Ejournal Universitas Warmadewa
Not a member yet
5210 research outputs found
Sort by
Penggunaan Plea Bargaining dalam Sistem Peradilan Pidana: Menyeimbangkan Efisiensi dan Keadilan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan penjelasan tentang plea bargaining sebagai sarana penyelesaian kasus pidana dan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan pentingnya pemahaman yang kuat tentang sistem plea bargaining dalam kaitannya dengan upaya yang sedang berlangsung untuk meningkatkan penyelenggaraan peradilan di Indonesia. Artikel ini memberikan solusi permasalahan hukum atas permasalahan penumpukan perkara pidana di Indonesia, yaitu melalui penerapan sistem plea bargaining dalam reformasi sistem peradilan bagi pelaku tindak pidana. Meskipun berbagai negara memiliki sistem hukum yang beragam, dalam praktiknya, plea bargaining memungkinkan penyelesaian kasus yang efektif. Praktik plea bargaining berasal dari Amerika Serikat (AS), dan sejak saat itu telah diterapkan oleh banyak negara lain. Adanya konsep plea bargaining system tidak hanya sebagai langkah pencegahan terjadinya penumpukan perkara di pengadilan, tetapi juga merupakan jawaban atas permasalahan permasalahan semakin masifnya peningkatan jumlah perbuatan yang dapat dilakukan dan dikriminalisasi dalam sejumlah undang-undang yang disahkan baik oleh Pemerintah maupun DPR. Dengan kata lain, hadirnya konsep plea bargaining system merupakan langkah pencegahan penumpukan perkara di pengadilan. Berbagai faktor yang berbeda, termasuk faktor filosofis, hukum, dan sejarah, dapat digunakan untuk menggambarkan mengapa sistem peradilan pidana Indonesia harus membangun sistem tawar menawar secepat mungkin. Gaya penulisan yang digunakan adalah yuridis normatif, dan pendekatan yang digunakan adalah konseptual. Pendekatan ini menekankan pada paradigma historis dan doktrinal yang berkaitan dengan sistem tawar-menawar pembelaan. Penulis menarik kesimpulan dan mengusulkan agar sistem peradilan pidana Indonesia saat ini harus direformasi untuk memasukkan komponen tawar-menawar pembelaan. Hal ini akan memungkinkan terciptanya sistem peradilan pidana yang efektif dan efisien
Urgensi Surat Izin Atasan Perceraian PNS Pada Putusan Pengadilan Agama No.2059/Pdt.G/2019/PA.Lpk Perspektif Advokat Kota Medan
Sebelum PNS bercerai, mereka harus mendapatkan surat izin atasan sesuai ketentuan PP No. 10 Tahun 1983 dan PP No. 45 Tahun 1990. Surat izin atasan dapat menjadi sarana bagi atasan untuk memberikan bimbingan dan nasihat kepada PNS. Atasan dapat memberikan masukan kepada PNS mengenai dampak perceraian terhadap karier dan kehidupan pribadinya. Perceraian PNS yang tidak menyertakan izin atasan bisa berpotensi tidak diterimanya gugatan (Niet Ontvankelijke Verklaard) yang juga dapat mengakibatkan sanksi disiplin terhadapnya. Tujuan penelitian ini hanya berfokus pada memahami urgensi surat izin atasan dalam Putusan No.2059/Pdt.G/2019/PA.Lpk dari perspektif Advokat Kota Medan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kasus (case approach) dalam penelitian normatif bertujuan untuk mempelajari penerapan norma-norma atau kaidah hukum yang dilakukan dalam praktik hukum. Hasil analisis menunjukan bahwa perceraian PNS Dalam Putusan No.2059/Pdt.G/2019/PA.Lpk Majelis Hakim mengabulkan permohonan cerai Pemohon yang tidak mengantongi surat izin atasan yang di dalam putusan Pemohon sudah berupaya untuk mengajukan surat izin atasan akan tetapi tidak mendapatkan tanggapan atas izin yang diajukan. Hakim menimbang pernikahan Pemohon dan Termohon sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Pada akhirnya, permohonan talak Pemohon dikabulkan dan mengizinkan Pemohon untuk menjatuhkan talak 1 raj’i kepada istrinya di hadapan sidang Pengadilan Agama Lubuk Pakam. Temuan penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk bercerai dan Bagi masyarakat pada umumnya, temuan penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman mengenai ketentuan mengenai perlunya surat izin atasan dalam pengajuan perceraian bagi PNS
Tata Kelola Badan Usaha Milik Desa untuk Meningkatkan Pendapatan Asli Desa: Studi pada Bumdes Ngudi Raharjo Desa Girikulon, Kabupaten Magelang
