CHMK Nursing Scientific Journal / Jurnal STIKES Citra Husada Mandiri Kupang
Not a member yet
376 research outputs found
Sort by
ANALYSIS ON DRUG COMPOUND OF EXTRACTED MORINGA OLEIFERA BARK
Moringa plants are often called the "miracle tree" because all parts of Moringa plants are very useful for human life. Based on previous research, Moringa skin has chemical content of flavonoids, alkaloids, steroids, phenolics, and tannins, which are useful for the cure of gout disease. With the results of these studies, it is necessary to conduct research and more scientific studies to find potentially herbal chemical compounds on the stems of moringa plants. The research type is experimental research with free variable extract of morph leaf bark, methanol solvent, and bound variables are physicochemical properties of compound compound in extract of bark of kelor tree of phytochemical component in extract of bark extract of morph tree component of chemical compound potentially herbal medicine in bark extract Moringa tree. The results obtained from this study were extract of morphine tree bark containing 2amino-5-chloropirimidine compounds, methyl ethyl ester carbamate acid, Methyl-3,5-bis (ethylamino) benzoate, Oktasiloxan (octasiloxane), Methyl -3.5 -bis (ethylamino) benzoate and 2-oxo-4-nitrosomethyl6-trifluoromethyl-1-2-dehydropyrimidine potentially into drug compounds Keywords: Moringa stem extract, flavonoids, alkaloids, steroids, phenolics, tannin
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU (AKSEPTOR) DENGAN KEPATUHAN DALAM MELAKUKAN PENYUNTIKAN ULANG DI PUSKESMAS SIKUMANA KOTA KUPANG
ABSTRACT
The using of contraception injected device is very interested by the women’s in the world and national, The use of contraception injection is popular among acceptor both in national setting or even in the world. contraception usage is higher than the usage of the froms of contraception. the purpose of this study was to know the correlation between woman’s knowledge (acceptplianor) with comce to re-injecting in Sikumana Health Service Center, Kupang City.
This research is quantitative with cross sectional design. The sampling technique used was purposive sampling. The respondents in this study were all woman (acceptor) who did re-injection at Sikumana Health Service Center, Kupang City in total 82 people. Statistic test used was chi-square test with significance level α = 0.05.
Statistical analysis shows that p value for compliance knowledge is 0,586 (p value <α) while for the conclusion of this research, knowledge has nothing to do with compliance for re-injection at Sikumana Health Service Center, Kupang City. Based on this research, information about contraception injection is very useful for acceptors as it can encourage them to be more compliant for reinjection
Keywords: Knowledge, Compliance, Contraception Injected Device
 
Identifikasi Komponen Fitokimia Ekstrak Bidara (Zizipus mauritiana)
Identifikasi Komponen Fitokimia Ekstrak Bidara (Zizipus mauritiana
GAMBARAN PERILAKU PENCEGAHAN HIV/AIDS DENGAN PENDEKATAN TEORI MODEL PROMOSI KESEHATAN PADA MAHASISWA KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN ANGKATAN VIII STIKes CITRA HUSADA MANDIRI KUPANG
Abstrak: Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan suatu penyakit yang menular Penyakit HIV ditularkan melalui Hubungan seksual dengan bergonta ganti pasangan ,Ibu dan bayinya, darah dan produk darah yang tercemar HIV/AIDS, Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril. Untuk kasus HIV/AIDS di Provinsi Nusa Tenggara Timur jumlah penderita dalam kurun waktu tiga tahun terakhir mengalami peningkatan dimana pada tahun 2013 terdapat 178 kasus, tahun 2014 sebanyak 219 kasus pada tahun 2015 meningkat drastis menjadi 744 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran perilaku pencehagan HIV/AIDS dengan pendekatan teori model promosi kesehatan pada mahasiswa keperawatan dan kebidanan angkatan VIII STIKes CHMK. Desian penelitian menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan teori health promotion model. Populasi dalam penelitian ini adalah 275 responden. Sampel yang diambil sebanyak 175 responden dengan menggunakan random sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa perilaku pencegahan responden untuk faktor interpersonal baik (96%), faktor situasional baik (98%), faktor komitmen baik (97%) dan perilaku pencegahan HIV/AIDS pada responden baik (99%). Saran peneliti agar pembaca bisa mempraktikkan perilaku pencegahan HIV dalam kesehariannya.Kata Kunci: Perilaku pencegahan HIV/AIDS, Teori model promosi kesehata
