Jurnal Pengolahan Pangan (Universitas Alkhairaat Palu)
Not a member yet
110 research outputs found
Sort by
ANALISIS PENERAPAN METODE FIFO (FIRST IN FIRST OUT) PADA PENYIMPANAN BAHAN MAKANAN DI COLD KITCHEN THE PAPANDAYAN HOTEL
The Papandayan Hotel merupakan salah satu hotel berbintang lima yang ada di Kota Bandung yang menyediakan akomodasi jasa dalam bentuk jasa penginapan maupun makanan dan minuman. Cold kitchen di The Papandayan Hotel bertanggung jawab atas pembuatan appetizer atau makanan pembuka. Masih terdapat ketidaksesuaian karyawan dalam menerapkan metode FIFO (First In First Out). Maka dari itu, cara penyimpanan bahan yang ada di cold kitchen harus sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan, agar tetap terjaga kebersihan, kualitas, serta nilai gizi yang terkandung dalam makanan itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui pelaksanaan metode FIFO yang diterapkan di cold kitchen The Papandayan dan bagaimana pengendalian dan pengawasan metode FIFO yang dilaksanakan. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah penerapan metode FIFO (First In First Out) dalam penyimpanan bahan makanan sehingga produk makanan yang ada di cold kitchen sesuai dengan standart kualitas produk hotel sehingga meningkatkan kualitas makanan yang disajikan untuk meningkatkan kepuasan tamu terhadap produk makanan yang disajikan
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN FUNGSIONAL PATI SAGU FOSFAT PADA BERBAGAI KONSENTRASI RASIO SODIUM TRIMETAPHOSPHATE DENGAN SODIUM TRIPOLYPHOSPHATE
Pati sagu alami penggunaannya terbatas untuk pangan dan non pangan. Oleh karena itu, perlu dimodifikasi untuk memperbaiki karakteristik fisikokimia dan fungsionalnya. Tujuan penelitian untuk mendapatkan konsentrasi rasio sodium trimetaphosphate (STMP) dengan sodium tripolyphosphate (STPP) berdasarkan karakteristik fisikokimia dan fungsional pati sagu fosfat. Penelitian terdiri dari satu faktor dengan 7 taraf konsentrasi rasio STMP/STPP=99/1 yaitu 0, 2, 4, 6, 8, 10 dan 12% (berat/berat pati). Variabel analisis diantaranya kadar fosfat, kadar air, kadar abu, daya menahan air, daya menahan minyak, daya mengembang dan kelarutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi rasio STMP/STPP yang terbaik terdapat pada 6%. Kadar fosfat dan kadar abu pati sagu fosfat meningkat seiring dengan bertambahnya konsentrasi rasio STMP/STPP sampai konsentrasi 12% sedangkan daya menahan air dan daya mengembang meningkat sampai 8% selanjutnya menurun sampai akhir konsentrasi 12%. Kadar air dan daya menahan minyak pati sagu fosfat menurun seiring bertambahnya konsentrasi rasio STMP/STPP. Kelarutan pati sagu fosfat cenderung konstan seiring bertambahnya konsentrasi rasio STMP/STPP
SIFAT FISIK DAN SENSORIS BUBUK ASAM JAWA YANG DIPRODUKSI MENGGUNAKAN BAHAN PENGISI PATI SINGKONG GAJAH DENGAN METODE FOAM-MAT DRYING
Powder is a processed food product in the form of a fine powder, easily soluble in water, has a long shelf life and is practical. The problem that often arises in tamarind is that it has to separate the seeds and meat so that it is processed into powder. The purpose of this study was to determine the effect of adding filler concentration and foam-mat drying method on physical and sensory properties. This study is an experimental study of factorial RAL with 2 treatments and 3 replications. The first factor is the use of foam-mat drying method and without foaming, the second factor is the concentration of elephant cassava starch filler (10%, 15%, 20% and 25%). The data were analyzed using two way ANOVA and further tested using the Tukey test =5%. The results showed that the addition of cassava starch concentration as a filler and foam-mat drying method had a significant effect on water content, solubility, speed of dissolution by heating, precipitate, color test and sensory properties of tamarind powder
