacy in elderly individuals managing diabetes mellitus at Health Center A in 2025.It is expected that families will continue to provide support to patients, thereby improving their self-efficacy
Predictor Barriers to Self-Care Management in Diabetes Mellitus Clients in Kudus Regency
Diabetes Mellitus (DM) is a major health problem both globally and nationally. This is indicated by the increasing prevalence of DM every year. Problems that arise in DM clients include lack of self-management behavior caused by self-efficacy, health literacy, health beliefs and family support. If not handled properly, DM disease has an impact on other disease complications such as: heart, blood vessels, eyes, kidneys, and nerves. This ends in disability or death. This study aims to analyzepredictors of barriers to self-care management in diabetes mellitus clients. The research design uses descriptive correlation with a cross-sectional approach.The research was conducted at the Dawe Community Health Center, Kudus Regency in February 2025. The research sample was 106 respondents using purposive sampling technique.Inclusion criteria in this study were patients suffering from Type 2 DM, patients undergoing DM treatment, Age 18-60 years, able to read and write. While the exclusion criteria in this study were type 2 DM patients who had mental or physical limitations, had complications of diabetic ulcers, and retinopathy. The instrument used in this study was the Summary of Diabetes Self-Care Activities (SDSCA) questionnaire,Diabetes Management Self-Efficacy Scale (DMSES),Health Belief Model Questionnaire(HBMQ), Health Literacy Questionnaire (HLQ). Data analysis using Chi Square test. Research Results Show that Self Efficacy, health beliefs, health literacy, and family support are significantly related to Self-Care Management in diabetes mellitus clients with p-valueof 0.000(p value < 0.05).Further research is expected to develop and provide interventions for inhibiting factors.self care managementin improving self-management skills in diabetes mellitus clients
Gambaran Kecemasan Siswa di MAN Insan Cendekia Gowa
Latar Belakang: Masa remaja merupakan periode transisi, termasuk perubahan biologis, psikologis, kognitif, dan sosial, setiap perubahan dalam kehidupan remaja, baik mental maupun sosial, yang saling mempengaruhi dan dianggap sebagai faktor penyebab gangguan psikologis. Gangguan psikologis yang paling umum dialami oleh remaja adalah kecemasan, gambaran kecemasan siswa sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Gowa, sangat diperlukan untuk mencegah dan menangani dampak kecemasan pada remaja yang belajar di sekolah Islam. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kecemasan siswa di MAN Insan Cendekia Gowa. Metode: Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, menggunakan teknik Non Probability Sampling, dilakukan pada bulan Juni 2022 dengan responden penelitian sebanyak 52 siswa. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian 42.3 % dari 52 responden tidak mengalami kecemasan/normal, 30 % responden mengalami kecemasan ringan, 23.1% responden mengalami kecemasan sedang dan 3.8 % responden mengalami kecemasan berat. Kesimpulan: Responden yang mengalami kecemasan sebanyak 57%, mulai dari kecemasan ringan hingga kecemasan berat, dibutuhkan penanganan lebih lanjut dalam menangani masalah kecemasan siswa.  