OPTIMALISASI PELAKSANAAN DISCHARGE PLANNING TERSTRUKTUR DAN TERINTEGRASI
ABSTRAK
Implementasi mengenai discharge planning merupakan kebijakan yang utuh, terintegrasi, dan berkelanjutan sejak pasien masuk rumah sakit, dirawat, serta sampai pasien berada dirumah dan benar-benar tidak membutuhkan perawatan. Tujuan dari penulisan adalah untuk melakukan analisis implementasi discharge planning di Rumah Sakit Umum X Kota Depok. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan pilot study yang dilaksanakan dari analisis situasi, pembuatan plan of action, implementasi, evaluasi dan analisis gap dengan menggunakan literature review. Analisis masalah dilakukan melalui diagram fish bone dan analisis prioritas masalah dilakukan dengan menggunakan analisis CARL. Masalah utama adalah belum optimalnya pelaksanaan discharge planning yang terstruktur dan terintegrasi. Implementasi dilaksanakan dengan pendekatan pilot study. Implementasi yang dilakukan adalah pembuatan panduan dan format discharge planning, sosiliasi, uji coba panduan dan format discharge planning, serta evaluasi. Hasil uji coba didapatkan bahwa perawat telah melakukan discharge planning terstruktur dan terintegrasi dengan capaian sebesar 92% berdasarkan pengisian format yang ada. Diperlukan rencana tindak lanjut dari pihak manajemen Rumah Sakit Umum X di Kota Depok untuk menerapkan pelaksanaan discharge planning terstruktur dan terintegrasi.
Kata kunci: discharge planning, keperawatan
ABSTRACT
Implementation of discharge planning is a complete, integrated, and sustainable policy since the patient is admitted to hospital, treated, and until the patient is at home and really does not need treatment. The purpose of writing is to conduct analysis of discharge planning implementation at the Regional General Hospital X in Depok City. The methodology used is pilot study approach which is carried out from situation analysis, plan of action plan, implementation, evaluation and gap analysis by using literature review. Problem analysis was done through fish bone diagram and problem priority analysis was done by using CARL analysis. The main problem is the not yet optimal implementation of structured and integrated discharge planning. Implementation is done by pilot study approach. Implementation is the making of guidance and format of discharge planning, sociation, pilot study and format of discharge planning, and evaluation. The result of the experiment shows that the nurse has done structural and integrated discharge planning with achievement 92% based on the filling of the existing format. A follow-up plan from the management of X General Hospital in Depok City is required to implement a structured and integrated discharge planning.
Keywords: discharge planning, nursing
DAFTAR PUSTAKA
Langhorne, P., Jepsen, B. G., & Larsen, T. (2014). Early home-supported discharge after stroke: a brief report on the practical implementation. International Journal of Rehabilitation Research, 37(2), 192-194.
Joint Commission International. (2017). Accreditation Standards For Hospitals, 6th Edition. Diunduh dari https://www.jointcommissioninternational.org/assets/3/7/JCI_Standards_Only_6th_Ed_Hospital.pdf
. (2017). Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1. Diunduh dari: http://www.pdpersi.co.id/kanalpersi/manajemen_mutu/data/snars_edisi1.pdf
(2012). Instrumen Akreditasi Rumah Sakit Standar Akreditasi Versi 2012
Nordmark, S., Zingmark, K., & Lindberg, I. (2016). Process evaluation of discharge planning implementation in healthcare using normalization process theory. BMC medical informatics and decision making, 16(1), 1.
Alper, E., O’Malley, T. A., Greenwald, J., Aronson, M. D., & Park, L. (2015). Hospital discharge and readmission. UpToDate website: Available at: http://www. uptodate. com/contents/hospital-discharge-and-readmission. Accessed August, 14.