PEMANFAATAN DAMI BUAH NANGKA PADA PRODUK PANNA COTTA SEBAGAI PENGGANTI GELATIN
Penelitian ini didasari oleh kurangnya pemanfaatan limbah buah nangka khususnya dami atau jerami. Sebagian besar masyarakat mengolah limbah buah nangka menjadi masakan tradisional seperti gudeg, urap, dan sayur nangka. Tetapi tidak banyak dari masyarakat yang memanfaatkan dami atau jerami menjadi produk olahan khususnya untuk produk pattiserie, sehingga dapat menyebabkan terjadinya penumpukan limbah pangan. Maka dari itu, penulis akan meneliti tentang pemanfaatan dami buah nangka sebagai pengganti gelatin. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yaitu menggantikan gelatin dengan dami buah nangka pada produk panna cotta, kemudian tujuan utama penelitian ini ialah untuk mendapatkan formula resep yang tepat serta untuk mengetahui daya terima konsumen melalui penyebaran kuisioner uji organoleptik kepada 100 panelis. Hasil dari penelitian ini ialah didapatkan formula resep yang tepat yaitu dengan menggunakan 50 gr dami buah nangka pada produk sebagai pengganti dari gelatin dan berdasarkan hasil uji organoleptik untuk mengetahui daya terima konsumen menunjukan bahwa produk dapat diterima dan disukai oleh konsumen
STUDI KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA PRODUK OLAHAN KERUPUK KULIT PISANG BERDASARKAN JENIS PISANG DAN RASIO TEPUNG TAPIOKA DENGAN KULIT PISANG
Kulit pisang merupakan limbah pertanian yang cukup banyak ditemukan dimana-mana, yang di buang percuma. Padahal kandungan antioksidan dari kulit pisang lebih tinggi dari pada buah pisang. Keberadaan kandungan gizi dalam kulit pisang yang tinggi, maka kulit pisang perlu dimanfaatkan dengan cara pengolahan berupa produk konsumsi lain seperti dodol, selai, sirup, dan keripik. Selain itu kulit pisang dapat dijadikan sebagai bahan utama sebagai pembuatan kerupuk. Tujuan dari Penelitian ini adalah Mengetahui pengaruh jenis kulit pisang dan pengaruh rasio tepung tapioka dengan kulit pisang terhadap sifat fisikokimia kerupuk kulit pisang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua variabel yaitu jenis pisang (pisang kepok dan pisang candi) dan rasio tepung tapioka dengan kulit pisang (60:40; 40:60) dengan 2 kali ulangan. Variabel yang diamati dalam penelitian terdiri dari sifat fisikokimia yang terdiri dari tingkat pengembangan dan warna. Serta komposisi yang terkandung pada kerupuk kulit pisang menggunakan analisa proksimat antara lain kadar air, kadar protein, kadar lemak, kadar abu , kadar karbohidrat. 1. Kandungan proksimat dari produk kerupuk kulit pisang diantaranya adalah bahwa kadar air antara 11,185 – 11,535%, kadar protein berkisar antara 2,18 – 2,945%, kadar lemak kasar berkisar antara 1,43 – 1,955%, kadar abu berkisar antara 2,075 – 3,18%, kadar serat kasar berkisar antara 0,42 – 1,095%, kadar karbohidrat berkisar antara 80,2 – 81,78%
PEMBUATAN SAWI ASIN PAKCOY KERING DENGAN VARIASI JENIS LARUTAN PERENDAM DAN SUHU PENGERINGAN
Tanaman sawi pakcoy mudah untuk dibudidayakan, namun pada saat masa panen tanaman ini cepat layu dan busuk. Oleh karena itu sawi pakcoy dapat dijadikan olahan pangan yang disukai dengan cara menjadikannya sawi asin kering. Sawi asin merupakan olahan fermentasi spontan bakteri asam laktat yang memiliki cita rasa yang khas. Pembuatan sawi asin dapat dilakukan dengan cara penambahan garam dan air tajin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi jenis larutan perendam dan suhu pengeringan. Sawi asin yang paling banyak disukai adalah sawi asin degan larutan perendam air tajin beras merah dan air tajin beras ketan putih. Sawi asin ini memiliki rasa asin dan sedikit asam, warna yang khas, aroma khas sawi asin, dan tekstur sedikit renyah