Metode Pembelajaran Sariswara pada Mata Pelajaran Bahasa Jawa di Sekolah Inklusi
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan metode Sariswara dalam pembelajaran Bahasa Jawa pada kelas inklusi di SMPN 1 Sleman serta mengidentifikasi kontribusinya terhadap pemahaman siswa mengenai lagu dolanan dan dinamika interaksi sosial di kelas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Implementasi metode Sariswara mencakup pemilihan materi, pemberian pemahaman lirik dan makna, integrasi gerak ritmis, pelatihan bersama, serta kegiatan evaluasi dan refleksi. Lagu dolanan dimanfaatkan sebagai media internalisasi nilai budaya dan pembentukan karakter. Temuan penelitian menunjukkan bahwa metode Sariswara mampu mengakomodasi keragaman kemampuan antara siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus, khususnya penyandang disabilitas rungu-wicara yang terbantu melalui dukungan visual, pola gerak kinestetik, dan tutor sebaya. Hasil angket mencatat bahwa 89.5% siswa memahami materi dengan baik, 78.9% menyelesaikan tugas tepat waktu, dan seluruh siswa menunjukkan kemampuan bekerja sama tanpa diskriminasi. Dengan capaian keseluruhan 80.65%, metode Sariswara dipandang sesuai untuk pembelajaran inklusif dan menggarisbawahi pentingnya pendekatan budaya lokal yang fleksibel, multimodal, dan adaptif dalam meningkatkan mutu pembelajaran Bahasa Jawa
Perbuatan Berlanjut Dalam Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak Yang Dilakukan Oleh Ayah Tiri
Pencabulan terhadap anak dimungkinkan terjadi beberapa kali termasuk dilakukan oleh ayahnya sendiri sebagaimana Putusan Nomor 280/Pid.Sus/2022/PN Yyk. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa anak Indonesia berada dalam posisi terancam terhadap tindak pidana kesusilaan. Bobot sanksi pidana yang ringan bagi pelaku pencabulan anak berpotensi merusak psikologis anak sebagai generasi penerus bangsa. Penelitian ini menganalisis bagaimana penerapan ajaran perbuatan berlanjut dalam putusan tersebut, serta pertimbangan hukum Hakim dalam menjatuhan pidana. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus, mengkaji teori-teori hukum terhadap data sekunder dan metode kualitatif sebagai metode analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencabulan yang dilakukan Terdakwa selaku ayah tiri dari anak korban secara berulang kali dapat dikualifikasikan sebagai perbuatan berlanjut karena telah memenuhi syarat adanya satu kehendak, perbuatan sejenis, dan waktu yang berdekatan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Hakim tidak menerapkan konsep ajaran perbuatan berlanjut dalam Putusan Nomor 280/Pid.Sus/2022/PN Yyk serta pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan pidana penjara hanya menggunakan alasan memberatkan dan meringankan tanpa menjadikan konsep perbuatan berlanjut sebagai faktor pemberat pidana
Etiologi Kriminal Dan Pembinaan Narapidana Mucikari Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas Iia Sungguminasa
Perempuan merupakan kelompok rentan yang masih sering dipandang rendah dalam masyarakat, dan prostitusi sebagai kejahatan moral tidak terlepas dari peran mucikari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi keterlibatan perempuan dalam melakukan praktik mucikari yang telah dipidana melalui Putusan Nomor 338/Pid.Sus/2023/PN.Mks dan mengkaji program pembinaan yang diberikan kepada narapidana mucikari di Lapas Perempuan Kelas IIA Sungguminasa. Data diperoleh melalui pendekatan yuridis sosiologis dengan spesifikasi deskriptif-analitis, berdasarkan data primer dari hasil wawancara dan data sekunder dari hasil studi dokumen dan studi kepustakaan. Temuan menunjukkan bahwa pelaku dalam putusan tersebut terlibat dalam praktik mucikari karena faktor ekonomi, lingkungan, dan pergaulan. Faktor ekonomi menjadi faktor dominan, karena dorongan utama pelaku adalah memenuhi kebutuhan hidup. Keterlibatan perempuan dalam praktik mucikari dianalisis menggunakan Teori Asosiasi Differensial dan Teori Strain. Program pembinaan yang diberikan di Lapas Perempuan Kelas IIA Sungguminasa tidak memiliki kekhususan bagi narapidana mucikari, dan lebih menekankan pada pembinaan kepribadian melalui kegiatan keagamaan. Proses pembinaan dianalisis menggunakan Teori Resosialisasi Narapidana. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterlibatan perempuan melakukan praktik mucikari tidak sepenuhnya merupakan pilihan pribadi, melainkan bentuk respons terhadap tekanan ekonomi dan sosial. Ketiadaan program pembinaan yang bersifat khusus mencerminkan belum diterapkannya pendekatan berbasis gender dan kondisi sosial ekonomi dalam pembinaan narapidana mucikar