Yam, C. H., Wong, E. L., Cheung, A. W., Chan, F. W., Wong, F. Y., & Yeoh, E. K. (2012). Framework and components for effective discharge planning system: a delphi methodology. BMC health services research, 12(1), 396.
Meyers, L. (2017). The Effectiveness of Discharge Planning in Mental Health: An Integrative Review of Literature.
Hunter, T., & Birmingham, J. (2013). Preventing readmissions through comprehensive discharge planning. Professional case management, 18(2), 56-63.
Wickramasinghe, N., Kent, B., Moghimi, F. H., Stien, M., Nguyen, L., Redley, B., ... & Botti, M. (2014). Using technology solutions to streamline healthcare processes for nursing: the case of an Intelligent Operational Planning Support Tool (IOPST) solution. In Lean Thinking for Healthcare (pp. 405-430). Springer New York.
Horwitz, L. I. (2017). Self-care after hospital discharge: knowledge is not enough.
Lancaster, G. A., Dodd, S., & Williamson, P. R. (2004). Design and analysis of pilot studies: recommendations for good practice. Journal of evaluation in clinical practice, 10(2), 307-312.
Thabane, L., Ma, J., Chu, R., Cheng, J., Ismaila, A., Rios, L. P., ... & Goldsmith, C. H. (2010). A tutorial on pilot studies: the what, why and how. BMC medical research methodology, 10(1), 1.g
Anne Lacey, E. (1994). Research utilization in nursing practice—a pilot study. Journal of advanced nursing, 19(5), 987-995.
Bose, T. K. (2012). Application of fishbone analysis for evaluating supply chain and business process-a case study on the St James Hospital. International Journal of Managing Value and Supply Chains (IJMVSC), 3(2), 17-24.
Arian, M., Mortazavi, H., TabatabaiChehr, M., Navipour, H., & Vanaki, Z. (2016). Institutionalizing the educational role of nurses by Deming cycle (PDCA). Quarterly Journal of Nursing Management, 4(4), 45-57.
Zurlo, A., & Zuliani, G. (2018). Management of care transition and hospital discharge. Aging clinical and experimental research, 1-8.
Lowthian, J. A., McGinnes, R. A., Brand, C. A., Barker, A. L., & Cameron, P. A. (2015). Discharging older patients from the emergency department effectively: a systematic review and meta-analysis. Age and ageing, 44(5), 761-770.
Arendts, G., MacKenzie, J., & Lee, J. K. (2006). Discharge planning and patient satisfaction in an emergency short‐stay unit. Emergency Medicine Australasia, 18(1), 7-14.
Cajanding, R. J. (2017). Effects of a structured discharge planning program on perceived functional status, cardiac self-efficacy, patient satisfaction, and unexpected hospital revisits among filipino cardiac patients: a randomized controlled study. Journal of Cardiovascular Nursing, 32(1), 67-77.
Majothi, S., Jolly, K., Heneghan, N. R., Price, M. J., Riley, R. D., Turner, A. M., ... & Fitzmaurice, D. A. (2015). Supported self-management for patients with COPD who have recently been discharged from hospital: a systematic review and meta-analysis. International journal of chronic obstructive pulmonary disease, 10, 853.
Collins, S. P., Pang, P. S., Fonarow, G. C., Yancy, C. W., Bonow, R. O., & Gheorghiade, M. (2013). Is hospital admission for heart failure really necessary?: the role of the emergency department and observation unit in preventing hospitalization and rehospitalization. Journal of the American College of Cardiology, 61(2), 121-126.
Hesselink, G., Zegers, M., Vernooij-Dassen, M., Barach, P., Kalkman, C., Flink, M., ... & Suñol, R. (2014). Improving patient discharge and reducing hospital readmissions by using Intervention Mapping. BMC health services research, 14, 389-389.
Bailey, S., Wilson, G., & Yoong, W. (2015). What factors affect documentation by midwives? A prospective study assessing relationship between length of shift, workload and quality of note keeping. Midwifery, 31(8), 787-792.