KARAKTERISTIK FUNGSIONAL DAN UJI HEDONIK KUKIS KETAWA BERBAHAN DASAR TEPUNG GANDUM UTUH LOKAL
Laughing Cookies are a traditional snack made from local whole wheat flour (Gaul). Cookie dough added with kimpul flour is one of the innovative efforts to process the abundant kimpul commodity in Cukilan Village, Semarang Regency, Central Java. This study aimed to determine the panelists' functional characteristics and level of preference for the laugh cookies made from local whole wheat flour. The laugh cookies are made with three formulations, namely A (1:0), B (1:1), and C (1:2) (Gaul flour: kimpul flour ratio). The results of the hedonic test with the parameters texture, color, aroma, taste, and overall showed that the fifty panelists liked formulations A, B, and C, respectively, with a score of 3.7-3.8 respectively (neutral – somewhat like); 3.1-3.6 (neutral – somewhat like), and 2.9-3.4 (dislike - neutral). Based on the panelists' preference for Formulations A and B, these two formulas were tested for fiber. The crude fiber content in formulations A and B was 42.74% and 46.22%, respectively. Based on the study's results, it can be concluded that the formulation of the laugh cookies has a different effect on the level of preference and crude fiber. The best treatment was formulation A, with the highest preference level and high oil fiber
PENAMBAHAN TEPUNG DAUN KELOR (Moringa oleifera) DENGAN VARIASI SUHU PENGERINGAN DAN KONSENTRASI UNTUK MENINGKATKAN NILAI GIZI TEMPE
Tempeh is a food product made from fermented soybeans using a type of mold called (Rhizopus sp) and contains good nutrition for the health of human body. Likewise, moringa leaves contain useful nutrients such as high antioxidant and protein content. This research aimed to determine the chemical and sensory characteristics of tempeh with the addition of moringa leaf flour using variations in the drying temperature of moringa leaves and the concentration of moringa leaf addition to soybeans based on the highest antioxidant activity and consumer preference. This study used a 2 factorial (CRD). The first factor was the drying temperature of moringa leaves and the second factor was the concentration of the addition of moringa leaf powder. Parameters observed in this study included chemical analysis, physical analysis and organoleptic test analysis. The best research result was at the drying temperature of moringa leaves at 40°C and the addition of moringa leaf powder with a concentration of 9%. From the results of the analysis, it was identified that the water content was 63,03%; the fat content was 0,98%; the protein content was 23,13%; the antioxidant activity was 58,72%; the pH was 5,70. Based on the physical analysis of this treatment, the tempeh had greenish spots from the tempeh and mold or mycelium which were white in color and have a compact texture. Meanwhile, the organoleptic test included the color of 1,54, the moringa leaf aroma of 1,53, the tempeh aroma of 3,64, the tempeh taste of 2,99
SIFAT FISIK, ORGANOLEPTIK, AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN RESPONS GLUKOSA KOPI TIWAI