This research study aims to analyze the Governance of a Ngudi Raharjo Village-Owned Enterprise to Increase the Original Income of Girikulon Village, Secang District, Magelang Regency. This study collected data through observation, interviews, and documentation using qualitative methods to describe and explain the management of the Ngudi Raharjo BUMDes. The results of this study indicate that the management of the Ngudi Rahardjo BUMDes to build Girikulon Village, Secang District, Magelang Regency is still not optimal. This is caused by several factors, including the human implementers caused by the low level of formal education in Girikulon Village and then the equipment factor caused by the lack of facilities and infrastructure at the Ngudi Raharjo BUMDes. In BUMDes Ngudi Rahardjo itself, there is positive community participation in a number of areas, financial management and organizational management.Kajian penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Tata Kelola Badan Usaha Milik Desa Ngudi Raharjo untuk Meningkatkan Pendapatan Asli Desa Girikulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Penelitian ini mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan menggunakan metode kualitatif untuk mendeskripsikan dan menjelaskan tata kelola BUMDes Ngudi Raharjo. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan BUMDes Ngudi Rahardjo untuk membangun Desa Girikulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang masih belum optimal. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain manusia pelaksana yang diakibatkan oleh rendahnya pendidikan formal di Desa Girikulon dan selanjutnya faktor perlengkapan yang ditimbulkan oleh kurangnya sarana dan prasarana pada BUMDes Ngudi Raharjo. Di BUMDes Ngudi Rahardjo sendiri, terdapat partisipasi positif masyarakat di sejumlah bidang, pengelolaan keuangan, dan pengelolaan organisasi
Pelatihan Bantuan Hidup Dasar dalam Upaya Peningkatan Kesiapsiagaan Pertolongan Pertama di Puskesmas
Abstrak
Pelatihan bantuan hidup dasar adalah suatu tindakan darurat untuk membebaskan jalan napas, membantu pernapasan, dan mempertahankan sirkulasi darah tanpa menggunakan alat bantu. Kondisi medis kegawatdaruratan ini merupakan kondisi yang memerlukan pertolongan medis yang cepat untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan lebih lanjut. Tenaga medis di Instalasi Gawat Darurat merupakan lini pertama penolong pasien dengan keadaan emergensi. Tenaga medis ini memiliki alur penerimaan pasien, triase, resusitasi, dan stabilisasi. Sebagai unit yang memberikan pelayanan emergensi, tenaga medis yang ditugaskan haruslah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup dan cekatan untuk melakukan pertolongan pertama. Puskesmas III Denpasar Selatan merupakan Puskesmas yang terletak di Kota Denpasar yang juga melakukan pelayanan kegawatdaruratan di dalamnya. Pelatihan rutin kegawatdaruratan penting untuk dilakukan sebagai dasar ilmu penatalaksanaan pasien gawatdarurat di Puskesmas. Kegiatan ini berlangsung selama satu hari dengan sasaran tenaga medis di Puskesmas. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk workshop kegawatdaruratan. Kegiatan ini dilakukan diawali dengan pemberian materi kegawatdaruratan, elektrokardiogram dan pelatihan skill batuan hidup dasar (BHD). Kegiatan juga diawali dengan pre test dan diakhiri dengan post test. Pelatihan diikuti oleh 22 tenaga medis dengan rentang usia 20-40 tahun dan nilai pre tes awal 83% dan nilai akhir 96%. Dari hasil observasi juga didapatkan peningkatan keterampilan elektrokardiogram dan teknik basic life support. Kegiatan ini berjalan dengan baik dan diharapkan untuk rutin diselenggarakan
Enhancing Students’ Speaking Proficiency Through Storytelling Method at Education College of Togo Ambarsari Bondowoso
The use of the storytelling method at STITTA Bondowoso is investigated to measure its effectiveness in improving the English speaking skills of students. This research aims to examine the enhancement of students' speaking abilities through the implementation of the Storytelling method. The study falls under the category of qualitative research. The data in this study consist of students' storytelling discourse, with the data source being students enrolled in English courses at STITTA Bondowoso. The method used to collect data is the observe-participate-transcribe method. The researcher observed the context of English language learning in the classroom, particularly related to the Storytelling method. Additionally, interviews were conducted with English language instructors, students, and relevant parties at STITTA regarding the implementation and impact of the Storytelling method on improving students' speaking abilities, supplemented with recording and note-taking techniques. The collected data were then reduced and classified based on their types. Subsequently, data analysis and in-depth interpretation were conducted. The research results indicate that 1) STITTA students experience a significant improvement in speaking abilities in English learning; 2) students feel happy, enthusiastic, and entertained in learning English; 3) students are motivated to compete in English learning; and 4) students are eager to compete for achievements. The findings of this research demonstrate a positive correlation between the use of storytelling techniques and the improvement of students' speaking abilities. The depth and inherent appeal in the storytelling process not only enhance language retention but also create a more interactive and dynamic learning environment. The implications of this research have broad impacts, involving language educators, curriculum developers, and policymakers. This research emphasizes the urgency of integrating innovative methods and experiences to enhance speaking abilities in the context of language education. The contribution of this research lies in strengthening the discourse on effective language pedagogy, emphasizing the importance of adopting diverse and interactive teaching strategies to meet the evolving needs of students in the language learning process