Wong, E. L., Yam, C. H., Cheung, A. W., Leung, M. C., Chan, F. W., Wong, F. Y., & Yeoh, E. K. (2011). Barriers to effective discharge planning: a qualitative study investigating the perspectives of frontline healthcare professionals. BMC health services research, 11(1), 24
Gonçalves‐Bradley, D. C., Lannin, N. A., Clemson, L. M., Cameron, I. D., & Shepperd, S. (2016). Discharge planning from hospital. The Cochrane Library.
Jackson, C., Shahsahebi, M., Wedlake, T., & DuBard, C. A. (2015). Timeliness of outpatient follow-up: an evidence-based approach for planning after hospital discharge. The Annals of Family Medicine, 13(2), 115-122.
Brooke, B. S., Stone, D. H., Cronenwett, J. L., Nolan, B., DeMartino, R. R., MacKenzie, T. A., ... & Goodney, P. P. (2014). Early primary care provider follow-up and readmission after high-risk surgery. JAMA surgery, 149(8), 821-828.
Miyata, C., Arai, H., & Suga, S. (2015). Characteristics of the nurse manager’s recognition behavior and its relation to sense of coherence of staff nurses in Japan. Collegian, 22(1), 9–17. http://doi.org/10.1016/j.colegn.2013.10.004
MacLeod, L. (2012). A Broader View of Nursing Leadership: Rethinking Manager-Leader Functions. Nurse Leader, 10(3), 57–61. http://doi.org/10.1016/j.mnl.2011.10.003
Hariandja MTE (2002). Manajemen Sumber Daya Manusia. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.
Wexley, K. N., & Yukl, G. A. (1984). Organizational behavior and personnel psychology. Richard D. Irwin.
Phillips, C. O., Wright, S. M., Kern, D. E., Singa, R. M., Shepperd, S., & Rubin, H. R. (2004). Comprehensive discharge planning with postdischarge support for older patients with congestive heart failure: a meta-analysis. Jama, 291(11), 1358-1367
Hager, J. S. (2010). Effects of a Discharge Planning Intervention on Perceived Readiness for Discharge.
 
HUBUNGAN DUKUNGAN PSIKOSOSIAL KELUARGA TERHADAP PERSEPSI DIRI DAN KESEMBUHAN PENDERITA KUSTA DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS BAKUNASE DAN PUSKESMAS SIKUMANA KOTA KUPANG
ABSTRAKTobu Yosef Thiento 2016 .“Hubungan Dukungan Psikososial Keluarga Terhadap Persepsi Diri dan Kesembuhan Penderita Kusta Di Wilayah Kerja Puskesmas Bakunase dan Puskesmas Sikumana Kota Kupang” Karolus Ngambut, SKM, M.KesNs. Rosiana Gerontini, S.Kep. Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae, yang pertama kali menyerang susunan saraf tepi. Penyakit kusta dapat menyebabkan masalah yang diakibatkannya karena adanya persepsi yang salah diantaranya adalah anggapan bahwa penyakit kusta merupakan penyakit kutukan, penyakit menjijikan. Persepsi tersebut menimbulkan beberapa masalah bagi penderita baik secara fisik dan psikologis.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan psikososial keluarga terhadap persepsi diri dan kesembuhan penderita kusta di wilayah kerja Puskesmas Bakunase dan Puskesmas Sikumana Kota Kupang. Jenis penelitian yang digunakan adalah Case Control Study dengan menggunakan uji statistic Chi-Square.Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 42 responden yang terbagi dalam kelompok kasus dan kontrol, yang memiliki dukungan psikososial baik dalam kelompok kasus (42,9%), dukungan psikososial cukup (57,1%), sedangkan pada kelompok kontrol yang memiliki dukungan psikososial baik (61,9%), dukungan psikososial cukup (38,1%). Persepsi diri pada baik pada kelompok kasus (57,1%), persepsi diri buruk (42,9%), sedangkan pada kelompok kontrol yang memiliki persepsi diri baik (71,4%) dan persepsi buruk (28,6%), dan kesembuhan pada kedua kelompok tersebut kelompok kasus memiliki kesembuhan baik (47,6%) dan sedangkan kelompok control memiliki kesembuhan baik (52,4%). Dari hasil uji statistic chi-square pada kelompok kasus di peroleh p-value 0,011<0,05 dan pada kelompok kontrol 0,017<0,05 yang menunjukan adanya hubungan antara dukungan psikososial keluarga terhadap persepsi diri dan kesembuhan penderita kusta pada kelompok kasus dan kontrol. Kata Kunci : Dukungan Psikososial, Persepsi Diri, Kesembuha
Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan HIV/AIDS pada pekerja seks di Lokalisasi KArang Dempel Kupang
ABSTRAKBire Logo, Hendra Andryanus. 2017. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pencegahan HIV/AIDS pada Pekerja Seks di Lokalisasi Karang Dempel. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Citra Husada Mandiri Kupang.Betan, Yasinta, S.Kep,Ns.,MNS dan Dion, Yohanes, S.Kep,NS.,M.KesAcquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu kumpulan gejala penyakit kerusakan sistem kekebalan tubuh, bukan penyakit bawaan tetapi didapat dari hasil penularan. Penyakit ini disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Upaya pencegahan pada populasi beresiko tinggi seperti PSK yang karena pekerjaannya beresiko terhadap penularan HIV/AIDS melalui pencegahan yang efektif seperti penggunaan kondom setiap kali melakukan transaksi seksual dengan banyak pasangan seksual. Health Belief Model (HBM) merupakan sebuah model psikologi yang dapat digunakan untuk memprediksi sebab munculnya perilaku sehat. HBM berfokus pada belief individu akan percieved seriousness/severity, percieved suspectibility, precieved benefits and barriers dan cues to action. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan HIV/AIDS pada pekerja seks di Lokalisasi Karang Dempel.Metode dalam penelitian ini yaitu penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, pemilihan sampel menggunakan purposive sampling. Sampel pada penelitian ini berjumlah 118 responden. Penelitian ini dilakukan dari tanggal 20 juli- 20 agustus 2017 di Lokalisasi Karang Dempel Kupang. Pengambilan data dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada responden.Hasil penelitian didapatkan lebih dari sebagaian besar responden memiliki persepsi kerentanan, keseriusan, manfaat dan hambatan, isyarat untuk bertindak dan perilaku pencegahan HIV/AIDS tergolong baik. Hasil uji chi square diperoleh p value untuk masing-masing faktor ≤ 0,05. Kesimpulan, ada hubungan antara persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi manfaat dan hambatan, serta isyarat untuk bertindak dengan perilaku pencegahan HIV/AIDS. Kata kunci : Persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi manfaat dan hambatan, isyarat untuk bertindak, perilaku pencegahan HIV/AIDS
ANALISIS PENGARUH SOSIAL EKONOMI KELUARGA TERHADAP TINGKAT KECUKUPAN MINERAL KALSIUM, ZAT BESI, DAN ZINK PADA REMAJA LAKI-LAKI USIA 13—18 TAHUN DI INDONESIA
This study aims to analyze the risk factors on calsium, iron and zinc adequacy level in adolescent males age 13—18 years. A cross-sectional study was conducted using secondary data of Riskesdas 2010, with male adolescent age 13—18 years as study sample. Data on food intakes were collected with 24-hour recall method and further converted into nutrients intakes (Ca, Fe, Zn) using Food Composition Table. Nutrient adequacy level of each nutrient was calculated using Recommended Dietary Allowance. Based on the analysis of data, the prevalence of calsium and zinc deficiency in male adolescent age 13—18 years in Indonesia is still very high, 72.8% and 68.6% respectively. The prevalence of iron deficiency is still high at 51.9%. Age, father’s education, economic status and area residence are shown to affect (p<0.05) the level of adequacy of calcium, iron and zinc in adolescent malesage 13—18 years, while the level of mother’s education, father’s occupation and mother’s occupation do not.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko tingkat kecukupan kalsium, zat besi dan zink pada remaja laki-laki.Penelitian ini dilakukan dengan metode cross sectional study dengan menggunakan data sekunder hasil Riskesdas 2010, dengan subjek penelitian adalah remaja laki-laki umur 13—18 tahun. Data konsumsi pangan dikumpulkan dengan metode recall 24 jam yang selanjutnya diolah menjadi asupan kalsium, besi, dan zink menggunakan daftar kandungan gizi. Tingkat kecukupan masing-masing zat gizi tersebut dihitung menggunakan kecukupan gizi hasil WNPG 2012. Berdasarkan hasil analisis data,prevalensi defisiensi kalsium dan zink pada remaja laki-laki usia 13—18 tahun di Indonesia masih sangat tinggi yaitu masing-masing 72.8% dan 68.6%. Prevalensi defisiensi zat besi juga masih tinggi yaitu sebesar 51.9%. Faktor-faktor yang terbukti mempengaruhi tingkat kecukupan kalsium, zat besi dan zink pada remaja laki-laki adalah usia, pendidikan ayah, status ekonomi serta daerah tempat tinggal (p<0.05). Sedangkan tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ayah dan pekerjaan ibu tidak berpengaruh terhadap tingkat kecukupan kalsium, zat besi, dan zink pada remaja laki-laki usia 13—18 tahun
PENINGKATAN KOMPETENSI MELALUI PELATIHAN PENGKAJIAN KOMPREHENSIF PADA PERAWAT
Pasien dengan masalah fisik disertai dengan gejala psikososial dapat teridentifikasi melalui pengkajian keperawatan. Perawat hanya berorientasi pada kebutuhan biologis, sehingga rencana asuhan keperawatan tidak komprehensif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh pelatihan pengkajian berfokus pada aspek psikososial terhadap kompetensi (pengetahuan, sikap, dan keterampilan) perawat dalam melakukan pengkajian komprehensif. Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimen pre-post test dengan kelompok kontrol. Sampel perawat Unit Rawat Inap dua RSUD untuk kelompok intervensi dan kontrol adalah 70 orang. Kuesioner pengetahuan, lembar observasi sikap dan keterampilan digunakan untuk pengumpulan data. Kolmogorov-smirnov, t Independen dan chi square dipakai untuk menganalisis data. Temuan penelitian adalah karakteristik dan kompetensi homogen, ada perubahan berupa peningkatan kompetensi, ada perbedaan kompetensi, ada hubungan jenis kelamin dengan pengetahuan perawat setelah mendapatkan pelatihan. Rekomendasi. Pelatihan diaplikasikan dalam praktik dan dimasukkan sebagai pengembangan staf.
Kata Kunci Holistik, Undang-Undang Tentang Keperawatan, Henderso
HUBUNGAN KUALITAS HIDUP LANSIA DENGAN USIA LANSIA DI POSYANDU WILAYAH KERJA PUSKESMAS MANO, KABUPATEN MANGGARAI TIMUR, NUSA TENGGARA TIMUR
Indonesia sebagai salah satu negara yang mempunyai angka harapan hidup yang tinggi, panjangnya harapan hidup masyarakat Indonesia akan menyebabkan peningkatan populasi lanjut usia (lansia) , semakin bertambah tuanya umur akan terjadi penurunan fungsi tubuh yang merupakan salah satu proses penuaan. Proses penuanan merupakan hal yang normal yang tidak bisa dihindari, ini merupakan hal alami yang dialami setiap manusia yang berusia diatas 60 tahun. Harapan setiap lansia, di usia tuanya para lansia tetap bisa hidup bahagia, damai dan bahagia menikmati masa pensiun bersama anak dan cucunya.
Penelitian ini mengunakan desain penelitian deskriptif, penelitian ini mendiskusikan tentang kualitas hidup lansia. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat gambaran kualitas hidup lansia yang dihubungakan dengan personal karakteristik lansia (Usia).
Populasi dalam penelitian ini berjumlah 100 lansia, dari posyandu wilayah kerja puskesmas Mano. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner yang terdiri dari 8 dimensi kualitas hidup lansia. Penelitian ini menggunakan uji statistik ANOVA.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagaian besar domain kualitas hidup lansia tidak ada hubungan yang bermakna dengan karakteri usia lansia tapi ada dua domain yang berdasarkan hasil analisa statistik ada hubungan yang bermakna antara domain kesehatan dan domain kemandirian, pengendalian hidup dan kebeasan dengan usia lansia. Kata kunci: Kualitas Hidup, Lansia, Puskesmas Man