Bawang tiwai (Eleutherine americana Merr) merupakan tanaman khas Kalimantan yang memiliki khasiat bagi kesehatan tubuh. Dilihat dari kandungan kimianya, umbi bawang tiwai berpotensi sebagai tanaman obat multifungsi yang sangat besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan gula merah dengan bubuk kopi tiwai terhadap sifat fisik, aktivitas antioksidan dan respons glukosa pada kopi tiwai. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam, jika berpengaruh dilakukan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ), sedangkan untuk data respons glukosa dilakukan dengan Uji T.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan gula merah dan bubuk kopi tiwai berpengaruh nyata terhadap hedonik dan mutu hedonik warna, rasa dan aroma, kadar air, kecepatan terlarut, endapan respons glukosa pada parameter detak jantung dan gula darah setelah meminum kopi tiwai. Uji sensoris hedonik warna, aroma dan rasa yang diperoleh yaitu agak suka, suka dan suka sedangkan mutu hedonik warna, aroma rasa yaitu berwarna coklat, beraroma bawang tiwai, gula merah dan kopi dan berasa bawang tiwai gula merah dan kopi. Aktivitas antioksidan yang diperoleh yaitu 99,79-198,29 ppm (kategori kuat hingga lemah). Respons glukosa pada menit ke-0 (sebelum minum) dan menit ke -15 dan menit ke-30 setelah minum kopi tiwai adalah berbeda tidak nyata, yang menunjukkan bahwa tidak adanya pengaruh minuman kopi tiwai dengan perbandingan gula merah dan kopi bubuk tiwai terhadap respons glukosa manusia dengan kondisi kesehatan normal
FERMENTASI BAWANG PUTIH DENGAN Rhizopus oryzae DAN Lactobacillus bulgaricus SEBAGAI PENGAWET PANGAN
Bawang putih mengandung senyawa alisin yang dapat berperan sebagai senyawa antibakteri, tetapi menyebabkan terbentuknya aroma bawang putih yang tajam dan tidak disukai oleh sebagian masyarakat. R. oryzae memiliki kemampuan untuk memecah senyawa γ-glutamyl cysteine yang merupakan bahan dasar dari senyawa aliin dan prekursor untuk terbentuknya senyawa alisin. L. bulgaricus dapat menghasilkan asam organik yang menghambat pertumbuhan bakteri patogen dan mengawetkan produk pangan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan proses fermentasi menggunakan R. oryzae dan L. bulgaricus dalam menghasilkan bawang putih yang dapat diterima oleh masyarakat dan meningkatkan kemampuan ekstrak bawang putih sebagai pengawet alami produk pangan. Proses fermentasi bawang putih dilakukan dengan dua faktor perlakuan, yaitu lama fermentasi selama 24, 48, 72 jam dan rasio R. oryzae:L. bulgaricus dengan perbandingan 1:0, 1:1, dan 0:1. Perlakuan terpilih untuk fermentasi bawang putih adalah selama 72 jam dengan rasio R. oryzae:L. bulgaricus 1:1. Bawang putih terfermentasi memiliki nilai pH sebesar 3,72±0,05, nilai TAT sebesar 0,53±0,01%, total bakteri asam laktat (BAL) sebesar 6,18±0,04 log10 CFU/ml, total kapang sebesar 8,21±0,09 log10 CFU/ml, TPC sebesar 8,33±0,22 log10 CFU/ml, nilai skoring sebesar 2,89±0,26, dan nilai hedonik sebesar 3,52±1,41. Ekstrak bawang putih terfermentasi akan diuji kemampuan sebagai pengawet pangan pada bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan perlakuan konsentrasi 0, 2, 4, 8, dan 16%. Ekstrak bawang putih terfermentasi efektif sebagai pengawet pangan pada konsentrasi 16% dengan zona hambat S. aureus sebesar 14,00±0,71 mm dan E. coli sebesar 7,50±0,71 mm. Ekstrak bawang putih terfermentasi lebih efektif menghambat S. aureus dibandingkan dengan E. coli. Kandungan total fenolik dan flavonoid pada bawang putih yang sudah difermentasi sebesar 2,46±0,12 mgGAE/g dan 0,24±0,001 mgQE/g. Ekstrak bawang putih terfermentasi mengandung senyawa aktif 2,3-butanediol, L-lactic acid, diallyl disulfide, dan diallyl trisulfide yang dapat berperan sebagai senyawa antibakteri, antimikroba, antiinflamasi, dan antioksidan