Hermeneutics Study: Analysis of Denotative And Connotative Meaning in The Song Berita Kepada Kawan By Ebiet G. Ade
The song is a sequence of beautiful words, often carrying meanings both connotative (figurative) and denotative (literal). This research aims to unveil the connotative and denotative meanings in the song “Berita Kepada Kawan†by Ebiet G. Ade. The theoretical framework employed in this study is hermeneutic research. It is a qualitative study where the data consists of sentences containing connotative and denotative meanings, and the source of the data is the lyrics of the song "Berita Kepada Kawan" by Ebiet G. Ade. Data were collected through free engagement observation. The researcher browsed the lyrics of the song “Berita Kepada Kawan†by Ebiet G. Ade, then listened attentively to each word, phrase, sentence, and stanza of the lyrics. Subsequently, the researcher noted every sentence containing connotative and denotative meanings. Following this, data analysis was conducted, involving validation and classification of each sentence based on its type. The researcher then interpreted the data within its contextual framework. The results of the study indicate two meanings embedded in the song “Berita Kepada Kawanâ€, denotative and connotative. The denotative meaning portrays struggle, sadness, both mental and physical, while the connotative meaning depicts a solitary journey, sorrow, adversity, and loss of life. Thus, this hermeneutic research provides a profound understanding of the complexity of meanings in the song “Berita Kepada Kawan,†summarizing it within the conceptual framework of hermeneutics that includes both connotative and denotative analyses
Correlation of Knowledge and Attitude with the Use of a Travel Clinic for Pre-Travel Consultation
Utilization of tourism clinics, particularly for pre-travel consultations, remains low among domestic tourists. The current study aims to examine the relationship between knowledge level and attitude towards the utilization of tourism clinics for pre-travel consultations in Bali Province. The study sample consisted of 106 domestic tourists who were present in Bali during the period of May-September 2022. Consecutive sampling was used, and the Chi-Square Test was executed for data analysis with the aid of the SPSS version 25.0 program. The research findings indicate that the majority of domestic tourists (50%) originated from Malang. Additionally, the study revealed that women accounted for a greater proportion (62.3%) of domestic tourists. The research results also showed that 60 tourists had a good level of knowledge and utilized the tourism clinic, while 59 tourists had an agreeable attitude towards the utilization of the tourism clinic. The results of the study demonstrate a significant relationship between knowledge level (p<0.001) and attitude (p<0.001) towards the use of tourism clinics for pre-travel consultations in Bali Province. Overall, tourists have a good level of knowledge and agreeable attitude towards the utilization of tourism clinics, indicating a positive trend towards the promotion of tourism clinics for pre-travel consultations
Implementasi Tema Arsitektur Minimalis Terhadap Ruang Kerja pada Perencanaan dan Perancangan Consultant Co-Working Space di Kota Denpasar: Bahasa Indonesia
Changes in the culture of the global community in the world of work continue to experience changes along with the development of technology. Workers who initially had to come to the office to work are now able to work anywhere more flexibly, not a few also choose to start a business to develop their careers. In this digital era, everything requires digitization to develop their business, one of the right ways is to hire professional consulting services to help these business actors develop their business. Therefore, planning and designing a co-working space consultant was made to accommodate the consultant workers and their clients in their needs to work. The image of a consultant that looks professional, neat, authoritative and clean makes the minimalist architectural theme suitable for describing their work. The purpose of applying the minimalist architectural theme to this consultant's work space is to create a professional working atmosphere and produce more optimal performance. This study uses a qualitative-descriptive method to analyze theory and data collection. The results of the research are in the form of a minimalist architecture implementation design for consultant workspaces at the Planning and Design Consultant Co-Working Space in Denpasar City.Perubahan budaya masyarakat global dalam dunia kerja terus mengalami perubahan seiring berkembangnya teknologi. Pekerja yang awalnya harus datang ke kantor untuk bekerja, saat ini dapat bekerja di mana saja secara lebih fleksibel, tidak sedikit pula yang memilih untuk mulai merintis usaha untuk mengembangkan karirnya. Di era digital ini, segala sesuatu memerlukan digitalisasi untuk mengembangkan usahanya, salah satu cara yang tepat adalah dengan menyewa jasa profesional konsultan untuk membantu pelaku usaha ini mengembangkan usaha mereka. Maka dari itu dibuatlah perencanaan dan perancangan consultant co-working space untuk mewadahi pekerja konsultan tersebut dan client mereka dalam kebutuhannya untuk bekerja. Citra konsultan yang terlihat profesional, rapi, berwibawa dan bersih menjadikan tema arsitektur minimalis dirasa cocok untuk mendeskripsikan pekerjaan mereka. Tujuan dari penerapan tema arsitektur minimalis terhadap ruang kerja konsultan ini adalah untuk menciptakan suasana kerja yang profesional dan menghasilkan kinerja yang lebih optimal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif untuk menganalisis teori dan pengumpulan data.hasil penelitian berupa desain implementasi arsitektur minimalis terhadap ruang kerja konsultan pada Perencanaan dan Perancangan Consultant Co-Working Space di Kota Denpasar
Disablity Wellnes Center sebagai Upaya Penunjang Kesehatan kaum Disabilitas di Kabupaten Gianyar : bahasa indonesia
Currently there are still many people with disabilities experiencing problems in receiving treatment and training, especially on the island of Bali. There is also another issue that is developing that there are still many persons with disabilities who have not received mental and physical health, and even if there is access to mental and physical health, there are still many who have not implemented disability access and there is also no wellness center designated for persons with disabilities. The design of the Disability Wellness Center located in Tampaksiring District, Gianyar Regency aims to provide a wellness center for persons with disabilities to help persons with disabilities obtain mental and physical health services. The choice of the location for the Tampaksiring District is because the location of this site is a tourism route, so that in addition to obtaining services at the Disability Wellness Center, persons with disabilities can also enjoy traveling in the tourism area near the site location.
Keywords: Disability Wellness Center, Disability, GianyarSaat ini masih banyak kaum disabilitas mengalami kendala dalam menerima perawatan maupun pelatihan khususnya di Pulau Bali. Terdapat pula isu yang lain yang berkembang bahwa masih banyak penyandang disabilitas yang belum mendapatkan kesehatan mental maupun fisik, dan jikalaupun ada akses kesehatan mental dan fisik justru masih banyak yang belum menerapkan disability acces dan juga belum adanya wellness center yang diperuntukan untuk penyandang disabilitas. Perancangan Disability Wellness Center berlokasi di Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar bertujuan untuk menyediakan wellness center bagi penyandang disabilitas untuk membantu para penyandang disabilitas memperoleh pelayanan kesehatan mental dan fisik. Pemilihan lokasi Kecamatan Tampaksiring karena pada lokasi site ini merupakan jalur pariwisata, sehingga selain memperoleh pelayanan di Disability Wellness Center, para penyandang disabilitas juga dapat menikmati berwisata di areal pariwisata dekat lokasi site.
Kata kunci: Disability Wellness Center, Disabilitas, Gianya
Penyidikan Penjualan Video Porno oleh Pasangan Suami Istri (Pasutri)
Indonesia adalah salah satu negara yang mengalami peningkatan kasus penjualan konten pornografi selama periode pemulihan dari pandemi Covid-19. Pornografi telah berkembang seiring dengan kemajuan teknologi saat ini, di mana perkembangan teknologi yang semakin canggih telah dimanfaatkan oleh para pelaku penjualan konten pornografi melalui media sosial sebagai alat untuk melaksanakan tindakan mereka. Saat ini, kasus penjualan konten pornografi menjadi tindak pidana yang sering terjadi. Namun, karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang sifat ilegal pornografi, pelaku oknum seringkali dapat melakukan tindakan pornografi tanpa rasa khawatir, dan kegiatan penjualan konten pornografi semakin marak. Dalam menghadapi masalah ini, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan undang-undang untuk menetapkan sanksi pidana terhadap pelaku penjualan konten pornografi. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 281 dan 282 KUHP, Pasal 29 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, serta Pasal 45 dan 27 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik